ATRAKSI JUKUNG HIAS BANJARMASIN SEBUAH HIBURAN TAHUNAN

hias Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, Hampir semua jalanan di pusat Kota Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, pada Sabtu malam (30/9) macet, karena saat itu semua warga kota ingin menyaksikan lomba jukung hias tanglong yang dipusatkan di Kota Martapura, persis pusat kota.
Atraksi yang digelar setiap tahun rangkaian hari jadi (Harjad) kota yang kini 2017 sudah berusia 491 tahun tersebut, selalu saja menjadi perhatian warga Banjarmasin dan sekitarnya, bahkan oleh para pendatang baik yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, bahkan dari Malaysia.
Khususnya para pendatang keturunan Etnes Banjar yang sudah lama bermukim di berbagai wilayah nusantara dan mancanegara itu.
Atraksi yang berlangsung tahun ini pengunjungnya lebih membludak lagi, lantaran untuk menonton atraksi tersebut tak sesulit tahun-tahun sebelumnya setelah hampir seluruh bantaran sungai di kawasan tersebut sudah terbuka dan bebas dari pemukiman dan bangunan fisik lainnya.
Hal tersebut terjadi setelah belakangan ini Pemkot setempat mengenjot pekerjaan Siring sungai yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas tersebut layaknya “Water Front City” yang memiliki lapangan hijau yang terbuka arah ke sungai.
Apalagi atraksi lomba jukung hias yang berpusat di panggung terapung depan bangunan Menara Pandang tersebut dilengkapi dengan aneka lampu hias, lampu laser, dan aneka ornamen yang bernuansa budaya yang kesemuanya dilengkapi kerlap-kerlip lampu hias pula.
Panggung terapung pun kali ini lebih meriah setelah adanya band yang menampilkan artis-artis lokal bahkan juga artis nasional, gisel idol, yang ikut menyaksikan atraksi budaya dan atraksi wisata tersebut.
Belum lagi hiburan musik tradisional yang disebut “Musik Panting” yang seniman nya mendayu-dayu menyanyikan lagu-lagu berbahasa Banjar.
Atraksi seni mewarnai hiburan rakyat tersebut adalah tarian-tarian oleh seniman tari yang tampil bukan di panggung tapi justru di atas atap sebuah kapal motor yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga penampilan itu kian atraktif saja.
Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina dan Wakil Wali Kota Hermansyah, terlihat begitu gembira saat membuka lomba yang sudah diagendakan dan dipopulerkan ke antereo negeri sebagai destenasi wisata andalan kota yang mayoritas bermusim waga lokal etnes Banjar itu.
Wali Kota Ibnu Sina pun menyebutkan atraksi ini salah satu upaya dan keinginan Pemkot setempat sebagai kota sungai terindah di nusantara.
“Belum ada di Indonesia yang disebut sebuah kota sungai, kita memiliki 102 sungai dan kini kian dibenahi sehingga wajar jika kita menobatkan diri sebagai kota sungai terindah di indonesia,” katanya seraya ditepuk tangan hadirin termasuk pada pejabat SKPD lingkup Pemkot Banjarmasin, dan unsur Muspida.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Banjarmasin Ikhsan Alhaq selaku penanggungjawab acara tersebut melaporkan bahwa lomba diikuti 31 peserta baik perahu bermesin mapun perahu tak bermesin.
Bagi mereka masing-masing kelompok memperebutkan hadiah puluhan juta rupiah plus piagam penghargaan, mereka dianjurkan memodifikasi sedemikian rupa perahu hiasnya tentu dengan sarat harus ada keseimbangan hiasan dan lampu layaknya tanglong dan tingkat kreativitasnya.
Menurut Ikhsan Alhaq yang dikendaki kreativitas perahu hias yang menampulkan suseuatu yang unik, menggambarkan rumah adat, menggambarkan binatang, atau bahkan yang melambangkan lokasi-lokasi wisata dunia, umpamanya ada bentuk perahu menara eiffel Paris.
Menurutnya kedepan atraksi ini kalau bisa tak lagi hanya menampilkan peserta lokal, tetapi regianal bahkan bisa menasional.
Menurut Ikhsan Alhaq, lomba jukung hias ini semestinya dari dulu hingga sekarang jangan seperti itu saja, harusnya lebih kreasi, lebih inovasi, dan lebih menarik, bukan saja bagi masyarakat setempat tetapi oleh para pendatang, khususnya wisatawan.
Jika lomba jukung hias tanglong ini kian menarik maka Pemkot Banjarmasin kian gencar lagi mempromosikan, dan akan menjadi kalender wisata tahunan yang diandalkan, tambahnya.
“Kita ingin nanti yang diundang bukan saja pendayung lokal dengan jukung hias tanglong dari Banjarmasin dan sekitarnya, kalau perlu kita undang secara nasional dimana daerah-daerah di indonesia dikenal ada sungainya,” katanya.
Seperti diundang warga Palembang, Makassar, beberapa kota di Jawa dan Sumatera lainnya, kalau perlu dibuka oleh Menteri Pariwisata, bahkan kalau lebih akbar lagi bisa di bukoa oleh Presiden.
Makanya mulai sekarang ayulah para seniman, para pembuat atau perajin perahu, dan pemerhati lainnya untuk bersama-sama mendesain lomba ini lebih akbar lagi, terutama mendesain bentuk perahu yang dilombakan agar lebih menarik.
Sebab jika even ini dikenal luas banyak sekali implikasinya, seperti banyaknya wisatawan hingga berdampak bagi perhotelan dan resuaran dan pedagang cendmata serta angkutan.
Kemudian perajin perahu juga pasti kian banyak pesasan sehingga tingkat kesejahteraan mereka bisa menikkat pula, demikian Ikhsan Alhaq.

Terang Benderang

Dalam atraksi di kota seluas 98 kilometer persegi dan berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa tersebut telah mengubah sebuah Sungai Martaputa yang tadinya hanya gelap atau remang-remang kini menjadi terang benderang.
Dimana-mana terlihat perahu besar bermesin aneka lampu hias dan kreativitas tanglung berbentuk rumah banjar, berbentuk jembatan barito, berbentuk ikan kelabau, berbentuk perahu gandengan, berbentuk masjid, dan enaka bentuk lainnya.
Bahkan yang menjadi perhatian ada sebuah perahu berhias berbentuk binatang naga, terbuat dari botol kemasan bekas dan bahan bekas yang terbuat dari pelastik lainnya.
Apalagi bentuk binatang naga tersebut begitu mencolong warna lampunya dan kerlap kerlip seakan naga tersebut hidup dan bergerak, dengan demikian menjadi peserta ini di nobatkan oleh Wali Kota Ibnu Sina dan pejabat lainnya sebagai peserta favorit untuk perahu bermesin.
Satu lagi dikelompok perahu tak bermsenin dengan tema perahu gandengan juga memperoleh penilaian sebagai peserta favorit pula lantaran juga memanfdaatkan limbah pelastik menjadi perahu.
Setiap kali perahu hias itu yang dinilai bagus selalu disambut riuh rendah dan tepuk tangan oleh hadirin yang diperkirakan mencapai 10 ribu lebih yang memadati lokasi Siring Tendean dan Siring Sudirman.
Setelah lima dewan juri yang terdiri dari empat seniman dan seorang jurnalis tersebut maka keluar sebagai juara pertama untuk perahu hias bermesin dengan undian urut satu, sedangkan juara pertama untuk perahu hias tak bermesin jatuh ke nomor urut sebelas.
Selain juata satu, dua. dan tiga juga ada juara harapan satu sampai juara harapan tiga.
Melihat atraksi yang demikian ramai maka wali kota pun merasa puas dan yakin jika kedepan wilayahkan bakal menjadi sebuah kota sungai terindah di tanah air.

Iklan

MENIKMATI SAHUR SUSUR SUNGAI DINI HARI RAMADHAN

Oleh Hasan Zainuddin20160625wali

Menikmati warung soto terapung di Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, seraya memancing udang dan ikan sudah merupakan kebiasaan sebagian warga setempat.
Lalu menikmati makan aneka santapan kuliner khas Suku Banjar berupa laksa, katupat kandangan, putu mayang, lapat, lontong, puracit, kokoleh, pundut nasi, dan nasi kuning di pasar terapung kawasan Jalan Pierre Tendean mulai jadi tren di kalangan pendatang.

Berbelanja sayuran berupa daun singkong, jantung pisang, kacang panjang, umbut kelapa, keladi, daun pakis, labu, karawila dan aneka sayuran lainnya merupakan kenikmatan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke pasar terapung di kota dengan penduduk sekitar 800 ribu jiwa ini.

Dibantu siraman sinar lampu minyak tanah dan sedikit terkena sinaran lampu listrik jalanan, pembeli dan penjual bisa bertransaksi, walau kadangkala harus hati-hati lantaran perahu bisa oleng dihantam riak gelombang sungai yang berhulu ke kawasan Pegunungan Meratus tersebut.

“Ayo ke Banjarmasin, kota yang `barasih wan nyaman` (Baiman/bersih dan nyaman, red),” kata Wali Kota Ibnu Sina saat menghadiri atraksi wisata susur sungai yang disebut Sahur On The River (SOTR) III atau Sahur Susur Sungai yang oleh Satuan Polisi Air (Sapol air) Polresta Banjarmasin, di lokasi Kubah Basirih, Sabtu (26/6) dini hari.

Wali kota memuji kotanya memiliki anugerah yang tidak dipunyai oleh kota manapun di dunia, karena dibelah oleh sedikitnya 102 sungai, besar dan kecil.

Dengan kelebihan itu, maka Banjarmasin memiliki keunggulan bila ingin menjadikan sungai sebagai objek wisata, dimanapun di dunia ini jika sungai dijadikan objek wisata maka wisatawannya akan berdatangan.

Sebagai contoh, kota Bangkok yang menjajakan sungai sebagai objek wisatanya, Hongkong, Venesia Italia, Belanda dan kawasan lain lagi.

Oleh karena itu, Pemkot Banjarmasin bersama masyarakat bertekad menjadikan pariwisata sungai Kota Banjarmasin sebagai destinasi unggulan melalui berbagai budaya, atraksi, dan kegiatan yang nuansanya bisa menjadi destinasi wisata.

“Saya melihat atraksi SOTR III ini ada keunikan, sahur bersama dengan ratusan orang, di tepian sungai, di lokasi objek wisata keagamaan lagi,” kata Ibnu Sina saat menghadiri SOTR III di kubah Basirih, Sabtu (25/6) dini hari.

Melihat keunikan ini wajar jika ke depan cara-cara seperti itu lebih dibudayakan, bukan saja untuk meningkatkan tali silaturahmi, tetapi merupakan salah satu bentuk syiar agama.

Satu hal yang tak kalah penting, khususnya di “kota seribu sungai,” Banjarmasin, dengan adanya pergelaran semacam ini menjadi atraksi wisata yang tak ditemui di belahan benua manapun.

“Saya sudah banyak tanya, tak ada seorang pun menjumpai acara sahur bersama di lokasi pinggiran sungai yang dihadiri ratusan orang,” kata Ibnu Sina.

Oleh karena itu, ke depan Pemkot Banjarmasin akan melibatkan diri dalam kegiatan semacam ini. Bahkan mungkin kegiatan ini akan dijadikan kalender kepariwisataan yang ditawarkan kepada wisatawan, khususnya wisatawan keagamaan.

“Ayo kita menikmati wisata sungai dengan menyusuri kehidupan air, seraya makan sahur bersama,” kata Ibnu Sina dengan nada ajakan.

Menurutnya, acara ini akan dipublikasikan luas kepada masyarakat setiap Ramadhan, dan lokasinya pun bisa diperbanyak, bukan hanya satu lokasi tetapi di beberapa lokasi.

Dalam acara Sahur Susur Sungai tersebut selain makan sahur bersama, Satuan Polisi Perairan Polresta Banjarmasin juga melakukan sosialisasi kepada nelayan atau masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan ikan dengan cara yang dilarang atau “Illegal Fishing”.

“Acara sahur susur sungai ini ketiga kalinya kami laksanakan dan kegiatan intinya menjaga Kamtibmas masyarakat pinggiran sungai seraya beribadah puasa selama Ramadhan dengan benar,” kata Kasat Polair Polresta Banjarmasin AKP Untung Widodo.

Kegiatan sahur susur sungai ini sudah yang ketiga kalinya selama Ramadhan tahun ini, pertama di pasar terapung kawasan Jalan Pierre Tendean bekerja sama dengan PT Mitra Bahtera Segara Sejati (MBSS), kata Untung Widodo.

Saat mulai menyusuri sungai pihak Satpolair dan PT MBSS membagikan nasi kotak kepada para nelayan pemancing ikan yang ada di sungai tersebut.

“Kami bagikan nasi kotak kepada para nelayan itu agar nanti mereka bisa sahur dan berpuasa,” tutur pria yang akrab dengan awak media itu.

Tujuan acara ini untuk menjalin silaturahim dengan warga sadar keamanan, ketertiban masyarakat (Kamtibmas) khususnya di wilayah perairan Banjarmasin, ucapnya.

Bukan itu saja, Polri juga lebih dituntut untuk menjalin kemitraan dengan semua unsur serta hadir di tengah-tengah masyarakat, untuk kebersamaan.

Kegiatan ini selain untuk mempererat tali silaturahim dengan pedagang pasar terapung, komunitas kelotok (perahu) wisata, pecinta lingkungan, agar semakin terjalin keakraban dan mendukung tugas tugas kepolisian untuk menciptakan keamanan dan ketertiban.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin Iwan Fitriady mengatakan kegiatan Sahur On The River itu luar biasa dan baru pertama kali dilakukan.

“Kami berterimakasih kepada Satpol Air sebagai penggagas pertama kali kegiatan ini walau sederhana tapi hasilnya luar biasa,” tuturnya.

“Kita berharap atraksi-atraksi wisata semacam itu digali dan diciptakan untuk menambah kesemarakan lokasi yang kini terus dipromosikan sebagai wisata andalan kota Banjarmasin,” kata Iwan Fitriady.

Pasar terapung adalah lokasi objek wisata andalan yang dikunjungi hampir lima ribuan orang setiap minggu, lokasi ini menarik lantaran kekhasan tersendiri di mana para pedagang mengenakan kostum tradisional dengan bertopi lebar (tanggui) berjualan di lokasi tersebut.

Sementara lokasi terakhir Kubah Basirih merupakan tempat ziarah umat Islam yang bukan saja dari Kalsel, tetapi dari Pulau Jawa, Sumatera, bahkan dari Malaysia.

Karena di lokasi tersebut adalah wilayah pemakaman ulama-ulama besar sebelumnya yang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Kota Banjarmasin. ***4***