BERANGAN-ANGAN, INAN/PANGGUNG DESA WISATA

dessaku

desaku

desaku1

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,25/3-2017 ()- Meniti jalan setapak dari satu hutan ke hutan lain, kemudian menelusuri sungai, naik jembatan gantung, melewati padang sawah, kentemu aneka pepohonan besar, dan diiringi bunyi burung elang, burung curiak, sesekali terdengar bunyi lutung (hirangan), ramainya bunyi katatangir, dan aneka bunyi lainnya yang membentuk “orkestra alam.”
“Sangat menyenangkan, membuat hati ini rasanya tenang sekali, kita terbiasa di kota yang bising, masuk desa rasanya hati ini damai, kapan lagi kita bang ke desa abang Desa Panggung atau Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan,” kata Nunuk Febriani anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin yang pertengahan Maret 2017 bertandang ke desa Panggung/Inan.
Lain lagi cerita, pak Mugeni seorang pensiunan berusia 76 tahun juga asal Kota Banjarmasin saat bertandang ke desa yang berdekatan dengan lereng Pegunungan Meratus ini, ia merasakan berada di desa jauh damai rasanya dibandingkan kota yang hiruk pikuk.
Bahkan saat berada di desa ini ia mencoba mandi di sebuah sungai, namanya sungai Pangkaranin, sekitar 500 meter dari jalan raya agak masuk ke dalam, di sungai ini ia ingin mandi berlama-lama, dan ia memisahkan diri dengan kawanan lainnya dan menyendiri.
Ternyata ia mandi di sungai yang airnya jernih tetapi warna agak ke cocacola-an itu telanjang bulat dan berendam berlama-lama di sungai itu tanpa sehelai kain pun menutup tubuhnya.
Ketika ditanya mengapa sampian telanjang apakah tak takut di gigit ular ia mengaku sama sekali tak takut diganggu binatang di sungai itu, bahkan menurutnya ia benar-benar menikmati.
Dalam pikirannya ia mencoba menjadi nenek moyang tempoe dulu tanpa ada pakaian lalu mandi di sungai yang masih alamiah seperti itu apa rasanya, lalu ia mencoba merasakan sejuk air, bagaimana rasanya resapan air alam langsung ke badan tanpa ada kain penghalang,  merasakan ditempuh arus air, seraya mendengarkan bunyi gemericik  air, bunyi semilir angin yang menerpa pepohonan, lalu ia mencoba menikmati bunyi binatang kecil di sungai itu dengan seksama, lalu buni burung di atas beterbangan, sekali bunyi kera.
“Eh ternyata dunia ini nikmat sekali, eh damai sekali, nikmat apa yang kau dustakan, asal kita benar-benar bisa menikmatinya,” kata orang tua mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin yang getol menggalakan dunia wisata di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.
Lain lagi cerita Mohammad Ary seorang aktivis lingkungan dan petinggi di Perguruan Tinggi Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) ini, sehari berada di kampung ini rasanya tak cukup seharusnya berminggu-minggu, tuturnya, karena melalui matanya telinganya , dan perasanaan ia cermati satu per satu di desa itu.
“Kalau melihat potensi alam, lahan yang subur, mustahil orang desa ini miskin, karena saya lihat tanaman cabai saja begitu suburnya, apalagi tanaman lain, kalau ada lahan satu hektare saja, sudah cukup kaya untuk menjalani kehidupan di desa ini, asal warga desa tidak malas bekerja menggarap lahan.
Ia mebcoba mencermati satu persatu pohon dan tanaman, semunya potensi ekonomi tinggi, banyak pohon gaharu, banyak pohon buah, dan sebagainya.
“Lihat ini ada pohon besar kusi mungkin usianya 300 tahun lebih, ini sangat bernilai sebagai warisan alam, ini kalau dipublikasikan tentu akan menarik orang datang ke desa ini, ini harus dipelihara sebagai lokasi penelitian, pendidikan, dan wisata,” kata Kepala Bagian Kerjasama Luar Negeri Unlam ini.
Sebagian orang yang pernah berkunjung ke desa ini selalu ingin mengulangi lagi kunjungannya, karena bisa menikmati suasana kampung dengan sambutan warga yang ramah, bisa merasakan bagaimana bercengkrama di “warung” dalam budaya mewarung, bisa menikmati ikut maaruah ( selamatan), sholat berjemaah di surau, atau ikut ke padang karet untuk nyadap lateks karet di kebun.
Banyak pilihan untuk merasa kehidupan yang sesungguhnya di desa ini, ada pemandian yang disebut “kolam jakatarub” ada beberapa pohon besar dengan diameter dua meter, ada sungai mengalir deras yakni sungai pitab dengan aneka kehidupannya seperti bisa menikmati mencari kijing (kerang sungai), mencari ketuyung (siput sungai), mencari daun paku (pakis) yang banyak dipantai sungai, atau bahkan mencari buah-buah hutan yang tak mungkin bisa ditemukan di perkotaan.
Bahkan beberapa kru televisi nasional, sepeti program si bolang, petualangan, makanan asal, di dol dan lainnya sudah beberapa kali melakukan liputan di desa ini, para kru televisi nasional yang datang dari Jakarta ini, meliput bagaimana memperoleh madu kelulut, atau bagaimana mencari ikan dengan cara membumbun, menantai, atau bagalau.
Lalu ada juga liputan mencari kulat karikit, kulat patiti, kulat lamak baung, kemudian mencari kijing dan sebagainya dan sudah puluhan kali liputan televisi nasional tertutama Trans7 .
Melihat potensi tersebut maka aku penulis sebagai seorang asal desa ini berkeinginan menciptakan desa ini sebagai desa wisata, tentu desa ini lebih dibenahi dan harus memperoleh dukungan semua pihak, siapa tahu desa ini kian maju dan warganya kian sejahtera.
Untuk menciptakan desa wisata desaku, yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin,.atau sekitar tujuh kilometer dari Paringin ibukota Kabupaten Balangan,  tentu akses telepon dan internet harus mudah, kamudian akses jalan ke desa nyaman dan dari desa ke lokasi-lokasi yang menjadi perhatian pengunjung harus ada jalan yang mudah.
Umpamanya saja, di desa ini yang sudah dikenal, adalah lebah kalulut maka harus ada peternakan lebah kelulut ini dan alhamdulillah sudah dilakukan warga.
Lalu di desa ini ada beberapa pohon besar yang sebenarnya sangat diminati wisata makanya jalan ke arah pohon besar ini juga harus mudah, pohon besar tercatat Pohon Kusi, Pohon durian Lahung, pohon Binjai Wanyi, dan Pohon Tandui.

Lalu ada sungai-sungai kecil sebagai lokasi pemandian, ada petualangan ke gunung.
Di kampung ini masih ada kera besar yang disebut Bekantan (Nasalis larvatus), di sini ada tupai besar panjang hampir satu meter yang disebut kerawak atau tengkarawak, ada pula binatang kuung sejenis tokek tetapi sangat besar seperti kura-kura namun bisa terbang dari pohon ke pohon, di sini banyak kaluang atau kalong atau  kelalawar besar, ada pula kancil, trenggiling, dan adapula binatang Sikak bentuk persis  tupai tetapi agak hitam tak bisa naik pohon hanya di tanah.
Tanaman selain aneka anggrek dan buah-buahan juga ada banyak tanaman obat, dulu disebut telunjuk langit, ada pelungsur ular, bahkan ada tanaman beracun kecubung, jelatang, kerangka hirang, penyambung jawa, dan ratusan lain spicies tanaman langka.
Yang paling menarik di desa ini adanya danau tabat basar, dengan danau tabat besar ini jika gulma sungai atau kayapu di lokasi itu dibersihkan tentu sungainya lebih luas, lalu di lokasi ini mudah dijangkau dengan jalan darat, dibuatkan lapangan parkir kendaraan, lapangan pertunjukan jika ada pertunjukan, lalu dibuatkan rakit bambu, adan jukung atau sampan, biar siapa naik rakit atau jukung bisa membayar untuk kas desa, buatkan lokasi untuk foto selfie berbentuk amur atau tanda cinta, sehingga siapa berfoto di lokasi ini maka akan tahu itu berada di tabat basar.
Apalagi jika di dekat ini dibuatkan rumah pohon, atau rumah yang dibangun dari empat pohon  naik ke rumah pakai tangga dan dari rumah bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Tak usah besar yang penting di rumah ini bisa duduk dan bisa memfoto alam sekelilingnya.
Masyarakat sini sudah punya atraksi, seperti orkes dangdut, baanalan (pantul), ada jua ondel-ondel ala balangan, ada bambarungan, ada kuda gepang dan sebagainya sebagai atraksi wisata.
Sementara kuliner tentu di sini unik ada mandai, ada kulat kerikit, ada pucuk paku, kalakai, daun telunjuk langit, makanan keringnya ada rimpi pisang, ada rimpi tiwadak, keripik dan lainnya. Tinggal bagaimana membuat kerajinan tangan sebagai barang cendramata.
Jika semua ini diangan-angan kan ,  tentu adanya dukungan pemerintah dan masyarakat maka desa Panggung/Inan ini akan terwujud sebagai desa wisata.

sungaiku sungaiku1

pondok pondok1

jembatan gantung jembatan gantung1

santai pohon besar

watangan watangan1

anak hairudin lampau

Aruhan

aruh aruhan

aruhan1 aruhan2

lalapan

usung anggrek

durian panjang  butah6

buah-buahan

kasturi mundar
kepayang manggis

langsat lua

gambis

binatang

Bekantan dan Tengkarawak

bekantan tangkarawak

kulat

kulat kulat1

baulah gula habang

gula habang

mandian

danau anihing  mandian

mandian1

Kuliner

waluh mandai

Gangan walut

waluitmandai1

Rimpi tiwadak

rimpi tiwadak

petualang

sepeda

Iklan

“MENGANGARUN” KIAT ORANG MISKIN MILIKI KEBUN

Oleh Hasan Zainuddin

kayu tebangan
Warga yang tergolong miskin di bilangan kaki, lereng, dan Pegunungan Meratus Pedalaman Provinsi Kalimantan Setalan agaknya tak perlu khawatir akan kehidupannya ke depan.

“Asal saja mereka tidak malas, dan mau bekerja keras dan pantang menyerah, Insya Allah, bisa menjadi kaya, setidaknya mempunyai kebun sendiri,” kata Mursidi, ketua RT 7 Desa Panggung Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan.

Sebab, kata Mursidi, ada cara yang berlaku di wilayah tersebut untuk mengatasi kemiskinan, yakni “mengangarun,”, atau sistem kerja bagi hasil.

Sistem kerja bagi hasil di kawasan setempat sudah berlaku sejak lama, baik usaha peternakan, usaha perikanan, persawahan, dan terakhir yang memberikan keuntungan adalah usaha perkebunan karet.

Sebagai contoh, kata Mursidi, bila seorang miskin tak memiliki kebun karet tetapi ia mau bekerja keras, maka ia bisa mengerjakan lahan milik orang lain dengan sistem mengangarun.

Caranya, lahan berupa semak belukar milik orang lain tersebut dikerjakan oleh si miskin, kemudian lahan tersebut ditanami karet unggul, dan nanti setelah usia karet berumur dua tahun hasil panenannya dibagi dua.

Satu bagian untuk pemilik lahan satu bagian lagi hak milik si penggarap, atau bila dalam satu hektare terdapat 600 pohon karet unggul maka 300 pohon untuk pemilik lahan 300 pohon lagi untuk penggarap.

memanduk

“Sekarang harga satu batang karet unggul yang baik sudah mencapai Rp1 juta per pohon, bayangkan kalau si miskin sudah memiliki 300 pohon maka ia dalam dua tahun saja sudah memperoleh uang Rp300 juta, sehingga yang bersangkutan tak bisa lagi dikatakan si miskin,” maka Mursidi.

Apalagi kalau ia berhasil menggarap lahan beberapa hektare sudah bisa dikalikan keuntungannya dalam dua atau tiga tahun ke depan, karena itu di kawasan itu kini sudah sulit mencari orang berkategori miskin, katanya.

Bukan hanya semak belukar yang bisa digarap dengan sistem mengangarun tersebut, tetapi juga lahan kebun karet yang sudah tua yang harus ditebang ulang, untuk menanam karet muda itu juga sistemnya sama, yakni bagi hasil.
Apalagi kata Mursidi, yang dibagi hasil tersebut hanyalah pohon karet, tetapi untuk tanaman lainnya itu mutlak milik si penggarap.

Contoh lagi, kata tokoh masyarakat tersebut, selama penggarapan lahan, tahap pertama lahan yang sudah dibuka ditanami padi gogo (padi gunung) bila padi itu panen maka seratus persen milik penggarap.

Saat menanam padi saat itu juga ditanam bibit pohon karet unggul, kemudian selain tanam padi penggarap juga bisa mengembangkan sayuran, seperti cabai, terung, kacang-kacangan dan apa saja semuanya hasilnya untuk penggarap.

Setelah pohon karet berumur dua hingga tiga tahun di mana lahan tidak bisa lagi ditanami padi dan sayuran barulah kebun dibagi dua, dan masing-masing bagian setelah adanya pembagian tersebut harus menjadi tanggung jawab sendiri-sendiri.

Umpamanya, bagian untuk pemilik lahan maka kebun itu harus dijaga sendiri oleh pemilik lahan, sementara bagian lain milik penggarap maka dijaga sendiri oleh penggarap.

bamasakan

Yang perlu diwaspadai terhadap pohon karet muda adalah serangan gulma ilalang, penyakit akar jamur putih, atau yang paling menakutkan adalah kebakaran hutan yang merembes ke perkebunan.

Semua itu sudah menjadi tanggung jawab masing-masing, kata Mursidi, yang diakuinya ia sendiri sudah menggarap lahan milik orang beberapa lokasi, dan akhirnya sekarang ia memiliki beberapa buah kebun karet unggul sendiri yang sudah bisa menopang kehidupan keluarganya.
Menungal

Menggarap lahan kebun karet tak ubahnya sistem ladang berpindah, yakni bila semak belukar ditebang ditanami padi kemudian jadi kebun maka dicari lagi lahan lain kemudian jadi kebun lagi begitu seterusnya.

Pertama semak belukar atau hutan ditebang kemudian kayu hasil tebangan dibiarkan hinggga kering, biasanya saat kemarau, setelah lahan yang penuh tumpukan pepohonan kering tersebut dibakar atau istilah setempat “dipanduk” saat mendekati musim penghujan.

Setelah lahan dibakar lalu bersih setelah turun hujan ditanami padi sistem tugal, makanya cara menanam padi ini disebut juga dengan istilah “manugal,” kata Suhardi mantan kepala desa Panggung menjelaskan saat penulis berada di kampung tersebut.

banih tugal

Bertani manugal ini menurut Suhardi kental gotong royong, seperti mamanduk atau membakar lahan saja itu harus gotong royong melibatkan sedikitnya 30 warga kampung, selain membakar juga untuk menjaga api agar tidak menjalar ke semakbelukar lain atau ke hutan mencegah mencegah kebakaran hutan lebih besar.

“Makanya sekeliling lahan yang hendak dibakar itu diberi batas, caranya batas tersebut harus dibersihkan dari benda yang mudah terbakar, seperti dedaunan atau ranting pohon,” katanya.

Kemudian lagi saat menugal atau menanam benih padi juga melibatkan sedikitnya 50 warga baik laki-laki maupun perempuan, sehingga dalam satu hari saja lahan sudah selesai ditanami.

Biasanya laki-laki membuatkan lubang di tanah dan perempuan menaburkan bibit benih ke lubang tersebut, cara melubangi tanah itu pun dengan hanya menancapkan sebatang kayu runcing ke tanah.

Dalam acara gotong royong baik saat memanduk atau menugal biasanya selalu dibarengi dengan “bamasakan” atau selamatan, dengan makan nasi dengan lauk seadanya, atau setidaknya hidangan ketan dengan campur kelapa bergula merah (hinti).

“Gotong rotong memanduk dan menugal tersebut sudah ada sejak nenek moyang, sehingga warga tak kesulitan mengerjakannya, walau yang dikerjakan tanah milik orang lain tetapi gotong royong itu selalu ada,” kata Suhardi.

Seorang guru besar Fakultas Pertanian, Dr Abdul Haris Mustari pernah meneliti sistem bertani menugal di kawasan Pedalaman Kalsel ini.

Menurut dia, dalam gotong royong tersebut laki-laki menugal (melubangkan lahan untuk benih) dan perempuan memasukkan benih padi ke lubang tugal dengan jarak tanam 20cm x 20cm, di mana setiap lubang diisi 5-7 benih.

Lubang tugal tidak ditutup, dibiarkan terbuka, tapi lama kelamaan lubang itu dengan sendirinya akan tertutup oleh tanah akibat aliran air hujan pada permukaan tanah.

Sebelum menanam, dilakukan doa atau permohonan kepada tuhan agar hasil padi melimpah dan dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.

Varietas padi di komunitas petani Meratus sangat tinggi, tercatat minimal 28 varietas padi, baik padi biasa maupun padi pulut (lakatan).

Orang pedalaman Kalsel telah melestarikan berbagai varietas padi secara turun temurun karena itu lingkungan alam telah menjadi bank gen (gene pool) untuk berbagai varietas padi yang sangat penting dilestarikan karena diperlukan dalam rangka pemuliaan padi yang lebih unggul yang diperlukan manusia.

Selain padi, orang pedalaman Kalsel juga menanam berbagai jenis palawija dan tanaman tahunan yang menunjang kehidupan mereka.

Beberapa varietas padi yang ditanam warga Meratus diantaranya Sabai, Tampiko, Buyung, Uluran, Salak, Kanjangah, Kihung, Kalapa, Uluran, Kunyit, Briwit, dan Sabuk.

Selain padi biasa, juga ditanam padi pulut atau lakatan yaitu jenis Kariwaya, Kalatan, Harang, Samad dan Saluang.

Diantara berbagai varietas padi itu, Buyung dan Arai adalah yang paling digemari karena wangi dan enak rasanya. Semua padi yang ditanam adalah varietas lokal, umur panen enam bulan.

Bersamaan dengan penanaman padi itu, juga ditanam berbagai jenis palawija seperti singkong atau disebut gumbili, lombok, timun, labuh, kacang panjang, berbagai jenis pisang, keladi, yang kesemuanya itu menjadi makanan tambahan.

Menurut beberapa tetuha penduduk setempat, dengan bertani dan berkebun demikian maka kehidupan warga tak pernah merasa kekurangan, sebab selain hasil padi, plawija, juga ada kebun karet, dan kebun lainnya.

tanam sayuran