MENGANGKAT KEMBALI BUDAYA BADADAMARAN SELAMA RAMADHAN

          Oleh Hasan Zainuddin
          Banjarmasin, 17/9 (ANTARA)- Sekelompok anak muda menyalakan obor terbuat dari minyak tanah sambil bercanda ria di tengah suasana kampung yang terang benderang sambil menggelolarkan budaya Badadamaran di malam bulan Ramadhan.
         Sesekali mereka bersuara agak kencang dengan kata-kata “kalah kampung di hulu, kalah kampung di hilir, manang kampung tengah,” seakan menandakan bahwa kelompok anak muda yang berada di kampung (desa) tengah tersebut memenangi gerakan menyalakan lampu malam Ramadhan tersebut.

          Kebiasaan menyalakan lampu obor, atau penerangan apa saja di saat malam-malam Ramadhan yang disebut budaya Badadaran merupakan budaya yang sudah turun temurun di dalam masyarakat Suku Banjar yang mendiami kawasan Kalimantan Selatan (Kalsel) khususnya lagi di kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel).
          Tak ada yang tahu persis mengapa budaya tersebut sudah ada sejak turun temurun di dalam masyarakat yang tinggal di pulau terbesar Indonesia tersebut, namun perkiraan hal itu muncul setelah para ulama tempo dulu menganjurkan umat Islam supaya menyemarakkan datangnya ramadhan dengan memberikan penerangan di muka rumah masing-masing.
         Tujuannya agar umat Islam yang ingin bepergian ke masjid, ke surau untuk melaksanakan shalat tarawih berjemaah akan mudah, atau melakukan ibadah lainnya.
         Menurut berbagai cerita tetuha masyarakat di bilangan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Baangan, atau sekitar 210 Km Utara Banjarmasin berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menyemarakan budaya memberikan penerangan di pekarangan rumah di malam-malam Ramadhan tersebut.
         “Waktu dulu karena tak ada alat yang mudah untuk menyalakan lampu penerangan di depan rumah, maka penduduk di wilayah Banua Enam (dulu masih Banua Lima) karena masih belum ada pemekaran kabupaten di  Kalsel ini, memanfaatkan gatah kayu damar untuk disulut menjadi obor, sebagai alat penerangan,” kata Wahyudin penduduk Desa Panggung.
         Akibat kebiasaan menyulut getah kayu damar yang dinamakan damar tersebut maka budaya penerangan tersebut disebut Badadamaran, tambahnya.
         Seiring perkembangan zaman di saat getah kayu damar sulit diperoleh maka selanjutnya warga setempat menggantikan damar dengan karet lembaran kering yang setelah disulut dengan api lalu menyala menjadi obor.
         Agar memudahkan menyalakan karet tersebut  maka dibuatkan wadah yang terbuat dari batang pisang, pelepah daun rumbia, atau menggunakan bambu.
         Tempat membakar karet tersebut pun di bentuk-bentuk ada yang menyerupai kapal terbang, menyerupai binatang, menyerupai rumah-rumahan dan sebagainya, sehingga ketika deretan karet yang dinyatakan di tempat itu maka terlihat indah.
         “Biasanya antar kelompok pemuda di kampung berbeda seakan berlomba membuat lokasi Badadaran seindah mungkin, agar dikatakan berjaya dalam arena Badadamaran tersebut,” kata Wahyudin.
         Pada perkembangan berikutnya, bukan saja karet yang dibakar tetapi sudah lebih modern dengan menempatkan batang-batang lilin di tempat-tempat yang dibuat untuk budaya Badadamaran tersebut, bahkan deretan ampu templok menggunakan minyak tanah.
         Lalu setelah zaman terus berkembang pada tahap berikutnya, budaya Badadamaran khususnya di kampung-kampung tertentu sudah pula memanfaatkan lampu lampion atau lampu berhias yang disebut tanglong.
         Bahkan perkembangan terakhir setelah listrik masuk desa ke seluruh wilayah Kalsel memasang lampu penerangan di depan rumah dengan bahan seadanya yang semakin berkurang, bahkan di ganti bola-bola listrik kecil warna warni menghiasi depan rumah dan pinggir jalan desa-desa tersebut.
         Akhirnya memasuki era tahun 90-an dan tahun 2000-an ini, budaya Badadamaran nyaris menghilang karena banyak warga menggantikannya dengan lampu listrik kecil kerlap-kerlib.
         Ketika penulis melakukan perjalan dari Banjarmasin ke wilayah Banua Enam  beberapa hari lalu tak melihat tradisi khas saat Ramadhan seperti “badadamaran” menyulut lampu minyak tanah atau obor karet di tepi jalan atau di muka rumah.
         Beberapa penduduk Banua Enam menuturkan budaya Badadamaran tersebut, mulai menghilang sejak berhasilnya program pemerintah menggalakkan listrik masuk desa yang hampir mencapai seluruh
wilayah Kalsel.
         “Perkiraan budaya Badadamaran ini sudah mulai hilang sekitar satu dasawarsa lalu. Tadinya walau listrik sudah menyala di desa namun ada saja warga yang melakukan budaya tersebut, tetapi belakangan ini benar-benar sudah hilang,” kata seorang penduduk.
         Selagi budaya tersebut masih marak, kedatangan bulan Ramadhan begitu terasa, sebab sepanjang desa yang tadinya gelap gulita tak ada penerangan menjadi suasana terang benderang. Setiap buah rumah menyalakan lampu-lampu di tepi jalan atau depan rumah dengan jumlah beberapa buah.
         Melihat kenyataan menghilangnya budaya tersebut maka melahirkan keinginan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin pada bulan Ramadhan tahun 1429 hijriah atau tahun 2008 ini kembali membudayakan kebisayaan masyarakat suku Banjar, menggelar atraksi budaya “badadamaran.”
    “Badadamaran atau menyalakan lampu penerangan sebanyak mungkin di pekarangan rumah selama bulan Ramadhan, khususnya masuk malam ke 21 Ramadhan atau malam selikur,” kata Walikota Banjarmasin. Haji Yudhi Wahyuni.
         Untuk mensukseskan tersebut pihak Pemko Banjarmasin melalui Dinas Tata Kota (Distako) dan Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokum) akan membuat surat edaran yang ditujukan kepada seluruh pemilik rumah, pemilik toko, pemilik bangunan yang ada di Banjarmasin untuk membuat lampu penerangan berhias atau tanglong di depan rumah atau toko masing-masing.
         Pihak pemko Banjarmasin sendiri akan membangun lampu berhias atau tanglong di median jalan-jalan protokol, seperti jalan Sudirman, jalan Lambung Mangkurat, serta Jalan Hasanudin HM, agar jalan-jalan protokol tersebut semarak oleh lampu berhias khususnya memasuki malam ke-21 hingga malam lebaran.
         Selain itu Pemko Banjarmasin meminta kepada seluruh camat dan lurah untuk berbuat serupa beramai-ramai membuat tanglong atau lampu penerangan di lokasi kecamatan atau kelurahan hingga ke kampung-kampung agar Ramadhan tahun ini semarak dengan lampu penerangan.
         “Kepada kelurahan yang ternyata berdasarkan penilaian menciptakan suasana bulan Ramadhan dengan budaya badadamaran yang semarak akan memperoleh hadiah dari pemko Banjarmasin, juara yang diberikan hadiah dari kelurahan juara I hingga kelurahan juara III,” kata Walikota Banjarmasin.
         Berdasarkan berbagai keterangan budaya badadamaran ini beberapa tahun belakangan ini kian jarang dilakukan masyarakat, terutama setelah masuknya energi listrik ke berbagai pelosok kampung bukan sana di Kota Banjarmasin tetapi hingga ke pelosok desa Kalsel.
         Beberapa anggota masyarakat Banjarmasin menyambut baik prakarsa Pemko Banjarmasin menyemarakan kembali budaya yang sudah hilang tersebut, bahkan beberapa anggota masyarakat sudah menyiapkan beberapa lampu lentera yang bakal dihias  menjadi lampu tanglong yang akan ditempatkan di tepi-tepi jalan dan pekarangan rumah.
         “Kita berharap pembudayaan kembali Badadamaran tersebut, akan membangkitkan semangat menyambut Ramadhan dan bisa bernostalgia di kala masih anak-anak dulu,” Kata Kaspul warga Banjarmasin yang berasal dari Banua Enam tersebut.

BAAYUN, ANTARA ATRAKSI BUDAYA, PARIWISATA, AGAMA, DAN PENGOBATAN

 Oleh Hasan Zainuddin 
          Banjarmasin, 22/3 (ANTARA)- Baayun (ber-ayun) dalam buaian terbuat dari kain memang salah satu kiat seorang ibu dalam meninabobokan (menidurkan) seorang anak yang dilakukan sebagian besar masyarakat di tanah air, namun dalam cara baayun di masjid kramat Banua Halat Kabupaten Tapin, Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki nuansa yang beda dari kebiasaan itu.
         Karena saat maayun harus diberikan mantra-mantra serta kain ayunan yang digunakan juga didominasi kain kuning ditambah ornamen ayunan harus ada bunga-bunga rampai dan janur kuning.
         Saat baayun di acara bernuansa agama, budaya serta atraksi pariwisata inipun bukan untuk menidurkan anak melainkan untuk maksud yang lebih jauh bagi masa depan anak kelak, yakni orang tua yang mengikutkan anaknya dalam acara baayun itu agar anak kelak taat beragama, anak yang sehat, anak yang cerdas, serta anak yang berbakti kepada orang tua.
         Namun yang unik saat acara baayun di lokasi masjid tertua Banua Halat Kalsel ini, bukan saja diikuti bayi dan anak balita tetapi diikuti pula kalangan orang dewasa sampai nenek-kakek, akhirnya tak heran dalam acara yang menjadi kalender kepariwisataan Kalsel itu melahirkan banyak senyum simpul ribuan pangunjung saat menyaksikan seorang kakek atau nenek juga ikut diayun.

 Suasana baayun anak Banua Halat
         Tujuan orang dewasa untuk ikut proses baayun ini beragam maksud, ada yang sekedar ingin ikut-ikutan tetapi sebagian besar karena nazar, ingin sembuh dari penyakit, membuang sial, mencari berkah, serta sebagai ucapan syukur setelah satu keinginan telah terwujud lalu ucapan syukur ini diwujudkan dengan ikut baayun  ini.
         Prosesi Baayun  saat perayaan peringatan Maulid Rasul yang digelar setiap 12 Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid AL Mukarramah di Desa Banua Halat itupun selalu menarik untuk dikunjungi dan akhirnya acara tahunan itupun terus dipromosikan.
         Karena kian terkenal maka proses baayun Banua Halat bukan saja dikunjungi warga Kalsel, tetapi juga dikunjungi pendatang dari propinsi tetangga Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur bahkan dari Pulau Jawa, Sumatera, dan Malaysia. Atraksi ini sudah menjadi kalender kepariwisataan Kabupaten Tapin dan Kalsel, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tapin, Drs. Rahmadi.
        Ketika acara baayun tahun ini tepatnya pada hari Kamis 20 Maret 2008 pesertanya kian membludak bahkan terbanyak dari selama ini akhirnya masuk Museum Rekor Indonesia (MURI).
        Jumlah peserta tahun ini sebanyak 1.544 orang terdiri dari 1.643 anak-anak, dan sisanya 401 orang dewasa. Dibandingkan tahun 2007 lalu jumlah peserta  hanya 1.055 orang yang berarti terjadi peningkatan 489 orang.
        Piagam MURI diserahkan Manager MURI Paulus Pangka kepada Bupati Tapin Drs H Idis Nurdin Halidi MAP dan Ketua Panitia Kegiatan H Nafiah Khairani, disaksikan Gubernur Kalsel H Rudy Arifin dan Guru Riduan atau Guru Kapuh, serta para pejabat di Provinsi Kalsel.
        Dalam piagam yang berbingkai keemasan tersebut tercatat MURI No 30311/R.MURI/III/2008 yang menyatakan Masjid Al Mukarramah Banua Halat sebagai penyelenggara Baayun Maulid dengan peserta terbanyak, yang ditandatangani oleh Jaya Suprana di Semarang, Maret 2008.
        Menurut Paulus Pangka, MURI mencatat kegiatan Baayun Maulid di Banua Halat ini dengan alasan acara ini telah menciptakan rekor MURI dengan jumlah peserta baayun terbanyak di Indonesia.
         Baayun tahun ini peserta yang paling tua berusia 75 tahun, nenek Hj Masriah dari Kandangan, dan yang termuda seorang bayi yang baru berumur 4 hari.
         Prosesi baayun dimulai saat Kelompok Maulid Al Habsy dari Martapura membaca Asyrakal dan seluruh peserta yang diayunpun langsung duduk, berbaring di ayunan yang sudah disediakan. Selain peserta anak-anak yang diayun, peserta dewasa pun duduk dan diayun oleh kerabat dan keluarganya.
         Menurut Kadis Pariwisata dan Budaya, Rahmadi banyak orang sakit yang menahun, sudah berobat kemana-mana termasuk ke rumah sakit tidak sembuh-sembuh penyakit itu, tetapi setelah ikut baayun maka penyakit itu sembuh, akhirnya baayun  juga dipercayai sebagai sarana pengobatan,” kata Rahmadi.
         Seorang penduduk Rantau ibukota Kabupaten Tapin, Abdurahman (55 th) mengaku ikut dalam proses baanyun ini lantaran ingin sembuh dari penyakit sesak nafas yang menahun, selain itu sebagai nazar agar bisa menunaikan ibadah haji.
        “Setelah saya bernazar itu kemudian terkabul, lalu saya ikut dalam proses baayun di Banua Halat itu,” kata Abdurahman yang dikenal sebagai seorang pensiunan PNS tersebut.
   
      Sejarah baayun
   Berdasarkan sebuah tulisan karya Zulfa Jamalie berjudul “Kearifan Lokal Dakwah Dalam Tradisi Baayun Anak” disebutkan baayun di Banua Halat sebagai sebuah tradisi yang saban tahun digelar, Baayun Anak sarat dengan sejarah, muatan nilai, filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang berharga untuk dikaji secara komprehensif.
         Menurut catatan sejarah, Baayun Anak semula adalah upacara peninggalan nenek moyang yang masih beragama Kaharingan. Sejarawan H.A.Gazali Usman menyatakan tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara). Namun kemudian, berkembang dan dilaksanakan diberbagai daerah di Kalimantan Selatan.
         Tradisi ini menjadi penanda konversi agama orang-orang Dayak yang mendiami Banua Halat dan daerah sekitarnya, yang semula beragama Kaharingan kemudian memeluk agama Islam. Karena itu upacara Baayun Anak tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya Islam ke daerah ini.
        Sebagaimana diketahui, setelah Islam diterima dan dinyatakan sebagai agama resmi kerajaan oleh pendiri kerajaan Islam Banjar, Sultan Suriansyah, pada tanggal 24 September 1526, maka sejak itulah Islam dengan cepat berkembang, terutama daerah-daerah aliran pinggir sungai (DAS) sebagai jalur utama transportasi dan perdagangan ketika itu.
        Jalur masuknya Islam ke Banua Halat adalah, jalur lalu lintas sungai dari Banjarmasin ke Marabahan, Margasari, terus ke Muara Muning, hingga Muara Tabirai sampai ke Banua Gadang. Dari Banua Gadang dengan memudiki sungai Tapin sampailah ke kampung Banua Halat. Besar kemungkinan Islam sudah masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16.
        Sebelum Islam masuk, orang-orang Dayak Kaharingan yang berdiam di kampung Banua Halat biasanya melaksanakan acara Aruh Ganal. Upacara ini dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika pahumaan (sawah) menghasilkan banyak padi, sehingga sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen mereka pun melaksanakan Aruh Ganal, yang diisi oleh pembacaan mantra dari para Balian. Tempat pelaksanaan upacara adalah Balai.
         Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut bisa “diislamisasikan”. Sehingga jika sebelumnya upacara ini diisi dengan bacaan-bacaan balian, mantra-mantra, doa dan persembahan kepada para dewa dan leluhur, nenek moyang di Balai, akhirnya digantikan dengan pembacaan syair-syair maulud, yang berisi sejarah, perjuangan, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, dilaksanakan di masjid, sedangkan Sistem dan pola pelaksanaan upacara tetap.     
   Nilai utama yang hendak ditanamkan oleh para ulama dalam upacara Baayun Anak dan mengisinya dengan pembacaan syair-syair maulud di Desa Banua Halat tersebut tidak lain sebagai bagian dari strategi dakwah kultural, yakni bentuk dakwah yang dilakukan melalui pendekatan aspek penjelasan dan tindakan yang bersifat sosiokultural dan keagamaan, jadi bukan dengan pendekatan politik, salah satunya adalah dengan mengunakan medium seni budaya Atau dimaknai sebagai suatu upaya menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat setempat.
         Karenanya pada akhirnya dakwah kultural menghendaki adanya kecerdikan dalam memahami kondisi masyarakat dan kemudian mengemasnya sesuai dengan pesan-pesan dakwah Islam.
         Dengan model dakwah itu mereka tetap menjaga dan melestarikan sebuah tradisi dengan prinsip “setiap budaya yang tidak merusak akidah dapat dibiarkan hidup”, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan panutan dan teladan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berpemerintahan.