DAS BARITO TAK SEJAYA DULU LAGI

 

barito
Oleh Hasan Zainuddin

Ekspedisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito telah usai dilaksanakan selama empat hari yang dilakukan oleh kelompok pecinta lingkungan Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) serta Balai Wilayah Sungai (BWS) II dan peneliti melakukan observasi terhadap kondisi sungai terpanjang di Kalimantan Selatan tersebut.
Selain melakukan pengamatan dan pengambilan sampel air dari DAS Barito bagian hilir hingga hulu, tim ekspedisi juga memantau daerah aliran sungai yang terkait langsung dengan sungai Barito. Anak–anak sungai, sumber mata air yang bermuara ke sungai Barito turut menjadi titik fokus dalam ekspedisi ini.
Perjalanan sejauh 500 km lebih dari Banjarmasin menuju Puruk Cahu telah dilakukan untuk melihat kondisi Sungai Barito yang berhulu di lembah Pegunungan Muller dan bermuara di Laut jawa ini.
Sungai dengan panjang 909 kilometer yang mempunyai enam anak sungai utama ini mempunyai lebar rata-rata sepanjang 600-800 meter. Sungai Barito memegang peranan besar dalam peradaban masyarakat banua, baik dari segi kebudayaan, keagamaan, hingga perekonomian. Perannya sebagai tol perairan tentu tidak dapat digerus oleh kamajuan zaman.
Namun sangat disayangkan, keadaan Sungai Barito sudah tidak sejaya masa lalunya. Deforestasi kawasan sempadan sungai, abrasi, pendangkalan, pencemaran hingga hilangnya kawasan penyangga dan penampung air Sungai Barito sudah mencapai ambang batasnya.
“Selain kondisi perairannya, tim kami juga melakukan observasi pada indikator-indikator lain yang turut mempengaruhi kondisi sungai itu sendiri. Kondisi hutan, kenanekaragaman hayatinya, hingga kehidupan masyarakat bataran sungai juga turut kami kaji” ujar Ketua Ekspedisi DAS Barito 2017, Mohammad ARY.
Hasil observasi menunjukkan bahwa keadaan sungai barito saat ini sedang kritis. Sampah, cemaran dari kegiatan industri dan pertambangan diduga menjadi penyebab memburuknya kondisi sungai barito.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada aliran utama sungai barito, melainkan sudah terjadi pada anak-anak sungai hingga sumber-sumber air yang mengairi Sungai Barito itu sendiri.
Titik pengambilan sampel pada sungai Martapura, Riam Kiwa, Riam Kanan, Hantakan, Sungai Mahe dan beberapa sungai lainnya sepanjang Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah yang menunjukkan hasil yang mencengangkan.
“Kondisi keadaan air sungai yang berwarna keruh pekat, berbau amis, hingga rasa yang telah berubah merupakan indikasi utama bahwa sungai-sungai tersebut sudah tercemar,” kata Mohammad ARY.
“Tentunya hal ini akan kami kuatkan dengan hasil laboratorium dari sampel-sampel air yang telah kami kumpulkan pada setiap titik pengamatan”, tandas Ferry Hoesain selaku penanggung jawab tim ekspedisi menjelaskan keadaan Sungai Barito yang telah memprihatinkan.
“Tak luput kami juga menghimpun berbagai data dari pemerintah daerah terkait mengenai hasil pemantauan rutin mereka terhadap kualitas air DAS barito, kami harap ini akan menjadi satu kesatuan data yang mendukung temuan kami di lapangan” tambahnya lagi.
Selain sampel air dan kondisi kawasan sempadan sungai, data mengenai indikator biologis lingkungan darat dan perairan juga merupakan data utama yang dikumpulkan oleh tim peneliti. Dalam penentuan standar baku mutu dan kualitas air yang diperoleh dari sungai, terdapat setidaknya tiga indikator utama yang harus dikumpulkan, yaitu kondisi fisik, kimiawi dan biologis.
Untuk indikator fisik dan kimiawi dapat diacu berdasarkan standar baku mutu yang telah ada, sedangkan pemantauan terhadap indikator biologis harus dilakukan dengan prosedur yang berbeda.
“Indikator biologis yang terkait dengan sungai tentu sangat banyak sehingga memerlukan fokus dan waktu yang cukup lama. Pemantauan keadaan lingkungan, seperti keadaan vegetasi, flora dan fauna yang ada disekitar kawasan DAS terlebih yang menjadi bioindikator pencemaran harus diamati sedetail mungkin” jelas Zainudin Peneliti Muda Biodiversitas Indonesia yang juga tergabung dalam tim ekpedisi.
“Spesies bioindikator inilah yang dapat memberikan penjelasan kepada kita mengenai hasil pengukuran indikator fisik dan kimiawi lingkungan perairan yang telah diperoleh sebelumnya” ujarnya menerangkan.
Sungai yang sehat tentunya tidak terlepas pengaruhnya dari lingkungan dan keadaan ekosistem disekitarnya. Sampai saat ini kondisi sungai yang tercemar tidak bisa dilepaskan oleh kegiatan manusia.
Bahkan dapat dikatakan kondisi cemaran akan bertambah tinggi seiring dengan dekatnya sungai tersebut dengan pemukiman. Sebagai pengguna nomer satu masyarakat tentunya harus sadar bahwa menurunnya kualitas air yang mereka gunakan tidak terlepas dari kebiasaan buruk mereka dalam mengolah lingkungan.
Masyarakat tentunya harus faham betul tentang betapa pentingnya peran sungai terhadap kehidupan. Dengan demikian pencemaran yang dapat memperburuk kondisi sungai dapat diminimalisir.
Peran masyarakat menjadi penentu utama dalam memperbaiki dan menjaga sungai. Sungai sebagai nadi kehidupan, jalur perkembangan peradaban, dan bukti kemajuan zaman harus menjadi nilai-nilai yang dianut masyarakat dalam menumbuhkan kepeduliannya terhadap kelestarian sungai.

Usaha Ekonomi

Dalam perjalanan lima hari tim Melingai dan BWS yang tercatat 10 orang tersebut menyempatkan beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung Raya (Mura) Kalimantan Tengah, Pujo Sarwono.
Dalam pengakuannya kepada tim bahwa Sungai Barito terutama bagian hulu sekarang sudah “sekarat” karena banyaknya digunakan oleh masyarakat untuk tempat usaha ekonomi, seperti pertambangan pasir serta pertambangan emas.
Jalur Sungai Barito Jarak antara Puruk Cahu-Sungai Kunyit dalam perjalanan sekitar tiga jam menggunakan spead boat ditemukan tak kurang dari seribu usaha ekonomi rakyat yang mengandalkan sungai tersebut.
Menurut Pujo Sarwono dengan adanya usaha ekonomi rakyat tersebut tentu telah merusak kondisi air Sungai Barito karena pasti terkontaminasi dengan bahan-bahan kimia yang biasa digunakan dalam usaha pertambangan, seperti mercuri.
Kondisi itu terjadi lantaran masyarakat menilai lebih menguntungkan usaha di sungai ketimbang di darat dalam upaya mencari sesuap nasi.
Masalah usaha rakyat hanya peladang berpindah, sementara pemerintah melarang mereka membakar lahan, sementara menyadap karet belakangan hargta komoditi itu terus turun tak mencukupi kebutuhan.
Mencari kayu pun akan bermasalah dengan hukum, akibatnya mereka lari ke sungai dan “menguyak-nguyak” dasar sungai untuk mencari butiran emas.
Padahal solusinya, kata Pujo tumbuhkanlah usaha rakyat di darat, umpamanya saja jika mereka dilarang berladang berpindah, maka cetaklah persawahan lahan kering di kawasan tersebut, sepertin yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Karena di lokasi ini hanya ada lahan kering tak ada lahan basah yang bisa diolah pertanian, padahal perhitungannya takmahal hanya sekitar rp25 juta per hektare dalam upaya mencetak sawah lahan kering tersebut.
“Saya yakin jika usaha ekonomi rakyat di darat seperti bertani lahan kering ini berkembang mereka tidak akan terjun ke sungai untuk mencari sesuap nasi, akhirnya sungai bisa terpelihara,” kata Pujo Sarwono.
Dalam kegiatan yang bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” tersebut sekaligus untuk melakukan pengukuran kualitas air terhadap beberapa sungai yanbg termasuk bagian dari aliran Sungai Barito.
Susur sungai itu sendiri berlangsung mulai Jumat (15/9) hingga Senin Malam (18/9) diikuti oleh sepuluh anggota tim yang bertugas melakukan pengukuran kualitas air dan pengamatan terhadap kondisi hutan, sungai secara ekonologi maupun morfologinya.
Hasil dari kegiatan ini sebagai bahan awal yang nantinya dibawa ke dalam forum diskusi saat Kongres Sungai Indonesia (KSI) III yang dijadwalkan berlangsung di Banjarmasin, 1-4 November 2017 nanti.
Dalam perjalanan malam dan siang tersebut dimulai dari kawasan Sungai Tapin di PipItak Jaya, sekaligus melihat kawasan pembangunan Bendungan Pipitak Jaya dan kawasan yang rencana ditenggelamkan, di wilayah Kabupaten Tapin ini.
Dalam kegiatan di kawasan ini anggota tim juga melakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air yang nantinya akan dibawa secara seksama ke laboratorium di Banjarmasin untuk mengetahui secara rinci kualitas sebenarnya.
Setelah di Pipitak Jaya tim ekspedisi melalui jalur hutan terus menuju Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan tim melakukan penjelajahan hutan di wilayah ini, selain melakukan pengukuran kualitas dan pengambilan sampel air untuk juga di bawa ke Banjarmasin.
Dalam penjelajahan di Hutan Loksado, banyak ditemukan aneka spicies tanaman khas hutan tropis basah, aneka tanaman bambu, aneka anggrek, aneka satwa termasuk beberapa katak yang terbilang langka, kata Zainuddin seorang peneliti reftil Universitas Lambung Mangkurat yang ikut dalam rombongan tersebut.
Saat di Loksado rombongan mengunjungi pemukiman Suku Dayak Loksado berbincang mengenei kehidupan mereka yang ternyata mereka cukup sejahtera dengan hasil budidaya kayu manis, kemiri, dan karet.
Setelah di Loksado tim terus meluncur tetap melalui jalan hutan ke kawasan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dalam perjalanan pun terlihat masih banyak lahan hutan yang lebat, perladangan berpindah, dan kebun-kebun rakyat.
Di Hantakan pun rombongan mnelakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air untuk diteliti lagi.
Setelah di Hantakan, tim terus ke Paringin mengambil contoh air sungai Balangan, dan terus ke Tanjung Tabalong, juga melakukan kegiatan yang sama kaitan dengan air.
Setelah ditanjung rombongan terus ke Sungai Barito Kota Muara Teweh juga mengambil samp;el air sungai setempat sekaligus menikmati wisata kampung pelangi.
Yakni kampung dengan rumah-rumah lanting di atas air yang bercat mencolok warna warni.
Selanjut ke Puruk Cahu, rombongan pun sempat beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung raya (Mura) Kalteng pak Pujo dan memperoleh penjelasan mengenai kondisi air Sungai Barito yang menurutnya sudah mulai rusak akibat ribuan aktivitas penambangan pasir dan emas di hulu sungai tersebut.
Pak Pujo berharap pemerintah mengembangkan ekonomi rakyat di darat umpamanya mengembangkan pertanian gogo di dataran tinggi agar ekonomi rakyat meningkat sehingga mereka tidak lari untuk mencari rejeki ke sungai.
Dalam perjalanan tersebut menurut ketua tim Mohammad Ary cukup puas ada yang diperoleh sebagai gambaran di KSI nanti, dan dari itu akan ada deklarasi sungai menjadi beranda depan, dan akan memperjuangkan adanya lembaga khusus mengurusi sungai Badan Restorasi Sungai semacam Badan Restorasi Gambut.

Iklan

MELINGAI DAN BWS EKSPEDISI SUNGAI

 

eksOleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin ()- Sebuah organisasi lingkungan Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) II, melakukan penjelajahan hutan sekaligus susur sungai untuk mengetahui kondisi sebenarnya saat ini mengenai hutan dan air.

Dalam kegiatan yang bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” tersebut sekaligus untuk melakukan pengukuran kualitas air terhadap beberapa sungai yanbg termasuk bagian dari aliran Sungai Barito, kata ketua tim kegiatan Mohammad Ary, Rabu.
Susur sungai itu sendiri berlangsung mulai Jumat (15/9) hingga Senin Malam (18/9) diikuti oleh delapan anggota tim yang bertugas melakukan pengukuran kualitas air dan pengamatan terhadap kondisi hutan, sungai secara ekonologi maupun morfologinya.
Hasil dari kegiatan ini sebagai bahan awal yang nantinya dibawa ke dalam forum diskusi saat Kongres Sungai Indonesia (KSI) III yang dijadwalkan berlangsung di Banjarmasin, 1-4 November 2017 nanti.
Dalam perjalanan malam dan siang tersebut dimulai dari kawasan Sungai Tapin di PipItak Jaya, sekaligus melihat kawasan pembangunan Bendungan Pipitak Jaya dan kawasan yang rencana ditenggelamkan, di wilayah Kabupaten Tapin ini.
Dalam kegiatan di kawasan ini anggota tim juga melakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air yang nantinya akan dibawa secara seksama ke laboratorium di Banjarmasin untuk mengetahui secara rinci kualitas sebenarnya.
Setelah di Pipitak Jaya tim ekspedisi melalui jalur hutan terus menuju Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan tim melakukan penjelajahan hutan di wilayah ini, selain melakukan pengukuran kualitas dan pengambilan sampel air untuk juga di bawa ke Banjarmasin.
Dalam penjelajahan di Hutan Loksado, banyak ditemukan aneka spicies tanaman khas hutan tropis basah, aneka tanaman bambu, aneka anggrek, aneka satwa termasuk beberapa katak yang terbilang langka, kata Zainuddin seorang peneliti reftil Universitas Lambung Mangkurat yang ikut dalam rombongan tersebut.
Saat di Loksado rombongan mengunjungi pemukiman Suku Dayak Loksado berbincang mengenei kehidupan mereka yang ternyata mereka cukup sejahtera dengan hasil budidaya kayu manis, kemiri, dan karet.
Setelah di Loksado tim terus meluncur tetap melalui jalan hutan ke kawasan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dalam perjalanan pun terlihat masih banyak lahan hutan yang lebat, perladangan berpindah, dan kebun-kebun rakyat.
Di Hantakan pun rombongan mnelakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air untuk diteliti lagi.
Setelah di Hantakan, tim terus ke Paringin mengambil contoh air sungai Balangan, dan terus ke Tanjung Tabalong, juga melakukan kegiatan yang sama kaitan dengan air.
Setelah ditanjung rombongan terus ke Sungai Barito Kota Muara Teweh juga mengambil samp;el air sungai setempat sekaligus menikmati wisata kampung pelangi.
Yakni kampung dengan rumah-rumah lanting di atas air yang bercat mencolok warna warni.
Selanjut ke Puruk Cahu, rombongan pun sempat beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung raya (Mura) Kalteng pak Pujo dan memperoleh penjelasan mengenai kondisi air Sungai Barito yang menurutnya sudah mulai rusak akibat ribuan aktivitas penambangan pasir dan emas di hulu sungai tersebut.
Pak Pujo berharap pemerintah mengembangkan ekonomi rakyat di darat umpamanya mengembangkan pertanian gogo di dataran tinggi agar ekonomi rakyat meningkat sehingga mereka tidak lari untuk mencari rejeki ke sungai.
Dalam perjalanan tersebut menurut ketua tim Mohammad Ary cukup puas ada yang diperoleh sebagai gambaran di KSI nanti, dan dari itu akan ada deklarasi sungai menjadi beranda depan, dan akan memperjuangkan adanya lembaga khusus mengurusi sungai Badan Restorasi Sungai semacam Badan Restorasi Gambut.

EKSPEDISI MELINGAI TEMUKAN HEWAN LANGKA LUTUNG MERAH

lutung

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin () – Sebuah organisasi lingkungan Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) II, saat penjelajahan hutan menjumpai sejumlah kera lutung merah yang belakangan sulit ditemukan lagi.
“Secara tak sengaja, kita menemukan lutung merah saat mereka berada persis di jalan yang kita lalui,” kata Ketua Melingai Ferry F Hoesien di Banjarmasin, Rabu.
Kegiatan jelajah hutan dan sungai itu bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” tersebut sekaligus untuk melakukan pengukuran kualitas air terhadap beberapa sungai yang termasuk bagian dari aliran Sungai Barito, dan melihat secara langsung kawasan hutan di wilayah ini.
Ekspedisi itu sendiri berlangsung mulai Jumat (15/9) hingga Senin Malam (18/9) diikuti oleh delapan anggota tim yang bertugas melakukan pengukuran kualitas air dan pengamatan terhadap kondisi hutan, sungai secara ekonologi maupun morfologinya.
Saat ketemu lutungmerah itu pada hari terakhir perjalanan antara Puruk Cahu ke Kurun Provinsi Kalimantan Tengah.
Hampir saja tertabrak primata unik tersebut, untung saja sopir rombongan tim sempat mengerem sehingga mereka juga lari tunggang langang ke dalam hutan, kata Ferry F Hosien yang juga dikenal sebagai pembina Sahabat Bekantan Indonesia tersebut.
Menurut pemerhati hewan langka ini, lutung merah mulai terancam keberadaannya karena populasinya yang tinggal sedikit.
Lutung merah atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dayak di pedalaman Kalteng dengan sebutan “Kelasi “ ini, adalah merupakan salah satu primata yang unik dan eksotik yang dapat dijumpai di kawasan hutan primer serta hutan sekuder pulau ini terutama sepanjang hutan di deretan pegunungan Muller – Schwaner yang membentang dari Kalimantan Tengah – Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur serta sebagian persebaran juga terdapat di kawasan hutan Meratus Kalimantan Selatan.
Lutung Merah dalam bahasa ilmiahnya disebut Presbytis rubicunda adalah spesies primata didalam keluarga Cercopithecidae. Memiliki bulu berwarna kemerahan dan memiliki wajah berulas kebiruan, memiliki jambul pendek sedikit berdiri.
Uniknya bayi lutung merah berwarna putih dan sebagian tubuhnya terdapat bercak hitam. Warna tersebut akan berubah menjadi merah seiring usianya beranjak dewasa. Seperti jenis primata lainnya, lutung merah hidup berkelompok antara 7 – 8 ekor dengan dipimpin satu ekor jantan. Sepanjang hari, lutung merah biasanya beraktivitas dan aktif di siang hari atau satwa diurnal.
“Presbytis rubicunda ini dibedakan menjadi 4 sub spesies dengan warna rambutnya khas, seperti 1. Presbytis rubicunda rubicunda, berwarna kemerahan dan semakin kehitaman kearah bawah bibir banyak dijumpai disebagian besar Kalimantan. 2. Presbytis rubicunda rubida warnanya hampir sama dengan Presbytis rubicunda rubicunda, hanya sedikit berbeda dari bentuk kepalanya dan tersebar di wilayah Kalimantan Selatan.
3. Presbytis rubicunda ignita, juga dibedakan dari ukuran kepalanya, tersebar dibagian barat laut Kalimantan sedangkan yang ke 4, adalah Presbytis rubicunda chrysea terbatas hanya di Pulau Karimatan dan Kalimantan Barat dengan warna coklat emas kepucatan “,jelas Ferry F. Hoesain pegiat konservasi primata dari Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia.
Pada Ekspedisi Susur Sungai DAS Barito 15-19 September 2017, Tim menemukan beberapa kelompok kawanan Lutung merah di sepanjang perjalanan antara Puruk Cahu kabupaten Murung Raya ke Kuala Kurun kabupateng Gunung Mas melalui sungai Hanyu Kalimantan Tengah.
Keberadaan lutung merah cukup memprihatinkan, karena berada di kawasan yang habitatnya tertekan oleh pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit serta pertambangan batu bara, belum lagi aktivitas pembukaan lahan untuk pertanian masyarakat.
Pengurangan habitatnya terjadi terus menerus, sehingga primata ini kehilangan habitatnya mencapai 36 persen dari luas sekitar 415.000 km2, menjadi 266.000 km2 dan sisanya hanya menempati kawasan konservasi seluas kurang lebih 19.670 km2 saja.
Sampai saat ini, keberadaan populasi lutung merah di alam liar dari hari ke hari semakin terancam dikarenakan beberapa penyebab, seperti pembukaan lahan berskala besar tersebut, termasuk kebakaran hutan, perburuan dan perdagangan satwa liar.
Menurut Ferry kondisi ini tentu sangat mengancam keberadaan Lutung merah, walau ia telah dilindungi oleh peraturan dan perundangan kita. Namun alih fungsi lahan yang cukup masif, merusak sebagian besar habitatnya, kemudian saat ini lutung merah mulai nampak keberadaannya disekitar pemukiman dan perkebunan warga yang rawan konflik, sehingga sering diburu, karena dianggap hama oleh warga disekitarnya.
Sementara itu, perlindungan lutung merah di Indonesia mengacu pada UU no 5 tahun 1990, tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2. yang menyatakan dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memilihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjualbelikan satwa dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati, tertuang dalam (Pasal 21 ayat 2).
Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran sebagaimana ketentuan dimaksud akan dikenakan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah (pasal 40 ayat 2).
Dalam Perundang-undangan Indonesia, lutung merah juga dilindungi berdasarkan SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 dan Peraturan Pemerintah no. 7 tahun 1999. “ Hanya saja sayangnya meskipun tingkat keterancamanya tinggi, lembaga konservasi internasional IUCN (International Union Conservation Nature), menempatkan Lutung merah masih dimasukan kedalam daftar resiko rendah( Lower Risk/least concern-LR/lc atau Apendiks II), padahal keberadaannya dialam liar sudah cukup meprihatinkan “, tambahnya Ferry F. Hoesain.
Ekspedisi untuk mencari masukan atau bahan yang nantinya dibawa ke dalam forum diskusi saat Kongres Sungai Indonesia (KSI) III yang dijadwalkan berlangsung di Banjarmasin, 1-4 November 2017 nanti.
Dalam perjalanan malam dan siang tersebut dimulai dari kawasan Sungai Tapin di PipItak Jaya, sekaligus melihat kawasan pembangunan Bendungan Pipitak Jaya dan kawasan yang rencana ditenggelamkan, di wilayah Kabupaten Tapin ini.
Dalam kegiatan di kawasan ini anggota tim juga melakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air yang nantinya akan dibawa secara seksama ke laboratorium di Banjarmasin untuk mengetahui secara rinci kualitas sebenarnya.
Setelah di Pipitak Jaya tim ekspedisi melalui jalur hutan terus menuju Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan tim melakukan penjelajahan hutan di wilayah ini, selain melakukan pengukuran kualitas dan pengambilan sampel air untuk juga di bawa ke Banjarmasin.
Dalam penjelajahan di Hutan Loksado, banyak ditemukan aneka spicies tanaman khas hutan tropis basah, aneka tanaman bambu, aneka anggrek, aneka satwa termasuk beberapa katak yang terbilang langka, kata Zainuddin seorang peneliti reftil Universitas Lambung Mangkurat yang ikut dalam rombongan tersebut.
Saat di Loksado rombongan mengunjungi pemukiman Suku Dayak Loksado berbincang mengenei kehidupan mereka yang ternyata mereka cukup sejahtera dengan hasil budidaya kayu manis, kemiri, dan karet.
Setelah di Loksado tim terus meluncur tetap melalui jalan hutan ke kawasan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dalam perjalanan pun terlihat masih banyak lahan hutan yang lebat, perladangan berpindah, dan kebun-kebun rakyat.
Di Hantakan pun rombongan mnelakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air untuk diteliti lagi.
Setelah di Hantakan, tim terus ke Paringin mengambil contoh air sungai Balangan, dan terus ke Tanjung Tabalong, juga melakukan kegiatan yang sama kaitan dengan air.
Setelah ditanjung rombongan terus ke Sungai Barito Kota Muara Teweh juga mengambil samp;el air sungai setempat sekaligus menikmati wisata kampung pelangi.
Yakni kampung dengan rumah-rumah lanting di atas air yang bercat mencolok warna warni.
Selanjut ke Puruk Cahu, rombongan pun sempat beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung raya (Mura) Kalteng pak Pujo dan memperoleh penjelasan mengenai kondisi air Sungai Barito yang menurutnya sudah mulai rusak akibat ribuan aktivitas penambangan pasir dan emas di hulu sungai tersebut.
Pak Pujo berharap pemerintah mengembangkan ekonomi rakyat di darat umpamanya mengembangkan pertanian gogo di dataran tinggi agar ekonomi rakyat meningkat sehingga mereka tidak lari untuk mencari rejeki ke sungai.
Dalam perjalanan tersebut menurut ketua tim Mohammad Ary cukup puas ada yang diperoleh sebagai gambaran di KSI nanti, dan dari itu akan ada deklarasi sungai menjadi beranda depan, dan akan memperjuangkan adanya lembaga khusus mengurusi sungai Badan Restorasi Sungai semacam Badan Restorasi Gambut.

 

“MELINGAI” IKUT SELAMATKAN AIR MUKA BUMI

bumi

Oleh Hasan Zainuddin
Dengan bermandikan lumpur delapan anak muda yang tergabung dalam kelompok pencinta lingkungan, Masyarakat Peduli Sungai (Melingai), terus bekerja mengangkat sampah dan lumpur saat lomba angkat lumpur diselanggarakan Balai Wilayah Sungai (BWS) II.
Kelompok ini bergabung dengan 40 kelompok lainnya dalam kegiatan yang berlangsung di Sungai Teluk Dalam Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu, 22 Maret lalu.
“Kami tak terlalu butuh jembatan layang. Kami tidak terlalu butuh hotel mewah dan mal atau pusat perbelanjaan yang gemerlapan. Yang kami butuhkan justru sungai yang baik dengan persediaan air bersih yang cukup. Oleh karena itulah pembangunan untuk kehidupan yang sesungguhnya,” kata Zany Thalux, anggota kelompok Melingai.
“Buat apa bangunan fisik mewah kalau air bersih tidak ada sama saja dengan bunuh diri. Makanya, kami bertekad menyelamatkan persediaan air di muka bumi ini,” katanya saat diwawancarai beberapa kru televisi dari TVRI, Antaranews TV, dan BanjarTV usai lomba angkat lumpur yang dibuka Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.
Dalam lomba angkat lumpur yang diselanggarakan BWS bekerja sama dengan Pemkot Banjarmasin, Korem 101 Antasari, dan Kodam Mulawarman itu diikuiti 400 peserta atau 40 kelompok kaitan Hari Air Sedunia ke-25. Peserta lomba terdiri atas kalangan berbagai komunitas, kelompok pencinta lingkungan, masyarakat cinta sungai, regu pemadam kebakaran, pelajar, mahasiswa, dan kelompok masyarakat lainnya.
Semangat dari pencinta lingkungan “Melingai” tersebut agaknya berasalasan karena Banjarmasin yang dikenal sebagai “kota seribu sungai” tersebut kini kondisi sungainya sudah memprihatinkan, dari 150 sungai yang ada sebelumnya tinggal 102 sungai, karena selebihnya sudah mati lantaran simentasi, terkena pengembangangan perkotaan, gulma, serta sampah rumah tangga dan limbah.
Kandungan bakteri e-coli sungai Banjarmasin yang berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah sangat memprihatinkan lantaran mencapai belasan ribu PPM, idealnya kandungan bakteri tersebut di air sungai hanya 250 PPM saja.
Itu lantaran air sungai tercemar berat tinjua manusia setelah penanganan sanitasi di kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa itu tidak tertangani dengan baik, sementara Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah (PD Pal) hanya mampu merekrut 5 persen pelanggan dari jumlah penduduk.
Rusaknya sungai di Banjarmasin juga ditandai dengan intrusi air laut yang begitu jauh ke hulu sungai yang menandakan areal resapan air atau kesmen area di Pegunungan Meratus sudah rusak akibat penebangan kayu secara liar dan penambangan, akhirnya debet air berkurang sehingga tekanan ke hilir melemah dan tekanan air laut ke hulu sungai kian kuat.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin sering kali mengeluarkan keluhan menyusul kian menyusutnya persediaan air baku untuk diolah menjadi air bersih di perusahaan tersebut.
“Dalam sejarah tak pernah air laut intrusi jauh ke hulu di Sungai Martapura yang selama ini menjadi sumber bahan baku air PDAM kami, sekarang sudah sampai ke Sungai Tabuk, padahal Sungai Tabuk adalah lokasi terbesar pengambilan air baku perusahaan kami,” kata Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih.
Kerisauan akan minimnya persediaan air tersebut terus mengemuka di kalangan masyarakat karena berdasarkan catatan jumlah air tawar di dunia ini hanya 3 persen dibandingkan air laut, dan dari 3 persen air tawar tersebut hanya 3 persen saja yang bisa dimanfaatkan untuk air minum, yakni air permukaan seperti air sungai itu.
Oleh karena itu, jika air permukaan yang berada di aliran sungai tersebut rusak, air bersih akan menjadi rebutan. Dikhawatirkan air bersih akan lebih mahal ketimbang dengan bahan bakar minyak (BBM). Dikhawatirkan pula ke depan peperangan antarnegara atau bangsa boleh jadi karena merebutkan persediaan air bersih.
Pencinta lingkungan, seperti “Melingai”, berkeinginan mempertahankan persediaan air sungai sebagai air minum itu lebih penting dari segala-galanya karena kehidupan apa pun di dunia ini ada ketergantungan pada air.
Melingai yang dibentuk oleh kalangan pencinta lingkungan di kota sungai ini tadinya hanya beberapa orang saja. Namun, sekarang makin banyak yang terlibat dalam kelompok ini yang selalu melakukan kegiatan atau aksi lingkungan setiap Sabtu atau Minggu.
Kegiatannya, antara lain, membersihkan sampah yang mengapung di sungai, membersihkan selokan dan drainase, serta penanaman pohon penghijauan di bantaran sungai, membersihkan gulma sungai, tidak kurang dari 7.000 pohon sudah ditanam, termasuk memperindah sungai-sungai kecil dengan tanaman teratai.
Dengan komitmen demikianlah, Melingai pun tak ingin ketertinggalan dalam lomba angkat lumpur yang tujuannya selain merehabilitasi sungai, juga sebagai kegiatan edukasi kepada masyarakat untuk sama-sama memelihara sungai.

Air Limbah
Pada peringatan Hari Air Sedunia kali ini bertema “Air dan Air Limbah” yang keinginannya mengajak semua pihak mempertahankan ketersediaan air dan pengelolaan air limbah secara baik sebagai investasi kehidupan ke depan.
Berdasarkan catatan, salah satu dari 17 target Sustainable Development Goals (SDG 20130) memastikan akses air bersih dan sanitasi untuk semua. Sekarang ini kelangkaan air berdampak pada 40 persen orang di seluruh dunia, lebih dari 663 juta orang hidup tanpa pasokan air bersih dekat dengan rumahnya.
Angka itu diperkirakan kian mengkhawatirkan seiring dengan kian bertambahnya penduduk bumi ini. Pada tahun 2050, penduduk bumi ditaksir sembilan miliar orang. Diperkirakan pula satu di antara empat orang akan terdampak oleh kekurangan air.
Indonesia banyak tantangan penyediaan air baku untuk air bersih dan pengelolaan air limbah, cakupan pelayanan baru sekitar 70 persen. Maka, diperlukan daya dukung air baku yang besar.
Pelayanan air minum jaringan perpiaan masih 20 persen. Itu pun sebagian besar berada di perkotaan. Kondisi ini disebabkan insfrastruktur yang ada belum dimanfaatkan secara optimal dan kurang maksimalnya pemasangan pipa distribusi dan sambungan rumah.
Kondisi diperparah adanya pencemaran air, pengelolaan daerah tangkapan air yang kurang baik, dan fenomena perubahan iklim. Perubahan iklim terbukti memengaruhi siklus air sehingga memperpanjang kemarau, meningkatnya intensitas hujan, dan menaikkan permukaan alur sehingga meningkatkan kawasan banjir dan kekeringan.
Dari sisi suplai air baku, dihadapkan tantangan degradasi DAS di daerah hulu, menurunnya debit pada sumber-sumber air, dan tingginya laju sidimentasi pada tumpungan-tumpungan air, seperti bendungan, embung, danau, dan situ.
Selain itu, kualitas air makin rendah akibat tingginya tingkat pencemaran pada sungai dan sumber-sumber air lainnya.
Melihat kenyataan tersebut sudah selayaknya seluruh masyarakat memelihara sumber-sumber air yang ada di muka bumi ini dan membentuk kelompok-kelompok kepedulian terhadap lingkungan hidup, seperti memelihara hutan sebagai kawasan resapan air, menjaga sungai sebagai tempat penyimpanan air, dan melakukan rehabiltasi melalui gerakan penanaman pohon, pembersihan sungai, hingga setidaknya ke depan mengurangi keluhan mengenai ketersediaan air bersih ini.
Melingai Kota Banjarmasin yang kini sudah beranggotakan ratusan orang selalu melakukan aksi-aksi untuk menyentuh perasaan masyarakat agar ikut berkiprah memelihara lingkungan, khususnya menjaga sungai agar tidak dikotori oleh limbah-limbah, tak membuang sampah sembarangan, jangan pula menebang pohon kawasan resapan air karena ketersediaan air bersih sebenarnya itulah pembangunan dan kehidupan yang sesungguhnya.

“MELINGAI” IKUT LOMBA ANGKAT LUMPUR SELAMATKAN AIR

https://wordpress.com/stats/day/hasanzainuddin.wordpress.com

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,22/3 (Antara)- “Kami tak terlalu berharap adanya jembatan layang, kami tidak terlalu butuh hotel mewah dan mal atau pusat perbelanjaan yang gemerlapan. Yang kami butuhkan justru sungai yang baik dengan persediaan air bersih yang cukup, karena itulah pembangunan untuk kehidupan,” kata sekelompok pemuda sebagai peserta lomba angkat lumpur.
“Buat apa bangunan fisik mewah kalau air bersih tidak ada, karena hal itu sama saja dengan bunuh diri, makanya kami bertekad menyelamatkan persediaan air di muka bumi ini,” kata kelompok pemuda dari komunitas Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang jadi peserta, saat diwawancarai beberapa kru televisi dari TVRI, Antaranews TV, dan BanjarTV usai lomba angkat lumpur yang dibuka Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina tersebut.
Dalam lomba angkat lumpur yang diselanggarakan Balai Wilayah Sungai Kalimantan II bekerjasama dengan Pemkot Banjarmasin, Korem 101 Antasari, dan Kodam Mulawarman tersebut diikuiti 400 peserta dibagi dalam 40 kelompok, salah satunya adalah peserta dari Melingai Banjarmasin tersebut.
Lomba yang berlangsung di Sungai Teluk Dalam Kota Banjarmasin tersebut dalam kaitan Hari Air Sedunia ke-25 yang jatuh pada tanggal 22 Maret 2017 hari Rabu ini. Tampak kemeriahan dan semangat dari para peserta yang terdiri dari kalangan berbagai komunitas, kelompok pecinta lingkungan, masyarakat cinta sungai, regu pemadam kebakaran, pelajar, mahasiswa, dan kelompok masyarakat lainnya.
Semangat dari pecinta lingkungan “Melingai” tersebut agaknya berasalasan karena Banjarmasin yang dikenal sebagai “kota seribu sungai” tersebut kini kondisi sungainya sudah memprihatinkan, dari 150 sungai yang ada sebelumnya, kini tinggal 102 sungai, karena selebihnya sudah mati lantaran sidementasi, terkena pengembangangan perkotaan, gulma, dan smpah rumah tangga dan limbah.
Kandungan bakteri koliform di sungai Banjarmasin yang berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah sangat memprihatinkan, lantaran mencapai belasan ribu PPM, idealnya kandungan bakteri tersebut di air sungai hanya 250 PPM saja.
Itu lantaran air sungai tercemar berat tinja manusia setelah penanganan sanitasi di kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu tidak tertangani dengan baik, sementara Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah (PD Pal) hanya mampu merekrut lima persen pelanggan dari jumlah penduduk keseluruhan.
Rusaknya sungai di Banjarmasin juga ditandai dengan intrusi air laut yang begitu jauh ke hulu sungai yang menandakan areal resapan air atau kesmen area di Pegunungan Meratus sudah rusak akibat penebangan kayu secara liar dan penambangan, akhirnya debet air berkurang sehingga tekanan ke hilir melemah dan tekanan air laut ke hulu sungai kian menguat.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, sudah seringkali mengeluarkan keluhan menyusul kian menyusutnya persediaan air baku untuk diolah menjadi air bersih di perusahaan tersebut.
“Dalam sejarah tak pernah air laut intrusi jauh ke hulu di Sungai Martapura yang selama ini menjadi sumber bahan baku air PDAM kami, sekarang sudah sampai ke Sungai Tabuk, padahal Sungai Tabuk adalah lokasi terbesar pengambilan air baku perusahaan kami,” kata Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih.
Kerisauan akan minimnya persediaan air tersebut terus mengemuka di kalangan masyarakat, karena berdasarkan catatan jumlah air tawar di dunia ini hanya tiga persen dibandingkan air laut, dan dari tiga persen air tawar tersebut hanya tiga persen saja yang bisa dimanfaatkan untuk air minum, yakni air permukaan seperti air sungai itu.
Oleh karena itu, jika air permukaan yang berada di aliran sungai tersebut rusak maka air bersih akan menjadi rebutan, dan dikhawatirkan air bersih akan lebih mahal ketimbang dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan dikhawatirkan pula kedepan peperangan antarnegara atau bangsa boleh jadi karena merebutkan persediaan air bersih ini saja.
Makanya, oleh pecinta lingkungan seperti “Melingai” ini keinginan mempertahankan persediaan air sungai sebagai air minum itu lebih penting dari segala-galanya, karena kehidupan apapun di dunia ini pasti ada ketergantungan dengan persoalan air ini.
“Melingai” yang dibentuk oleh kalangan pecinta lingkungan di kota sungai ini, tadinya hanya beberapa orang saja, namun sekarang semakin banyak yang terlibat dalam kelompok ini yang selalu melakukan kegiatan atau aksi lingkungan setiap hari Sabtu atau Minggu.
Kegiatannya antara lain membersihkan sampah yang mengapung di sungai, membersihkan selokan dan drainase, serta penanaman pohon penghijauan di bantaran sungai, membersihkan gulma sungai, tak kurang dari 7000 pohon sudah ditanam, termasuk memperindah sungai-sungai kecil dengan tanaman teratai.
Dengan komitmen demikianlah maka “Melingai” pun tak ingin ketertinggalan dalam lomba angkat lumpur yang tujuannya selain merehabilitasi sungai sekaligus sebagai kegiatan edukasi kepada masyarakat untuk sama-sama memelihara sungai.

Air dan Air Limbah

Pada peringatan hari air se-dunia kali ini bertema “air dan air limbah” yang keinginannya mengajak semua pihak mempertahankan ketersediaan air dan pengelolaan air limbah secara baik sebagai investasi kehidupan ke depan.
Berdasarkan catatan, salah satu dari 17 target Sustainable Development Goals (SDG 20130) memastikan akses air bersih dan sanitasi untuk semua. Sekarang ini kelangkaan air berdampak pada 40 persen orang di seluruh dunia, lebih dari 663 juta orang hidup tanpa pasokan air bersih dekat dengan rumahnya.
Angka itu diperkirakan kian mengkhawatirkan seiring kian bertambahnya penduduk bumi ini, tahun 2050 penduduk bumi ditaksir sembilan miliar orang. Diperkirakan pula satu di antara empat orang akan terdampak oleh kekurangan air.
Indonesia banyak tantangan penyediaan air baku untuk air bersih dan pengelolaan air limbah, cakupan pelayanan baru sekitar 70 persen maka diperlukan daya dukung air baku yang besar.
Pelayanan air minum jaringan perpipaan masih 20 persen itupun sebagian besar berada di perkotaan. Kondisi ini disebabkan insfrastruktur yang ada belum dimanfaatkan secara optimal dan kurang maksimalnya pemasangan pipa distribusi dan sambungan rumah.
Kondisi diperparah adanya pencemaran air, pengelolaan daerah tangkapan air yang kurang baik, dan fenomena perubahan iklim. Perubahan iklim terbukti mempengaruhi siklus air sehingga memperpanjang kemarau, meningkatnya intensitas hujan, dan menaikan permukaan alur sehingga meningkatkan kawasan banjir dan kekeringan.
Dari sisi suplai air baku, dihadapkan tantangan degradasi DAS di daerah hulu, menurunnya debit pada sumber-sumber air, dan tingginya laju sidimentasi pada tumpungan-tumpungan air, seperti bendungan, embung, danau, dan situ.
Selain itu kualitas air semakin rendah akibat tingginya tingkat pencemaran pada sungai dan sumber-sumber air lainnya.
Melihat kenyataan tersebut sudak selayaknya seluruh masyarakat memelihara sumber-sumber air yang ada di muka bumi ini, dan membentuk kelompok-kelompok kepedulian terhadap lingkungan hidup, seperti memelihara hutan sebagai kawasan resapan air, menjaga sungai sebagai tempat penyimpanan air, dan melakukan rehabilitasi melalui gerakan penanaman pohon, pembersihan sungai hingga setidaknya kedepan mengurangi keluhan mengenai ketersediaan air bersih ini.
“Melingai” dari Kota Banjarmasin yang kini sudah beranggotakan ratusan orang selalu melakukan aksi-aksi untuk menyentuh perasaan masyarakat agar ikut berkiprah memelihara lingkungan, khususnya menjaga sungai agar tidak dikotori oleh limbah-limbah, tak membuang sampah sembarangan, jangan pula menebang pohon kawasan resapan air karena ketersediaan air bersih sebenarnya itulah pembangunan dan kehidupan yang sesungguh-sungguhnya. ***4****1234

https://www.facebook.com/groups/1418569291713085/

FKH BER “PERILAKU” AJAK WARGA CINTAI LINGKUNGAN

ontelOleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,21/3 ()- Puluhan orang bersepeda tua (ontel) menyusuri jalan-jalan di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, sebagian dari mereka membawa puluhan batang bibit penghijauan.
Sesekali mereka singgah di sebuah lokasi, biasanya masjid, sekolah, atau tempat lainnya di lokasi yang gersang tak lain hanya menanam pohon penghijauan.
Mereka yang cinta lingkungan tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin ini kemana-mana selalu menyandang “butah” (wadah berasal dari anyaman berbahan tumbuhan lokal), baik saat aksi lingkungan, maupun ke pasar, bahkan ke mal atau pusat perbelanjaan.
Mereka juga selalu mengenakan kemeja hijau dan di belakang baju bertuliskan “tanam pohon sedekah oksigen.”
Kelompok ini asalnya berasal dari berbagai komunitas pecinta lingkungan yang kemudian bersatu menjadi sebuah forum yang kerjanya selain melakukan penghijauan, juga membersihkan sungai dari sampah, membersihkan lingkungan sekolah, masjid, dan lokasi-lokasi tempat wisata.
Para anggota kelompok ini berasal dari berbagai profesi, ada yang guru, dosen, ulama, pelajar, mahasiswa, wartawan, pengusaha, karyawan swasta dan ada yang pegawai negeri. Pendidikan mereka ada yang hanya lulusan SD tetapi apa pula yang bergelar profesor.
Aksi lingkungan mereka biasanya hanya Sabtu atau Minggu, untuk memberi peluang kepada mereka yang kerja sebagai pegawai negeri atau krayawan swasta untuk ikut berkiprah, dan semuanya tidak ada paksaan, ini hanyalah kerelaan hati saja.
“Kami tak pernah mengajak, apalagi memaksa, kegiatan kami hanyalah kerelaan hati, untuk beramal jariah dalam pelestarian lingkungan, kalau ada kerjaan yang lebih penting jangan ikut kami, tetapi jika tak ada kerjaan ketimbang hanya termenung di rumah ya lebih baik bergabung dengan kami,” kata Zhany Talux komandan aksi lingkungan FKH Banjarmasin.
Nawaitu kegiatan FKH bagaimana alam Banjarmasin atau Kalimantan Selatan bisa menjadi hijau kembali, segar dan teduh, dan penuh dengan bunyi kicau burung dan binatang-binatang lainnya yang membentuk semacam “orkestra alam.” Karena itulah kehidupan yang sesungguhnya.
Bagi mereka kelompok yang disebut oleh sebagian masyarakat “orang gila lingkungan,” ini pembangunan yang sesungguhnya bukan diwarnai dengan jembatan layang yang bertingkat-tingkat, atau mal atau pusat perbelanjaan yang gemerlapan, tetapi adanya air bersih di sungai yang di dalamnya hilir mudik ikan-ikan dan biota air lainnya.
“Buat apa apa hotel mewah, pusat perbelanjaan atau tempat-tempat mewah lainnya, jika kita tak ada air, semuanya itu menjadi tak berarti apa-apanya, makanya jaganya lingkungan dengan pepohonan agar tersedianya air bersih bagi kehidupan,” katanya.
Kelompok ini tergerak merehabilitasi lingkungan setelah seringnya terjadi bencana alam, seperti kekeringan, kebanjiran, kebakaran hutan, bahkan belakangan ini yang lebih miris adalah serbuan asap tebal yang menyelimuti pemukiman saat kemarau, lantaran asap asal kebakaran semak belukar dan hutan.
Warga bagaikan hidup dilautan lantaran banjir, bagaikan hidup di neraka saat kebakaran hutan, bahkan bagaikan hidup di alam kabut, setelah serbuap asap asal kebakaran hutan.
Ini mungkin saja kesalahan manusia terdahulu yang rakus merusak alam, jika alam tidak direhabilitasi bagaimana kehidupan selanjut. Sekarang ini sudah menderita apalagi kedepan tentu lebih menderita lagi.
Meranjak dari kekhawatiran itulah, FKH yang dikordinatori oleh Hasan Zainuddin dan Mohammad Ary selalu mengajak dan mengajak anggotanya yang kini sudah berjumlah ratusan orang agar terus terlibat melakukan aksi hijau sekaligus mengedukasi masyarakat luat untuk mencintai lingkugan.
Hingga sekarang tak kurang dari tujuh ribu pohon penghijauan sudah ditanam di berbagai lokasi, baik sekolah, masjid, tepi jalan raya, dan tepian sungai untuk menghindari abrasi tepian sungai.
Dalam aksi FKH selalu mandiri, melakukan pembibitan sendiri, mengangkut bibit dan aksi makan dan minum selalu menggunakan kantor pribadi masing-masing secara gotong royong.
“Kita ini bukan siapa-siapa, kita bekerja juga bukan untuk menjadi siapa-siapa” kata Mohamad Ary anggota yang lain, makanya kelompok ini tak boleh terkontaminasi politik atau kepentingan lainnya kecuali hanya untuk pelestarian lingkungan.
Dalam aksi bukan saja tanam pohon di Banjarmasin dan sekitarnya, tetapi kelompok ini juga datang ke berbagai tempat di Kalimantan Selatan, khusunya di lokasi-lokasi destinasi wisata, atau pemukiman-pemukiman bantasan sungai, untuk aksi kebersihan dan penghijauan sekaligus mengajak warga ayuuu cinta lingkungan.
Dalam kegiatan selalu banyak diikuti anggota, karena prinsipnya kelompok ini menggunakan motto, “bekerja, berkarya, bergembira, berbahagia, dan awet muda.” Motto lainnya “bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, bekerja ikhlas.”
Dengan motto demikian maka setiap anggota selalu ingin ikut dalam aksi karena ada kegembiraan dan kesenangan hati yang bisa memuaskan perasaraan atau hati.
Bahkan FKH juga membentuk masyarakat peduli sungai (Melingai), dan menobatkan 52 orang warga di Banjarmasin menjadi pemangku sungai yang tugasnya adalah memotivasi warga sekitar sungai memelihara sungai, dalam kegiatan di sungai ini tak ada tujuan lain hanya murni pelestarian lingkungan.
Tetapi kegiatan ini dilihat oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal ini Balai Wilayah Sungai (BWS) II Kalimantan yang kemudian diikutkan lomba antar masyarakat peduli sungai, dan ternyata Melingai dari FKH ini berhasil keluar sebagai juara pertama secara nasional hingga memperoleh piala dan hadiah ke Jakarta pada Hari Kebaktian PU tahun 2016 lalu.

Makna Atribut

Selaku muncul pertanyaan mengapa baju yang dikenakan selalu bewarna hijau dan bertuliskan “tanam pohon sedekah oksigen,” kemudian mengapa selalu bersepeda tua (ontel) dan mengenakan “butah” alat atau wadah berbahan anyaman dari tanaman lokal yang ramah lingkungan.
Ternyata semua aksi dengan atribut itu dimaknai sebagai perilaku anggota yang selalu dengan bersahabat alam dan selalu dengan ramah lingkungan.
Warna baju hijau penunjukan kecintaan anggota terhadap suasana lingkungan yang hijau, kemudian sepeda dilambangkan sebagai transportasi ramah lingkungan untuk mengurangi kemacetan, mengurangi pemanfaatan bahan bakar minyak (BBM), mengurangi sebaran karbon dioksida di udara, serta selalu berolahraga.
Makna lain sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya bangsa yang dulunya senang bersepeda disamping bermanfaat sebagai pelestarian peninggalan bahari yang berguna untuk memancing kedatangan wisatawan ke wilayah ini, makanya anggota FKH sekaligus anggota Gernasta (gerakan nasional masyarakat sadar wisata).
Penggunaan butah sebagaai wadah yang ramah lingkungan untuk mengurangi pmanfaatan kantongan pelastik. Pelastik yang banyak menjadi limbah mencenari lingkungan yang diketahui sangat merusak lingkungan karena 200 tahun pelastik hanya bisa terurai.
Limbah pelastik diyakini merusak jika ke sungai akan mematikan kehidupan biota sungai, jida terpendam di tanah akan mematikan kehidupan biota tanah seperti cacing, jangkrik, dan sebagainya lantaran pelastik menghambat oksigen ke dalam tanah dan menghambat aliran air tanah.
Makna lainnya dengan butah diharapkan industri anyaman penduduk Kalsel kembali menggeliat, terutama perajin anyaman butah, tanggui, lanjung, dan lainnya, pada gilirannya bisa meningkatkan lapangan pekerjaan, peningkatan perekonomian masyarakat, serta memanfaatkan bahan lokal, seperti bambu, rotan, pandan, anjat, ilalang dan lainnya.
Oleh karena itu perilaku sehari-hari anggota FKH ini tak lain adalah sebagai perlambang bagi masyarakat ayu kita cinta lingkungan, ayu kita ramah alam, ayu kita bersahabat dengan alam, karena bersahabat dengan alam itulah kehidupan yang sebenar-benarnya. *

Video Aneka Kegiatan FKH

 

 

 

 

 

Foto Aneka Kegiatan FKHhttps://www.youtube.com/watch?v=7LgIuTzRI4c

12

3 4

5 6

7 8

10 11

12


 

 

“MELINGAI” INSPIRATOR BAGI MASYARAKAT LESTARIKAN SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 8/12 (Antara) – Secara tak terduga sekelompok orang yang tergabung dalam komunitas pecinta lingkungan, Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, dinyatakan sebagai juara nasional dalam lomba masyarakat peduli sungai se-Indonesia.

Piagam dan piala tersebut diserahkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dr Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc saat peringatan Hari Bakti PU yang berlangsung di halaman kantor Kementerian PUPR di Jakarta, Sabtu, 3 Desember 2016.

“Ini benar-benar tak terduga, kok kita bisa juara,” kata Wakil Ketua Melingai Banjarmasin Mohammad Ary.

Pasalnya, dari awal dibentuknya organisasi tanggal 19 Agustus 2015 tak pernah mencari target, apalagi juara. Semua yang dilakukan hanyalah semata bekerja dan bekerja untuk membersihkan lingkungan, khususnya sungai, serta melakukan penghijauan di beberapa lokasi di kota ini.

“Kami ini bukan siapa-siapa, dan tak ingin menjadi siapa-siapa, niat kami melakukan ini semata karena Allah, dan ingin melestarikan lingkungan, makanya kami selalu aksi setiap Sabtu atau Minggu,” katanya.

Melingai yang selalu aksi bersama Forum Komunitas Hijau di wilayah yang berjuluk “Kota Seribu Sungai” tersebut, sebagian besar anggotanya adalah kalangan anak muda tetapi digerakkan oleh para senior yang memang sudah tua.

Kelompok ini sudah menanam ribuan pohon penghijauan di beberapa ruang terbuka hijau di Kota Banjarmasin dan sekitarnya, serta aksi membersihkan sungai dan menanam pohon penahan abrasi di beberapa lokasi di pinggiran sungai.

Banjarmasin dikenal sebagai kota sungai lantaran terdapat 102 sungai dan yang terbesar adalah Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Dalam aksi kelompok yang selalu menggunakan sepeda tua (ontel) dan menggunakan wadah non plastik yang disebut “butah” ini selalu mengajak masyarakat setempat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan.

Tujuan aksi bukan saja ke kawasan permukiman padat penduduk, tetapi juga ke sekolah-sekolah mengingat ada sekitar 300 ribu anak pelajar yang harus ditanamkan kecintaan terhadap lingkungan, dan mereka diharapkan menjadi generasi emas ke depan.

Organisasi ini tidak memiliki kartu keanggotaan, tetapi dikatakan organisasi ini bagaikan sebuah kapal besar tanpa pagar yang terus berlayar, silakan masuk jika ingin ikut dan silakan keluar jika tak ingin ikut lagi, tak ada ajakan, apalagi pemaksaan, semuanya berdasarkan kerelaan hati.

Dalam setiap kali bekerja kelompok ini tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memberi upah, dan tidak mencari perhatian, serta tidak mencari penghargaan, semata karena ingin lingkungan baik saja. Kalau ada biaya seperti untuk makan dan minum atau peralatan semuanya gotong royong atau urunan dari kantong masing-masing anggota.

Sementara motto atau slogan kelompok ini adalah “bekerja, berkarya, bergembira, berbahagia, dan awet muda,” makanya setiap kali ada aksi selalu ada perasaan gembira sehingga para anggota tak pernah malas untuk ikut berkiprah menjaga lingkungan.

Tetapi setelah melihat aksi yang selalu dilakukan kelompok ini setiap minggu maka selalu saja banyak masyarakat yang terpanggil hatinya untuk ikut berkiprah meletarikan sungai.

Bahkan belakangan masyarakat terlibat dalam lomba membersihkan sungai sekaligus membentuk pemangku sungai di 52 kelurahan yang ada di kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa ini.

Lantaran keberadaan kelompok Melingai ini yang dinilai unik maka oleh Balai Wilayah Sungai Kementerian PUPR dilibatkan mewakili Provinsi Kalsel dalam lomba tingkat nasional pada tahun 2016.

Pemberitahuan keikutsertaan itupun terlalu singkat, hanya 10 hari, sehingga para anggota Melingai bekerja keras mengumpulkan kliping dan data serta foto dan rekaman video sebagai bukti dalam setiap kegiatan sebelumnmya.

Sementara provinsi lain yang sudah terbiasa ikut lomba yang diselenggarakan Kementerian PUPR ini sudah mempersiapkan segala sesuatunya.

Semua data dan dokumen pendukung itu yang dipaparkan oleh Wakil Ketua Melingai Mohammad Ary di hadapan dewan yuri dari Kekenterian PUPR dan perguruan tinggi.

Dalam penilaian pertama lomba yang digelar Ditjen Sumberdaya Air Kementerian PUPR di Kota Banjarmasin itu, menempatkan Melingai selaku tuan rumah berada di urutan empat nilai 107 dari enam kelompok yang dinominasikan.

Pada lomba yang berlangsung tiga hari diikuti 18 kelompok masyarakat peduli sungai yang berasal dari 18 provinsi di tanah air tersebut, tiga dewan juri menempatkan nominasi pertama adalah Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) Yogyakarta dengan nilai 113.

Sementara kelompok masyarakat dari Peguyuban Pengendali dan Penanganan Air Pasang Panggung Lor (P5L) Kota Semarang sebagai nominasi kedua dengan nilai 110.

Sedangkan nominasi ketiga dari Jawa Barat dari kelompok masyarakat Ekolink dengan nilai 109. Nominasi kelima yakni Santri Jogo Kali dari Jawa Timur dengan nilai 102 dan nominasi terakhir berasal dari Komunitas Peduli Sungai Batu Bulan Maluku dengan nilai 102.

Dari enam nominator ini kemudian diuji lagi untuk menentukan juara setelah tim juri melakukan peninjauan lapangan ke lokasi kelompok masyarakat tersebut berada.

Setelah dewan juri meninjau dan menggodok apa yang dilakukan Melingai di Banjarmasin, hingga pada penilaian terakhir, kelompok ini dinyatakan sebagai juara pertama. Juara dua Forum Komunikasi Winongo Asri Yogyakaaarta dan juara III Peguyuban Pengendali dan Penanganan Air Pasang Panggung Kota Semarang.

Juara IV Ekoling Jawa Barat, Juara V Joko Kali Jawa Timur dan Juara VI Masyarakat Peduli Sungai Batu Bulan, Maluku.

Para juara ini lalu diundang ke Jakarta menerima piala dan penghargaan pada hari Bakti PUPR sekaligus bagi Melingai mengambil hadiah berupa kendaraan roda tiga dan seperangkat alat pengeras suara untuk aksi.

Setibanya di Jakarta, saat upacara hari Bakti PUPR, Menteri PUPR menyatakan apresiasinya terhadap keberadaan Melingai.

“Teruskan kerja kalian, dan kalian sudah berhasil mengajak warga untuk menciptakan lingkungan yang bersih, khususnya sungai, itu sesuatu yang perlu memperoleh dukungan,” katanya saat berbincang dengan anggota Melingai, di Jakarta (3/12).

Menteri PUPR yang sedikit-sedikit pandai berbahasa Banjar, lantaran pernah tinggal di kawasan Kacapiring Banjarmasin itu mendatangi sendiri enam anggota Melingai yang berada di lokasi upacara.

Ketertarikan Menteri PUPR terhadap anggota Melingai tersebut, juga menjadi perhatian banyak orang di lokasi peringatan hari Bakti PU. Rupanya pemakaian topi kuning yang dikenakan anggota dan atribut yang dikenakan berupa wadah ramah lingkungan non plastik yang disebut “butah”
Setibanya di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dari Jakarta rombongan Melingai Juga memperoleh sambutan hangat dari Gubernur Kalsel Sahbirin Noor atau Paman Birin yang kala itu mengajak foto bersama dengan para anggota sekaligus berpesan Melingai tetap berperan sebagai ujung tombak pemeliharaan sungai di wilayah ini.

Video Kegiatan Melingai


https://www.youtube.com/watch?v=YmJ3BpwfDgc https://www.youtube.com/watch?v=VjglNErJBfw

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aneka Foto Kegiatan Melingai


1

2 3

4 5

6 7

9 10