NIKMATI “PULAU PINUS” BERWISATA DI TENGAH DANAU

Oleh Hasan Zainuddin


Mataku tak berkedip saat pandangan terarah ke gaun panjang warna coklat kemerahan yang berjalan di tepian Pulau Pinus atau dekat bibir danau Riam Kanan, Desa Twingan Baru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Wanita yang berumur sekitar 30 tahun itu begitu asyiknya berfoto ria dengan teman-temannya, sesekali ku perhatikan ada perasaan kenal dengan wanita yang berkulit putih dan berjilbab tersebut.
Pura-pura ku juga berfoto seraya mendekat sekelompok wanita yang ternyata dari kota intan “Martapura” ini, agar bisa lebih memperhatikan wanita yang berlipstik merah keunguan ini.
Setelah ku mendekat ternyata wanita itu tampak terperanjat. “Rasanya ulun (aku) kenal dengan sampian ini, tapi dimanalah,” kata wanita ini dengan lembutnya.
“Aku juga rasa kenal,” kataku menjawab seraya berpura-pura lagi mengambil foto pemandangan indah di kawasan objek wisata andalan Kabupaten Banjar, Kalsel ini.
“Oh ingat, ingat sudah, sampian pak Hasan Zainuddin, ya kan” katanya bertanya. “Betul” kataku singkat.
Masih-masih ku mengingat-ngingat kenal dimana orang ini, wajahnya begitu akrab di perasaan ku, wah bingung ah pusing, lupa-lupa, gumamku.
“Kita kan sering ngobrol,”katanya lagi, wah wah tambah bingung aku, sering ngobrol, ngobrol dimana fikirku lagi.
“Kita kan sering ngobrol lewat inbox Facebook (FB)” katanya sambil tertawa. “Atagfirullah, ya ya ya baru aku ingat, kamu kan Dira,” kataku seraya disambut dengan anggukkan kepala beserta iringan senyum manisnya.
Tak kusangka ternyata pertemuan “kopi darat” dengan kawan FB ini justru berada di lokasi yang penuh dengan sentuhan nuansa alam Pulau Pinus di tengah Danau Riam Kanan yang dikelilingi oleh pemandangan lembah, hutan, dan Pegunungan Meratus yang tampak membiru.
Setelah ngobrol sebentar, lalu berpisah dengan iringan lambaian tangan yang lembut, tentu saja dibarengi oleh pandangan mata kawan-kawannya yang kesemuanya adalah wanita.
“Daaah,” kataku, dan “daaah” katanya pula seraya kulangkahkan kaki menuju sebuah lokasi tempat duduk yang persis berada di bawah pepohonan pinus yang menjulang tinggi di hamparan delta yang tak terlalu luas di kawasan destinasi wisata alam itu.

Wisata alam

Pulau Pinus berada di tengah danau Riam Kanan atau sebuah waduk buatan yang luasnya 8000 hektare, danau ini memiliki fungsi penting sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air, pengatur irigasi, mencegah erosi dan banjir yang merupakan bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.
Danau Riam Kanan terletak 65 Kilometer di sebelah Tenggara Kota Banjarmasin. Jika berangkat dari kota Banjarmasin maka melewati kota Banjarbaru menuju desa Aranio.
Kondisi jalan untuk menuju ke lokasi danau sudah cukup baik, dapat dilewati oleh kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat maupun angkutan umum pedesaan.
Penulis beserta 13 orang anggota rombongan datang ke wisata ini Minggu (17/7) lalu, selain ke Pulau Pinus juga menikmati wisata lainnya di wilayah yang dikenal sebagai kawasan penelitian, pendidikan, dan konservasi ini.
Setelah tiba di pelabuhan Aranio rombongan menyewa sebuah klotok (perahu bermesin) Rp400 ribu menyurusi danau bendungan yang dulu dibangun dengan waktu hampir 10 tahun tersebut.
Perjalanan menelan waktu sekitar satu jam itu menyusuri hanya sebagian dari luasan danau dengan tujuan Desa Tiwingan Baru.
Dalam perjalanan susur danau rombongan bisa menikmati aneka pemandangan alam yang indah, selain pepohonan yang rindang, lembah-lembah juga terlihat deretan penunungan meratus yang membiru.
Terlihat pula aktivitas nelayan dengan sampan kecil lagi memancing, menjala, dan merenggi. Akan tetapi, yang paling banyak terlihat ratusan mungkin ribuan buah keramba yang mengapung di sepanjang danau yang membiru dari sebuah bendungan yang diresmikan pada tahun 1973 oleh presiden ke-2 RI H.M. Soeharto.
Tujuan rombongan ini ke desa, terutama ada rumah penduduk yang dikontak lebih awal untuk memasakan nasi makan siang yang letak rumah persis di bibir bendungan.
Setibanya di rumah tersebut ternyata oleh tuan rumah sudah dihidangkan makan siang dengan aneka saturan alam, seperti terung rebus, daun singkong, tumun, kacang-kacangan, dengan ikan nila besar dan ikan mas besar di bakar.
Tentu saja dibarengi dengan sambal terasi yang pedas tak ketinggalan “cacapan” (bagian makanan suku Banjar) terbuat dari bawang merah, terasi bakar, irisan mangga muda, dan cabai rawit.
Ditambah lokasi persis di pelataran rumah yang menghadap kepantai danau dengan hemburan angin sepui-sepui dan suara gemercik gelombang danau yang menyentuh bibir pantai menyebabkan semua anggota rombongan makan dengan lahapnya.
“Selain masakannya memang enak, ditambah perut juga lapar, duh makannya jadi lahap, sampai-sampai perut, kok, rasa kencang,” kata Afrizaldi, anggota rombongan, seraya memperlihatkan perutnya.
Setelah istirahat sebentar sambil tiduran rombongan melanjutkan perjalanan hanya jalan kaki ke Pulau Pinus yang juga sebuah objek wisata kawasan riam kanan. Saat jalan kaki harus menyeberangi titian (jembatan kecil) panjang terbuat dari kayu ulin menyeberangi danau.
Di lokasi ini anggota sempat berfoto bersama atau sebagian lagi swafoto (selfie) sendiri-sendiri dengan latar belakang pemandangan di danau yang sudah menjadi destinasi wisata andalan Kalsel ini.
Saat di Pulau Pinus anggota rombongan menyebar ada yang meletakan tikar untuk tiduran, ada yang duduk di pandai sambil foto ada pula yang nongkrong di warung seraya menghirup segarnya air kelapa.
Berdasarkan pengamatan penulis, kawasan ini hanya ditumbuhi pohon pinus, di bawah pepohonan terasa dingin karena naung oleh kanopi-kanopi daun pinus hingga terhindar teriknya sinaran matahari.
Wisatawan saat kedatangan penulis memang tak terlalu banyak mungkin ada sekitar seratus orang, dan mereka kebanyakan duduk berkelompok sambil ngobrol seraya menikmati makanan agaknya yang sudah dibawa dari rumah.
Tapi sebagian wisatawan lagi nongkrong dan berjanda di bangku duduk yang memang banyak disediakan oleh pengelola lokasi tersebut di bibir pantai pulau menghadap ke tengah danau.
Penulis sendiri sempat pula duduk dan berfoto selfie sesekali bertegur sapa dengan rombongan wisatawan lainnya kebanyakan adalah wisatawan lokal (wilayah Kalsel).
Setelah lama di Pulau Pinus rombongan rencananya naik ke Bukit Atas sebuah lokasi paling tinggi di hamparan wisata Riam Kanan. Akan tetapi, karena waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Wita, kemudian diputuskan untuk kembali saja.
Wilayah Riam Kanan merupakan objek wisata yang sudah dipromosikan luas ke nasional dan internasional karena selain ada bendungan, lembah, riam di objek wisata Sungai Kembang, Pulau Pinus, dan Bukit Atas, dan banyak lagi objek wisata lainnya. ***4***

MERASAKAN NIKMATNYA PIJITAN BUTIRAN AIR TERJUN TAMBELA

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 15/7 (Antara)- Dengan memeramkan mata seraya duduk di dasar sungai yang agak surut yang bisa di didera arus atau butiran air terjun kecil di Sungai Kembang, Desa Tambela, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, sesuatu yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
“Pokoknya terasa enak banget,” kata wisatawan lokal Risky ketika bersama penulis menikmati sejuknya udara kawasan bendungan Riam Kanan yang masuk jajaran Pegunungan Meratus di wilayah paling selatan pulau terbesar nusantara ini.
Menurut Risky seorang kameraman sebuah usaha rumah produksi, ingin rasanya berlama-lama mandi di lokasi yang persis berada di tengah lembah dengan ratusan spicies tumbuhan kawasan yang boleh dikatakan semacam “puncak” di bogor tersebut.
“Sambil memejamkan mata lalu hati kita layangkan ke suatu hal yang mengingat-ngingat masa indah, seraya diterpa butiran air , duuuuh rasanya hati ini senang sekali,” kata Risky lagi.
Penulis sendiri merasakan begitu segarnya mandi di tengah suasana hutan dengan suara gemuruh air berarus deras di lokasi bebatuan, kicauan burung, dan suara angin yang menerpa pepohonan.
Kata Risky coba duduk persis di lokasi yang tepat dijatuhi butiran atau gumpalan air terjun yang kena bagian belakang tubuh, pasti merasakan badan terasa dipijit-pijit, setelah itu badan rasa enteng atau ringan.
Memang hal itu benar dan banyak dilakukan oleh pengunjung yang masih berjejal di lokasi tersebut walau sudah sepekan musim lebaran ini.
Penulis dan Risky sendiri adalah dua dari sekitar 15 anggota rombongan wisata keluarga yang mengunjungi kawasan wisata Riam Kanan kawasan Pegunungan yang berdekatan dengan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam tersebut.
Salah satu yang dikunjungi adalah kawasan wisata Sungai Kembang, Desa Tambela, yang merupakan subuah sungai atau riam yang terletak hanya 64 kilometer dari Kota Banjarmasin. Kawasan ini termasuk wilayah perkemahan, pusat penelitian, dan kawasan konservasi alam.
Untuk mencapai kawasan ini sangat mudah, kalau dari pusat ibukota provinsi Kalsel Banjarmasin, bisa dengan roda empat atau roda dua, dengan rute ke banjarbaru lalu ke bundaran dekat kota Martapura, kemudian arah ke Aranio atau Waduk Riam Kanan, sebelum mencapai waduk sudah ketemu lokasi ini.
Objek wisata Sungai Kembang termasuk wisata yang murah, dengan tiket masuk hanya Rp4.000,- itupun hanya bagi orang dewasa.

Wisata Riam Kanan

Bagi mereka yang suka berpetualang seraya menikmati objek-objek wisata wisata alam maka tak salah jika tujuannya adalah kawasan wisata Riam Kanan, karena selain adanya Sungai Kembang masih sederat objek wisata lainnya.
Seperti rombongan penulis yang melakukan wisata bersama keluarga, setibanya di pelabuhan Aranio lalu mencarter sebuah klotok (perahu bermotor) dengan tarif Rp400 ribu per buah menyusuri danau bendungan yang dibangun dengan waktu hampir sepuluh tahun tersebut.
Perjalanan menelan waktu sekitar satu jam itu menyusuri hanya sebagian dari luasan danau sekitar 10 ribu hektare tersebut dengan tujuan Desa Tiwingan Baru.
Dalam perjalanan susur danau rombongan bisa menikmati aneka pemandangan alam yang indah, selain pepohonan yang rindang, lembah-lembah juga terlihat deretan penunungan meratus yang membiru.
Terlihat pula aktivitas nelayan dengan sampan kecil lagi memancing, menjala, dan merenggi.
Tetapi yang paling banyak terlihat ratusan mungkin ribuan buah keramba yang mengapung di sepanjang danau yang membiru dari sebuah bendungan yang diresmikan tahun 1973 oleh Presiden Soeharto.
Tujuan rombongan ini ke desa terutama ada rumah penduduk yang dikontak lebih awal untuk memasakan nasi makan siang yang letak rumah persis di bibir bendungan.
Setibanya di rumah tersebut ternyata oleh tuan rumah sudah dihidangkan makan siang dengan aneka saturan alam seperti terung rebus, daun singkong, tumun, kacang-kacangan, dengan ikan nila besar dan ikan mas besar di bakar.
Tentu saja dibarengi dengan sambal terasi yang pedas tak ketinggalan “cacapan” (bagian makanan suku Banjar) terbuat dari bawang merah, terasi bakar, irisan mangga muda, dan cabe rawit.
Ditambah lokasi persis di pelataran rumah yang menghadap kepantai danau dengan hemburan angin sepui-sepui dan suara gemericik gelombang danau yang menyentuh bibirpantai, menyebabkan semua anggota rombongan makan dengan lahapnya.
“Selain masakannya memang enak, ditambah perut juga lapar, duuuh makannya jadi lahap, sampai-sampai perut kok rasa kencang,” kata Afrizaldi seorang anggota rombongan seraya memperlihatkan perutnya.
Setelah istirahat sebentar sambil tiduran rombongan melanjutkan perjalanan hanya jalan kaki ke pulau pinus yang juga sebuah objek wisata kawasan riam kanan. Saat jalan kaki harus menyeberangai titian (jembatan kecil) panjang terbuat dari kayu ulin menyeberangi danau.
Di lokasi ini anggota sempat berfoto bersama atau sebagian lagi selfie sendiri-sendiri dengan latar belakang pemandangan di danau yang sudah menjadi destinasi wisata andalan Kalsel ini.
Begitu pula setibanya di pulau pinus anggota rombongan menyebar ada yang melatakan tikar untuk tiduran, ada yang duduk di pandai sambil fot0 ada pula yang nongkrong di warung seraya menghirup segarnya air kelapa.
Setelah lama di pulau pinus rombongan rencananya naik ke Bukit Atas sebuah lokasi paling tinggi di hamparan wisata Riam Kanan, tetapim karena waktu sudah menunjukan pukul 16:00 Wita, kemudian diputuskan untuk kembali saja.
Wilayah Riam Kanan merupakan objek wisata yang sudah dipromosikan luas ke nasional dan internasional, karena selain ada bendungan, lembah, riam di objek wisata Sungai Kembang, Pulau Pinus, dan Bukit Atas.
Kemudian kawasan ini ada juga terdapat objek wisata yang banyak dikunjungi pula seperti Lembah Kahung, bumi perkemahan Awang Bangkal, Mandiangin, serta Tahura Sultan Adam. ***4***1

BANJARMASIN “DIHANTUI” KESULITAN AIR BERSIH

Oleh Hasan Zainuddin

air bersih
Banjarmasin,2/10 (ANTARA)- Banjarmasin sebagai ibukota seribu sungai tidak identik dengan mudahnya warga mendapatkan air bersih, bahkan perkiraan lima tahun kedepan wilayah yang berada di delta Tatas ini memasuki tahapan krisis air bersamaan dengan memburuknya resapan disekitar sungai Martapura.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Ir Muslih, di Banjarmasin, Selasa mengakui masalah ketersediaan air bersih jadi pemikiran perusahaannya.

muslih

 

Ir Muslih

 

Ketersediaan air bersih perusahaannya belakangan ini tergantung dengan Sungai Martapura yang berhulu ke Sungai Riam Kanan dan Sungai Riam Kiwa.

Padahal kedua sungai itu sudah mengalami pendangkalan akibat erosi setelah kawasan resapan air rusak lantaran banyaknya aktivitas di wilayah tersebut.

Bukti alam sudah rusak bisa dilihat kondisi bendungan Riam Kanan, dimana saat hujan sedikit saja maka sudah mengalami kebanjiran, dan bila kemarau debit air cepat sekali menyusut.

“Kalau alam di sekitar itu masih baik maka turun naik debit air di bendungan itu tidak terlalu besar, musim kemarau atau musim penghujan biasanya debit air tidak terlalu berpengaruh,” tuturnya.

riamkanan_800_600

 

Bendungan Riam Kanan menyusut

 

Tetapi sekarang ini turun naik debit air di bendungan Riam Kanan begitu drastis seakan tak ada lagi wilayah resapan air yang mampu menahan jumlah debit air tersebut.

Kalau kondisi tersebut terus berlanjut maka lima tahun kedepan air bersih akan sulit diperoleh,karena bila debit air di hulu sungai Martapura terus menyusut maka air laut akan masuk kedaratan dan terjadi kontaminasi kadar garam yang tinggi akhirnya air Sungai Martapura tersebut tak bisa diolah air minum.

Bila mengandalkan air tanah untuk wilayah ini tidak bisa diolah air minum karena kandungan besi dan asam terlalu tinggi, tuturnya.

Oleh karena itu, Muslih berharap semua pihak yang merasa prihatin kondisi tersebut, harus ikut memikirkan bagaimana agar resapan air di hulu sungai terpelihara, syukur-syukur kalau direhabilitasi.

Untuk mengatasi persoalan jangka pendek, PDAM Banjarmasin merencanakan membangun embung (penampungan air) skala besar dalam upaya persediaan air di musim kemarau.

Menurutnya rencana sudah cukup lama tetapi kini bertekad untuk direalisasikan, dan PDAM sudah miliki desain mengenai pembangunan embung tersebut dan kini berusaha mencari peluang dana ke pemerintah pusat dalam mewujudkan keinginan tersebut.

Selain berharap bantuan pemerintah PDAM juga mencoba melobi pemerintah provinsi Kalsel disamping mencari dana sendiri untuk kepentingan tersebut.

Bila dana sudah tersedia diharapkan tahun 2014 sudah mulai mengerjakan proyek tersebut dan pada tahun-tahun berikutnya embung yang berlokasi di Sungai Tabuk itu berfungsi sebagaimana mestinya yaitu penyangga kebutuhan air baku.

Kerusakan lingkungan

gue

Aku (penulis) di Tahura Sultan Adam
untuk ketersediaan air Sungai Martapura tergantung dari ketersediaan air di areal Pegunungan Meratus yakni di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam seluas 112 ribu hektare.

Tahura ini diakui sudah mengalami kerusakan lantaran kebakaran hutan, dan ditengarai juga akibat adanya penebangan kayu secara liar dan usaha pertambangan ilegal, dan kegiatan pemukiman.

Menurut Muslih kerusakan lingkungan di hulu bisa dilihat dari juga tingkat kekeruhan air Sungai Martapura yang begitu tinggi lantaran partikel lumpur dalam air yang pekat.

Tingkat kekeruhan air sungai yang ideal untuk diolah menjadi air bersih hanya 50 hingga 100 mto per liter, tetapi hasil laboratorium ternyata air Sungai Martapura pernah mencapai 500 hingga 1000 mto, malah kasus tertinggi capai 5000 mto per liter,kata Muslih.

Akibat kerusakan hutan di hulu sungai, menyebabkan terjadi erosi dan bila terjadi hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai terus mengalir kemuara hingga ke Banjarmasin.

Keluhan serupa bukan saja dirasakan PDAM Banjarmasin, tetapi juga PDAM di Kota Martapura Kabupaten Banjar, serta PDAM Kota Banjarbaru.

Bahkan menurut perkiraan, bila tidak ada upaya perbaikan kawasan Tahura yang dianggap sebagai wilayah “menara air” Kalsel itu, maka lima atau sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan kesulitan memperoleh air bersih untuk air minum.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani di lokasi Tahura Sabtu belum lama ini mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.

“Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,” katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Ketika ditanya adanya pemukiman di tengah hutan lindung Tahura tersebut, disebutkan terdapat 7000 jiwa di 12 desa penduduk. Penduduk sulit direlokasi ke luar kawasan masalahnya sudah turun temurun sebelum ditetapkannnya kawasan Tahura sebagai hutan lindung.

Walau perkampungan tersebut sulit dipindahkan tetapi keberadaan penduduk dinilai tidak merusak lingkungan, bahkan dinilai masih melestarikan lingkungan dengan tidak merusak hutan.

“Agar penduduk tidak merusak lingkungan,mereka dirangkul untuk memperbaiki lingkungan, seperti mereka dibiarkan berkebun tetapi kebun yang baik untuk kawasan resapan air, seperti perkebunan buah-buahan, kebun karet, serta reboisasi hutan”, katanya.

Menurut Muslih untuk mengatasi persoalan air bersih ke depan selain harus dilakukan rehabilitasi kawasan air juga perlu penanganan terhadap Bendungan Riam Kanan yang selama ini menjadi kunci ketersediaan air tawar untuk diproduksi air bersih.

Oleh karena itu ia menyarankan Bendungan Riam Kanan tersebut dikelola badan khusus agar lebih terpelihara dengan baik.

“Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, debit air di lokasi itu akan terus menyusut, sehingga daerah ini pasti akan kesulitan air,” katanya lagi.

Bendungan Riam Kanan sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan, misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.

“Lembaga tersebut bisa saja semacam badan usaha milik daerah (BUMD) atau dikelola badan usaha milik negara (BUMN),” katanya.

Ia mencontohkan di Korea Selatan ada bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni ¿Q-Water¿ dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.

“Pemerintah provinsi dan kabupaten diharapkan lebih serius memikirkan bendungan Riam Kanan, karena masalah air bersih vital bagi kehidupan masyarakat,” katanya.

kantor Kantor PDAM Bandarmasih

MENYELAMATKAN TAHURA SULTAN ADAM SEBAGAI MENARA AIR

Oleh Hasan Zainuddin

1

penulis

riam kanan

riam kanan
Banjarmasin,18/3 (Antara)- Persoalan air minum kini menghantui warga Provinsi Kalimantan Selatan lantaran persediaan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat wilayah tersebut.

Persoalan yang dihadapi beberapa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di wilayah Kalsel sulit mencari sumber bahan baku, andalan air baku selama ini masih terpaku pada air Sungai Martapura yang berhulu di Pegunungan Meratus atau wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.

Padahal kondisi Tahura yang seluas 112 ribu hektare itu belakangan ini kian rusak saja, lantaran kebakaran hutan, dan ditengarai juga akibat adanya penebangan kayu secara liar dan usaha pertambangan ilegal, dan kegiatan pemukiman.

Bukti Tahura yang merupakan daerah resapan air tersebut sudah rusak adalah kian berkurangnya volume air yang turun dari wilayah tersebut, sehingga seringkali terjadi intrusi air laut ke Sungai Martapura sebab karena tekanan air dari atas berkurang maka air laut yang asin masuk hingga ke hulu sungai.

“Bila kadar garam air sungai Martapura di atas 200 ppm maka sulit dijadikan air bersih PDAM,” kata Direktur Utama PDAM Banjarmasin, Ir Muslih.

Bukan hanya peroalan keasinan sungai yang dihadapi perusahannya belakangan ini, karena juga tingkat kekeruhan air Sungai Martapura yang begitu tinggi lantaran partikel lumpur dalam air yang pekat menandakan air sudah tidak bersih lagi setelah adanya kerusakan kawasan di hulu sungainya.

Tingkat kekeruhan yang ideal untuk diolah menjadi air bersih hanya 50 hingga 100 per liter, tetapi hasil laboratorium ternyata air Sungai Martapura pernah mencapai 500 hingga 1000 mto, malah kasus tertinggi capai 5000 mto per liter,kata Muslih.

Akibat kerusakan hutan di hulu sungai, menyebabkan terjadi erosi dan bila terjadi hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai terus mengalir kemuara hingga ke Banjarmasin.

Keluhan serupa bukan saja dirasakan PDAM Banjarmasin, tetapo juga PDAM di Kota Martapura Kabupaten Banjar, serta PDAM Kota Banjarbaru.

Bahkan menurut perkiraan, bila tidak ada upaya perbaikan kawasan Tahura yang dianggap sebagai wilayah menara air Kalsel itu, maka lima atau sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan kesulitan memperoleh air bersih untuk air minum.

air

air di mandiangin Tahura

teman

bersama teman
Terjadi Kerusakan
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani di lokasi Tahura Sabtu (16/3) mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.
“Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,” katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

Dalam penanaman bibit penghijauan Tahura tersebut selain di lakukan para pejabat lingkungan Pemkab Banjar juga melibatkan puluhan wartawan yang tergabung dalam komunitas “pena hijau.”
Menurut Ridhani jumlah lahan kritis di kawasan Tahura yang masuk wilayah Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar itu merupakan hasil pendataan yang dilakukan pada 2007.

“Hingga 2010 luasan lahan kritis yang sudah ditanami bibit pohon mencapai 100 hektare dan luasannya akan terus ditingkatkan untuk mengurangi banyaknya lahan kritis,” katanya seraya menyebutkan tanaman yang dikembangkan tersebut adalah jenis buah-buahan dan jenis kayu khas setempat, seperti ulin, kruing, sintuk dan lainnya.

Dijelaskan, terjadinya lahan kritis di kawasan Tahura bukan disebabkan penebangan liar tetapi lebih banyak akibat terjadinya kebakaran hutan sehingga membuat areal sekitarnya kritis karena tidak ditumbuhi pepohonan.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Dikatakannya, upaya yang dilakukan untuk mengurangi luasan lahan kritis adalah rehabilitasi lahan melalui program penanaman bibit pohon baik yang dibiayai APBD Provinsi Kalsel, APBN maupun bantuan pihak ketiga.

Pihak ketiga yang memberikan dana penghijauan di areal yang menjadi kawasan penelitian, pendidikan, dan wisata alam tersebut, selain dari donatur luar negeri juga dari berbagai perusahaan, termasuk dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin.

“Setiap tahun melalui APBD Kalsel dialokasi anggaran untuk rehabilitasi lahan termasuk memanfaatkan dana APBN serta menjaring bantuan dari pihak ketiga terutama kalangan swasta,” ujarnya.

Ditambahkan, penanaman bibit pohon yang dibiayai APBD Kalsel setiap tahun mencapai luasan 10 hektare dan melalui APBN berhasil ditanami bibit pohon dengan luasan mencapai 40 hektare hingga 50 hektare.

“Ke depan kami berupaya memfokuskan bantuan dari pihak ketiga sebagai bentuk partisipasi mereka terhadap upaya kepedulian lingkungan sehingga luasan lahan yang bisa ditanami lebih besar,” katanya.

Tahura Sultan Adam ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1989 seluas 112.000 Ha dan secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah Kabupaten Tanah Laut.

Sejak tahun 2008 telah dibentuk UPT Dinas kehutanan Provinsi Kalsel Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan Dasar Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang SOTK Perangkat Daerah Provinsi Kalsel dan Pergub Kalsel Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tahura Sultan Adam.

sultan 1

penanaman bibit

Tahura yang berekosistem hutan hujan tropika ini terdapat aneka flora dan fauna yang beberapa diantaranya spesifik Kalimantan, seperti meranti (Shorea spp), ulin (Eusideroxylon zwageri), kahingai (Santiria tomentosa), damar (Dipterocarpus spp.), pampahi (Ilexsimosa spp.), kuminjah laki (Memecylon leavigatum), keruing (Dipterocarpus grandiflorus), mawai (Caethocarpus grandiflorus), jambukan (Mesia sp.), kasai (Arthocarpus kemando), dan lain-lain.

Sedangkan faunanya terdapat bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates muelleri), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang merah (Muntiacus muntjak), kijang mas (Muntiacus atherodes), dan pelanduk (Tragulus javanicus).

Kemudian juga ada hewan landak (Hystrix brachyura), musang air (Cynogale benetti), macan dahan (Neofelis nebulosa), kuau/harui (Argusianus argus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang (Berenicornis comatus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang bondol (Haliastur indus), raja udang sungai (Alcedo atthis), raja udang hutan (Halycon chloris), dan lain-lain
Ketika ditanya adanya pemukiman di tengah hutan lindung Tahura tersebut, Ridhani menyebutkan terdapat sekitar 7000 jiwa di 12 desa penduduk.

Menurutnya penduduk tersebut sulit direlokasi ke daerah di luar dari kawasan tersebut, masalahnya mereka sudah ada turun temurun sebelum ditetapkannnya kawasan Tahura sebagai hutan lindung.

Walau perkampungan tersebut sulit dipindahkan tetapi keberadaan penduduk dinilai tidak merusak lingkungan, bahkan dinilai masih melestarikan lingkungan dengan tidak merusak hutan.

“Agar penduduk tidak merusak lingkungan,mereka dirangkul untuk memperbaiki lingkungan, seperti mereka dibiarkan berkebun tetapi kebun yang baik untuk kawasan resapan air, seperti perkebunan buah-buahan, kebun karet, serta reboisasi hutan”, katanya.

Sudah banyak bibit pohon yang diserahkan kepada masyarakat setempat kemudian ditanam kembali ke areal kawasan tersebut yang mengalami kerusakan.

sultan Aku Bersama Sultan

Walau sebagian kecil mereka juga ada yang melakukan aktivitas pendulangan emas, tetapi skala kecil di bawah pepohonan hutan dengan lubang pendulangan hanya skala kecil pula seperti lubang hanya selebar satumeter lebih dan itu dianggap tak merusak hutan.

Di areal Tahura ini terdapat sebuah bendungan Riam Kanan seluas 5600 hektare yang sudah menjadi reservuar dan airnya menjadi tenaga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) , PLN setempat.

Melihat kondisi yang vital demikian maka tidak ada ijin untuk penebangan kayu, pertambangan, dan sejenis yang bisa merusak hutan lindung kecuali ijin wisata di sekitar Mandiangin dan itupun harus menjamin tak merusak lingkungan.

Dengan adanya upaya perbaikan di wilayah yang menjadi banyak tumpuan harapan persediaan air itu , diharapkan akan menghilangkan kekhawatiran akan kelangkaan air di masa-masa mendatang .

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 53 pengikut lainnya