WARGA LOKSADO NIKMATI “MANISNYA” HARGA KAYU MANIS

kayumanis Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, Rombongan ekspedisi susur sungai Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) II menyususri sungai hulu Amandit bagian dari anak-anak Sunga Barito ke kewasan Loksadi, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bagian dari Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, pekan lalu.
Ekspedisi bertujuan melihat kondisi sungai dan hutan tersebut menysup ke pemukiman Suku Dayak Loksado dan tadinya membayangkan warga setempat masih tinggal di balai-balai (rumah adat yang dihuni puluhan kepala keluarga) dengan bangunan kayu, bambu, dan atap rumbia.
Ternyata perkiraan tersebut berbalik, karena rumah warga pedalaman itu sudah banyak yang berton, lantai berkeramik, di depan rumah dihiasi dengan antena prabola, dan kemana-mana sudah menggunakan sepeda motor, lantaran jalan ke arah sana walau kecil tapi sudah bisa dilalui pakai kendaraan roda dua tersebut.
Untuk menyusup ke pemukiman suku yang tadinya nomadin itu, rombongan harus melakukan perjalanan jauh, dari Banjarmasin ke Kandangan ibukota kabupaten, terus ke Loksado, baru kemudian pakai ojek kendaraan roda dua dengan tarif rp70 ribu per orang ke Desa Haratai.
Setibanyak di lokasi rombongan termasuk penulis melakukan pemantauan dan sekaligus melakukan pengukuran kualitas air di pe atas pegunungan tersebut, dan membawa sampel air tersebut yang kemudian untuk diteliti secara seksama.
Namun oleh petugas dari BWS II yang melakukan pengukuran awal, air di atas pegunungan itu sangat layak untuk diminum lantaran kadar keasamannya yang normal, jersih, dan sama sama sekali tak berbau.
Saat berada di kawasan tersebut penulis sempat berbincang dengan warga setempat yang pada awalnya dikira mereka hanya bekerja berladang berpindah.
Ternyata dari beberapa penuturan warga mereka sudah banyak yang meninggalkan ladang berpindah, dan kini usaha menetap dengan mengembangkan pohon kayu manis. Dan pohon tersebut mereka tanam setelah mengambil bibit yang ada dalam hutan itu sendiri.
Atas bimbingan petugas pertanian dan beberapa warga yang sempat studi banding ke Sumatera Barat, kini usaha mereka sudah membudaya sektor perkebunan kayu manis tersebut.
Setelah terjadi fluktuasi harga belakangan Warga suku Dayak Pedalaman Kalimantan Selatan, Pegunungan Meratus itu kini bisa tersenyum menikmati membaiknya harga kayu manis yang dibudidayakan mereka.
Bayah seorang ibu yang berada di beranda rumahnya sambil membersihkan kulit manis menuturkan bahwa sekarang masyarakat setempat lagi bergairah berproduksi kulit kayu manis lantaran harganya yang sekarang cukup tinggi.
“Sekarang harga kayu manis kering Rp30 ribu per kilogram, dibandingkan dengan menyadap karet hanya rp5 ribu per kilogram, jelas lebih menguntungkan mengelola kayu manis,”katanya.
Berdasarkan keterangan, warga Dayak Pedalaman Loksado ini sejak dulu dikenal sebagai peladang berpindah, namun kemudian mereka lebih memahami untuk hidup berkebun kemudian menanam karet, lalu menanam keminting (kemiri), terakhir membudidayakan kayu manis.
Selain usaha tersebut banyak juga warga setempat yang beternak babi, atau mengolah tanaman bambu menjadi barang berharga.
Menurut mereka usaha kayu manis lebih menjanjikan lantaran pemasarannya tidak sulit, setelah banyaknya pembeli berdatangan ke kampung mereka yang berjarak sekitar 30 km dari ibukota kabupaten HSS.
Namun harga kayu manis sering pula berflutuasi bahkan ada yang hanya rp8 ribu per kilogram, tetapi sekarang sudah mencapai rp30 ribu per kilogram, dengan demikian jika usaha kayu manis sehari mampu mengupas kulit kayu lalu mengeringkan sampai lima kilogram saja maka sudah mengantongi uang rp150 ribu kilogram.
Tetapi bagi pemilik lahan luas dengan kayu manis yang sudah banyak dan kayunya besar-besar, itu sehari bisa mencapai puluhan kilogram, kata Bayah.
Hasil pemantauan di lokasi tersebut memang terlihat dimana-mana warga banyak yang bekerja mengupas kalit kayu manis dari batangnya, sebagian lagi ibu-ibu kebanyakan membersihkan kulit tipis bagian luar dari kulit kayu manis itu, kemudian dijemur di halaman rumah.
Dari pemantauan banyak pula kayu manis yang sudah kering diikat-ikat per satu golongan, konon itu sudah siap di jual, dan para pembelinya datang dari kota kemudian mengangkutnya ke berbagai termasuk ke Pulau Jawa.

Kualitas Kedua
Berdasarkan catatan yang pernah di rilis Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (BP2LHK Banjarbaru),_Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah pengembang tanaman kayu manis jenis C. Burmanii dengan kualitas unggulan, nomor dua setelah Sumatera.
Beberapa daerah penghasil kayu manis di Kalimantan Selatan adalah Loksado dan Padang Batung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang berlokasi di sepanjang punggung Pegunungan Meratus.
Pengusahaan kayu manis di Loksado masih terbatas pada pengusahaan bagian kulit dari pohon kayu manisnya saja. Kegiatan yang dilakukan meliputi produksi, penjemuran kulit kayu manis, dan distribusi produk dari kulit kayu manis baik itu dalam bentuk gulungan (mentah) maupun sirup.
Meski demikian, sejak tahun 2010, kayu manis dari Loksado telah mendapatkan sertifikat organik SNI. Adanya sertifikasi ini cenderung berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan petani sehingga memotivasi petani kayu manis untuk meningkatkan produktivitasnya.
Di kecamatan ini hampir sebagian besar masyarakat bermata pencaharian utama sebagai petani kayu manis. Pohon kayu manis di Loksado sebagian besar berada di luar kawasan hutan, yaitu di tanah atau kebun masyarakat yang berkembang secara sporadis dari hasil budidaya.
Pada awalnya produksi kayu manis dilakukan oleh masyarakat Dayak setempat dengan cara meramu kayu manis di dalam hutan sepenuhnya. Keberadaan pohon kayu manis di dalam hutan yang semakin langka, mendorong masyarakat Dayak untuk membudidayakannya.
Budidaya kayu manis baru dimulai sekitar tahun 2000-an dengan bantuan pemerintah daerah. Budidaya kayu manis yang dipusatkan di beberapa wilayah hutan balai adat di Kecamatan Loksado ini telah dikenal baik oleh masyarakat. Teknik penanaman dikembangkan dari biji dan cabutan anakan yang tumbuh di sekitar pohon kayu manis.
Sebelumnya kayu manis yang dipasarkan oleh masyarakat setempat berasal dari pohon kayu manis yang tumbuh alami di dalam hutan. Pohon kayu manis hanya bisa dipanen satu kali. Untuk mengambilnya, warga harus memasuki hutan belantara, berjalan hingga berjam – jam. Dari waktu ke waktu jarak yang ditempuh semakin jauh karena jumlah pohon kayu manis semakin berkurang.
Hanya saja, berbeda dengan masyarakat petani kayu manis di Kalimantan Selatan, cara pemanenan kayu manis di Jambi dan Sumatera Barat dinilai lebih lestari. Di Kalimantan Selatan, pohon kayu manis ditebang dahulu baru dikuliti, sedangkan di Jambi pemanenan dilakukan dengan menyisakanpotongan batang bawah (tunggul) yang akan dipelihara dan bisa bisa dipanen lagi 5-6 tahun kemudian.
Diinformasikan, tanaman kayu manis yang dikembangkan di Indonesia sebagian besar adalah jenis Cinnamomum burmanii Blume. Jenis kayu manis ini merupakan tanaman asli Indonesia. Hasil utama kayu manis adalah kulit batang dan dahan, sedang hasil ikutannya adalah ranting dan daun.
Komoditas ini selain digunakan sebagai rempah, hasil olahannya seperti minyak atsiri dan oleoresin banyak dimanfaatkan dalam industri-industri farmasi, kosmetik, makanan, minuman, rokok, dan sebagainya.

Iklan

EKSPEDISI MERATUS TEMUKAN FLORA FAUNA UNIK KALIMANTAN

Oleh Hasan Zainuddin

Hutan Tropis Basah Pegunungan Meratus (gambar: Meratusinstitute )
Banjarmasin,20/6 (ANTARA)- Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Koordinator Wilayah 08 Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan selama penjelajahan dan penelitian di kawasan Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, menemukan sejumlah flora dan fauna unik pulau itu
Kawasan yang menjadi target penjelajahan dan penelitian personil tim beranggotakan 118 tentara dan sipil ini adalah Pegunungan Meratus yang merupakan kawasan pegunungan yang membelah Provinsi Kalimantan Selatan yang membentang sepanjang sekitar 600 km persegi dari arah tenggara dan membelok ke arah utara hingga perbatasan Kalimantan Timur.
Satu persatu tanaman dan satwa yang dinilai unik dalam kegiatan mulai Rabu, 11 April 2012 ini diperhatikan dan terakhir seperti diungkapkan Mayor (Sus) Komaruddin, perwira sejarah TNI AU, kepada wartawan terdapat 193 temuan.
“Sebanyak 72 temuan penjelajahan dan penelitian tahap pertama dan 121 tahap kedua,” katanya seraya menyebutkan temuan tersebut antara lain bidang fauna seperti aneka jenis ular, aneka jenis kodok, aneka jenis kadal, aneka jenis tokek, aneka jenis burung, kera, tupai, bajing, musang, iguana dan satwa lainya,” katanya
Bidang flora antara lain aneka jenis anggrek, aneka jenis pakis, aneka jenis rotan, aneka jenis jamur, aneka jenis pohon meranti, kayu ulin, agathis, aneka jenis kantong semar, aneka jenis tanaman obat antara lain, Seluang Belum dan lain sebagainya .
Dari temuan tersebut yang paling terungkap kepermukaan adalah keberadaan kijang emas (Muntiacus atherodes), macan dahan (Neofelis nebulosa), serta temuan ular viper palsu (Psammodynastes sp) dan ular viper daun (Trimeresurus borneensis).
Bidang flora yang cukup menarik adalah ditemukan sebuah pohon Kayu raksasa jenis meranti putih yang disebut oleh penduduk setempat sebagai pohon damar hirang, dengan panjang keliling batang sekitar 13 meter dan garis tengah tiga meter.
Ditaksir pohon tersebut berusia ratusan tahun berada di hutan yang masih lebat di daerah Desa Kiyo Pegunungan Meratus.
Selain meneliti satwa dan tumbuhan tim juga meneliti budaya masyarakat setempat yang antara lain mencatat 28 varietas padi yang ada di Pegunungan Meratus.
Seperti diungkapkan seorang tim peneliti tim, yang juga peneliti IPB, Dr Abdul Haris Mustari, semua varietas padi disebut “banih” yang disebut dengan banih putih, banih siamunus, banih sabai, banih tampiko, banih buyung,banih salak,banih kihung, banih kunyit, banih kanjangan, banih briwit, dan banih saluang.
Padi lainnya disebut banih banyumas,banih harang, banih wayan, banih banar, banih kalapa, banih uluran, banih ambulung, banih patiti,banih benyumbang, banih santan lilin, dan banih sabuk.
Selain itu juga terdapat varietas padi lakatan atau pulut (ketan), seperti banih kariwaya, banih kalatan,banih harang, banih samad, banih saluang.
Dari 28 varietas tersebut padi buyung dan padi arai yang paling banyak dikembangkan karena rasanya yang enak, padi ditanam di lahan keting di lembah atau lereng sampai kemiringan 60 derajat, kata Mustari.
Selain itu budaya lain yang diteliti adalah atraksi budaya yang disebut “mahanyari,” sebuah upacara sakral ucapan terimakasih kepada sang pencipta saat pesta panen.
Kemudian masyarakat Dayak meratus juga diketahui memiliki kebudayaan memanfaatkan lahan yang disebut “Tanah Diagih.”
Tanah diagih bagaimana masyarakat Dayak Meratus membagi lahan menurut fungsi dan peruntukannya, dan ini telah berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurut adat istiadat Dayak Meratus, tanah atau hutan adat dibagi menjadi hutan lindung, hutan adat, hutan kramat, serta hutan pamali.
Hutan lindung adalah hutan yang diperuntukkan untuk menjadi sumber air dan mencegah banjir dan erosi serta untuk menjaga kesuburan tanah.
Di hutan lindung tidak diperkenankan menebang pohon dan akar-akaran serta tidak membuka ladang karena dianggap dapat merusak lingkungan.
Kemudian hutan adat adalah hutan yang terutama diperuntukkan sebagai sumber buah dan getah seeperti getah damar.
Sedangkan hutan keramat adalah hutan yang terdapat di lahan uburan, tempat arwah nenek moyang mereka bersemayam.
Di hutan keramat tidak diperbolehkan menebang kayu karena dianggap keramat, dan apabila terjadi pelanggaran, mereka percaya bahaya akan menimpa.
Yang terakhir hutan pamali adalah hutan tempat pemujaan, dimana terdapat terdapat pohon-pohon yang dianggap keramat misalnya pohon Kariwaya (sejenis pohon beringin).
Tim juga menemukan keramik ebanyak 14 macam, terdiri dari empat piring keramik, enam mangkuk keramik, tiga gamelan kuningan dan satu tatakan kuningan.
Seorang penemu kramik kepada tim menuturkan penemuan benda-benda kuno ini ketika sedang melaksanakan penggalian untuk pendulangan emas.
Keramik yang ditemukan tersimpan dalam satu gentong yang atasnya ditutup dengan gamelan pada kedalaman sekitar 2 meter.
Berdasarkan data di sepanjang Pegunungan Meratus ini memang kaya akan kandungan plora dan fauna, dan sekarang kawasan ini sudah banyak perkebunan karet.
Secara geografis kawasan Pegunungan Meratus terletak di antara 115°38¿00″ hingga 115°52¿00″ Bujur Timur dan 2°28¿00″ hingga 20°54¿00″ Lintang Selatan.
Pegunungan ini menjadi bagian dari 8 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yaitu Hulu Sungai Tengah (HST), Balangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Kotabaru, Tanah Laut, Banjar dan Tapin.
Pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang bisa dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah.
Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan beberapa vegetasi dominan.
Vegetasi dominan tersebut seperti Meranti Putih (Shorea spp), Meranti Merah (Shorea spp), Agathis (Agathis spp), Kanari (Canarium dan Diculatum BI), Nyatoh (Palaquium spp), Medang (Litsea sp), Durian (Durio sp), Gerunggang (Crotoxylon arborescen BI), Kempas (Koompassia sp), Belatung (Quercus sp).

aku bersama para anggota tim
193 temuan
Dalam keterangan kerakhir tim saat bersilaturahmi dengan Bupati HST Kalsel, Haji Harun Nurasid terungkap tim ini berhasil mencatat 193 temuan.
Mayor Komaruddin mengatakan Pulau Kalimantan yang merupakan salah satu pulau besar di dunia dan merupakan paru-paru dunia menjadi sasaran tim ekspedisi yang memerlukan penanganan optimal.
“Kalimantan memiliki kekayaan alam dan mineral melimpah yang belum terjamah manusia, namun kondisi alamnya menurun dan beberapa satwanya hampir punah, sehingga perlu ditangani secara baik oleh kita semua” ujarnya.
Lebih lanjut, Komaruddin memaparkan bahwa objek utama penjelajahan tim ekspedisi untuk melestarikan dan melindungi kawasan Pegunungan Meratus yang memiliki keanekaragaman hayati, fauna dan sebagai kawasan resapan air dan menjadi hulu daerah aliran sungai.
Bupati pada kesempatan yang sama juga mengucapkan terima kasih kepada tim ekspedisi karena sudah menjelajah dan meneliti hasil temuan yang ada di pegunungan meratus.
“Saya berharap kepada para personel tim ekspedisi agar menuntaskan penjelajahan dan penelitiannya, dan hasil temuannya seyogianya bisa disampaikan ke kemerintah daerah,” ujarnya.
Selain itu, Harun juga menyampaikan bahwa hasil penjelajahan ini sangat luar biasa karena banyak sekali flora dan fauna serta keanekaragaman hayati yang belum terjamah oleh manusia.

Diantara temuan2 tim