MENGUNGKAP KEBARADAAN KOMUNITAS SUKU BANJAR TEMBILAHAN RIAU

 Sekelompok warga bergerombol dan sambil berjongkok menikmati masakan suku Banjar, Laksa di salah sebuah kedai (warung) makanan di tengah kota Tembilahan, ibukota Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau, Pulau Sumatera.
 Sementara beberapa wanita nengenakan jilbab berpakaian kemeja panjang mententeng kresek pelastik berisikan kue khas suku Banjar pula seperti kraraban, untuk-untuk, gambung, gegatas, kelapon  dan lainnya setelah mebeli di kedai sebelah warung laksa itu.
 Gurauan antara para pedagang serta para pembeli di beberapa kedai di Bilangan Parit 15 Tembilahan Hilir tersebut menunjukkan bahwa mereka bersuku Banjar, karena bahasa yang digunakan benar-benar berdialek suku Banjar terutama Banjar Pahuluan.
 Ketika penulis menghampiri sekelompok ibu-ibu itu serentak mereka terhenyak, namun seketika itu pula penulis mengenalkan diri bahwa berasal dari kota Banjarmasin, ibukota Kalsel yang merupakan wilayah komunitas suku banjar bermukim sekarang ini.
 Dari beberapa keterangan di kedai di pinggir Sungai Indragiri tersebut terungkap bahwa budaya mengolah masakan khas Banjar serta kue-kue tersebut sudah ada sejak ratusan tahun silam.

tembilahan.jpg Penulis bersama keluarga di jembatan kilo lima Rumbai, Tembilahan
 Budaya membuat masakan dan kue tersebut diperoleh dari generasi sekarang dari beberapa generasi sebelumnya yang telah tinggal secara turun=temurun di kawasan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari semenanjung Malaysia dan Singapura itu.
 Berdasarkan keterangan itu, bukan hanya kue-kue Banjar yang tetap lestari di tengah pemukiman suku Banjar perantuan ini tetapi juga makanan dan lauk-pauk lainnya.
 Sebagai contoh saja, masih terlihat dihidangkan gangan (gulai) humbut, gangan keladi, gangan waluh, gangan karuh, sayur bening oleh keluarga-keluarga di kota berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa tersebut
 Begitu juga terlihat papuyu baubar (bakar), gabus baubar, iwak karing (ikan asin) sepat, masak habang haruan atau telur, iwak bapais (pepes ikan) dan masakan khas Banjar lainnya.
 Hanya saja, kata Haji Nurjanah (65 th) nenek tua asli suku Banjar, beberapa masakah khas Banjar lainnya sudah mulai tidak diminati generasi muda sekarang ini.
 “Saya kemarin mencoba membuat mandai (kulit cempedak dipermentasi) penuh satu kuali, karena hanya saya yang doyan makan mandai itu,  akhirnya sebagian terbuang, sementara anak dan cucu sudah kurang suka,” kata nenek yang mengaku tidak pernah satu kalipun menginjak tanah Banjar di Kalimantan Selatan.
 Bukan hanya masakan suku Banjar yang tetap lestari di kawasan luas berawa-rawa indragiri ini, tetapi juga cara hidup keseharian lainnya hampir tak berbeda dengan kebanyakan suku banjar yang tinggal di pahuluan Kalsel, (Banua lima: lima kabupaten Utara Kalsel).
 Cara mereka bercocok tanam tak ada perubahan, yakni dengan menyiapkan lahan, menyiapkan benih, serta cara mereka panen.
 Kehidupan beragama terlihat begitu kental di kalangan komunitas ini, dimana hampir terlihat masjid, surau, dipenuhi warga dan ditengah antara shalat magrib dan isha selalu diisi dengan ceramah menggunakan bahasa Banjar pula.
 Seorang tokoh Banjar yang tinggal di Pekanbaru propinsi Riau, Bandrun A Saleh yang sekarang menjabat sebagai anggota DPRD Riau ketika malam silaturahmi antara warga suku Banjar pekanbaru dengan para wartawan Kalsel dan Kalteng yang mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) mengakui budaya Banjar di tembilahan masih sangat kuat.
 Selain Badrun A Saleh yang berada diacara silaturahmi yang dihadiri Kepala Badan Informasi Daerah Kalsel, Drs,Amanul Yakin dan para pengurus PWI Kalsel itu juga terdapat beberapa pejabat teras Pemko Pekanbaru dan Pemprop Riau yang hadir, karena memang bersuku banjar seperti Sekretaris Kota Pekanbaru dan sekretaris DPRD Riau.
 Badrun A Saleh yang asli Tembilahan ini menyebutkan bahwa budaya Banjar di kawasan masyarakat kampung halamannya ini memang sangat mendominasi, itu terlihat dalam kehidupan keseharian serta seni budayanya.
 Kesenian Banjar seperti Bamanda, Balamut, Madihin, Japen, masih sering dipentaskan pada acara-acara tertentu dalam kaitan perayaan hari besar, perayaan perkawinan, kenduri, atau bentuk hajatan yang lain selepas musim panen.
 Berdasarkan catatan, penduduk di Kabupaten Indragiri Hilir ini sekitar 560 ribu jiwa, 40 persen diantaranya adalah suku Banjar, disusul suku Melayu, Bugis, minang, Jawa serta etnis lainnya.
 Tetapi khusus kota Tembilahan, Sapat, Pulau Palas, Sungai Salak, Pangalehan,  suku banjar diperkirakan mencapai 70 persen.
 Keberadaan suku Banjar di tengah belantara Pulau Sumatera itu menurut tokoh yang pernah menjadi Plt Bupati Indragiri Hilir ini memang sulit diketahui secara pasti karena tak ada catatan atau sejarah yang menerangkan permasalahan tersebut.
 Tetapi berdasarkan penuturan orang tua dulu bahwa ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus sekitar abad ke-18 komunitas suku Banjar tersebut sudah berada du kawasan itu.
 Badrun menerangkan pula, bahwa pada awalnya keberadaan suku Banjar di kawasan ini bukan tujuan Tembilahan Riau, melainkan ke Batu Pahat Malaysia.
 Eksodos suku Banjar Pahuluan ke Batu Pahat tersebut pada awalnya didasari persoalan politis dimana ketika itu kawasan Banua Lima Kalsel sedang dilanda kekacauan lantaran kedatangan penjajah Belanda di kawasan itu.
 Ditambah begitu banyaknya aksi kekauan akibat gerombolan sehingga warga merasa tidak tetang dan didasari perasaaan tidak mau dijajah itulah para suku Banjar ini berimigrasi ke Batu Pahat Malaysia.
 Suku Banjar yang kebanyakan eksodos ke Sumatera tersebut berasal dari desa Kelua, Sungai Turak, Karias, Sungai Durian, Pimping, dan daerah lain di Hulu Sungai Utara, kemudian juga dari Paringin, Lampihong, Juai, Baruh Bahinu, Awayan di Balangan, beberapa desa di Barabai, Rantau, dan Kandangan.
 Setelah eksodos ke Batupahat terus bertambah akhirnya masyarakat suku Banjar ini mulai menyebar ke kawasan lain yang dianggap bisa memberikan penghidupan baru.
 Akhirnya pilihan suku banjar di perantuan ini jatuh ke wilayah Sapat Indragiri Hilir, karena alam di sekitar ini hampir serupa dengan Kalsel yaitu berawa-rawa Pasang surut. Bagi etnis lain sulit menggarap lahan semacam ini, kecuali terampil digarap suku Banjar asal Kalsel maupun suku Bugis asal Sulsel.
 Apalagi ketika itu di Sapat Indragiri Hulir ini telah bermukim seorang ulama besar asal Dalam Pagar Martapura Kalsel, KH Abdurahman Sidiq yang dikenal seorang wali yang setia mengajarkan ilmu agama Islam diperantauan tersebut.
 Setelah adanya ulama ini maka kian banyak warga Kalsel yang berpindah ke kawasan ini, bukan lagi sekedar faktor politis tetapi adalah faktor agama untuk mendalami ilmu agama Islam dengan ulama besar asal kota intan Martapura ini.
 Makam ulama besar di di Parit Hidayah Sapat ini sekarang menjadi objek wisata religus terutama oleh penziarah dari suku banjar baik warga lokal, maupun asal Kalsel serta daerah lain seperti dari Malaysia.
 Pemukin suku Banjar ini berhasil menggarap lahan pasang surut yang bergambut ini menjadi hamparan persawahan, disamping berkebun kelapa untuk dibuat kopra, serta berkebun kopi atau pinang.
 Pada kala itu harga kopra dari kelapa memang lagi baik, sehingga usaha “mangaring” (pemroses kelapa menjadi kopra) dianggap menguntungkan dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
 Akhirnya usaha tersebut telah memancing kembali eksodos warga Kalsel ke Sumatera dengan alasan ekonomi yakni mencari kehidupan yang lebih baik dengan menggarap perkebunan kelapa secara besar-besaran di kawasan tersebut.
 Namun seiring perkembangan zaman ternyata berkebun kelapa sekarang ini sudah tidak menguntungkan lagi menyusul terjadinya perkebunan besar kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng, akhirnya kebun kelapa milik suku Banjar ini banyak yang tidak terpelihara selain harganya murah juga banyak pohon kelapa yang sudah tua sekali dan tidak produktif akhirnya ditinggalkan.
 Dengan demikian desa kebun kelapa yang tadinya berkembang menjadi kawasan pemukiman yang ramai berubah menjadi desa mati dabn ditinggalkan penduduknya.
 Penulis yang melakukan perjalanan dengan wartawan Barito Post untuk menyusuri desa-desa pemukiman suku banjar indragiri ini menmukan desa Sungai Ambat kecamatan Enok yang dulu ramai sekarang menjadi desa mati dan sepi dan di desa tersebut tertinggal sekitar 100 rumah saja lagi.
 Padahal dulu sekitar tahun 50-an Sungai Ambat adalah termasuk pusat kosentrasi suku Banjar perantauan, disana terdapat pertokoan, pasar, serta terdapat para tukeh (saudagar kopra) berniaga di sana.
 Dulu menuju Sungai Ambat hanya bisa dilalui lewat sungai melalui Kuala Enok atau di kecamatan Enok, tetapi sekarang sudah bisa dijangkau kendaraan setelah dibangun jalan besar antara Tembilahan menuju Kuala Enok, jalan tersebut sekarang baru pengerasan dan belum pengaspalan. Perjalanan menuju Sungai Ambat dari Tembilahan selama dua jam.
 Selain di desa-desa di tepian sungai Indragiri dan Sungai Enak warga suku Banjar  juga terdapat di parit-parit (anak-anak sungai) yang banyak terdapat di kawasan ini
 Berdasarkan keterangan, warga di berbagai desa suku Banjar ini sudah banyak yang meninggalkan desa mereka menyusul usaha kelapa tidak menguntungkan lagi, mereka banyak yang menyebar bukan hanya ke kota-kota lain di sekitar indragiri tetapi tak sedikit yang lari ke Batam, Jambi, Pekanbaru, Medan, Malaysia, Singapura serta kota Tembilahan sendiri.
 Bahkan ada yang kembali ke tanah leluhur Kalimantan Selatan, kata beberapa warga desa Sungai Ambat.
 Dari banyak pelarian suku Banjar ke berbagai kota di sana ternyata banyak yang berhasil, bukan hanya menjadi pejabat sipil dan ABRI, pedagang, serta wiraswasta dan lainnya.
 Hanya saja dari keturunan suku Banjar sekarang sudah banyak yang mengalami pembaharuan dengan kawin dengan suku=suku  lain seperti kawin dengan suku Melayu, Minang, Bugis, Batak, Jawa hingga keturunan belakangan tidak asli lagi dari suku banjar.
 Di kota Batam yang hanya dijangkau tiga jam setengah naik spedboat dari Tembilahan banyak sekali suku Banjar, tetapi sulit diketahui keberadaan mereka sebab sudah menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia.
 Berdasarkan keterangan lagi suku Banjar di Sumatera khususnya Riau terdapat di Tembilahan, Pulau Palas, Sungai Salak, Pangalehan, Kuala Enok, Sapat, Enok, Kapal Pacah, kemudian di Rengat, Pekanbaru, Bengkalis dan daerah lainnya.
 Sementara di Propinsi Jambi suku Banjar terkosentrasi di Kuala Tungkal, di Sumatera Utara terdapat di Kampung Banjar Binjai dan Deli Serdang.
 Walau penyebaran suku Banjar di Sumatera mulai meluas tetapi di kawasan  Tembilahan Indragiri Hilir kosentrasi suku Banjar tetap kuat, bahkan hubungan emosional antara Kalsel dan Tembilahan tetap terjaga dengan baik.
 Tukar menukar seni budaya antara Tembikahan dan kota Banjarmasin terus terjadi, bahkan beberapa ulama kharismatik Kalsel secara berkala di undang berceramah di kota tembilahan ini, seperti ulama Haji Bakeri yang beberapa kali diundang pada malam tahun baru Islam.
 Keberadaan ulama kharismatik, Haji Zaini Ganie sekumpul Martapura juga sering mengusik warga Tembilahan untuk pulang kampung ke Kalsel, khususnya untuk mengikuti pengajian KH Zaini Ganie yang lajim disebut guru sekumpul itu, terutama pada malam nispu sa.ban.
 “Banyak sekali orang kita di Sungai salak dan Tembilahan yang rutin mengikuti pengajian guru sekumpul Martapura, khususnya pada malam nispu sa’ban,” kata Nurdin penduduk Sungai Salak 30 km dari Tembilahan.
 Bukti dikenalnya secara meluas guru sekumpul ini adalah begitu banyaknya foto ulama besar Kalsel ini yang berada di dinding dinding rumah penduduk, begitu juga kaset rekaman maulid habsyi yang dibawakan guru sekumpul sering berkumandang di rumah penduduk atau di pusat pasar penjualan kaset.
 Selain itu, terdengar banyak omongan anak muda Tembilahan yang ingin mendalami berbagai ilmu ke tanah leluhurnya di Kalsel, selain mendalami ilmu agama Islam juga ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu bela diri, ilmu kekebalan, ilmu pesugihan, atau ilmu kebibinian (ilmu memikat perempuan).
 Karena dalam imige kaum muda suku banjar di kawasan Tembilahan ini ilmu-ilmu tersebut di atas paling baik atau lebih hebat kalau mendalami di daerah tanah leluhur mereka sendiri.

 

Bahasa Banjar jadi bahasa seharihari di Tembilahan

 Banjarmasin,31/10 (ANTARA)- Bupati Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Propinsi Riau, Haji Indra Muchlis Adnan,SH mengungkapkan bahasa Banjar yang merupakan bahasa suku terbesar di Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi bahasa sehari-hari warga wilayahnya.
     “Di tempat kami, orang China, Jawa, Melayu, Padang, Bugis, dan suku lainnya menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa sehar-hari,” kata Indra Muchlis Adnan kepada peserta seminar mengenai budaya Banjar, dalam kaitan Kongres Budaya Banjar ke-I, di Banjarmasin, Selasa.
     Bupati Inhil dalam seminar tersebut menyajikan makalah berjudul “tradisi Madam Orang Banjar” dihadapan peserta yang berasal dari kalangan tokoh Suku Banjar, dari Kalsel sendiri, Kalteng, Kaltim, Jakarta, jogyakarta, Surabaya, Langkat Sumatera Utara, Tembilahan Riau, serta dari negara Selangor, Pahang, Negeri sembilan Malaysia.
     Orang nomor satu Inhil yang datan ke Banjarmasin beserta rombongan dari kalangan pejabat Pemkab Inhil itu menyebutkan bahasa Banjar digunakan di kawasan itu sebagai bahasa sehar-hari lantaran penduduk suku Banjar mendominasi masyarakat yang hedrogen di kawasan pesisir Riau itu.
     Menurutnya Suku Banjar sudah berada di wilayah Inhil sejak ratusan tahun lalu mungkin sudah empat generasi, dan membuka lahan persawahan dan pemkiman di berbagai wilayah di kawasan itu.
     kedatangan suku Banjar yang di wilayah produksi kopra terbesar Riau tersebut, lantaran berbagai alasan, tetapi kalau dilihat sejarahnya hanya terdapat beberapa alasan.
     Alasan pertama kedatangan Sku Banjar ke Tembilahan karena ingin berguru ilmu agama Islam kepada pada ulama-ulama yang ada di wilayah ini.
     Alasan lain adalah untuk memuka lahan pertanian karena lahan rawa yang ada di inhil menerupai lahan rawa ang ada di Kalsel, sehingga warga Banjar pendanag itu mudah menggarap lahan itu ketimbang suku-suku lainnya.
     Kemudian alasan yang lain lagi adalah berniaga atau berdagang karena Tembilahan merupakan kawasan yang berdekatan dengan Singapura atau kota-kota lain di Sumatera atau Malaysia.
    “Orang-orang  suku Banjar waktu dulu termasuk orang yang “jagau” (pemberani), dan selalu membawa pisau kena-mana, tetapi sekarang kebiasaan membawa pisau sudah berubah, dan kini sudah suka membawa pulpen, komputer, lap top, dan banyak dari mereka menjadi kalangan birokrat dan pengusaha yang mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan Inhil,” kata bupati yang masih muda tersebut.
    Mengenai kongres Budaya Banjar ini ia menilai meupaan kegiatan positip untk membahas berbagai kebudayaan Banjar, khususnya bahasa Banjar agar tideak punah, karena bila bahasa Banjar punah maka berarti suku ini sudah tidak ada lagi.
    Kongres Budaya Banjar tersebut dibuka oleh Gubenur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin, Senin malam (30/10) dan akan berakhir pada Rabu (1/11) menyajikan beberapa pembicara antara lain pedagang intan perintis komunitas warga Banjar di Kesultnanan Jogyakarta, Sastra Banjar guna Meningkatkan Apresiasi Genarasi Muda, Kesenian Rakyat Banjar dan lain-lain

 

Konon sudah lebih dari 5 generasi urang banjar yang madam, migrasi, ’terdampar’ di Tembilahan. Sebenarnya bukan hanya di Tembilahan sebaran warga banjar di nusantara. Paling tidak di Sumatera ada di Tembilahan (Kab. Indragiri Hilir), Kuala Tungkal (Kab. Tanjung Jabung – Jambi), juga di Kab. Deli Serdang – Kab. Serdang Bedagai – Kab. Langkat di Sumut., bahkan di Singapura dan Malaysia (khususnya Batu Pahat).

 

 ASAL USUL SUKU BANJAR KE SUMATERA DAN MALAYSIA

Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.

Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura, Banjar yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.

Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak ( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah (Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.
(sumb:salah satu situs)

 

 

 

CATATAN PERJALANAN, Mailangi Dangsanak di Tembilahan 
Minggu, 23-09-2007 | 01:36:38 
UNTUK memberikan apresiasi dan reaktualisasi budaya Banjar, Majelis Paripurna Lembaga Budaya Banjar (LBB) Kalsel memberikan gelar kehormatan kepada Gubernur Riau, HM Rusli Zaenal dan Bupati Indragiri Hilir, H Indra Muchlis Adnan, akhir Agustus 2007 lalu di Pekanbaru.

Kegiatan ini tentu saja menjadi ajang budaya akbar. Untuk berbagi pengalaman, peserta yang juga budayawan Banjar, H Syamsiar Seman akan menguraikan perjalanannya dalam kunjungannya ke pusat kebudayaan Banjar di Tembilahan Riau dalam tulisan berikut.

Kota Tembilahan, Riau sangat dikenal oleh orang Banjar di Kalsel. Sebagai wadah madam sejak ratusan tahun  lalu, banyak warga Banjar sudah tinggal di tempat tersebut secara turun temurun dalam beberapa generasi.

Kabupaten Indragiri Hilir dengan ibukotanya Tembilahan ini merupakan salah satu dari sebelas kabupaten Provinsi Riau yang berada di posisi selatan. Daerah ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat dengan mobil dari Riau selama tujuh jam.

Kondisi alam baik Pekanbaru maupun Riau tak jauh berbeda dengan Kalsel, baik sungai dan floranya. Kondisi inilah yang memungkinkan orang-orang Banjar yang madam ke Tambilahan merasa betah bertani dan berkebun di sana.

Indragiri Hilir berpenduduk sekitar 639.450 jiwa yang diperkirakan warga Banjarnya sebanyak 242.991 jiwa yang tersebar di 20 buah kecamatan dan 192 desa.

Warga Banjar atau keturunan orang Banjar yang menjadi penduduk disini adalah di Kecamatan Tembilahan, Tampuling, Enok, Batang Tuaka, Gaung Anak Serka, Gaung, Tanah Merah serta Kuala Indragiri.

Dari delapan kecamatan yang dihuni warga Banjar tersebut, dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar.

Seluruh penduduk di Tembilahan berbahasa sehari-hari dengan Bahasa Banjar dan cenderung dengan dialek Pahuluan. Uniknya, penduduk asal Bugis, Jawa dan Cina yang ada di daerah tersebut juga berkomunikasi dengan Bahasa Banjar.

Apalagi di Pasar Tembilahan yang pedagangnya justru banyak orang keturunan Banjar, pembicaraan dalam interaksi jual beli kedengaran barucau dalam Bahasa Banjar Urang Pahuluan. */ncu/bpost

Iklan