DEBU DAN ASAP CEMASKAN KESEHATAN WARGA BANJARMASIN

sungai awang

Sungai Awang/Sungai Andai Banjarmasin terserang kabut asap

 

 

Oleh Hasan Zainuddin
Sudah berulang kali Ibu Saniah (45 th) ke rumah sakit lantaran penyakit asmanya kambuh di saat musim kemarau belakangan ini.

Sebenarnya dia enggan ke luar rumah yang tinggal di bilangan kilometer tujuh Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tetapi karena ia harus bekerja sebagai seorang guru pada sekolah di bilangan Gambut Kabupaten Banjar, mengharuskannya terus berangkat tiap hari menggunakan sepeda motor.

Hal serupa juga dialami banyak orang di kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini, sehingga rumah sakit maupun Puskesmas sering menerima pasien lantaran sesak nafas serta infeksi saluran bagian atas (Ispa) yang merupakan penyakit paling banyak diderita warga.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin Drg Diah R Praswati mengakui Ispa merupakan penyakit paling banyak menyerang warga Banjarmasin, dan itu bisa dilihat dari sepuluh besar penyakit yang terdata di Puskesmas dan rumah sakit.

Ispa muncul terutama lantaran cuaca yang buruk, serta akibat pencemaran debu dan asap yang melanda udara di sekitar wilayah ini, disamping pola hidup masyarakat yang kurang memperhatikan paktor kesehatan.

Sementara Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Banjarmasin Drs Hamdi tak menyangkal jika wilayahnya belakangan ini tercemar debu dan asap bekas pembakaran lahan persawahan dan semak belukar, khususnya di musim kemarau belakangan ini.

“Lihat saja hari-hari belakangan ini udara Banjarmasin begitu kotor, ditandai beterbangannya “kelatu” (benda hitam bekas dedaunan semak belukar terbakar) beterbangan di udara Banjarmasin,” katanya.

Beberapa warga mengeluhkan keberadaan kelatu ini, sebab pekarangan yang tadinya bersih sebentar saja jadi kotor oleh kelatu, cucian pakaian warga yang basah saat dijemur di luar rumah juga kotor terkena benda ini.

Memang sudah menjadi kebiasaan saat musim kemarau warga membuka lahan pertanian dan perkebunan membakar lahannya agar mudah membersihkan lahan untuk penanaman.

Tetapi tak jarang pembakaran lahan tersebut kemudian merembes ke semak belukar secara meluas bahkan ke lahan gambut yang sulit dipadamkan apinya, dan terus menerus mengeluarkan asap sepanjang hari.

Akibat dari itu maka udara Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kota Banjarbaru belakangan ini benar-benar kotor oleh asap pembakahan lahan tersebut, bahkan penerbangan di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin beberapa kali terganggu ditandai penundaan penerbangan akibat jarak pandang terbatas.

Menurut Hamdi bukan hanya asap mengotori udara Banjarmasin ini tetapi juga partikel seperti debu dan gas yang melebihi ambang batas.

BLHD Banjarmasin pernah melakukan pengujian kualitas udara di lima titik seperti perempatan Belitung, Sungai Andai, Kayu Tangi, A Yani, dan Trisakti.

Parameter kandungan pencemaran udara yang diuji meliputi, suspended particuler atau debu, carbon monoksida (CO2), sulful dioksida (SO2), ozon atau oksigen (O3), nitrogen dioksida (NO2), amoniak (NH3), sulfida (H2S), kebisingan udara, serta kelembaban PM 10 (debu paling halus).

Dari pengujian itu, kalau kualitas udara dengan partikel debu dan kebisingan berada diambang batas tertinggi, yang tertinggi ada di kawasan Pelabuhan Trisakti.

Idealnya kandungan partikel debu di udara sekitar 230 miligram per meterkubik tetapi di kawasan Jalan Lingkar Selatan sudah mencapai 457 miligram per meterkubik.

Munculnya debu di daerah itu karena aktivitas kenderaan bermotor lebih tinggi di bandingkan daerah lain, khususnya truk besar yang lalu lalang menuju pergudangan dan pelabuhan ke berbagai daerah lain.

Melihat kondisi musim kemarau serta adanya kebiasaan masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar. Hamdi meyakini tingkat polusi udara bertambah.

“Saat ini udara pagi dan malam hari dapat dikatakan kurang sehat lagi karena sekarang sudah diselimuti asap,” ujar dia.

Kondisi tersebut berdampak akan pada kesehatan, dan mengganggu pernafasan, makanya ia mengimbau warga yang keluar rumah menggunakan masker untuk mengurangi terhirupnya asap.

Selain itu, udara Banjarmasin masih ada kandungan timbal akibat bahan bakar yang dipakai mengandung timah hitam, padahal bahan bakar sudah dilarang yang mengandung timah hitam.

Menyinggung gas buang ke udara di wilayah tersebut disebutkannya secara umum, emisi atau gas buang dari 2000 sampel kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar premium masih bagus.

Tetapi yang menggunakan bahan bakar solar 50 persen emisi yang dihasilkan masih tidak standar atau diatas ambang batas.

Selain pemantauan BLHD Kota Banjarmasin yang menunjukan kurang sehatnya udara wilayah ini , juga dibuktikan hasil pemantauan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Provinsi kalimantan Selatan.

Hasil pemantauan Bapedalda Kalsel yang pernah termuat di salah satu media setempat beberapa waktu disebutkan bahwa pemantauan itu dilakukan secara acak (grab sampling) yang sifatnya sesaat berdasarkan keperluannya.

Hasil pemantauan kualitas udara tersebut menunjukkan bahwa kandungan debu (PM10) terhadap udara berada di atas baku mutu.

Begitu juga dengan kandungan karbon monoksida (CO) dari hasil pemantauan yang rata-rata di atas ambang batas normal 30 mg/m2. Sedangkan kandungan timah hitam (Pb) juga melebihi baku mutu 2,0 mg/m2.

Pencemaran udara diakibatkan oleh lepasnya zat pencemar ke udara dari berbagai sumber, baik bersifat alami maupun aktivitas manusia (antropogenik).

Berdasarkan PP No 41 tahun 1999 mengenai pengelolaan udara, sumber pencemar didefinisikan sebagai setiap usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan bahan pencemar ke udara yang menyebabkan udara tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Sumber pencemar dalam lima kelompok, yaitu sumber bergerak, misal kendaraan bermotor, sumber bergerak spesifik, misal kereta api, sumber tidak bergerak, sumber emisi yang tetap pada suatu tempat, sumber tidak bergerak spesifik, seperti kebakaran hutan dan pembakaran sampah, dan sumber gangguan, atas penggunaan media udara atau padat dalam penyebarannya, seperti kebisingan, getaran, dan bau.

Bahaya Asap

Kerisauan warga wajar lantaran asap bekas kebakaran hutan membahayakan kesehatan, karena berdasarkan catatan asap pembakaran menghasilkan polutan berupa partikel dan gas, partikel itu silika, oksida besi, dan alumina, gas yang dihasilkannya adalah CO,CO2,SO2,NO2, aldehid, hidrocarbon, dan fluorida.

Polutan ini, berpotensi sebagai iritan dapat menimbulkan fibrosis (kekakuan jaringan paru), pneumokoniosis, sesak napas, elergi sampai menyebabkan penyakit kanker.

Berdasarkan pedoman Depkes tentang pengendalian pencemaran udara akibat kebakaran hutan terhadap kesehatan ditetapkan katagori bahaya kebakaran hutan dan tindakan pengamanan berdasarkan ISPU.

ISPU , saat ini berbahaya bagi semua orang, terutama balita, ibu hamil, orang tua, dan penderita gangguan pernapasan.

Dampak asap begitu luas, jangka pendek asap yang berupa bahan iritan (partikel) akibat pembakaran lahan berdampak negatif terhadap kesehatan.

Pengaruhnya dalam jangka pendek itu adalah niengiritasi saluran pernafasan dan dapat diikuti dengan infeksi saluran pernafasan sehingga timbul gejala berupa rasa tidak enak di saluran pernafasan.

Gejalanya seperti batuk, sesak nafas (pneumonia) yang dapat berakhir dengan kematian.

Selain itu asap juga mengiritasi mata dan kulit, mengganggu pernafasan penderita penyakit paru kronik seperti asma dan bronchitis alergika.

Sedang gas CO pada asap dapat juga menimbulkan sesak nafas, sakit kepala, lesu, dan tidak bergairah serta ada perasaan mual.

Dampak jangka panjang bahan-bahan mengiritasi saluran pernafasan dapat menimbulkan bronchitis kronis, emfisema, asma, kanker paru, serta pneumokoniosis.

Melihat kenyataan tersebut, perlu dilakukan pengendalian dampak asap pembakaran lahan dan hutan di wilayah ini.

Iklan

BANDARA SYAMSUDIN NOOR DIBAYANGI PENGHENTIAN EMBARKASI HAJI

Oleh Hasan Zainuddin

banjarmasin-syamsudin noor
Banjarmasin, 14/3 (Antara) – Berita terkait kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang melarang pesawat berbadan kecil mendarat di Bandara negeri itu selama musim haji mendatang telah melahirkan kekhawatiran banyak pihak, termasuk masyarakat Provinsi Kalimantan Selatan.

Pasalnya, masyarakat Kalsel yang dominasi beragama Islam tersebut sudah merasa “bahagia” setelah salah satu bandar udara (Bandara) di wilayah ini, yakni bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sejak tahun 2004 sudah ditetapkan sebagai Bandara embarkasi haji.

Dengan status Embarkasi haji, masyarakat Kalsel yang menunaikan ibadah haji bisa terbang langsung dari Bandara Syamsudin Noor ke Bandara King Abdul Azis, Jenddah Arab Saudi.

landasanpacu

 

Landasan Pacu

Padahal sebelum tahun 2004 warga Kalsel ke tanah suci menunaikan rukun Islam kelima tersebut harus terlebih dahulu terbang dan menginap Ke Bandara Juanda Surabaya, atau Ke Sepinggan Balikpapan, bahkan ke Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta.

Karena dinilai merepotkan waktu itu berbagai upaya Pemerintah Prmprov Kalsel dan masyarakatnya memperjuangkan Bandara Syamsudin Noor menjadi Embarkasi Haji, tentu dengan memperluas bandara tersebut hingga mampu didarati pesawat dengan penumnpang 350 orang.

Keberhasilan mengubah Bandara Syamsudin Noor sebagai embarkasi haji hingga memancing jemaah calon haji provinsi lain juga ikut terbang di bandara tersebut seperti dari provinsi Kalimantan Tengah, akhirnya Bandara Syamsudin Noor yang sudah memiliki asrama haji tersebut tiap tahun kian ramai saja.

Tetapi setelah adanya kebijakan pemerintah Arab Saudi tersebut apakah pada musim haji 2013 ini Bandara Syamsudin Noor masih bisa menjadi embarkasi haji?.

Menurut informasi, Pemerintah Saudi Arabia hanya memperbolehkan pesawat berbadan besar semacam air bus untuk mendarat di bandara mereka guna mengurangi intensitas kepadatan di bandara mereka itu.

Sebaliknya, kondisi Syamsudin Noor sendiri belum mampu untuk menampung pesawat berbadan besar tersebut.

Pemerintah Saudi hanya akan mengizinkan pesawat jenis B767-500 dengan kapasitas sekitar 500 seat yang diperbolehkan landing di bandara King Abdul Aziz.

Sementara ini, Bandara Syamsudin Noor dengan kondidi runway (landasan pacu) hanya panjang 2500 meter dengan demikian hanya bisa didarati pesawat pesawat jenis B767-300 dengan kapasitas 326 seat.

Jika rencana pemerintah Arab Saudi tersebut benar-benar terwujud, tentunya pesawat jenis tersebut dilarang landing di King Abdul Aziz.

“Jika ini terjadi, efeknya sangat besar. Kalsel tidak bisa menjadi embarkasi haji lagi. Jamaah Kalsel sendiri kembali harus berangkat melalui bandara lain lagi,” ungkap Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kalsel, M Takhim, kepada wartawan.

Menurut dia untuk mengimbangi keinginan pemerintah Arab Saudi tersebut tentu harus diimbangi dengan pengembangan Bandara Syamsudin Noor sendiri, dan itu tergantung sangat tergantung pembebasan lahan yang hingga kini belum tuntas.

“Setidaknya Bandara Syamsudin Noor memiliki panjang runway minimal panjang 3000 meter, bila itu terwujud maka pesawat berbadan besar sudah bisa mendarat,” katanya.

Selain perpanjangan runway yang juga harus dilakukan di Bandara Syamsudin Noor yang berjarak sekitar 28 kilometer dari pusat Kota Banjarmasin tersebut itu adalah perbaikan terminal penumpang baik kedatangan maupun keberangkatan.

Selain itu untuk melayani adanya pesawat berbadan besar maka juga harus ada perpanjangan runway, pembuatan taxiway paralel, perluasan apron, dan lainnya.

Proses pengembangan Bandara yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalsel tersebut masih terus berjalan dan saat ini masih berada pada fase pembebasan lahan.

Pemprov Kalsel kini terus berharap kinerja tim pembebasan lahan Kota Banjarbaru untuk berusaha agar seluruh lahan yang diperlukan untuk pengembangan bandara bisa segera dibebaskan.

“Jika lahan sudah semuanya dibebaskan, maka sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah, pengembangan sisi darat yaitu pembangunan terminal baru dan lahan parkir baru, landasan pacu akan segara dilaksanakan,” katanya.

images
Belum Jelas
Kabar akan dihentikannnya Bandara Syamsudin Noor sebagai embarkasi haji sebenarnya hingga kini belum jelas, dan isu mengenai tersebutpun berhembus setelah adanya kabar mengenai kebijakan pemerintah Arab Saudi tersebut.

Untuk memastikan persoalana tersebut Dinas Perhubungan bersama DPRD Kalsel bakal mendatangi Kementerian Perhubungan untuk menanyakan tentang ancaman penghapusan Bandara Syamsudin Noor sebagai embarkasi haji.

Kepala Bidang Angkutan Udara Dinas Perhubungan Kalsel, Ismail Iskandar, di Banjarmasin, Selasa (12/3) mengatakan, pihaknya akan mempertanyakan masalah tersebut.

“Sampai sekarang kami memang belum mendapatkan informasi langsung dari pihak terkait mengenai persoalan tersebut, namun kita tetap harus antisipasi mumpung masih ada waktu,” katanya.

Sebelumnya Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Kalsel Arsyadi mengatakan menada, pihaknya belum mendapatkan penjelasan dan menerima surat terkait persoalan Bandara Syamsudin Noor yang terancam dihapuskan menjadi embarkasi haji.

Namun, kalau memang benar informasi tersebut, tambah dia, PT Angkasa Pura masih memiliki waktu untuk membangun atau menambah landasan pacu sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

“Waktu sekitar delapan atau tujuh bulan masih sangat memungkinkan untuk membangun tambahan landasan pacu tersebut, tinggal kebijakannya mendukung atau tidak,” katanya.

Menurut Arsyadi, untuk memperjelas persoalan tersebut, pihaknya segera melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Pihak DPRD Kalsel sendiri menanggapi serius persoalan tersebut, sehingga meminta Pemprov Kalsel turun tangan dan bergerak cepat untuk menyelesaikan atau mencari solusi agar status embarkasi haji pada Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin tidak jadi dicabut.

“Kalau permasalahan ini tidak ditanggapi serius, jangan salahkan Arab Saudi menentukan kebijakannya,” kata Ketua Komisi I bidang hukum dan pemerintahan DPRD Kalsel Achmad Bisung.

Ia juga mengingatkan kepada PT Angkasa Pura selaku pengelola Bandara Syamsudin Noor segera menindaklanjuti persoalan ini untuk mencari jalan keluar agar status embarkasi haji itu.

Permasalahan pencabutan status ini tentu saja membuat semua kalangan keberatan dan kecewa, karena embarkasi haji di bandara tersebut merupakan kebangaan masyarakat mayoritas Muslim ini.

“Saya tidak setuju kalau status embarkasi haji dicabut. Jadi bagaimana cara PT Angkasa Pura harus memperpanjang runway sesuai dengan permintaan Pemerintah Arab Saudi agar pesawat besar bisa mendarat di Bandara Syamsudin Noor,” cetusnya.

Menurut Bisung, kalau memang PT Angkasa Pura tidak sanggup menyelesaikan masalah ini, maka lebih baik pengelolaannya diserahkan saja ke Pemprov Kalsel saja.

MENIKMATI SOTO BANJAR SAMBIL WISATA SUSUR SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin

2

http://www.youtube.com/watch?v=Gi3eJkEoscQ

Banjarmasin, 13/3 (Antara) – Menyusuri Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan menggunakan “klotok” (angkutan kota di perairan) seraya menikmati kuliner khas setempat, soto Banjar merupakan salah satu kegiatan wisata yang belakangan ini kian digandrungi
“Menikmati kuliner sambil menyaksikan pemandangan Sungai Martapura dengan aneka budaya sungainya, tak terasa sepiring soto ditambah 10 tusuk sate ayam ludes dimakan,” kata seorang wisatawan lokal, Aprizal warga Jalan Laksana Intan,Kelurahan Kelayan Selatan, Banjarmasin.

Menurut dia, biasanya ia makan tak pernah sebanyak itu, tetapi di tengah suasana yang menyenangkan seperti itu ditambah lezatnya soto membuat makan menjadi lahap, ” tutur Aprizal yang berwisata bersama isteri , putrinya dan keluarga yang lain.

Belakangan ada kecendrungan wisatawan menikmati wisata susur sungai sambil menikmati berbagai kuliner khas kota yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut.

Mereka datang ke Banjarmasin baik perorangan maupun grup kemudian mendatangi warung-warung kuliner, setelah itu menyewa sebuah klotok lalu bepergian susur sungai selama satu jam atau lebih sambil makan dan minum di dalam angkutan sungai tersebut.
Seperti pemantauan penulis di rumah makan Soto Abang Amat, Banua Anyar, Selasa (12/3) begitu banyak wisatawan nusantara memenuhi lokasi yang berada di tepian Sungai Martapura tersebut.

Di lokasi rumah makan yang berada di perkampungan padat penduduk tersebut, wisatawan bisa makan dan minum sambil dihibur kesenian lokal, musik panting.

Bahkan pengunjung juga diajak berjoget ria diiringi irama musik panting dengan lagu-lagu berbahasa Banjar.

Pernah beberapa waktu lalu, Ahmad Mukhlis Yusuf (MY) saat masih menjabat Direktur Utama LKBN “Antara” datang bersama isterinya dan beberapa kerabatnya mengunjungi Soto Abang Amat. Setelah makan lalu ikut bergabung dengan pengunjung lain berjoget diiringi irama lagu-lagu lokal di rumah makan soto tersebut.

“Tolong ambil potret saya lagi ikut berjoget untuk kenang-kenangan,” kata MY kepada penulis waktu itu.

Hembusan angin dan bunyi riak gelombang Sungai Martapura dan suasana lingkungan perairan yang asri menambah keasyikan para pengunjung untuk mencicipi hidangan makanan yang didominasi lontong, telur, dan ayam kampung tersebut.

Dari sekian pengunjung tersebut ada yang lebih memilih menikmati kuliner seraya dihibur musik panting, ada pula yang lebih memilih hidangan dimasukan ke dalam klotok lalu makan di dalam klotok seraya menikmati wisata susur sungai.

Seperti keluarga Aprizal ini, memilih makan dan minum di dalam klotok lalu berlayar selama satu jam rute rumah makan Soto Banjar Abang Amat Banua Anyar ke lokasi kawasan wisata sungai Siring Tendean pusat kota Banjarmasin pulang-pergi.

Selama perjalanan sungai tersebut wisatawan bisa menyaksikan aneka budaya sungai, seperti warung-awrung terapung, rumah terapung, industri terapung, dan suasana Kota Banjarmasin di pinggir sungai.

Pengunjung bisa menyaksikan budaya lainnya dimana warga setempat berada di “lanting” (tempat khusus mandi dan cuci di atas sungai) mandi, mencuci, sikat gigi, bahkan ada yang sambil buang hajat besar di jamban yang ada di lanting tersebut.

Terus ada pula warga yang asyik memancing, mencari kerang sungai, atau menyaksikan sekumpulan anak-anak sedang berenang ke sana-kemari dan bermain di permukaan air.

Memang di Banjarmasin, banyak rumah penduduk halamannya tidak menghadap ke daratan, tetapi menghadap ke sungai, karena tak punya halamann daratan, anak-anak yang suka bermain, merekapun terpaksa bermain di air.

Tarif klotok rute Banua Anyar-Siring Tendean hanya Rp100.000,- tetapi bila rute lebih jauh seperti Banua Anyar-Pasar terapung, banua Anyar-Pulau kembang Rp200.000,- kata, Rahmadi pemilik klotok
yang mangkal di kawasan tersebut.

Terdapat sekitar sepuluh buah klotok mangkal dan yang siap melayani rute wisata susur sungai di rumah makan Soto Amang Amat tersebut.

panting

 

Musik panting di rumah makan Abang Amat

Di Banjarmasin selain rumah makan Soto Abang Amat masih ada beberapa lokasi untuk penikmat kuliner seraya wisata susur sungai, seperti rumah makan Soto Bawah Jembatan, rumah Makan Yana Yani di Sungai Jingah, atau rumah patin, Pasar Lima.
Dibenahi

Kepala Dinas Kebudayaan,Pemuda, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Norhasan berjanji membenahi wisata susur sungai itu, dengan membuat paket wisata agar memudahkan wisatawan menikmati keunikan wisata perairan tersebut.

“Kita susun rute wisata perairan mulai dari dermaga wisata air balaikota Banjarmasin menuju arah makam habieb Basirih, Pasar Terapung, Makam Sultan Suriansyah, terus ke Pulau Kembang,” kata Norhasan.http://www.youtube.com/watch?v=UIlfSmNYuJ4

Kemudian dilanjutkan Pasar Terapunghttp://www.youtube.com/watch?v=BcBiWZMGLGs, Pulau Kaget, Pulau Bakut, industri perkayuan Alalak, terus ke rumah makan soto, kekampung sasirangan, kampung katupat, masjid Raya Sabilal Muhtadin, Pasar lima kembali ke dermaga balaikota, katanya.

Banjarmasin juga akan membangun fasilitas penjualan cendaramata, kawasan kuliner yang mudah dijangkau jalan darat dan air,ditambah ketersediaan tenaga pramu wisata hingga memudahkan wisatawan memperoleh pemandu menyusuri paket-paket tersebut.

Susur sungai menggunakan “klotok” (perahu bermesin) atau spead oat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu.

Untuk mendukung wisata susur sungai Pemkot Banjarmasin menyediakan dua buah kapal wisata air yang cukup besar, ditambah beberapa perahu kecil yang bisa menyusuri sungai-sungai kecil di tengah pemukiman penduduk yang padat.

Para wisatawan, khususnya dari mancanegara, tertarik menyaksikan berbagai kehidupan sungai di pemukiman padat penduduk itu sebuah keunikan tersendiri karena tak ditemui di negara mereka.

Oleh karena itu keunikan itulah yang menjadi daya pikat dan terus dijual ke wisatawan, tambahnya.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat pemerintah setempat memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin, Ir Muryanta mengakui Pemkot setempat menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami menjadikan sungai magnet ekonomi karena itu terus dibenahi sungainya,” katanya seraya menjlesakan wilayah ini 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.

Sementara wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 104 sungai dan sebanyak 74 sungai masih berfungsi baik yang bisa dijadikan objek wisata.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan, katanya.

1234567891011121314151617

ECENG GONDOK GANGGU “KOTA SERIBU SUNGAI” BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin

ilung
Serangan gulma berupa eceng gondok menjadi gangguan serius di sejumlah sungai di Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, terutama musim hujan berkepanjangan belakangan ini yang dibarengi dengan banjir di kawasan hulu sungai.

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) bukan saja terlihat di sungai Martapura dan Sungai Barito tetapi juga terlihat di hampir 74 sungai yang ada di kawasan yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut.

Keberadaan tanaman yang konon berasal dari Sungai Amazon tersebut benar-benar merepotkan kota yang sebagian besar wilayahnya perairan, karena serangan gulma ini bahkan mematikan beberapa sungai kecil.

eceng-gondok

Eceng gondok larut di atas air kadang kala menumpuk di lokasi tertentu dan menyita hampir separu sungai, dan bahkan beberapa kali tumpukannya nyangkut di dua jembatan terbesar kota ini, Jembatan Antasari dan Jembatan Pasar Lama.

Nyangkutnya tumpukan eceng gondok beberapa waktu lalu pernah menggunung peraktis menuputi sungai dan mamatikan angkutan air di kawasan tersebut.

“Kala itu saya sangat kasihan melihat para pemilik “klotok” (jenis angkutan penumpang sungai) yang biasanya beroperasi di jalur Sungai Martapura terpaksa menghentikan usaha mereka karena sungai tertutup,” kata Abdullah, warga setempat.

Banyak pihak merasa prihatin serangan eceng gondok itu hingga beberapa organisasi masyarakat (ormas) pun turun membersihkan sungai.

Pemkot Banjarmasin,Kalimantan Selatan melalui Dinas Sumberdaya Air dan Drainase (SDA) memang mengakui kerepotan menangani eceng gondok.

Menurut Kepala Dinas sda, Ir Muryanta serangan eceng gondok di banyak sungai di Banjarmasin, hingga sungai kotor bahkan banyak yang menyempit dan mendangkal dan selain menganggu keindahan juga mengganggu arus lalu-lintas sungai daerah setempat.

Di Banjarmasin terdapat 104 jumlah sungai dan hingga kini sekitar 74 sungai masih berfungsi, oleh karena itu perlu dijada dan dipelihara agar sungai tersebut tidak sampai mati seperti sungai sebelumnya.

Apalagi Banjarmasin dikembangkan menjadi sebuah kota berbasis kota wisata sungai, karena sungai Banjarmasin salah satu magnet memancing wisatawan ke kota ini.

Guna membenahi wisata sungai tersebut berbagai upaya sudah dilakukan, seperti pembuatan siring sungai penuh dengan taman-taman, warung kuliner, lanting, kedai terapung, rumah terapung, lokasi pasar terapung, dermaga, dan sejumlah armada wisata air yang disediakan pemerintah setempat.

“Jika sungai yang menjadi andalan pembangunan kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini tak terpelihara, sulit mengembangkan menjadi sebuah wilayah kepariwisataan yang dikendaki,”katanya.

Guna mengurangi serangan eceng gondok tersebut, Pemkot Banjarmasin terus menyiwa kapal pembersih gulma dan sampah sungai dengan dana yang begitu besar setiap tahunnya.

“Kapal pembersih gulma dan sampah tersebut setiap hari bekerja, dan sekitar 60 ton 70 ton eceng gondok dibersihkan dari sungai per harinya,” kata Muryanta.

Menurut Muryanta, saat musim penghujan ini jumlah eceng gondok tersebut walau terus dibersihkan tetapi tetap saja banyak dipermukaan air sungai, karena bila satu lokasi di bersihkan maka tak lama datang lagi hamparan eceng gondok itu, karena terbawa arus yang datang dari berbagai penjuru sungai.

Lain hal disaat kemarau bila satu lokasi dibersihkan maka lokasi itu dalam waktu tertentu tetap bersih, karena pergerakan air tidak sederas seperti penghujan.

“Kami benar-benar kerepotan olah eceng gondok ini,bayangkan saja satu lokasi yang sudah bersih dari serangan eceng gondok pada keesokan harinya lokasi itu sudah penuh lagi dari tanaman itu, karena terbawa larut oleh arus air yang datang dari hulu sungai,”tuturnya.

Ditanya keberadaan kapal pembersih gulma disebutkannya sewaan dari seorang pengusaha di Kota ini yang berhasil mengubah sebuah kapal biasa menjadi sebuah pembersih gulma hingga bermanfaat untuk merevitalisasi sungai.

ilung dijembatan

Eceng Gondok nyangkut di jembatan
Bikin Perangkap
Selain tetap menyewa kapal pembersih eceng gondok yang disebut kapal “sapu-sapu” Pemkot Banjarmasin pun berencana membuat alat perangkap eceng gondok yang larut di sungai tersebut.

Menurut Muryanta, perangkap eceng gondok itu akan dibuat di permukaan air Sungai Martapura, tepatnya di kawasan ada tikungan aliran sungai sehingga tanaman air yang larut ini bisa teperangkap.

Alat itu bukan perangkap sederhana terbuat dari bambu yanga dibentangkan di atas sungai, tetapi dibuatnya dengan teknologi cukup modern dengan tiang beton.

“Ini masih kami perhitungkan, tapi pastinya tiang pancangnya dari beton. Kalau pelampungnya bisa terbuat dari besi atau karet, Sebab kalau alat biasa saja saja tidak mungkin tahan lama,” tuturnya.

Dijelaskan anggaran yang dialokasikan untuk mewujudkan program mengatasi masalah sampah sungai kiriman dari hulu sungai ini sekitarr Rp800 juta.

Selain akan membangun itu, pihaknya juga akan memohon tim pembebasan lahan Pemkot untuk penyediaan lahan pembuangan sampah eceng gondok di sekitar Banua Anyar itu, agar tidak terlalu jauh membuangnya.

Sebab, hasil buangan tanaman yang pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 tersebut akan dikelola.

Eceng gondok bermanfaat untuk dijadikan pupuk, makanya rencanakan yang terperangkap di alat itu tidak dibuang begitu saja, tapi akan dimanfaatkan dan diolah sebagai pupuk kompos, terangnya.

“Silahkan bila ada yang berminat mengelola sampah eceng gondok menjadi barang berharga, selain dib uat pupuk kompos tanaman itu juga bisa dibuat bahan industri dan punya prospek cerah,” kata Muryanta.

Untuk mengurangi serangan eceng gondok itu harus ada perubahan pradiga, eceng gondok yang selama ini dianggap gulma harus menjadi barang beharga dikemudian hari.http://www.youtube.com/watch?v=ZTyr1qvMVJE

Bila tidak demikian maka sulit menangkal serangan tanaman tersebut karena memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

sapu2

Kapal sapu2 pembersih eceng gondok

PENULARAN HIV/AIDS “MENGUSIK” WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

aids
Warga Penghuni wilayah paling selatan pulau terbesar Indonesia Kalimantan, kini kian terusik penularan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) and Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), padahal belakangan kian gencar penanggulangan berbagai penyakit menular lainnya guna menuju masyarakat sehat.

Terungkapnya penyakit tersebut tentu menimbulkan tanda tanya besar banyak pihak mengingat wilayah ini termasuk wilayah agamis.

Mengapa penyakit yang sebagian besar berjangkit di lokasi pristitusi merebak di wilayah yang sebenarnya “mengharamkan” lokalisasi.

Kasus HIV/AIDS menimbulkan dugaan adanya praktek pristitusi terselubung di tempat-tempat terselubung pula, yang menerpa wilayah ini, dan ditengarai selain ditempat hiburan malam, perhotelan, kafe-kafe, lokasi karaoke atau bahkan di lokasi pertambangan batubara yang menjamur di wilayah Kalsel.

Konon banyak pekerja tambang berasal dari luar daerah bekerja di Kalsel tanpa isteri,kemudian “jajan” ke lokasi “remang-remang” ilegal dekat tambang, atau lokasi lain yang bisa menyebarkan penularan panyakit menakutkan itu.

Penularan ini pula diduga akibat kian merebaknya penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik, serta kegiatan seks yang menyimpang.

Peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Kalsel ternyata menjadi sorotan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi.
Saat mengunjungi Banjarmasin (27/2) lalu menyatakan jika angka tersebut terus meningkat, maka akan menjadi bencana bagi Kalsel.

“Ini merisaukan, kalau HIV/AIDS tidak dikendalikan, maka capaian pengurangan penyakit menular lainnya tidak berguna,” ujarnya dihadapan Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin dan jajaran kesehatan setempat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, dari 2002 hingga 2012, angka kasus HIV/AIDS sudah menembus melebihi angka 200 kasus, dan Itupun diduga, masih banyak kasus HIV/AIDS yang belum terdata.

Padahal dalam kasus penyakit tersebut biasanya satu orang yang terdata diduga masih ada sepuluh orang lainnya yang terjangkit tapi belum diketahui,dengan demikian tentu mengusik ketentraman warga yang selama ini sudah merasa agak “aman” dengan kian berkurangnya serangan penyakit, TBC, DBD, malaria, dan penyakit menular lainnya.

Apalagi berdasarkan data kasus HIV/AIDS justru paling banyak menular dikalangan generasi muda yang sebenarnya menjadi pemegang tongkat estapet pembangunan wilayah 13 kabupaten dan kota serta berpenduduk 3,6 juta jiwa itu.

Yang merisaukan pula kasus HIV/AIDS di Kalsel juga menyerang ibu rumah tangga, yang sebenarnya kelompok yang jauh darikegiatan yang bisa menularkan HIV/AIDS.

Kasus HIV di Kalimantan Selatan tertinggi terdapat pada remaja usia produktif yang berumur antara 20-29 tahun yaitu mencapai 50 persen dari total kasus HIV hingga Desember 2012 sebanyak 325 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Akhmad Rusdianyah di Banjarmasin, Kamis mengatakan, berdasarkan estimasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) nasional pada 2009, di Kalimantan Selatan terdapat 948 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Sejak 2002 sampai dengan Desember 2012 sudah ditemukan atau dilaporkan HIV/AIDS sebanyak 587 kasus atau 61,9 persen dari estimasi yang ditetapkan tersebut,” katanya.

Khusus HIV/AIDS, kata dia, prosentase kumulatif HIV tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun, sebanyak 40,6 persen, selanjutnya umur 30-39 tahun sebanyak 18,6 persen, dan 40-49 senbanyak 4,9 persen.

Dari 325 kasus HIV tersebut, sebanyak 68,3 persen terjadi pada perempuan, terutama pada penjaja seks komersial sebanyak 183 kasus, 17,8 persen pada laki-laki dan sisanya 13,9 persen tidak diketahui.

Selanjutnya, yang sangat memprihatinkan, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut kini juga sudah menyerang ibu rumah tangga dengan kasus yang telah ditemukan sebanyak 18 orang.

Penyakit ini juga ditemukan pada warga binaan sebanyak 44 orang dan tenaga non profesional 22 kasus.

Jumlah kasus HIV tertinggi, tambah Rusdiansyah, di Kabupaten Tanah Bumbu sebanyak 149 kasus, Kota Banjarmasin 68 kasus, Banjarbaru, 36 kasus, Kotabaru 16 kasus dan Kabupaten Banjar 13 kasus.

Sedangkan untuk AIDS, sampai dengan Desember 2012 mencapai 262 kasus, dengan kasus tertinggi terjadi pada ibu rumah tangga sebanyak 41 kasus, tenaga non profesional 34 kasus, penjaja seks 18 kasus dan lain-lain 9 kasus.

Daerah terbanyak penderita AIDS yaitu, Banjarmasin, 121 kasus, Banjarbaru, 25 kasus, Tanah Bumbu 25 kasus, Kotabaru, 16 kasus, dan Tabalong sebanyak 13 kasus.

Menurut Rusdiansyah, faktor resiko penularan AIDS tertinggi adalah hubungan seks tidak aman yaitu 88,2 persen dan melalui jarum suntik narkoba dan lainnya sebanyak 11,7 persen.

aids1

Pencegahan
Pihak Dinas Kesehatan Kalsel sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum, khususnya mereka yang beresiko tinggi terjangkit virus yang belum ada obatnya tersebut.

Bahkan di Kalsel dan beberapa kabupaten dan kota di wilayah ini membentuk sebuah lembaga khusus menanggulangi penyakit ini yaitu Komisi Penanggulangan Aids (KPA) , serta lembaga lainnya.

Kota Banjarmasin yang juga banyak kasus HIV/AIDS sudah mengantisipasi penularan tersebut dengan berbagai cara, salah satunya mengkhususnya sebuah Puskesmas untuk melakukan perawatan penyakit tersebut.

Puskesmas yang dipilih melakukan penanganan penyakitHIV/AIDS adalah Puskesmas Pekauman, dimana petugasnya dilatih mengenai penangananh HIV/AIDS serta dilengkapi dengan berbagai peralatan.

Di Banjarmasin sendiri penanggulangan penyakit HIV/AIDS terlihat kian gencar saja, dengan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat luas hingga ke daerah pinggiran, ke tempat hiburan malam, lembaga pemasyarakatan, serta pengambilan simpel darah.

Untuk mencegah penularan penyakit ini di Banjarmasin, yakni membentuk aturan melalui Perda.

“¿Melihat sudah banyaknya warga Banjarmasin terjangkit HIV/AIDS, maka dipandang perlu adanya aturan berupa Perda guna menangkal penyakit itu,¿ kata anggota DPRD Banjarmasin, M Dafik As¿ad.

DPRD Kalsel juga tak tinggal diam, bersama instansi/pihak terkait akan membahas masalah HIV/AIDS. “Ya nanti kita bicarakan dengan pimpinan dewan atau ketua komisi, untuk mengundang instansi/pihak terkait permasalahan HIV/AIDS,” ujar Wakil Ketua Komisi IV bidang kesra DPRD Kalsel H Budiman Mustafa.

Kasus HIV/AIDS ini juga mencuat kepermukaan saat seminar kependudukan kerjasama antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalsel dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setempat.

Dalam seminar tersebut meminta BKKBN meningkatkan perannya terutama menggalakan pemakaian kondom, atau memberikan penyuluhan yang lebih gencar lagi mengenai kesehatan alat produksi (Kespro).

Kepala BKKBN Kalsel, Sunarto mengakui masalah HIV/AIDS telah menjadi perhatian, tetapi porsi program penanggulangan penyakit tersebut relatif agak kecil dibandingkan program lainnya.

Masalah pemakaian kondom atau KB pria bagian dari upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS, begitu juga mengenai masalah-masalah kesehatan reproduksi yang selalu ditekankan terjangkitnya penyakit kelamin termasuk HIV/ADIS

PENYAKIT GIGI DAN MULUT ANCAMAM WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 14/9 (ANTARA) – Permasalahan penyakit gigi dan mulut di Provinsi Kalimatan Selatan (Kalsel) cukup tinggi di Indonesia, yaitu 18,7 persen, indeks gigi berlubang di wilayah ini 6,83 persen.

“Ini menandakan bahwa rata-rata orang Kalsel setiap orangnya memiliki 7 gigi yang bermasalah,” kata Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Drg Zaura Anggraini, MDS.
Kondisi tersebut bisa terjadi karena rendahnya pola kebiasaan menyikat gigi dengan cara dan di waktu yang tepat, katanya.

“Dari 29,2 persen penduduk Kalsel hanya 21,2 persen yang mendapat perawatan gigi.

Padahal, gigi berlubang yang tidak ditangani dengan benar bisa menyebabkan kelainan pada organ tubuh lain seperti jantung.

Gigi dan gusi bisa menjadi gerbang masuknya bakteri dan kuman yang bisa memperparah penyakit sistemik, seperti stroke dan jantung.

Karena itulah perawatan gigi secara benar dan teratur perlu dilakukan untuk mencegah masuknya berbagai kuman.

Perihal ancaman penyakit gigi tersebut diakui Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Drg Diah R Praswasti di sela-sela demonstrasi sikat gigi massal peringati Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2012 di SDN Kebun Bunga 5 Banjarmasin, Rabu (12/9).

Menurut data 2010 menunjukkan, jumlah siswa di Kota Banjarmasin yang menderita karies gigi sudah sebesar 46,1 persen, pada 2011 menjadi 50,7 persen.

“Coba bayangkan, setengah dari seluruh pelajar yang ada di Kota Banjarmasin ibukota Provinsi Kalsel memiliki karies gigi,” ujarnya.

Berdasarkan data itu dari semua penduduk, hanya tujuh persen saja yang mengetahui bagaimana cara menyikat gigi yang baik dan benar, dengan frekuensi yang tepat, yakni minimal selama dua menit.

Oleh sebab itu, lanjut Diah, Banjarmasin ikut serta dalam BKGN dengan mengadakan acara sikat gigi massal diharapkan dapat mendidik siswa dan masyarakat bagaimana menyikat gigi yang benar.

Menurut Diah, dengan kian meningkatnya penyakit gigi dan mulut maka diperlukan kegiatan untuk menekan peningkatan kasus penyakit tersebut.

Pada acara demonstrasi massal sikat gigi dibantu Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Persatuan Perawat Gigi Indonesia (PPGI) Cabang Banjarmasin, selain memberikan penyuluhan, juga mengadakan praktek pemeriksaan gigi siswa gratis.

Wakil Wali Kota Banjarmasin, Iwan Anshari pun ikut bersama puluhan anak SD mendemontrasikan cara menyikat gigi dengan benar pada acara tersebut.

Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, drg Rosehan Adhani mengakui pula mayoritas warga Kalsel mengalami penyakit gigi dan mulut. Sebanyak 83,4 persen orang Kalsel alami karies atau gigi berlubang dan hanya 10,3 persen warga yang berprilaku benar menggosok gigi.

Menurut data Dinkes Kalsel, proporsi penduduk bermasalah gigi dan mulut mencapai 29,9 persen dengan rata-rata kerusakan gigi sebanyak tujuh buah perorang. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 4,85 gigi per orang.

Serta jumlah warga Kalsel sekitar tiga juta jiwa lebih yang mendapatkan perawatan gigi dari tenaga medis cuma 21,1 persen
Di sisi lain, jumlah dokter gigi di Kalsel hanya lima orang untuk 100.000 penduduk, dan belum adanya pendidikan kedokteran gigi.

Banyaknya warga yang menderita penyakit gigi dan mulut tersebut memang banyak menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat,apakah karena memang kesadaran merawat gigi rendah atau ada persoalan lain.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin Diah R Praswasti sendiri mengakui memang ada masalah lain dalam kesehatan gigi, lantaran kandungan kalsium dalam air di Kalsel nol persen, sehingga kalsium hanya bisa diperoleh dari makanan yang lain.

Kalsium diperlukan dalam tubuh khususnya untuk kekuatan tulang dan gigi, katanya.

Banyaknya kerusakan gigi dan mulut tersebut ada juga pihak yang menduga akibat pola makan warga Kalsel yang salah seperti kebiasaan mengkonsumsi makanan dengan kadar gula tinggi.

Atau suka mengkonsumsi makanan fermentasi, seperti terasi, ikan dengan kadar garam yang disebut “wadi” atau “pakasam.” dan makanan fermentasi lainnya.

Belum lagi kebiasaan warga yang suka minum air teh selagi panas, atau suka minuman dengan sangat dingin.

Melihat kenyataan tersebut, akhirnya Pemprop Kalsel mengambil keputusan untuk mendirikan sebuah rumah sakit khusus perawatan gigi dan mulut, termasuk mendirikan program studi kedokteran gigi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.

Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) di Jalan Veteran Banjarmasin, yang kini hampir 50 persen bangunan fisiknya sudah rampung.

Lokasi pembangunan RSGM terbilang strategis karena dekat dengan RSUD Ulin Banjarmasin, yangmerupakan rumah sakit pendidikan bagi Program Studi Kedokteran Umum.

Dana yang diinvestasikan untuk pembangunan RSGM yang dirancang enam lantai tersebut seluruhnya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kalsel yang senilai lebih dari Rp500 miliar tersebut.

Dengan adanya rumah sakit yang representatif ditambah program studi kedokteran gigi di Kalsel itu diharapkan persoalan penyakit gigi dan mulut tidak lagi menjadi sebuah ancaman kesehatan warga setempat.

MEMPERELOK KOTA BANJARMASIN MELALUI PENATAAN SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,6/9 (ANTARA)- “Coba kita berdiri di malam hari di Jembatan Merdeka atau Jembatan Pangeran Antasari, pandang ke arah sungai, begitu eloknya kota Banjarmasin ini,” kata Asisten II Bidang pembangunan, Bambang Budiyanto, kepada wartawan.

Coba pula dibayangkan Kota Banjarmasin era tahun 90-an di saat masih kumuhnya bantaran sungai, maka kota ini begitu jelek.

Tetapi coba lihat sekarang setelah bantaran sungai dibenahi melalui pembangunan siring yang kemudian dipenuhi dengan taman-taman bunga dan pohon hijau serta dan lampu hias, maka begitu terasa eloknya.

“Melihat kenyataan tersebut maka pembenahan sungai yang dilakukan secara bertahap oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin dan dibantu pemerintah pusat dan pemerintah provinsi sudah menunjukkan hasil,” katanya saat memimpin jumpa pers berkenaan hari jadi Kota Banjarmasin.

Menurut dia, bila sudah menyadari pembenahan sungai melahirkan suatu keindanan dan kenyamanan, selayaknya seluruh warga mendukung upaya pemerintah dalam pembenahan sungai tersebut.

Apalagi arah pembangunan Kota Banjarmasin yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut benar-benar berbasis sungai maka tak ada pilihan kecuali bekerja keras dalam pembenahan sungai.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase Banjarmasin, Ir Muryanta dalam kesempatan yang sama membenarnya instansinya dibebani mengubah kota Banjarmasin yang kumuh menjadi sebuah kota sungai yang elok.

“Dulu hampir semua bantaran sungai kumuh, dan tak enak dipandang, sekarang lihat bantaran Sungai Martapura Jalan Pire Tendean dan Jalan Sudirman sudah rapi dan tertata begitu bagus, semua hasil dari tekad mengubah kekumuhan menjadi keindahan,” katanya.

Menurut dia, ke depan semua bantaran sungai akan ditata, permukiman kumuh akan dibebaskan dirombak menjadi kawasan siring sungai yang penuh dengan pertamanan dan lampu-lampu hias.

“Sekarang bantaran sungai yang kumuh telah berhasil diubah menjadi kawasan bersih sepanjang dua kilometer, masih begitu panjang yang harus dirombak lagi,” katanya.

Melihat panjangnya bantaran sungai Banjarmasin yang masih terlihat kumuh maka diperlukan dana besar untuk membebaskan kawasan tersebut agar menjadi sebuah kawasan yang elok, dan ditaksir sedikitnya membutuhkan dana Rp500 miliar.

“Kita lakukan secara bertahap, sekarang masih dalam pembenahan bantaran sungai Jalan Pire Tendean dan membutuhkan dana Rp50 miliar, dan baru ke lokasi-lokasi lain lagi, termasuk kawasan Pasar Lama hingga ke Sungai Jingah,” kata Muryanta yang didampingi Kepala Dinas Bina Marga, M Amin MT.

Bukan hanya bantaran Sungai Martapura yang memperoleh pembenahan, tetapi juga bantaran sungai-sungai kecil dalam kota, seperti Sungai Veteran, Sungai Kuripan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Miai, Sungai Pangeran, dan sungai lainnya.

Bahkan untuk sungai Jalan Veteran dan Teluk Dalam menjadi lokasi percontohan pembenahan sungai ke depan, sebab sebelah kanan dan kiri sungai akan dibangun jalan.

Sebagai contoh sungai di tepian di Jalan Veteran sudah ada jalan tetapi di seberangnya juga harus dibangunkan jalan lagi. Karena itu lokasi bangunan yang dibolehkan harus 14 meter jaraknya dari sungai.

Setelah dibangunkan jalan di sisi kiri dan kanan sungai barulah nanti dibuatkan jembatan, tetapi jembatan berada di lokasi yang tepat.

“Karena itu pemkot melarang keras setiap ada bangunan rumah atau rumah dan toko (ruko) selalu membangun jembatan sendiri-sendiri, karena kalau itu terjadi maka keberadaan sungai sebagai sarana lalu lintas air menjadi tidak berarti,” kata Muryanta.

Menurut dia, beberapa lokasi sungai di Banjarmasin terlihat begitu banyak jembatan penyeberangan, akhirnya selain merusak keindahan juga menghilangkan fungsi sungai.

“Tadinya data sungai di Banjarmasin sebanyak 105 sungai, tetapi setelah didata ulang ternyata ada 150 sungai, yang kesemuanya itu harus dibenahi, baik bantaran sungainya, serangan sampah dan gulma serta sidimentasinya,” tutur Muryanta.

Takad pembenahan sungai tersebut tak lain karena kekayaan Kota Banjarmasin agaknya terletak pada sungai sungai tersebut, karena wilayah ini minim sumberdaya alam seperti tambang, hutan, dan pertanian.
“Bila kota ini mau maju, maka solusinya adalah memanfaatkan sungai-sungai tersebut sebagai magnet ekonomi, khususnya kepariwisataan,” tutur Muryanta.

 

contoh sungai yang rusak

Sementara Kepala Dinas Bina Marga, M Amin, menambahkan untuk mendukung pembangunan berbasis sungai tersebut, maka pihaknya pun melakukan berbagai upaya pembangunan dengan mengedepankan keberadaan sungai.

“Dalam pembangunan jembatan saja, semuanya akan dibuat melengkung, artinya dengan melengkung maka sungai-sungai berada di bawah jembatan akan tetap berfungsi sebagai sarana lalu-lintas air,” tutur M Amin.

Bukan hanya jembatan kecil yang tercatat hampir 400 buah, juga jembatan besar pun nantinya dibuat melengkung, setidaknya ketinggiannya mencapai lima meter dari permukaan air saat pasang dalam, tuturnya.

Berdasarkan rencana ke depan, dan sudah memperoleh dukungan pemerintah, jembatan Pangeran Anatasri yang selama ini menjadi ikon kota pun akan dirombak menjadi sebuah jembatan melengkung.

Kemudian jembatan besar lainnya, adalah Jembatan Dewi, Jembatan Pasar Lama, Jembatan Merdeka akan dibangun ulang lebih tinggi lagi, agar kapal-kapal bisa lewat melalui bawah jembatan tersebut, kata M Amins.

Dukungan sebuah kota sungai tersebut juga muncul dari Dinas Perhubungan setempat yang mulai sekarang membangun sebanyak mungkin dermaga angkutan sungai baik di Sungai Martapura, Sungai Barito maupun di sungai kecil lainnya.

Berdasarkan keterangan setiap adanya jembatan baik jembatan besar maupun jembatan kecil selalu akan dibangunkan dermaga angkutan sungai.

Dengan demikian, orang bepergian di kota ini bisa enak melalui jalan darat, tetapi enak pula kalau harus naik angkutan sungai.

Sementara Dinas Pariwisata yang paling berkepentingan dengan pembenahan wisata air, juga tak mau kalah membuat program pembenahan wisata sungai, dengan membuat lokasi-lokasi wisata baru berbasis sungai termasuk membuat pasar terapung buatan di perairan Pulau Insan.

Bukan hanya itu, Dinas Pariwisata pun akan membuat paket wisata di kota ini lebih banyak mengarahkan kunjungan ke objek wisata sungai tersebut.

Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono saat berada kota ini beberapa waktu lalu mnilai Banjarmasin akan menjadi sebuah kota metropolis, jika berhasil memanfaatkan sungai sebaik-baiknya.

“Kota Banjarmasin, adalah kota yang unik dikelilingi dan dibelah-belah sungai besar dan kecil, jika sungai itu dimanfaatkan maksimal akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan kota ini,” kata Danni Sutjiono.

Menurut dia, sungai di Banjarmasin perlu dipelihara agar bisa menjadi daya pikat wisata dan sarana lalu lintas air di samping sumber air baku PDAM sehingga ketersediaan air bersih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Bila sebuah kota dengan ketersediaan air bersih mencukupi dipastikan kota tersebut akan menjadi hunian dan perkembangan perkotaan yang nyaman, lantaran air bersih merupakan sarana vital dalam kehidupan.

“Lihat Kota Singapura yang tidak memiliki sumberdaya alam tetapi mampu menyediakan air bersih dengan cukup dan fasilitas lainnya akhirnya kota tersebut menjadi kota metropolis,” katanya.

Lihat juga kota Bangkok, di mana sungai ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah objek wisata yang menarik, dan bahkan telah berhasil menciptakan kota tersebut sebagai kota tujuan wisata dunia.

Melihat kenyataan tersebut sebenarnya Kota Banjarmasin bisa mengejar kemajuan kedua kota ternama di dunia tersebut, tentu dengan memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya.

Apalagi Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang melebihi dari kota-kota yang disebut di atas, sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri, tinggal bagaimana pemerintah kota ini menciptakannya lebih menarik lagi.