BERJUTA MISTERI MENYELIMUTI KEBERADAAN TAMAN NASIONAL SEBANGAU

 Oleh Hasan Zainuddin
     Terhitung 19 Oktober 2004 lalu, kawasan Sebangau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) seluas 568.700 hektare telh ditunjuk pemerintah sebagai Taman Nasional (TN) melalui SK Menhut No. 423/Menhut-II/2004.
     Kawasan  berlokasi antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Katingan dijadikan TN upaya pelestarian agar berbagai kekayaan didalamnya khususnya flora dan fauna khususnya yang dilindungi bisa berkembang populasinya.
     Berdasarkan sebuah catatan, proses penunjukkan Sebangau sebagai Taman Nasional di wilayah Kalteng didasarkan atas usulan Pemerintah daerah dan didukung oleh masyarakat lokal yang bermukim di sekitar TN Sebangau.
     Penetapan Sebangau sebagai TN dilakukan melalui penetapan batas kawasan, dan proses ini dilaksanakan oleh Badan Planologi Hephut dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan TNS sebangau.
     Ditunjuknya kawasan di tengah Pulau Borneo ini sebagai taman nasional dinilai oleh berbagai kalangan sesuatu yang positifr mengingat kawasan ini memiliki kekhasan dan spisifikasi lahan yang unik dan menarik.
    Di TN Sebangau, memiliki keaneka ragaman hayati baik flora maupun fauna, tetapi yang unik lagi terdapat ekosistem air hitam.
     “Ekosistem yang unik yang khas itulah yang menyebabkan TN Sebangau Kalteng dijadikan kawasan ekowisata,” kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng, Aida Meyarti, Sabtu.
     Konsep ekowisata kawasan TN Sebangau tersebut sudah pula diusung oleh World Wide For Nature (WWF)Indonesia, yaitu bentuk pengembangan pariwisata berkelanjutan bertujuan untuk pelestarian lingkungan termasuk didalamnya alam dan budaya.
     Ketika dihubungi mantan Kabid Promosi Wisata Disbudpar Kalteng itu menyebutkan ekosistem air hitam yang terjadi akibat proses pelapukan bahan organik di lahan hutan bergambut kawasan itu dinilai unik dan menarik di pandangan wisatawan.
     Keunikan itulah yang ditonjolkan untuk memprosikan kawasan TN Sebangau sebagai kawasan objek wisata, dan ternyata memang direspon kalangan wisatawan khususnya dari mancanegara.
     Ekosistem ini memberikan manfaat kehidupan, baik tumbuhan maupun binatang.
     Tumbuhan ada yang bernilai ekonomis tinggi seperti pohon jelutung, damar, rotan, gemor, serta pohon bernilai industri seperti kayu ramin, blangeran, meranti.
     Bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Idonesia (LIPI) tahun 2006 lalu telah melaukan penelitian di kawasan TN Sebangau, ternyata terdapat 808 jenis tumbuhan yang mengandung khasiat obat.
     Selain itu, TN Sebangau juga merupakan habitat sejumlah satwa seperti burung enggang, beruang madu, rusa, serta satwa lainnya dengan spicies induk orangutan.
     Hasil survei dan penelitian tahun 2006 itu terdapat 6000-9000 ekor populasi orangutan menghuni kawasan ini.
     Mengutip hasil penelitian atau studi hutan raya gambut, Universitas Palangkaraya (Unpar) terdapat sedikitnya 106 jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di wilayah itu, diantaranya adalah tumbuhan khas Kalimantan.
     Selain itu terdapat 116 spicies burung diantaranya adalah burung khas Kalimantan, burung Enggang.
     Sementara 35 jenis mamalia, yang ada di kawasan itu selain orang utan juga ada Bekantan (nasalis larvatus) merupakan satwa kera hidung besar yang hanya ada di Pulau terbesar nusantara ini.
     Masih ada pula kera lain yaitu lutung, kera abu-abu dan beberapa jenis lainnya.
     Potensi wisata lain di taman nasional ini, keberadaan alamnya, terdapat jeram, lembah, serta danau-danau.
     Berdasarkan sebuah tulisan yang dirilis media yang diterbitkan WWF Indonesa Kalteng edisi Juni-Desember 2008 menyebutkan sebagai kawasan pelestarian alam maka TN sebangau merupakan salah satu kawasan rawa gambut yang mengandung berjuta misteri.
     Di TN Sebangau tumbuh beribu jenis flora dan habitat berbagai jenis satwa, dikelilingi dan diinteraksi oleh keragamanan budaya khas masyarakat Dayak dengan kehidupan tradisionalnya dalam memanfaatkan SDA di kawasan itu.
     Menurut tulisan itu, petunjukan Sebangau sebagan TN harus memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitarnya, karenanya dengan segala kekayaan dan potensi yang dimiliki harus dikelola untuk kegiatan yang berkelanjutan oleh semua pihak dan ekowisata merupakan salah satu yang dapat dikembangkan.
     Melihat keunikan itulah, maka taman nasional Sebangau sering dikunjungi pihak turis asing termasuk delegasi asing seperti baru-baru ini kedatangan delegasi Perlemen Australia.
      Taman nasional Sebangau juga memperoleh perhatian khusus dari WWF sebuah organisasi konservasi mandiri dan terbesar di dunia.
      Baru-baru ini pula WWF Jepang Yumiko meninjau taman nasional Sebangau untuk melihat kegiatan konservasi yang dilakukan WWF World Wide For Nature (WWF).Indonesia.
     Kunjungan pejabat, tercatat Mantan Menteri Pariwisata I Gede Ardika dilanjutkan kunjungan perwakilan kedutaan besar Norwegia ke lokasi ini.
     Kunjungan lainnya dilakukan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Ditjen PHKA Dephut, Direktur Kehutanan dan Sumber Daya Air Bappenas.
     Peserta “Indonesian In Peat and Lowland Management” dari berbagai negara dan provinsi melakukan field trip ke TN Sebangau November 2008 lalu, kunjungan ke lapangan ini mengawali symposium yang diselanggarakan Cetral Kalimantan Petland Project, di Unpar.

 

 

air hitam Contoh air, yang berada di areal ekosistem air hitam Taman Nasional Sebangau

MENIKMATI KEHIDUPAN SOSIAL ORANGUTAN DI TANJUNG PUTING

Oleh Hasan Zainuddin
Beberapa sungai meliuk-liuk di kawasan hutan bergambut di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), yang sebagian kecilnya berada di kabupaten lain di Provinsi Kalimantan Tengah.
Kalangan wisatawan, khususnya yang datang dari mancanegara, biasanya menyusuri sungai-sungai itu seraya mencermati keanekaragaman hayati yang hidup dan berkembang di kawasan itu.
Begitu banyak spesies flora dan fauna yang bisa dinikmati wisatawan di kawasan Tanjung Puting. Sebut saja sejumlah satwa yang berkeliaran di sana, seperti orangutan, bekantan, uwa-uwa, burung enggang.
Kekayaan flora dan fauna itulah yang menjadikan kawasan seluas sekitar 400 ribu hektare itu memiliki daya tarik bagi wisatawan.
Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng menyatakan, keberadaan TNTP jadi tujuan utama wisatawan dari berbagai negara ke provinsi itu.
Kawasan Tanjung Puting juga identik dengan “Camp Leakey”, lokasi rehabilitasi kehidupan ratusan ekor satwa orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Aida Meyarti.
Keberadaan objek wisata itu, kata dia, sudah begitu dikenal luas di kalangan wisatawan asing, khususnya mereka yang suka berpetualang dan mencintai kehidupan satwa unik yang dilindungi yang bebas berkeliaran di TNTP.
Selain orangutan, taman nasional itu juga ada monyet lainnya, seperti bekantan (Nasalis larvatus) yang kehidupannya juga memiliki nilai jual yang tinggi bagi wisman.
Oleh karena itu pemerintah Kalteng menjadikan TNTP sebagai lokasi andalan, yang selalu dipromosikan guna menarik lebih besar lagi kunjungan wisman.
Berdasarkan penuturan sejumlah wisman yang pernah ke TNTP, kata Aida, mereka secara khusus menikmati perilaku sosial orangutan.
Perilaku sosial satwa itu jadi atraksi menarik, katanya, seperti bagaimana mereka saling mengintimidasi, cara makan, pola penjelajahan, kehamilan, hingga cara bersarang orangutan.
Sisi lain yang tidak kalah menarik yaitu cerita tentang perebutan wilayah kekuasaan orangutan. Silsilah  orangutan di “Camp Leakey” selalu menjadi perhatian Wisman, kata Aida Meyarti.
Silsilah kekuasaan ini memunculkan beberapa nama orangutan yang cukup terkenal, seperti Kosasih, Tom, dan Siswi.
Camp Leakey” didirikan tahun  1971, ketika itu Prof DR Birutte Galdikas bersama suaminya Rod Brindamour melakukan penelitian mengenai orangutan di “Camp WSilkey”, begitu kawasan itu disebut ketika itu.
Nama Leakey, yang dikenal sekarang, diambil dari nama belakang seorang paleoantropogist dari Kenya, Louis Leakey, yang tak lain  guru dari  Birutte Galdikas.
Sebagai penghargaan kepada sang guru besarnya, Galdikas menamakan tempat penelitiannya itu dengan nama “Camp Leakey”.
Bertahun-tahun Birutte Galdikas melakukan penelitian perilaku orangutan di lokasi itu, sampai akhirnya “Camp Leakey” dijadikan tempat pengelepasan orangutan. Sekitar 200 ekor orangutan telah dilepaskan di TNTP dari tempat itu.
Pada  1995 pemerintah Indonesia melarang penglepasliaran orangutan di wilayah hutan yang telah memiliki populasi orangutan liar seperti TNTP, sehingga saat ini aktivitas yang dilakukan “Camp Laekey” hanya terbatas pada penelitian dan pemberian makanan pada orangutan yang pernah menjalani rehabilitasi.
Bukan hanya kehidupan satwa yang jadi perhatian wisman ke lokasi itu, tetapi juga  beberapa jenis hutan sekaligus berbagai kehidupan flora dan fauna menghiasi TNTP.
Menurut Kepala Balai TNTP Ir Gunung Wallestein Sinaga, melalui sebuah buku karangannya, TNTP memiliki delapan tipe hutan yang berpotensi jadi objek wisata petualangan dan penelitian.
Jenis hutan tersebut antaranya hutan dipterocarpus tanah kering  mencakup 40,50 persen luas TNTP, jenis pohon yang mendominasi di hutan demikian adalah shorea, myristica, castanopsis, lithocarpus, xylopia, dan scorodocarpus.
Kemudian hutan rawa campuran perifer sekitar 20 persen TNTP, hutan rawa gambut ramin  yang terdapat hampir di seluruh pinggir kawasan TNTP. Rawa gambut ramin itu sebagian besar sudah rusak setelah pohon raminnya banyak ditebang.
Hutan rawa transisi merupakan salah satu tipe hutan rawa yang penting yang dicirikan oleh tumbuhnya castanopsis, casuarina sumatrana, schiima, tetramerista, durio acutifolis, eugenia dan sejenis meranti yang disebut damar batu.
Hutan lainnya adalah hutan shorea balangeran yang didominasi pohon shorea balangeran (blangeran) yang banyak dijumpai di pinggiran rawa gambut dan disepajang batas banjir TNTP.
Hutan kerangas, yaitu tipe hutan yang tumbuh di atas tanah berpasir putih. Jenis pohon yang banyak dijumpai di hutan seperti ini antara lain dacrydium, eugenia, castanopsis, hopea, dan shima.
Hutan pesisir pantai dan bakau  serta hutan sekunder yang menghiasi kawasan TNTP seluas 270.040 hektare.
Kawasan TNTP merupakan objek wisata alam yang  paling banyak diminati wisatawan yang suka menyaksikan kehidupan satwa.
Keistemewaan lain,  kawasan suaka margasatwa TNTP sudah ditetapkansebagai “cagar Biosfer.”
Cagar biosfer adalah situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerjasama dengan program “Man and Biosphere-Unesco, yaitu kegitan yang memprosikan keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan berdasarkan pada upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahun.
Karakteristik utama cagar  itu adalah pengelolaan dengan sistem zonasi, fokus pada arah pendekatan berbagai pemangku kepentingan, mengintegrasikan keanekaragaman budaya dengan keanekaragaman hayati, terutama peran pengetahuan tradisional dalam pengelolaan ekosistem, serta berpartisipasi dalam jaringan dunia.
Dengan demikian TNTP masuk dalam jaringan cagar biosphere dunia yang telah mencapai lebih dari 400 situs di 94 negara.

ou satu dari ratusan ekor orangutan TNTP Kalteng