IKAN KERING SEJAHTERAKAN WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

iwak karing
Bila kebetulan berkunjung ke Banjarmasin, khususnya ke Pasar Ahad Kertak Hanyar akan melihat sederetan ibu-ibu berjualan ikan kering sepat, haruan, biawan,pepuyu dan aneka ikan kering air tawar lainnya.

Dari lokasi inilah biasanya banyak pengunjung membeli ikan kering untuk oleh-oleh lantaran produksi ikan kering di lokasi ini terkenal tawar tidak asin.

Banyak pendatang ke Banjarmasin selain bertamasya juga hanya mencari ikan kering air tawar atau air rawa produksi setempat, dan konon sangat diminati warga yang berada di Pulau Jawa khususnya Jakarta.

Ibu Siti, seorang pedagang ikan kering di Pasar Kertak Hanyar mengakui tingginya minat pembeli terhadap dagangannya, tetapi yang paling ramai pembelinya pada hari Minggu.

Selain banyak menjual secara eceran di Pasar kertak Hanyar, Ibu Siti juga melayani pesanan.

“Kami banyak memperoleh pesanan, dari kalangan hotel, pemandu wisata, atau pengelola wisata lainnya, guna memenuhi permintaan wisatawan di wilayah ini,” kata Ibu Siti.

Menurut dia, agar lebih menarik ikan gabus atau sepat kering ukuran sedang pada saat proses pengeringan diletakkan satu per satu hingga membentuk formasi melingkar antara 20 hingga 30 ekor.

Pembentukan formasi ikan kering kering itu di saat penjemuran seperti itu menyebabkan ikan yang satu dan yang lainnya saling menempel kuat bagaikan kena lem.

-ikan sepat

Dengan formasi ikan kering yang demikian maka saat dipajang tampak begitu bagus, dan menarik dipandang para pembeli.

Kemudian agar lebih menarik lagi, disediakan alat khusus yang disebut bakul purun (tas kecil terbuat dari anyaman tanaman purun) lalu ikan itu diletakkan di dalam bakul itu hingga mudah menjinjingnya.

“Biasanya, para wisatawan lebih suka yang sudah disediakan seperti ini,” kata ibu Siti, seraya mengangkat satu bakul purun berisi dua kilogram ikan kering tersebut.

Menurut Masdulhak tak heran bila produk ikan kering ini menjadi bagian dari daya tarik wisatawan ke Kalsel.

Banyak wisatawan nusantara yang datang secara rombongan ke Banjarmasin menyempatkan diri minta antarkan kelokasi penjualan ikan kering seperti ke Pasar Ahad Kertak Hanyar, ke Pasar Sentra Antasari, ke Pasar Lima, atau Ke lokasi Pasar Lama.

Para pendatang tersebut agaknya lebih meminati membeli ikan kering ketimbang oleh-oleh lain, seperti kain, makanan ringan, kerajinan, atau buah-buahan.

Menurut banyak penuturan pendatang, kata Masdulhak, ikan air tawar yang dikeringkan produksi Kalsel itu lebih enak, khususnya ikan gabus kering dan sepat kering.

“Konon ikan kering itu hanya digoreng saja, lalu makan nasi bersama sayur bening, terasa nikmat,”kata Masdulhak meniru penuturan wisatawan.

Oleh karena itu sebuah kesempatan bagi mereka saat datang ke Kalsel membeli ikan kering dengan jumlah relatif banyak agar bisa dimanfaatkan lama atau dibagi-bagi lagi ke tetangga setelah datang ke kampung mereka.

Melihat tingginya minat pembeli ikan air tawar kering itu menimbulkan kegairahan petani atau nelayan berproduksi ikan kering,hal itu bisa dilihat di sentra-sentra perikanan air tawar, seperti di kawasan Kertak Hanyar, Gambut, Aluh-aluh, Sungai Tabuk Kabupaten Banjar.

iwak karing1

Atau daerah rawa Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Tanah Laut dan Barito Kuala, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Harga ikan kering setempat memang bervariasi tetapi di Banjarmasin, ikan kering gabus kualitas baik Rp60 ribu per kilogram tetapi kualitas sedang Rp40 ribu per kilogram, sementara harga sepat kering Rp40 ribu per kilogram ukuran baik dan Rp30 ribu per kilogram ukuran sedang.
Sentra HSU
Sentra produk ikan kering terbesar di Kalsel justru berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) karena kawasan tersebut memiliki kawasan rawa monoton sekitar 40 ribu hektare yang kesemuanya berpotensi menghasilkan ikan air tawar tersebut.

Menurut Wahyudi petugas seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Perikanan HSU, produk ikan kering setempat sungguh diminati, dan pemasarannya hingga kenegri jiran Malaysia.

Menurutnya produk ikan kering HSU yang diolah oleh kelompok petani beberapa lokasi, melalui para pedagang banyak diantarpulaukan ke berbagai kota besar di tanah air,seperti Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Ia mencontohkan, salah satu lokasi sentra produksi ikan kering HSU, adalah Desa Pajukungan, yang pemasarannya bahkan sudah mencapai Pulau Jawa yang kemudian diteruskan penjualannya hingga ke Negeri Jiran Malaysia tersebut.

Para pelaku usaha pengolahan ikan kering yang memiliki modal besar di desa ini sudah lama melakukan penjajakan pemasaran Ikan kering ke beberapa kota di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.

“Dari Kota Bandung oleh pedagang setempat produk ikan kering ini kemudian dipasarkan hingga ke wilayah Malaysia” Ujarnya lagi.

Sebelum berdirinya Kelompok Pengolahan dan Pemasaran Ikan (KPPI) Usaha Bersama Desa Pajukungan Hulu pada April 2011, warga masih sendiri-sendiri dalam pengolahan dan pemasaran ikan kering, terkadang dijual kepada pedagang pengumpul dengan keuntungan kecil.

Namun sejak Kelompok Usaha Bersama berdiri, warga bisa turut menikmati keuntungan pemasaran yang lebih baik lagi.

Pada awalnya berdirinya kelompok ini hanya bertujuan untuk memanfaatkan satu unit gudang pengolahan perikanan beserta peralatannya bantuan dari Dinas Perikanan HSU yang saat itu sempat terbengkalai karena kurang dimanfaatkan tani nelayan setempat.

Namun melihat potensi perikanan yang cukup besar di Desa Pajukungan Hulu dan sekitarnya, membuat sejumlah tokoh masyarakat setempat tertantang untuk memanfaatkan gudang pengolahan perikanan tersebut dengan kelompok pengolahan dan pemasaran ikan ‘Usaha Bersama’.

Menurut pihak pengelolanya, selain berhasil memanfaatkan gudang bantuan pemerintah, melalui usaha ini juga membuka lapangan kerja
masyarakat setempat yang memang memiliki keahlian turun temurun dalam hal pengolahan ikan kering.

“Dengan adanya kelompok ini juga turut membantu kegiatan pasca panen sebagai upaya meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk
perikanan sehingga semakin meningkatkan pendapatan masyarakat” ujar Ketua kelompok H Khairan.

Karena bahan baku ikan mudah di dapat, khususnya ikan gabus dan ditunjang tenaga kerja dan pemasaran yang sudah terbuka lebar
khususnya ke Pulau Jawa membuat KPPI Usaha Bersama cukup berkembang.

Bahkan oleh Dinas Perikanan dan Peternakan HSU dijadikan wakil pada penilaian UKM Pengolahan hasil perikanan tingkat Kalimantan Selatan dan berhasil menyabet juara III pada 2012 kemaren.

Kini aktivitas pengolahan ikan kering menjadi salah satu mata pencaharian utama warga Desa Pajukungan Hulu, setiap memasuki Maret – September aktivitas warga yang menjemur ikan sudah menjadi pemandangan yang biasa setiap memasuki desa ini.

Jalan desa yang semestinya diperuntukan bagi sarana transportasi bertambah fungsi menjadi areal penjemuran ikan mengingat terbatasnya
pematang yang bisa dijadikan tempat untuk penjemuran ikan.

Sementara bahan baku ikan untuk di olah menjadi ikan kering tidak sulit di dapat, meski terkadang untuk mendapatkan kualitas ikan yang lebih bagus para pengusaha ikan kering di desa ini juga mendatangkan bahan baku ikan dari luar Kabupaten HSU seperti dari Propinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Peluang usaha dari KPPI Usaha Bersama ini semakin terbantu dengan adanya Fasilitas Gudang Pendingin (Cold Storage) milik Dinas Perikanan HSU sehingga dapat membantu produksi ikan kering selama satu tahun penuh.

Khairan lebih jauh memaparkan, perbandingan ikan segar setelah menjadi ikan asin adalah 3:1 misal dalam 21 ton ikan segar yang di olah dalam satu bulan menghasilkan ikan kering seberat hanya 7 ton.

Keuntungan yang diperoleh pada penjualan di pasar lokal berkisar Rp37 juta hingga Rp50 juta per bulan dan akan semakin meningkat apabila semakin banyak permintaan dari luar daerah.

Namun Khairan mengaku masalah permodalan menjadi hal klasik yang dihadapi UKM di mana pun, termasuk KPPI Usaha Bersama Desa Pajukungan Hulu Kecamatan Babirik ini.

Sebagian besar modal, katanya masih berasal dari pinjaman pihak ketiga, sehingga keuntungan yang didapat tidak maksimal karena harus
berbagi keuntungan dengan penyandang modal.

Dari Dinas Perikanan dan Peternakan HSU telah membantu memberikan modal melalui pinjaman Usaha Pelayanan Pengembangan (UPP) Usaha Perikanan namun masih dalam jumlah kecil.

Berdasarkan catatan, dengan luasnya kawasan perairan air tawar atau rawa Kalsel memberi peluang peningkatan produksi perikanan yang bisa memberikan kesejahteraan, dan produksi ikan tersebut tercatat sekitar empat ribu ton ikan gabus per tahun dan sekitar lima ribu ton ikan sepat per tahun.

iwak karing2

KALTENG JADIKAN IKAN KERING SEBAGAI CENDERAMATA

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,31/8 (ANTARA)-  “Ikan kering lais pak, ikan kering lais, pak ini mutu bagus, tidak asin pak, enak-enak,” kata seorang ibu setengah baya yang merupakan pedagang ikan kering kepada para pengunjung sentra penjualan ikan di pasar besar Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng).
“Ikan lais kering ini dari Sungai Kasongan, kalau yang ini dari Sungai Rungan Tangkiling,” kata ibu Siti, nama pedagang itu seraya menunjuk-nunjuk tumpukan ikan kering yang digelarnya di pasar tersebut.
Ibu Siti yang menggunakan “tangkuluk” (penutup kepala kain sarung) dan berbedak dingin itu pun menceritakan bahwa ikan lais (Kryptopterus) paling banyak dicari pelanggannya, karena ikan berbadan panjang dan tipis itu termasuk khas setempat dan banyak terdapat di perairan rawa, sungai, danau, dan anjir (kanal).
Mengutip pendapat para pelanggannya, ikan lais kering paling enak dibandingkan ikan jenis lainnya, makanya ikan tersebut lebih mahal dibandingkan yang lain.
Lantaran ikan kering itu begitu digemari, maka sekarang sudah diolah dengan kualitas bagus, dan dijadikan sebagai barang cenderamata bagi pendatang yang datang ke kota cantik Palangkaraya ini.
“Kita banyak memperoleh pesanan, dari kalangan hotel, pemandu wisata, atau pengelola wisata lainnya, guna memenuhi permintaan wisatawan di wilayah ini,” kata Ibu Siti, yang mengaku berasal dari Danau Panggang, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut.
Menurut dia, agar lebih menarik ikan lais kering ukuran sedang pada saat proses pengeringan diletakkan satu per satu hingga membentuk formasi melingkar atau membundar antara 20 hingga 30 ekor.
Pembentukan formasi ikan kering lais itu di saat penjemuran seperti itu menyebabkan ikan yang satu dan yang lainnya saling menempel kuat bagaikan kena lem.
Dengan formasi ikan kering yang demikian maka saat dipajang tampak begitu bagus, dan menarik dipandang para pembeli.
Kemudian agar lebih menarik lagi, disediakan alat khusus yang disebut bakul purun (tas kecil terbuat dari anyaman tanaman purun ) lalu ikan itu diletakkan di dalam bakul itu hingga mudah menjinjingnya.
“Biasanya, para wisatawan lebih suka yang sudah disediakan seperti ini,” kata ibu Siti, seraya mengangkat satu bakul purun berisi dua kilogram ikan lais kering tersebut.
Berdasarkan keterangan harga ikan kering lais paling bagus di pasar paling ramai Kalteng itu mencapai Rp60 ribu per kilogram, sementara kualitas sedang Rp50 ribu dan kualitas biasa Rp45 ribu.
Selain Ikan kering lais, ikan lainnya yang juga cukup diminati, adalah ikan kering gabus (haruan) yang disebut “garih” dengan harga Rp40 ribu untuk kualitas baik, dan Rp30 ribu kualitas sedang.
Tetapi jika ikan kering gabus lebih kecil lagi harganya hanya Rp25 ribu per kilogram, ikan sejenis gabus yang juga diminati ikan kering tauman Rp35 ribu per kg, ikan kering karandang Rp20 ribu per kg, ikan kering kihung Rp25 ribu per kg.
Ikan kering sepat Rp40 ribu per kg, ikan kering saluang Rp40 ribu perkg, ikan kering biawan Rp35 ribu per kg, ikan kering sanggang Rp30 ribu  per kg, ikan kering tapah Rp35 ribu per kg, dan banyak lagi jenis ikan kering yang dijual di Kota Palangkaraya.
Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang pernah mengatakaan bahwa potensi sumber daya air  (SDA) di wilayah tersebut sangat besar, mencapai 183,2 miliar meterkubik (M3) per tahun.
Melihat potensi SDA yang begitu besar sebenarnya kalau dikelola dengan baik maka akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat Kalteng.
SDA Kalteng itu bisa dimanfaatkan bukan saja sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai sarana bahan baku air minum, irigasi persawahan, pembangkit listrik, serta sebagai kawasan penangkapan ikan dan pembudidayaa sektor perikanan.
Dijelaskannya, terdapat 11 sungai besar yang ada di Kalteng dengan panjang kurang lebih 4.625 Km dan tujuh buah anjir atau kanal sepanjang kurang lebih 122 Km.
Sebelas sungai tersebut adalah sungai besar dan terdapat puluhan bahan ratusan anak sungai yang sambung menyambung satu sama lain yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi penangkapan ikan oleh masyarakat.
Sungai tersebut seperti Sungai Barito dengan panjang 900 kilometer (Km) dalam 8 m dan lebar 650 m, Sungai Kapuas panjang 600 Km dalam 6 m dan lebar 500 m.
Sungai Kahayan panjang 600 Km dalam 7 m, lebar 500 m, Sungai Katingan panjang 650 Km dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Mentaya 400 Km,  dalam 6 m lebar 400 m. Sungai Sebangau panjang 200 Km dalam 5 m, lebar 100 m, Sungai Seruyan panjang 350 Km, dalam 5 m, lebar 300 m, Sungai Arut 250 Km dalam 4 m, lebar 100 m.
Sungai lainnya, Sungai Kumai panjang 175 Km, dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 200 m, terakhir Sungai Jelai panjang 200 Km dalam 5 m dan lebar 100 m.
Bukan hanya jumlah sungai yang begitu luas, tetapi juga banyak hamparan rawa yang mengandung kehidupan ikan rawa juga begitu besar, tercatat 1,8 juta hektare yang menyebar di Kalteng ini.
Belum lagi Kalteng di bagian selatannya memiliki garis pantai yang panjang yang juga menghasilkan ikan laut begitu besar.
Dengan potensi perairan demikian melahirkan populasi dan perkembangan ikan sungai alam yang melimpah pula, dari hasil penangkapan ikan di sungai-sungai besar itulah yang kemudian dibawa oleh pedagang hingga ke Palangkaraya, ibukota provinsi ini.
Berdasarkan data, dari Dinas Perikanan setempat, dari luasan periran di Kalteng tersebut telah memproduksi sejumlah produk ikan segar dan ikan kering.
Produksi perikanan Kalteng terdiri dari perikanan laut sebanyak 49.951,7 ton dan perikanan darat sebanyak 40.413 ton.
Dari produksi itu terdiri lagi dari perikanan umum, tambak air tawar, ikan sawah, kolam, dan keramba.
Data terakhir diperoleh dari Badan Biro Statistik (BPS) Kalteng disebutkan nelayan setempat menghasilkan ikan awetan, baik ikan laut maupun darat, ikan kering 14.582 ton, terasi 1.021 ton, udang beku 382 ton, pindang 43 ton, ikan lainnya 1.562 ton. Sementara itu, jenis awetan ikan darat terdiri dari ikan kering sebanyak 8.230 ton dan Iain-lain 93 ton.
Berdasarkan keterangan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalteng, keberadaan produksi ikan kering Kalteng itu telah menjamin kebutuhan masyarakat setempat, bahkan mampu menyuplai ke daerah lain.