PARADIGMA PENANGANAN PENYAKIT DBD DI KALSEL HARUS DIRUBAH

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,27/11 (ANTARA)-Pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)di Provinsi Kalimantan Selatan belum berhasil, terbukti  incident rate meningkat bahkan daerah tertular lebih banyak, karena perlu perubahan paradigma penanganan penyakit tersebut.
Strategi penanganan Penyakit DBD sekarang ini lebih banyak intervensi ke manuasianya bukan pada lingkungan, padahal  penyebab utama Penyakit Demam berdarah adalah lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, demikian kseimpulan seminar penanganan DBD di Kalsel, seperti diutarakan Ketua Panitia seminar penanganan DBD, Drs.Fahrurazi, M.Si, kepada ANTARA, di Banjarmasin Selasa.
Kalau Kalsel ingin bebas dari Penyakit DBD maka paradigmanya harus dirubah dari kuratif (pengobatan) ke promotif preventif (peningkatan pencegahan).
“Komitmen ini harus ada pada pimpinan daerah provinsi (Gubernur), Kabupaten/Kota (Bupati/Walikota),serta DPRD untuk bersama-sama membuat kebijakan tentang pencegahan Penyakit DBD sebagaimana kesimpulan seminar yang diselanggarakan Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Universitas Islam Kalimantan, Muhamad Arsyad Al Banjari (Uniska),” kata Fahrurazi.
Seperti yang dicontohkan dalam seminar yang diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa IKM dan kalangan kesehatan dam umum keberhasilan daerah Mojokerto setelah terjadi perubahan paradigma, Penyakit Demam Berdarah didaerah tersebut tahun 2007 turun drastis.
Padahal tahun 2006 Mojokerto juga diserang wabah penyakit demam berdarah, bahkan sempat dilakukan fogging menyeluruh.

wagub Kalsel Rosehan NB lakukan pengasapan jentik nyamuk DBD
Partisipasi masyarakat untuk pembiayaan kesehatan sudah cukup tinggi mencapai 80 persen (20 persen Pemerintah) tetapi hampir semuanya adalah kuratif (pengobatan) inilah tugas Dinas Kesehatan (promosi Kesehatan) melakukan advokasi kepada pimpinan daerah dan masyarakat agar partisipasi kuratif berubah ke partisipasi promotif preventif, tambahnya.
Seminar yang berlansung, Sabtu (24/11) menampilkan nara sumber utama seorang pakar kesehatan, Dr.dr.Zarfil Talal yang juga dosen senior Fakultas IKM Universitas Indonesia (UI).
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan (Kalsel), dr Rosehan Adhani mengatakan bahwa serangan penyakit DBD di wilayahnya sudah dianggap kejadian luar biasa (KLB) karena dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Selama tahun 2007 ini saja serangan DBD di wilayah Kalsel sudah tercatat 1288 kasus, suatu jumlah kasus yang sudah mengkhawatirkan, katanya.
Kasus serangan DBD di Kalsel berdasarkan catatan paling banyak terjadi pada rentang waktu antara Januari hingga Maret 2007 atau sekitar  tiga bulan yang mencapai 1010 kasus, katanya saat seminar tersebut.
Dari kasus DBD tahun 2007 ini ternyata yang menyebabkan meninggal dunia sebanyak 15 orang. Dari kasus meninggal ini disebabkan pasien terlambat dibawa ke rumah sakit untuk diobati.
Rosehan Adhani sendiri juga menduga serangan DBD yang kian merebak belakangan ini erat kaitannya dengan perubahan cuaca secara global, dimana musim tak lagi beraturan, termasuk tahun ini musim hujan begitu panjang, dimana seharusnya kemarau tetapi hujan terus-terusan apa yang disebut sebagai kemarau basah.     Dengan cuaca demikian maka memberikan peluang kepada nyamuk penyebab DBD untuk bertelur berulang-ulang.
Serangan DBD di Kalsel terbanyak kasusnya di Tanah laut, kemudian tabalong, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Banjarbaru, Hulu sungai Utara (HSU) dan Kota Banjarmasin.
Kasus serangan DBD yang menyebabkan meninggal dunia terbanyak di Kabupaten Barito Kuala, katanya.

berita-berita

—————
Delapan Meninggal Karena DBD

BANJARMASIN – Dari Januari sampai Oktober 2008, terjadi 731 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Selatan, dan delapan orang diantaranya meninggal dunia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, kasus DBD terbanyak di Kota Banjarmasin meliputi 103 penderita, empat diantaranya meninggal dunia. Disusul Kota Banjarbaru sebanyak 55 korban, empat diantaranya meninggal dunia, dan Kabupaten Tanah Laut yang mencapai 53 kasus.

Untuk mengantisipasi merebaknya DBD menjelang musim hujan ini, Kepala Dinkes Kalsel Rosihan Adhani kepada wartawan, Rabu (15/10), mengatakan, pihaknya akan melakukan tindakan dini, seperti fogging (pengasapan), sebelum terjadi penularan.

Bila dibanding dengan kasus DBD tahun sebelumnya, menurut dia, angka DBD tahun ini mengalami penurunan yang cukup besar, baik jumlah kasus maupun korban yang meninggal. “Tahun 2007 ada 1.321 kasus DBD, dengan jumlah korban meninggal 16 orang,” ujarnya membandingkan.

Rosihan memprediksi, penurunan itu merupakan pengaruh positif gerakan waspada demam berdarah di masyarakat dengan diiringi pemutusan mata rantai pengembangbiakkan nyamuk Aedes Agepty yang jadi sumber penyakit ini, antara lain melalui fogging secara dini.

Masih terkait upaya penekanan angka deman berdarah, jajaran Dinkes Kalsel mencanangkan Siaga Demam Berdarah dan Dimensi Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasi Pena) yang pelaksanaannya dilakukan 22 November2008.

“Pencanangan ini bertepatan dengan puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44 tahun 2008 di Gelanggang Olah Raga (GOR) Banjarmasin yang rencanya disaksikan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari,” jelasnya.

Waspadai Diare dan Demam Berdarah

Banjarmasin , Intensitas hujan yang mulai sering terjadi dua pekan terakhir, akan berdampak pada mudahnya terjadi penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan diare, khususnya untuk anak anak.
Itu sebabnya, Kepala Dinas Pendidikan Kalsel, drg Rosihan Adhani dan Kasubdin Bina Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinkses Kalsel, Sukamto Mkes mengingatkan, masyarakat agar waspada terhadap kedua jenis penyakit yang dapat menimbulkan kematian bila terlambat penanganan.
“Sampai bulan Februari musim hujan diperkirakan masih berlangsung, bahkan puncaknya, jadi masih perlu diwaspadai,” ujar Sukamto kepada wartawan, Minggu (9/11) di sela sela acara gerak jalan sehat jajaran Dinkes Kalsel dan instansi terkait sebagai rangkaian Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44.
Dikatakan, dari Januari sampai Oktober, lebih dari 731 kasus demam berdarah terjadi dengan jumlah korban mencapai 9 orang.”Yang terbanyak masig Kota Banjarmasin,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi merebaknya penyakit ini, jajaran Dinkes Kalsel melakukan tindakan dini, seperti fogging (pengasapan), sebelum terjadi penularan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang hidup sehat dan bersih.
Bila dibanding dengan kasus DBD tahun sebelumnya, dimana terjadi 1.321 kasus dengan korban meninggal 16 orang, maka tahun ini mengalami penurunan yang cukup besar, baik jumlah kasus maupun korban yang meninggal.”Jadi tidak akan KLB,” tegasnya.
Penurunan kasus ini juga menurutnya sebagai indikasi mulai membaiknya prilaku masyarakat sehingga memutus mata rantai pengembangbiakan nyamuk Aedes Agepty yang jadi sumber penyakit ini.
Terkait dengan diare, secara terpisah Rosihan Adhani menjelaskan, kasus ini setiap tahun selalu merenggut korban jiwa. Pada 2007 jumlah kasus diare di Kalsel berjumlah 35.778 orang dengan 10 orang meninggal. Tahun 2008, kasus diare menurun menjadi 24.077 kasus dengan 3 meninggal.
Pasien yang meninggal meliputi 1 orang di Kecamatan Daha Utara Kabupaten HSS pada bulan Januari, 1 orang di Kecamatan Daha Barat Kabupaten HSS pada bulan Maret dan 1 orang di Kecamatan Birayang Kabupaten HST pada bulan Mei 2008.
“Kita upayakan agar bisa nol.Antisipasi diare ini kan bersifat lintas sektor. Misalnya dengan PDAM selaku penyedia air bersih. Masih banyak penduduk kita yang kekurangan akir bersih, karena tingkat ketercukupan air bersih kita masih enam puluh persen,” jelasnya kepada Barito Post.
Rosihan menambahkan angka CFR (case fatality rate) atau yang menyebabkan kematian pada diare masih pada angka 0,012. “Angka CFR diare untuk Kalsel masih dibawah satu, itu masih dianggap normal dan terkendali. Untuk Kalsel angka kasus diare jangan sampai 99 ribu,” terangnya.
Perilaku masyarakat lainnya yang harus dibenahi adalah buang air. Masyarakat dinilai masih sembarangan buang air besar (BAB), misalnya di tempat terbuka.
Gerak Jalan Sehat
Terkait kegiatan gerak jalan sehat, Rosihan mengatakan kegiatan tersebut merupakan rangkaian peringatan HKN ke 44 tahun 2008.
Kegiatan diikuti segenap jajaran dinas kesehatan dan mitra kerjanya seperti akademi kebidanan, rumah sakit, Puskesmas, dan pihak lainnya yang turut berpartisipasi memeriahkan acara tersebut.
Garis star di halaman kantor Dinkes Kalsel Jalan Belitung Darat menuju Jalan Simpang Anim, kemudian Kuin Selatan, Simpang Belitung dan kembali Jalan Belitung menuju tempat pertama dilepas.
Dalam perjalanan, peserta membawa plastik kosong yang diisi dengan sampah seperti plasik, kertas, kaleng, botong mineral dan sebagainya yang mereka ditemui selama berjalan.
Diakhir acara, peserta bisa berkesempatan mendapat door prize seperti TV, kipas angin dan sebagainya, dari panitia melalui undian.

Iklan

TBC, PELAN DAN PASTI GROGOTI WARGA DITENGAH GERAKAN PENYAKIT LAIN

  Oleh Hasan Zainuddin
 Banjarmasin,20/5 (ANTARA)- Setelah merebaknya isu kemunculan penyakit baru, seketika itu juga seluruh masyarakat termasuk pemerintah terkesan “ketakutan” lalu membentuk sebuah gerakan pemberantasan penyakit baru tersebut.
 Berbagai lembaga, organisasi, dan perkumpulan sepakat memberantas penyakit yang baru muncul itu, walau rela mengeluarkan dana besar, dalam pemikiran yang penting penyakit baru tersebut tidak menimbulkan korban jiwa jumlah besar.
 Padahal, penyakit baru tersebut walau isunya menakutkan tetapi tak terbukti menimbulkan korban jiwa dengan jumlah besar.
 Sebagai contoh saja ketika isu merebaknya penyakit AIDS/HIV, wah seluruh masyarakat merasa ketakutan, ditambah berbagai pernyataan para ahli kesehatan mengenai bahaya penyakit tersebut yang seakan menambah ketakutan masyarakat.
 Kemudian muncul lagi isu penyakit flu burung seketika pula masyarakat yang dikomandoi pemerintah melakukan usaha pemberantasan penyakit secara besar-besaran seakan penyakit baru ini akan menjadi malapetaka dalam kehidupan manusia.
 Disisi lain, kalau penyakit baru tersebut terus menular memang cukup mengkhawatirkan, tetapi apakah gerakan yang begitu besar-besaran dalam upaya pemberantasannya itu seakan terlalu berlebihan dibandingkan pemberantasan penyakit menular lainnya.
 Pasalnya di Indonesia ada satu penyakit yang sudah terbukti membunuh ratusan ribu mungkin jutaan orang, serangan penyakit ini bukan baru saja terjadi tetapi sunguh begitu lama, namun serangannya tak bisa dihentikan apalagi sampai bebas dari penyakit ini.
 Kendati penyakit ini sudah terbukti menjadi pembunuh, namun upaya pemberantasan seakan terlupakan oleh gebyar dan gerakan pemberantasan penyakit baru muncul tersebut.
 Perlahan tetapi pasti satu orang penderita terus menularkan kesepuluh orang penderita baru hanya dalam rentang waktu selama setahun, dan bila penderita tak diobati dibiarkan menderita puluhan tahun maka ratusan bahkan ribuan orang akan tertular hanya oleh seorang penderita.
 Apalagi di Indonesia ini sudah dinyatakan ribuan bahwa puluhan ribu positip mengidap penderita penyakit ini, tetapi seakan penyakit ini tak dianggap seakan tak membahayakan dibandingkan penyakit impor yang baru itu, sehingga tak ada satu pun gerakan yang benar-benar serius dan terpadu seperti layaknya pemberantasan penyakit Aids/HIV atau flu burung.
 Salah satu gerakan yang sejak tahun 1990-an sudah dicanangkan untuk memberantas penyakit ini tetapi juga tak kelihatan bentuk kegiatannya, sehingga gerakan terpadu nasional (Gardunas) pemberantasan penyakit ini sering dipelesetkan menjadi gerakan duduk nasional.
 Karena itu sudah saatnya pemerintah Indonesia beesama masyarakat kembali melirik pemberantasan penyakit yang pelan-pelan tetapi pasti telah menahun menyerang warga terutama masyarakat miskin pedesaan yang dikenal sebagai serangan TBC.
 Penyakit TBC (Tobercolosis) dinyatakan sebagai penyakit pembunuh nomor satu terhadap manusia dari kelompok penyakit menular yang selama ini dikenal, makanya seharusnya penyakit tersebut diberantas lebih serius lagi.
 Program officer Koalisi untuk Banjarmasin Sehat (KuBS) Banjarmasin, Dedey Rosyadi kepada pers di Banjarmasin belum lama ini mengakui begitu berbahayanya penyakit tersebut sehingga badan kesehatan dunia (WHO) telah menyatakan pemberantasan TBC sebuah kesepakatan global.
 Walau penyakit TBC sudah dikenal penyakit menular yang paling berbahaya, tetapi untuk di Indonesia terkesan pemberantasannya kurang intensif terbukti penyeraban penyakit tersebut  selalu saja terjadi.
 Tetapi bila ada penyakit lain yang menular dianggap berbahaya terlihat begitu antusias memberantasnya seperti penyakit AIDS/HIV, flu burung,demam berdarah, dan penyakit lain sehingga pemberantasan penyakit TBC seakan terlupakan lagi.
 Padahal penaykit TBC diketahui penyebarannya di Indonesia begitu mengkhawatirkan dan sejak lama sudah dikenal atau sejak zaman penjajahan dulu.
 Penyakit ini penularannya di Indonesia berada di nomor tiga  setelah negeri China, dan India, katanya saat menjelaskan ini bersama ketua program, Yuherly dan Ketua Tim Advokasi. Komunikasi, dan Mobilitasi Sosial tentang TBC (ACS TBC), Didiet Masjidi.
 Menurut catatan, tambahnya, seperempat juta kasus baru TBC bertambah setiap tahunnya, 140.000 pasien TBC meninggal setiap tahun, dan 384 kematian setiap harinya karena TBC, disamping 17 hingga 18 orang meninggal setiap jam karena penyakit ini.
 “Bahkan kalau di hitung lagi maka satu orang meninggal setiap menit karena TBC,” kata Dedey Rosyadi seraya mengatakan bahwa TBC bisa menyerang siapa saja, tetapi sebagian besar penderita TBC adalah kelompok usia produktif 15 hingga 55 tahun.
 Jenderal Sudirman salah satu tokoh nasional Indonesia meninggal dunia karena serangan penyakit TBC pada usia 34 tahun.
 Dari hasil survei hanya 11 persen penduduk Indonesia yang mengetahui secara benar tentang gejala TBC, dan sebagian besar pemerintah Kabupaten/kota di Indonesia justru tidak banyak menganggarkan dana untuk memberantas penyakit ini.
 Akibat kekurangan dana tersebut maka banyak Puskesmas sebagai ujung tombak pemberantasan penyakit menular kesulitan mendapatkan suspect TB.
 Menyinggung sebaran penyakit TBC di Kalsel, Dedey Rosyadi mengakui sudah cukup tinggi dan menjadikan wilayah ini enam besar daerah tertular TBC se Indonesia.
 Dari hasil penelitian penyakit TBC terbanyak menyerang warga Banjarmasin dan Kabupaten Banjar, untuk Kota Banjarmasin sendiri dari 978 warga kota yang dilakukan pemeriksaan TBC ternyata 630 warga positif TBC.
 Wilayah di Banjarmasin terbanyak terserang penyakit ini terdapat di Kecamatan Banjarmasin Selatan dari 12 orang suspect ternyata 8 orang positif.
 Demikian juga pada sampel terakhir dari 507 suspect di wilayah kecamatan tersebut setelah dilakukan pemeriksaan 53 orang dinyatakan teridap penyakit itu.
 Bukan Banjarmasin Selatan saja banyak warga tertular penyakit itu tetapi juga di wilayah lain di kota ini, padahal diketahui satu orang penderita berpotensi menularkan kesepuluh orang selama setahun, dan bisa dibayangkan kalau penyakit itu terkenba ribuan orang dibiarkan bertahun-tahun maka akan berapa banyak penderita TBC.
 Oleh sebab itu sudah saatnya seluruh elemen, pemerintah, masyarakat dan organisasi kemasyarakat lainnya bergerak memberantas penyakit ini setidaknya memotong rantai penularannya.
 Gerakan yang perlu dilakukan setidaknya memberikan pemahaman kepada masyarakat, mengenai penyakit ini khususnya cara pengobatan secara rutin selama enam bulan serta menghilangkan anggapan bahwa TBC akibat terkena ilmu itam yang oleh masyarakat pedalamam Kalsel dianggap sebagai terkena racun (guna-guna untuk pesugihan).

PENYAKIT CACING BUSKI RISAUKAN WARGA RAWA-RAWA KALSEL

     Oleh Hasan Zainuddin

    Rusma (13), gadis Desa Telaga Mas, Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan itu, menerawang jauh ke hamparan rawa-rawa di desanya.
         Pandangannya kosong, mukanya pucat, badannya kurus serta perutnya yang membuncit. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya menjadi seperti itu,  sehingga ia tidak lagi bisa bermain seperti teman-temannya.
         Rambut di kepala perempuan itu juga terus rontok. Itu semakin  membuatnya rendah diri dan enggan bermain dengan sebayanya. Lantaran malu, ia pun tak bersekolah lagi.
         Derita gadis desa keluarga petani itu kian parah dalam enam bulan ini. Dari tubuhnya keluar binatang aneh menyerupai lintah darat  berwarna kemerahan.
         Binatang itu bukan saja keluar saat buang hajat, tetapi juga melalui mulut.
         Banyak warga setempat menganggap penyakit aneh ini akibat gangguan makluk halus atau karena guna-guna, sehingga banyak penderita yang diobati melalui dukun.
         Penderitaan serupa juga dialami oleh belasan gadis di desa berpenduduk sekitar 1400 jiwa itu, terutama yang usianya di bawah 15 tahun.
         Menurut Ny Murdia (48), ibunda Rusma, penderitaan Rusma tersebut diawali dengan gejala mual-mual, nafsu makannya mulai berkurang, serta badannya lemah dan lesu.
         Setelah itu lambat-laun, Rusma mengalami gangguan pencernaan, anemia (kurang darah) serta acites (perut kembung). Ia pun tak berselera lagi makan dan minum.
         Kondisi seperti itu dialaminya selama enam bulan hingga berat tubuhnya terus menurun. Selanjutnya rambut perempuan mungil ini terus rontok.
         Kasus Rusma itu, merupakan yang kesekian kalinya terjadi di Telaga Mas, sehingga memancing pihak dinas kesehatan setempat memeriksa penyakit tersebut. 
    Berdasarkan penelitian, disimpulkan penyakit yang diderita Rusma dan teman-temannya adalah “Fasciolopsis Buski” atau sering pula disebut cacing buski.
         Data Dinkes Hulu Sungai Utara (HSU) menyebutkan, hampir tiap tahun ada saja anak di kawasan desa berawa-rawa Kecamatan Danau Pangang itu terserang penyakit aneh itu, namun yang palng banyak terdapat di desa Telaga Mas.
         Data tahun 2005 lalu tercatat sebanyak 16 warga Desa Telaga Mas positif terjangkit cacing buski, sementara tahun 2006 jumlahnya mulai berkurang, yakni hanya lima orang.
         Masyarakat Telaga Mas memang tergolong miskin, dengan mata pencarian bertani, menangkap ikan, beternak itik atau ayam.
         Masyarakat yang kerap berinteraksi dengan air yang mengandung telur cacing buski inilah yang paling rentan terserang.
   
                       Endemis
    Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan, mengakui sejak dua dasawarsa ini, sudah ratusan warga di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Propinsi Kalimantan Selatan, terserang penyakit cacing Fasciolopsis Buski.
         Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, drg Rosehan Adhani kepada ANTARA di sela-sela peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di halaman Kantor Gubernur Kalsel, penyakit cacing buski sudah ada sejak tahun 80-an.
         Tetapi dari tahun ke tahun, serangan penyakit langka tersebut terus berkurang, terutama setelah pemberantasan penyakit tersebut diintensifkan.
         Pada tahun 2007 ini tercatat hanya sebanyak 14 orang yang positif terinfeksi penyakit endemis Hulu Sungai Utara itu.
         Penyakit tersebut, sama saja seperti penyakit cacing perut lainnya, tetapi lebih ganas.  Selain penderita kurang gizi akibat parasit cacing buski, perut penderita juga membesar dan rambut kepala rontok.
         Rosehan Adhani tidak tahu persis kenapa penyakit tersebut endemis di beberapa desa kawasan berawa-rawa HSU, padahal serangan penyakit itu jarang di temukan di dunia. Indonesia pun hanya pernah terjadi di Kalsel dan Propinsi Sulawesi Tengah.
         Untuk menanggulangi penyakit tersebut Dinkes Kalsel sudah melakukan berbagai penyuluhan, agar berpola hidup sehat, yakni tidak memakan makanan yang belum dimasak, terutama makanan yang berasal dari tumbuhan di rawa-rawa, seperti buah teratai dan umbi-umbian di kawasan tersebut.
         Selain itu, ia juga mengharapkan masyarakat segera berobat dokter bila diketahui terserang penyakit cacing buski, karena obatnya sudah ditemukan, dan disediakan di Dinkes Kalsel.
         “Obat sama dengan cacing yang lain,” ujarnya.
         Rosehan Ardhani menambahkan para penderita penyakit tersebut umumnya adalah anak-anak. Karena anak-anak biasanya suka bermain di air rawa-rawa kawasan desa tersebut dan memakan apa saja yang ada di rawa seperti buah teratai, umbi-umbian, dan buah tanaman rawa lainnya tanpa di masak lebih dahulu.
         Meski telah banyak yang terinfeksi, masyarakat tetap menganggap  penyakit itu aneh.  Mereka umumnya hanya mengenal penyakit cacing gelang atau cacing kremi. 
    “Masyarakat belum pernah melihat cacing seperti itu. Bentuknya menyerupai pacet (lintah), sehingga seringkali pula disebut warga setempat sebagai cacing pacet,” katanya.
         Fasciolopsis Buski hidup di kawasan Asia Selatan yakni perairan rawa seperti di Banglades, Kamboja, China Tengah dan China Selatan, Vietnam, Malaysia, Thailand, Pakistan, Vietnam dan Indonesia.
         Cacing ini bukan saja bisa menyerang manusia, tapi juga babi, anjing, dan kelinci. Cacing buski dewasa bisa sepanjang 75 mm, atau 3 inci dan lebar 20 mm atau 1 inci.
         Cacing buski tidak hidup di hati, melainkan hanya hidup di area teratas usus kecil, dalam jumlah bisa sangat banyak, dan dapat pula hidup di area bawah usus dan di dalam perut, tetapi tak pernah ditemukan di bagian tubuh lain.
         Dalam tubuh, cacing buski dewasa dapat memproduksi sedikitnya 25 ribu telur per hari, dan terus berkembang biak.