“MENGANGARUN” KIAT ORANG MISKIN MILIKI KEBUN

Oleh Hasan Zainuddin

kayu tebangan
Warga yang tergolong miskin di bilangan kaki, lereng, dan Pegunungan Meratus Pedalaman Provinsi Kalimantan Setalan agaknya tak perlu khawatir akan kehidupannya ke depan.

“Asal saja mereka tidak malas, dan mau bekerja keras dan pantang menyerah, Insya Allah, bisa menjadi kaya, setidaknya mempunyai kebun sendiri,” kata Mursidi, ketua RT 7 Desa Panggung Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan.

Sebab, kata Mursidi, ada cara yang berlaku di wilayah tersebut untuk mengatasi kemiskinan, yakni “mengangarun,”, atau sistem kerja bagi hasil.

Sistem kerja bagi hasil di kawasan setempat sudah berlaku sejak lama, baik usaha peternakan, usaha perikanan, persawahan, dan terakhir yang memberikan keuntungan adalah usaha perkebunan karet.

Sebagai contoh, kata Mursidi, bila seorang miskin tak memiliki kebun karet tetapi ia mau bekerja keras, maka ia bisa mengerjakan lahan milik orang lain dengan sistem mengangarun.

Caranya, lahan berupa semak belukar milik orang lain tersebut dikerjakan oleh si miskin, kemudian lahan tersebut ditanami karet unggul, dan nanti setelah usia karet berumur dua tahun hasil panenannya dibagi dua.

Satu bagian untuk pemilik lahan satu bagian lagi hak milik si penggarap, atau bila dalam satu hektare terdapat 600 pohon karet unggul maka 300 pohon untuk pemilik lahan 300 pohon lagi untuk penggarap.

memanduk

“Sekarang harga satu batang karet unggul yang baik sudah mencapai Rp1 juta per pohon, bayangkan kalau si miskin sudah memiliki 300 pohon maka ia dalam dua tahun saja sudah memperoleh uang Rp300 juta, sehingga yang bersangkutan tak bisa lagi dikatakan si miskin,” maka Mursidi.

Apalagi kalau ia berhasil menggarap lahan beberapa hektare sudah bisa dikalikan keuntungannya dalam dua atau tiga tahun ke depan, karena itu di kawasan itu kini sudah sulit mencari orang berkategori miskin, katanya.

Bukan hanya semak belukar yang bisa digarap dengan sistem mengangarun tersebut, tetapi juga lahan kebun karet yang sudah tua yang harus ditebang ulang, untuk menanam karet muda itu juga sistemnya sama, yakni bagi hasil.
Apalagi kata Mursidi, yang dibagi hasil tersebut hanyalah pohon karet, tetapi untuk tanaman lainnya itu mutlak milik si penggarap.

Contoh lagi, kata tokoh masyarakat tersebut, selama penggarapan lahan, tahap pertama lahan yang sudah dibuka ditanami padi gogo (padi gunung) bila padi itu panen maka seratus persen milik penggarap.

Saat menanam padi saat itu juga ditanam bibit pohon karet unggul, kemudian selain tanam padi penggarap juga bisa mengembangkan sayuran, seperti cabai, terung, kacang-kacangan dan apa saja semuanya hasilnya untuk penggarap.

Setelah pohon karet berumur dua hingga tiga tahun di mana lahan tidak bisa lagi ditanami padi dan sayuran barulah kebun dibagi dua, dan masing-masing bagian setelah adanya pembagian tersebut harus menjadi tanggung jawab sendiri-sendiri.

Umpamanya, bagian untuk pemilik lahan maka kebun itu harus dijaga sendiri oleh pemilik lahan, sementara bagian lain milik penggarap maka dijaga sendiri oleh penggarap.

bamasakan

Yang perlu diwaspadai terhadap pohon karet muda adalah serangan gulma ilalang, penyakit akar jamur putih, atau yang paling menakutkan adalah kebakaran hutan yang merembes ke perkebunan.

Semua itu sudah menjadi tanggung jawab masing-masing, kata Mursidi, yang diakuinya ia sendiri sudah menggarap lahan milik orang beberapa lokasi, dan akhirnya sekarang ia memiliki beberapa buah kebun karet unggul sendiri yang sudah bisa menopang kehidupan keluarganya.
Menungal

Menggarap lahan kebun karet tak ubahnya sistem ladang berpindah, yakni bila semak belukar ditebang ditanami padi kemudian jadi kebun maka dicari lagi lahan lain kemudian jadi kebun lagi begitu seterusnya.

Pertama semak belukar atau hutan ditebang kemudian kayu hasil tebangan dibiarkan hinggga kering, biasanya saat kemarau, setelah lahan yang penuh tumpukan pepohonan kering tersebut dibakar atau istilah setempat “dipanduk” saat mendekati musim penghujan.

Setelah lahan dibakar lalu bersih setelah turun hujan ditanami padi sistem tugal, makanya cara menanam padi ini disebut juga dengan istilah “manugal,” kata Suhardi mantan kepala desa Panggung menjelaskan saat penulis berada di kampung tersebut.

banih tugal

Bertani manugal ini menurut Suhardi kental gotong royong, seperti mamanduk atau membakar lahan saja itu harus gotong royong melibatkan sedikitnya 30 warga kampung, selain membakar juga untuk menjaga api agar tidak menjalar ke semakbelukar lain atau ke hutan mencegah mencegah kebakaran hutan lebih besar.

“Makanya sekeliling lahan yang hendak dibakar itu diberi batas, caranya batas tersebut harus dibersihkan dari benda yang mudah terbakar, seperti dedaunan atau ranting pohon,” katanya.

Kemudian lagi saat menugal atau menanam benih padi juga melibatkan sedikitnya 50 warga baik laki-laki maupun perempuan, sehingga dalam satu hari saja lahan sudah selesai ditanami.

Biasanya laki-laki membuatkan lubang di tanah dan perempuan menaburkan bibit benih ke lubang tersebut, cara melubangi tanah itu pun dengan hanya menancapkan sebatang kayu runcing ke tanah.

Dalam acara gotong royong baik saat memanduk atau menugal biasanya selalu dibarengi dengan “bamasakan” atau selamatan, dengan makan nasi dengan lauk seadanya, atau setidaknya hidangan ketan dengan campur kelapa bergula merah (hinti).

“Gotong rotong memanduk dan menugal tersebut sudah ada sejak nenek moyang, sehingga warga tak kesulitan mengerjakannya, walau yang dikerjakan tanah milik orang lain tetapi gotong royong itu selalu ada,” kata Suhardi.

Seorang guru besar Fakultas Pertanian, Dr Abdul Haris Mustari pernah meneliti sistem bertani menugal di kawasan Pedalaman Kalsel ini.

Menurut dia, dalam gotong royong tersebut laki-laki menugal (melubangkan lahan untuk benih) dan perempuan memasukkan benih padi ke lubang tugal dengan jarak tanam 20cm x 20cm, di mana setiap lubang diisi 5-7 benih.

Lubang tugal tidak ditutup, dibiarkan terbuka, tapi lama kelamaan lubang itu dengan sendirinya akan tertutup oleh tanah akibat aliran air hujan pada permukaan tanah.

Sebelum menanam, dilakukan doa atau permohonan kepada tuhan agar hasil padi melimpah dan dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.

Varietas padi di komunitas petani Meratus sangat tinggi, tercatat minimal 28 varietas padi, baik padi biasa maupun padi pulut (lakatan).

Orang pedalaman Kalsel telah melestarikan berbagai varietas padi secara turun temurun karena itu lingkungan alam telah menjadi bank gen (gene pool) untuk berbagai varietas padi yang sangat penting dilestarikan karena diperlukan dalam rangka pemuliaan padi yang lebih unggul yang diperlukan manusia.

Selain padi, orang pedalaman Kalsel juga menanam berbagai jenis palawija dan tanaman tahunan yang menunjang kehidupan mereka.

Beberapa varietas padi yang ditanam warga Meratus diantaranya Sabai, Tampiko, Buyung, Uluran, Salak, Kanjangah, Kihung, Kalapa, Uluran, Kunyit, Briwit, dan Sabuk.

Selain padi biasa, juga ditanam padi pulut atau lakatan yaitu jenis Kariwaya, Kalatan, Harang, Samad dan Saluang.

Diantara berbagai varietas padi itu, Buyung dan Arai adalah yang paling digemari karena wangi dan enak rasanya. Semua padi yang ditanam adalah varietas lokal, umur panen enam bulan.

Bersamaan dengan penanaman padi itu, juga ditanam berbagai jenis palawija seperti singkong atau disebut gumbili, lombok, timun, labuh, kacang panjang, berbagai jenis pisang, keladi, yang kesemuanya itu menjadi makanan tambahan.

Menurut beberapa tetuha penduduk setempat, dengan bertani dan berkebun demikian maka kehidupan warga tak pernah merasa kekurangan, sebab selain hasil padi, plawija, juga ada kebun karet, dan kebun lainnya.

tanam sayuran

MENGUNGKAP MISTERI KIJANG EMAS PEGUNUNGAN MERATUS

Oleh Hasan Zainuddin

Gonjang ganjing adanya kehidupan kijang emas atau juga disebut kijang kuning (Muntiacus atherodes) di kawasan Pegunungan Meratus wilayah Kalimantan Selatan sering terdengar, tetapi agak sulit membuktikan keberadaan satwa tersebut.
Walau dari cerita dari mulut ke mulut konon berasal dari tetua warga setempat membenarkan adanya satwa khas tersebut, namun pihak instansi yang berwenang di provinsi ini tak ada satu yang mengulas tentang kijang tersebut.
Bahkan sebuah tulisan yang dilansir oleh media Dinas Kehutanan Tabalong Kalimantan Selatan, yang mengutip keterangan menteri kehutanan menyebutkan bukan tidak ada tetapi tak terbukti ada binatang yang banyak membuat orang penasaran ingin melihatnya itu.
Pernyataan tersebut segera ditindaklanjuti oleh Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel yang menugaskan tim kecil untuk mencari keberadaan kijang kuning di bagian selatan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam dan tidak ditemukan jejak ataupun wujudnya.
Meskipun demikian, upaya yang telah dilakukan tentunya mendapat perhatian bagi sekelompok kecil masyarakat yang berusaha untuk menemukan jejak atau wujudnya.
Upaya pencarian dilakukan secara bertahap di kawasan Tahura dan berhasil menemukan seekor kijang kuning Kalimantan yang mati terjerat oleh jebakan yang dipasang para pemburu dan juga ditemukan adanya tanduk yang dipajang di rumah seorang penduduk.
Dari upaya pencarian di beberapa lokasi kawasan hutan setidaknya telah menunjukkan bahwa keberadaan kijang kuning Kalimantan tersebar di kawasan hutan Kalsel, meskipun status dan keberadaan salah satu satwa liar endemik Pulau Kalimantan yang sampai saat ini adalah tidak termasuk dalam daftar satwa liar dilindungi di Indonesia.
Kelompok pencinta alam Kompas Borneo Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin mencoba melakukan suatu kegiatan lapangan yang bertujuan untuk mengetahui keberadaan kijang kuning di bagian selatan kawasan Tahura guna mengumpulkan informasi lapangan secara berkala selama dua bulan (Agustus-September 1998) lalu.
Dari hasil observasi di lapangan ditemukan jejak kijang kuning Kalimantan yang terjebak tali jerat dan dikonsumsi oleh penduduk. Dengan adanya temuan ini, menunjukkan bahwa peranan kawasan Tahura Sultan Adam sangatlah penting bagi hunian berbagai jenis satwa liar.
Berdasarkan sebuah catatan, kijang kuning Kalimantan termasuk kelas mamalia, ordo (bangsa) Artiodactyla, famili (suku) Cervidae, subfamili Muntiacinae, genus (marga) Muntiacus, species (jenis) Muntiacus muntjak dan Muntiacus atherodes.
Secara morfologi, pada bagian atas (punggung) satwa liar ini berwarna merah kekuning-kuningan dengan sebaran kepirang-kepirangan di sepanjang bagian tengah terutama leher / tengkuk, bagian bawah (perut) pucat kekuning-kuningan, oranye agak keputih-putihan.
Ekor bagian atas berwarna coklat gelap dan kuning agak kecil dan ramping dengan tinggi bahu ± 50 cm, ukuran panjang dari kepala dan badan (tidak termasuk panjang ekor) 86-92 cm dengan berat 13,5-17,7 kg. Tanduknya tidak memiliki cabang dengan panjang 1,6-4,2 cm dan panjang tangkai tanduk 6,5-8,7 cm.

Perbedanaan Tengkorak Kijang Emas Kiri dan Kijang Biasa Kanan
Ekspedisi
Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Koordinator Wilayah 08 Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan berusaha menemukan kijang kuning.
“Saya sudah dengar informasi adanya kijang kuning di Pegunungan Meratus HST Kalsel, makanya kita berusaha menemukan satwa langka tersebut,” kata Peneliti flora dan fauna Dr.Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc. yang ikut dalam tim di lokasi pos tim Desa Murung B Hantakan HST, pertengahan Mei 2012 lalu.
Dosen Fakultas Kehutanan IPB tersebut juga merasa tertarik keberadaan kijang kuning di kawasan tersebut, dan cerita masyarakat setempat yang dulunya sering menemukan binatang itupun menambah ketertarikan dirinya untuk menemukan binatang tersebut.
Ia berharap timnya berhasil menemukan kijang emas untuk menjawab teka teki masih adanya atau betul adanya binatang yang unik tersebut.
Setelah sekian lama menjelajah kawasan Kabupaten HST dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) mensinyalir populasi dan habitat Kijang Emas masih ada di Pegunungan Maratus.
Keberadaan Kijang Emas di Kawasan Pegunungan Maratus diperkuat dengan diketemukannya tengkorak Kijang Emas di area perkebunan milik warga.
Menurut Pajarah Sub Korwil 08 HST, Mayor Sus Komaruddin melalui emailnya disampaikan ke LKBN Antara Banjarmasin, Sabtu (2/6) tengkorak kijang emas tersebut ditemukan saat tim penjelajah dan peneliti 2 yang dipimpin oleh Kapten Psk Efendi Hermawan sedang melaksanakan penelitian pada Senin (28/5) pukul 09.00 WITA di Desa Haratai Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Kijang Emas yang oleh warga setempat disebut Kijang Hilalang merupakan salah satu jenis kijang endemik Kalimantan yang sangat langka dan sulit ditemukan, karena sering diburu warga untuk dikonsumsi.
Kijang Mas diburu warga di area Gunung Haung Haung, sekitar lima jam perjalanan dari Desa Haratai dengan berjalan kaki.
Warga setempat menganggap Kijang Mas sebagai kijang biasa, sehingga kepala Kijang Emas dibuang tidak disimpan seperti halnya kijang lainnya yang memiliki nilai seni tersendiri.
“Saya dapat Kijang ini sekitar tiga bulan yang lalu di Gunung Haung Haung, disana kami sering memasang Jipah (jerat tali), tapi kepalanya saya buang di Huma, karena tidak menarik untuk dipajang di rumah,” kata Uncau (46), salah satu warga di Desa Haratai seperti dikutip Komaruddin.
Dari tengkorak yang ditemukan, salah satu anggota Tim Peneliti Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Dr Ir Abdul Haris Mustari, M.Sc, yang terlibat langsung dalam kegiatan penelitian dan menemukan tengkorak tersebut mengatakan penemuan tengkorak kijang di Desa Haratai, dapat dikatakan sebagai Kijang Emas yang oleh warga sini disebut Kijang Hilalang.
Selanjutnya ia katakan, dari hasil perbandingan dengan tengkorak kijang biasa, terdapat perbedaan yang menyolok, Kijang Mas tidak terdapat sendi pada pangkal rangganya, masing-masing rangga memiliki satu cabang, ramping dan sedikit melengkung serta pedisel (tulang dibawah rangga) ramping dan melengkung.
Sedangkan kijang biasa mempunyai dua cabang pendek, lebih besar dan terdapat sendi pada pangkal rangga serta pedisel tebal dan lurus.
“Kijang Emas memiliki warna merah kekuningan dan terdapat garis gelap di sepanjang garis punggungnya, sementara kijang biasa berwarna kemerahan tua,” jelas Haris.
“Kijang Emas memang tergolong langka dan belum terdaftar, karena kekurangan dan sangat terbatasnya data-data tentang kijang tersebut, namun saat ini keberadaan Kijang Emas semakin langka dan hampir punah, daerah penyebarannya berada di hutan pegunungan yang sulit diakses manusia,” tambah Haris.
Sementara Wadan Sub Korwil 08/HST Mayor Inf Ardian Triwasana mengatakan dengan diketemukannya tengkorak Kijang Emas oleh tim peneliti Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang bergerak di daerah Loksado HSS, mudah-mudahan akan menjadi masukan bagi semua pihak, terutama warga Kalimantan Selatan untuk meneliti lebih lanjut.

tanduk

tanduk kijang biasa