2 cren

PELABUHAN INDONESIA BAIK PERKUAT IKON NEGARA MARITIM
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin()- Negara Indonesia yang memiliki belasan ribu buah pulau hingga negara ini berjuluk sebagai negara maritim di dunia.
Anak bangsa ini pun sejak dulu dikenal pula sebagai bangsa pelaut, lantaran banyak anak bangsa ini yang mencari penghidupan di laut.
Namun julukan sebagai negara maritim tak diimbangi dengan kemajuan tehnologi menggali potensi kelautan, termasuk meningkatkan dunia kepelabuhanan yang tangguh yang bisa mendongkrak kemakmuran masyarakatnya.
Image pelabuhan Indonesia selama ini memang buruk, puluhan tahun keberadaan pelabuhan Indonesia tidak pernah maksimal dalam pengelolaannya. Kapasitas pelabuhan kalah dari pelabuhan negeri tetangga.
Kelemahan itu justru menjadi berkah buat bagi negara lain khususnya negara-negara tetangga. Potensi devisa menguap ke negara-negara lain yang bertetangga dengan Indonesia.
Potensi kepalabuhanan Indonesia begitu besar, dua pertiga wilayah Indonesia berupa perairan, posisi negeri ini berada di persilangan rute perdagangan dunia, yang bisa memberikan peluang emas untuk sebuah kemajuan bangsa.
Tetapi kenyataan yang ada bangsa ini tetap saja menjadi sebuah negara tertinggal, sebagai negara maritim sudah selayaknya bangsa ini menggali potensi kepelabuhanan yang maksimal, setidaknya untuk memudahkan berbagai produk ekonomi termasuk produk kelautan dan perikanan, pertanian, perkebunan, pertambangan, ke berbagai negara lain.
Gimana mau mensuplai produk ekonomi seperti tersebut di atas untuk bongkar muat saja harus antri berhar-hari bahkan berminggu-minggu, sehingga kalau mengapalkan sebuah produk pertanian seperti buah saja, maka sempat busuk ditempat sebelum sampai ke tujuan.
Sebuah data diperoleh dari World Economic Forum dalam laporan ‘The Global Competitiveness Report 2011-2012’ menyebutkan, kualitas infrastruktur pelabuhan Indonesia buruk. Berada di peringkat ke-103.
Dibanding negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia jauh tertinggal. Malaysia saja menempati urutan ke-15, Singapura peringkat pertama, dan Thailand ke-47.
Rendahnya rating pelabuhan Indonesia tidak terlepas akibat pelayanan bongkar muat barang yang tidak efektif dan efisien. Padahal, pelabuhan sebagai image perekonomian negara di mata dunia internasional.
Ambil saja contoh pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dimana untuk bongkar muat harus rela dan bersabar antri berhari-hari bahkan berminggu-minggu, lantaran kapasitas pelabuhan yang tidak mampu menampung kapal sandar secara bersamaan, sehingga kapal harus menunggu giliran.
Untuk menunggu giliran begitu lama tentu menelan biaya tinggi bagi operasional sebuah kapal, sehingga lokasi ini bukan sebuah pelabuhan yang menjadi pilihan bagi usaha bongkar muat bagi perkapalan.
Kondisi yang terjadi di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin bisa jadi sebuah cerminan dunia kepelabuhanan rata-rata di Indonesia, yang sejak dulu dikatakan sebagai negara maritim tersebut.
Itu baru persoalan kapasitas pelabuhan, belum lagi persoalan lain yang terjadi di Trisakti Banjarmasin, dimana lokasi pelabuhan ini berada di aliran sungai yang dangkal yakni Sungai Barito.
Kondisi buruk di Sungai Barito berada di alur muara sungai yang terjadi pendangkalan akibat sendimentasi lumpur yang parah, setelah terjadi kerusakan hutan di hulu sungai yang membawa partikel lumpur ke sungai terus larut ke muara hingga terjadi pendangkalan tersebut.
Puluhan miliar bahkan ratusan miluar rupiah, hanya untuk mengeruk lumpur di muara sungai agar kapal bisa lalu-lalang di pelabuhanm tersebut, kalau tidak dikeruk jangan harap pelabuhan ini bisa hidup sebagai pintu gerbang perekonomian Kalimantan.
trisakti

Sejarah

Berdasarkan sejarahnya keberadaan Pelabuhan Banjarmasin dikenal sejak abad XIV dan letak pelabuhannya ditepi Sungai Barito dengan nama Marapian, kemudian berpindah ke Marabahan dan berpindah lagi ke sungai Martapura dengan nama Pelabuhan Martapura.
Pada tahun 1925 dikeluarkan beslit Gubernur Jenderal No 19 tanggal 25 Nopember 1925 yang kemudian diperbaiki dengan beslit No 14 tanggal 17 Oktober 1938 Staatblad No 616/1938 pengukuhan pengelolaan Pelabuhan Martapura (Lama).
Pada tahun 1961 mulai dibangun Pelabuhan Trisakti di Sungai Barito, mengingat daya tampung Pelabuhan Martapura (Lama) tidak memadai lagi.
Pada tanggal 10 September 1965 diresmikan pemakaian Pelabuhan baru dengan nama Pelabuhan Trisakti Banjarmasin atau disebut Pelabuhan Banjarmasin.
Daerah lingkungan kerja pelabuhan perairan sluas 95 hektare, daerah lingkungan kepentingan pelabuhan perairan 115 hektare, dan ditetapkan dengan SK bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Dalam Negeri No 14 tahun 1990.
Pelabuhan Trisakti berada di belahan kota Banjarmasin ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, terletak di tepi Sungai Barito,sekitar 20 mil dari muara Sungai Barito pada posisi 03″ 20″ 18″ LS, 114″ 34″ 48″ BT.
Pelabuhan Banjarmasin merupakan pendukung utama transportasi laut yang secara langsung maupun tidak langsung berperan aktif dalam pembangunan ekonomi Propinsi Kalimantan Selatan.
Perkembangan pelabuhan ini memang terus meningkat, fasilitas pun terus dibangun, seperti dermaga terminal penumpang kontruksi beton 80 meter, dermaga trisakti lama 750 meter, dermaga Martapura Baru 350 meter, dermaga petikemas baru 265 meter, dermaga petikemas 240 meter, dermaga trisakti baru 120 meter.
Arus kedatangan kapal sampai tahun 2013 lalu sebanyak 17.253 unit, arus barang 8.265.935 ton, arus petikemas 387.954 box dan 428.478 teus, arus penumpang 148.923 orang.
Realisasi arus kapal pada tahun 2013 di Pelabuhan Banjarmasin meningkat 8-9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dimana tahun 2013 tercatat sebanyak 17.253 unit kapal dengan berat mencapai 98.181.591 Gross Tonage (GT).
Sedangkan realisasi khusus kapal jenis petikemas pada tahun 2013 meningkat 10 persen (dalam satuan unit) dan meningkat 78 persen (dalam satuan GT) dibandingkan tahun sebelumnya, dimana realisasi arus kapal jenis petikemas tahun 2013 tercatat 1.137 unit dengan berat mencapai 7.207.642 GT.
“Ini yang menunjukkan terjadi peningkatan arus barang yang masuk maupun keluar melalui Pelabuhan Banjarmasin,” terang General Manager PT Pelindo III Cabang Banjarmasin, Hengki Jajang Herasmana.
Ia mengakui perusahaannya tersebut akan terus mengembangkan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin ke arah yang lebih baik, sebagai upaya peningkatan ikon negara maritim.
Salah satu pengembangan terbaru penambahan pembangunan dermaga petikemas sepanjang 265 M x 34,5 m oleh kontraktor PT Wijaya Karya yang pemancangan perdananya dilakukan pada 13 April 2012 lalu dioperasikan, setelah diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada acara peresmian proyek MP3EI di Banjarbaru pada tanggal 23 Oktober 2013 lalu.
Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kalimantan Selatan Jumadri Masrun mengapresiasi perkembangan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Dengan adanya tambahan fasilitas ini tentunya waktu tunggu kapal dapat semakin ditekan, diwaktu dulu kala, waktu tunggu kapal sempat mencapai 7 hari maka nantinya dapat ditekan.

 

 

 

Alternatif

Walaupun perkembangan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin menunjukkan peningkatan, tetapi jika melihat perkembangan kota Banjarmasin dan sekitarnya yang begitu pesat, maka kedepan kondisi pelabuhan Trisakti seakan tidak bakal mampu lagi menampung kegiatan bongkar muat tersebut, apalagi kondisi pelabuhan ini termasuk berada di areal kota yang padat penduduknya.
Persoalan alur Sungai Barito yang kian lama kian deras sendimentasinya, maka pelabuhan ini bukan menjadi pilihan pelabuhan baik kedepan.
Pelindo III Banjarmasin yang merupakan bagian Pelindo III yang berpusat di Surabaya sudah selayaknya memikirkan bagaimana transformasi kinerja Pelabuhan terbesar di Kalimantan ini bisa memberikan tantangan di masa depan.
Kalau memang letak kondisi pelabuhan sudah tidak layak lagi berada di lokasi tersebut kenapa tidak dicarikan alternatif lain yang lebih menjamin kelancaran arus kapal tanpa terhalang lagi oleh sempit alur Sungai Barito.
Selain itu, pelabuhan yang ideal tak jauh dari pusat ekonomi, khususnya pusat industri, pusat hasil perkebunan, pertambangan, dan sektor pertanian lainnya.
Salah satu lokasi yang ideal sebagai tempat pelabuhan laut di wilayah ini adalah kawasan Kabupaten Tanah laut yang berjarak sekitar puluhan kilometer saja dari Banjarmasin, karena lokasi ini berada di tepian Laut Jawa, hingga tidak perlu masuk sungai lagi.
Lokasi yang direncanakan sebagai alternatif pelabuhan baru tersebut memang ada beberapa lokasi salah satunya berada di Pantai Swarangan, Kecamatan Jorong.
Alternatif lain pengembangan Pelabuhan alam Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu Timur Kalsel, walau agak jaug dari Banjarmasin tetapi berpotensi pengembangan ekonomi prov insi ini.
Pelabuhan Batulicin adalah pelabuhan yang terletak ditepian Selat Makasar tak jauh dari Laut Jawa yang menjadi jalur alternatif pelayaran internasional menghubungkan Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik.
Untuk menjadi sebuah pelabuhan modern memang harus berada di lokasi pelabuhan alam bukan buatan, artinya ditepian laut yang berair dalam, kemudian harus adanya pusat transportasi darat yang bagus arah ke berbagai penjuru terutama ke lokasi kosentrasi perekonomian masyarakat.
Hal yang tak kalah penting tentu aneka peralatan kepelabuhanan yang canggih, lapangan penumpukan peti kemas yang luas, pergudangan yang memadai, hingga kerja bisa cepat dan mudah yang memungkinkan bongkar muat barang baik secara manual (curah) maupun peti kemas secara nyaman.
Peralatan yang harus diperhatikan tentu aneka macam seperti keberadaan kapal tunda, speed boat, crane darat, spreader, forklift, top loader, reach stacker, wheel loader, excavator, dump truck, conveyer, dan aneka peralatan lainnya yang mendukung kelancaran pelabuhan tersebut.
Bila semua peralatan ini bisa tersedia dengan baik ditambah manajemen yang baik oleh sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas pula, maka kinerja pelabuhan terbesar Kalimantan ini akan bisa menjawab tantangan masa yang datang.

 

 

Iklan

PELINDO KEMAS TANJUNG PERAK JADI PELABUHAN UTAMA

 Oleh Hasan Zainuddin

Kepala-Humas-Pelindo-III-Edi-Priyanto

Kepala Humas Pelindu III, Edi Priyanto
Banjarmasin, 7/9 (Antara) – Meningkatnya perekonomian mikro maupun makro Indonesia Timur, khususnya di wilayah Jawa Timur beberapa tahun belakangan ini berdampak terhadap bisnis bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Dengan membaiknya perekonomian itu telah melahirkan aktivitas bongkar muat antar pulau domistik serta aktivitas bongkar muat ekspor maupun impor yang meningkat pula hingga memerlukan peran lebih besar terhadap pelabuhan.

Hal itu membuka peluang bagi PT Pelindo III untuk mengkemas Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya agar lebih berkembang lagi.

Seperti penuturan Kepala Humas PT Pelindo III (Persero) Edi Priyanto saat menerima 19 wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Pelabuhan (Forwapel) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang melakukan kunjungan dalam rangka pres tour ke Pelabuhan Tanjung Perak pada tanggal Kamis dan Jumat (5-7/9) 2013 lalu.

Dalam pertemuan yang dihadiri beberapa orang staf Humas Pelindo III dan Humas Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dan ketua Porwapel Surabaya, Menejer SDM dan Umum Pelindo III cabang Banjarmasin Firmaniansyah serta beberapa orang staf humas Pelindo III Banjarmasin.

petikemas

 

Aku di tengah tumpukanpetikemas

 

Edy Priyanto menuturkan melihat kian berkembangnya Pelabuhan Tanjung Perak tidak tertutup kemungkinan pelabuhan ini menjadi sebuah pelabuhan yang besar nomor satu di Indonesia menggeser posisi Tanjung Priok.

Masalahnya, posisi Tanjung Perak yang strategis untuk kawasan Indonesia Timur, dan memiliki lokasi yang berdekatan dengan kawasan industri, serta upah buruh yang agak murah, sumberdaya manusia tersedia dan beberapa kelebihan lainnya dibandingkan pelabuhan lainnya di tanah air.
Melihat kenyataan tersebut kian banyak saja pelaku aktivitas pelabuhan lain di Indonesia termasuk Tanjung Priok yang kini mengalihkan aktivitasnya ke Tanjung Perak.

Dengan berkembangnya aktivitas pelabuhan Tanjung Perak maka pelabuhan ini kian dibenahi bukan saja yang ada di Tanjung Perak Surabaya seluas 350 hektare, tetapi kedepan akan meluas ke wilayah Gresik, Pulau Madura dan terminal multipurpose Teluk Lamong dengan lahan yang dicadangkan melebihi 2500 hektare.

Guna mengembangkan pelabuhan tersebut, bukan saja memacu beberapa unit terminal, tetapi juga memacu beberapa anak perusahaan di bawah Pelindo III, bahkan dalam mengembangkan pelabuhan ini Pelindo III sudah mengucurkan dana investasi pada setahun terakhir sedikitnya Rp6,1 trilun per tahun.

Beberapa fasilitas yang ada di wilayah Tanjung Perak pun terus dibenahi termasuk peralatannya hingga kedepan bisa mewujudkan pelabuhan ini menjadi pelabuhan utama di tanah air.

Rencananya Pelindo III akan membangun sebuah terminal penumpang kapal laut termegah di Indonesia, dengan kapasitas sekitar 5000 orang, dengan sistem keluar masuk penumpang seperti layaknya Bandar Udara (Bandara) kata Edy Priyanto.

Mengenai fasilitas yang tersedia di Pelabuhan Tanjung Perak disebutkannya antara lain terminal Jambrut panjang dermaga 2.190meter, luas gudang 43.265 m2, luas lapangan penumpukan 34.000 m2.

Terminal Mirah panjang dermaga 640, luas gudang 13.450, luas lapangan penumpukan 24.000 m2, terminal Berlian panjang dermaga 1.620 m, luas gudang 11.735 m2, luas lapangan 40.000 m2.

Kemudian terminal Nilam panjang dermaga 930 m, luas lapangan 40.000 m2, terminal Kalimas panjang dermaga 2.270 m, luas gudang 6.180 m2, luas lapangan 4.000 m2, terminal TPS panjang dermaga 1.450 m, luas gudang 10.000 m2,luas lapangan 490.000 m2.

Bidang usaha yang dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini antara lain tambat labuh, pengisian bahan bakar dan pelayanan air bersih, fasilitas terminal penumpang, untuk naik dan turun penumpang dan kendaraan, dermaga, gudang, dan tempat penimbunan barang, alat B/M serta peralatan pelabuhan, serta terminal petikemas, curah cair, curah kering, dan roro.

Tentu saja semua kegiatan tersebut berdasarkan standar yang dipercayai seperti antara lain manajemen mutu ISO 9001-2008, manajemen lingkungan ISO 14001:2004, serta manajemen Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

Sementara visi yang diemban adalah menjadikan Pelabuhan Tanjung Perak sebagai penyedia jasa pelabuhan yang prima, berkomitmen memacu integrasi logistik nasional,tuturnya.

Sedangkan misinya adalah menjamin penyediaan jasa pelayanan prima melampaui standar yang berlaku secara konsisten, memacu kesinambungan daya saing industri nasional melalui biaya logistik yang kompetitif, tambahnya lagi.

Dengan kian berkembangnya pelabuhan di kota pahlawan tersebut maka kian terlihat pula peningkatan kunjungan kapal.

Berdasarkan sebuah data yang diperoleh penulis kunjungan kapal Kepelabuhan Tanjung Perak per Oktober 2012, terdiri atas kapal peti kemas 3.988 unit, kapal non petik kemas 2.842 unit, kapal penumpang 1.114 unit, kapal tanker 1.155 unit, kapal lainnya 3.072 unit dengan jumlah 12.171 unit.

peralatan

 

sarana di pelabuhan Tanjung Perak
Arus Petikemas
Dari sekian kegiatan bongkar muat di Pelabuhan tersebut agaknya sarana petikemas menjadi primadonanya, karena dinilai memiliki kelebihan sehingga arus bongkar muatpun terus meningkat pula.

Berdasarkan sebuah data, secara umum, total arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak selama triwulan I tahun 2013 (Januari-Maret 2013) terealisasi sebanyak 568.780 box atau setara 680.241 teus.

Arus petikemas tersebut apabila diperinci lagi berdasarkan lokasi terminal di Pelabuhan Tanjung Perak, terdiri dari terminal konvensional (yang terdiri dari terminal Jamrud, Nilam dan Mirah) terealisir 120.164 box atau setara 128.146 teus.

Selanjutnya terminal Berlian (PT Berlian Jasa Terminal Indonesia) terealisasi 211.556 box atau setara 230.889 teus dan Terminal Petikemas (PT Terminal Petikemas Surabaya) tercapai 237.060 atau setara 321.206 teus.

Arus petikemas di Pelabuhan Tanjung Perak tersebut apabila diprosentasikan berdasarkan asal dan tujuan perdagangan, arus petikemas domestik masih mendominasi, dimana dalam satuan teus diketahui sebanyak 44,7 persen merupakan petikemas internasional dan 55,4 persen adalah petikemas domestik.

Realisasi arus petikemas internasional mencapai 303.536 teus dan petikemas domestik mencapai 376.705 teus.

Distribusi arus petikemas domestik di Pelabuhan Tanjung Perak dalam satuan teus didominasi oleh terminal Berlian (PT TPS) sebesar 54,2 persen atau setara dengan 204.059 teus, disusul terminal konvensional (Jamrud, Mirah dan Nilam) sebesar 34 persen atau setara dengan 127.978 teus dan terminal Petikemas Surabaya (PT TPS) yang hanya mencapai 11,9 persen atau setara dengan 44.668 teus.

Tetapi sebaliknya distribusi arus petikemas internasional didominasi oleh PT TPS sebesar 91,1 persen atau setara dengan 276.538 teus disusul terminal Berlian (PT BJTI) sebesar 8,8 persen atau setara dengan 26.830 teus dan terminal konvensional (Jamrud, Nilam dan Mirah) sebesar 0,1 perse atau setara dengan 168 teus.

Hal itu diakui oleh Humas PT TPS Ardiansyah saat memandu kunjungan Porwapel Banjarmasin ke lapangan di areal PT TPS, bahwa sebagian besar petik kemas di perusahaan patungan Indonesia-Dubai ini tujuan ekspor.

“Lihat itu beberapa kapal besar dengan tujuan Korea Selatan, Singapura, dan China, biasanya barang ini setelah sampai di tiga negara tersebut, di kirim lagi ke berbagai negara lain di dunia,” kata Ardiansyah saat perjalanan menggunakan bus.

Sementara berdasarkan data tiga tahun terakhir (2010-2012) bahwa arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2010 realisasi arus petikemas mencapai 2.407.487 teus meningkat pada tahun 2011 menjadi 2.643.518 teus dan terealisir 2.849.138 teus pada tahun 2012.

Selat Madura
Selain melakukan dialog dengan pejabat Pelindo belasan wartawan anggota Porwapel Banjarmasin dalam pres tour itu pula disuguhi wisata berlayar ke Selat Madura, tujuannya tak lain untuk memperlihatkan aktivitas di Pelabuhan Tanjung Perak tersebut.

Dalam pelayaran memanfaatkan kapal “Artama Harbour Cruise” milik anak perusahaan Pelindo III, PT Pelindo Marine tersebut, wartawan pun di ajak melihat keindahan Jembatan Subaraya-Madura (Suramadu).
Kapal ini memiliki kapasitas sekitar 40 orang dengan kesecapatan maksimum 12 knot, desain yang cukup interaktif dan istimewa dilengkapi dengan fasilitas VIP room, living room, pantry dan mini bar, sun deck, covered deck, dan fasilitas lainnya.

Para wartawan Banjarmasin pun menyatakan rasa senang karena bisa menikmati wisata Selat Madura selama kurang lebih empat jam sambil menimba ilmu kepelabuhanan sekaligus bergembira dengan bernyanyi karaoke di dalam kapal tersebut.