MADU LEBAH KIAN SULIT DIPEROLEH DI PEDALAMAN KALSEL

Balangan, Kalsel,17/10 (ANTARA)- Serang lebah yang bergelantungan d pohon-pohon besar kawasan hutan Pegunungan Meratus, Pedalaman kalimantan Selatan (Kalsel) kini tak banyak kagi terlihat.

lebah.jpg sarang lebah madu di atas pohon
Akibat berkurangnya jumlah sarang lebah di hutan-hutan pedalaman Kalsel itu gilirannya madu lebah yang dihasilkan dari sarang lebah itupun sulit diperoleh dikawasan-kawasan tersebut, demikian dilaporkan, Rabu.
Wartawan ANTARA yang melakukan mudik lebaran memperoleh penjelasan masyarakat, kian berkurangnya sarang lebah di pohon besar akibat terjadi penebangan pohon kayu besar yang menjadi habitat lebah madu.
“Sepuluh tahun lalu, masih banyak sarang lebah bergelantungan di dahan-dahan kayu, tetapi kini setelah pohon kayu besar banyak ditebang untuk kebutuhan kayu gergajian, maka sulit dilihat lagi sarang lebah bergelantungan itu,” kata Nurdin penduduk Desa Panggung, Kabupaten Balangan.
Jenis kayu besar yang selama ini menjadi habitat lebah adalah kayu kusi (sejenis kayu besi), kayu kupang (kidaung), kayu surian, kayu lahung (pohon kayu sejenis keluarga durian-durianan)dan beberapa jenis pohon kayu besar lagi.
Tetapi kayu-kayu itu banyak diburu warga untuk ditebang, kemudian melalui peralatan mesin gergaji kayu-kayu itu dibelah-belah menjadi papan, kayu gergajian, karena kayu besar maka jumlah kayu gergajian dari pohon itu menjadi banyak jumlahnya, akhirnya kayu-kayu itupun di buru.
Akibat hilangnya kayu-kayu besar akhirnya lebah madu sulit bersarang lagi, binatang kecil itupun kini lari ke dalam hutan lagi yang jauh dari jangkauan manusia.
Dampak yang dirasakan sekarang adalah sulitnya memperoleh madu lebah dari sarang lebah di pohon-pohon besar, padahal madu merupakan kebutuhan masyarakat sejak dulu, baik untuk kondusmi mapun untuk kebutuhan kesehatan.
“Kalau dulu setiap warga pasti menyimpan madu lebah untuk campuran makanan, seperti untuk teman makan ubi kayu rebus, pisang rebus, campuran makanan roti atau sebagai minuman kesehatan, tetapi sekarang kebiasaan itu sudah sulit dipenuhi lagi,” kata warga lain.
Dengan sulitnya mencari madu lebah itu, maka harga madu lebah juga kini kian mahal antara Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per botol, padahal dulu paling banter hanya sekitar p5 ribu hingga Rp10 ribu per botol.
Madu lebah yang banyak dijual sekarangpun bukan dari lebah yang bersarang dipohon besar, tetapi lebah yang bersarang di pohon kecil dengan bentuk tubuh lebah yang lebih kecil yang disebut masyarakat sebagai lebah iruan, padahal lebah yang bersarang dipohon besar disebut lebah wanyi.
Untuk kesehatan tubuh madu yang dihasilkan lebah iruan dianggap kurang khasiatnya, tetapi lebah yang dianggap berkualitas adalah madu dari hasil ekstrak lebah wanyi.
Lebah iruan hanya mencari makan di hutan disekitar sarangnya saja sementara lebah wanyi yang dikenal terbang berkelompok besar kema-mana mampu mencari makan ke hutan-hutan yang luas, dan kembali pada malam hari ke sarang secara berkelompok pula.

 

Iklan

DI PEDALAMAN KALSEL DITEMUKAN SEJENIS MADU BUKAN DARI LEBAH

Proses pencarian madu kelulut

 muncung sarang kalulut di pohon

Banjarmasin,10/6 (ANTARA)- Masyarakat yang tinggal di pedalaman Propinsi Kalimantan Selatan persisnya di lereng Pegunungan Meratus Kabupaten Balangan menemukan sejenis madu yang bukan dari hasil pembuatan lebah.
Binatang yang mengolah madu tersebut bentuk kecil lebih kecil dari lalat disebut masyarakat setempat sebagai binatang kalulut, sehingga madu yang dihasilkannya itu disebut madu kelulut, demikian keterangan dari warga di Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan,Kalsel, Minggu.
Madu kalulut kini mulai digandrungi masyarakat bukan sekedar untuk kesehatan tubuh sebagaimana madu lebah, juga sebagai teman makan kue, atau makanan pisang rebus dan ubi rebus.
Menurut, Aliansyah yang dikenal sebagai pencari madu kalulut di Desa Inan, Kecamatan Paringin, madu tersebut dianggap lebih berkhasiat dibandingkan madu lebah.
Masalahnya binatang kelulut lebih kecil dibandingkan lebah sehingga binatang ini pasti lebih teliti dalam mengekstrak madu untuk makanan anak-anaknya.
Hanya saja, bagi sebagian orang di wilayah ini kurang suka terhadap jenis madu ini, lantaran rasanya sedikit asam dibandingkan madu lebah, tetapi bentuk warna atau kekentalan sama saja dibandingkan madu lebah.
Untuk mencari madu kalulut ini memang rlatif lebih sulit dibandingkan madu lebah, karena setiap satu sarang kalulut hanya sedikit sekali menghasilkan madu.
“Makanya untuk mendapatkan satu liter madu kalulut, itu harus mampu mengambil madu untuk beberapa sarang kalulut, sementara kalau mengambil madu lebah hanya satu sarang bisa mencapai puluhan liter” kata Aliansyah.
Apalagi sarang kalulut itu bukan berada bergelantungan di dahan pohon seperti layaknya sarang lebah, tetapi sarang kalulut itu berada dalam rongga batang pohon besar.
Biasanya sarang kalulut itu berada dalam rongga batang pohon besar, Untuk mengenali batang pohon itu ada atau tidak sarang kalulut, ditandai dengan sekelompok binatang kalulut yang beterbangan di sekitar itu.
Untuk mendapatkan madu kalulut tersebut pencari madu ini harus menebang dulu pohon itu, kemudian baru membelahnya pakai kampak, setelah itu baru kelihatannya sarang kalulut lengkap dengan wadah-wadah madunya.
Wadah madu ini persis seperti balon-balon kecil menggelembong, balon itu terbuat dari bahan yang diproduksi binatang ini menyerupai lilin hitam. Bila gelembong itu pecah sedikit saja maka madu akan ngocor dari gelembong tersebut.
Makanya cara mengambil madu tersebut terlebih dahulu mengumpulkan balon-balon kecil itu ke dalam wadah, setelah terkumpul baru balon itu dipecah atau diperas hingga madunya terkumpul.
Enaknya mengambil madu itu karena gigitan binatang ini tidak sakit dibandingkan gigitan lebah, paling banter sakitnya seperti gigitan nyamuk, tetapi kalau binatang ini marah biasanya secara berkelompok menyerang bagian rambut orang hingga seringakali binatang ini banyak nyangkut dirambut orang.
Binatang ini selain banyak bersarang di dalam pohon besar, juga ada yang bersarang dalam gondokan tanah merah semacam gunung kecil atau yang disebut penduduk setempat tanah balambika.
Bila madu kalulut yang bersarang dalam tanah merah ini diambil maka warna madu kalulut agak merah keputih-putihan, sedangkan madu dalam pohon agak merah ke hitam-hitaman.
Lantaran sulit diperoleh maka kalau ada yang menjual madu inipun harganya lebih mahal ketimbang harga madu lebah, bila harga madu lebah asli rp50 ribu per liter di pedalaman Kalsel, maka harga madu lebah ini bisa Rp60 ribu per liter.
Konon agar madu ini lebih berkhasiat kalau didiamkan lebih lama dulu, sehingga dikenal ada madu kalulut usianya tahunan di tangan masyarakat.
Konon pula madu banyak sekali khasiatnya, selain bisa untuk kejantanan laki-laki atau awet muda, atau untuk obat demam, atau obat luka.