FKH TANAM BUAH SERAYA SEDEKAH OKSIGEN

Banjarmasin ()- Bersepeda onthel, Zany Thalux (45 tahun) seorang anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin berkeliling satu kampung ke kampung lain di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hanya untuk tanam pohon.

BUAH
Bersama sejumlah teman di komunitas unik ini, Zany Thalux mencangkul tanah satu demi satu lubang ke lubang lain, seraya menanam pepohonan maksudnya agar lokasi kota ini dan sekitarnya menjadi rindang.

Dari sekian pepohonan hijau yang dikembangkan oleh komunitas yang beranggotakan sekitar 70 orang ini sebagian besar adalah tanaman buah lokal, seperti rambutan garuda, rambutan antalagi, kuini, mentega, kacapuri, langsat, kasturi (mangepera delmiayan kasturi), rambai padi, petai, jengkol, dan asam jawa.

Sudah beberapa lokasi dihijaukan oleh komunitas sebagian anggotanya berusia tua ini, dan dari satu lokasi aksi ke lokasi aksi lainnya menggunakan sepeda tua pula (onthel).

Sebagai contoh penamaman pohon buah di halaman masjid raya Sabilal Muhtadin, di halaman Gelanggang remaja Hasanudin HM, atau di Ruang Terbuka Hijau (RTH) milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih.

Dalam upaya pengembangan tanaman lokal ini para anggota komunitas sekaligus berkampanye, menggunakan selebaran, sepanduk, pamlet, dan alat peraga yang menyebutkan menanam pohon adalah bersedekah oksigen, menanam pohon adalah beramal jariah, dan menanam pohon adalah menciptakan lingkungan sehat.

Ia menggambarkan, seandainya seseorang menanam pohon,kemudian pohon itu berusia 300 tahun, maka usia sejarah penanamnya bisa mencapai 300 tahun, selama 300 tahun pula penanamnya memperoleh amal jariah.

Sebab pohon yang ditanam itu menciptakan keteduhan, menciptakan keindahan, menyerap polutan (racun udara), pohon habitat binatang, jika pohon itu berbuah berarti ditambah amal jariahnya , itu hanya satu pohon, jika sepuluh pohon, jika seratus pohon, jika seribu pohon bisa dibayangkan berapa banyak manfaat yang diberikan oleh si penanam pohon.

Belum lagi pohon memproduksi oksigen, karena oksigen itu mahal makanya perlu disediakan di alam.Sekarang saja harga oksigen di rumah sakit minimal rp25 ribu per liter, padahal sehari seorang manusia menghirup 2.880 liter oksigen kali Rp25 ribu berarti sehari kalau beli seharga Rp72 juta.

“Makanya kami tak pernah lelah menanam pohon, dan aksi kami lakukan setiap hari Sabtu dan Minggu, karena tak sedikit anggota kami yang juga pegawai negeri sipil, pedagang, dan usahawan yang hanya waktu luang di dua hari dalam seminggu tersebut,” kata Zany Thaluk yang dikenal seorang PNS lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin ini.

Menurut kordinator lapangan FKH ini lingkungan hijau yang penuh oksigen itu perlu terutama menghadapi era pemanasan global, tanpa upaya penghijauan maka penderitaan dan penderitaan akan selalu muncul, seperti kekeringan, kebakaran hutan, banjir, serta yang terakhir serbuan asap.

“Kekeringan, banjir, dan asap sekarang ini, mungkin saja kesalahan manusia-manusia sebelumnya yang serakah merusak lingkungan, kalau itu terus dibiarkan, maka anak cucu kemudian hari akan lebih menderita lagi,” katanya.

“Sekarang saja, tiap kemarau rasanya kita ini bagaikan hidup di dalam awan saja, karena penuh asap, coba kalau tak ada rehabilitasi lingkungan, bagaimana setahun, lima tahun, atau sepuluh tahun ke depannya, mungkin asap kian pekat lagi, susah dibayangkan,” kata Zany Thalux dengan semangat.

Beranjak dari pemikian itulah, kaitan hari buah sedunia yang diperngati setiap 1 Juli ini FKH mencoba mengkampanyekan pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon buah-buahan lokal apalagi Kalimantan dikenal banyak spicies tanaman khas yang sebagian pula sudah langka, maka perlu pelestarian.

Sementara Wakil Ketua FKH, Mohamad Ary menambahkan mengajak seluruh masyarakat tanam pohon buah buahan baik untuk konservasi hutan, peneduh, maupun buah konsumsi.

Salah satunya Asam Jawa atau Asam Kamal (tamarindus indica).

Pohon ini cocok untuk ditanam sbg konservasi lahan dan pohon peneduh. Pada lahan subur, sdh berbuah pada usia 5 thn.

Batang pohonnya cukup keras dan tumbuh besar mampu hidup hingga ratusan tahun. Buahnya mengandung senyawa kimia antara lain asam sitrat, asam anggur, asam suksinat, pectin dan gula invert.

Kulit bijinya mengandung phlobatanim dan bijinya mengandung albuminoid serta pati.

Daunnya terdapat kandungan kimia saponin, flavonoid dan kanin. Unsur-unsur yang terkandung dalam tanaman asam jawa, baik daun, kulit pohon maupun daging bijinya dapat dimanfaatkan untuk bahan obat-obatan tradisional.

Tanaman ini memiliki khasiat yang cukup banyak dalam menyembuhkan beberapa penyakit, di antaranya daun asam jawa berkhasiat untuk menurunkan kadar kolesterol darah yang tinggi, pengobatan demam, rematik, sakit kuning, cacingan, sariawan, sulit tidur atau insomnis.

Sahabat sahabat alam FKH Banjarmasin, bekerja sama dengan BP DAS mulai menanam dan membagikan pohon ini, dan bekerja sama dengan Hidayat Aziz, sdh mbagikan pohon ini kepada masyarakat untuk ditanam di tepian jalan kawasan Loksado Pegunungan Meratus, agar tebing jalan tidak lagi longsor.

Selain pohon ini, FKH juga bermimpi bisa menanam lebih banyak jenis pohon untuk kelestarian lingkungan dan penyelamatan plasma nutfah.

Kian Langka

Samlan (60 th), seorang warga Banjarmasin mengaku rindu mencicipi lagi beberapa buah Kalimantan (Borneo) yang dulunya banyak ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan.

Tetapi kerinduan akan buah khas Borneo tersebut seringkali tak kesampaian, masalahnya buah tersebut sudah sulit diperoleh, walau mencarinya ke mana-mana termasuk ke wilayah sentra buah-buahan daerah Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) atau yang sering pula disebut wilayah Hulu sungai.

“Dulu aku sering makan buah durin merah, yang disebut Lahung, tetapi kini jangankan memakannya melihat pun sudah tak pernah lagi,” kata Mahlan saat bercerita kepada penulis.

Kerinduan akan buah-buahan lokal tersebut agaknya bukan hanya menimpa Samlan ini tetapi mungkin ratusan bahkan ribuan orang warga yang tinggal di bagian selatan pulau terbesar di tanah air ini.

Sebut saja buah yang sudah langka itu yang disebut karatongan, mahrawin, atau mantaula yang kesemuanya masih family durian (durio family).

Belum lagi jenis buah lain seperti family rambutan banyak yang sudah hampir punah, sebut saja siwau, maritam, jenis mangga-manggaan yang dulu banyak dikenal dengan sebutan asam tandui, hasam hurang, hambawang pulasan dan beberapa jenis lagi yang sulit diperoleh dipasaran.

Berdasarkan keterangan buah jenis di atas langka lantasan pohon buah-bauah tersebut terus ditebang untuk digunakan sebagai bahan baku gergajian.

Berdasarkan keterangan penduduk Desa Panggung pohon buah yang terbilang langka tersebut biasanya berbentuk besar dan tinggi, sehingga menggiurkan bagi orang untuk menebangnya dan menjadikan sebagai kayu gergajian.

“Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kayu buah-buahan tersebut ditebang diambil kayunya untuk dijual dan untuk bahan bangunan pembangunan rumah penduduk,” kata Rusli penduduk setempat.

Perburuan kayu buah-buahan tersebut setelah kayu-kayu besar dalam hutan sudah kian langka pula, akibat penebangan kayu sebelumnya, sementara permintaan kayu untuk dijadikan vener ( bahan untuk kayu lapis) terus meningkat, setelah kayu-kayu ekonomis dalam hutan sudah sulit dicari, Bukan hanya untuk vener, kayu-kayu dari pohon buah itu dibuat papan untuk dinding rumah penduduk, atau dibuat balokan serta kayu gergajian.

Beberapa warga menyayangkan adanya tindakan oknum masyarakat yang suka melakukan penebangan kayu buah tersebut, lantaran jenis kayu ini adalah kayu yang berumur tua.

“Kalau sekarang ditanam maka mungkin 50 tahunan bahkan ratusan tahun baru kayu itu besar,” kata warga yang lain. Sebagai contoh saja, jenis pohon buah lahung yang sering ditebang adalah pohon yang ratusan tahun usianya, makanya ukuran garis tengahnya minimal satu meter.

Warga mengakui agak sulit melarang penebangan kayu pohon buah tersebut lantaran itu kemauan pemilik lahan dimana pohon itu berada, dijual dengan harga mahal, sehingga oleh pemilik lahan cara itu dianggap menguntungkan.

Pohon buah-buahan lokal Kalimantan ini banyak ditemui di wilayah adanya pemukiman penduduk daratan Pegunungan Meratus seperti di Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dikenal sebagai sentra buah-buahan lokal Kalsel.

Kawasan ini setiap musim buah memproduksi buah lokal seperti tiwadak (cempedak), durian yang kalau di kawasan setempat terdapat sekitar 30 spicies durian, rambutan sekitar 40 spicies, dan mangga-manggaan yang juga puluhan spicies.

Jenis buah yang biasanya selalu melimpah, adalah langsat terdapat beberapa spicies,rambai beberapa spicies.

Mangga-manggan saja juga banyak jenisnya sebut saja Kasturi (Mangifera casturi), Hambuku (Mangifera spp), Hambawang (Mangifera foetida), kuwini (Mangifera odorata), Ramania, tetapi populasinya terus menyusut termasuk buah lain seperti Pampakin (Durio kutejensis), Mundar (Garcinia spp), Pitanak (Nephelium spp), Tarap (Arthocarpus rigitus), Kopuan (Arthocarpus spp), Gitaan (Leukconitis corpidae), serta Rambai (Sonneratia caseolaris).

Buah tersebut di atas dulu masih banyak tumbuh di mana-mana hanya saja sekarang sudah mulai menghilang, belum terlihat upaya pelestariannya.

SAATNYA MENYELAMATKAN BUAH-BUAHAN BORNEO YANG EKSOTIS

 Oleh Hasan Zainuddin

     lahung

     Buah Lahung

 Mahlan (60 th), seorang warga Banjarmasin mengaku rindu mencicipi lagi beberapa buah Kalimantan (Borneo) yang dulunya banyak ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan.

        Tetapi kerinduan akan buah khas Borneo tersebut seringkali tak kesampaian, masalahnya buah tersebut sudah sulit diperoleh, walau mencarinya sudah ke mana-mana termasuk ke wilayah sentra buah-buahan daerah Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) atau yang sering pula disebut wilayah Hulu sungai.

        “Dulu aku sering makan buah durin merah, yang disebut Lahung, tetapi kini jangankan memakannya melihat pun sudah tak pernah lagi,” kata Mahlan mengisahkan.

        Kerinduan akan buah-buahan lokal tersebut agaknya bukan hanya menimpa Mahlan, tetapi mungkin ratusan bahkan ribuan orang warga yang tinggal di bagian selatan pulau terbesar di tanah air ini.

        Sebut saja buah yang sudah langka itu yang disebut karatongan, mahrawin, atau mantaula yang kesemuanya masih jenis durian (durio family).

        Belum lagi jenis buah lain seperti family rambutan banyak yang sudah hampir punah, sebut saja siwau, maritam,  kemudian jenis mangga-manggaan yang dulu banyak dikenal dengan sebutan asam tandui, hasam hurang, hambawang pulasan dan beberapa jenis lagi yang sulit diperoleh di pasaran.

maritam1maritam

Maritam

        Berdasarkan keterangan buah jenis di atas langka lantaran pohon buah-buah tersebut sudah banyak yang ditebang untuk digunakan sebagai bahan baku gergajian.

        Jenis kayu dari buah ini biasanya berbentuk besar dan tinggi, sehingga menggiurkan bagi orang untuk menebangnya dan menjadikan sebagai kayu gergajian.

        “Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kayu buah-buahan tersebut ditebang diambil kayunya untuk dijual dan untuk bahan bangunan pembangunan rumah penduduk,” kata Rusli penduduk Kecamatan Paringin Selatan Kabupaten Balangan.

        Perburuan kayu buah-buahan tersebut terjadi setelah kayu-kayu besar dalam hutan sudah kian langka pula, akibat pembabatan hutan, sementara permintaan kayu untuk dijadikan vener ( bahan untuk kayu lapis) terus meningkat, setelah kayu-kayu ekonomis dalam hutan sudah sulit dicari.

        Bukan hanya untuk vener, kayu-kayu dari pohon buah itu dibuat papan untuk dinding rumah penduduk, atau dibuat balokan serta kayu olahan lainnya termasuk untuk industri rumah tangga.

        Beberapa warga di Banua Enam sendiri menyayangkan adanya oknum masyarakat yang suka menebang kayu buah tersebut, sebab jenis kayu ini sudah dipastikan berumur tua.

        “Kalau sekarang ditanam maka mungkin 50 tahunan bahkan ratusan tahun baru kayu itu besar,” kata warga yang lain. Sebagai contoh saja, jenis pohon buah lahung biasanya yang ditebang berusia ratusan tahun, makanya ukuran garis tengahnya paling minimal dua meter.

         Warga mengakui agak sulit melarang penebangan kayu pohon buah tersebut  karena biasanya kemauan pemilik lahan dimana pohon itu berada, untuk dijual dengan harga mahal, sehingga oleh pemilik lahan dianggap menguntungkan.

pohon lahung

Pohon buah lahung

         Pohon buah-buahan lokal Kalimantan ini banyak ditemui di wilayah lereng  Pegunungan Meratus seperti di Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dikenal sebagai sentra buah-buahan lokal  Kalsel.

        Kawasan ini terdapat durian sekitar 30 species , rambutan sekitar 40 species, dan mangga-manggaan yang juga puluhan species. Jenis buah yang biasanya selalu melimpah, adalah langsat terdapat beberapa species, rambai beberapa species, tiwadak buah sejenis nangka.

gitaan

Gitaan

        Mangga-manggan saja juga banyak jenisnya sebut saja Kasturi (Mangifera casturi), Hambuku (Mangifera spp), Hambawang (Mangifera foetida), kuwini (Mangifera odorata), Ramania (Bouea macrophylla), tetapi populasinya terus menyusut termasuk buah lain seperti Pampakin (Durio kutejensis), Mundar (Garcinia spp), Pitanak (Nephelium spp), Tarap (Arthocarpus rigitus), Kopuan (Arthocarpus spp), Gitaan (Leukconitis corpidae), serta Rambai (Sonneratia caseolaris).

jinalun

Langsat burung

kupuan

Kupuan

        Belum lagi buah dari kayu hutan alam yang tak pernah dibudidayakan warga seperti buah Sangkuang, buah Jinalun, Balangkasua, Duhat, Karamunting, Kumanding, Kembayau,  Tu’U, Manau, Kepayang, langsat Burung, Kuranji, Bangkinang, Brunai, ketapi, dan aneka buah dari kayu hutan lainnya.

kasturi

Buah Kasturi

        Langkanya buah tersebut cukup merisaukan banyak pihak termasuk dari Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) Prof Lukman Hakim saat berada di Banjarmasin baru-baru ini.

        “Buah khas Kalimantan Selatan, Kasturi, kini sudah tidak ditemukan lagi di hutan alam, kalaupun masih ada hanya yang ditanam di pekarangan,” kata Lukman Hakim.

        Hal itu dikatakan Lukman Hakim usai penandatanganan kerja sama antara LIPI, Pemprov Kalsel dan pengelola Kebun Raya di Banjarmasin.

        Menurut Lukman pembabatan hutan dan alih fungsi lahan untuk pertambangan dan perkebunan membuat sebagian besar spisies flora dan fauna khas Kalsel banyak punah, tentu sangat disayangkan karena keanekaragaman hayati tersebut tidak bisa ditemukan di daerah lain, sehingga perlu segera dilakukan langkah-langkah antisipasi untuk menyelamatkan kekayaan alam Kalsel yang masih tersisa.

        Buah Kasturi merupakan buah lokal di Kalimantan Selatan yang bentuknya mirip dengan mangga kecil, dan memiliki rasa yang sangat manis serta aroma yang harum menyengat, dan buah ini menjadi maskot Kalsel bidang flora.

        Dengan dibangunnya kebun raya di Kalsel salah satu bentuk penyelamatan karena akan membudidayakan tumbuhan langka dan obat-obatan khas daerah ini.

buah astambulbuah1


Perlu Pelestarian


Senada dengan Lukman Hakim seorang pecinta lingkungan dari Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin menginginkan pemerintah menyelamatkan flasma nuftah setempat.

        “Rambutan Garuda (Nephelium lappaceum) yang juga sering disebut rambutan raksasa berasal dari kawasan Sungai Andai Kabupaten Barito Kuala (Batola) termasuk yang harus diselamatkan,” kata Wakil Ketua FKH Banjarmasin, Ir Mohamad Ary .

rambutan garuda

        Rambutan yang adaptif di lahan rawa ini mempunyai Keunggulan rasanya yang manis, buahnya yang besar ( 50,40 Gram/buah), daging buah yang tebal (0,65 cm), berbiji kecil ( 2,45 gram).

        Berdasarkan penelususan FKH ke kawasan Sungai Andai dan Terantang Batola belum lama ini ditemukan beberapa pohon rambutan garuda yang santat besar batangnya.

        Konon dari situlah bibit rambutan Garuda tersebut dilahirkan dan kemudian menyebar ke berbagai daerah di Kalsel, Kalteng, Kaltim bahkan konon pula bibit ini sampaike negara Thailand dan dikembangkan di negara tersebut.

        Walau sudah banyak tahu jenis rambutan tersebut berasal dari kawasan Sungai Andai Batola namun pohon-pohon besar tersebut terkesan kurang terawat dengan baik.

        “Kami FKH ingin sekali Pemerintah Batola pelihara induk flasma nuftah tersebut,kalau perlu pemerintah setempat membangun sebuah kawasan penyelamatan flasma nuftah buah-buahan,” katanya.

        Masalahnya di kawasan tersebut juga banyak dibibitkan jenis bibit rambutan lainnya, seperti rambutan sibatok, rambutan antalagi, rambutan timbul, dan beberapa jenis manggga seperti kuini, hampalan, serta kasturi.

jinalun Buah hutan Jinalun

        Sementara seorang anggota FKH Radius Ardanias Hadariah menilai wilayah ini diperlukan adanya laboratorium pemuliaan buah-buahan lokal untuk menyelamatkan keberadaan buah-buahan tersebut.

        Dengan adanya laboratorium tersebut mempermudah melakukan perbanyakan bibit buah-buahan lokal tersebut.

        Menurut Radius Ardanias yang dikenal sebagai pemerhati buah-buahan lokal tersebut menyebutkan penyelamatan plasma nutfah berupa buah-buahan lokal harus dilakukan agar keberadaan buah lokal bisa bersaing dengan buah dari luar.

        Ia juga menyarankan pemerintah untuk melakukan pelatihan para petani setempat bagaimana melakukan perkebunan buah-buahan secara produktif, yang hasilnya bisa kompetetif secara ekonomi.

        Perbanyakan tanaman lokal unggul melalui okulasi atau kultur jaringan perlu digiatkan dan dipasarkan secara luas.

        Bila penyelamatan buah lokal tersebut tidak dilakukan maka tanamaan lokal akan tergusur tanaman dari luar, karena pasar bibit tanaman buah yang ada di wilayah ini seakan dikuasai bibit buah dari jawa, yang perbanyakannya melalui okulasi dilakuakn secara masif di Jawa Timur dan Jawa Barat.

        Sebagai contoh, bila mau cari bibit duren si Japang asli dari Biih Martapura, sudah pasti tidak tersedia, yang ada justru duren Petruk, Matahari, Sukun, atau varitas asal Thailand.

        Selain itu untuk bibit mangga lokal juga tidak tersedia, yang ada bibit dari Pulau Jawa juga.

        “Hal ini terjadi karena pengusaha pembibitan dan balai benih pemerintah terkesan malas, hanya mau beli dari pembibit dari Pulau Jawa dan jual di sini.” katanya.

        Hal seperti seharusnya segera diatasi, jika tidak maka buah-buahan unggul lokal akanpunah semua, lantaran bibit tidak tersedia, menanam dari biji agak lama akhirnya pekebuan buahan setempat akan beralih ke bibit dari Pulau Jawa.

        “Ayo, jangan malas mengurus perkebunan lokal mulai dari pemuliaan, perbanyakan bibit, dan memahami karakter dalam pemeliharaan dan termasuk pasarnya sebagai komoditi,” katanya.

        Buah lokal yang eksotis tersebut bukan saja perlu dilestarikan, tapi perlukan dikembangkan hingga bisa punya nilai ekonomi tinggi.

        Pemerintah perlu juga membuat kebun percontohan buah-buahan lokal secara luas sehingga bisa digunakan untuk tujuan konservasi, rekreasi, edukasi dan penelitian lanjutan pengembangan buah lokal sebagai komoditi perdagangan.

        “Ini mendesak sekali, jika tidak kita akan terhimpit, baik secara budaya (agroculture lokal), maupun secara ekonomi kerena harus impor” tambahnya lagi.

        Pemerintah bersama Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) harus buat program ambisisius soal ini, jangan biasa-biasa saja, karena sangat potensial, sayang buah-buahan lokal unggul itu terkubur karena tidak dikembangkan baik produksinya maupun jaringan distribusinya.

       “Jangan menutup mata, jangan sampai terlalu terlambat melaksanakan hal seperti itu, agar tidak menyesali kecerobohan yang terlalu,” demikian Radiuas Ardanias Hadariah.

kapulramaniapempakinmundarmentegakatapikalangkalajentik2asam tanduirambutan hutan

NIKMATNYA BUAH RIMBA KALIMANTAN

 

lahung Buah Lahung yang ada di Desa Inan

Oleh Hasan Zainuddin
     Sekelompok anak muda bergegas berlarian ke belakang rumah pemukiman Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan (Kalsel).
     Mereka berlarian untuk lebih cepat mencapai tujuan setelah terdengar bunyi “dbuk” di rimbunan pepohonan buah-buahan lahung (sejenis durian) yang ada di kawasan tersebut.
     “Horeee…!” kata seorang anak muda setelah kembali seraya membawa sebiji buah lahung yang sudah matang dipohon dan jatuh ke tanah setelah terkena tiupan angin.
     Serta merta buah tersebut dikupas, tetapi caranya bukan seperti mengupas buah durian, namun harus menggunakan parang tajam caranya harus dipenggal, setelah terbuka kelihatan isi buah yang kekuningan dengan semerbak bau khas buah tersebut.
     Buah lahung, satu dari sekitar belasan spicies jenis durian yang hidup di daratan Kalimantan, baik di Kalsel, Kaltim, dan terbanyak di Kalimantan Tengah (Kalteng).
     “Beda buah ini dibandinkan buah durian lainnya karena durinya yang lancip dan tajam serta panjang-panjang, dengan warna kulit termasuk warna duri merah kehitaman, rasanya agak berbeda dengan durian tetapi tetap enak,” kata Nurdin penduduk setempat.
     Buah ini kini sudah mulai langka, pohon buah ini yang tersisa hanya beberapa saja lagi, dan usianya ratusan tahun ban menjulang tinggi keudara dengan batang yang besar diameter bisa mencapai dua meter.
     Akibat batang yang besar ini maka banyak pohon lahung ditebang lalu dibuat kayu gergajian oleh penduduk setempat, kemudian kayu tersebut dijual kepErusahaan kayu lapis dan industri lainnya akhirnya jumlahnya yang sudah sedikit maka kini terus menyusut dan mendekati kepunahan.
     Lahung satu dari beberapa jenis buah durian khas rimba raya Kalimantan yang kini mendekati kepunahan, yang lainnya adalah karatongan, mahrawin, mantaula, dan pampakin.
     Pampakin buah rimba Kalimantan yang juga tak ditemui di belahan banua manapun, durian ini bedanya warna kulit kuning keemasan, warna isi juga kuning keemasan, bahkan ada jenis tertentu warna isi justru kuning kemerahan.
     Rasa pampakin atau yang disebut oleh penduduk Kaltim sebagai buah lai, beda pula dibandingkan rasa durian kebanyakan, tetapI rasanya tetap enak.
     Sementara buah  durian mantaula justru kulitnya sama seperti durian kebanyakan, tapi warna isi jingga, rasanya juga beda namun aromanya menyengat.
     Isi buah durian mantaula, biasanya untuk campuran bahan pembuat penganan (kue) hingga kue beraroma dan enak.
     Itu beru bercerita buah jenis durian (famili durio sp), sementara di rimba Kalimantan juga terdapat belasan mungkin puluhan buah rimba jenis asam-asaman (mangefira sp).
     Satu buah rimba yang menjadi maskot flora Kalsel, yakni jenis mangga kecil yang disebut Kastury (Mangefira Delmiyana).
     Asam mangga ini terbilang unik, selain bentuknya kecil sebesar genggam anak-anak juga warna kulit yang merah kehitaman, rasanya manis dan warna isi kuning kemerahan.
     Buah ini menjadi barang cenderamata di Banjarmasin (Kalsel) dan Palangkaraya (Kalteng).
     Belum lagi buah asam rimba Kalimantan disebut “hambawang pulasan” (asam putar), caranya tak boleh dikupas begitu saja, tetapi harus diiris bagian tengah buah,  baru diputar atau dipulas hingga biji keluar sendirinya, setelah itu baru kulit tipis bagian luar dikupas kemudian disantap.
     “Kalau bercerita tentang buah rimba hutan Kalimantan memang tak ada habis-habisnya, makin diceritakan makin banyak lagi yang harus diceritakan lantaran begitu banyaknya,” kata Kepala Pusat Penelitian Sumberdaya lahan dan  perairan (P2SLP) Lembaga Penelitian Universitas Palangkaraya (Unpar), Dr.Ir.Akhmad Sajarwan.
      Keunggulan buah rimba tersebut disamping memiliki rasanya yang khas dan enak, juga memiliki tampilan yang menarik.
     “Hampir semua jenis buah-buahan rimba Kalimantan tersebut juga mengandung nilai gizi yang cukup tinggi, dan ada beberapa buah-buahan rimba ini dikonsumsi sebagai obat tradisional,”katanya.
     Melihat kekhasan plasma nutfah rimba Kalimantan itulah maka pihaknya bekerjasama dengan  Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Palangkaraya, Kalteng mengembangkan buah rimba Kalimantan.
     Pengembangan buah rimba Kalimantan tersebut sebagai upaya pelestarian buah khas hutan tersebut melalui program taman dan hutan kota Palangkaraya, katanya.
     Tujuan lain untuk mengenalkan buah-buahan pedalaman Kalimantan tersebut kepada masyarakat luas terutama pada generasi mendatang sekaligus sebagai objek wisata dan lokasi penelitian dan pendidikan.
     Pihak Pemko Palangkaraya sudah menyediakan sekian lahan untuk pengembangan buah-buahan tersebut, sementara pihak P2SLP sebagai tenaga tehnisnya sudah mngumpulkan sedikitnya 50 jenis tanaman khas rimba Kalimantan tersebut untuk segera ditanam sebagai pelestarian.
     Latar belakang pengembangan buah tersebut setelah buah-buahan tersebut setiap tahun terus menyusut produksinya, bahkan ada beberapa diantaranya yang sudah jarang terlihat apalagi bisa dinikmati, padahal buah tersebut memiliki keunggulan.
     Untuk menghindari kepunahan keberadaan buah rimba tersebut, maka sangat perlu diusahakan dan diupayakan tindakan budidaya dalam pelestariannya melalui program taman dan hutan kota Palangkaraya.     
     Beberapa jenis buah Rimba Kalteng yang saat ini sudah mulai sulit ditemukan seperti buah lewang, kenyem, rokam (Flacourtia sp), embak atau kapul, langsat (Aglaia spp), duku, tanggu, ruku, asam hutan (Mangifera sp), asam putar, asam gayung, kuini, kasturi, dan manggis (Gracinia sp).
     Buah lainnya yan sudah mulai jarang terlihat, rambai (Baccaurea motleyana) tangkunis (Averhoa Bilimbi), tanggaring (Nephellium sp), katiau atau untit (Nephelium sp), durian (Durio sp), paken, tongkoi, tungkun, ramania (Bouea macrophyla), suli, lemba (Curculligo latipalio) tangkunins, gandis, tabulus, bangkinang, sange, palasit, karamu, paying, mariuh, tetei edan, sangalang dan lainnya.
     Kalteng sendiri yang 70 persen wilayahnya berupa hutan terdapat sekitar 200-250 jenis tanaman buah yang sangat potensial untuk dikembangkan.

 pampakin 

 kasturi

JINALUN2 Warga Desa Inan memperlihatkan buah Jinalun salah satu jenis buah Rimba Kalimantan

 lengkeng hutan atau buah mata kucing

kalau ingin melihat gambar2 buah rimba klik di sinihttps://hasanzainuddin.wordpress.com/buah-khas-kalse