“LOMBA ANGKAT LUMPUR” TUMBUHKAN SEMANGAT SELAMATKAN SUNGAI

6

Oleh Hasan Zainuddin

 

Banjarmasin,18/9 (Antara)- Satu kelompok terdiri dari enam orang ibu berbaju kaos bercelana panjang begitu bersemangat masuk sungai, lalu tangan mereka begitu cekatan mengeruk lumpur di dasar sungai menggunakan sebuah keranjang rotan, lalu mengangkatnya ke bak sebuah truk yang sudah disediakan di dekat lokasi tersebut.
Tak peduli bedak putih yang berada di wajah para ibu tersebut berubah menghitam setelah hampir seluruh tubuh berlumuran lumpur warna hitam berasal dari sungai Jalan A Yani depan gedung RRI Banjarmasin.
Diiringi suara musik dangdut dari pengeras suara, para ibu-ibu tersebut terus bekerja sambil mengangkat lumpur dengan sesekali berjoget mengiringi irama musik yang dibunyikan panitia penyelanggara dalam lomba angkat lumpur yang kini sudah dibudayakan di wilayah yang berjuluk “kota dengan seribu sungai,” (city with a thousand rivers).
Kelompok ibu-ibu ini satu dari 32 kelompok yang menjadi peserta dalam kegiatan lumba angkat lumpur tahun 2014 yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kalimantan selatan, bekerjasama dengan TNI AL Banjarmasin, pada Minggu (14/9) lalu.
Lomba sendiri dibuka dibuka Komandan Lanal Banjarmasin Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto didampingi oleh Wali Kota Banjarmasin H Muhidin.
Wali kota Banjarmasin menyatakan terus membudayakan lumba angkat lumpur ini, karena dengan lumba ini selain akan merevitalisasi sungai sekaligus akan menanamkan kecintaan sekitar 700 ribu poenduduk kota untuk memelihara sungai.
“Kedepan lumba angkat lumpur akan ditingkatkan lagi pesertanya diundang 52 kelurahan, kalau perlu akan memperoleh penghargaan MURI,” kata wali kota.
Dalam lomba keluar juara Kelompok PMK Sinar Daha berhak Rp10 juta rupiah, disusul kelompok Maya Daha Rp7,5 juta, lalu ketiga Kelompok Ikan Haruan Rp5 juta,tiga kelompok ini juga berhak atas tropy.
Lomba kaitan memperingati hari jadi Kota Banjarmasin ke- 448 dan HUT TNI AL ke- 69 tersebut bertujuan agar masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan disekitarnya, khususnya memelihara sungai.

 

Revitalisasi Sungai

 

 

 

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) Banjarmasin Muryanta yang ikut dalam kelompok lomba dengan tersengal-sengal menahan nafas lantaran kelelahan merasa gembira melihat antusias ratusan orang peserta dalam lomba ini.
“Ini tampaknya paling ramai dibandingkan dengan lumba angkat lumpur dari tahun-tahun sebelum-sebelumnya, moga kedepan kian ramai lagi,” kata Muryanta yang kelompoknya dari kantor SDA tidak memperoleh kemenangan dalam lomba tersebut.
Menurutnya,lumba ini berdampak positif dalam upaya pemerintah mensosialisasikan kebersihan sungai, karena kepedulian masyarakat memelihara sungai kunci sukses menghidupkan kembali keberadaan sungai sebagai sarana transportasi, drainase, dan kelestarian lingkungan hidup.
Di Banjarmasin sendiri terdapat 105 sungai besar dan kecil, yang besar Sungai Barito dan Sungai Martapura, dari jumlah itu sebanyak 30 persen sungai-sungai tersebut sudah mati karena sendimentasi, diserang gulma, dan karena tersita oleh pemukiman penduduk dan pembangunan perkotaan.
Apalagi kedepan dalam kebijakan Pemkot setempat akan menjadikan sungai sebagai urat nadi perekonomian, mengingat wilayah ini tidak memiliki sumberdaya alam seperti hutan, tambang, pertanian, perkebunan, dan lainnya.
Salah satu yang dipilih mendongkrak ekonomi adalah sungai, makanya sungai harus dihidupkan lagi sebagai sarana transportasi, khususnya dibenahi untuk dunia kepariwisataan mengingat kota ini sudah dikenal luas sebagai kota wisata sungai di tanah air.
Upaya membenahi sungai tersebut sudah dilakukan Pemkot Banjarmasin melalui kantor SDA yang menghabiskan dana sudah ratusan miliar rupiah lebih yang dilakukan secara bertahap.
Mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.
“Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Piere Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata yang menarik dan menjadi ikon kota,”tuturnya.
Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit itu.
Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanangkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.
Dengan arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan lain selain bagaimana agar sungai-sungai bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.
Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut. Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai Kota Banjarmasin, seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.
“Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah,” tutur Muryanta.
Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.
Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.
Mengenai pembangunan siring sebagai lokasi “waterforont city” menuju kota metropolis akan memanjang hingga lima kilometer, yang diyakininya selesai 10 tahun, padahal target sebelumnya itu baru bisa dikerjakan selama 25 tahun.
Optimistis mampu merampungkan proyek tersebut didasari dengan kenyataan yang ada selama lima tahun terakhir ini saja sudah dibangun tiga kilometer. Tiga kilometer tersebut seperti sepanjang siring di Jalan Piere Tendean, eks SMP-6, serta Jalan Sudirman.
Tinggal penyelasaian antara Siring eks SMP 6 ke pekapuran hingga ke Jalan RK Ilir tepatnya hingga Tempat Pendaratan Ikan (TPI) air tawar Jalan RK Ilir,tambahnya.
Tiga kilometer proyek siring tersebut sudah menghabiskan dana sedikitnya Rp75 miliar, sebagian besar atau Rp60 miliar berasal dari dana APBN melalui Balai Besar Sungai Kementerian PU, sisanya melalui APBD Pemprov Kalsel, serta APBD Kota Banjarmasin.
Untuk menyelasaikan sepanjang lima kilometer proyek siring tersebut maka dibutuhkan dana sedikitnya Rp150 miliar lagi, katanya seraya menyebutkan bahwa proyek siring dikerjakan sejak tahun 2008.
“Kami akan lanjutkan pembangunan siring Sungai Martapura, agar kota kita tambah indah dan nyaman, hingga nantinya terdapat pusat kuliner ketupat seperti di Pekapuran serta pusat cendramata kain Sasirangan di kampung Seberang Masjid,” tambah Muryanta.
Apalagi sekarang sedang diselesaikan proyek menara pandang Rp14 miliar berlantai empat yang berarsitektur khas budaya Banjar di lokasi siring Pire Tendean menambah kesemarakan kota yang berada paling selatan pulau terbesar nusantara ini.
Kawasan lain yang segera dibenahi wisata sungai sebagai sentra kuliner, yakni di Desa Pekapuran, khususnya ketupat mengingat di lokasi tersebut banyak sekali perajin makanan tersebut. Jika terbangun siring mempermudah wisatawan mendatangi sentra kuliner ketupat baik melalui sungai maupun melalui darat.
Pembangunan siring Desa Pekapuran tak masalah karena dana akan diperoleh bantuan Balai Besar Sungai Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Tinggal bagaimana mendanai pembebasan terhadap bangunan lama atau pemukiman penduduk wilayah itu, antara Jembatan Dewi terus ke Pekapuran atau menmyambung siring terdahulu.
Di Desa Pekapuran banyak perajin ketupat menyebar di lingkungan RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, hingga lingkungan RT 7. Tadinya membuat ketupat hanya penduduk asli setempat, tetapi setelah potensi ekonomi membuat ketupat begitu menjanjikan sehingga belakangan banyak pendatang yang juga ikut-ikutan menjadi perajin ketupat.
Di desa tersebut bukan saja mereka yang hanya mengayam daun kelapa dan daun nifah menjadi kulit ketupat, tetapi tak sedikit yang menjadi pedagang grosir, pedagang eceran, sampai mereka yang bertindak sebagai pencari bahan baku daun kelapa dan daun nifah.
Kawasan tersebut ramai pengunjung untuk membeli ketupat, apalagi jika menjelang idul Fitri dan Idul Adha.
Selain itu Pemkot juga membangun wisata bantaran sungai Desa Seberang Masjid
sebagai kawasan cendramata Kain Sasirangan, serta pusat souvenir lainhya.
Bila semua fasilitas wisata sungai dibenahi termasuk penyediaan sarana angkutan seperti kapal-kapal wisata, spead boat, klotok, dan pembenahan pasar terapung, pemukiman terapung, industri terapung, dan kehidupan sungai lainnya ditambah akomodasi penginapan yang memadai maka akan mewujudkan sungai sebagai penggerak ekonomi masyarakat melalui dunia kepariwisataan.

 

Iklan

MEMPERELOK KOTA BANJARMASIN MELALUI PENATAAN SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,6/9 (ANTARA)- “Coba kita berdiri di malam hari di Jembatan Merdeka atau Jembatan Pangeran Antasari, pandang ke arah sungai, begitu eloknya kota Banjarmasin ini,” kata Asisten II Bidang pembangunan, Bambang Budiyanto, kepada wartawan.

Coba pula dibayangkan Kota Banjarmasin era tahun 90-an di saat masih kumuhnya bantaran sungai, maka kota ini begitu jelek.

Tetapi coba lihat sekarang setelah bantaran sungai dibenahi melalui pembangunan siring yang kemudian dipenuhi dengan taman-taman bunga dan pohon hijau serta dan lampu hias, maka begitu terasa eloknya.

“Melihat kenyataan tersebut maka pembenahan sungai yang dilakukan secara bertahap oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin dan dibantu pemerintah pusat dan pemerintah provinsi sudah menunjukkan hasil,” katanya saat memimpin jumpa pers berkenaan hari jadi Kota Banjarmasin.

Menurut dia, bila sudah menyadari pembenahan sungai melahirkan suatu keindanan dan kenyamanan, selayaknya seluruh warga mendukung upaya pemerintah dalam pembenahan sungai tersebut.

Apalagi arah pembangunan Kota Banjarmasin yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut benar-benar berbasis sungai maka tak ada pilihan kecuali bekerja keras dalam pembenahan sungai.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase Banjarmasin, Ir Muryanta dalam kesempatan yang sama membenarnya instansinya dibebani mengubah kota Banjarmasin yang kumuh menjadi sebuah kota sungai yang elok.

“Dulu hampir semua bantaran sungai kumuh, dan tak enak dipandang, sekarang lihat bantaran Sungai Martapura Jalan Pire Tendean dan Jalan Sudirman sudah rapi dan tertata begitu bagus, semua hasil dari tekad mengubah kekumuhan menjadi keindahan,” katanya.

Menurut dia, ke depan semua bantaran sungai akan ditata, permukiman kumuh akan dibebaskan dirombak menjadi kawasan siring sungai yang penuh dengan pertamanan dan lampu-lampu hias.

“Sekarang bantaran sungai yang kumuh telah berhasil diubah menjadi kawasan bersih sepanjang dua kilometer, masih begitu panjang yang harus dirombak lagi,” katanya.

Melihat panjangnya bantaran sungai Banjarmasin yang masih terlihat kumuh maka diperlukan dana besar untuk membebaskan kawasan tersebut agar menjadi sebuah kawasan yang elok, dan ditaksir sedikitnya membutuhkan dana Rp500 miliar.

“Kita lakukan secara bertahap, sekarang masih dalam pembenahan bantaran sungai Jalan Pire Tendean dan membutuhkan dana Rp50 miliar, dan baru ke lokasi-lokasi lain lagi, termasuk kawasan Pasar Lama hingga ke Sungai Jingah,” kata Muryanta yang didampingi Kepala Dinas Bina Marga, M Amin MT.

Bukan hanya bantaran Sungai Martapura yang memperoleh pembenahan, tetapi juga bantaran sungai-sungai kecil dalam kota, seperti Sungai Veteran, Sungai Kuripan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Miai, Sungai Pangeran, dan sungai lainnya.

Bahkan untuk sungai Jalan Veteran dan Teluk Dalam menjadi lokasi percontohan pembenahan sungai ke depan, sebab sebelah kanan dan kiri sungai akan dibangun jalan.

Sebagai contoh sungai di tepian di Jalan Veteran sudah ada jalan tetapi di seberangnya juga harus dibangunkan jalan lagi. Karena itu lokasi bangunan yang dibolehkan harus 14 meter jaraknya dari sungai.

Setelah dibangunkan jalan di sisi kiri dan kanan sungai barulah nanti dibuatkan jembatan, tetapi jembatan berada di lokasi yang tepat.

“Karena itu pemkot melarang keras setiap ada bangunan rumah atau rumah dan toko (ruko) selalu membangun jembatan sendiri-sendiri, karena kalau itu terjadi maka keberadaan sungai sebagai sarana lalu lintas air menjadi tidak berarti,” kata Muryanta.

Menurut dia, beberapa lokasi sungai di Banjarmasin terlihat begitu banyak jembatan penyeberangan, akhirnya selain merusak keindahan juga menghilangkan fungsi sungai.

“Tadinya data sungai di Banjarmasin sebanyak 105 sungai, tetapi setelah didata ulang ternyata ada 150 sungai, yang kesemuanya itu harus dibenahi, baik bantaran sungainya, serangan sampah dan gulma serta sidimentasinya,” tutur Muryanta.

Takad pembenahan sungai tersebut tak lain karena kekayaan Kota Banjarmasin agaknya terletak pada sungai sungai tersebut, karena wilayah ini minim sumberdaya alam seperti tambang, hutan, dan pertanian.
“Bila kota ini mau maju, maka solusinya adalah memanfaatkan sungai-sungai tersebut sebagai magnet ekonomi, khususnya kepariwisataan,” tutur Muryanta.

 

contoh sungai yang rusak

Sementara Kepala Dinas Bina Marga, M Amin, menambahkan untuk mendukung pembangunan berbasis sungai tersebut, maka pihaknya pun melakukan berbagai upaya pembangunan dengan mengedepankan keberadaan sungai.

“Dalam pembangunan jembatan saja, semuanya akan dibuat melengkung, artinya dengan melengkung maka sungai-sungai berada di bawah jembatan akan tetap berfungsi sebagai sarana lalu-lintas air,” tutur M Amin.

Bukan hanya jembatan kecil yang tercatat hampir 400 buah, juga jembatan besar pun nantinya dibuat melengkung, setidaknya ketinggiannya mencapai lima meter dari permukaan air saat pasang dalam, tuturnya.

Berdasarkan rencana ke depan, dan sudah memperoleh dukungan pemerintah, jembatan Pangeran Anatasri yang selama ini menjadi ikon kota pun akan dirombak menjadi sebuah jembatan melengkung.

Kemudian jembatan besar lainnya, adalah Jembatan Dewi, Jembatan Pasar Lama, Jembatan Merdeka akan dibangun ulang lebih tinggi lagi, agar kapal-kapal bisa lewat melalui bawah jembatan tersebut, kata M Amins.

Dukungan sebuah kota sungai tersebut juga muncul dari Dinas Perhubungan setempat yang mulai sekarang membangun sebanyak mungkin dermaga angkutan sungai baik di Sungai Martapura, Sungai Barito maupun di sungai kecil lainnya.

Berdasarkan keterangan setiap adanya jembatan baik jembatan besar maupun jembatan kecil selalu akan dibangunkan dermaga angkutan sungai.

Dengan demikian, orang bepergian di kota ini bisa enak melalui jalan darat, tetapi enak pula kalau harus naik angkutan sungai.

Sementara Dinas Pariwisata yang paling berkepentingan dengan pembenahan wisata air, juga tak mau kalah membuat program pembenahan wisata sungai, dengan membuat lokasi-lokasi wisata baru berbasis sungai termasuk membuat pasar terapung buatan di perairan Pulau Insan.

Bukan hanya itu, Dinas Pariwisata pun akan membuat paket wisata di kota ini lebih banyak mengarahkan kunjungan ke objek wisata sungai tersebut.

Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono saat berada kota ini beberapa waktu lalu mnilai Banjarmasin akan menjadi sebuah kota metropolis, jika berhasil memanfaatkan sungai sebaik-baiknya.

“Kota Banjarmasin, adalah kota yang unik dikelilingi dan dibelah-belah sungai besar dan kecil, jika sungai itu dimanfaatkan maksimal akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan kota ini,” kata Danni Sutjiono.

Menurut dia, sungai di Banjarmasin perlu dipelihara agar bisa menjadi daya pikat wisata dan sarana lalu lintas air di samping sumber air baku PDAM sehingga ketersediaan air bersih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Bila sebuah kota dengan ketersediaan air bersih mencukupi dipastikan kota tersebut akan menjadi hunian dan perkembangan perkotaan yang nyaman, lantaran air bersih merupakan sarana vital dalam kehidupan.

“Lihat Kota Singapura yang tidak memiliki sumberdaya alam tetapi mampu menyediakan air bersih dengan cukup dan fasilitas lainnya akhirnya kota tersebut menjadi kota metropolis,” katanya.

Lihat juga kota Bangkok, di mana sungai ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah objek wisata yang menarik, dan bahkan telah berhasil menciptakan kota tersebut sebagai kota tujuan wisata dunia.

Melihat kenyataan tersebut sebenarnya Kota Banjarmasin bisa mengejar kemajuan kedua kota ternama di dunia tersebut, tentu dengan memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya.

Apalagi Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang melebihi dari kota-kota yang disebut di atas, sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri, tinggal bagaimana pemerintah kota ini menciptakannya lebih menarik lagi.