KALTENG JADIKAN IKAN KERING SEBAGAI CENDERAMATA

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,31/8 (ANTARA)-  “Ikan kering lais pak, ikan kering lais, pak ini mutu bagus, tidak asin pak, enak-enak,” kata seorang ibu setengah baya yang merupakan pedagang ikan kering kepada para pengunjung sentra penjualan ikan di pasar besar Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng).
“Ikan lais kering ini dari Sungai Kasongan, kalau yang ini dari Sungai Rungan Tangkiling,” kata ibu Siti, nama pedagang itu seraya menunjuk-nunjuk tumpukan ikan kering yang digelarnya di pasar tersebut.
Ibu Siti yang menggunakan “tangkuluk” (penutup kepala kain sarung) dan berbedak dingin itu pun menceritakan bahwa ikan lais (Kryptopterus) paling banyak dicari pelanggannya, karena ikan berbadan panjang dan tipis itu termasuk khas setempat dan banyak terdapat di perairan rawa, sungai, danau, dan anjir (kanal).
Mengutip pendapat para pelanggannya, ikan lais kering paling enak dibandingkan ikan jenis lainnya, makanya ikan tersebut lebih mahal dibandingkan yang lain.
Lantaran ikan kering itu begitu digemari, maka sekarang sudah diolah dengan kualitas bagus, dan dijadikan sebagai barang cenderamata bagi pendatang yang datang ke kota cantik Palangkaraya ini.
“Kita banyak memperoleh pesanan, dari kalangan hotel, pemandu wisata, atau pengelola wisata lainnya, guna memenuhi permintaan wisatawan di wilayah ini,” kata Ibu Siti, yang mengaku berasal dari Danau Panggang, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut.
Menurut dia, agar lebih menarik ikan lais kering ukuran sedang pada saat proses pengeringan diletakkan satu per satu hingga membentuk formasi melingkar atau membundar antara 20 hingga 30 ekor.
Pembentukan formasi ikan kering lais itu di saat penjemuran seperti itu menyebabkan ikan yang satu dan yang lainnya saling menempel kuat bagaikan kena lem.
Dengan formasi ikan kering yang demikian maka saat dipajang tampak begitu bagus, dan menarik dipandang para pembeli.
Kemudian agar lebih menarik lagi, disediakan alat khusus yang disebut bakul purun (tas kecil terbuat dari anyaman tanaman purun ) lalu ikan itu diletakkan di dalam bakul itu hingga mudah menjinjingnya.
“Biasanya, para wisatawan lebih suka yang sudah disediakan seperti ini,” kata ibu Siti, seraya mengangkat satu bakul purun berisi dua kilogram ikan lais kering tersebut.
Berdasarkan keterangan harga ikan kering lais paling bagus di pasar paling ramai Kalteng itu mencapai Rp60 ribu per kilogram, sementara kualitas sedang Rp50 ribu dan kualitas biasa Rp45 ribu.
Selain Ikan kering lais, ikan lainnya yang juga cukup diminati, adalah ikan kering gabus (haruan) yang disebut “garih” dengan harga Rp40 ribu untuk kualitas baik, dan Rp30 ribu kualitas sedang.
Tetapi jika ikan kering gabus lebih kecil lagi harganya hanya Rp25 ribu per kilogram, ikan sejenis gabus yang juga diminati ikan kering tauman Rp35 ribu per kg, ikan kering karandang Rp20 ribu per kg, ikan kering kihung Rp25 ribu per kg.
Ikan kering sepat Rp40 ribu per kg, ikan kering saluang Rp40 ribu perkg, ikan kering biawan Rp35 ribu per kg, ikan kering sanggang Rp30 ribu  per kg, ikan kering tapah Rp35 ribu per kg, dan banyak lagi jenis ikan kering yang dijual di Kota Palangkaraya.
Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang pernah mengatakaan bahwa potensi sumber daya air  (SDA) di wilayah tersebut sangat besar, mencapai 183,2 miliar meterkubik (M3) per tahun.
Melihat potensi SDA yang begitu besar sebenarnya kalau dikelola dengan baik maka akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat Kalteng.
SDA Kalteng itu bisa dimanfaatkan bukan saja sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai sarana bahan baku air minum, irigasi persawahan, pembangkit listrik, serta sebagai kawasan penangkapan ikan dan pembudidayaa sektor perikanan.
Dijelaskannya, terdapat 11 sungai besar yang ada di Kalteng dengan panjang kurang lebih 4.625 Km dan tujuh buah anjir atau kanal sepanjang kurang lebih 122 Km.
Sebelas sungai tersebut adalah sungai besar dan terdapat puluhan bahan ratusan anak sungai yang sambung menyambung satu sama lain yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi penangkapan ikan oleh masyarakat.
Sungai tersebut seperti Sungai Barito dengan panjang 900 kilometer (Km) dalam 8 m dan lebar 650 m, Sungai Kapuas panjang 600 Km dalam 6 m dan lebar 500 m.
Sungai Kahayan panjang 600 Km dalam 7 m, lebar 500 m, Sungai Katingan panjang 650 Km dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Mentaya 400 Km,  dalam 6 m lebar 400 m. Sungai Sebangau panjang 200 Km dalam 5 m, lebar 100 m, Sungai Seruyan panjang 350 Km, dalam 5 m, lebar 300 m, Sungai Arut 250 Km dalam 4 m, lebar 100 m.
Sungai lainnya, Sungai Kumai panjang 175 Km, dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 200 m, terakhir Sungai Jelai panjang 200 Km dalam 5 m dan lebar 100 m.
Bukan hanya jumlah sungai yang begitu luas, tetapi juga banyak hamparan rawa yang mengandung kehidupan ikan rawa juga begitu besar, tercatat 1,8 juta hektare yang menyebar di Kalteng ini.
Belum lagi Kalteng di bagian selatannya memiliki garis pantai yang panjang yang juga menghasilkan ikan laut begitu besar.
Dengan potensi perairan demikian melahirkan populasi dan perkembangan ikan sungai alam yang melimpah pula, dari hasil penangkapan ikan di sungai-sungai besar itulah yang kemudian dibawa oleh pedagang hingga ke Palangkaraya, ibukota provinsi ini.
Berdasarkan data, dari Dinas Perikanan setempat, dari luasan periran di Kalteng tersebut telah memproduksi sejumlah produk ikan segar dan ikan kering.
Produksi perikanan Kalteng terdiri dari perikanan laut sebanyak 49.951,7 ton dan perikanan darat sebanyak 40.413 ton.
Dari produksi itu terdiri lagi dari perikanan umum, tambak air tawar, ikan sawah, kolam, dan keramba.
Data terakhir diperoleh dari Badan Biro Statistik (BPS) Kalteng disebutkan nelayan setempat menghasilkan ikan awetan, baik ikan laut maupun darat, ikan kering 14.582 ton, terasi 1.021 ton, udang beku 382 ton, pindang 43 ton, ikan lainnya 1.562 ton. Sementara itu, jenis awetan ikan darat terdiri dari ikan kering sebanyak 8.230 ton dan Iain-lain 93 ton.
Berdasarkan keterangan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalteng, keberadaan produksi ikan kering Kalteng itu telah menjamin kebutuhan masyarakat setempat, bahkan mampu menyuplai ke daerah lain.

PASAR WADAI PALANGKARAYA SURGA PENIKMAT PENGANAN TRADISI

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,22/8 (ANTARA)- Sinar mentari masih berada di atas langit, menandakan bunyi tabuhan beduk sebagai tanda berbuka puasa bagi umat Muslim masih lama, namun kawasan Jalan Ais Nasution di lapangan Sasana Mantikai Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sudah terlihat ramai.
Transaksi pun mulai terjadi di lokasi Pasar Wadai (pasar kue) yang muncul di bulan Ramadhan ini, bahkan tambah sore lokasi ini tambah berjejal yang membuktikan keberadaan pasar ini diminati pengunjung.
Kebaradaan pasar yang dibangun dengan konstruksi khas masyarakat Dayak Kalteng itu bukan saja sebagai lokasi transaksi penganan dan makanan tetapi sekaligus sebagai lokasi pelestarian budaya.
Bahkan belakangan oleh Pemerintah Provinsi Kalteng sudah dijadikan aset wisata tahunan yang terus dipromosikan ke berbagai wilayah.
Pasar wadai ini pula dinilai mampu menjadi magnet memancing lebih banyak wisatawan untuk datang ke kota yang pernah dirancang oleh Presiden Soekarno sebagai ibukota negara pengganti Jakarta tersebut.
Wakil Gubernur Kalteng Haji Achmad Diran saat membuka atraksi wisata tahunan pada hari pertama bulan puasa tahun ini mengakui pasar Wadai bernilai bagi dunia wisatawan lantaran muncul tahunan dan unik.
Hal lain yang bisa diambil manfaat keberadaan pasar Wadai adalah memberikan peluang kepada masayarakat untuk melaksanakan invonasi dan pengembangan kreativitas seni dan budaya lokal yang bermanfaat bagi dunia kepariwisataan.
Apalagi di pasar  ini terdapat aneka penganan tradisional baik yang berasal dari masyarakat Dayak Kalteng sendiri maupun penganan yang berasal dari masyarakat Banjar Kalimantan Selatan .
Di lokasi yang dikelola Lembaga Ketahanan Kelurahan (LKK) Kota Palangkaraya itu setiap harinya memang selalu padat bagi mereka yang menyukai penganan tradisional.
Mereka myang berbelanja di kawasan berada di jantung kota cantik Palangkaraya itu bukan saja yang benar-benar mencari penganan dan makanan berbuka puasa tetapi tak sedikit masyarakat non muslin pun berada di wilayah itu untuk berburu penganan atau makanan yang disukai.
Apalagi sebagian besar penganan dan makanan yang dijajakan para pedagang pada lokasi yang terdapat sekitar ratusan kios itu kebanyakan sulit dicari di hari biasanya dan hanya muncul di saat atraksi tersebut digelar.
Di lokasi pasar tahunan memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, cincin, untuk-untuk, gagatas,onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh,bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.
Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.
Lebih khas lagi, makanan tradisional Kalteng berupa mumbut rotan yang disebut singkah, daun singkong santan dan kue-kue Dayak Lainnya.
Tak ketinggalan pula tersaji makanan dari luar Kalimantan seperti gudeg Jawa, kerak telur, pecel lele, rendang Padang, dan makanan-makanan nasional lainnya, guna memenuhi selera warga kota Palangkaraya yang hedrogen dengan penduduk sekitar 190 ribu jiwa itu.
Di antara penganan yang dijual belikan itu seringkali dibuat hanya kebutuhan ritual atau kebutuhan kenduri karena diyakini kue-kue itu kalau dimakan diyakini akan membawa berkah.
Lihat saja penganan yang disebut kue cangkarok, kue lamang, bubur, cinncin, yang biasanya sebagai makanan sesaji ritual.
Penganan itu banyak yang sudah hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.
?Lihat saja makanan kecil, kue kering, snack, mie instan, kacang-kacang keluaran perusahaan besar seperti PT Indofood menyebar hingga ke pelosok pedesaan yang mendesak makanan khas asli daerah setempat,? kata Aminah, pedagang kue tradisional
Pasar Wadai Ramadhan,  di Palangkaraya ini sebenarnya bukan hanya di kawasan itu tetapi juga bermunculan di kawasan lain seperti di Jalan Tjilik Riwut, Jalanj Set Aji, Jalan RTA Milono dan wilayah lainnya.
Bagi warga Palangkaraya, tak lengkap rasanya jika tak mengunjungi Pasar Wadai, karena pasar itu hanya ada pada bulan Ramadhan.
Penganan atau kue tradisional itu pula yang menjadi daya pikat setiap pengunjung terutama penikmat makanan tradisional untuk datang ke Pasar Wadai. Bahkan, banyak pengujung dari luar daerah datang ke lokasi ini hanya ingin berwisata kuliner di Pasar kebanggaan warga Palangkaraya itu.
Selain berburu makanan tradisional, ada juga warga Palangkaraya datang ke Pasar Wadai sekadar jalan-jalan sambil menunggu beduk ditabuh sebagai tanda buka puasa telah tiba (ngabuburit).
Bahkan menjadi lokasi kawula muda untuk “cuci mata” sekaligus sebagai berwisata.
“Saya suka datang ke pasar wadai sambil menunggu bedug buka puasa, bila sudah berada di lokasi ini tak serasa waktu terus berlalu hingga buka puasa,” kata Sarwani seorang pemuda penduduk setempat.
Melihat fungsi ganda keberadaan pasar wadai ini, maka wajar bila berbagai kalangan berharap pada tahun-tahun mendatang kebaradaan ini lebih dikemas lagi sebagai daya pikat kota.

EKOSISTEM AIR “COCACOLA” SEBANGAU HABITAT FLORA FAUNA

Aku saat menyusuri sungai di TN Sebangau

air warna cocacola

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya, 4/8 (ANTARA)- Dua buah ‘spead boat’ meluncur begitu kencang menyusuri sungai yang berliku-liku di Taman Nasional (TN) Sebangau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Puluhan wartawan nasional dan lokal yang berada di sarana air yang cepat itu, ramai-ramai membidikkan kameranya, baik kamera video maupun kamera foto. Fokus bidikan kamera tertutama keberadaan sungai yang di sisi kiri dan kanannya dipenuhi dengan tanaman rasau (sejenis pandan) dan tampak menghijau.
Sesekali kamera diarakan ke burung elang yang beterbangan di wilayah itu, kemudian juga ke binatang lutong yang melompat dari satu pohon ke pohon lain.
Permukiman penduduk yang juga terdapat di beberapa lokasi sungai kawasan rawa gambut itu menjadi objek menarik foto-foto wartawan media cetak dan elektronika ini.
Tetapi ketertarikan para wartawan ini lebih terhadap kondisi air yang dilewati dalam perjalanan dalam kurun waktu sekitar satu jam ke arah pusat rehabilitasi TN Sabangau dari Kereng Bangkirai Palangkaraya.
“Wah, ini perjalanan yang mengasyikkan, dan belum pernah aku mengalami perjalanan seperti ini,” kata Depri, wartawan Kompas Biro Kalsel, seraya membidikkan kamera fotonya.
Dalam perjalanan wisata dalam kaitan kegiatan semiloka perubahan iklim yang membahas manfaat hutan gambut TN Sebangau sebagai penekan pemanasan global yang diselenggarakan WWF-Indonesia itu, sejumlah wartawan nasional dan lokal sempat pula menanamkan pohon penghijauan.
Para partawan begitu antusias mendengar berbagai penjelasan dari WWF-Indonesia mengenai ekosistem rawa gambut Sebangau. Mereka juga menyaksikan tanaman anggrek, tanaman galam, tanaman balangeran dan aneka tanaman dan binatang di wilayah itu.
Dalam wisata itu ada wartawan yang kemudian mengeluarkan alat pancing lalu memancing setelah melihat  banyaknya ikan berkeliaran di kawasan tersebut.
Hanya saja dari pertama turun ke spead boat hingga sampai ke pusat rehabilitasi TN Sebangau, kalangan wartawan ini agak terheran melihat warna air di wilayah itu bagaikan ‘cocacola’.
Walau airnya bewarna bagaikan ‘cocacola’ atau air teh, tetapi air itu merupakan habitat puluhan spesies ikan.
Koordinator Konservasi TN Sebangau, Adventus Panda, ketika bersama sejumlah wartawan menyusuri sungai tersebut mengakui air yang demikian menjadi tempat hidup dan berkembangnya banyak ikan.
Tetapi ikan yang hidup dan berkembang di perairan demikian kebanyakan jenis ikan tertentu seperti ikan tauman, kihung, mihau, karandang, bakut, yang kesemuanya famili ikan gabus.
“Ikan-ikan mirip gabus (Channa striata) ini banyak sekali di sungai ini, sehingga menjadi mata pencarian penduduk sekitar TN Sebangau,” kata Adventus Panda.
Ikan lainnya, adalah lais, tapah, patung, sepat, kapar, pepuyu, dan sejumlah ikan rawa gambut lainnya.
Ia mengakui TN Sebangau memiliki keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, tetapi yang unik adalah ekosistem air bagaikan ‘cocacola’ itu.
“Ekosistem yang unik itulah yang menyebabkan TN Sebangau Kalteng berpotensi dijadikan kawasan ekowisata,” katanya.
Air TN Sebangau bewarna demikian, akibat dari proses pelapukan bahan organik lahan hutan bergambut.
Berdasarkan catatan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Idonesia (LIPI) pada 2006 meneliti TN Sebangau, dan menyatakan di lokasi ini terdapat 808 jenis tumbuhan yang mengandung khasiat obat.
TN Sebangau juga merupakan habitat sejumlah satwa, seperti burung enggang, beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus atheroides), kancil (tragulus Javanicus), macan dahan (neofelis nebulosa), tupai (tupaia spp), loris (Nycticebus coucang), serta satwa lainnya dengan spicies induk orangutan (Pongo pygmaeus).
Hasil survei dan penelitian tahun 2006 itu menemukan 6000-9000 ekor orangutan menghuni kawasan ini.
Mengutip hasil penelitian atau studi hutan rawa gambut Universitas Palangkaraya (Unpar), terdapat sedikitnya 106 jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di wilayah itu, di antaranya adalah tumbuhan asli Kalimantan.
Tumbuhan asli Kalimantan itu, antara lain ramin (Gonystilus bancanus), jelutung (Dyera costulata), balangeran (Shorea belangeran) bintangur (Colophyllum sclerophyllum),  meranti (Shorea spp), nyatoh (Palaquium spp), keruing (Dipterocarpus spp), agathis (Agathis spp), menjalin (Xanthophyllum spp).
Selain itu terdapat 116 spicies burung, di antaranya burung khas Kalimantan, burung enggang.
Juga terdapat 35 jenis mamalia yang ada di kawasan itu selain orangutan juga ada bekantan (nasalis larvatus) merupakan satwa kera hidung besar yang hanya ada di Pulau terbesar di nusantara itu.
Masih ada pula kera lain yaitu lutung, owa-owa (Hylobates agilis), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kera abu-abu, dan beberapa jenis lainnya.
Jenis anggrek terdapat anggrek hitam (Coelogyne pandurata), serta tanaman liar kantung semar (Nepenthes ampullaria) di  samping anggrek lainnya.
Kekhasan lain TN Sabangau terdapat laboratorium alam hutan rawa gambut yang dikelola Pusat kerjasama Internasioal Pengelolaan Gambut Tropika (Cimtrop) Univeritas Palangkaraya (Unpar) sebagai lembaga riset yang memfokuskan penelitian di bidang pengelolaan hutan rawa gambut.
Potensi wisata lain di taman nasional ini ialah keberadaan alamnya, terdapat jeram, lembah, serta danau-danau.
TN Sebangau memiliki luas sekitar 568.700 hektare terletak di antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan. Secara administrasi wilayah ini merupakan bagian dari Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya.
Terhitung 19 Oktober 2004, kawasan Sebangau, ditunjuk pemerintah sebagai Taman Nasional (TN) melalui SK Menhut No. 423/Menhut-II/2004.
Kawasan itu merupakan hutan rawa gambut yang masih tersisa di Kalteng setelah gagalnya Proyek  Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare pada 1995.
Kegiatan wisata yang bisa dinikmati di kawasan itu, antara lain menjelajah hutan rawa gambut dengan cara mengitari alur sungai, mengamati flora dan fauna yang unik dan khas, mendaki bukit, berenang di sungai, atau melihat adat istiadat dan budaya Suku Dayak, seperti acara “tiwah.”
Konsep WWF
Melihat keanekaragaman hayati di wilayah TN Sebangau maka wilayah itu berpotensi besar menjadi objek ekowisata dunia, oleh karena itu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) WWF Indonesia telah pula menawarkan konsep pengembangan ekowisata di TN Sebangau.
Konsep Ekowisata yang ditawarkan WWF Indonesia tersebut berbasis masyarakat, kata Pimpinan Projek Konservasi Sebangau WWF-Indonesia Rosenda Ch Kasih.
Konsep tersebut penggabungan antara konsep “community based tourism” dan “ecotourism”. Dibuat untuk mengangkat pengembangan ekonomi tanpa melupakan konsep pembangunan berkelanjutan, dengan berakar pada potensi lokal, katanya.
Dalam pengelolaannya harus dilaksanakan secara bertanggung jawab di tempat-tempat alami, secara ekonomi harus berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setiap generasi.
Dalam pemahaman tersebut, ketika ekowisata dikembangkan maka potensi Sumber Daya Alam (SDA) maupun budaya  harus dipandang sebagai aset dan minimal harus ada empat pilar yang harus diusung.
Empat pilar tersebut, kata Rosenda Ch Kasih, yaitu konservasi, ekonomi, pendidikan, dan partisipasi masyarakat itu sendiri.
WWF Indonesia melihat kawasan Sebangau merupakan kawasan konservasi sebagai pelestarian alam, di kawasan itu tumbuh beribu jenis flora dan menjadi habitat hidup berbagai satwa dengan spesies kunci orangutan.
Di sekeliling TN Sebangau diinteraksi oleh keragaman budaya khas masyarakat Suku Dayak Kalteng dengan kehidupan tradisionalnya dalam memanfaatkan SDA tersebut.
Dalam upaya melakukan kegiatan ekowisata di Sebangau, WWF Indonesia mengembangkannya dengan berbasis masyarakat, karena masyarakatlah yang harus menjadi salah satu pelaku kegiatan ini.
“Mereka harus memiliki nilai dan porsi tawar yang setara dengan pihak lain, ketika ekowisata ini dibangun dan dikembangkan, masyarakat tak boleh hanya menjadi objek dari pengembangan, tetapi harus menjadi pemilik dari kegiatan ekowisata,” demikian Rosenda Ch Kasih.

Air TN Sebangau warna cocacola

KALTENG INGIN WUJUDKAN JALUR REL KERETA API

Oleh Hasan Zainuddin
     Akibat sebagian besar wilayahnya masih terisolir, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) belum bisa menggarap sebagian besar sumberdaya alamnya.
     Dengan wilayah 1,5 kali Pulau Jawa, banyak daerah di Kalteng belum terhubung dengan transportasi darart satu sama. Sarana perhubungan yang tersedia hanyalah jalur sungai.
    Melihat kenyataan itu Gubernur Kalteng Teras Narang mencoba mengembangkan jenis transportasi massal yang murah, khususnya untuk mengelola sumber daya alam yang melimpah.
    Teras Narang mengatakan, sumber daya alam Kalteng yang melimpah tersebut salah satunya  batubara. Berdasarkan data, cadangan batubara di sana sebanyak 4,8 miliar ton, dan 50 persen di antaranya merupakan batubara kalori tinggi.
    Sumber daya alam itu  belum dimanfaatkan karena angkutan dari lokasi tambang ke pelabuhan belum tersedia.
    Ada tiga alternatif angkutan batubara Kalteng, sungai, jalan raya darat, dan kereta api. Menurut Teras, dari hasil kajian, kereta api merupakan pilihan ideal. 
   Angkutan kereta api itu diyakini bisa meningkatkan produksi saat ini yang 1,5 juta ton per tahun menjadi 20 juta ton per tahun atau bahkan lebih.
    Pemprov Kalteng akan membangun rel kereta api angkutan bukan hanya batubara, tapi juga biji besi, zirkon dan semua hasil hutan dan perkebunan, seperti sawit, karet, dan rotan.
    Teras Narang menjamin, proyek rel kereta api itu tak membabat hutan. Menurut dia, rel yang mulai dibangun pada 2010 itu berada di pinggir jalan raya dan sungai yang tak ada lagi berhutan.
   “Kita sudah pikirkan dalam mewujudkan rel KA tidak merusak hutan. Sebab, kalau merusak lingkungan dan hutan maka proyek itu tidak jadi dilaksanakan,” tuturnya menanggapi kekhawatiran sejumlah pihak.
    Pembangunan rel kereta api itu semata sebagai alternatif angkutan tambang dan jenis angkutan massal lainnya, lantaran alternatif lain sudah tidak ada.
    Angkutan bahan tambang dan komoditi lainnya dengan jumlah besar tidak mungkin melalui jalan darat, karena kapasitas jalan maksimal delapan ton, sementara angkutan tambang khususnya batubara minimal 20 ton.
    “Kalau jalan darat dipaksakan, jelas akan mempercepat kerusakan jalan” tutur Teras Nerang.
    Pilihan kedua, jalan sungai memang relatif mudah dan murah dan mampu mengangkut jumlah tonase yang lebih besar, umpamanya melalui tongkang. Tapi, sungai tidak selalu bisa digunakan.
    “Sungai Kalteng seperti Sungai Barito adalah pasang surut dan hanya empat jam dalam sehari semalam debit air yang bisa dilalui tongkang batubara,” katanya.
    Selain itu sungai-sungai Kalteng juga sering mendangkal, terutama pada musim kemarau.
     Akhirnya sungai tidak bisa menjadi pilihan angkutan tambang dan angkutan komoditi lainnya dengan jumlah besar.
     Pilihan jatuh pada kereta api, yang lebih murah dan cepat waktu angkutannya. Jalur itu diandalkan untuk mengangkut batu bara dari sentra pertambangan ke pelabuhan laut untuk memudahkan ekspor berbagai komoditi pertambangan dan komoditi hasil alam lainnya.
      Pembangunan jalur kereta api itu memperoleh sambutan positip dari berbagai pihak, terutama kalangan investor. Hal itu terlihat dari banyaknya investor negara lain yang berminat menanamkan modal di proyek rel kereta api Kalteng.
     Teras Narang menyebutkan, investor yang berminat itu dari negara China, Jepang, India, Rusia,  dan Inggris.
    “Mereka melihat investasi ini sangat menuntungkan di kemudian hari, sebab setiap perusahaan yang memanfaatkan rel KA tersebut harus membayar fee, sesuai kesepakatan yang menguntungkan,” katanya.
     Menurut Teras, pembangunan rel itu memang membutuhkan biaya tinggi. Kalteng mengusulkan proyek itu dikerjakan melalui  kerjasama antara pemerintah dan swasta (KPS), sebagaimana  diatur dalam Peraturan Presiden RI Nomor 67 Tahun 2009 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.
    Proyek-proyek terkait perkeretaapian yang diusulkan pendanaannya melalui mekanisme KPS  itu adalah, ruas  Palaci-Puruk Cahu-Bangkuang (tahap 1) sekitar 185 km, kemudian  Bangkuang-Lupak Dalam sekitar 175 km, lalu  Kudangan-Kumai sekitar 195 km.
    Ruas Kuala-Kurun-Pembuang sekitar 466 km, serta ruas Tumbang Samba-Naga Bulik  sekitar 418 km, di samping ruas Puruk Cahu-Kuala Kurun-Palangka Raya-Pulang Pisau- Kuala Kapuas sekitar 390 km.
     Memperhatikan kondisi pengangkutan batubara sekarang dan distribusi potensi batubara yang ada, maka prioritas tahap pertama yaitu ruas rel kerepa api Palaci-Puruk Cahu-Bangkuang sepanjang 185 km , lalu dilanjutkan jaringan lain hingga tahap keempat.
    Ruas itu melewati tiga  kabupaten; Murung Raya, Barito Utara, dan Kabupaten Barito Selatan. Jalur itu meliputi delapan kecamatan; Muara Laung,lahei, Teweh Tengah, Montalaat, Dusun Utara, Dusun Selatan, Karau, dan Kecamatan Dusun-Hilir.
    Untuk ruas Puruk Cahu-Bangkuang telah dilaksanakan konsultasi publik  pada 23 Mei 2009 dan “market sounding”  pada minggu pertama bulan Agustus  2009 yang dilaksanakan di Palangkaraya.
    Sedangkan proses pelelangan, kata Teras Narang, dilaksanakan Februari-Maret  2010.
    Persetujuan  juga sudah diberikan  Menteri Perhubungan RI, sesuai Surat Direktorat Jenderal Perkeretaapian Departemen Pembangunan tanggal 29 April 2009 perihal persetujuan prinsip penetapan trase jalur kereta api angkutan batubara dari Puruk Cahu Bangkuang Kalteng, kata Teras Narang
   Pada 23 Juli, dilakukan Pertemuan antara Pemprov Kalteng dan Tim Pemurus Kebijakan Dukungan Pemerintah (Departemen Keuangan RI) untuk penyediaan infrastruktur melalui mekanisme KPS proyek pembangunan rel KA Puruk Cahu-Bangkuang.
        Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari implementasi pasal 6 Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur tentang Tata Cara Evaluasi Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastuktur yang membutuhkan dukungan pemerintah.

KABUT ASAP DAN BAHAYANYA BAGI KESEHATAN MANUSIA

asap

Oleh Hasan Zainuddin

Bau angit (bau benda terbakar) kelalatu (benda bekas terbakar) serta asap kini warnai udara Palangkaraya dan wilayah lain Kalimantan Tengah (Kalteng)i.
Kebakaran lahan gambut terus berlangsung di daerah luas 1,5 kali Pulau Jawa berpenduduk sekitar dua juta jiwa ini.
“Udara benar-benar kotor, kemana harus tutup mulut dengan masker” kata Muslin penduduk Palangkaraya.
Keluhan asap direspon pemerintah yang melarang membakar lahan, tapi kebakaran terus berlanjut, akhirnya pemerintah memadamkan kebakaran dengan berbagai upaya.
Upayanya mengerahkan regu pemadam manggala agni dan regu lainnya, namun tak mampu sepenuhnya atasi kebakaran di areal yang luas ini.
Hujan buatan diprogramkan dengan dana miliaran rupiah, tapi kembali kobaran api tetap berlangsung di kondisi uadara yang panas lantaran kemarau.
Pematauan, Sabtu pagi (29/8) sepanjang jalan Trans Kalimantan Poros Selatan jurusan Palangkara-Banjarmasin wilayah batas wilayah Palangkaraya dan Kabupaten Pulang Pisau jalan nyaris tak terlihat akibat asap.
Kendaraan di situ nyalakan lampu, bunyi klakson bersahutan,  jalan kendaraan beringsut hindari tabrakan, itulah antara lain derita warga akibat asap.
Belum lagi dilaporkan ribuan warga terkena Inspeksi Saluran Pernafasan (Ispa), penderita asma meningkat, penyakit mata pun terus melanda warga di wilayah ini.
Kegelisanan warga terdengar Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, yang mengingatkan seluruh warga setempat agar tidak memproduksi asap melalui pembakaran lahan, karena asap bisa menyebabkan penyakit.
Kepala Bidang Bina Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Kalteng, dr. Mulin Simangunsong, M.Kes mengatakan sebaran asap apalagi yang pekat membayakan.
Asap dihasilkan dari proses pembakaran tersebut terdiri dari polutan berupa partikel dan gas. Partikel itu adalah silika, oksida besi, dan alumina, gas yang dihasilkannya adalah CO,CO2,SO2,NO2, aldehid, hidrocarbon, dan fluorida.
Polutan ini, berpotensi sebagai iritan dapat menimbulkan fibrosis (kekakuan jaringan paru), pneumokoniosis, sesak napas, elergi sampai menyebabkan penyakit kanker.
Berdasarkan pedoman Depkes tentang pengendalian pencemaran udara akibat kebakaran hutan terhadap kesehatan ditetapkan katagori bahaya kebakaran hutan dan tindakan pengamanan berdasarkan ISPU.
ISPU <50 dikatagorikan baik tak ada dampak kesehatan, ISPU 51-100 dinilai sedang, juga tak ada dampak kesehatan, ISPU 101-199 sudah dikatagorikan tidak sehat.
Dalam katagori ini dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, bagi penderita penyakit jantung gejalanya akan kian berat, pencegahannya gunakan masker aktivitas diluar rumah.
ISPU 200-299 sangat tidak sehat pada penderita ISPA, Pneumonia dan penyakit jantung akan kian berat, aktivitas rumah hendaknya dibatasi perlu persiapan ruang khusus.
ISPU 300-399 dikatagorikan berbahaya bagi penderita suatu penyakit gejalanya akan semakin serius, orang yang sehat saja akan merasa mudah lelah.
Pada katagori ini penderita penyakit ditempatkan pada ruang bebas pencemaran udara, aktivitas kantor dan sekolah harus menggunakan AC atau air purifier, tambahnya.
Sementara katagori terakhir sangat berbahaya ISPU 400>, saat ini berbahaya bagi semua orang, terutama balita, ibu hamil, orang tua, dan penderita gangguan pernapasan.
Saat seperti ini semua harus tinggal dirumah dan tutup pintu serta jendela, segera lakukan evakuasi selektif bagi orang beresiko seperti balita, ibu amil, orang tua, dan penderita gangguan pernapasan ke tempat bebas pencemaran.
Melihat dampak yang berbahaya demikian, maka wajar bila masyarakat harus menghindari pembakaran lahan khususnya dimusim kemarau seperti sekarang ini.
Diskes Kalteng berusaha mencegah dampak sebaran asap dengan memberikan penyuluhan kepada penduduk setempat agar mereka memahami bahaya asap terhadap kesehatan.
Menurut dokter ini, dampak asap begitu luas, jangka pendek asap yang berupa bahan iritan (partikel) akibat pembakaran lahan berdampak negatif terhadap kesehatan.
Pengaruhnya dalam jangka pendek itu adalah niengiritasi saluran pernafasan dan dapat diikuti dengan infeksi saluran pernafasan sehingga timbul gejala berupa rasa tidak enak di saluran pernafasan.
Gejalanya seperti batuk, sesak nafas (pneumonia) yang dapat berakhir dengan kematian, tambahnya.
Selain itu asap juga mengiritasi mata dan kulit, mengganggu pernafasan penderita penyakit paru kronik seperti asma dan bronchitis alergika.
Sedang gan CO pada asap dapat juga menimbulkan sesak nafas, sakit kepala, lesu, dan tidak bergairah serta ada perasaan mual.
Dampak jangka panjang bahan-bahan mengiritasi saluran pernafasan dapat menimbulkan bronchitis kronis, emfisema, asma, kanker paru, serta pneumokoniosis.
Melihat kenyataan tersebut, menurutnya perlu dilakukan pengendalian dampak asap pembakaran lahan dan hutan di wilayah ini.

MENGGALI OBAT-OBATAN LAHAN GAMBUT TROPIKA KALTENG

 

 

 Oleh Hasan Zainuddin
         “Membangun Indonesia Melalui Bumi Tambun Bungai Kalimantan Tengah,” demikian sebuah buku Gubernur Kalteng Teras Narang yang menggambarkan betapa kayanya daerah yang luasnya 1,5 kali Pulau Jawa tersebut.

        Disebutkan, kawasan pemukiman Suku Dayak berpenduduk sekitar dua juta jiwa itu bisa jadi muncul penemuan-penemuan baru yang akan mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. 
   Agustin Teras Narang dalam setiap kesempatan menyatakan, Kalteng begitu kaya, karena hampir semua ada di wilayah itu.

        Tetapi yang lebih khas, yaitu terdapatnya hamparan luas lahan gambut tropika yang unik yang masih memerlukan keterampilan kalangan ilmuan untuk mengungkap potensinya.

        Bahkan Gubernur Teras Narang mengajak kalangan investor baik dalam maupun luar negeri untuk “menengok” kekayaan Kalteng itu.

        “Siapa tahu di lahan yang selama ini dianggap marginal itu tersimpan ‘berlian’ lain berupa senyawa-senyawa organik yang bermanfaat baik untuk industri maupun obat-obatan,” katanya.

        Kalteng sedikitnya memiliki 3,6 juta hektare lahan gambut tropika atau sekitar 300 ribu kilometer persegi.

        Potensi terpendam di wilayah sejuta sungai itu telah memancing keingintahuan kalangan peneliti untuk menelusuri kekayaan yang ada di hutan gambut Kalteng tersebut.

      Menurut penuturan peneliti senior Universitas Palangkaraya (Unpar) Prof DR H Ciptadi, lahan gambut tropika Kalteng memang memiliki keunikan dan kelebihan.

        Kekayaan hayati lahan gambut tropika Kalteng dibuktikan dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar, kata doktor kimia biomolekul lulusan Universitas Montpellier II-Perancis, pada 2003, itu.

        Ketua Lembaga Penelitian Unpar itu mengatakan, di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Sungai Sebangau terdapat sedikitnya 310 spesies tanaman.

        Di sana juga terdapat fitoplankton yang hanya hidup dan berada di kawasan ekosistem air hitam.

        “Sumber Daya Alam Kalteng melimpah ruah, kekayaan ini harus kita jaga dan hendaknya dikelola dengan baik,” katanya.

        Menurut dia, jenis-jenis tumbuhan dari berbagai ekotipe hutan tropis Kalteng hendaknya didata secara lengkap, seperti penyebaran, penggunaan tradisional, kandungan kimia dan aktivitas biologisnya.

        Di samping itu, kata guru besar bidang biokimia/kimia organik Unpar itu, dirasa perlu kaderisasi peneliti untuk bisa melanjutkan estafet penggalian dan pengembangan biota Kalteng, khususnya yang terkait dengan aktivitas biologis yang dimiliki tumbuhan tersebut.

        Ia menjelaskan, kekayaan hayati ini sebagian besar belum digali dan dikaji hingga tak bisa dimanfaatkan maksimal.

        Dalam rangka pencarian dan pemanfaatan senyawa kimia yang terkandung dalam sumberdaya hayati tersebut diperlukan penelitian yang terencana dan berkelanjutan.

        Para ilmuan  dari berbagai lembaga riset dan perusahaan obat besar dunia berusaha  menemukan senyawa baru dari hutan tropis termasuk hutan gambut tropika Kalteng, terutama untuk mengobati penderita kanker dan HIV, karena hutan tropika ini menyimpan senyawa organik terbesar di dunia, katanya.

        Dari hasil peneluran dan penelitian tersebut beberapa hal sudah menunjukan adanya senyawa-senyawa di dalam tanaman Kalteng yang mengandung obat-obatan.

        Berdasarkan  sebuah buku pengukuhan guru besar dalam bidang biokimia/kimia organik Prof DR H Ciptadi, tercatat beberapa nama tanaman yang sudah mengandung senyawa positif.

        Seperti tanaman saluang belum (Lavanga sarmentosa (Blume) kurz), untuk obat kejantanan laki-laki, sayuran kalakai untuk menambah air susu ibu, tumbuhan sepang (Claoxylon polot men) obat diabetes, tumbuhan kamunah (Croton tiglium) untuk obat kontrasepsi, tanaman kalopahit atau sambung maut (famili Simarubaceae) untuk obat malaria.

        Tanaman lain yang diteliti terbukti mengandung obat; mali-mali (famili Araliaceae) obat sesak napas, limau-limauan (famili Flacourtiaceae) obat ginjal, cawat hanoman atau akar rahwana (famili Papilonaceae) obat kuat dan sakit pinggang, ampelas bajang juga untuk sesak napas.

        Beberapa tanaman di atas setelah dilakukan uji laboratorium terbukti positif mengandung steroid dan terpenoid, flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin.

        Selain beberapa tanaman yang sudah dinyatakan mengandung obat-obatan itu, di Kalteng juga masih terdapat ratusan jenis lagi yang  berpotensi sebagai obat yang masih memerlukan penelitian untuk memastikannya.

        Tanaman yang berpotensi obat tersebut di antaranya yang disebut warga setempat dengan tanaman manggis hutan, sangeh, lali, tuntung uhat atau sambung urat, tambuhusan, katatupak atau katatiroi, kayu busi atau sisik saluang, paku bukit, suli, kayu kamal atau pupuk sutera.

        Tanaman yang lain, raja mandak, lagundi, senggani, daun adewa, langise, muhur, kenyem, upak gemur, uru sambelum, bajakah kalalawit, kangkawang panas, kalapimping, bajakan kalayan, tatupak, dadap, teken perei, kalapap, karamunting, kayu mahamen, papar buwu, sagagentu, bawi hatue, kalabuau, kayu tungkun.

        Tanaman kanarihau, uru handalai, kumis kucing, ginseng, uru pinding usu, uru karewan usu, uru lewu, terung kambing, mangkudu, kayu kajajah, kalalayar, kayu mata pusa bawi hatue, panamar gantung, mosai, songkai kayu, dan tanaman sapapitak.

        Tanaman sarai, henda babilem, henda puti, singkur, henda, lai, sintuk, kayu amal, kalanis, bajakan kahabau, bajakan bahenda, sangkuang, tabalien, balawan puti, bahandang, sasenduk, jawau u”uut, kayu buri, tategar bawi hatue, utin, tupai bawi hatue, kayu bikit, tisik peang bawi, tisik peang hatuwe, uwe namei, daun dewa, uru handarai, uru mahamen, lengkuas, pasak bumi, tabat barito dan sebagainya.

        Tanaman tersebut diduga berpotensi sebagai obat karena sering digunakan penduduk Suku Dayak Kalteng untuk pengobatan tradisional.

        Sebagian penduduk Kalteng memang hidup terpencil, jauh dari jangkauan pengobatan modern, dalam usaha menjaga dan mempertahankan kesehatan mereka menggunakan obat tradisional yang diramu dari bahan alam dari tanaman tersebut.

        Obat-obatan tradisional tersebut oleh penduduk setempat sering digunakan sebagai penyembuh penyakit kelamin, keluarga berencana, kekuatan jasmani, dan obat penyakit lainnya.

        Untuk mengumpulkan  tanaman obat di hutan gambut tropika Kalteng itu sekarang sedang diusulkan pembangunan sebuah kebun raya tanaman obat-obatan  di Kota Palangkaraya, sebagai lokasi penelitian, lokasi pendidikan, dan lokasi ekowisata.

SALUANG BELUM KALTENG DAN MITOS KEPERKASAAN LAKI-LAKI

obat Tanaman obat-obatan khas Kalteng

Oleh Hasan Zainuddin
      “Ingin disayang isteri, ingin disayang isteri, coba minum air rendaman akar ini” kata seorang penjual obat-obatan tradisional khas Suku Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng).
       Dengan suara lantang, seorang pemuda berkuncir ini selalu mempromosikan kepada siapa saja yang berada di depan masuk kantor Pos Besar Kota Palangkara, karena pemuda ini setiap hari menggelar dagangannya di lokasi tersebut.
       Dibantu oleh seorang ibu, pedagang obat-obatan tradisional ini menggelar dagangan dengan cara mencolok persis di sisi masuk kantor Pos Besar itu.
      “Bapak ingin sembuh dari penyakit liver minum air seduhan akar kuning ini, bapak ingin sembuh penyakit kanker minum air rebusan sarang semut. Tetapi kalau bapak ingin disayang isteri ambilah akar seluang belum,” kata si pemuda seraya mengambil sepotong akar kayu sambil mengangkatnya ke atas kepala.
       Beberapa pengunjung kantor Pos Besar tertarik dengan promosi penjual obat-obatan tradisional tersebut, salah seorang bapak menanyakan harga akar saluang belum tersebut dijawab oleh pedagang Rp50 ribu per potong.
      “Ini terlalu mahal, biasanya saya beli hanya 20 ribu,” kata Bapak tersebut. Setelah tawar menawar akhirnya satu potong akar kayu saluang belum itu dijual juga Rp20.000,.
       Bapak tersebut ternyata bernama Darung, menceritakan mengenai khasiat akar tersebut yang menurutnya memang berkhasiat.
       Darung warga asli Suku Dayak yang kini tinggal di Kota Palangkaraya, sebelumnya ia warga pedalaman yang sudah terbiasa mengonsumsi air rendaman akar saluang belum.
      “Saya memang sudah sering minum air rebusan ini, selain meningkatkan gairah seks, air ini juga menguatkan pinggang, melancarkan air kencing, sekaligus badan rasanya enak setelah meminumnya,” kata Darung.
       Berdasarkan catatan, saluang belum (Lavanga sarmentosa (Blume kurz) memang satu jenis tanaman yang terdapat di hutan Kalteng yang sudah lama memunculkan mitos sebagai obat kuat lelaki, lantaran terbukti mengandung bahan yang mampu meningkatkan keperkasaan kaum lelaki tersebut.
      Adanya senyawa di dalam tumbuhan saluang belum mampu meningkatkan vitalitas kaum lelaki setelah dilakukan penelitian seksama, kata Ketua Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya (Unpar), Kalteng, Prof. DR H.Ciptadi, Kamis (20/8).
      Ia menjelaskan, tumbuhan ini memang sejak lama dimanfaatkan warga Kalteng sebagai obat tradisional, yaitu untuk menyembuhkan sakit pinggang, sakit ginjal, dan sebagai menambah vitalitas.
      Caranya hanya mengkonsumsi air rebusan dari akar tumbuhan saluang belum tersebut, tutur Doktor (S3) Kimia Biomolekul di ENSCM Universitas Montpellier II-Perancis, lulus tahun 2003 ini.
       Melihat kenyataan itu, maka pihak Lembaga Penelitian Unpar mencoba melakukan penelitian terhadap tanaman yang cukup dikenal di wilayah Kalteng tersebut.
       Tahap awal penelitian dilakukan isolasi, identifikasi dari akar tumbuhan saluang belum dengan ekstraksi menggunakan pelarut kloroform dan etanol yang dapat memisahkan komponen-komponen senyawa metabolit sekunder.
      Selanjutnya dilakukan kromatografi lapis tipis untuk mengetahui jumlah komponen senyawa yang ada pada kedua ekstrak tersebut, kemudian dilakukan pemurnian dengan kromatografi kolom.
       Tahap berikutnya dilakukan uji bioktivitas dengan brine shrimp, dan untuk senyawa yang aktif akan dilakukan penelitian tahap berikutnya yaitu uji pra klinik dengan spektroskopi IR, UV,MS, 13 C-NMR dan 1 H-NMR, tuturnya.
       Berdasarkan uji fitokimia kandungan metabolit sekunder untuk kedua ekstrak tersebut adalah positif untuk steroid dan flavonoid, dan dari analisis brine shrimp dari kedua ekstrak tersebut menunjukkan senyawa aktif dengan Lc 50 < 100 g/ml.
       Penelitian ini masih terus dilanjutkan untuk membuat formula yang tepat dan kemungkinan ditambahkannya tumbuhan yang lain, yang dapat mendukung khasiatnya.
       Menurut dosen Senior Unpar yang juga lulus Magister (S2) Biokimia di Institut Teknologi Bandung tahun 1991 ini, pemanfaatan tradisional terhadap kandungan senyawa tersebut cukup dengan merebut akar salung belum setiap hari cukup segelas air rebusan.
       Tidak boleh meminumnya secara berlebihan, sebab kalau berlebihan bisa membahayakan kesehatan pula, tutur dosen kelahiran Sukoharjo (Solo), 13 Janujari 1960 itu.
       Hasil-hasil penelitian yang dilakukannya itu berusaha dipatenkan, agar tidak diakui pihak lain.
       Pusat Penelitian Unpar segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atau paten, beberapa jenis obat hasil penelitian, agar dapat dilindungi oleh undang-undang.
        Menurutnya beberapa obat tradisional yang berasal dari tumbuhan Kalteng di antaranya salung belum telah menjalani proses penelitian, sehingga dapat dipastikan kegunaannya, dan dapat dilaporkan.