MENCARI KEPUASAN JIWA DENGAN BUDI DAYA ANGGREK KALIMANTAN

Oleh Hasan Zainuddin

halaman2

halaman rumah

https://hasanzainuddin.wordpress.com/anggrek-balangan
Setiap bangun tidur Haji Jainudin (50) langsung ke pekarangan rumahnya di bilangan Jalan Sultan Adam, Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan, semata ingin menyaksikan sekuntum bunga anggrek mekar yang dibudidayakan di lahan kecil tempat tinggalnya.

Dalam hatinya bertanya-tanya, seperti apakah gerangan rupa mekar bunga anggrek yang baru saja diperolehnya di hutan Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan tersebut. Sebab, ia belum pernah melihatnya.

Setelah menyaksikan dengan saksama bunga yang sudah mekar itu hatinya begitu senang. Berulangkali ia amati. Walau kecil saja bunganya tetapi berbau harum, dan memberikan warna warni dan bintik-bintik merah.

“Indah sekali. Indah sekali,” kata Haji Jainudin sambil berjingkrak seraya mengambil sebuah kamera lalu membidikkan berulangkali ke arah sekuntum bunga anggrek yang baru mekar tersebut.

Kemudian hasil jepretannya dikoleksi, kemudian disusun rapi dalam sebuah album di komputer dan diberi judul “bunga-bunga anggrek alam Kalimantan.”

halaman
Lain lagi cerita pecinta anggrek lainnya, Khaidir (45) juga berada di bilangan Jalan Sultan Adam Banjarmasin, ia paling suka menghadapi tantangan dengan memelihara anggrek Kalimantan yang masih kecil-kecil. Karena masih kecil, riskan mati dan busuk, sehingga harus dirawat secara saksama agar bisa besar dan berbunga.

Bibit anggrek kalimantan ia peroleh dari para pedagang di pinggir jalan atau ada pula yang melalui pusat penjualan bibit anggrek yang ada di Banjarmasin.

“Saya itu sangat puas hati, jika anggrek bulan hutan Kalimantan yang kecil-kecil itu kemudian tumbuh subur menjadi sebuah untaian anggrek bulan yang besar dan melahirkan bunga-bunga yang indah pula,” kata Khaidir.

Bila beberapa anggrek bulan itu bermekaran di musim hujan seperti sekarang ini, waduuuh senang sekali rasanya, dan itulah pesona kegandrungan memelihara anggrek alam, tambahnya.

Anggrek alam Kalimantan yang dipelihara kedua pecinta anggrek tersebut memang asli berasal dari hutan belantara, bukan hasil rekayasa manusia seperti anggrek-anggrek hibrida yang banyak diperjual belikan di pasaran.

Bentuk anggrek Kalimantan ini beraneka ragam, baik bentuk bunga, bentuk barang, bentuk buah, bentuk daun dan cara hidupnya pula, ada yang hinggap di batang induk, ada yang tumbuh di tanah, ada pula yang hanya bergelantungan di di pohon.

halaman1

Seorang pencinta anggrek lainnya, Rusmin Argalewa yang sekarang menjadi Staf Ahli Wali Kota Banjarmasin yang juga mantan Kepala Dinas Pertanian, serta mantan Kepala Dinas Pertamanan Kota setempat menyatakan kesenangannya memelihara anggrek hutan Kalimantan sejak dulu.

Rusmin yang bermukim di kompleks perumahan Pemkot Banjarmasin di bilangan belakang Stadion Lambung Mangkurat, kilometer lima Banjarmasin memiliki puluhan bahkan ratusan spesies anggrek asal pulau terbesar Indonesia tersebut.

Rusmin sendiri selain mengoleksi anggrek juga tanaman khas Pulau Borneo ini seperti aneka jenis buah-buahan yang sudah tergolong langka.

“Berdasarkan hasil penelitian siapa yang suka memelihara anggrek dengan saksama dengan perasaan senang, maka akan selalu awet muda,” tuturnya.

Konon, katanya, saat perasaan hati senang itu terproduksi sebuah hormon dalam tubuh yang bisa melahirkan “antibody” hingga badan sehat wal’afiat jauh dari serangan penyakit.

Dengan alasan itulah ketiga pecinta anggrek asal Banjarmasin ini selalu berlomba menambah koleksi anggrek hutan.

Para pecinta anggrek alam mengoleksi dengan berbagai cara, selain memburu sendiri ke hutan, juga membelinya dari para penebang kayu, pembuka lahan, atau di pedagang pinggir jalan.

Lokasi yang paling banyak menjual anggrek hutan Kalimantan ini, adalah pada tiap hari Minggu di bilangan Jalan A Yani, Kertak Hanyar Banjarmasin.

Anggrek hutan ini bentuknya beraneka ragam, ada yang menempel di pohon induk, atau di pagar, di pakis, sabut kelapa, ada pula yang hanya bergelantungan di pohon dengan menghirup nutrisi di udara serta yang hidup di tanah.

Hutan Kalimantan, khususnya Kalsel memang memiliki kekayaan flora yang khas, khususnya anggrek.

Berdasarkan catatan anggrek hutan Kalimantan mencapai ratusan bahkan ribuan spesies, dan selalu menjadi pembicaraan kalangan pecinta anggrek karena jenis di pulau terbesar ini dinilai khas dan indah. Sebut saja yang dinamakan anggrek hitam (Coelogyne pandurata).

Lidah bunga hitam pekat dengan kelopak mahkota hijau mulus menjulur di batang tangkai. Itulah kekhasan anggrek hitam sang primadona Kalimantan itu.

Kemudian ada lagi anggrek yang disebut Grammatophyllum speciosum, atau anggrek harimau atau juga disebut sebagai anggrek tebu lantaran bentuk batang dan daun seperti tebu, adalah anggrek terbesar di dunia yang berkembang biak di sela-sela pohon besar, Satu rumpun tanaman ini pernah tercatat memiliki berat dua ton.

Berada di lingkungan panas, hutan tropis yang lembab di kawasan Pulau Kalimantan juga menjadi daya tarik kolektor anggrek.

Keistemewaan anggrek tebu sangat tahan lama dan dapat bertahan sampai dua bulan. Bunganya dapat mencapai 6 inchi, kuning krem dengan bintik cokelat atau merah tua. Stem bunga dapat mencapai 6-9 inchi dengan 60-100 kuntum per tangkai.

Kawasan anggrek yang cukup dikenal di Kalimantan Selatan adalah hutan Pegunungan Meratus, wilayah yang membujur dari selatan ke utara, mengandung kekayaan alam flora dan fauna. Hutan ini ternyata disebut juga dengan istana anggrek.

Wilayah hutan Pegunungan Meratus Kalsel itu meliputi Kabupaten Tanah Laut, Kotabaru, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Tengah (HST).

Bukan saja terdapat dua jenis anggrek yang dikenal itu, tetapi beberapa jenis anggrek lainnya seperti jenis Phalaenopsis bellina, Arachis breviscava, Paraphalaenopsis serpentilingua, Macodes petola, jewel orchids, Tainia pausipolia, anggrek tanah, Phalaenopsis cornucervi, Coelogyne asperata, anggrek berbau busuk.

Kemudian anggrek pandan Cymbidium finlaysonianum, Dorrotis pulcherrima, Chairani punya Plocoglotis lowii, Tainia pauspolia, Destario Metusala, Ceologyne espezata, Paphiopedilum lowii dan Paphiopedilum supardii (anggrek nanas).

Tetapi belakangan yang paling populer adalah anggrek bulan spesies Pleihari yang terbilang langka.

Menurut Rusmin Argalewa yang juga anggota Perkumpulan Anggrek Indonesia (PAI) Kalsel, anggrek langka tersebut kini banyak diburu kolektor.

Bahkan Ny Hj Jusuf Kalla beberapa waktu lalu terkesan dengan anggrek hutan khas Kalsel tersebut sehingga membeli untuk dibawa ke Jakarta.

Anggrek ini termasuk langka di dunia dan dijadikan puspa pesona nasional.

Menurutnya jenis anggrek langka yang disebut spesies “Phalaenoasis amabilis Pleihari”, tersebut hanya beberapa kolektor saja yang memilikinya, lantaran sulit berkembang biak.

Anggrek Pleihari sejenis anggrek bulan yang hanya ada di hutan kawasan Pleihari, tetapi uniknya beda lokasi maka akan berbeda pula bentuk bunganya.

Seperti anggrek Pleihari yang diperoleh dari hutan kawasan Gunung Bira maka bunganya akan beda dengan anggrek Pleihari yang diperoleh dari kawasan hutan Gunung Ranggang, begitu juga anggrek Pleihari dari kawasan hutan Gunung Pleihari berbeda pula dengan yang lainnya.
Sementara keterangan lain menyebutkan anggrek spesies Pleihari ini memang agak beda dibandingkan anggrek kebanyakan, masalahnya daunnya agak panjang dan memiliki bunga yang unik, warna putih di tengah ada warna kuning dan di tengah warna kuning itu ada bintik-bintik merah.

Kelebihan dan keunikan lain jenis anggrek ini, adalah tangkai bunga, bila anggrek lain tangkai bunga biasanya mati setelah mengeluarkan bunga, tetapi bagi anggrek khas Pleihari ini justru tangkai bunga ini terus memanjang hidup dan akhirnya di tangkai bunga itu pula keluar bibit-bibit baru tanaman itu.

Untuk menanamkan kecintaan terhadap anggrek khususnya dari Kalimantan beberapa kegiatan terus dilakukan baik oleh pemerintah maupun dari PAI Kalsel, seperti beberapa kali kontes, pelatihan budidaya hingga kegiatan dialog mengenai anggrek menghadirkan pakar anggrek dari Jakarta, Franky Handoyo.

Berdasarkan sebuah tulisan pula upaya pengumpulan dan pendokumentasian tumbuhan dan termasuk anggrek alam Kalimantan dimulai sekitar tahun 1825 oleh George Muller asal Jerman.

Sementara antara tahun 1901-1902, ahli botani asal Jerman bernama Friederick Ricard Rudolf Schlechter melakukan ekspedisi di Kalimantan mengumpulkan sekitar 300 tanaman anggrek.

Pada tahun 1925, Eric P Mjoberg melakukan perjalan ke Kaltim dan mengumpulkan 15.000 tanaman.

Sebagian di antaranya diberikan ke Kebun Raya Bogor, yakni 127 jenis pakis dan anggrek.

Pada tahun yang sama, F Hendrik Endert, warga Belanda yang bekerja di Balai Penelitian Bogor juga melakukan ekspedisi ke Kaltim dan mengumpulkan 5.417 tanaman.

Melihat kekayaan alam Kalimantan dengan banyaknya spesies anggrek, sudah selayaknya habitat itu dijaga dan dilestarikan setidaknya melalui pembudidayaan dan pelestarian yang dilakukan kalangan kolektor agar jenis-jenis itu kian berkembang biak di kemudian hari.
anggrek1anggrek23456anggrek hitam78

Iklan

PESONA ANGGREK KALIMANTAN MELAHIRKAN PERBURUAN

     Oleh Hasan Zainuddin
   Ketika berkunjung ke Banjarmasin, Ny Jusuf Kalla menemukan spesies anggrek yang lama diidam-idamkannya.
        Anggrek yang dibawa pulang isteri Wakil Presiden itu adalah spesies anggrek khas Kalimantan, seperti “phalaenoasis amabilis pleihari”, yakni anggrek yang berkembang di wilayah Pleihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
        “Saya dapat satu batang anggrek khas Loksado, bentuknya unik,” kata Rusmin seraya menunjuk anggrek miliknya tersebut.
        Yang ditunjuk dia merupakan tanaman dengan batang dan daun kemerahan, bunganya kecil-kecil tidak seperti anggrek kebanyakan. Menurut dia, bentuk anggrek itu seperti anggrek yang tumbuh di tanah, padahal itu tumbuh di batang pohon.
        Menurut Rusmin, belakangan ini memang banyak perburuan beberapa spesies anggrek Kalimantan untuk menambah koleksi pecinta anggrek Indonesia.
        “Kita sendiri memiliki sebuah tempat khusus pembudidayaan anggrek khas Kalimantan, dan itu selalu menjadi sasaran pembeli anggrek yang datang dari berbagai daerah,” katanya.
        Pada sisi lain, kian diminatinya anggrek Kalimantan melahirkan peluang keuntungan bagi sebagian orang yang kemudian masuk hutan Pegunungan Meratus untuk menjarah aneka spesies.
        Bukan hanya anggrek yang menjadi sasaran penjarahan, aneka tanaman hutan lain yang berpotensi menjadi tanaman hias, seperti aneka pakis,  keladi, palm, rotan, serta tumbuhan karnivora kantong semar.
        Berbagai tanaman hutan hasil perburuan itu sebagian digelar begitu saja oleh pedagang tanaman  hias di tepi jalan  A Yani, Banjarmasin.
        Pusat penjualan tanaman hias itu mudah terlihat karena berada di tepi jalan trans Kalimantan. Penjualan tanaman hias di lokasi itu hanya berlangsung pada tiap-tiap Minggu pagi saja.
        Salah satu yang dijual dipinggir jalan itu adalah jenis anggrek khas kalimantan yang terbilang anggrek raksasa, yaitu anggrek tebu (grammatophyllum speciosum) karena bentuknya setinggi tebu.
        Harga anggrek yang juga disebut anggrek macan atau anggrek harimau inipun bervariasi bergantung pada besar kecilnya ukuran.
        Sebatang anggrek tebu ada yang dijual seharga Rp150 ribu per batang, atau ada pula yang kurang dari Rp100ribu.
        Tetapi sebatang anggrek tebu yang sedang berbunga ditawarkan pedagang yang konon mencari tanaman tersebut hingga ke kawasan hutan seharga sekitar Rp1,5 juta.
        Anggrek jenis itu banyak diminati kolektor, karena memiliki anggrek terbesar di dunia itu berarti mendapatkan gengsi tinggi.
        Anggrek itu berkembang biak di sela-sela pohon besar, hingga bisa mencapai panjang lima meter. Satu rumpunnya bisa memiliki berat dua ton.
        Tanaman ini berada di lingkungan panas, hutan tropis yang lembab di kawasan Pulau Kalimantan, ada pula di Sumatera, dan Papua, serta daratan Malaysia.
        Anggrek ini dikenal karena penampilannya yang luar biasa pada saat berbunga, walupun cuma berbunga sekali dalam dua sampai empat tahun.
        Bunga anggrek tebu tahan lama dan dapat bertahan sampai dua bulan. Bunganya berwrana krem denga bintik coklat atau merah tua.
   
                Perburuan
   Banyaknya perburuan anggrek yang melahirkan penjarahan ke dalam hutan itu merisaukan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel.
        Ketua Walhi Kalsel Berry Nahdiyin Furqun mengataan, masyarakat sebaiknya menghentikan penjarahan anggrek hutan seperti yang terjadi di kawasan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
        “Penjarahan anggrek hutan itu harus segera dihentikan oleh instansi terkait, bila tidak dalam waktu yang tidak lama, puluhan spesies anggrek gunung tersebut akan musnah,” tuturnya.
        Berry Nahdiyin Furqon mengungkapkan, sejak beberapa bulan terakhir, penjarahan anggrek secara besar-besaran  terjadi di beberapa daerah di Pegunungan Meratus.
        Dia mengatakan, pada dasarnya pencurian anggrek yang hidup di pegunungan Meratus sudah berlangsung sejak 1997, namun tidak sebesar seperti saat ini.
        Menurutnya, saat ini banyak warga luar daerah yang membujuk warga sekitar pegunungan Meratus untuk mencarikan bunga-bunga anggrek tersebut dengan iming-iming sejumlah uang.
        “Sebenarnya warga asli tidak akan mengambil tanaman anggrek tersebut bila tidak disuruh oleh pendatang. Makanya harus ada pendidikan dan penyuluhan khusus kepada warga sekitar pegunungan tentang larangan jaul beli anggrek tersebut,” katanya.
        Berry mengatakan, pihak terkait harus segera melakukan pelatihan konsevasi kepada penduduk asli, agar mereka menjual anggrek turunannya saja atau yang telah dibudidayakan, bukan anggrek yang asli.
        Menurut dia,  daerah yang paling banyak spesies anggreknya adalah di Loksado, Balangan dan Sampanahan baru, tersebar di pegunungan Meratus lainnya.
        Rata-rata anggrek tersebut banyak yang dijarah, dan dijual ke berbagai daerah, baik dalam negeri maupun luar negeri karena kurangnya perlindungan dan pengawasan.
        Sebelumnya dari seminar pelestarian anggrek yang diselenggarakan BKSDA, terungkap,  setiap malamnya tidak kurang dari empat mobil pick-up bermuatan anggrek selalu dibawa dari Loksado maupun daerah-daerah yang masih dalam kawasan pegunungan Meratus.
        Bunga-bungaan yang memiliki nilai ekonomis tinggi tersebut dijual ke berbagai daerah, di antaranya di Banjarmsin, bahkan ke luar negeri.
        Menurut beberapa pedagang, anggrek dari pegunungan Meratus sangat diminati para penggemar anggrek dari berbagai wilayah di Indonesia, karena dianggap berkwalitas.
        Beberapa pedagang anggrek di kawasan Belitung mengaku rela menukar tambah  satu buah anggrek pegunungan dengan beberapa anggrek impor yang mereka miliki, atau membelinya dengan harga ratusan ribu rupiah.
   
         2000 spesies
   Berdasarkan bebagai literatur, hutan Kalimantan mengandung banyak anggrek yang berkwalitas, anggrek yang menyebar di hutan pulau terbesar tanah air itu tak kurang dari 2000 spesies.
        Pendokumentasian anggrek alam Kalimantan dimulai sekitar tahun 1825 oleh George Muller asal Jerman.
        Pada 1901-1902, ahli botani asal Jerman bernama Friederick Ricard Rudolf Schlechter melakukan ekspedisi di Kaltim mengumpulkan sekitar 300 tanaman anggrek.
        Pada 1925, Eric P Mjoberg melakukan perjalan ke Kaltim dan mengumpulkan 15.000 tanaman. Sebagian di antaranya diberikan ke Kebun Raya Bogor, yakni 127 jenis pakis dan anggrek.
        Pada tahun yang sama, F Hendrik Endert, warga Belanda yang bekerja di Balai Penelitian Bogor juga melakukan ekspedisi ke Kaltim dan mengumpulkan 5.417 tanaman, termasuk anggrek. Di Kaltim juga terdapat cagar alam khas anggrek di Kersik Luway, Kecamatan Melak, Kutai Barat.
        Spesies paling terkenal yang menjadi primadona Kersik Luway adalah anggrek hitam (coelogyne pandurata) yang hanya dapat ditemukan di daerah itu.
        Anggrek hitam pekat ini adalah maskot pedalaman Kaltim sekaligus Pulau Kalimantan.