PERINGATAN MAULID NABI WAHANA PELESTARIAN TRADISI

Oleh Hasan Zainuddin

 

 

walikota
Banjarmasin,11/2 (ANTARA)- Sebanyak 135 peserta sebagian besar anak-anak mengikuti prosesi tradisi “Baayun” dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman Makam Pangeran Suriansyah Kota Banjarmasin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
Ikut pula dalam prosese tradisi tersebut antara lain Wali Kota Banjarmasin, Haji Muhidin, Wakil Wali Kota setempat, Irwan Anshari, serta Komandan Kodim 1007 Letkol Inf Bambang Sujarwo.
Peserta “baayun” dalam acara yang berlangsung pada pertengahan bulan Maulid tersebut duduk pada sebuah ayunan terbuat dari kain yang diberi aneka bunga-bunga, hiasan kertas, buah-buahan, kue-kue tradisional, uang receh, dan aneka benda lainnya yang dinilai sakral.
Menurut panitia, Bahrudin, baayun atau mengayun anak merupakan tradisi masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan yang telah dilaksanakan turun-temurun, khususnya di bulan Maulid.
Para peserta baanyun yang didominasi anak-anak itu diayun oleh para keluarganya sendiri seperti orang tua, seraya bernyanyi dengan syair-syair yang mengandung nasehat-nasehat maksudnya agar si anak menjadi orang yang berhasil dikemudian hari.
Wali Kota Banjarmasin sendiri menyatakan gembira mengikuti prosesi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diarngkaikan dengan pegelaran budaya masyarakat yang bukan saja bernilai keagamaan tetapi juga mengandung nilai pelestarian tradisi nenek moyang yang bisa disaksikan warga sekarang ini.
Bahkan proses tradisi ini bernuansa seni, tentu bernilai bagi dunia pariwisata, sehingga kegiatan tahunan semacam itu bisa diagendakan untuk sebuah agenda pariwisata setempat.
Tradisi baanyun anak ini bukan hanya di Banjarmasin yang banyak digelar saat perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi hampir merata di 13 kabupaten dan kota di provinsi paling Selatan Kalimantan ini.
Bahkan sebuah acara prosesi baanyun anak pernah diikuti ribuan orang di Kampung Banua Halat, Kabupaten Tapin yang konon di wilayah tersebut kegiatan demikian sudah turun temurun bahkan sebelum warga setempat memeluk agama Islam.
Baanyun anak bagi warga setempat dinilai sebuah aktivitas ritual maksudnya agar anak nantinya menjadi anak yang berguna, atau hal itu dilakukan karena sebuah nazar, bahkan baanyun anak dianggap mampu menyembuhkan penyakit.
Akibat kepercayaan semacam itulah sehingga tradisi baayun anak terus berlangsung hingga sekarang, terutama saat merayakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Aneka Tradisi

Peringatan Maulid Nabi tersebut selalu semarak di gelar di dalam masyarakat Kalimantan Selatan, intinya peringatan tersebut memuji kebesaran Allah, serta menjujung tinggi tauladan Nabi Muhammad SAW.
Oleh karena itu, dalam setiap peringatan Maulid yang diutamakan adalah tausyiah oleh para ulama agar masyarakat Islam mendalami ilmu agama serta menjalankan perintah agama.
Hal kedua yang dominan dalam kegiatan ini adalah puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW melalui pembacaan syair-syair Maulid, baik yang disebut syair Maulid Diba maupun Syair Maulid Al Habsyi.
Setelah dua hal yang utama tersebut, peringatan Maulid juga dibarengi dengan aneka budaya, seperti pegelaran proses baanyun anak tadi, maupun kegiatan lain umpamanya saja pembakaran dupa, peletakan uang receh, serta penyajian aneka kuliner khas yang dinilai sakral.
Dalam penyajian kuliner ini biasanya warga membuat wadai 41 macam( kue 41 jenis) khas setempat, jangan heran bila menjelang acara ini ibu-ibu jauh-jauh hari sudah menyiapkan aneka bahan pembuatan kue itu kemudian rame-rame membuatnya saat acara, dan akibat itulah kue-kue tradisi tak pernah hilang di dalam masyarakat ini.
Seringkali pula malam sebelum diselanggarakan Maulid Rasul itu ada pegelaran seni, seperti madihin, balamut, atau bakisah yang ketiga kesenian itupun adalah bagian dari penampilan syair-syait berupa nasehat-nesahat agar warga menjalankan perintah agama.
Meriahnya acara Mauludan Rasul di desa-desa tertentu di Kalsel bukan saja sebagai atraksi budaya dan agama ternyata acara tersebut dinilai sebagai ajang silaturahmi terbesar di tengah masyarakat.
Menurut beberapa warga Desa Panggung dan Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, bila acara Maulud Rasul itu digelar salah satu keluarga, maka keluarga yang lain seakan wajib menghadiri acara itu, karena kehadiran keluarga merupakan bentuk penghargaan bagi sipenyelanggara acara tersebut.
“Makanya bila ada keluarga yang tak hadir dalam acara Maulud Rasul maka keluarga tersebut dianggap mengurangi nilai hubungan kekeluargaanya, dan nantinya bila keluarga yang tidak hadir itu menyelanggarakan acara serupa maka si keluarga yang lain bisa tidak hadir pula,” kata Muhamad penduduk setempat.
Oleh karena itu tidak heran bila satu keluarga menggelar acara Maulud Rasul maka hampir seluruh keluarga berdatangan, bahkan yang berada di kota juga ikut mudik untuk meramaikan acara tahunan tersebut.
Bahkan menghadiri Maulud Rasul dianggap lebih sakral ketimbang hadir saat Lebaran Idul Fitri atau Idhul Adha, karena saat acara ini merupakan ajang silaturahmi keluarga paling akbar dalam setahun.
Berdasarkan keterangan, acara Maulid Rasul digelar secara bergantian di setiap desa di lereng Pegunungan Meratus pedalaman Kalsel tersebut, sehingga nyaris setiap hari selama bulan Rabiul Awal atau bulan maulid nabi ini selalu saja ada acara tersebut.
Karena acara ini dianggap menarik maka banyak sekali warga berdatangan dari kota-kota besar bahkan warga dari propinsi tetangga Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Timur (Kaltim).
Penyelanggaraan acara Mauludan Rasul dalam rangka memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW memang dinilai mahal, tetapi bagi warga tidak menjadi masalah, karena penyelanggraan yang telah terjadi secara turun-temurun di tengah masyarakat Muslim setempat dinilai bisa mengangkat harkat martabat, disamping nilai-nilai agama.
Oleh karena itu bagaimanapun seorang keluarga di desa-desa tersebut berusaha untuk ikut menjadi penyelanggara walau harus membayar mahal.
Tetapi warga memiliki cara tersendiri untuk meringankan beban penyelanggaraan tersebut yakni dengan cara menggelar tabungan mingguan yang disebut “handil maulud” (semacam arisan) dengan cara menyetor uang setiap minggu kepada seorang panitia yang dipercaya mengumpulkan dana sehingga selama setahun akan terkumpul dana yang cukup besar.
“Dana yang dikumpulkan selama setahun itulah yang kemudian dibelikan sapi atau kerbau, untuk disembelih, kemudian daging sapi atau kerbau itu dibagi-bagian kepada warga yang ikut menjadi anggota tabungan maulud tersebut.” kata Muhamad yang menakui setiap tahun menggelar acara Mauludan Rasul tersebut.***4***

BAAYUN, ANTARA ATRAKSI BUDAYA, PARIWISATA, AGAMA, DAN PENGOBATAN

 Oleh Hasan Zainuddin 
          Banjarmasin, 22/3 (ANTARA)- Baayun (ber-ayun) dalam buaian terbuat dari kain memang salah satu kiat seorang ibu dalam meninabobokan (menidurkan) seorang anak yang dilakukan sebagian besar masyarakat di tanah air, namun dalam cara baayun di masjid kramat Banua Halat Kabupaten Tapin, Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki nuansa yang beda dari kebiasaan itu.
         Karena saat maayun harus diberikan mantra-mantra serta kain ayunan yang digunakan juga didominasi kain kuning ditambah ornamen ayunan harus ada bunga-bunga rampai dan janur kuning.
         Saat baayun di acara bernuansa agama, budaya serta atraksi pariwisata inipun bukan untuk menidurkan anak melainkan untuk maksud yang lebih jauh bagi masa depan anak kelak, yakni orang tua yang mengikutkan anaknya dalam acara baayun itu agar anak kelak taat beragama, anak yang sehat, anak yang cerdas, serta anak yang berbakti kepada orang tua.
         Namun yang unik saat acara baayun di lokasi masjid tertua Banua Halat Kalsel ini, bukan saja diikuti bayi dan anak balita tetapi diikuti pula kalangan orang dewasa sampai nenek-kakek, akhirnya tak heran dalam acara yang menjadi kalender kepariwisataan Kalsel itu melahirkan banyak senyum simpul ribuan pangunjung saat menyaksikan seorang kakek atau nenek juga ikut diayun.

 Suasana baayun anak Banua Halat
         Tujuan orang dewasa untuk ikut proses baayun ini beragam maksud, ada yang sekedar ingin ikut-ikutan tetapi sebagian besar karena nazar, ingin sembuh dari penyakit, membuang sial, mencari berkah, serta sebagai ucapan syukur setelah satu keinginan telah terwujud lalu ucapan syukur ini diwujudkan dengan ikut baayun  ini.
         Prosesi Baayun  saat perayaan peringatan Maulid Rasul yang digelar setiap 12 Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid AL Mukarramah di Desa Banua Halat itupun selalu menarik untuk dikunjungi dan akhirnya acara tahunan itupun terus dipromosikan.
         Karena kian terkenal maka proses baayun Banua Halat bukan saja dikunjungi warga Kalsel, tetapi juga dikunjungi pendatang dari propinsi tetangga Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur bahkan dari Pulau Jawa, Sumatera, dan Malaysia. Atraksi ini sudah menjadi kalender kepariwisataan Kabupaten Tapin dan Kalsel, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tapin, Drs. Rahmadi.
        Ketika acara baayun tahun ini tepatnya pada hari Kamis 20 Maret 2008 pesertanya kian membludak bahkan terbanyak dari selama ini akhirnya masuk Museum Rekor Indonesia (MURI).
        Jumlah peserta tahun ini sebanyak 1.544 orang terdiri dari 1.643 anak-anak, dan sisanya 401 orang dewasa. Dibandingkan tahun 2007 lalu jumlah peserta  hanya 1.055 orang yang berarti terjadi peningkatan 489 orang.
        Piagam MURI diserahkan Manager MURI Paulus Pangka kepada Bupati Tapin Drs H Idis Nurdin Halidi MAP dan Ketua Panitia Kegiatan H Nafiah Khairani, disaksikan Gubernur Kalsel H Rudy Arifin dan Guru Riduan atau Guru Kapuh, serta para pejabat di Provinsi Kalsel.
        Dalam piagam yang berbingkai keemasan tersebut tercatat MURI No 30311/R.MURI/III/2008 yang menyatakan Masjid Al Mukarramah Banua Halat sebagai penyelenggara Baayun Maulid dengan peserta terbanyak, yang ditandatangani oleh Jaya Suprana di Semarang, Maret 2008.
        Menurut Paulus Pangka, MURI mencatat kegiatan Baayun Maulid di Banua Halat ini dengan alasan acara ini telah menciptakan rekor MURI dengan jumlah peserta baayun terbanyak di Indonesia.
         Baayun tahun ini peserta yang paling tua berusia 75 tahun, nenek Hj Masriah dari Kandangan, dan yang termuda seorang bayi yang baru berumur 4 hari.
         Prosesi baayun dimulai saat Kelompok Maulid Al Habsy dari Martapura membaca Asyrakal dan seluruh peserta yang diayunpun langsung duduk, berbaring di ayunan yang sudah disediakan. Selain peserta anak-anak yang diayun, peserta dewasa pun duduk dan diayun oleh kerabat dan keluarganya.
         Menurut Kadis Pariwisata dan Budaya, Rahmadi banyak orang sakit yang menahun, sudah berobat kemana-mana termasuk ke rumah sakit tidak sembuh-sembuh penyakit itu, tetapi setelah ikut baayun maka penyakit itu sembuh, akhirnya baayun  juga dipercayai sebagai sarana pengobatan,” kata Rahmadi.
         Seorang penduduk Rantau ibukota Kabupaten Tapin, Abdurahman (55 th) mengaku ikut dalam proses baanyun ini lantaran ingin sembuh dari penyakit sesak nafas yang menahun, selain itu sebagai nazar agar bisa menunaikan ibadah haji.
        “Setelah saya bernazar itu kemudian terkabul, lalu saya ikut dalam proses baayun di Banua Halat itu,” kata Abdurahman yang dikenal sebagai seorang pensiunan PNS tersebut.
   
      Sejarah baayun
   Berdasarkan sebuah tulisan karya Zulfa Jamalie berjudul “Kearifan Lokal Dakwah Dalam Tradisi Baayun Anak” disebutkan baayun di Banua Halat sebagai sebuah tradisi yang saban tahun digelar, Baayun Anak sarat dengan sejarah, muatan nilai, filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang berharga untuk dikaji secara komprehensif.
         Menurut catatan sejarah, Baayun Anak semula adalah upacara peninggalan nenek moyang yang masih beragama Kaharingan. Sejarawan H.A.Gazali Usman menyatakan tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara). Namun kemudian, berkembang dan dilaksanakan diberbagai daerah di Kalimantan Selatan.
         Tradisi ini menjadi penanda konversi agama orang-orang Dayak yang mendiami Banua Halat dan daerah sekitarnya, yang semula beragama Kaharingan kemudian memeluk agama Islam. Karena itu upacara Baayun Anak tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya Islam ke daerah ini.
        Sebagaimana diketahui, setelah Islam diterima dan dinyatakan sebagai agama resmi kerajaan oleh pendiri kerajaan Islam Banjar, Sultan Suriansyah, pada tanggal 24 September 1526, maka sejak itulah Islam dengan cepat berkembang, terutama daerah-daerah aliran pinggir sungai (DAS) sebagai jalur utama transportasi dan perdagangan ketika itu.
        Jalur masuknya Islam ke Banua Halat adalah, jalur lalu lintas sungai dari Banjarmasin ke Marabahan, Margasari, terus ke Muara Muning, hingga Muara Tabirai sampai ke Banua Gadang. Dari Banua Gadang dengan memudiki sungai Tapin sampailah ke kampung Banua Halat. Besar kemungkinan Islam sudah masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16.
        Sebelum Islam masuk, orang-orang Dayak Kaharingan yang berdiam di kampung Banua Halat biasanya melaksanakan acara Aruh Ganal. Upacara ini dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika pahumaan (sawah) menghasilkan banyak padi, sehingga sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen mereka pun melaksanakan Aruh Ganal, yang diisi oleh pembacaan mantra dari para Balian. Tempat pelaksanaan upacara adalah Balai.
         Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut bisa “diislamisasikan”. Sehingga jika sebelumnya upacara ini diisi dengan bacaan-bacaan balian, mantra-mantra, doa dan persembahan kepada para dewa dan leluhur, nenek moyang di Balai, akhirnya digantikan dengan pembacaan syair-syair maulud, yang berisi sejarah, perjuangan, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, dilaksanakan di masjid, sedangkan Sistem dan pola pelaksanaan upacara tetap.     
   Nilai utama yang hendak ditanamkan oleh para ulama dalam upacara Baayun Anak dan mengisinya dengan pembacaan syair-syair maulud di Desa Banua Halat tersebut tidak lain sebagai bagian dari strategi dakwah kultural, yakni bentuk dakwah yang dilakukan melalui pendekatan aspek penjelasan dan tindakan yang bersifat sosiokultural dan keagamaan, jadi bukan dengan pendekatan politik, salah satunya adalah dengan mengunakan medium seni budaya Atau dimaknai sebagai suatu upaya menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat setempat.
         Karenanya pada akhirnya dakwah kultural menghendaki adanya kecerdikan dalam memahami kondisi masyarakat dan kemudian mengemasnya sesuai dengan pesan-pesan dakwah Islam.
         Dengan model dakwah itu mereka tetap menjaga dan melestarikan sebuah tradisi dengan prinsip “setiap budaya yang tidak merusak akidah dapat dibiarkan hidup”, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan panutan dan teladan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berpemerintahan.