“MELINGAI” IKUT SELAMATKAN AIR MUKA BUMI

bumi

Oleh Hasan Zainuddin
Dengan bermandikan lumpur delapan anak muda yang tergabung dalam kelompok pencinta lingkungan, Masyarakat Peduli Sungai (Melingai), terus bekerja mengangkat sampah dan lumpur saat lomba angkat lumpur diselanggarakan Balai Wilayah Sungai (BWS) II.
Kelompok ini bergabung dengan 40 kelompok lainnya dalam kegiatan yang berlangsung di Sungai Teluk Dalam Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu, 22 Maret lalu.
“Kami tak terlalu butuh jembatan layang. Kami tidak terlalu butuh hotel mewah dan mal atau pusat perbelanjaan yang gemerlapan. Yang kami butuhkan justru sungai yang baik dengan persediaan air bersih yang cukup. Oleh karena itulah pembangunan untuk kehidupan yang sesungguhnya,” kata Zany Thalux, anggota kelompok Melingai.
“Buat apa bangunan fisik mewah kalau air bersih tidak ada sama saja dengan bunuh diri. Makanya, kami bertekad menyelamatkan persediaan air di muka bumi ini,” katanya saat diwawancarai beberapa kru televisi dari TVRI, Antaranews TV, dan BanjarTV usai lomba angkat lumpur yang dibuka Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.
Dalam lomba angkat lumpur yang diselanggarakan BWS bekerja sama dengan Pemkot Banjarmasin, Korem 101 Antasari, dan Kodam Mulawarman itu diikuiti 400 peserta atau 40 kelompok kaitan Hari Air Sedunia ke-25. Peserta lomba terdiri atas kalangan berbagai komunitas, kelompok pencinta lingkungan, masyarakat cinta sungai, regu pemadam kebakaran, pelajar, mahasiswa, dan kelompok masyarakat lainnya.
Semangat dari pencinta lingkungan “Melingai” tersebut agaknya berasalasan karena Banjarmasin yang dikenal sebagai “kota seribu sungai” tersebut kini kondisi sungainya sudah memprihatinkan, dari 150 sungai yang ada sebelumnya tinggal 102 sungai, karena selebihnya sudah mati lantaran simentasi, terkena pengembangangan perkotaan, gulma, serta sampah rumah tangga dan limbah.
Kandungan bakteri e-coli sungai Banjarmasin yang berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah sangat memprihatinkan lantaran mencapai belasan ribu PPM, idealnya kandungan bakteri tersebut di air sungai hanya 250 PPM saja.
Itu lantaran air sungai tercemar berat tinjua manusia setelah penanganan sanitasi di kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa itu tidak tertangani dengan baik, sementara Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah (PD Pal) hanya mampu merekrut 5 persen pelanggan dari jumlah penduduk.
Rusaknya sungai di Banjarmasin juga ditandai dengan intrusi air laut yang begitu jauh ke hulu sungai yang menandakan areal resapan air atau kesmen area di Pegunungan Meratus sudah rusak akibat penebangan kayu secara liar dan penambangan, akhirnya debet air berkurang sehingga tekanan ke hilir melemah dan tekanan air laut ke hulu sungai kian kuat.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin sering kali mengeluarkan keluhan menyusul kian menyusutnya persediaan air baku untuk diolah menjadi air bersih di perusahaan tersebut.
“Dalam sejarah tak pernah air laut intrusi jauh ke hulu di Sungai Martapura yang selama ini menjadi sumber bahan baku air PDAM kami, sekarang sudah sampai ke Sungai Tabuk, padahal Sungai Tabuk adalah lokasi terbesar pengambilan air baku perusahaan kami,” kata Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih.
Kerisauan akan minimnya persediaan air tersebut terus mengemuka di kalangan masyarakat karena berdasarkan catatan jumlah air tawar di dunia ini hanya 3 persen dibandingkan air laut, dan dari 3 persen air tawar tersebut hanya 3 persen saja yang bisa dimanfaatkan untuk air minum, yakni air permukaan seperti air sungai itu.
Oleh karena itu, jika air permukaan yang berada di aliran sungai tersebut rusak, air bersih akan menjadi rebutan. Dikhawatirkan air bersih akan lebih mahal ketimbang dengan bahan bakar minyak (BBM). Dikhawatirkan pula ke depan peperangan antarnegara atau bangsa boleh jadi karena merebutkan persediaan air bersih.
Pencinta lingkungan, seperti “Melingai”, berkeinginan mempertahankan persediaan air sungai sebagai air minum itu lebih penting dari segala-galanya karena kehidupan apa pun di dunia ini ada ketergantungan pada air.
Melingai yang dibentuk oleh kalangan pencinta lingkungan di kota sungai ini tadinya hanya beberapa orang saja. Namun, sekarang makin banyak yang terlibat dalam kelompok ini yang selalu melakukan kegiatan atau aksi lingkungan setiap Sabtu atau Minggu.
Kegiatannya, antara lain, membersihkan sampah yang mengapung di sungai, membersihkan selokan dan drainase, serta penanaman pohon penghijauan di bantaran sungai, membersihkan gulma sungai, tidak kurang dari 7.000 pohon sudah ditanam, termasuk memperindah sungai-sungai kecil dengan tanaman teratai.
Dengan komitmen demikianlah, Melingai pun tak ingin ketertinggalan dalam lomba angkat lumpur yang tujuannya selain merehabilitasi sungai, juga sebagai kegiatan edukasi kepada masyarakat untuk sama-sama memelihara sungai.

Air Limbah
Pada peringatan Hari Air Sedunia kali ini bertema “Air dan Air Limbah” yang keinginannya mengajak semua pihak mempertahankan ketersediaan air dan pengelolaan air limbah secara baik sebagai investasi kehidupan ke depan.
Berdasarkan catatan, salah satu dari 17 target Sustainable Development Goals (SDG 20130) memastikan akses air bersih dan sanitasi untuk semua. Sekarang ini kelangkaan air berdampak pada 40 persen orang di seluruh dunia, lebih dari 663 juta orang hidup tanpa pasokan air bersih dekat dengan rumahnya.
Angka itu diperkirakan kian mengkhawatirkan seiring dengan kian bertambahnya penduduk bumi ini. Pada tahun 2050, penduduk bumi ditaksir sembilan miliar orang. Diperkirakan pula satu di antara empat orang akan terdampak oleh kekurangan air.
Indonesia banyak tantangan penyediaan air baku untuk air bersih dan pengelolaan air limbah, cakupan pelayanan baru sekitar 70 persen. Maka, diperlukan daya dukung air baku yang besar.
Pelayanan air minum jaringan perpiaan masih 20 persen. Itu pun sebagian besar berada di perkotaan. Kondisi ini disebabkan insfrastruktur yang ada belum dimanfaatkan secara optimal dan kurang maksimalnya pemasangan pipa distribusi dan sambungan rumah.
Kondisi diperparah adanya pencemaran air, pengelolaan daerah tangkapan air yang kurang baik, dan fenomena perubahan iklim. Perubahan iklim terbukti memengaruhi siklus air sehingga memperpanjang kemarau, meningkatnya intensitas hujan, dan menaikkan permukaan alur sehingga meningkatkan kawasan banjir dan kekeringan.
Dari sisi suplai air baku, dihadapkan tantangan degradasi DAS di daerah hulu, menurunnya debit pada sumber-sumber air, dan tingginya laju sidimentasi pada tumpungan-tumpungan air, seperti bendungan, embung, danau, dan situ.
Selain itu, kualitas air makin rendah akibat tingginya tingkat pencemaran pada sungai dan sumber-sumber air lainnya.
Melihat kenyataan tersebut sudah selayaknya seluruh masyarakat memelihara sumber-sumber air yang ada di muka bumi ini dan membentuk kelompok-kelompok kepedulian terhadap lingkungan hidup, seperti memelihara hutan sebagai kawasan resapan air, menjaga sungai sebagai tempat penyimpanan air, dan melakukan rehabiltasi melalui gerakan penanaman pohon, pembersihan sungai, hingga setidaknya ke depan mengurangi keluhan mengenai ketersediaan air bersih ini.
Melingai Kota Banjarmasin yang kini sudah beranggotakan ratusan orang selalu melakukan aksi-aksi untuk menyentuh perasaan masyarakat agar ikut berkiprah memelihara lingkungan, khususnya menjaga sungai agar tidak dikotori oleh limbah-limbah, tak membuang sampah sembarangan, jangan pula menebang pohon kawasan resapan air karena ketersediaan air bersih sebenarnya itulah pembangunan dan kehidupan yang sesungguhnya.