“MELINGAI” HARAPAN BARU BAGI PELESTARIAN SUNGAI

20150901melingaigambar

 

 

 

 

Oleh Hasan Zainuddin

 

“Sangat Elok,” demikian komantar Mdnoh Rahidin, wisatawan Malaysia ketika mengunjungi Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, belum lama.

Ketika ditanya apa yang membuat wisatawan “susur galur” (mencari juriat) tersebut terpesona terhadap kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa dengan luas hanya sekitar 92 kilometer persegi tersebut.

Ia mengaku melihat begitu banyak sungai yang melingkar-lingkar yang membelah kota paling selatan pulau terbesar di Indonesia itu.

“Tidak ada daerah lain memiliki sebanyak sungai seperti di Banjarmasin ini. Jika sungai-sungai ini lebih ditata, kota Banjarmasin akan mengalahkan kota wisata sungai Malaysia, Malaka,” kata wisatawan yang membawa empat saudaranya mencari keluarga yang terpisah, puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun tersebut.

Pernyataan wisatawan keturunan Suku Banjar yang sejak datuk (atok) berada di Malaysia tersebut, satu di antara pernyataan “kagum” dari puluhan, bahkan ratusan pengunjung ke kota berjuluk “kota seribu sungai” (City of Thousand Rivers) Banjarmasin ini atas keberadaan sungai-sungai di kota tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Kota (Bappeko) Banjarmasin Ir. Fajar Desira mengakui wilayah ini dialiri banyak sungai, baik sungai besar seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura maupun sungai kecil, ditambah anak-anak sungai dan kanal.

Hanya saja keberadaan sungai-sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat itu kini mulai rusak, tercemar gulma, tercemar sampah, pendangkalan yang hebat, bahkan penyembitan akibat perkembangan kota dan permukiman.

“Dahulu sungai di Banjarmasin jumlahnya mencapai 150 buah. Namun, hasil inventarisasi belakangan tinggal 102 buah. Sungai itu mati akibat pendangkalan dan berubah fungsi menjadi permukiman dan perkembangan kota lainnya,” kata perencana yang dikenal sebagai perancang Kota Banjarmasin tersebut.

Menurut dia, panjang sungai yang membelah dan mengaliri kota yang dikenal dengan wisata sungai “pasar terapung” tersebut mencapai 185.000 meter.

Melihat kenyataan tersebut, kata mantan Kepala Dinas PU Kota Banjarmasin itu, wajar jika arah pembangunan kota wisata sungai ini berorientasi bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi penggerak perekonomian masyarakat.

Selain itu, sungai dikembalikan fungsinya sebagai drainase, sebagai alat transportasi, dan sarana komunikasi, terutama sebagai sarana kepariwisataan pada masa mendatang.

Untuk menjurus sebagai kota wisata tersebut, sejak 10 tahun terakhir ini sudah banyak yang dilakukan pemerintah setempat, di antaranya pembangunan siring sebagai lokai “water front City” (kota bantaran sungai), ratusan miliar rupiah sudah dikeluarkan guna mewujudkan sarana tersebut.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) Banjarmasin Ir. Muryanta mengatakan bahwa kota ini tidak memiliki sumber daya alam, seperti hutan dan tambang, maka pilihan penggerak ekonomi masyarakat adalah sungai-sungai tersebut.

Oleh karena itu, dibangun siring sekitar 3 kilometer dari 5 kilometer yang direncanakan di lokasi tersebut akan tersedia fasilitas taman, tempat bermain, wisata kuliner, patung bekantan, pasar terapung, kedai terapung, menara pandang (pantau), dan pusat cendera mata.

“Siring yang sedang diselesaikan menjadi 5 kilometer itu, ada wisata kuliner di kampung ketupat, ada wisata cendera mata di kampung sasirangan, ada wisata ikan di tempat pelelangan ikan,” katanya.

Muryanta menjelaskan pembangunan siring tersebut memperoleh dukungan pemerintah provinsi dan pusat seperti dari Balai Sungai Kementerian PU.

Untuk mendukung wisata sungai tersebut, kini sudah dibangun sejumlah dermaga angkutan sungai, seperti kelotok (perahu bermotor), spead boat, dan sampan (jukung), untuk memudahkan perjalanan wisata susur sungai.

Bahkan, kata Muryanta, ratusan jembatan dibuat melengkung agar di bawahnya bisa dilalui oleh perahu-perahu wisata tersebut.

Ia menilai keinginan kuat pemerintah untuk mewujudkan Kota Banjarmnasin sebagai kota wisata itu akan terwujud jika adanya dukungan seluruh masyarakat, apalagi adanya keinginan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didukung Kementerian Pekerjaan Umum, yakni “Kemitraan Habitat,” untuk menjadikan kota ini bagaikan kota air yang terkenal, seperti di Venesia Italia.

Melingai

Untuk mewujudkan keinginan kuat pemerintah mewujudkan Kota Banjarmasin sebagai kota air, dengan segala persoalan tersebut di atas, maka diperlukan partisipasi yang nyata pula di tengah masyarakat. Pasalnya, jika keinginan tersebut tidak melibatkan masyarakat secara luas, keinginan tersebut tak bakalan tercapai.

Oleh karena itulah, sejumlah organisasi masyarakat yang berorientasi lingkungan mencoba berhimpun dalam satu wadah yang mengkhususkan diri terhadap pelestarian sungai yang disebut “Melingai”.

Dinamakan “Melingai” karena itu sebuah singkatan Masyarakat Peduli Sungai. Akan tetapi, arti harfiah dari melingai itu sendiri dalam bahasa lokal (Banjar) artinya membersihkan.

Pendirian organisasi masyarakat tersebut kumpulan dari banyak organisasi masyarakat, seperti Masyarakat Pencinta Pohon, Forum Komunitas Hijau, Pena Hijau, Sahabat Bekantan Indonesia, dan organisasi lainnya, termasuk Satuan Polisi Air (Sapol Air) Banjarmasin yang pada tanggal 19 Agustus 2015 mengadakan pertemuan pertama sekaligus pembentukan pengurus yang diketuai Ferry Husain, kemudian dibantu tiga wakil ketua serta bidang-bidang.

Setelah pembentukan organisasi tersebut, langsung membuka jejaring sosial atau melalui, seperti Facebook, Twitter, dan wibe site, untuk mengimpun sukarelawan yang ingin berpartisipasi dalam pelestarian sungai tersebut.

Ternyata organisasi ini memperoleh respons positif masyarakat sehingga banyak yang menyatakan bersedia bergabung menjadi sukarelawan, yang tugasnya nanti antaranya memberikan edukasi kepada masyarakat dengan menanam pohon penghijauan di pinggir sungai, pembersihan sampah di sungai, pelepasliaran bibit ikan, penghapusan budaya jamban, dan memberikan pengertian dampak negatif perumahan yang mengancam keberadaan sungai.

Tugas lainnya Melingai adalah memberikan pengertian begitu vitalnya daerah resapan air di Pegunungan Meratus yang selama ini menjadi “Tandon Air Tawar Raksasa” yang merupakan hulu dari sungai-sungai di Banjarmasin yang harus diselamatkan dan direhabilitasi.

Aksi lapangan pertama yang dilakukan puluhan anggota Melingai pada tanggal 30 Agustus, yakni melakukan pembersihan sungai dari tumpukan sampah yang mengapung di air, sampah yang berada di daratan kawasan Pasar Terapung kompleks wisata Siring Jalan Pire Tendean.

Berdasarkan pemantauan aksi tersebut ternyata memberikan dampak positif di lokasi yang selalu memperoleh ribuan pengunjung setiap hari libur tersebut karena lokasi tersebut menjadi bersih dari sampah.

“Biasanya di lokasi ini bertaburan sampah. Akan tetapi, setelah aksi Melingai, alhamdulillah lokasi sini menjadi bersih karena para pedagang dan pengunjung dengan merasa malu sendiri tak membuang sampah secara sembarangan setelah melihat aksi Melingai,” kata Ruslan, pengunjung.
Ruslan berharap pengelola lokasi siring itu untuk menempatkan lebih banyak bak-bak sampah penampungan agar masyarakat dan pedagang tidak susah mencari bak sampah. Apalagi, bak sampah yang ada sekarang ini tidak memadai jika dibandingkan dengan luasnya lokasi tersebut.

Menurut Ferry Husain, melihat respons positif tersebut maka aksi akan terus dijadwalkan secara berkala ke berbagai sasaran dengan melibatkan lebih banyak sukarelawan. Jadwal terdekat pada tanggal 27 September 2015, pusat tetap di Siring Tendean, tetapi untuk pembersihan sampah sungai dan tempat lain untuk penanaman penghijauan pinggir sungai dan pelepasliaran bibit ikan.

Ia berharap dengan kian banyak sukarelawan, kian banyak yang akan termotivasi melestarikan sungai sehingga ke depan kota ini benar-benar menjadi kota wisata, kota budaya, dan kota perdagangan yang berbasis sungai untuk memperkuat julukan “Kota dengan Seribu Sungai.”

 

 

SIRING TENDEAN OBJEK WISATA BARU BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin

1

Banjarmasin,22/9 (Antara)- Sekelompok gadis remaja begitu asyiknya senam dengan gaya mengikuti alunan musik yang dibunyikan dari alat tape recorder.

Sementara di sisi lain sebuah organ tunggal dimainkan dengan irama dangdut menghadirkan beberapa penyanyi yang berpakaian seksi.

Tentu saja dua kegiatan tersebut memperoleh tontonan ratusan mungkin ribuan orang yang berjejal di lokasi bangunan Siring Sungai Jalan Piere Tendean atau tepian Sungai Martapura Banjarmasin.

Memang setiap pagi minggu ratusan hingga ribuan orang mendatangi lokasi objek wisata baru yang diciptakan Pemkot Banjarmasin sejak beberapa bulan belakangan ini yang disebut sebagai wisata “Siring Tendean.”

Banyak keunikan atau kelebihan lain lokasi ini dibandingkan objek wisata lainnya di kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa tersebut.

Di sini bukan saja sering dipergelarkan pertunjukan rakyat seperti musik dangdut, tari-tarian, kesenian rakyat lainnya juga terdapat pula lokasi penjualan soevener dan kuliner khas setempat.

jaringjualan

Tak heran lokasi ini juga sebagai tempat atau kosentrasi bagi warga yang melakukan olahraga lari pagi atau jogging, dan bila lelah bisa sarapan pagi minum teh, kopi, atau minuman aneka jenis lainnya. Di sini juga dijual aneka makanan khas setempat, seperti ketupat kandangan, nasi kuning, pundut nasi, dan kue 41 macam.

“Kalau kita ke Monas Jakarta, atau Jalan Pahlawan Surabaya pada pagi minggu, tentu menyaksikan banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan aneka jenis gadangan, nah begitu juga di lokasi Siring Tendean ini sudah seperti itu,”kata Muhlis pengunjung objek wisata tersebut saat berbicara lewat telpon seluler mengambarkan kondisi lokasi itu kepada temannya yang berada di Jakarta.

Muhlis bersama keluarganya mendatangi wisata Siring Tendean bukan melalui jalan darat, melainkan menggunakan “klotok” (perahu mesin tempel) dari kediamannya di bilangan Sungai Lulut.

Itulah kelebihan Siring Tendean ini, bisa ditempuh dari dua jalur darat dan sungai, dan kawasan ini bagian dari rute wisata perairan yang diperomosikan Pemkot Banjarmasin belakangan ini.

2345

Namun yang ditonjolkan objek wisata Siring Tendean adalah pasar terapung, dimana ratusan ibu-ibu menggunakan pakaian adat setempat seraya mengayuh sampan (jukung) dan mendekat ke Siring tendean.

Ibu-ibu menggunakan “tanggui” (topi besar) tersebut datang ke lokasi tersebut sebagai pelaku pasar terapung (floating market) yang juga diciptakan pemnerintah setempat untuk memancing wisatawan.

Para ibu-ibu tersebut kebanyakan datang mengayuh sampan ke lokasi tersebut dengan berjualan aneka buah-buahan, seperti jeruk, semangka, jambu bul, jambu air, jambu biji mangga, mentega, sarikaya, ketapi, kuini, pisang, rambutan, dan aneka buah lokal lainnya.

Selain itu mereka juga menjual aneka sayuran, seperti cabe, kangkung, genjer, daun ubi kayu, jantung pisang, keladi (talas), rebung (bambu muda) umbut kelapa, ketimun, katu, pakis, kalakai, dan aneka jenis sayuran lokal lainnya.

Dagangan lain ikan segar, beras, gula, tepung dan barang kebutuhan pokok lainnya pun terlihat, termasuk aneka industri rakyat seperti tikar purun, jintingan purun, dapur tanah, tajau, dan aneka anyaman.

Untuk memudahkan pengujung lokasi ini berbelanja,maka oleh pemerintah setempat dibuatkan dermaga,kemudian dermaga itu disambung pula dengan lanting (titian) terbuat dari kayu hingga bisa mendekati para pedagang yang menggunakan sampan tersebut.

6

Tak heran mereka yang datang ke lokasi ini bukan hanya wisatawan tetapi juga ibu rumah tangga yang mencari keperluan dapur, termasuk para pedagang barang makanan, karena konon harga di pedagang sungai ini lebih murah ketimbang harga kebutuhan yang dijual di daratan.

Dengan begitu semaraknya lokasi ini menyebabkan para pendatang banyak yang mengambil latar belakang kegiatan pasar ini sebagai foto kenang-kenangan.

“Dengan berfoto di lokasi ini maka orang akan tahu kalau kita sudah datang ke Banjarmasin,”kata Andriano seorang pendatang dari Samarinda Kalimantan Timur seraya memperlihatkan fotonya dengan latar belakangan pasar terapung Siring Tendean ini.

Pasar terapung adalah objek wisata andalan Banjarmasin sejak dulu tetapi lokasi aslinya agak jauh dari pusat kota yaitu di Desa Kuin Sungai Barito dan Loka Baintan Sungai Martaputa Kabupaten Banjar.

Untuk memudahkan pengunjung melihat pasar terapung lalu oleh Pemkot Banjarmasin dikumpulkanlah sejumlah pedagang keliling yang sering menyusuri sungai di kota ini untuk berjualan ke lokasi pasar terapung buatan Siring Tendean.

Tentu untuk memancing pedagang keliling sungai tersebut bersedia
ke lokasi khusus itu, mereka diberikan subsidi, kata Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin beberapa waktu lalu kepada wartawan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase, Muryanta mengatakan Siring Tendean salah satu lokasi yang dibangun Pemkot Banjarmasin menghidupkan wisata perairan.

Menurut Muryanta keinginan menciptakan Siring Sungai sebagai ikon kota sudah lama makanya banyak bangunan kumuh di bantaran sungai dibebaskan lalu dibuat Siring Sungai yang lengkap dengan pertamanan, lampu hias dan fasilitas lainnya.

Oleh karena itu pekerjaan terhadap pembangunan siring tersebut terus dilanjutkan dan disempurnakan sebagai kawasan wisata perairan di wilayah yang berjuluk “kota seribu sungai.”
“Kita sudah mendesain sedemikian rupa kawasan Siring Tendean yang berseberangan dengan Siring Sudirman, sebagai lokasi wisata yang menarik dan unik,” katanya.

Lihatlah nanti kalau sudah selesai semuanya pasti akan indah di lihat dari sudut manapun, tuturnya lagi.

Penyempurnaan Siring Tendean itu dikerjakan secara multiyear, yakni, diselesaikan hingga akhir 2013 ini dengan segala fasilitas pendukungnya, termasuk nanti akan dibuatkan patung Bekantan (Kera besar hidung besar) yang merupakan maskot fauna Kalsel.

Siring sungai tersebut bukan hanya di Jalan Tendean dibuat oleh Pemkot Banjarmasin tetapi juga di Jalan Sudirman, Jalan Pasar Lama, Jalan Ujung Murung, Jalan Sungai Mesa dan eks SMP enam Banjarmasin.

Siring yang dibangun semuanya di tepian Sungai Martapura tersebut telah menghabiskan dana puluhan miliar rupiah.

Membangun wisata perairan sudah menjadi pilihan kota Banjarmasin,karena wilayah ini tak ada sumberdaya alam seperti tambang, hutan, dan pertanian, makanya pariwisata sungai menjadi pilihan membangkit perekonomian setempoat, demikian Muryanta.

orkes

penyanyi sedang menghibur pengunjung siring tendean

 

MEMPERELOK KOTA BANJARMASIN MELALUI PENATAAN SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,6/9 (ANTARA)- “Coba kita berdiri di malam hari di Jembatan Merdeka atau Jembatan Pangeran Antasari, pandang ke arah sungai, begitu eloknya kota Banjarmasin ini,” kata Asisten II Bidang pembangunan, Bambang Budiyanto, kepada wartawan.

Coba pula dibayangkan Kota Banjarmasin era tahun 90-an di saat masih kumuhnya bantaran sungai, maka kota ini begitu jelek.

Tetapi coba lihat sekarang setelah bantaran sungai dibenahi melalui pembangunan siring yang kemudian dipenuhi dengan taman-taman bunga dan pohon hijau serta dan lampu hias, maka begitu terasa eloknya.

“Melihat kenyataan tersebut maka pembenahan sungai yang dilakukan secara bertahap oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin dan dibantu pemerintah pusat dan pemerintah provinsi sudah menunjukkan hasil,” katanya saat memimpin jumpa pers berkenaan hari jadi Kota Banjarmasin.

Menurut dia, bila sudah menyadari pembenahan sungai melahirkan suatu keindanan dan kenyamanan, selayaknya seluruh warga mendukung upaya pemerintah dalam pembenahan sungai tersebut.

Apalagi arah pembangunan Kota Banjarmasin yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut benar-benar berbasis sungai maka tak ada pilihan kecuali bekerja keras dalam pembenahan sungai.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase Banjarmasin, Ir Muryanta dalam kesempatan yang sama membenarnya instansinya dibebani mengubah kota Banjarmasin yang kumuh menjadi sebuah kota sungai yang elok.

“Dulu hampir semua bantaran sungai kumuh, dan tak enak dipandang, sekarang lihat bantaran Sungai Martapura Jalan Pire Tendean dan Jalan Sudirman sudah rapi dan tertata begitu bagus, semua hasil dari tekad mengubah kekumuhan menjadi keindahan,” katanya.

Menurut dia, ke depan semua bantaran sungai akan ditata, permukiman kumuh akan dibebaskan dirombak menjadi kawasan siring sungai yang penuh dengan pertamanan dan lampu-lampu hias.

“Sekarang bantaran sungai yang kumuh telah berhasil diubah menjadi kawasan bersih sepanjang dua kilometer, masih begitu panjang yang harus dirombak lagi,” katanya.

Melihat panjangnya bantaran sungai Banjarmasin yang masih terlihat kumuh maka diperlukan dana besar untuk membebaskan kawasan tersebut agar menjadi sebuah kawasan yang elok, dan ditaksir sedikitnya membutuhkan dana Rp500 miliar.

“Kita lakukan secara bertahap, sekarang masih dalam pembenahan bantaran sungai Jalan Pire Tendean dan membutuhkan dana Rp50 miliar, dan baru ke lokasi-lokasi lain lagi, termasuk kawasan Pasar Lama hingga ke Sungai Jingah,” kata Muryanta yang didampingi Kepala Dinas Bina Marga, M Amin MT.

Bukan hanya bantaran Sungai Martapura yang memperoleh pembenahan, tetapi juga bantaran sungai-sungai kecil dalam kota, seperti Sungai Veteran, Sungai Kuripan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Miai, Sungai Pangeran, dan sungai lainnya.

Bahkan untuk sungai Jalan Veteran dan Teluk Dalam menjadi lokasi percontohan pembenahan sungai ke depan, sebab sebelah kanan dan kiri sungai akan dibangun jalan.

Sebagai contoh sungai di tepian di Jalan Veteran sudah ada jalan tetapi di seberangnya juga harus dibangunkan jalan lagi. Karena itu lokasi bangunan yang dibolehkan harus 14 meter jaraknya dari sungai.

Setelah dibangunkan jalan di sisi kiri dan kanan sungai barulah nanti dibuatkan jembatan, tetapi jembatan berada di lokasi yang tepat.

“Karena itu pemkot melarang keras setiap ada bangunan rumah atau rumah dan toko (ruko) selalu membangun jembatan sendiri-sendiri, karena kalau itu terjadi maka keberadaan sungai sebagai sarana lalu lintas air menjadi tidak berarti,” kata Muryanta.

Menurut dia, beberapa lokasi sungai di Banjarmasin terlihat begitu banyak jembatan penyeberangan, akhirnya selain merusak keindahan juga menghilangkan fungsi sungai.

“Tadinya data sungai di Banjarmasin sebanyak 105 sungai, tetapi setelah didata ulang ternyata ada 150 sungai, yang kesemuanya itu harus dibenahi, baik bantaran sungainya, serangan sampah dan gulma serta sidimentasinya,” tutur Muryanta.

Takad pembenahan sungai tersebut tak lain karena kekayaan Kota Banjarmasin agaknya terletak pada sungai sungai tersebut, karena wilayah ini minim sumberdaya alam seperti tambang, hutan, dan pertanian.
“Bila kota ini mau maju, maka solusinya adalah memanfaatkan sungai-sungai tersebut sebagai magnet ekonomi, khususnya kepariwisataan,” tutur Muryanta.

 

contoh sungai yang rusak

Sementara Kepala Dinas Bina Marga, M Amin, menambahkan untuk mendukung pembangunan berbasis sungai tersebut, maka pihaknya pun melakukan berbagai upaya pembangunan dengan mengedepankan keberadaan sungai.

“Dalam pembangunan jembatan saja, semuanya akan dibuat melengkung, artinya dengan melengkung maka sungai-sungai berada di bawah jembatan akan tetap berfungsi sebagai sarana lalu-lintas air,” tutur M Amin.

Bukan hanya jembatan kecil yang tercatat hampir 400 buah, juga jembatan besar pun nantinya dibuat melengkung, setidaknya ketinggiannya mencapai lima meter dari permukaan air saat pasang dalam, tuturnya.

Berdasarkan rencana ke depan, dan sudah memperoleh dukungan pemerintah, jembatan Pangeran Anatasri yang selama ini menjadi ikon kota pun akan dirombak menjadi sebuah jembatan melengkung.

Kemudian jembatan besar lainnya, adalah Jembatan Dewi, Jembatan Pasar Lama, Jembatan Merdeka akan dibangun ulang lebih tinggi lagi, agar kapal-kapal bisa lewat melalui bawah jembatan tersebut, kata M Amins.

Dukungan sebuah kota sungai tersebut juga muncul dari Dinas Perhubungan setempat yang mulai sekarang membangun sebanyak mungkin dermaga angkutan sungai baik di Sungai Martapura, Sungai Barito maupun di sungai kecil lainnya.

Berdasarkan keterangan setiap adanya jembatan baik jembatan besar maupun jembatan kecil selalu akan dibangunkan dermaga angkutan sungai.

Dengan demikian, orang bepergian di kota ini bisa enak melalui jalan darat, tetapi enak pula kalau harus naik angkutan sungai.

Sementara Dinas Pariwisata yang paling berkepentingan dengan pembenahan wisata air, juga tak mau kalah membuat program pembenahan wisata sungai, dengan membuat lokasi-lokasi wisata baru berbasis sungai termasuk membuat pasar terapung buatan di perairan Pulau Insan.

Bukan hanya itu, Dinas Pariwisata pun akan membuat paket wisata di kota ini lebih banyak mengarahkan kunjungan ke objek wisata sungai tersebut.

Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono saat berada kota ini beberapa waktu lalu mnilai Banjarmasin akan menjadi sebuah kota metropolis, jika berhasil memanfaatkan sungai sebaik-baiknya.

“Kota Banjarmasin, adalah kota yang unik dikelilingi dan dibelah-belah sungai besar dan kecil, jika sungai itu dimanfaatkan maksimal akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan kota ini,” kata Danni Sutjiono.

Menurut dia, sungai di Banjarmasin perlu dipelihara agar bisa menjadi daya pikat wisata dan sarana lalu lintas air di samping sumber air baku PDAM sehingga ketersediaan air bersih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Bila sebuah kota dengan ketersediaan air bersih mencukupi dipastikan kota tersebut akan menjadi hunian dan perkembangan perkotaan yang nyaman, lantaran air bersih merupakan sarana vital dalam kehidupan.

“Lihat Kota Singapura yang tidak memiliki sumberdaya alam tetapi mampu menyediakan air bersih dengan cukup dan fasilitas lainnya akhirnya kota tersebut menjadi kota metropolis,” katanya.

Lihat juga kota Bangkok, di mana sungai ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah objek wisata yang menarik, dan bahkan telah berhasil menciptakan kota tersebut sebagai kota tujuan wisata dunia.

Melihat kenyataan tersebut sebenarnya Kota Banjarmasin bisa mengejar kemajuan kedua kota ternama di dunia tersebut, tentu dengan memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya.

Apalagi Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang melebihi dari kota-kota yang disebut di atas, sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri, tinggal bagaimana pemerintah kota ini menciptakannya lebih menarik lagi.

MEMOLES “KOTA SUNGAI” BANJARMNASIN JADI METROPOLIS

Oleh Hasan Zainuddin


“Sangat elok” demikian kata Abdul Malik seorang pelancong asal Bagan Serai Malaysia setelah mengamati banyak sungai yang banyak membelah-belah wilayah Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

“Kota ini akan menjadi sangat indah dan menarik jika pemerintah setempat mampu mengubah keberadaan sungai menjadi lebih baik, lebih hidup, dan berfungsi sebagaimana mestinya,” kata Abdul Malik yang datang ke “Tanah Banjar,” yang menurut pengakuannya merupakan tanah leluluhurnya tersebut.

Menurut Abdul Malik banyak kota-kota di dunia menjadi terkenal setelah mengeksploitasi sungai menjadi sebuah kawasan menarik bagi kepariwisataan dan keindahan kota.

Ia mencontohkan Singapura, Bangkok, Venesia, Nederland, Sindey, dan banyak lagi kota metropolis lainnya.

Seharusnya Banjarmasin tak susah menuju sebuah kota metropilis serupa jika piawai memberdayakan sungai sungai ini.

Senada dengan Abdul Malik, Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono saat datang ke Banjarmasin awal Juli 2012 lalu menilai Banjarmasin sebuah kota unik yang tak dimiliki daerah lain.

“Kota ini seharusnya bersyukur banyaknya sungai yang melingkari berbagai wilayah dan kalau itu dimanfaatkan akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan kota ini,”kata Danni Sutjiono.

Sutjiono berada di Banjarmasin dalam kaitan pertemuan dengan direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin.

Menurutnya, sungai di Banjarmasin dipelihara agar bisa menjadi sumber air baku PDAM sehingga ketersediaan air bersih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Bila sebuah kota dengan ketersediaan air bersih mencukupi dipastikan kota tersebut akan menjadi hunian dan perkembangan perkotaan yang nyaman,lantaran air bersih sarana vital kehidupan termasuk menarik investasi.

“Lihat Kota Singapura yang tidak memiliki sumberdaya alam tetapi mampu menyediakan air bersih dengan cukup dan fasilitas lainnya akhirnya kota tersebut menjadi kota metropolis,” katanya.

Lihat juga kota Bangkok, dimana sungai ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah objek wisata yang menarik telah berhasil menciptakan kota tersebut sebagai kota tujuan wisata dunia.

Melihat kenyataan tersebut sebenarnya Kota Banjarmasin bisa mengejar kemajuan kedua kota ternama di dunia tersebut, tentu dengan memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya.

Apalagi Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang melebihi dari kota-kota yang disebut di atas, sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri, tinggal bagaimana pemerintah kota ini menciptakannya lebih menarik lagi.

“Kelebihan kota ini adalah keberadaan pasar terapung yang alami yang tidak ditemui daerah lain,” katanya.

Selain Pasar Terapung, Banjarmasin juga memiliki kampung terapung, industri berbasis sungai, pemukiman di bantaran sungai, dan aneka budaya berkaitan dengan sungai yang semuanya menjadi daya pikat bagi semua orang.

“Sementara Kota Bangkok memang terdapat pasar terapung tetapi hasil ciptaan untuk wisataan bukan tumbuh dan berkembang alamiah seperti di Banjarmasin,” tuturnya.

Berdasarkan catatan, Banjarmasin memiliki sedikitnya 104 sungai besar dan kecil dan 74 sungai diantaranya masih berfungsi sebagaimana mestinya, sementara sisanya sudah mati lantaran mendangkal,menyempit, dan akibat limbah rumah tangga dan industri disamping diserang gulma.

Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin, Ir Fajar Desira ketika diminta komentarnya tentang pemanfaatkan sungai tersebut mengakui arah pembangunan kota ini adalah memanfaatkan sungai untuk meningkatkan ekonominya.

Wilayah Banjarmasin seluas 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Sementara wilayahnya hampir semua dialiri sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin, karena itu potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.

“Tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase Muryanta menyebutkan jauh-jauh hari Banjarmasin sudah memikirkan bagaimana kota ini menjadi metropolis dengan mengandalkan sungai tersebut.

Karena itu bertahap membenahi sungai,mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.

“Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Pire Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata yang menarik dan menjadi ikon kota,”tuturnya.

Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit.

Belum lagi pembangunan fasilitas berkaitan dengan kepariwisataan sungai tersebut, seperti penataan bantaran sungai dalam upaya menciptakan keindahan itu.

Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanagkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.

Menurut Muryanta karena arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan bagaimana agar sungai-sungai yang banyak membelah kota ini bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat ke depannya.

Untuk penataan bantaran sungai tahun anggaran 2011 lalu telah menghabiskan sedikitnya Rp17 miliar, seperti pekerjaan seperti penguatan tebing sungai di Ujung Murung, Jalan Sudirman dekat Pasar Lama.

Pekerjaan penataran bantaran sungai ini terus dilanjutkan tahun 2012 bahkan pada tahun-tahun kedepannya, agar kota ini benar-benar indah lantaran sungai.

Kemudian Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut.Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai, seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.

“Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah,” tutur Muryanta.

Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.

Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.

Keberadaan dermaga itu akan memperkuat keberadaan pariwisata air sebab orang akan mudah bepergian kemana-mana melalui air, harapannya Banjarmasin bisa menjadi kota mertropolis menarik seperti layaknya Bangkok di Thailand, Hongkong, atau Vinesia Italia, demikian Muryanta.

MENATA WISATA AIR DI “KOTA SERIBU SUNGAI”

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin,10/5 (ANTARA)- Sekelompok wisatawan dengan sebuah kapal berlayar di Sungai Martapura arah ke Pasar Terapung sementara kelompok yang lain justru ke Makam Sultan Suriansyah, sedangkan kelompok lainnya ke Pulau Kembang.
Kelompok wisatawan menikmati wisata air Kota Banjarmasin dengan tujuan seakan terserah kemauan siapa yang mengajak, bukan berdasarkan sebuah paket wisata sebagaimana mestinya.


Kepala Dinas Kebudayaan,Pemuda, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Norhasan kepada pers di balaikota Banjarmasin, Kamis mengakui belum tersusunnya paket wisata khusus wisata sungai di kota yang berjuluk “kota seribu Sungai,” tersebut.
Oleh karena itu kedepan pihaknya harus membuat paket wisata perairan tersebut, agar memudahkan wisatawan menikmati keunikan wisata perairan tersebut.
“Kita sudah susun rute paket wisata perairan kota ini, dimulai dari dermaga wisata air depan balaikota Banjarmasin menuju arah makam habieb Basirih, Pasar Terapung, Makam Sultan Suriansyah, terus ke Pulau Kembang,” kata Norhasan.
Kemudian wisata air dilanjutkan Pasar Terapung, Pulau Kaget, Pulau Bakut, industri perkayuan Alalak, terus kekampung sasirangan, kampung katupat, masjid Raya Sabilal Muhtadin, Pasar lima kembali ke dermaga balaikota, katanya.
Itu baru kerangka rute yang perlu direvisi lagi sebelum hal itu menjadi rute wisata yang baku yang kemudian dipublikasikan ke hotel, penerbangan, biro perjalanan, dan agen-agen wisata lainnya.
Menurut Norhasan bukan hanya paket wisata yang harus disusun dalam upaya menata kepariwisataan air, juga diperlukan dukungan pasilitas yang lain.
Fasilitas dimaksud, karena belum adanya pusat penjualan cendaramata yang terkosentrasi, sehingga menyulitkan wisatawan memperoleh barang cendarama tersebut.
Banjarmasin diperlukan sebuah kawasan atau sentra pusat penjualan cendaramata yang bukan saja mudah dijangkau jalan darat tetapi mudah dijangkau melalui angkutan wisata sungai.
Selain itu juga diperlukan kawasan kuliner yang juga mudah dijangkau jalan darat dan air.
“Moga-moga keinginan menata wisata air tersebut memperoleh respon baik oleh kalangan investor, DPRD dan petinggi Pemerintah Kota Banjarmasin dan pihak pemprop Kalsel,” katanya.
Tenaga pramu wisata yang selama ini belum dibentuk sebuah wadah di Kota Banjarmasin kedepannya perlu pemikiran mewujudkannya, sehingga memudahkan wisatawan memperoleh pemandu menyusuri paket-paket tersebut.
Menurut Norhasan, keunikan wisata kota ini dibandingkan dengan daerah lain adalah susur sungai.
Susur sungai menggunakan “klotok” (perahu bermesin) atau spead boat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu.
Wisatawan bisa melihat aktivitas warga dimana terlihat banyak warga mandi, cuci, bersikat gigi di atas lanting.
Atau melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang banyak ditemui si pesisir sungai seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.
Untuk mendukung wisata susur sungai Pemkot Banjarmasin menyediakan dua buah kapal wisata air yang cukup besar, ditambah beberapa perahu kecil yang bisa menyusuri sungai-sungai kecil di tengah pemukiman penduduk yang padat.
Para wisatawan, khususnya dari mancanegara, kata norhasan tertarik menyaksikan berbagai kehidupan sungai di pemukiman padat penduduk itu sebuah keunikan tersendiri karena tak ditemui di negara mereka.
Oleh karena itu keunikan itulah yang menjadi daya pikat dan terus dijual ke wisatawan, tambahnya.
Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) setempat memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.
Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta mengakui Pemkot setempat menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.
“Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota karena itu kami akan terus benahi sungai,” katanya.
Menurut Muryanta, wilayah kota Banjarmasin seluas 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Sementara wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.


Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 104 sungai dan sebanyak 74 sungai masih berfungsi baik yang bisa dijadikan objek wisata.
Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.
“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.
Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat.
Pemerintah pusat melalui Dirjen Sumber Daya Air akan membantu pembenahan sungai di Jalan Pire Tendean.
Tahap awal untuk menjadikan sungai sebagai objek pembangunan tersebut, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Sungai dan Drainase terus mengupayakan normalisasi sungai.
Upaya normalisasi tersebut dilakukan pembersihan sungai dari bangunan-bangunan yang ada di atasnya.
Sebagai contoh dan sudah dibebaskan bangunan sepanjang sungai di Jalan Sudirman, Jalan Pire Tendean, Jalan Pembangunan, Jalan Veteran, Jalan Teluk Dalam, dan beberapa bangunan lainnya di pinggir sungai.
Bahkan puluhan miliar rupiah sudah dikeluarkan untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di jalan Sudirman dan Pire Tendean.
Hal itu terbukti memberikan keindahan kota dimana di kedua siring tersebut ditanami aneka tanaman hias, lampu-lampu hias serta lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.


Untuk mewujudkan komitmen menjadikan sungai sebagai objek wisata sudah pula dilontarkan Wali Kota setempat, Haji Muhidin yang di berbagai kesempatan selalu memuji-muji wisata airnya yang kini kian digandrungi para wisatawan.
Untuk menambah kesemarakan wisata air tersebut, Pemkot menambah lagi satu lokasi wisata baru, kata Norhasan
Lokasi wisata baru tersebut berada di Kawasan Jalan Jafri zam-zam, karena lokasinya yang cukup strategis, di tepian Sungai dan berdekatan dengan stadion 17 Mei Banjarmasin, yaitu sebuah objek wisata Pasar Terapung buatan.
“Kita telah memperoleh bantuan pemerintah pusat untuk membuat desain pembangunan Pasar Terapung di Jafri Zam-zam, karena pasar terapung termasuk tiga objek wisata andalan Kalsel yang menjadiperhatian pemkerintah pusat selain, pendulangan intan dan pusat penjualan batu permata Kota Martapura,”kata Norhasan.
Keinginan Pemkot menjadikan kawasan tersebut sebagai objek wisata terungkap dari kunjungan Wali Kota Banjarmasin, H Muhidin yang sebelumnya sempat menijuau kawasan tersebut.
Wali kota menilai, kawasan Jafri Zam-zam itu sangat potensial untuk dijadikan objek wisata, mengingat adanya sungai Karokan yang cukup indah, selain itu juga ada stadion yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga bagi masyarakat, baik pagi atau sore hari.
Di lokasi tersebut juga ada sebuah bangunan yang tadinya untuk rumah dinas wali kota, tetapi karena terbentur tata ruang, fasilitas itu menjadi terlantar, dan kini dibenahi sebagai fasilitas wisata keluarga.
Untuk mendukung kota ini sebagai objek wisata air, maka pihak Dinas Bina Marga mengarahkan berbagai pembangunan jalan dan jembatan yang dikelolanya mendukung wisata air.
Banjarmasin membuat jembatan yang ada di kota ini dengan bentuk melengkung, yang artinya jembatan dibangun tidak bakal mematikan keberadaan sungai, dengan bentuk yang demikian maka sungai akan tetap bisa dilalui perahu khususnya perahu wisata.
Berbagai kalangan menyambut baik keinginan Pemkot memasarkan wisata air tersebut, dan diharapkan hal itu akan mempercepat peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan kota.