MENGANGKAT POTENSI KALSEL SEBAGAI PRODUSEN OBAT HERBAL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,7/9 (ANTARA)- Di era tahun 80-an hingga tahun 90-an berbagai produk jamu olahan masyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan begitu dikenal, bukan saja di wilayah sendiri bahkan diantarpulaukan.

Jamu olahan Kalsel yang terkenal tersebut, diantaranya jamu Sarigading, Jamu Pasak Bumi, Jamu Tabat Barito.

Bukan hanya jamu produk herbal olahan masyarakat Kalsel tersebut, tetapi juga saleb yang terkenal dengan nama saleb cap Dua Kokang, atau bedak mempercantik diri bagi kaum perempuan yang disebut “pupur bangkal.”
Obat-obatan herbal disebut di atas tersebut hanya yang terangkat kepermukaan, padahal masih segudang obat-obatan produk herbal olahan masyarakat di daerah paling selatan Kalimantan tersebut yang dibuat skala kecil dan tidak populer.

Melihat kenyataan tersebut telah membuktikan daratan Kalsel mengandung banyak potensi obat-obatan herbal.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Rosihan Adhani kepada pers di Banjarmasin, mengakui wilayahnya merupakan gudangnya obat-obatan herbal tersebut.

Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Kesehatan mendukung pengembangan pengobatan herbal melalui pengembangan produk jamu tradisional yang berasal dari sumber daya alam lokal sebagai pengobatan alternatif.

Ia mengatakan, Kalsel merupakan konsumen jamu terbesar nasional sehingga sudah saatnya kini pemerintah dan masyarakat mengangkat citra obat tradisional tersebut.

Salah satu upaya untuk membantu mengangkat citra jamu tradisional Kalsel tersebut, kata Rosihan, kini pihaknya sedang merintis untuk memasukkan obat-obatan herbal tersebut ke dalam rumah sakit.

“Saat ini di Indonesia baru ada 36 rumah sakit yang memasukkan obat-obatan herbal sebagai pengobatan alternatif, dan Kalsel baru pada tahap merintis,” katanya.

Hal tersebut dilakukan, karena Kalsel merupakan daerah yang sangat kaya sumber daya alam berupa tumbuhan obat-obatan, bahkan salah satu kekayaan alam Kalsel berupa pasak bumi dan tabat barito kini banyak dikirim ke beberapa negara.

Di negara-negara importir tersebut, tumbuhan tersebut diolah menjadi obat yang kemudian dijual ke seluruh negara termasuk Indonesia.

“Seharusnya tumbuhan tersebut yang mengolah adalah kita dan yang mendapatkan nilai tambah ekonominya adalah warga kita pula, tetapi justru oleh negara lain,” katanya.

Dengan demikian, Rosihan berharap warga Kalsel bisa mendukung keberadaan obat-obatan herbal tersebut bisa berkembang di daerah ini.

Saat ini, tambah dia, keberadaan jamu-jamu tradisional Kalsel kalah bersaing dengan jamu luar terbukti dari 26 perusahaan jamu, kini tersisa tujuh perusahaan jamu saja.

Selain ingin mengangkat citra melalui promosi dan Dinkes juga membantu pengembangan jamu tersebut melalui SP3T yaitu sentra pengembangan pengobatan tradisional di daerah.
Tumbuhan Obat

tanaman pelungsur ular
Sementara itu Tim Peneliti dari Balai Peneletian dan Pengembangan Daerah Kalsel telah membuktikan bahwa wilayah Kalsel kaya akan sumber obat-obatan herbal demikian.

Pihak peneliti tersebut telah berhasil menemukan 177 jenis tumbuhan obat-obatan yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota di provinsi ini.

Salah satu anggota tim Etnobotani Balitbangda Kalsel Agus Karyono pada rapat persiapan pembangunan Kebun Raya Kalsel di Banjarmasin, mengatakan 177 jenis tumbuhan obat-obatan tersebut didapat dari masyarakat setempat.

Ke-177 jenis tumbuhan obat tersebut ternyata sudah dimanfaatkan untuk pengobatan ketika ada jenis penyakit tertentu di daerah ini.

Etnobotani adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal-balik secara menyeluruh antara masyarakat lokal dan alam lingkungannya meliputi sistem pengetahuan tentang sumber daya alam tumbuhan.

“Seluruh jenis tumbuhan tersebut tetap kita berinama sesuai dengan nama yang diberikan warga asli, karena belum dilakukan penelitian secara ilmiah tentang kandungan tumbuhan tersebut,” katanya.

Nama ilmiah tumbuh-tumbuhan yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit tersebut, kata dia, akan diberikan nama setelah melalui kajian kandungan “fitokimia” dari berbagai macam jenis tumbuhan berkhasiat untuk obat.

Menurut Agus, eksplorasi tumbuhan berkhasiat obat dilakukan di desa yang potensial memiliki sumber daya tumbuhan berkhasiat obat dengan alokasi waktu yang lebih memadai, yang dilakukan setidaknya satu dampai dua minggu di setiap lokasi.

Ketujuh kabupaten yang dilakukan sebagai tempat penelitian tersebut yaitu Kabupaten Banjar terdapat 18 jenis tumbuhan, Kabupaten Tapin sebanyak 22 jenis, Hulu Sungai Utara sebanyak 17 jenis.

Selain itu, Hulu Sungai Tengah 28 jenis, Hulu Sungai Selatan 31 jenis, Balangan 41 jenis , dan Kabupaten Tabalong 20 jenis.

“Dari beberapa desa tersebut di atas, Desa Harakit Kabupaten Tapin, Desa Malinau Kabupten HSS, Desa Kiyu Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Desa Misim Kabupaten Tabalong merupakan daerah yang paling potensial untuk eksplorasi,” katanya.

Selain itu, kata dia, desa yang mayoritas penduduknya Dayak terpencil dan jauh dari lingkungan perkotaan banyak mengetahui tentang jenis tumbuhan berkhasiat obat yang sudah mereka warisi secara turun temurun.
Beberapa jenis tanaman obat yang ditemukan dan telah diuji fitokimia adalah adalah sembilikan, akar bangkimut, krakatau dan haratau, nalin-nalin, akar balakatan, akar arau, bamboo buluh dan bebeberapa jenis tumbuhan obat-obatan lainnya.

Berbagai jenis tanaman obat-obatan tersebut bakal dikembangkan di kebun raya selain berbagai jenis tanaman langka lainnya di Kalsel.

MENGGALI OBAT-OBATAN LAHAN GAMBUT TROPIKA KALTENG

 

 

 Oleh Hasan Zainuddin
         “Membangun Indonesia Melalui Bumi Tambun Bungai Kalimantan Tengah,” demikian sebuah buku Gubernur Kalteng Teras Narang yang menggambarkan betapa kayanya daerah yang luasnya 1,5 kali Pulau Jawa tersebut.

        Disebutkan, kawasan pemukiman Suku Dayak berpenduduk sekitar dua juta jiwa itu bisa jadi muncul penemuan-penemuan baru yang akan mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. 
   Agustin Teras Narang dalam setiap kesempatan menyatakan, Kalteng begitu kaya, karena hampir semua ada di wilayah itu.

        Tetapi yang lebih khas, yaitu terdapatnya hamparan luas lahan gambut tropika yang unik yang masih memerlukan keterampilan kalangan ilmuan untuk mengungkap potensinya.

        Bahkan Gubernur Teras Narang mengajak kalangan investor baik dalam maupun luar negeri untuk “menengok” kekayaan Kalteng itu.

        “Siapa tahu di lahan yang selama ini dianggap marginal itu tersimpan ‘berlian’ lain berupa senyawa-senyawa organik yang bermanfaat baik untuk industri maupun obat-obatan,” katanya.

        Kalteng sedikitnya memiliki 3,6 juta hektare lahan gambut tropika atau sekitar 300 ribu kilometer persegi.

        Potensi terpendam di wilayah sejuta sungai itu telah memancing keingintahuan kalangan peneliti untuk menelusuri kekayaan yang ada di hutan gambut Kalteng tersebut.

      Menurut penuturan peneliti senior Universitas Palangkaraya (Unpar) Prof DR H Ciptadi, lahan gambut tropika Kalteng memang memiliki keunikan dan kelebihan.

        Kekayaan hayati lahan gambut tropika Kalteng dibuktikan dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar, kata doktor kimia biomolekul lulusan Universitas Montpellier II-Perancis, pada 2003, itu.

        Ketua Lembaga Penelitian Unpar itu mengatakan, di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Sungai Sebangau terdapat sedikitnya 310 spesies tanaman.

        Di sana juga terdapat fitoplankton yang hanya hidup dan berada di kawasan ekosistem air hitam.

        “Sumber Daya Alam Kalteng melimpah ruah, kekayaan ini harus kita jaga dan hendaknya dikelola dengan baik,” katanya.

        Menurut dia, jenis-jenis tumbuhan dari berbagai ekotipe hutan tropis Kalteng hendaknya didata secara lengkap, seperti penyebaran, penggunaan tradisional, kandungan kimia dan aktivitas biologisnya.

        Di samping itu, kata guru besar bidang biokimia/kimia organik Unpar itu, dirasa perlu kaderisasi peneliti untuk bisa melanjutkan estafet penggalian dan pengembangan biota Kalteng, khususnya yang terkait dengan aktivitas biologis yang dimiliki tumbuhan tersebut.

        Ia menjelaskan, kekayaan hayati ini sebagian besar belum digali dan dikaji hingga tak bisa dimanfaatkan maksimal.

        Dalam rangka pencarian dan pemanfaatan senyawa kimia yang terkandung dalam sumberdaya hayati tersebut diperlukan penelitian yang terencana dan berkelanjutan.

        Para ilmuan  dari berbagai lembaga riset dan perusahaan obat besar dunia berusaha  menemukan senyawa baru dari hutan tropis termasuk hutan gambut tropika Kalteng, terutama untuk mengobati penderita kanker dan HIV, karena hutan tropika ini menyimpan senyawa organik terbesar di dunia, katanya.

        Dari hasil peneluran dan penelitian tersebut beberapa hal sudah menunjukan adanya senyawa-senyawa di dalam tanaman Kalteng yang mengandung obat-obatan.

        Berdasarkan  sebuah buku pengukuhan guru besar dalam bidang biokimia/kimia organik Prof DR H Ciptadi, tercatat beberapa nama tanaman yang sudah mengandung senyawa positif.

        Seperti tanaman saluang belum (Lavanga sarmentosa (Blume) kurz), untuk obat kejantanan laki-laki, sayuran kalakai untuk menambah air susu ibu, tumbuhan sepang (Claoxylon polot men) obat diabetes, tumbuhan kamunah (Croton tiglium) untuk obat kontrasepsi, tanaman kalopahit atau sambung maut (famili Simarubaceae) untuk obat malaria.

        Tanaman lain yang diteliti terbukti mengandung obat; mali-mali (famili Araliaceae) obat sesak napas, limau-limauan (famili Flacourtiaceae) obat ginjal, cawat hanoman atau akar rahwana (famili Papilonaceae) obat kuat dan sakit pinggang, ampelas bajang juga untuk sesak napas.

        Beberapa tanaman di atas setelah dilakukan uji laboratorium terbukti positif mengandung steroid dan terpenoid, flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin.

        Selain beberapa tanaman yang sudah dinyatakan mengandung obat-obatan itu, di Kalteng juga masih terdapat ratusan jenis lagi yang  berpotensi sebagai obat yang masih memerlukan penelitian untuk memastikannya.

        Tanaman yang berpotensi obat tersebut di antaranya yang disebut warga setempat dengan tanaman manggis hutan, sangeh, lali, tuntung uhat atau sambung urat, tambuhusan, katatupak atau katatiroi, kayu busi atau sisik saluang, paku bukit, suli, kayu kamal atau pupuk sutera.

        Tanaman yang lain, raja mandak, lagundi, senggani, daun adewa, langise, muhur, kenyem, upak gemur, uru sambelum, bajakah kalalawit, kangkawang panas, kalapimping, bajakan kalayan, tatupak, dadap, teken perei, kalapap, karamunting, kayu mahamen, papar buwu, sagagentu, bawi hatue, kalabuau, kayu tungkun.

        Tanaman kanarihau, uru handalai, kumis kucing, ginseng, uru pinding usu, uru karewan usu, uru lewu, terung kambing, mangkudu, kayu kajajah, kalalayar, kayu mata pusa bawi hatue, panamar gantung, mosai, songkai kayu, dan tanaman sapapitak.

        Tanaman sarai, henda babilem, henda puti, singkur, henda, lai, sintuk, kayu amal, kalanis, bajakan kahabau, bajakan bahenda, sangkuang, tabalien, balawan puti, bahandang, sasenduk, jawau u”uut, kayu buri, tategar bawi hatue, utin, tupai bawi hatue, kayu bikit, tisik peang bawi, tisik peang hatuwe, uwe namei, daun dewa, uru handarai, uru mahamen, lengkuas, pasak bumi, tabat barito dan sebagainya.

        Tanaman tersebut diduga berpotensi sebagai obat karena sering digunakan penduduk Suku Dayak Kalteng untuk pengobatan tradisional.

        Sebagian penduduk Kalteng memang hidup terpencil, jauh dari jangkauan pengobatan modern, dalam usaha menjaga dan mempertahankan kesehatan mereka menggunakan obat tradisional yang diramu dari bahan alam dari tanaman tersebut.

        Obat-obatan tradisional tersebut oleh penduduk setempat sering digunakan sebagai penyembuh penyakit kelamin, keluarga berencana, kekuatan jasmani, dan obat penyakit lainnya.

        Untuk mengumpulkan  tanaman obat di hutan gambut tropika Kalteng itu sekarang sedang diusulkan pembangunan sebuah kebun raya tanaman obat-obatan  di Kota Palangkaraya, sebagai lokasi penelitian, lokasi pendidikan, dan lokasi ekowisata.