MENCARI SOLUSI ANCAMAN KELANGKAAN AIR BERSIH BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin

air

Persoalan

Pertengahan Januari 2014 lalu tiba-tiba air Sungai Martapura membelah Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan berubah warna menjadi keruh pekat dan kuning kemerahan, dan kejadian tersebut agaknya mengulang beberapa kali kejadian serupa sebelumnya.
Kondisi air demikian mengisyaratkan air sungai berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah terkontaminasi kandungan partikel atau kandungan lumpur yang jumlahnya melimpah ruah.
Kekeruhan tinggi semacam itu sudah sering muncul bila terjadi hujan lebat di kawasan hulu, yaitu di kawasan hutan Riam Kanan, Kiam Kiwa atau Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam yang termasuk kawasan Pegunungan Meratus.
Dengan adanya kandungan partikel dalam air Sungai Martapura tersebut sudah membuktikan kawasan resapan air di hulu mengalami kerusakan yang parah.
Kekeruhan tinggi karena partikel mencapai 5000 MTO, padahal idealnya hanya 100 MTO (sumber PDAM Bandarmasih), seperti pernah diukur tahun 2013 lalu.
Kerusakan resapan air diduga akibat penggundulan hutan, penebangan kayu, pertambangan emas, pertambangan biji besi, atau bahkan belakangan kian marak adalah pertambangan batu bara.

keruh
Hutan gundul penyebab erosi, bila hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan limbah lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai, terus mengalir hingga ke Kota Banjarmasin.
Kondisi kerusakan resapan air puncak Meratus merupakan sebuah ancaman kelangkaan air bersih, bukan saja warga Banjarmasin, tetapi juga warga Banjarbaru, Martapura Kabupaten Banjar, serta mungkin kabupaten lainnya mengingat kawasan itu mengandalkan air sungai tersebut.
Masalahnya semua sungai di Kalsel berhulu ke kawasan tersebut, dan bila kawasan puncak terganggu akhirnya seluruh wilayah Kalsel akan terganggu suplai air bersih. Padahal sumber air bersih di Kalsel tak ada alternatif selain dari sungai.
Sebagai contoh di Kota Banjarmasin, sulit memperoleh sumber air baku selain sungai, karena air tanah di wilayah ini kurang baik untuk diolah air baku PDAM dengan kandungan besi dan kandungan keasaman yang sangat tinggi.
Sementara air sungai bagian hilir begitu mudah terinstrusi air laut,sehingga mengandung kadar garam yang berlebihan dan tak bisa diolah air minum.
Mudahnya air laut masuk ke sungai lantaran debit air Sungai Martapura kian berkurang setelah kerusakan hutan yang ada di hulu, sehingga tekanan air sungai ke muara melemah dan sebaliknya tekanan air laut ke hulu sungai kian kuat akibatnya kadar garam mudah masuk ke sungai.
Kadar garam sungai Martapura yang ideal diolah air bersih sekitar 250 miligram per liter, tetapi disaat musim kemarau kandungan garam bisa mencapai ribuan miligram per liter bahkan pernah mencapai 5000 miligram per liter(sumber PDAM Banjarmasin), dengan demikian air Sungai Martapura bagian hilir praktis tak bisa digunakan kecuali di bagian hulu yakni kawasan Sungai Tabuk.

irigasi-mengering-pdam-merana

sungai depan intake sungai tabuk

Intake Sungai Tabuk

Pengambilan air baku PDAM Bandarmasih di Sungai Tabuk bukan tak ada masalah karena lokasinya begitu jauh antara Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan intake Sungai Tabuk tersebut. Dengan sejauh itu sudah bisa dibayangkan berapa mesin pendorong yang digunakan agar air baku sampai ke lokasi IPA di Banjarmasin.
Dengan demikian maka pengeluaran biaya intake Sungai Tabuk ini begitu mahal hanya untuk membayar listrik saja.
Bukan hanya itu kendala dihadapi di intake Sungai Tabuk ini adalah terjadinya pendangkalan di Sungai Martapura wilayah tersebut, akibatnya air yang disedot pun kadangkala tak bisa maksimal karena terhalang sedemintasi lumpur yang tinggi.
Penulis yang meninjau Intake Sungai Tabuk menyaksikan sendiri betapa surutnya sungai di muara intake Sungai Tabuk ini hingga menghambat upaya penyedotan air baku.
Sedemintasi itu terjadi diduga lantaran hutan resapan air di Pegunungan Meratus itulah yang rusak akibatnya lumpur terbawa arus air hingga ke kawasan Sungai Martapura termasuk di Sungai Tabuk.
Tingginya larutan lumpur Sungai Martapura itu juga bisa dibuktikan dengan kondisi alur Muara Sungai Barito yang selalu mendangkal dan terdapat jutaan meterkubik lumpur ngendap per tahun (sumber Dinas Perhubungan Kalsel) hingga menggangu alur pelayaran.
Bila intake Sungai Tabuk sudah tak bisa berfungsi sama saja dengan mematikan PDAM Bandarmasih, akhirnya Banjarmasin kesulitan air bersih dan kota ini pun kemungkinan akan “mati” pula,karena akan ditinggalkan penghuninya.
Sementara untuk pengambilan air Irigasi Riam Kanan yakni air limpahan Bendungan Riam Kanan juga tak bisa lagi, lantaran saluran yang menuju ke Intake PDAM tersumbat lumpur dan serangan gulma, itu tampak terlihat saat penulis berada di lokasi tersebut beberapa waktu lalu.
Kalau PDAM mengandalkan air hujan, wilayah ini tak memiliki sebuah pun lokasi embung atau penampungan air hujan.
Belum lagi persoalan dimana kandungan air Sungai Martapura sudah terkontaminasi bakteri coliform yang sudah di atas ambang batas pula, disamping terdapatnya kandungan logam berat seperti tembaga, mercuri, dan lainnya yang menurunkan kualitas air di wilayah ini.
Berdasarkan data di PD IPAL yang mengutif hasil penelitian Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Kalsel, menunjukkan kandungan bakteri coliform di Sungai Martapura pernah mencapai 16 ribu PPM per liter di beberapa titik tertentu, padahal idealnya aman dikonsumsi hanya 200 PPM per liter.
Suplai air Sungai Martapura seratus persen mengandalkan air di kawasan resapan di Pegunungan Meratus, karena itu bisa dibayangkan bila kondisi resapan air rusak, lalu kemana lagi warga daerah ini harus mencari air bersih.

air tahura

sumber air meratus
Berarti tak ada pilihan lain, bagaimana agar kawasan resapan air Pegunungan Meratus tersebut harus terpelihara dengan baik, untuk dijadikan sebagai penyangga air bersih di kawasan ini.
Bukti lain rusaknya kawasan Pegunungan Meratus terlihat dari kondisi bendungan Riam Kanan yang debitnya belakangan tidak stabil lagi, bila hujan maka bendungan kebanjiran bila kemarau mudah kekeringan.
Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, maka debit air di lokasi itu akan terus menyusut.
Tidak stabilnya debit Riam Kanan pun tak terlepas dari kerusakan Taman Hutan Raya(Tahura) Sultan Adam yang berada di kawasan tersebut.
Saat penulis bersama Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani mengikuti penanaman pohon oleh Bupati Banjar Sultan Khairul Saleh bersama kelompok wartawan Pena Hijau belum lama ini memperoleh penjelasan bahwa 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.
Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga akibat pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.
Apalagi di lokasi itu terdapat aktivitas masyarakat lantaran bermukim 7000 jiwa penduduk di 12 desa kawasan Tahura, dan penduduk penduduk sulit direlokasi ke luar kawasan masalahnya sudah turun temurun sebelum ditetapkannnya kawasan Tahura sebagai hutan lindung.

Solusi

Kebutuhan air bersih yang diperoleh dari air tawar dari tahun ke tahun terus saja meningkat, sementara jumlah air tawar di dunia ini hanya tiga persen dibandingkan air laut yang asin.
Dari jumlah air tawar tersebut pun hanya tiga persen pula yang bisa diambil dan dimanfaatkan untuk diolah air bersih untuk keperluan kehidupan manusia, yakni air dipermukaan daratan.
Melihat kenyataan tersebut bisa jadi dikemudian hari harga air tawar menjadi sangat mahal, bahkan akan melebihi mahalnya harga bahan bakar minyak dan menjadi barang rebutan, bahkan bisa memicu peperangan antar negara hanya untuk memperebutkan air tawar tersebut.
Oleh sebab itu, sudah sewajarnya pula sebuah daerah atau wilayah termasuk Kalimantan Selatan yang memiliki sumber air tawar memelihara sumber tersebut, terutama yang berada di Pegunungan Meratus yang dinilai sebagai kawasan menara air di wilayah ini.
Bila sumber air Meratus itu tidak ada lagi, maka sudah bisa dibayangkan apakah “Bumi Antasari” ini akan layak menjadi hunian yang enak atau malah malah sebaliknya akan ditingggalkan, dan bila itu terjadi “tamatlah riwayat” banua ini, dan program pembangunan apapun yang dibuat pemerintah tanpa adanya air bersih untuk kehidupan maka menjadi tidak akan ada artinya sama sekali.
Maka tindakan utama penyelamatan sumber air tawar itu adalah menjaga kelestarian hutan Pegunungan Meratus melalui penghijauan secara besar-besaran di kawasasan itu, baik oleh pemerintah, swasta, masyarakat, bahkan siapa saja yang peduli terhadap ketersediaan air tawar.
Terlebih khusus adalah bendungan Riam Kanan yang nyata-nyata sebagai reserpuar itu harus diselamatkan, karena itu sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan Riam Kanan.

riam-kanan

Riam kanan

riam kanan kering

Riam kanan kering
Lembaga tersebut misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik, dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.
Lembaga tersebut bisa saja semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Sebagai contoh negara Korea Selatan terdapat sebuah bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni `Q-Water` dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.
Bahkan di banyak negara dimana ada kawasan resapan air, maka kawasan tersebut harus dijaga ketat bak wilayah “keramat” yang tak boleh diganggu gugat.
Solusi jangka pendek juga harus dilakukan dan penulis setuju tindakan PDAM Bandarmasih membangun embung (penampungan air) skala besar dalam upaya persediaan air di musim kemarau.
Konon PDAM sudah miliki desain mengenai pembangunan embung tersebut dan kini berusaha mencari peluang dana ke pemerintah pusat dalam mewujudkan keinginan tersebut.
Selain berharap bantuan pemerintah PDAM juga mencoba melobi pemerintah provinsi Kalsel disamping mencari dana sendiri untuk kepentingan tersebut.
Bila dana sudah tersedia diharapkan tahun 2014 sudah mulai mengerjakan proyek tersebut dan pada tahun-tahun berikutnya embung yang berlokasi di Sungai Tabuk itu berfungsi sebagaimana mestinya yaitu penyangga kebutuhan air baku.
Solusi jangka pendek lain adalah membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) mengolah air laut jadi air bersih, jika hal ini berhasil dengan baik maka merupakan angin segar bagi perusahaan air minum kedepan yang selama ini kesulitan memperoleh air baku.
Berdasarkan informasi PDAM sedang membangun pondasi pembangunan IPA tersebut di Desa Pulau Bromo kawasan Desa Kuin Kecil Sungai Barito yang masuk wilayah Kota Banjarmasin.
Hanya saja untuk sementara biaya pengolahan air laut menjadi air tawar ini relatif cukup mahal atau sekitar Rp7.500,- per meter kubik, padahal harga jual air bersih PDAM di Banjarmasin, hanya Rp3.000,- per meterkubik.

Kesimpulan

Melihat kenyataan yang terungkap di atas membuktikan bahwa kawasan resapan air di Pegunungan Meratus Kalsel sudah benar-benar rusak.
Saat ini hutan tropis Pegunungan Meratus yang tersisa ditaksir sekitar 667,951 ha dari 1,66 juta ha (sumber-meratusintitute), dan bila tidak ada tindakan rehabilitasi diperkirakan sepuluh tahun kedepan wilayah ini sudah mengalami kelangkaan air bersih.
Tindakan atau “politikal will”  pemerintah dan masyarakat dalam penyelamatan Hutan Pegunungan Meratus merupakan “harga mati” yang harus dilakukan.
Sementara kreativitas untuk mencari alternatif baru dalam upaya penyediaan air bersih adalah sebuah pilihan, seperti adanya keinginan membentuk Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) regional metropolitan “Banjar Bakula,” walau ini tetap mengandalkan Hutan Meratus sebagai sumber air bakunya.
Pembangunan embung raksasa sebuah keinginan yang harus didukung semua pihak, setidaknya sebagai penampungan air selama musim hujan dan dimanfaatkan sebagai air baku di saat kemarau.
Atau kalau perlu adanya pembangunan sistem perpipaan besar yang menghubungkan Bendungan Riam Kanan ke IPA PDAM yang ada di Banjarmasin ini.
Berkreatif untuk mengolah air asin menjadi air bersih juga sebuah “hadiah besar” yang harus dipersembahkan kedepan , layaknya seperti negara Arab Saudi, agar kelangkaan air bersih yang menakutkan di “banua” yang dicintai ini tidak sampai terjadi.*****

Iklan

BANJARMASIN “DIHANTUI” KESULITAN AIR BERSIH

Oleh Hasan Zainuddin

air bersih
Banjarmasin,2/10 (ANTARA)- Banjarmasin sebagai ibukota seribu sungai tidak identik dengan mudahnya warga mendapatkan air bersih, bahkan perkiraan lima tahun kedepan wilayah yang berada di delta Tatas ini memasuki tahapan krisis air bersamaan dengan memburuknya resapan disekitar sungai Martapura.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Ir Muslih, di Banjarmasin, Selasa mengakui masalah ketersediaan air bersih jadi pemikiran perusahaannya.

muslih

 

Ir Muslih

 

Ketersediaan air bersih perusahaannya belakangan ini tergantung dengan Sungai Martapura yang berhulu ke Sungai Riam Kanan dan Sungai Riam Kiwa.

Padahal kedua sungai itu sudah mengalami pendangkalan akibat erosi setelah kawasan resapan air rusak lantaran banyaknya aktivitas di wilayah tersebut.

Bukti alam sudah rusak bisa dilihat kondisi bendungan Riam Kanan, dimana saat hujan sedikit saja maka sudah mengalami kebanjiran, dan bila kemarau debit air cepat sekali menyusut.

“Kalau alam di sekitar itu masih baik maka turun naik debit air di bendungan itu tidak terlalu besar, musim kemarau atau musim penghujan biasanya debit air tidak terlalu berpengaruh,” tuturnya.

riamkanan_800_600

 

Bendungan Riam Kanan menyusut

 

Tetapi sekarang ini turun naik debit air di bendungan Riam Kanan begitu drastis seakan tak ada lagi wilayah resapan air yang mampu menahan jumlah debit air tersebut.

Kalau kondisi tersebut terus berlanjut maka lima tahun kedepan air bersih akan sulit diperoleh,karena bila debit air di hulu sungai Martapura terus menyusut maka air laut akan masuk kedaratan dan terjadi kontaminasi kadar garam yang tinggi akhirnya air Sungai Martapura tersebut tak bisa diolah air minum.

Bila mengandalkan air tanah untuk wilayah ini tidak bisa diolah air minum karena kandungan besi dan asam terlalu tinggi, tuturnya.

Oleh karena itu, Muslih berharap semua pihak yang merasa prihatin kondisi tersebut, harus ikut memikirkan bagaimana agar resapan air di hulu sungai terpelihara, syukur-syukur kalau direhabilitasi.

Untuk mengatasi persoalan jangka pendek, PDAM Banjarmasin merencanakan membangun embung (penampungan air) skala besar dalam upaya persediaan air di musim kemarau.

Menurutnya rencana sudah cukup lama tetapi kini bertekad untuk direalisasikan, dan PDAM sudah miliki desain mengenai pembangunan embung tersebut dan kini berusaha mencari peluang dana ke pemerintah pusat dalam mewujudkan keinginan tersebut.

Selain berharap bantuan pemerintah PDAM juga mencoba melobi pemerintah provinsi Kalsel disamping mencari dana sendiri untuk kepentingan tersebut.

Bila dana sudah tersedia diharapkan tahun 2014 sudah mulai mengerjakan proyek tersebut dan pada tahun-tahun berikutnya embung yang berlokasi di Sungai Tabuk itu berfungsi sebagaimana mestinya yaitu penyangga kebutuhan air baku.

Kerusakan lingkungan

gue

Aku (penulis) di Tahura Sultan Adam
untuk ketersediaan air Sungai Martapura tergantung dari ketersediaan air di areal Pegunungan Meratus yakni di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam seluas 112 ribu hektare.

Tahura ini diakui sudah mengalami kerusakan lantaran kebakaran hutan, dan ditengarai juga akibat adanya penebangan kayu secara liar dan usaha pertambangan ilegal, dan kegiatan pemukiman.

Menurut Muslih kerusakan lingkungan di hulu bisa dilihat dari juga tingkat kekeruhan air Sungai Martapura yang begitu tinggi lantaran partikel lumpur dalam air yang pekat.

Tingkat kekeruhan air sungai yang ideal untuk diolah menjadi air bersih hanya 50 hingga 100 mto per liter, tetapi hasil laboratorium ternyata air Sungai Martapura pernah mencapai 500 hingga 1000 mto, malah kasus tertinggi capai 5000 mto per liter,kata Muslih.

Akibat kerusakan hutan di hulu sungai, menyebabkan terjadi erosi dan bila terjadi hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai terus mengalir kemuara hingga ke Banjarmasin.

Keluhan serupa bukan saja dirasakan PDAM Banjarmasin, tetapi juga PDAM di Kota Martapura Kabupaten Banjar, serta PDAM Kota Banjarbaru.

Bahkan menurut perkiraan, bila tidak ada upaya perbaikan kawasan Tahura yang dianggap sebagai wilayah “menara air” Kalsel itu, maka lima atau sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan kesulitan memperoleh air bersih untuk air minum.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani di lokasi Tahura Sabtu belum lama ini mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.

“Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,” katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Ketika ditanya adanya pemukiman di tengah hutan lindung Tahura tersebut, disebutkan terdapat 7000 jiwa di 12 desa penduduk. Penduduk sulit direlokasi ke luar kawasan masalahnya sudah turun temurun sebelum ditetapkannnya kawasan Tahura sebagai hutan lindung.

Walau perkampungan tersebut sulit dipindahkan tetapi keberadaan penduduk dinilai tidak merusak lingkungan, bahkan dinilai masih melestarikan lingkungan dengan tidak merusak hutan.

“Agar penduduk tidak merusak lingkungan,mereka dirangkul untuk memperbaiki lingkungan, seperti mereka dibiarkan berkebun tetapi kebun yang baik untuk kawasan resapan air, seperti perkebunan buah-buahan, kebun karet, serta reboisasi hutan”, katanya.

Menurut Muslih untuk mengatasi persoalan air bersih ke depan selain harus dilakukan rehabilitasi kawasan air juga perlu penanganan terhadap Bendungan Riam Kanan yang selama ini menjadi kunci ketersediaan air tawar untuk diproduksi air bersih.

Oleh karena itu ia menyarankan Bendungan Riam Kanan tersebut dikelola badan khusus agar lebih terpelihara dengan baik.

“Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, debit air di lokasi itu akan terus menyusut, sehingga daerah ini pasti akan kesulitan air,” katanya lagi.

Bendungan Riam Kanan sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan, misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.

“Lembaga tersebut bisa saja semacam badan usaha milik daerah (BUMD) atau dikelola badan usaha milik negara (BUMN),” katanya.

Ia mencontohkan di Korea Selatan ada bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni ¿Q-Water¿ dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.

“Pemerintah provinsi dan kabupaten diharapkan lebih serius memikirkan bendungan Riam Kanan, karena masalah air bersih vital bagi kehidupan masyarakat,” katanya.

kantor Kantor PDAM Bandarmasih

KELANGKAAN AIR BERSIH SEBUAH ANCAMAN WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 22/7 (ANTARA) – Pertengahan Juli 2012 tiba-tiba air Sungai Martapura membelah Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan berubah warna menjadi keruh pekat dan kuning kemerahan.

Setelah diteliti ternyata air sungai berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah terkontaminasi kandungan partikel atau kandungan lumpur yang jumlahnya melimpah ruah.

“Kekeruhan tinggi karena partikel mencapai 5000 MTO, padahal idealnya hanya 100 MTO,” kata Direktur Perusahaan Daerah Air Minum(PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, Muslih.

Akibat kekeruhan demikian mengganggu sistem pengolahan air bersih perusahaan air minum, antaranya limbah dihasilkan menjadi luar biasa.

Kekeruhan tinggi semacam itu sudah sering muncul bila terjadi hujan lebat di kawasan hulu, yaitu di kawasan hutan Riam Kanan, Kiam Kiwa atau Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam yang termasuk kawasan Pegunungan Meratus.

Dengan adanya kandungan partikel dalam air Sungai Martapura tersebut sudah menandakan kawasan resapan air di hulu mengalami kerusakan parah.

Kerusakan resapan air diduga penggundulan hutan, penebangan kayu, pertambangan emas, pertambangan biji besi, atau bahkan belakangan kian marak adalah pertambangan batu bara.

Hutan gundul penyebab erosi, bila hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan limbah lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai, terus mengalir hingga ke Kota Banjarmasin.

Menurut Muslih, kondisi kerusakan resapan air puncak Meratus merupakan sebuah ancaman kelangkaan air bersih, bukan saja warga Banjarmasin, tetapi juga warga Banjarbaru, Martapura Kabupaten Banjar, mengingat kawasan itu mengandalkan air sungai tersebut.

Bukan hanya itu, kata pengamat lingkungan yang juga Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin, Fajar Desira menambahkan, kerusakan puncak Pegunungan Meratus akan menyebabkan sungai-sungai di Kalsel, baik yang mengalir ke kawasan Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Banua Enam (enam kabupaten Utara) Kalsel akan terganggu.

Masalahnya semua sungai di Kalsel berhulu ke kawasan tersebut, dan bila kawasan puncak terganggu akhirnya seluruh wilayah Kalsel akan terganggu suplai air bersih tersebut.

Padahal sumber air bersih di Kalsel tak ada alternatif selain dari sungai.

Sebagai contoh Banjarmasin, kata Fajar Desira yang juga mantan Direktur Teknik PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin ini, air tanah di wilayah ini kurang baik untuk diolah air baku PDAM dengan kandungan besi dan kandungan keasaman yang sangat tinggi.

Sementara air sungai bagian hilir begitu mudah terintrusi air laut,sehingga mengandung kadar garam yang berlebihan dan tak bisa diolah air minum.

Mengandalkan air hujan, wilayah ini tak memiliki sebuah pun lokasi embung atau penampungan air hujan, dan kalau pun itu bisa dilakukan dipastikan pula tetap tidak akan mencukupi kebutuhan.

Pengambilan air Sungai Martapura selama ini dilakukan PDAM Bandarmasih dengan kapasitas 1700 liter per detik, dan mampu memproduksi air bersih terbesar di Kalsel yang melayani bukan saja warga Banjarmasin tetapi juga warga Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar.

Padahal suplai air Sungai Martapura seratus persen lagi mengandalkan air di kawasan resapan di Pegunungan Meratus tersebut, oleh karena itu bisa dibayangkan bila kondisi resapan air rusak lalu kemana lagi PDAM Bandarmasih harus mencari air baku, kata Fajar Desira.

Tak ada pilihan lain, bagaimana agar kawasan resapan air Pegunungan Meratus tersebut harus terpelihara dengan baik, untuk dijadikan sebagai penyangga air bersih di kawasan ini, tambahnya.

Bukti rusaknya kawasan tersebut terlihat dari kondisi bendungan Riam Kanan yang belakangan debit airnya tidak stabil lagi, bila hujan maka bendungan kebanjiran bila kemarau mudah kekeringan.

“Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, maka debit air di lokasi itu akan terus menyusut, sehingga daerah ini akan kesulitan air,” kata Dirut PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin, Muslih.

Karena itu, Muslih menyarankan bendungan Riam Kanan sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan.

Lembaga tersebut misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik, dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.

“Lembaga tersebut bisa saja semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” katanya yang baru saja datang dari Korea Selatan mempelajari masalah air bersih.

Muslih mencontohkan Korea Selatan terdapat sebuah bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni ‘Q-Water’ dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.

Penanaman Pohon
Guna mengembalikan kelestarian kawasan resapan air tersebut pihak PDAM Bandarmasih mencoba melakukan kegiatan menanam seribu pohon terdiri dari 800 pohon mahoni, 100 angsana, 100 pohon matoa.

Penanaman di kawasan resapan air di Tahura Sultan Adam, diharapkan memancing pihak lain juga melakukan hal serupa agar lingkungan wilayah ini terpelihara.

Tetapi bukan hanya rehabilitasi yang dilakukan, ia pun menghendaki adanya tindakan penyelamatan kawasan tersebut.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Rahmadi Kurdi ketika ditanya membenarkan kerusakan kawasan hutan lindung daerah tersebut setelah pencurian kayu dan pertambangan secara liar terus berlangsung di lokasi itu.

Pihaknya melakukan razia minimal satu bulan sekali untuk mengurangi kegiatan merusak hutan wilayah itu.

Disebutkannya 40 persen dari 112 ribu hektare (ha) kawasan Tahura kritis akibat pembalakan hutan, pembakaran, dan pertambangan, dan itu yang menyebabkan kawasan tersebut menjadi rusak.

Hanya saja untuk menjaga kawasan tersebut pihaknya menemui kendala kurangnya polisi hutan. Jumlah polisi hutan untuk menjaga wilayah se Kalsel 3,7 juta hektare hanya 70 orang, sehingga seorang polisi menjaga lahan sekitar 50 ribu hektare, idealnya polisi hutan di Kalsel paling sedikit 200 orang.

Melihat kenyataan tersebut berbagai pihak menyarankan ke seluruh instansi yang berkompeten untuk sama-sama berkomitmen menjaga kawasan resapan air untuk ketersediaan air berkelanjutan.

Gubernur Kalsel diharapkan bertindak tegas terhadap kegiatan penebangan dan pertambangan di lokasi tersebut.

Komitmen lain dari Gubernur Kalsel, adalah penyelamatan kawasan lindung dari aktivitas pembangunan, dan segala aktivitas lainnya seraya melakukan perbaikan sebagai penyematan sumber air.

PDAM BANDARMASIH UBAH KAMPUNG KOLERA JADI METROPOLIS

Oleh Hasan Zainuddin


Di era sebelum tahun 90-an masih banyak terlihat berkeliaran pedagang air menggunakan gerobak menjajakan air bersih berjerigan masuk kampung Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Pemandangan itu kini sudah tak pernah terlihat lagi, lantaran air bersih mudah diperoleh warga berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa tersebut.

Sebelumnya wilayah ini sering dilanda penyakit muntah berak (muntaber) atau diare, lantaran warga mengkonsumsi air sungai yang tercemar bakteri, terutama di saat musim kemarau.

Bahkan kota ini sempat dijuluki kampung kolera setelah sekian banyak warga yang terkena penyakit itu, dan ledakan jumlah penderita terus terjadi setiap musim kemarau pernah rumah sakit tak mampu menampung pasien lantaran terkena kolera.

Persoalan itu dipicu kelangkaan ketersediaan air bersih di kawasan sebenarnya kaya sumber daya air karena dialiri 104 sungai.

Hanya saja air daerah ini tak aman konsumsi setelah mudahnya intrusi air laut lalu airnya asin, kadar keasaman yang tinggi serta tercemar limbah yang begitu tinggi, bahkan hasil penelitian mengandung bakteri coliform atas ambang batas.

Melihat persoalan itulah, melalui perusahaan milik pemerintah kota setempat yakni Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, berbagai upaya menyediakan air bersih bagi masyarakat.

Bertahap membangun fasilitas, mulai pembangunan mini treatment, sumur bor, reservoir, Instalasi Pengolahan Air (IPA), intake, serta jaringan perpipaan , baik pipa besar tranmisi untuk air baku , maupun pipa-pipa kecil hingga ke pelanggan.

Berkat upaya gigih dibantu semua pihak termasuk pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kota itu sendiri melalui penyertaan modal akhirnya prestasi PDAM Bandarmasih gemilang yang mengatasi kelangkaan air bersih di wilayah seribu sungai itu.

Instalasi Pengolahan Air

Seperti diakui Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono pelayanan air bersih Banjarmasin terbaik di Indonesia.

“Kita patut berterima kasih kepada Direksi dan seluruh karyawan PDAM Bandarmasih berhasil meningkatkan pelayanan air bersih hingga terbaik di tanah air,”kata Danni Sutjiono kepada wartawan di Banjarmasin.

Danni Sutjiono berada di Banjarmasin dalam kaitan menghadiri pertemuan pembahasan untuk menjadikan PDAM Bandarmasih, Kota Banjarmasin sebagai pilot proyek dalam pelayanan air minum.

Disebutkannya tingkat pelayanan air bersih Kota ini 98 persen lebih, prestasi gemilang melebihi prestasi PDAM lainnya di tanah air.

Sementara pelayanan perpipaan PDAM rata-rata nasional di perkotaan hanya sekitar 70 persen.

Sedangkan rata-rata pelayanan air bersih secara nasional sekarang ini hanya sekitar 50 persen, tambahnya seraya meminta prestasi PDAM Bandarmasih ditingkatkan sesuai rencana 100 persen penduduk setempat.

Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih gembira pihaknya mampu mengatasi persoalan air bersih hingga teriakan warga kesulitan air dan jeritan berjangkitnya kolera tak terdengar lagi.

Disebutkannya perusahaannya kini berhasil meningkatkan kapasitas produksi hingga mencapai 2050 liter per detik, dengan kapasitas itu mampu melayani sedikitnya 200 ribu pelanggan, bila pelanggan sekarang 130 ribu pelanggan, berarti masih tersedia sambungan baru 70 ribu pelanggan.

“Bila sekarang terlayani 98 persen warga kota, dengan kemampuan itu maka bisa 100 persen, bahkan mampu melayani sebagian warga Kabupaten Banjar, dan warga Kabupaten Barito Kuala yang berdekatan dengan Kota Banjarmasin,”katanya.

Dengan kemampuan PDAM mengatasi persoalan air bersih tersebut seringkali perusahaannya memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat dan menjadi objek studi banding kota-kota lain di tanah air.

Meningkatkan kemampuan tersebut menyebabkan keuntungannya juga meningkat yang berdasarkan hasil audit Rp5,5 miliar 2011 tahun sebelumnya Rp4,5 miliar.

Sedangkan pendapatan juga membaik, berasal dari pendapatan air dan non air, untuk pendapatan air tahun 2011 tercatat Rp137,3 miliar lebih besar dibandingkan tahun 2010 hanya Rp119,8 miliar,katanya.

Sementara pendapatan non air Rp26,9 miliar lebih besar dari tahun sebelumnya yang tercatat Rp20,3 miliar, kemudian pendapatan lain-lain Rp2,004 miliar lebih besar dari tahun sebelumnya Rp1,9 miliar.

Dengan demikian jumlah pendapatan pada tahun 2011 sebanyak Rp166,2 miliar yang lebih besar dari tahun 2010 yang senilai Rp142,1miliar,katanya lagi.

Bukti kinerja perusahaan juga membaik bila dilihat cakupan pelayanan 98,36 persen, kehilangan air 26,27 persen, rasio karyawan per seribu pelanggan 2,44persen, serta jumlah sambungan pelanggan yang sudah mencapai 136.576 sambungan.

Aspek keuangan juga dinilai meningkat menjadi 29,25 persen sebelumnya 28,50 persen, aspek operasional 25,53persen sebelumnya 24,68 persen,aspek administarsi 14,58 persen sebelumnya 12.08 persen.

Dengan demikian hasil audit menyimpulkan jumlah kinerja 69,37 persen atau berklasifikasi kinerja baik, sebelumnya walau juga dinilai baik tetapi nilai kinerja 65,26 persen,katanya didampingi Humas PDAM Siti Nursiah.

Berbagai kalangan di Banjarmasin merasa gembira kian membaiknya kinerja PDAM yang berhasil menyediakan air bersih secara cukup yang kini berdampak terhadap pembangunan dimana air merupakan sarana vital.

Air bersih yang cukup membuat hidup warga menjadi sehat, memancing usaha industri dan perdagangan, bahkan belakangan berbagai investasi skala besar juga mulai menuju ke kota Banjarmasin yang dikatakan bagaikan gadis seksi yang menjadi perhatian banyak orang.

Direksi PDAM Bandarmasih,Kota Banjarmasin