KEARIFAN LOKAL SUKU BANJAR LAHIRKAN KEBIJAKAN RAWA NASIONAL

        Oleh Hasan Zainuddin
          Banjarmasin, 7/8 (ANTARA)- Pemanfaatan lahan rawa untuk pertanian di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) diperkirakan telah terjadi sejak zaman kerajaan Majapahit, abad ke-13 masehi ketika kerajaan tersebut melakukan perluasan pengaruhnya hingga ke Kalimantan khususnya wilayah pantai selatan pulau tersebut.
         Rektor Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Prof. Ir HM Rasmadi, MS mengatakan, sebenarnya warga Banjar yang tinggal di Provinsi Kalsel sudah memanfaatkan lahan rawa sejak zaman kerajaan hingga zaman kolonial lalu.
         Sistem yang dikembangkan untuk membuka lahan rawa menjadi lahan pertanian adalah dengan sistem Anjir dan Handil, katanya ketika seminar nasional mengenai rawa di Banjarmasin, Selasa (5/8) lalu.
         Anjir adalah yang menghubungkan dua buah sungai besar dan sebelah kiri dan sebelah kanan anjir dikembangkan menjadi lahan pertanian.
         Handil adalah kanal kecil yang dibuat memotong atau tegak lurus sungai atau anjir sejauh 1-2 kilometer. Sama halnya dengan sistem anjir, di sebelah kiri dan kanan handil dikembangkan menjadi lahan pertanian.
         Masyarakat pahuluan (kawasan enam kabupaten Utara Kalsel) Kalsel sebagian bermigrasi ke daerah rawa yang baru dibuka dan menempati wilayah sepanjang anjir atau handil dan membangun peradaban baru sesuai dengan kondisi wilayah.
         Seringkali nama pemukiman baru dinamai dengan daerah asal mereka atau nama tokoh masyarakat. Pengalaman mengembangkan lahan rawa ini akhirnya melahirkan kearifan lokal (indigeneous knowledge) seperti menajak, memuntal, mencacah, serta lain-lainnya.
         Kemampuan mengikuti irama alam dan kearifan lokal yang dimiliki ternyata juga diterapkan di daerah lain ketika masyarakat Banjar bermigrasi ke daerah lain, seperti ke sepanjang Timur Sumatera Banyak dijumpai masyarakat asli Banjar, seperti di daerah Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.
         Setelah pengelolaan rawa terus berkembang dengan baik maka akhirnya lahan yang dulunya dianggap tak bernilai karena kadar keasaman air yang tinggi berubah menjadi lahan yang subur.
          Dalam seminar yang diikuti ahli lahan rawa Indonesia tersebut terungkap bahwa perkembangan pemanfaatan rawa di Kalsel dimulai ditepian Sungai Martapura dan Sungai Barito.
         Guna memenuhi kebutuhan pangan maka diusahakanlah lahan rawa itu dengan cara pembuatan saluran-saluran air yang dapat mengatur ketersediaan air untuk tanaman dan kebutuhan sehari-hari, serta sebagai sarana transportasi masyarakat setempat.
         Pada masa awal, banyak masyarakat zaman dulu yang tinggal di daerah rawa-rawa di tepi sungai sehingga mereka bisa memahami manfaat dari gerakan air pasang surut. Waktu pasang air sungai masuk rawa-rawa dan waktu surut air kembali ke sungai.
         Tanah rawa tepi sungai ini makin lama makin habis atau dengan kata lain semakin jauh dari tempat tinggal penduduk, maka mulailah penduduk meluaskan pengaruh pasang surut itu ke arah pedalaman, dengan membangun parit-parit, dari sungai masuk ke dalam daerah rawa dengan harapan agar air sungai bisa keluar masuk  daerah rawa melalui parit-parit tersebut.
         Dengan proses aliran air pasang surut tersebut, makin lama tanah sekitar parit menjadi baik dan subur hingga bisa ditanami padi.
         Pada tahun 1890 Anjir Serapat sepanjang 28 kilometer yang menghubungkan Sungai Kapuas (wilayah Kalimantan Tengah) dan Sungai Barito (wilayah Kalsel) dimulai digali. Pertama-tama penggalian dilakukan dengan tangan, tujuan utama dari penggalian Anjir ini adalah untuk jalur lalu-lintas air.
         Pada tahun 1935 Anjir ini diperlebar dan diperdalam dengan kapal keruk. Sebagai dampak positif dari pembangunan Anjir ini maka tata air di daerah sekitarnya menjadi baik dan cocok untuk persawahan.
         Sejak saat itulah secara spontan banyak orang yang membuka persawahan di sekitar saluran Anjir tersebut dan akhirnya menjadi pemukiman penduduk, khususnya petani yang menggarap lahan sawah di sekitar rawa-rawa Anjir.
         Sementara itu pembukaan jalan raya di sekitar Kota Banjarmasin pada era tahun 1920-an dengan cara menggali dan mengurug hasil galian untuk badan jalan akhirnya terbentuk jaringan saluran air atau drainase daerah sekitar pembuatan jalan tersebut.
         Karena tersedianya saluran air dan jalan maka mulailah warga saat itu tertarik bertempat tinggal di tepi jalan dan daerah drainase lalu membuka pertanian lahan rawa, khususnya mengembang padi.
         Usaha pertanian ini berkembang baik dan membuat kawasan tersebut menjadi sentra persawahan yang sangat subur dan dikenal sebagai “gudang”-nya beras Kota Banjarmasin yaitu yang disebut daerah Gambut yang dikenal memang daerah lahan bergambut.
         Akibat hasil padi yang melimpah itulah maka daerah Gambut yang sekarang menjadi wilayah Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar dinamakan daerah “Kindai Lumpuar”(lumbung penuh padi).
         Melihat kenyataan bahwa orang jaman dulu berhasil memanfaatkan rawa pasang surut maka mulai tahun 1957 pemerintah diputuskan membuka persawahan pasang surut secara besar-besaran di tanah air.
         Saat pertama pembukaan lahan pasang surut dipakai sistem kanalisasi, pelaksanaan proyek kanalisasi dimulai wilayah Kalteng dan Kalsel.
         Disamping kanal yang merupakan saluran primer pemerintah menggali pula saluran sekunder dengan harapan drainase di daerah itu dapat berjalan lancar.
         Sebagai proyek percontohan adalah “Proyek Basarang” kemudian tahun 1969 ditetapkan oleh pemerintah sebagai awal dari pembukaan persawahan pasang surut secara besar-besaran di tanah air yang membuka lahan 5.2 juta hektare sawah di Sumatera dan Kalimantan.
                      
                         Satu juta Ha
    Khusus di wilayah Kalsel, seperti diungkapkan Kepala Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kalsel Ir HM Arsyadi terdapat sejuta hektare lahan rawa yang terhampar luas di wilayah propinsi ini menunggu digarap untuk meningkatkan produksi pertanian.
          “Jumlah lahan rawa Kalsel tercatat 1,4 juta hektare, tetapi 400 ribu hektare sudah dikelola tinggal sejuta hektare lagi yang menunggu dikembangkan,” kata Arsyadi di tengah seminar itu.
          Dengan jumlah lahan rawa yang luas tersebut bisa dikembangkan menjadi lahan pertanian maka akan bisa meningkatkan penambahan pangan nasional, karena bukan hanya bisa dikembangkan tanaman padi juga ubi-ubian, kacang-kacangan, hortikultura lainnya, termasuk sayuran.
          Itu bisa dilihat dari 400 ribu hektare lahan rawa yang sudah dikembangkan di Kalsel ternyata telah menghasilkan produksi pertanian yang tidak sedikit.
          Hanya saja diakui tingkat produktivitas lahan rawa yang sudah dikelola tersebut belakangan ini agak menurun makanya perlu direvitalisasi lagi, serta pengembangan budidaya rawa yang lebih maju, agar lahan rawa tersebut bisa meningkat produksinya dari yang sudah-sudah.
          Oleh karena itu, ia berharap seluruh pakar rawa bisa mengkaji lebih dalam bagaimana agar lahan rawa tersebut produksi hasil pertaniannya bisa sebanding dengan lahan kering, lahan tadah hujan atau lahan beririgasi lainnya.
          Mengingat di lahan rawa ada kandungan asam yang tinggi, makanya perlu pengelolaan lahan secara baik dan benar agar tingkat keasaman lahan tersebut berkurang, hingga lahan subur bisa ditanami tanaman pertanian apa saja.
         Harapan Ir Arsyadi tertuju kepada pakar di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin yang sudah lama mengkaji soal lahan rawa tersebut, dan kalau bisa Unlam menjadi perguruan tinggi pioner dalam hal pengkajian lahan rawa tersebut
    Pengkajian mengenai lahan rawa itu dinilai penting untuk masa depan bangsa ini, mengingat terdapat sekitar 39 juta hektare lahan rawa di Indonesia masih belum digarap maksimal.
         Padahal lahan yang menyebar di berbagai wilayah tersebut potensial dimanfaatkan khususnya untuk pertanian, lebih khusus pengembangan tanaman padi guna menambah cadangan pangan nasional.
         Dari luas 39 hektare lahan rawa tersebut sebanyak 24 juta hektare potensial untuk tanaman padi.Rawa tersebut terdiri dari rawa pasang surut sekitar tujuh juta hektare dan rawa non pasang surut sekitar 32 juta hektare.
         Dilihat dari penyebarannya di tiap pulau, Sumatera sekitar 13 juta hektare, Kalimantan 12 juta hektare, Sulawesi 0,5 juta hektare, serta wilayah Irian Jaya sekitar 12 juta hektare. Luas lahan rawa tersebut dibandingkan luas seluruh daratan di empat pulau tersebut diatas sekitar 168,4 juta hektare adalah sekitar 23,4 persen.
         Rektor Unlam ingin menjawab tantangan itu, karena tambahnya Unlam dengan pola ilmiah pokok atau keunggulan lahan basah berkepentingan dengan sumberdaya rawa.
         Jumlah penelitian dengan topik lahan rawa terus meningkat. Dalam lingkup pendidikan tinggi, sejak tahun 2007-2010 Unlam dipercaya untuk menerapkan konsep pengembangan rawa terpadu melalui proyek IMHERE (Indonesia Managing Higher Education Relevance and Efficiancy).  Disamping itu, Unlam telah membangun Stasiun Rawa di daerah Jajangkit yang dikelola oleh lembaga penelitian Unlam.

Iklan

KERBAU RAWA JADI OBYEK AGROWISATA DI KALSEL

           Oleh Hasan Zainuddin 
          Banjarmasin, 18/4 (ANTARA)- Sekelompok pemuda bersorak sorai di hamparan ribuan hektare rawa monoton, Desa Bararawa, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
         Seorang pemuda bertindak sebagai joki, menunggang seekor kerbau besar di hamparan lahan berrawa-rawa tersebut, sementara yang lain juga melakukan hal serupa seraya memacu sekencangnya lari kerbau yang ditunggangnya saat perlombaan kerbau di lokasi desa sentra peternakan kerbau rawa tersebut.
         Perlombaan kerbau rawa itu persis seperti perlombaan atau atraksi karapan sapi di Madura, tetapi lomba karapan sapi di lahan kering atau lapangan luas sementara lomba kerbau rawa di hamparan berair yang penuh dengan tanaman rawa.
         Dalam lomba yang seringpula didatangi ribuan penonton tersebut tampaknya sebagai arena kompetisi antar desa di wilayah penghasil daging ternak terbesar Kalsel itu.
         Tak jarang dalam kegiatan lomba yang merupakan hiburan segar bagi masyarakat yang bermata pencariannya bertani, menangkap ikan, dan beternak itu dihadiri pejabat bukan sebatas camat, dan bupati, tetapi seringpula dihadiri gubernur Kalsel.

 
         “Lomba kerbau rawa merupakan objek wisata tahunan Kalsel yang terus dipopulerkan guna mendukung kunjungan wisata ke daerah ini,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel, Bihman Muliansyah.
          Lomba kerbau rawa tersebut, biasanya diselanggarakan pada setiap perayaan hari kemerdekaan RI, di lokasi yang sudah disediakan di kawasan tersebut, sehingga bagi turis mudah melihat atraksi lomba kerbau rawa itu.
          Tetapi, bukan hanya atraksi lomba kerbau rawa yang menjadi daya pikat wisatawan khususnya wisatawan mancanegara ke daerah itu, yang menarik mereka jusru menyaksikan usaha peternakan kerbau itu yang dinilai rada unik.
          Oleh karena itu, seringkali paket wisata kunjungan wisatawan selama di Kalsel selalu dikaitkan dengan lokasi peternakan kerbau rawa ini, seperti rute pendulangan intan tradisional, pasar permata, lalu Museum Lambung Mangkurat, Pasar Terapung Banjarmasin, Pulau kaget (pulau dihuni bekantan/nasalis larvatus).
          Setelah itu, wisatawan baru diajak ke lokasi kerbau rawa Danau Panggang yang lalu menuju ke Pegunungan Meratus menyaksikan komunitas suku Dayak Meratus, pulangnya berarung jeram menyusuri Sungai Amandit, dan terakhir kembali ke Banjarmasin.
          Berdasarkan catatan, kerbau rawa (Bubalus carabanensis) yang pula disebut sebagai kerbau (hadangan) kalang, karena kehidupan kerbau-kerbau ini berada di atas kalang di atas rawa.
          Kalang terbuat dari kayu-kayu besar yang disusun di tengah rawa untuk berteduhnya ternak besar ini, setelah berenang ke sana-kemari seharian di air dalam rawa untuk mencari makan.
          Sebuah kalang yang dibangun para peternak masyarakat Danau Panggang ini bisanya mampu menampung antara puluhan hingga ratusan ekor kerbau.
          Kerbau rawa merupakan aset asli atau plasma nutfah Kalsel, yang sudah beranak pinak atau berkembang biak di hamparan rawa seluas 2,6 juta hektare yang tersebar di lima kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan (HSS), Banjar, dan Kabupaten Barito Kuala (Batola).
          Tidak ada yang tahu persis asal usul kerbau rawa yang terbilang berbadan besar bila dibandingkan kerbau yang hidup di daratan ini, namun keberadaan kerbau itu sudah ada dari genereasi ke generasi.
          Menurut Kepala Dinas Peternakan Kalsel, Ir Maskamian Andjam kepada wartawan saat berada di kantor Gubernur Kalsel, Banjarmasin pada tahun 2000 lalu populasi hewan ini tercatat 11.605 ekor kemudian berkembang tahun 2004 lalu menjadi 38.488 ekor.
          Populasi kerbau rawa terbanyak berada di Kecamatan Danau Panggang HSU yang meliputi tujuh desa sentra peternakan, yakni desa Palbatu, Bararawa, Sapala, Peminggir, Ambahai, Tapus Dalam, dan Desa Danau Cermin dengan total populasi di kawasan itu sekitar 8000 ekor.
          Pada tahun 2002 dari 8000 ekor di tujuh desa  tersebut dimiliki oleh 215 orang peternak, dengan tingkat kepemilikan antara 50 hingga 100 ekor per orang dengan luas pengembalaan di kawasan rawa itu sekitar 61 ribu hektare dan 41 ribu diantara berupa rawa monoton berair dalam atau berupa danau.
          Kerbau rawa biasanya hidup secara berkelompok, satu kelompok biasanya terdapat antara satu atau dua penggembala (peternak) yang tindak tanduk peternak tersebut sangat di patuhi kerbau-kerbau besar ini.
          Jenis kerbau ini dengan spesifik tanduk yang melingkar panjang ke belakang, warna abu-abu coklat, dengan bentuk tubuh yang gempal, padat, dan berisi yang membuktikan bahwa kerbau rawa dengan mikroba rumen yang dimilikinya mampu mengubah makanan berkualitas rendah berupa rumput rawa menjadi daging.
          Berat kerbau ini berumur satu tahun sudah 195-200 kilogram, panjang badan 95,4-97,6 CM, dan lingkar dada 135,7-138,4 CM.
          Saat dewasa atau berusia tiga tahun kerbau itu memiliki 400-500 kilogram, dengan tinggi gumba 122,1-123,0 CM, panjang badan 128-138 CM, dan lingkar dada 174,6-177 CM.
          Bahkan ada kerbau rawa besar yang disebut atau berstatus “majir” pernah mencapai berat badan 600 kilogram, kata Maskaiman Andjam.
          Kerbau ini melahirkan anak setiap 400-500 hari (calving interval) dengan bobot lahir 28 kilogram. Kerbau rawa memasuki usia produktif saat berusia 15 tahun, dengan tingkat produksi susu cukup tinggi sehingga perkembangam anaknya begitu cepat.
          Akhmad Arifin yang seorang pemandu wisata Kalsel menuturkan untuk memancing wisatawan datang ke peternakan kerbau rawa tersebut setiap pemandu harus bisa menceritakan keunikan kerbau tersebut.
          Keunikan kerbau itu selain memang badannya besar, hidupnya berenang ke sana kemari di atas air rawa, hidup di atas kalangan jauh dari pemukiman penduduk, juga hanya ada di daerah rawa Kalsel dan sulit ditemui di daerah lain, biasanya setelah mendengar keunikan itu wisatawan khususnya yang memiliki perhatian terhadap binatang pasti minta di antarkan ke lokasi tersebut.
          Di lokasi peternakan. para wisatawan biasanya serius menyaksikan sistem peternakan yang dinilai benar-benar alamiah tanpa sentuhan tekhnologi itu
     “Wisatawan dengan menggunakan kamera biasanya membidik-bidik lokasi kalang sebagai tempat berteduh kerbau di malam hari, serta kelompok kerbau yang berenang di atas air  di kawasan tersebut.” kata Akhmad Arifin.
          Akhmad Arifin sendiri berharap dalam pengembangan peternakan kerbau ini bukan semata menambah pupulasi ternak, tetapi bagaimana lokasi peternakan ini menjadi daya pikat wisatawan dengan mempertahankan lomba kerbau rawanya, ditambah akses ke lokasi itu yang dipermudah.
          Bila semua itu lebih diperhatikan baik oleh Pemprop Kalsel maupun Pemkab HSU maka lokasi peternakan kerbau rawa kian dikenal sebagai objek agrowisata andalan Kalsel.

Imagekerbau rawa

 

 
KERBAU RAWA
—————
Kerbau rawa merupakan salah satu ternak ruminansia yang banyak diusahakan oleh petani ternak khususnya di daerah lahan rawa Kalimantan Selatan. Kerbau rawa mempunyai potensi dan peluang yang baik untuk dikembangkan, hal ini didukung dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan kesejahteraan dan kesadaran akan pangan bergizi dari masyarakat, sehingga permintaan konsumen akan daging meningkat. Kontribusi produksi daging kerbau yang dihasilkan di Kalimantan Selatan sekitar 12,22% dari total produksi ternak ruminansia. Makalah ini merupakan review dan bertujuan untuk memaparkan pemikiran-pemikiran tentang strategi pengembangan kerbau rawa di Kalimantan Selatan khususnya di daerah rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Batola dengan pertimbangan populasi kerbau rawa cukup tinggi. Pengembangan kerbau rawa dapat dilakukan di daerah rawa baik lebak maupun pasang surut dengan memperhatikan daya dukung lahan terhadap penyediaan hijauan pakan ternak. Masalah yang dihadapi petani ternak kerbau yaitu areal padang penggembalaan yang terbatas dan berkurang akibat bertambahnya jumlah penduduk, pergeseran penggunaan lahan menjadi lahan usahatani; ketersediaan hijauan sangat tergantung musim, dan adanya hama (ulat dan keong mas); rendahnya produktivitas akibat rendahnya kualitas pakan, penurunan mutu bibit, inbreeding dan manajemen pemeliharaan yang kurang optimal; lokasi pemeliharaan ternak kerbau yang cukup jauh menyebabkan sulitnya akses untuk mendapatkan penyuluhan dan pencegahan/pengobatan penyakit. Berdasarkan analisis SWOT terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk pengembangan kerbau rawa dengan memperhatikan faktor eksternal dan internal. Dan untuk mendukung strategi pengembangan disarankan agar program pengembangan kerbau mendapat prioritas baik dari pemerintah pusat atau daerah; pengembangan ternak kerbau harus sesuai dengan potensi daerah yang didukung dengan perbaikan teknologi (bibit, manajemen dan pakan) dan dapat diarahkan sebagai obyek wisata; serta perlunya pembinaan dan penyuluhan yang lebih intensif.(SUMB:Puslitbangnak)