SULTAN INGINKAN TALI PERSAUDARAAN KULAAN DIPERERAT

Oleh Hasan Zainuddin

Sultan

Banjarmasin, (Antara) – Bupati Banjar, Kalimantan Selatan, Sultan Khaerul Saleh menginginkan tali persaudaraan antara kulaan Banjar Banua (Kalimantan Selatan) dan kulaan Banjar Negeri Malaysia dipererat lagi.

“Saya berterima kasih kepada Kulaan Banjar Malaysia yang sudah berkunjung ke Martapura, dan moga saja hal ini akan membuka peluang kunjungan lebih banyak lagi Kulaan Banjar Malaysia ke daerah ini,” kata Sultan Khaerul Saleh di Kota Martapura, 45 KM Utara Banjarmasin, Kamis.

Khaerul Saleh yang secara budaya dinobatkan sebagai raja Banjar tersebut, mengharapkan selain kunjungan warga Malaysia keturunan Suku Banjar ke Banua tentu juga kunjungan warga Banjar Banua ke negeri Semenanjung Malaysia juga ditingkatkan.

Kepada perantau Suku Banjar yang berhasil menjadi pengusaha atau pejabat di negara jiran tersebut, diharapkannya tidak melupakan tanah nenek moyangnya di Banua.

Kedatangan 19 anggota Kulaan Banjar Malaysia ke Martapura tersebut merupakan bagian dari rangkaian perjalanan wisata ziarah mereka ke tanah ato (nenek moyang) tersebut.

Selama di kota intan Martapura, kulaan Banjar tersebut mengunjungi pendulangan intan di Desa Cempaka Kota Banjarbaru, serta ke pusat cenderamata Bumi Selamat Martapura, serta ke sentra perdagangan intan dan batu permata di kota santri tersebut.

Sebelumnya mereka juga sudah mengunjungi beberapa wilayah di Kalsel, seperti ke Kalua, Amuntai, Kandangan, Rantau, dan Barabai yang konon merupakan asal para ato nenek mereka.

Para Kulaan Banjar Malaysia tersebut adalah generasi ketiga hingga keempat dari nenek moyang mereka, ke wilayah ini semata-mata ingin tahu tanah kelahiran ato tersebut.

Selain itu mereka mencari susur galur (juriat) atau keluarga jika masih ada di Banua, khususnya di daerah yang dikunjungi tersebut, kata Muhthar Mdnoor selaku ketua rombongan.

Sewaktu di Banjarmasin selain ke makam Sultan Suriansyah rombongan juga ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Sewaktu di lokasi tersebut beberapa di antara Kulaan Banjar Malaysia itu sempat meneteskan air mata.

“Saat berada di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin beberapa di antara 19 anggota Pertubuhan Banjar Malaysia tersebut berlinang air matanya, mereka membayangkan dari pelabuhan inilah ato (nenek moyang mereka) berkayuh hingga sampai ke Semenanjung Malaysia,” kata Muhthar Mdnoor.

Hari terakhir Jumat (28/11) setelah selama lima hari di wilayah ini, akan ke Pasar Terapung Loka Baintan serta kunjungan ke stasiun televisi Banua, Banjar TV.

KEMILAU PERMATA “KOTA INTAN” MAGNET WISATAWAN

Oleh Hasan Zainuddin

 

Bupati Banjar,Pangeran Khairul Saleh sedang mendeteksi kualitas Intan

 


“Kalau tidak berkunjung ke Kota Martapura, rasanya kurang sempurna dalam kunjungan ke Banjarmasin,” kata Ketua Komisi I bidang hukum dan pemerintahan DPRD Kalsel H Achmad Bisung kepada tamunya Komisi I DPRD Sumatera Selatan (Sumsel).

“Kota intan,” Martapura Ibukota Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan salah satu kota tujuan wisata di provinsi ini lantaran selain terdapatnya pendulangan intan tradisional, juga memiliki sebuah lokasi sentra penjualan batu permata terbesar di Indonesia.

Lokasi pasar yang disebut sentra penjualan batu permata tersebut yaitu pertokoan Cahaya Bumi Selamat Martapura (CBSM) yang terdapat ratusan kios khusus menjual batu permata, sekaligus diramaikan ratusan lagi pedagang kali lima juga menjual batu permata tersebut.

“Komisi I DPRD Kalsel walau tidak membidangi industri dan perdagangan, serta kepariwisataan, tetapi juga ikut mempromosikan wisata permata Martapura, yang berada sekitar 40 kilometer utara Banjarmasin,” kata Achmad Bisung.

Makanya kalau tidak sampai ke Martapura, namanya bukan ke tanah Banjar (sebutan umum daerah Kalsel sejak tempo dulu),” tambahnya.

Ketua Komisi I DPRD Kalsel itu mengatakan, di Martapura terdapat beragam jenis permata dari batu-batuan hasil pendulangan masyarakat setempat.

Permata itu dari harga termurah atau Rp5.000 per biji sampai termahal mencapai jutaan rupiah seperti intan berlian. Bahkan untuk intan berlian per biji ada yang mencapai ratusan juta rupiah, ujar politisi senior Partai Demokrat tersebut.

“Bapak dan ibu bisa memilih permata jenis apa saja, sesuai harga sebagai oleh-oleh buat istri atau keluarga,” lanjut mantan Wakil Ketua Komisi III bidang pembangunan dan infrastruktur DPRD Kalsel yang juga membidangi pertambangan dan energi itu.

“Jadi mumpung ke Kalsel, sempatkan mampirke Martapura yang juga mendapat julukan sebagai Serambi Mekkah Kalsel,” katanya berpromosi.

Bupati Banjar, Ir Gusti Khairul Saleh dalam beberapa kesempatan selalu menyatakan, pusat pertokoan CBSM merupakan kebanggaan kabupatennya dan kebanggaan Provinsi Kalsel.
“Bahkan boleh jadi CBSM menjadi kebanggaan Indonesia, karena lokasi itu sudah begitu dikenal di luar negeri, khususnya kalangan pedagang batu permata intan, masalahnya intan Martapura memiliki kualitas sangat tinggi dan banyak dicari penggemar batu mulia tersebut,” katanya.

Pemerintahnya menjadinya CBSM sebagai objek wisata andalan, yang selalu dipromosikan melalui berbagai famplet dan brosur baik yang disebarkan Pemkab Banjar, maupun Pemprov Kalsel.

Melihat kekhasan objek wisata itu, maka sudah dipastikan baik pejabat negara, maupun pejabat pemerintah provinsi dan kabupaten di tanah air bila berkunjung ke Banjarmasin atau ke Kalsel selalu mengunjungi CBSM.

Menurut, Muksin seorang pedagang di pertokoan CBSM, bukan hanya pejabat yang selalu berkjunjung ke lokasi tersebut tetapi tak sedikit kalangan artis yang datang khusus mencari berlian.

Mengutip keterangan kalangan selebriti, Muksin menuturkan para artis tersebut belum berbangga hati bila tidak menggunakan cincin atau liontin bermata berlian Martapura.

Kelebihan berlian Martapura karena putih bening dan bersih, sehingga berkilau atau bersinar kalau digunakan sebagai batu perhiasan, berliannya lebih bening ketimbang berlian dari luar negeri yang biasanya warnanya agak kecoklatan atau warna “cocacola”, atau ada bercak hitam yang disebut “batahi lalat”.
Pedagang dari Negara Lain
Bukan hanya berlian yang dicari pendatang ke Martapura, tetapi juga aneka permata lain, seperti zamrud, yakut, merah delima, dan aneka batu permata lainnya.

Masalahnya, Martapura selain memiliki perajin berlian juga ratusan perajin batu permata yang lain.

“Banyak pedagang batu permata dari berbagai negara lain, seperti dari India, Birma, Thailand, Singapura, Afrika Selatan, Malaysia, bahkan dari negara Eropa datang ke Martapura membawa bahan baku batu permata,” kata Muksin.

Bahan baku batu permata tersebut dijual oleh mereka ke perajin setempat, kemudian oleh perajin setempat diolah menjadi batu cincin, batu giwang, liontin, dan jenis batu permata lainnya.

Oleh karena itu batu permata apa saja tersedia di CBSM Martapura ini, karena bahan baku yang datang dari berbagai penjuru.

Para pedagang batu permata yang menjual bahan baku tersebut keumudian uangnya dibelikan lagi berbagai olaharan batu permata Martapura termasuk berlian yang kemudian dijual kembali oleh mereka ke negara asal.

Pengakuan para pedagang permata, Martapura sudah memiliki nama besar di kalangan pedagang permata, kalau permata di jual di daerah lain, harganya bisa turun tetapi kalau dijual di Martapura harganya bisa selangit.

Oleh karena itu banyak kalangan pedagang permata yang selalu ingin bertransaksi di kota ini, karena banyak pemburu permata berkeliaran di kota kecil tersebut.

Berdasarkan keterangan pedagang yang lain, kawasan pertokoan SBSM Martapura benar-benar menjadi magnet uang, karena setiap hari miliyaran rupiah uang beredar di kawasan ini.

Ratusan jenis batu permata olahan dari bumi orang Banjar ini diburu warga dari berbagai kota di Indonesia, dan negara lain.

Engkon seorang pemilik kios mengaku setiap hari dirinya dapat menjual puluhan jenis batu permata. Dari penjualan tersebut memperoleh omset antara Rp5 juta hingga Rp10 juta rupiah per hari.
Transaksi Di Pinggiran
Kelebihan lain wilayah ini juga terdapat lokasi-lokasi tertentu di pinggiran CBSM yang terdapat kegiatan transaksi berlian dan batu permata lainya dengan omset tak sedikit.

“Kalau nanti kalian lihat di belakang pasar ada orang yang asyik duduk-duduk seperti tidak ada kerjaan, jangan salah sangka, mereka itu bukan gelandangan tetapi justru orang-orang kaya,” kata seorang pemandu wisata kepada tamunya.

Di kantong mereka penuh dengan batu-batu berlian, yang kalau diuangkan bisa mencapai miliaran rupiah, tambah pemandu wisata tersebut lagi kepada tamunya.

Seorang wisatawan pun pernah bercerita saat sampai di CBSM bergegas menuju belakang pasar membuktikan ucapan pemandu wisata tersebut.

Ternyata benar saja, terlihat seorang pemuda sedang duduk di antara motor-motor yang sedang diparkir sambil memegang sebuah kaca pembesar untuk melihat batu intan atau batu permata lain yang sudah digosok.

Mengukur karat batu permata di CBSM dengan cara memasukkan batu berlian itu ke lubang-lubang pada sebuah pelat besi untuk mengukur nilai karatnya.

Setelah selesai meneliti batu permata, pemuda itu mengembalikan ke seorang bapak berusia paruh baya yang sedang berbincang dengan empat orang rekannya di teras sebuah toko yang tutup.

Di sudut lain, seorang pedagang sedang melihat-lihat batu intan menggunakan kaca pembesar. Untuk melihat apakah ada cacat atau retakan di batu intan yang masih mentah itu.

Karena bila ada cacat akan mempengaruhi harga jualnya, rupanya pedagang itu sedang bertransaksi dengan pendulang batu intan tradisional yang setelah berhasil mendulang lalu datang ke lokasi kaki lima itu untuk dijual.

Berdasarkan keterangan pedagang permata kaki lima tersebut memang lebih suka berdagang seperti itu dibandingkan bila harus menyewa toko, dan itu malah menjadikan Pasar Intan CBSM menjadi lokasi transaksi berbeda.

Keunikan ini menjadi daya tarik untuk para wisatawan berkunjung ke Kota Martapura.

Berbagi jenis batu permata yang dibentuk menjadi perhiasan berupa gelang, kalung, cincin, hingga bros dan bentuk hisanan cendramata lainya dijual di kawasan pertokoan CBS ini.

Aneka batu-batuan yang menjadi perhiasan, antara lain akik, biduri bulan, topas, merah siam, merah daging, merah delima, cempaka, berlian, anggur, giok, intan, kuarsa, kecubung, mutiara, mata kucing, pirus, safir, yakut, zamrud, ruby,opal, spinel, bloodstone, tashmarine, quattro, dan alexandrite.

Batu permata lain yang juga terdapat di sini tetapi belum ada nama Indonesia seperti, chrysoberyl, chrysocolla, chrysoprase, hematite, jasper, kunszite, lapis lazuli, malachite, obsidian, olivine atau peridot, pyrite, tanzanite, tourmaline, dan zircon.

Kelebihan lain Kota Martapura, adalah kota santri lantaran banyak sekali pesantren di kota ini yang paling terkenal adalah pesantren Darussalam.

Objek wisata ziarah juga banyak di daerah ini seperti makam makam KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, makam Syeh Muhamad Arsyah Al Banjari, serta masjid Al Koramah.

perajin batu cincin

WISATA PASAR TERAPUNG LOK BAINTAN SUNGAI MARTAPURA

foto anas

Pasar terapung di Muara Sungai Kuin-Barito, telah lama menjadi salah satu primadona wisata di Kalimantan Selatan.
Pasar terapung yang berada di pinggiran kota Banjarmasin, tak pernah dilupakan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara bila bertandang ke Kalimantan Selatan. Apalagi Pasar terapung sejak bertahun-tahun telah menjadi ikon salah satu televisi swasta terbesar, melalui “jinggle” seorang ibu di atas “jukung” dan mengacungkan jempol “… OK”.
Namun bagi wisatawan bosan dengan suasana Pasar Terapung Muara Kuin-Barito dengan Pasar Terapung Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar dapat menjadi alternatif.
Terutama bagi pelancong yang datang ke Banjarmasin malas bangun terlalu pagi.
Umumnya Pasar Terapung di Kalimantan hanya ramai saat subuh hingga pagi hari. Namun tidak demikian dengan Pasar Terapung Lok Baintan. Pasar terapung yang satu ini bisa dinikmati pada siang hari.
Secara umum, Pasar Terapung Lok Baintan tak beda dengan Pasar Terapung di muara Sungai Kuin/Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar tradisional di atas jukung yang menjual beragam dagangan, seperti hasil produksi pertanian/perkebunan dan berlangsung tidak terlalu lama, paling lama sekitar tiga hingga empat jam.
Pasar terapung di muara Sungai Kuin/Sungai Barito aktivitasnya mulai sebelum subuh atau sekitar pukul 03.30 Wita hingga matahari beranjak naik sekitar pukul 06.30 Wita. Sementara di Lok Baintan, aktivitas pasar terapung mulai menjelang siang, sekitar pukul 09.00 Wita hingga jam 11.00 Wita.
Selain itu, Pasar Terapung Muara Kuin berada di hilir sungai yang lebar dan dalam, sedangkan pasar terapung di Lok Baintan berada pada kawasan hulu Sungai Martapura dan keadaannya pun tidak sedalam dan selebar Sungai Barito.
Untuk menuju obyek wisata Pasar Terapung Lok Baintan yang baru muncul atau diketahui khalayak luar daerah pada dekade 1990-an itu, bisa melalui jalan darat dari Banjarmasin ke arah Sungai Tabuk, melewati Jalan Martapura Lama/Jalan Veteran. Kalau jalan darat, bisa naik “taksi” atau angkutan pedesaan jurusan Sungai Tabuk – Banjarmasin ataupun ojek.
Bila naik mobil pribadi atau carter, maka di sekitar Jalan Veteran kilometer 11 harus turun dan naik ojek lagi menuju lokasi pinggir Sungai Martapura tempat aktivitas pasar terapung tersebut.
Jika naik angkutan Pedesaan tarifnya sekitar Rp3.500 perorang dengan lama perjalanan sekitar 15 menit dari Terminal Induk-Jalan A.Yani Banjarmasin.
Selain jalan darat, pelancong juga bisa menggunakan angkutan sungai, seperti naik klotok (perahu bermotor kecil) dengan rupa-rupa ukuran dari isi sekitar delapan orang hingga 14 orang.
Pelancong bisa naik dari dermaga masjid Sungai Gardu di Jalan Veteran, dengan biaya carter sekitar Rp250.000 dan lama perjalanan sekitar dua jam.
Lok Baintan, merupakan salah satu obyek wisata yang hendak dikembangkan Pemerintah Kabupaten Banjar.
Pemerintah setempat juga melakukan pembinaan terhadap sejumlah obyek wisata andalan, seperti kawasan pendulangan intan tradisional, serta obyek wisata alam Lembah Kahung, yang termashyur dengan keindahan panorama alam kawasan Pegunungan Meratus yang masih lestari.
Lembah Kahung yang berada dekat kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Riam Kanan, Kabupaten Banjar tersebut belakangan menjadi perhatian dan menjadi kegiatan pecinta alam atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan hidup di Kalimantan Selatan.

LOK BAINTAN, PEWARIS BUDAYA SUNGAI TERMEGAH DI KALSEL
SEPULUH jukung (perahu khas Kalimantan Selatan) berarak melaju cepat dengan ditarik sebuah kelotok (perahu bermesin tempel). Formasi kelotok yang menjadi “abang pengojek” dan jukung sebagai penumpang itu menyerupai anak panah yang melesat membelah Sungai Martapura.

HARI itu Matahari pagi di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), belum muncul. Semburat merah dari timur hanya menjadi satu-satunya sumber cahaya yang memandu konvoi para jukung milik petani.

Jukung yang merupakan perahu kecil yang terbuat dari kayu utuh itu memuat beraneka macam hasil pertanian. Para pemilik jukung yang didominasi perempuan semuanya memakai tanggui, caping lebar khas Kalsel yang terbuat dari daun rumbia.

Beberapa kelompok konvoi jukung, baik yang mengojek kelotok maupun hanya dengan mendayung sendirian, bergegas menuju lokasi pasar terapung. Mereka seolah berlomba adu cepat sampai ke tujuan.

PUKUL 06.30 suasana pasar terapung di Lok Baintan sudah ramai. Semua dagangan yang mereka bawa adalah hasil kebun yang baru saja mereka petik. Aneka buah-buahan, mulai dari sirsak, srikaya, nanas, pisang, hingga rambutan menjadi pemandangan menyegarkan.

Sayuran kampung beraneka jenis, mulai dari daun singkong, kacang panjang, kangkung, hingga sayuran khas Kalsel, yaitu daun jaruk tigaron. Cabai lokal, ikan lokal, umbi keladi lokal, padi lokal, hingga umbut kelapa untuk sayuran acara perkawinan tersedia di pasar terapung.

Pasar terapung di Lok Baintan memang unik. Mereka tidak hanya menunggu di suatu tempat untuk bertransaksi, melainkan bergerak mengikuti aliran arus. Masyarakat setempat menyebutnya pasar balarut (berlarut). Jika ada yang membutuhkan barang dagangannya, pembeli dengan jukungnya akan menghampirinya sambil berlarut bersama arus sungai.

Pukul 08.30 pasar terapung yang hanyut terbawa arus sejauh satu kilometer sampai di bawah jembatan gantung. Masih ada satu kilometer lagi untuk bisa melihat pasar hanyut dari atas jembatan.

Dari atas jembatan itulah keajaiban, kemegahan, dan keindahan budaya sungai terlihat dan bisa dirasakan. Ratusan, bahkan pada musim tertentu mencapai ribuan jukung terlihat berjejal menutupi sebagian ruas Sungai Martapura.

LOK Baintan selama ini belum pernah tercatat sebagai lokasi pasar terapung yang patut dikunjungi oleh agen-agen travel. Entah mengapa, sangat sedikit warga Kota Banjarmasin yang mengetahui bahwa tidak jauh dari Banjarmasin ternyata ada pasar terapung, the real floating market.

Selama ini, pasar terapung yang menjadi andalan Kalsel adalah di Kuin, Banjarmasin. Akan tetapi, kini kondisi pasar terapung di Kuin sudah tidak sealami dulu, berangsur sepi.

Untuk melihat pasar terapung di Kuin dari dekat hanya bisa dilakukan dengan menggunakan kelotok. Selain ombak sungai yang besar, kondisi Sungai Barito di Kuin yang dekat dengan industri penggergajian kayu membuat pemandangan tidak sedap.

Banyak pedagang di pasar terapung Kuin yang berasal dari daerah lain, sedangkan di Lok Baintan “pesertanya” hanya dari daerah sekitar yang benar-benar merupakan komunitas masyarakat sungai. Tradisionalisme dan terjaganya alam sekitar Lok Baintan benar-benar menjadi kekuatan pamor pasar terapung.

Lok Baintan dari Banjarmasin bisa diakses dengan dua cara, yaitu dari darat atau melalui sungai dengan menyewa kelotok. Jalan darat ditempuh dari Kota Banjarmasin ke Pasar Subuh Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk, sekitar 10 kilometer dari Banjarmasin. Kemudian dari pasar Sungai Lulut menerabas jalan tanah selebar dua meter yang masih darurat dan becek sekitar lima kilometer menuju Lok Baintan.

Jika melalui sungai, sesampainya di Pasar Sungai Lulut, kendaraan diparkir dan kemudian menyewa kelotok menuju Lok Baintan. Lama perjalanan sekitar 45 menit.

Tarif normal kelotok ke Lok Baintan bervariasi dulu sekitar Rp 30.000, sekarang sudah sekitar ratusan ribu  dan jika sewa penuh setengah hari sekitar Rp200.000. Hanya saja, sulit mendapatkan kelotok pada pagi hari karena memang tidak ada jalur reguler menuju Lok Baintan.

Tidak adanya akses jalan darat yang memadai memang membuat antusiasme wisatawan rombongan menuju Lok Baintan berkurang. Akan tetapi, kondisi itu sebenarnya justru menjadi penyelamat Lok Baintan sehingga sampai kini komunitas sungainya masih tetap lestari.

Pihak Dinas Pariwisata Kalsel mengakui bahwa pasar terapung Lok Baintan merupakan alternatif pasar terapung Banjarmasin yang kini telah dikenal. “Pasar terapung Lok Baintan memang masih sangat alami. Kami akan menjadikannya alternatif pasar terapung selain yang di Kuin, Banjarmasin,” katanya.

PROMOSI memang menjadi kunci keberhasilan untuk mengenalkan budaya unik masyarakat dengan membalutnya sebagai event wisata. Selama ini Kalsel hanya dikenal lewat Banjarmasin yang peradabannya sudah beralih ke urban.

Di kala semua orang modern bermimpi naik mobil mewah dan Jakarta sibuk membuat busway, Lok Baintan tetap tenang dan tetap yakin memakai jukung sebagai “mobnas” mereka dengan Sungai Martapura sebagai jalan tol.

Jika ingin melihat pameran jukung terbesar, pameran rumah terapung, atau pameran budaya Banjar sesungguhnya, tengoklah Lok Baintan. “Pameran rakyat” yang menceritakan asal muasal peradaban di kota itu kini eksistensinya terancam karena debit sungai terus naik akibat perusakan hutan di bagian hulu.

Sungai Martapura dengan kekayaan sumber daya budaya dan sumber daya alam kini telah menciptakan sebuah peradaban yang berbeda dengan kota. Hanya saja, bangunan sosial dan bangunan fisik mereka kini mendapat stereotip “kampungan”, “jorok”, “kumuh”, dan “miskin”.

Untuk mempertahankan budaya sungai beserta transportasinya, pakar sungai yang juga pengajar di Fakultas Teknik Sipil Universitas Lambung Mangkurat, Robertus Chandra Wijaya, mengatakan, yang perlu, ada konsep yang jelas untuk apa sungai itu akan digunakan.

Pemerintah harus segera menetapkan apakah sungai-sungai di Banjarmasin akan digunakan untuk fungsi drainase saja, atau navigasi saja, atau sekaligus untuk drainase dan navigasi. “Ataukah hanya untuk memenuhi kebutuhan penduduk di tepi sungai itu,” katanya.

Daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu sudah gundul. “Di sana dulu ada areal HPH (hak pengusahaan hutan) yang sekarang ditinggalkan dan gundul,” katanya(amir s).

Pasar Terapung Lok Baintan

LOK BAINTAN, kini secara kasat mata, boleh jadi merupakan pasar terapung terbesar di Kalimantan Selatan dan tentu saja di dunia (sebab di dunia cuma ada di sini yang alami). Keunikannya tak tertanding, eksotikanya pun demikian.

Bayangkan, orang bertransaksi dengan perahu terus melaju. Barang dagangannya pun hanya dari hasil bumi. Pendeknya, mereka semua adalah sekumpulan petani yang menjual hasil buminya ke sini.

Pasar terapung yang terletak di kecamatan Sungai Tabuk ini, pelaku pasarnya berasal dari Pamakuan, Sungai Tapang, Lok Baintan dan Sungai Tabuk sendiri. Aktivitasnya, dimulai selepas Subuh hingga sekitar jam 10.00 wita siang.

Karena transaksinya sambil melaju, pasar terapung semakin siang semakin jauh ke hilir. Eksotika lainnya, semua petani dan pedagang-nya memakai tanggui. Tanggui adalah topi besar dari daun rumbia khas Kalimantan Selatan.

Bukan itu saja, keramahan dan keakraban para petani dan pedagang yang semuanya dominan perempuan itu menambah pesona yang hadir di situ. Dan, melihat anek sayur-mayur yang hijau dan segar, seakan menghadirkan kesegaran jiwa bagi anda yang saban hari dijejali oleh kepenatan dan kejenuhan dunia kerja. Benar-benar eksotik.

Pasar Terapung Lok Baintan Dijadikan Objek Wisata Nasional

– Pemerintah Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan menjadikan lokasi pasar terapung Lok Baintan sebagai objek wisata nasional yang akan selalu dipromosikan ke berbagai daerah di tanah air dan mancanegera.

Bupati Banjar Ir Khairul Saleh kepada ANTARA di Banjarmasin, Kamis mengakui adanya keinginan tersebut, mengingat potensi pasar terapung untuk menjadi objek pariwisataan nasional begitu besar.

Masalanya kegiatan pasar terapung tersebut, termasuk unik dibandingkan objek wisata yang lain, seperti pasar terapung Desa Kuin Sungai Barito Banjarmasin yang sudah begitu dikenal luas.

Kelebihan pasar terapung Lok Baintan dibandingkan pasar terapung di Banjarmasin, adalah lama kegiatannya lebih panjang, kalau di Banjarmasin hanya sampai pukul 08:00 Wita sementara di Lok Baintan sampai pukul 10:00 Wita.

Kelebihan lain konsentrasi para pedagang dan pembeli di atas sungai yang menggunakan sarana jukung (sampan) di Lok Baintan di satu tempat, sementara di Banjarmasin terbagi dua dan agak terpencar.

Melihat waktu kegiatan pasar terapung Lok Baintan ini lebih panjang maka berpeluang lebih besar pula menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi, tinggal bagaimana pemerintah beserta mayarakat bisa mempromosikan keberadaan objek tersebut.

Untuk memudahkan akses ke objek wisata sungai Kabupaten Banjar tersebut, pihak Pemkab setempat akan membangunkan jalan darat hingga sampai ke lokasi objek wisata itu.

Dengan adanya jalan darat itu maka mudahkan pengunjung baik dari kota Banjarmasin ibukota propinsi, maupun dari Martapura ibukota kabupaten setempat, sebab selama ini ke arah objek ini hanya bisa dilewati melalui jalur sungai saja, tambahnya.

Selain jalan juga akan dibangunkan fasilitas lain seperti dermaga, tetapi pembangunan dermaga tersebut akan memperoleh bantuan dana dari Pemerintah Propinsi.

Ketika ditanya mengenai dunia kepariwisataan Kabupaten Banjar, ia menyebutkan memang sudah cukup berkembang, tetapi hanya pada dua objek seperti kepariwisataan keagamaan, yaitu ziarah ke makam ulama besar, Syech Muhamad Arsyad Al Banjari, desa Kelampaian, serta objek wisata belanta batu permata kota intan Martapura.

Kedua objek wisata yang sudah begitu dikenal tersebut akan dipelihara sebaik-baiknya disamping diusahakan untuk lebih ditingkatkan lagi dimasa-masa mendatang.

Khususnya wisata perbelanjaan batu permata akan diperluas lokasinya dan diperbanyak koleksi batu permata yang dijual di pusat perbelanjaan tersebut.

Berdasarkan informasi, kota Martapura sudah begitu dikenal luas sebagai lokasi transaksi batu permata, khususnya permata intan sehingga banyak pedagang dan pembeli dari berbagai kota di tanah air serta dari mancanegara yang “berburu” intan asli hasil pendulangan daerah setempat, konon berlian asal setempat lebih bening dan berkualitas tinggi.

Lok Baintan dan Tradisi Air yang Tersisa

Orang masih sering menyamakan pasar terapung dengan Kota Banjarmasin. Padahal, di Banjarmasin kini sudah sulit mendapatkan pasar terapung.

Di tempat bernama Kuin yang dulu identik dengan pasar terapung, kini jarang terlihat sampan-sampan yang menjual kebutuhan sehari-hari. Aneka toko swalayan mini di darat sudah menjadi pengganti bagi warga Banjarmasin untuk mendapatkan kebutuhan pokoknya, layaknya kota besar lain di Indonesia.

Namun, cobalah menaiki sampan yang menghulu Sungai Martapura ke arah timur. Sekitar lima kilometer dari Banjarmasin, tradisi berjualan di sungai masih terjaga di Lok Baintan. Mulai matahari terbit sampai sekitar pukul 10.00 Wita, di tengah Sungai Martapura, puluhan sampan melakukan transaksi. Pembeli maupun penjual sama-sama naik sampan.

Tradisi pasar terapung memang tradisi air. Tradisi ini hanya akan terjaga manakala airlah yang menjadi sarana transportasi utama. Di Lok Baintan, belum ada jalan darat yang layak untuk menuju tempat lain. Akhirnya, semua rumah di sana memang menghadap ke sungai.

Toko-toko di Lok Baintan pun menghadap ke sungai yang menyebabkan pembeli harus mengayuh sampan untuk mengunjunginya. Sebuah tradisi yang indah dan memancarkan harmoni dengan alam.

Keindahan Lok Baintan adalah keindahan air. Keindahannya hanya tetap ada manakala sumber airnya tersedia. Sampai kapankah keindahan ini akan terjaga

LIMBAH, AIR BARITO DAN MARTAPURA TAK ENAK LAGI BAGI KEHIDUPAN

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, 3/6 (ANTARA) – Bila selama ini Air Sungai Barito dan Sungai Martapura Kota Banjarmasin menjadi tumpuan kehidupan warga setempat, sekarang ini tumpuan demikian agaknya sudah tak bisa lagi diandalkan mengingat terpaan limbah telah merubah kebersihan air di kedua sungai tersebut.

Seperti diketengahkan Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan Drg.Rosihan Adhani,MS kepada wartawan di Banjarmasin, Jum’at bahwa air tersebut tak bisa dikonsumsi begitu saja tanpa melalui proses pengolahan yang benar.
Contohnya saja, bila air itu dikonsumsi tanpa proses yang baik bisa terjadi kecacatan terhadap bayi maupun warga, karena air sudah tercemar limbah pertambangan emas dan penambangan batubara skala besar di hulu-hulu sungai.
Dari hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kalsel yang dilakukan secara berkala, penyakit yang berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan terbesar masyarakat.
Hal tersebut tercermin dari masih tingginya kejadian seperti keracunan dan timbulnya penyakit yang berbasis lingkungan demikian.
Kondisi ini di disebabkan masih buruknya kondisi sanitasi dasar terutama air bersih dan penggunaan jamban keluarga yang tidak memperhatikan ketentuan kesehatan.
Selain itu, perilaku hidup sehat masyarakat juga masih sangat rendah, yang diantaranya tercermin dalam kurang bersihnya pengelolaan bahan makanan serta buruknya penatalaksanaan bahan kimia dan pestisida yang kurang memperhatikan aspek kesehatan.
Data hasil survei yang dilakukan Dinkes sejak tahun 1995, kematian bayi di Kalsel rata-rata disebabkan karena buruknya kondisi lingkungan.
Penyakit akibat faktor lingkungan tersebut diantaranya, Asthma, 2,5 persen, Pneumena 16,4 persen, Diare, 11,4 persen, tetanus, 4,7 persen, ISPA, 3,9 persen, Ensefalitis 2,5 persen, Bronchitis 2,5 dan Emfisema, 2,5 persen.
Sementara itu, Rusdiansyah SH, Kasi pengawasan tempat umum dan lingkungan, mengungkapkan, kendati air sungai sudah tercemar, asalkan warga mengolahnya dengan benar, air sungai Barito dan Sungai Martapura bisa saja dikonsumsi.
Menurutnya, sebaiknya sebelum air yang tercemar limbah tersebut di konsumsi maka terlebih dahulu di endapkan baru kemudian di rebus hingga mendidih 100 drajat celcius selama satu menit, dengan demikian diharapkan bakteri yang ada dalam air tercemar tersebut bisa mati.
Sebagaimana diketahui, hingga saat ini warga Banjarmasin, terutama yang tinggal di pinggiran sungai masih sangat tergantung dengan keberadaan sungai untuk melakukan aktivitas sehari-hari baik itu, mandi, mencuci memasak dan membuang air besar.
Bahkan beberapa warung yang berada di pinggir sungai, masih sering mencuci beras disungai tersebut secara langsung, padahal di sungai itu juga warga lainnya membuang air besar.
Berdasarkan keterangan budaya masyarakat Banjarmasin yang banyak membuang air besar (Tinja) kangsung ke sungai melalui budaya jamban menyebabkan kandungan bakteri coliform yang berasal dari tinja manusia tersebut sangat tinggi di dalam air kedua sungai tersebut dan kandungannya jauh berada dari ambang batas toleransi.
Bila air yang tercemar bakteri coliform tersebut dikonsumsi tanpa proses pemanasan yang sesuai maka bisa menimbulkan penyakit diare serta infeksi pencernaan.
Bukti demikian bisa dilihat dikala air PDAM mecet pada musim kemarau dan banyak warga mengandalkan air sungai untuk makan dan minum maka akhitnya sering terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit diare di kota Banjarmasin.
Kantor Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Banjarmasin sendiri juga mengungkapkan akibat begitu tingginya tingkat pencemaran limbah di sungai maka kandungan oksigen dalam air Sungai Barito dan Martapura terus berkurang.
Akibat dari kandungan oksigen dalam air (DO) terus berkurang maka beberapa jenis ikan air Sungai Martapura kini menghilang. kata Kepala Bapedalda Kota Banjarmasin, Hesly Junianto,SH.
Didampingi Kepala bidang Pengawasan dan Pengendalian Bapedalko Banjarmasin, Drs.Hamdi dan staf lainnya, Hesly Junianto mengutarakan hasil penelitian pihaknya ternyata kandungan oksigen dalam air tersebut di bawah ambang batas.
Sebagai contoh saja, kandungan udara dalam air yang ideal 6 miligram (Mg) per liter, tetapi nyatanya di sepuluh titik lokasi yang diteliti kondisinya sudah memprihatinkan.
Akibatnya banyak ikan yang tidak bisa lagi bernapas lantaran oksigen yang kurang itu, tambahnya seraya menyebutkan berkurangnya oksigen tersebut tersebut karena begitu tingginya tingkat pencemaran di sungai.
Seperti pencemaran limbah rumah tangga, limbah industri, serta limbah alam lainnya, di Kota Banjarmasin masyarakat terbiasa membuang sampah ke sungai, sementara 23 industri kayu dan industri lainnya skala besar di pinggir sungai juga dinyatakan positip mencemari air dikedua sungai tersebut.
Pencemaran limbah demikian mengakibatkan limbah itu harus diproses oleh jasad organik dalam air. Jasad-jasad dalam air yang memproses limbah air tersebut ternyata memerlukan oksigen cukup besar pula akhirnya jumlah oksigen di dalam air terus berkurang.
Dampak kian berkurangnya jumlah oksigen tersebut adalah menghilangnya beberapa jenis ikan terutama ikan khas Sungai Martapura seperti Kelabau, Sanggang, Jelawat, serta ikan Puyau.
Berdasarkan penelitia tersebut kandungan oksigen di dalam air sungai yang diteliti seperti di Sungai Basirih kandungan udaranya mencapai 5,36 Mg/L, air Sungai Mantuil 5,8 Ml/L, air Sungai pelambuan 5,8 Mg/L, air Sungai Kuin Cerucuk 4,8 Mg/L, air Sungai Kayutangi 4,78,Ml/L, air Sungai Banua Anyar 4,79 Ml/L, air Sungai Bilu 5,03 Ml/L, air Sungai Baru 4,74 Ml/L, serta air Sungai Muara Kelayan 4,79 Ml/L.
Sungai-sungai kecil yang diteliti itu merupakan anak sungai Martapura, sedangkan Sungai Martapura sendiri adalah bagian dari Sungai Barito.
Selain kandungan udara yang terus berkurang di sungai yang membelah kota Banjarmasin tersebut ternyata kandungan besi juga ternyata terlalu tinggi di atas ambang batas hingga juga membahayakan kesehatan.
Menurutnya dalam acara jumpa pers yang dipandu oleh kepala Dinas Infokum Kota Banjarmasin, Drs.Bambang Budianto tersebut juga terungkap bahwa kandungan besi yang ideal untuk kehidupan hanyalah 0,3 Ml/l, tetapi hasil penelitian disepuluh titik lokasi juga sangat tinggi.
Pengaruh yang bisa dirasakan masyarakat Banjarmasin dengan kandungan besi yang tinggi tersebut banyak warga yang mengalami kerusakan gigi, tambahnya seraya menyebutkan kandungan besi itu lebih banyak karena faktor alam yang berawa-rawa.
Hasil penelitian kandungan besi yang ada seperti di sungai Basisih terdapat kandungan besi 1,1 Mg/L, air Sungai Mantuil 1,91 Mg/L, air Sungai Pelamuan 1,5 Mg/, air Sungai Suaka Insan 1,65 Mg/L, air Sungai Kuin Cerucok 2,08 Mg/L, di air Saungai Kayutangi 1,76 Mg/L, dan air Sungai banua Anyar 1,84 Mg/L.
Berdasarkan cacatan lain bukan hanya kandungan besi, yang tinggi di kedua sungai membelah kota Banjamasin tertapi juga terdapat kandungan logam berat lainnya yang kalau tidak diantisipasi berbahaya bagi kesehatan, seperti kandungan tembaga, maupun kandungan timah hitam.
Melihat kondisi sungai yang demikian, maka berbagai kalangan menganjurkan agar pemerintah lebih serius menangani sungai dan membuat peraturan daerah (Perda) tentang sungai yang memberikan sanksi berat kepada warga maupun industri membuang limbah ke sungai.
Dengan upaya demikian diharapkan mamou mengembalikan fungsi sungai bagi kehidupan masyarakat Banjarmasin sekaligus memperkuat posisi kota Banjarmasin yang dijuluki dengan kota air.