“LOMBA ANGKAT LUMPUR” TUMBUHKAN SEMANGAT SELAMATKAN SUNGAI

6

Oleh Hasan Zainuddin

 

Banjarmasin,18/9 (Antara)- Satu kelompok terdiri dari enam orang ibu berbaju kaos bercelana panjang begitu bersemangat masuk sungai, lalu tangan mereka begitu cekatan mengeruk lumpur di dasar sungai menggunakan sebuah keranjang rotan, lalu mengangkatnya ke bak sebuah truk yang sudah disediakan di dekat lokasi tersebut.
Tak peduli bedak putih yang berada di wajah para ibu tersebut berubah menghitam setelah hampir seluruh tubuh berlumuran lumpur warna hitam berasal dari sungai Jalan A Yani depan gedung RRI Banjarmasin.
Diiringi suara musik dangdut dari pengeras suara, para ibu-ibu tersebut terus bekerja sambil mengangkat lumpur dengan sesekali berjoget mengiringi irama musik yang dibunyikan panitia penyelanggara dalam lomba angkat lumpur yang kini sudah dibudayakan di wilayah yang berjuluk “kota dengan seribu sungai,” (city with a thousand rivers).
Kelompok ibu-ibu ini satu dari 32 kelompok yang menjadi peserta dalam kegiatan lumba angkat lumpur tahun 2014 yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kalimantan selatan, bekerjasama dengan TNI AL Banjarmasin, pada Minggu (14/9) lalu.
Lomba sendiri dibuka dibuka Komandan Lanal Banjarmasin Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto didampingi oleh Wali Kota Banjarmasin H Muhidin.
Wali kota Banjarmasin menyatakan terus membudayakan lumba angkat lumpur ini, karena dengan lumba ini selain akan merevitalisasi sungai sekaligus akan menanamkan kecintaan sekitar 700 ribu poenduduk kota untuk memelihara sungai.
“Kedepan lumba angkat lumpur akan ditingkatkan lagi pesertanya diundang 52 kelurahan, kalau perlu akan memperoleh penghargaan MURI,” kata wali kota.
Dalam lomba keluar juara Kelompok PMK Sinar Daha berhak Rp10 juta rupiah, disusul kelompok Maya Daha Rp7,5 juta, lalu ketiga Kelompok Ikan Haruan Rp5 juta,tiga kelompok ini juga berhak atas tropy.
Lomba kaitan memperingati hari jadi Kota Banjarmasin ke- 448 dan HUT TNI AL ke- 69 tersebut bertujuan agar masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan disekitarnya, khususnya memelihara sungai.

 

Revitalisasi Sungai

 

 

 

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) Banjarmasin Muryanta yang ikut dalam kelompok lomba dengan tersengal-sengal menahan nafas lantaran kelelahan merasa gembira melihat antusias ratusan orang peserta dalam lomba ini.
“Ini tampaknya paling ramai dibandingkan dengan lumba angkat lumpur dari tahun-tahun sebelum-sebelumnya, moga kedepan kian ramai lagi,” kata Muryanta yang kelompoknya dari kantor SDA tidak memperoleh kemenangan dalam lomba tersebut.
Menurutnya,lumba ini berdampak positif dalam upaya pemerintah mensosialisasikan kebersihan sungai, karena kepedulian masyarakat memelihara sungai kunci sukses menghidupkan kembali keberadaan sungai sebagai sarana transportasi, drainase, dan kelestarian lingkungan hidup.
Di Banjarmasin sendiri terdapat 105 sungai besar dan kecil, yang besar Sungai Barito dan Sungai Martapura, dari jumlah itu sebanyak 30 persen sungai-sungai tersebut sudah mati karena sendimentasi, diserang gulma, dan karena tersita oleh pemukiman penduduk dan pembangunan perkotaan.
Apalagi kedepan dalam kebijakan Pemkot setempat akan menjadikan sungai sebagai urat nadi perekonomian, mengingat wilayah ini tidak memiliki sumberdaya alam seperti hutan, tambang, pertanian, perkebunan, dan lainnya.
Salah satu yang dipilih mendongkrak ekonomi adalah sungai, makanya sungai harus dihidupkan lagi sebagai sarana transportasi, khususnya dibenahi untuk dunia kepariwisataan mengingat kota ini sudah dikenal luas sebagai kota wisata sungai di tanah air.
Upaya membenahi sungai tersebut sudah dilakukan Pemkot Banjarmasin melalui kantor SDA yang menghabiskan dana sudah ratusan miliar rupiah lebih yang dilakukan secara bertahap.
Mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.
“Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Piere Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata yang menarik dan menjadi ikon kota,”tuturnya.
Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit itu.
Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanangkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.
Dengan arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan lain selain bagaimana agar sungai-sungai bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.
Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut. Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai Kota Banjarmasin, seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.
“Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah,” tutur Muryanta.
Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.
Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.
Mengenai pembangunan siring sebagai lokasi “waterforont city” menuju kota metropolis akan memanjang hingga lima kilometer, yang diyakininya selesai 10 tahun, padahal target sebelumnya itu baru bisa dikerjakan selama 25 tahun.
Optimistis mampu merampungkan proyek tersebut didasari dengan kenyataan yang ada selama lima tahun terakhir ini saja sudah dibangun tiga kilometer. Tiga kilometer tersebut seperti sepanjang siring di Jalan Piere Tendean, eks SMP-6, serta Jalan Sudirman.
Tinggal penyelasaian antara Siring eks SMP 6 ke pekapuran hingga ke Jalan RK Ilir tepatnya hingga Tempat Pendaratan Ikan (TPI) air tawar Jalan RK Ilir,tambahnya.
Tiga kilometer proyek siring tersebut sudah menghabiskan dana sedikitnya Rp75 miliar, sebagian besar atau Rp60 miliar berasal dari dana APBN melalui Balai Besar Sungai Kementerian PU, sisanya melalui APBD Pemprov Kalsel, serta APBD Kota Banjarmasin.
Untuk menyelasaikan sepanjang lima kilometer proyek siring tersebut maka dibutuhkan dana sedikitnya Rp150 miliar lagi, katanya seraya menyebutkan bahwa proyek siring dikerjakan sejak tahun 2008.
“Kami akan lanjutkan pembangunan siring Sungai Martapura, agar kota kita tambah indah dan nyaman, hingga nantinya terdapat pusat kuliner ketupat seperti di Pekapuran serta pusat cendramata kain Sasirangan di kampung Seberang Masjid,” tambah Muryanta.
Apalagi sekarang sedang diselesaikan proyek menara pandang Rp14 miliar berlantai empat yang berarsitektur khas budaya Banjar di lokasi siring Pire Tendean menambah kesemarakan kota yang berada paling selatan pulau terbesar nusantara ini.
Kawasan lain yang segera dibenahi wisata sungai sebagai sentra kuliner, yakni di Desa Pekapuran, khususnya ketupat mengingat di lokasi tersebut banyak sekali perajin makanan tersebut. Jika terbangun siring mempermudah wisatawan mendatangi sentra kuliner ketupat baik melalui sungai maupun melalui darat.
Pembangunan siring Desa Pekapuran tak masalah karena dana akan diperoleh bantuan Balai Besar Sungai Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Tinggal bagaimana mendanai pembebasan terhadap bangunan lama atau pemukiman penduduk wilayah itu, antara Jembatan Dewi terus ke Pekapuran atau menmyambung siring terdahulu.
Di Desa Pekapuran banyak perajin ketupat menyebar di lingkungan RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, hingga lingkungan RT 7. Tadinya membuat ketupat hanya penduduk asli setempat, tetapi setelah potensi ekonomi membuat ketupat begitu menjanjikan sehingga belakangan banyak pendatang yang juga ikut-ikutan menjadi perajin ketupat.
Di desa tersebut bukan saja mereka yang hanya mengayam daun kelapa dan daun nifah menjadi kulit ketupat, tetapi tak sedikit yang menjadi pedagang grosir, pedagang eceran, sampai mereka yang bertindak sebagai pencari bahan baku daun kelapa dan daun nifah.
Kawasan tersebut ramai pengunjung untuk membeli ketupat, apalagi jika menjelang idul Fitri dan Idul Adha.
Selain itu Pemkot juga membangun wisata bantaran sungai Desa Seberang Masjid
sebagai kawasan cendramata Kain Sasirangan, serta pusat souvenir lainhya.
Bila semua fasilitas wisata sungai dibenahi termasuk penyediaan sarana angkutan seperti kapal-kapal wisata, spead boat, klotok, dan pembenahan pasar terapung, pemukiman terapung, industri terapung, dan kehidupan sungai lainnya ditambah akomodasi penginapan yang memadai maka akan mewujudkan sungai sebagai penggerak ekonomi masyarakat melalui dunia kepariwisataan.

 

Iklan

PALANGKARAYA SURGA BAGI PENIKMAT IKAN SUNGAI ALAM

pipih Iwak pipih (Balida) ukuran besar di pasar Kota Palangkaraya

Oleh Hasan Zainuddin
Nurdin (40 th) warga Kota Banjarmasin Kalimantan selatan (Kalsel) ketika datang ke Palangkaraya, saat makan siang di warung depan balai kota Jalan Tjilik Riwut betapa kagetnya ketika menu yang disajikan sayur asam kepala ikan baung ukuran besar.
Beberapa kali, Nurdin mengamati kepala ikan baung seukuran hampir buah kelapa muda itu seraya bertanya kepada pemilik warung khas Banjar, asal Kelua Kalsel,:” kok masih ada ya ikan baung sebesar ini?”.
Menurut Pak haji yang sudah hampir 10 tahun membuka usaha warung makan di Kota Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah (Kalteng) itu, ikan sebesar itu masih mudah diperoleh di Palangkaraya.
Bukan hanya ikan baung (Nemurus) yang mudah diperoleh di sungai wilayah Palangkaraya, tetapi juga jenis ikan sungai alam lainnya, dan itu menjadi menu utama warung yang ia miliki.
Pengalaman serupa juga dialami oleh Haji Kaspul Anwar ketika menyantap makanan khas banjar, ketupat Kandangan di bilangan Jalan Dr  Murjani, ketika memesan lauk kepala ikan gabus (haruan) ternyata disajikan besaran kepala ikan gabus itu melebihi lebaran piring wadah lauk itu.
“Wah-wah ini namanya aku makan besar, sudah puluhan tahun, aku tak menyantap kepala ikan haruan sebesar ini,” kata Haji Kaspul yang berprofesi sopir antar provinsi Kalteng-Kalsel tersebut.
Menurut Haji Kaspul kalau di Banjarmasin atau kota lain di Kalsel sulit memperoleh ikan gabus besar, paling banter hanya seperti batu baterei atau sebesar pergelangan tangan anak-anak, sehingga kala menu dari kepala ikan untuk lauk ketupat kandangan kecil-kecil sekali.
Perlu diketahui masakan khas Banjar, memang sering menyajikan menu khusus mengolah kepala-kepala ikan, seperti sayur asam, kalau tidak kepala baung, juga kepala gabus, atau kepala tauman.
Sementara kalau menu lauk ketupat kandangan itu yang diolah khusus kepala ikan gabus, selain daging tengah, ekor, maupun perut (jeruan) ikan gabus itu sendiri.
Menu-menu ikan besar yang disajikan oleh warung yang menjamur di bilangan kota Cantik Palangkaraya itu, bukan hanya terdapat di dua lokasi itu tetapi hampir terlihat di mana-mana, khususnya warung khas Banjar yang mendominasi warung akan di wilayah ini dan terbiasa menyajikan menawarkan menu ikan-ikan sungai alam.
Ikan sungai alam yang mudah diperoleh dan murah di wilayah Palangkaraya ini, antara lain jelawat (Leotobarbus hoeveni), ikan pipih (belida), tapah, lais, lawang, sanggang, adungan, tilan, puyau, kelabau, sanggiringan, saluang, patin, serta beberapa jenis ikan lainnya yang namanya kurang populer di masyarakat.
Ikan sungai alam Kalteng itu populasinya masih banyak dan masih banyak pula berukuran besar, mencapai belasan kilogram per ekor.
Selain ikan sungai, Palangkaraya juga gudangnya produksi ikan sungai dan rawa-rawa, seperti gabus, tauman, mihau, kerandang, sepat siam, patung, biawan, pepuyu, sepat, sisili, kapar, serta beberapa ikan yang kurang populer di masyarakat.
Ikan itu setelah di warung selain, di goreng, di panggang, di pepes (pais) di sayur asam (gangan asam), dimasak habang, dimasak kecap, digangan balamak, dan diolah menu lainnya.
Palangkaraya juga memiliki ikan non alam, yakni ikan hasil budidaya, seperti ikan nila, ikan mas, ikan patin, ikan lele, yang juga mudah diperoleh dan murah.
Khusus di Palangkaraya, kawasan yang menawarkan menu ikan hasil budidaya ini kebanyakan adalah warung khas Jawa, seperti warung pecel lele, menyajikan lele, ikan mas, ikan nila, goreng lengkap dengan sambal terasi dan lalapan, timun, tomat, dan daun kemangi.
Kawasan warung khas Jawa, terdapat di sentra kuliner Palangkaraya Jalan Yos Sudarso atau dekat bundaran besar, jantung kota Palangkara sebuah kota yang pernah digagas oleh Presiden RI pertama, Soekarno untuk dijadikan ibukota negara RI tersebut.
Sedangkan menu warung yang menyajikan makanan khas Dayak juga menyebar dan tak kalah enaknya dengan menawarkan berbagai masakan terbuat dari ikan alam sungai dan rawa beserta menu khasnya, umbut rotan, serta daun singkong bersantan.
Bukan hanya menawarkan masakan ikan sungai alam, Kota palangkaraya juga menawarkan beraneka ikan asin, ikan kering, hasil pengawetan ikan-ikan sungai alam itu.
Maka penjuaan ikan kering itupun menjamur di berbagai tempat dan telah menjadi barang cenderamata bagi pendatang ke kota yang berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa ini.
Timbul berbagai pertanyaan mengapa wilayah Palangkaraya atau Kalteng secara umum menumpuk produksi ikan-ikan demikian, jawabannya adalah karena wilayah Kalteng dikenal dengan potensi perairan yang sangat luas.
Seperti dikemukan Kepala Bidang Sumberdaya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum Kalteng, Jarot Wityoko yang didampingi Kepala Seksi (Kasi) Perencanaan Tehnis, Free Vynou menyebutkan,  potensi perairan Kalteng sangat besar.
Potensi Sumber Daya Air  (SDA) di wilayah tersebut sangat besar mencapai 183,2 miliar meterkubik (M3) per tahun.
Melihat potensi SDA yang begitu besar sebenarnya kalau dikelola dengan baik maka akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat Kalteng.
SDA Kalteng itu bisa dimanfaatkan bukan saja sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai sarana bahan baku air minum, irigasi persawahan, pembangkit listrik, serta sebagai kawasan penangkapan ikan dan pembudidayaa sektor perikanan.
Terdapat 11 sungai besar yang ada di Kalteng dengan panjang kurang lebih 4.625 Km dan tujuh buah anjir atau kanal sepanjang kurang lebih 122 Km.
Sebelas sungai yersebut adalah sungai besar dan terdapat puluhan bahan ratusan anak sungai yang sambung menyambung satu sama lain yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi penangkapan ikan oleh masyarakat.
Sungai tersebut seperti Sungai Barito dengan panjang 900 kilometer (Km) dalam 8 m dan lebar 650 m, Sungai Kapuas panjang 600 Km dalam 6 m dan lebar 500 m.
Sungai Kahayan panjang 600 Km dalam 7 m ,lebar 500 m, Sungai Katingan panjang 650 Km dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Mentaya 400 Km,  dalam 6 m lebar 400 m.
Sungai Sebangau panjang 200 Km dalam 5 m, lebar 100 m, Sungai Seruyan panjang 350 Km, dalam 5 m, lebar 300 m, Sungai Arut 250 Km dalam 4 m, lebar 100 m.
Sungai lainnya, Sungai Kumai panjang 175 Km, dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 200 m, terakhir Sungai Jelai panjang 200 Km dalam 5 m dan lebar 100 m.
Bukan hanya jumlah sungai yang begitu banyak luasan rawa-rawa yang mengandung kehidupan ikan rawa juga begitu besar, tercatat 1,8 juta hektare yang menyebar di Kalteng ini.
Dengan potensi perairan demikian melahirkan populasi dan perkembangan ikan sungai alam yang melimpah pula, dari hasil penangkapan ikan di sungai-sungai besar itulah yang kemudian dibawa oleh pedagang hingga ke Palangkaraya ibukota provinsi ini.

 

pasar ikan salah satu pasar ikan, pasar pagi Palangkaraya

 

kahayan Inilah salah satu sungai lokasi penangkapan ikan sungai alam, yaitu Kahayan yang membelah Kota Palangkaraya

SUNGAI MEMBELAH KOTA ASET PEMBANGUNAN BANJARMASIN

sungaiwarung

Oleh Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,8/3 ()- “Sangat elok” demikian, komentar seorang wisatawan dari Negara Malaysia, ketika berkunjung ke wilayah berjuluk “kota seribu sungai dan seribu jembatan” Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Komentar tersebut terlontar setelah menyaksikan alam lingkungan kota ibukota provinsi bagian Selatan Pulau terbesar tanah air Kalimantan (Borneo) tersebut dimana  sedikitnya 107 sungai dan 250 buah jembatan yang membelah-belah wilayah yang hanya seluas 72 km tersebut,
Kondisi alam Banjarmasin sebenarnya adalah sebuah wilayah yang memiliki karasteristik unik di bandingkan kota manapun di dunia ini, melihat karateristik yang unik dan menarik itu sebenarnya kota ini memiliki sebuah kelebihan, jika dikelola dengan baik dan benar akan melahirkan sesuatu yang menakjubkan, kata Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Ir Herry Suhardiyanto, MSc saat berada Banjarmasin.
Kehadiran Rektor ITB bersama empat peneliti IPB lainnya ke Banjarmasin dalam kaitan kerjasama antara IPB dengan Pemko Banjarmasin dalam upaya pemanfaatan sungai sebagai aset yang harus dikembangkan mendukung kemajuan kota tersebut.
Menurut Herry kalau sungai dinilai sebuah kelebihan mengapa keberadaan sungai kemudian dikeluhkan sebagai suatu yang menjadi penghambat, akhirnya sungai dirusak bahkan sungai dimatikan.
Sebagai contoh saja karena dinilai sungai sebuah masalah lalu setiap pembangunan fisik perkotaan di Banjarmnasin selalu saja dilakukan pengurukan tanah merah di atas sungai atau rawa, padahal kalau sungai dinilai sebagai aset bagaimanapun dalam pembangunan fisik perkotaan itu seharusnya tidak menghilangkan ciri khas sungai tersebut.
Oleh karena itu ia berharap pemerintah dan masyarakat Banjarmasin menyadari sistem pembangunan selama ini adalah sistem yang bisa menghilangkan kelebihan dan keunikan kota itu.
Kedepan seharusnya dicarikan format yang tepat untuk mengeksploitasi kelebihan tersebut dengan mengutamakan keberadaan sungai dalam setiap kali adanya pembangunan perkotaan.
Salah satu upaya hendaknya dilakukan, merubah sistem tata ruang yang ada dimana sungai-sungai yang membelah kota ini menjadi sesuai ruang yang dilestarikan, sebaliknya hanya kawasan non sungai saja yang diperuntukan bagian dari wilayah pembangunan fisik perkotaan tersebut.
Bila sungai dieksploitasi baik,  sebenarnya akan melahirkan manfaat besar, salah satu yang bisa dirasakan pasti adalah menjadi objek wisata yang menarik.
Bila kota ini mampu menciptakan wisata sungai, kedepannya tanpa dibiayai dengan mahalpun kota ini berkembang sendirinya menjadi sebuah kota yang maju, rakyat yang serjahtera, karena wisata memancing devisa besar bagi peningkatan ekonomi rakyat.
Melalui kerjasama tersebut pihak ITB akan membuat konsep pembangunan kota mengedepankan sungai sebagai daya tarik kota ini.
Wali Kota Banjarmasin, haji Yudhi Wahyuni saat menghadiri HUT Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin mengakui sungai di kotanya begitu banyak, potensi sungai itu tak salahnya dimanfaatkan bagi pembangunan, sungai sebagai daya tarik wisata, daya tarik ekonomi, dan daya tarik transportasi air.
Bukti Pemerintah setempat kian memperhatikan sungai adalah dibentuknya lembaga baru mengurusi sungai, yaitu Dinas Pengelolaan Sungai dan drainase, dan pada tahun 2009 ini mengalokasikan dana miliaran rupiah dalam mengelola sungai tersebut.
Pelaksana Tugas Harian (Plt) Kepala Dinas Sungai dan Drainase, Ir Muryanta ketika dikonfirmasikan menyatakan pihaknya bertekad keras menghidupkan keberadaan sungai, baik sebagai drainase, daerah resapan air, sumber air masyarakat, sumber transportasi air, serta aneka kehidupan sosial ekonomi lainnya.
Instansi yang baru dibentuk tersebut kini berusaha menghidupkan kembali sungai yang mati, karena berdasarkan catatan terakhir terdapat 30 sungai yang sudah kehilangan fungsinya, lantaran mendangkal, dan ditumbuhi gulma dan limpahan limbah perkotaan.
Pihak instansi ini akan memaksimalkan fungsi sungai  yaitu dengan pengerukan dasar sungai dan pelebaran sungai, seperti terlihat di Sungai Veteran, Sungai Jalan A Yani, Sungai Teluk Dalam, Sungai Miai, Sungai Kayu Tangi, dan beberapa sungai lainnya.
Bahkan ratusan rumah yang berada di bantaran sungai sekarang ini dibongkar dan dipindahkan ketempat lain, sementara lahan bekas perumahan bantaran sungai akan dibuatkan siring sungai hingga menjadi kawasan pertamanan kota dan jalur hijau.
Ia menyakan tindakan tersebut karena kedepan Pembangunan Kota Banjarmasin mengarah kepada berbasis sungai yaitu dengan memanfaatkan keberadaan sungai sebagai pilar pembangunannya harapannya perkembangan kota kian maju.
Melihat potensi sungai di Banjarmasin sebagai pilar pembangunan maka Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banjarmasin kedepan akan dirivisi, semua pembangunan yang ada di kota ini harus memperhatikan potensi sungai tersebut.
Bahkan waktu segera akan dikeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang sungai, apalabila melanggar ketentuan tersebut maka akan diberikan sanksi berat, agar warga tidak coba-coba lagi menganggu keberadaan sungai tersebut.
Sebagai contoh saja setiap pembangunan jembatan yang menyeberangi sungai, bentuk jembatan  harus dibuatkan melengkung ke atas, agar angkutan  sungai dibawahnya tidak terganggu oleh keberadaan jembatan tersebut.
Bangunan rumah, bangunan pertokoan, kantor, dan bangunan fisik lainnya di pinggir sungai diharapkan tidak lagi belakangnya menjorok ke sungai, melainkan seharusnya muka bangunan menghadap ke sungai kemudian diberi halaman luas dengan taman-taman serta lampu-lampu hias sehingga sungai kian hidup.
Begitu juga dalam setiap pemberian ijin Mendirikan Bangunan (IMB) bakal tidak diberikan kepada mereka yang berusaha membangun bangunan fisik menganggu keberadaan sungai seperti di bantaran sungai.
Sementara bangunan yang sudah terlanjur berdiri di bantaran sungai sedikit demi sedikit akan dibebaskan agar seluruh sungai di kota ini akhirnya bebas dari bangunan fisik, kecuali pertamanan dan penghijauan.
Beberapa lokasi tepin sungai Banjarmasin yang sudah menjadi pertamanan lengkap dengan lampu hias, seperti di siring jalan Sudirman, Siring Metro City, halaman Hotel Boreno, halaman Balaikota Banjarmasin, depan Kantor Gubernur Kalsel, Jalan Pos, dan beberapa kawasan lainnya.
Melihat potensi sungai demikian begitu besar tidak salahnya kalau sungai dimanfaatkan bagi pembangunan kota, khususnya sungai sebagai daya tarik kepariwisataan, daya tarik perekonomian, dan daya tarik transportasi air.
Bahkan melihat sungai demikian telah banyak melahirkan penilaian bahwa Kota Banjarmasin merupakan sebuah kota paling unik, menarik di tanah air yang memiliki nilai jual tinggi ke belahan dunia lain sebagai kota wisata.
Sementara pemerhati lingkungan, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Dr Ir H Rusdi gembira keinginan Banjarmasin menyelamatkan sungai, sebab kalau melihat perilaku warga selama ini bisa jadi 50 tahun kota ini terancam tenggelam.
“Kebiasaan warga dengan  pola hidup selama ini membahayakan kota ini, dimana warga seenaknya membuang sampah ke sungai, melakukan pembangunan fisik dengan tidak memperhatikan kondisi lingkungan, yaitu sistim  pengurukan tanah hingga menghilangkan sungai, dan kawasan resapan air,”katanya.
Perkiraan tenggelamnya daratan kota ini bisa dilihat dengan kenaikan permukaan air di daratan Banjarmasin belakangan ini. Bila permukaan daratan semula hanya 15 Cm di bawah permukaan air laut, sekarang tinggi permukaan air laut bertambah 16 cm sehingga bila air pasang sedikit saja maka kota ini sudah terendam.
“Kondisi permukaan air di daratan Banjarmasin ini harus dicegah pertambahan, yang tentunya dengan kembali menata dan membatasi sistim kegiatan pengurukan tanah di kota yang sudah tua ini,” kata Dekan Fakultas Teknik Unlam di saat dialog mengatasi banjir Kota Banjarmasin, di balaikota.
Rusdi juga mengatakan seringnya banjir melanda kota ini saat diguyur hujan menandakan bahwa kota ini sudah sangat rawan bencana banjir.
“Bila kondisi ini tak segera diantisipasi.kedepan bila sedikit saja hujan maka banjir sudah bisa dirasakan kota ini, apalagi belakangan fenomena alam kian tak bersahabat, maka Banjarmasin bisa menjadi sasaran banjir,”katanya lagi.
Ancaman banjir kota ini selain kota ini tidak ditata juga terjadinya illegal loging, illegal mining di hulu sungai yang muara sungai mengarah ke Banjarmasin seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Apalagi tambahnya, dengan pengaruh global warning dengan mencairnya gunung es maka terjadi perubahan permukaan air laut yang terus meninggi yang pengaruhnya juga sampai ke Banjarmasin.
Atas banyak kekhawatiran semacam itulah, pembenahan Kota Banjarmasin yang selama ini banyak berorienrtasi ke daratan mencoba berpaling dengan berusaha membenahi sungai-sungai tersebut menjadi sebuah aset pembangunan untuk kemajuan ekonomi, kemajuan sosial budaya, dan kemajuan kota lainnya yang diharapkan melalui kekayaan sungai akan bisa mensejahterakan masyarakatnya.

REVITALILASI SUNGAI DI BANJARMASIN
Banjarmasin,3/4 (ANTARA)- Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin melalui kantor Dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase akan merevitalisasi sungai di wilayah ini.
“Pemko Banjarmasin menyediakan dana setidaknya Rp17,8 miliar pada tahun 2009 dalam upaya merevitalisasi sungai dan drainase,” kata Kepala dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase, Muryanta, kepada pers di Banjarmasin, Jumat.
Selama tahun ini, katanya, kegiatan proyek sungai akan dilakukan, baik bidang sungai besar maupun bidang sungai kecil.
Untuk bidang sungai besar, proyek yang dikerjakan adalah normalisasi sungai dengan pembangunan siring tiang pancang, yaitu pembangunan siring di Jalan Piere Tendean dengan nilai Rp9,8 miliar.
Selain itu, revitalisasi dan penataan bantaran sungai kawasan Ujung Murung melanjutkan pekerjaan sebelumnya dengan nilai Rp2,3 miliar.
Sementara proyek di bidang sungai kecil adalah normalisasi sungai Komplek Banjar Indah Permai dengan nilai Rp193,9 juta, normalisasi sungai Kompleks Beruntung Jaya Rp221,2 miliar, serta proyek normalisasi sungai di Jalan Jafri Zam-zam -Saka Permai Rp199,1 miliar.
Proyek di bidang sungai kecil juga meliputi normalisasi sungai antara Jalan Jafri Zam-zam ke arah Cendrawasih, normalisasi sungai Jalan A Yani kilometer enam yang merupakan anak sungai Pemurus.
Kemudian normalisasi sungai Jalan Belitung, sungai Jalan Surgi Mufti, dan normalisasi sungai di Jalan Pengembangan, tambahnya. Dia menyebutkan pekerjaan normalisasi sungai tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2008 lalu dalam upaya mengembalikan fungsi sungai.
Dalam kegiatan normalisasi sungai tersebut sudah banyak rumah penduduk di Bantaran Sungai yang dirobohkan, kemudian lahan bekas rumah diubah menjadi taman dan lampu-lampu hias dalam upaya mempercantik kota.
Sebagai contoh saja saat pembebasan perumahan di jalan veteran dan jalan Jafri Zam-zam.
Fungsi sungai di Banjarmasin selain untuk kepetluan sehari-hari manci dan cuci juga untuk transportasi, objek wisata, dan drainase.
Berdasarkan catatan, ada 107 sungai di Banjarmasin, tetapi 30 persen di antaranya sudah dinyatakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena pendangkalan, tercemar limbah, dan akibat pembangunan fisik perkotaan seperti perumahan dan pertokoan.

50 TAHUN KEDEPAN BANJARMASIN BAKAL TENGGELAM
Banjarmasin,23/2 (ANTARA)- Seorang pemerhati lingkungan, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Dr Ir H Rusdi HA menilai Kota  Banjarmasin yang merupakan ibukota propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), 50 tahun, terancam tenggelam jika perilaku masyarakat terhadap kota ini tak segera merubah.
“Kebiasaan warga dengan  pola hidup seperti sekarang jelas membahayakan terhadap kondisi kota ini, dimana warga seenaknya membuang sampah ke sungai, serta melakukan pembangunan fisik dengan tidak memperhatikan kondisi lingkungan, yakni dengan sistim  pengurukan tanah hingga menghilangkan kawasan resapan air,”kata guru besar Unlam itu kepada wartawan di balaikota Banjarmasin, Senin.
Perkiraan bakal tenggelamnya daratan Kota Banjarmasin bisa dilihat dari dengan kenaikan permukaan air di daratan Kota Banjarmasin belakangan ini.
Bila permukaan daratan Banjarmasin yang semula hanya 15 Cm di bawah permukaan air laut,  sekarang tinggi permukaan air laut bertambah 16 cm sehingga bila air pasang sedikit saja maka Banjarmasin sudah terendam.
“Kondisi permukaan daratan Banjarmasin ini harus dicegah pertambahan, yang tentunya dengan kembali menata dan membatasi sistim kegiatan pengurukan kota yang sudah tua ini,” kata Dekan Fakultas Teknik Unlam Banjarmasin ini  di sela-sela dialog mencari solusi mengatasi banjir Kota Banjarmasin, di aula Kayuh Baimbai balaikota Banjarmasin.
Dalam seminar seminar kerjasama Pemko Banjarmasin dengan Unlam tersebut, Rusdi juga mengatakan seringnya banjir melanda Banjarmasin pada saat diguyur hujan menandakan bahwa kota ini sudah sangat rawan bencana banjir.
“Bila kondisi ini tak segera diantisipai mulai sekarang, maka kedepan bila sedikit saja hujan maka banjir sudah bisa dirasakan kota ini, apalagi belakangan fenomena alam kian tak bersahabat, maka Banjarmasin bisa menjadi sasaran banjir,”katanya lagi.
Ancaman banjir di Banjarmasin ini selain kondisi kota yang tidak ditata sedemikian rupa hingga lingkungan terganggu, juga terjadinya illegal loging, illegal mining di hulu sungai yang muara sungai mengarah ke Banjarmasin seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Apalagi tambahnya, dengan pengaruh global warning dengan mencairnya gunung es maka terjadi perubahan permukaan air laut yang terus meninggi yang pengaruhnya juga sampai ke Banjarmasin.
Sementara Prof Dr Hadin Muhjad menilai dengan kondisi Banjarmasin yang kerap Banjir atau terendam ini belum terlambat jika mulai sekarang akan dilakukan antisipasi atau pencegahan dengan memberikan payung atau aturan hukum pada saat membangun kota ini diantaranya mengurangi pengurukan tanah saat pembangunan fisik.
Pejabat Sementara Kepala Dinas Drainase dan Sungai Kota Banjarmasin Ir Muryanta ST mengatakan dengan banyaknya persolan yang mengancam kota Banjarmasin, sudah saatnya Pemko mempunyai gagasan untuk mengembalikan pembangunan kota Banjarmasin berbasis Sungai, serta mengelurkan Perda tentang sungai.
“Saat ini ada 77 sungai yang masih hidup dan 30 sungai yang sudah mati, kedepan 30 sungai itu  akan dihidupkan lagi supaya kota Banjarmasin benar-benar bisa mengembalikan kota yang mempunyai julukan kota seribu sungai,” tambahnya.

rumah2 lanting

“PERAHU PINTAR” SALAH SATU UPAYA KALSEL TUNTASKAN BUTA AKSARA

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,7/3 ()- Ketika sebuah “klotok” (perahu bermesin) merapat di tepian sungai Martapura anak Sungai Barito dimana terdapat sebuah Sekolah Dasar (SD) Banua Anyar, Kota Banjarmasin Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), serta merta puluhan anak murid sekolah tersebut yang yang lengkap dengan seragam sekolah berlompatan naik ke perahu tersebut.

pinter1
Sebagian anak langsung bergerombol kesebuah komputer yang lengkap menampilkan tayangan internet, anak yang lain asyik mencoba sebuah telpon selular yang tersedia di atas perahu itu, sedangkan tak kalah ramainya anak-anak berada di depan televisi menonton berbagai tayangan media visual tersebut.
Sementara seorang guru dengan anak-anak murid yang lain menuju ke ruang baca yang menyajikan ribuan buku bacaan yang di lokasi perpustakaan perahu tersebut, itulah kegiatan sebuah perahu pintar yang diluncurkan dalam upaya menuntaskan buta akrasa di wilayah Kalsel.
Perahu pintar terbuat dari kontruksi kayu tersebut  setiap hari hilir mudik di Sungai Martapura untuk melayani pembaca di tepian sungai dan pantai di kawasan Banjarmasin serta sekitarnya.
Operasi perahu pinter tersebut setiap hari secara bergantian menyinggahi sekolah dasar di tepian sungai, serta pemukiman komunitas masyarakat bantaran sungai dan pantai.
Perahu pintar  tersebut dilengkapi kumputer yang bisa meakses internet, telpon, televisi yang mampu menangkap sekian banyak chanel siaran telivisi, ditambah ruang perpustakaan, dengan fasilitas lengkap tersebut diharapkan menarik minat masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.

perahu


Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin ketika melepas peluncuran sebuah perahu pintar bernama “lambung mangkurat I” di Sungai Martapura Banjarmasin, Jumat menyatakan gembira peluncuran perahu pintar yang diprakarsai Komandan Korem (Danrem)101/Antasari Kol Inf Heros Paduppai tersebut.
Menurut Gubernur Kalsel peluncuran perahu pintar ini akan membantu meningkatkan minat baca masyarakat Kalsel, selain itu diharapkan akan membantu penuntasan buta aksara di wilayah ini yang ditargetkan tuntas tahun 2010 mendatang.
Gubernur Kalsel mengakui, berdasarkan perhartiannya, masyarakat Kalsel yang terbanyak menderita buta aksara justru berada di komunitas pinggiran sungai dan tepi laut.
Masalahnya, kebiasanyaan masyarakat di pinggiran sungai dan pantai ini adalah mencari ikan dilaut berhari-hari, hingga tak sempat bersekolah, selain itu ada anggapan mereka tanpa sekolahpun mereka bisa hidup dengan mencari ikan di laut.
Akibat kondisi demikian maka masih banyak warga Kalsel di komunitas semacam itu yang buta aksara, dan hendaknya hal itu menjadi perhatian agar mereka bisa membaca  dan menulis. Kata Gubernur Kalsel, tanpa merinci jumlah penduduk Kalsel yang buta aksara tersebut.
Menurut Gubernur Kalsel, Pemprop Kalsel terus berupaya meningkatkan dunia pendidikan dengan apapun caranya termasuk menyediakan fasilitas perpustaan tersebut, sebelumnya Kalsel juga telah menyediaan perpustaan mobil keliling serta motor pintar (kendaraan roda dua perpustaan) yang masuk keluar kampung-kampung di wilayah ini.
Upaya lain mencerdaskan masyarakat adalah mencanangkan wajib belajar sembilan tahun hingga akhir 2010 ini, serta mencanangkan tahun wajib belajar 12 tahun mulai tahun 2009 hingga tahun 2014 mendatang.
“Kita akan berikan kemudahan bagi warga yang menunaikan wajib belajar 9 tahun dan 12 tahun itu, karena itu bila ada orang tua yang tidak  menyekolahkan anaknya yang masih usia sekolah maka orang tua bisa dikenakan sanksi,” kata Gubernur Kalsel yang didampingi beberapa pejabat Pemprop Kalsel.
Sementara itu, Danrem 101/Antasari Kol Inf Heros Paduppai menyebutkan ide membuatkan perahu pintar tersebut tak terlepas keinginan meningkatkan kecerdasan masyarakat, sekaligus melastarikan kebudayaan sungai yang ada di Banjarmasin.
Ia mengakui peluncuran perahu pintar pertama ini sebagai upaya memancing pihak lain membuatkan perahu pintar- perahu pintar yang lain, dan agaknya keinginan tersebut telah direspon karena nantinya akan ada perahu pintar kedua yang dibiayai pihak perbankan, perahu pintar ketiga dibiayai Pemprop Kalsel dan diharapkan perahu pintar keempat oleh Pemko Banjarmasin.
Menurutnya, keberadaan perahu pintar ini dijadualkan akan mengunjungi satu persatu sekolah dasar (SD) yang ada di bantaran sungai Banjarmasin, sehingga anak-anak bantaran sungai dan tepian sungai lainnya bisa memanfaatkan fasilitas perpustakaan tersebut.
Perahu pintar yang pembuatan dan pembiayaan lainnya menelan dana Rp70 juta tersebut dilengkapi berbagai fasilitas telekomunikasi dan sarana bacaan.
Menurut, Danrem 101/Antasari perahu pinter pertama ini dinamakan perahu Lambung mangkurat I, tetapi diharapkan akan ada lagi Perahu Lambung mangkurat II, Lambung Mangkurat II, Lambung Mangkurat III dan perahu Lambung mangkurat seterusnya.
“Saya sudah berbicara dengan pihak lembaga perbankan ternyata pihak lembaga keuangan tersebut bersedia membangunkan lagi sebuah perahu Lambung mangkurat II,” kata Danrem 101/Antasari.
Mendengar pernyataan tersebut, serta merta Gubernur Kalsel yang hadir bersama Wakil Gubernur Kalsel, Rosehan NB dan pejabat di lingkungan Pemprov Kalsel menyatakan bersedia membangunkan sebuah perahu Lambung Mangkurat III.
“Untuk perahu  Lambung mangkurat IV, yang merupakan perahu pinter keempat kita mintakan dibangun Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin,” kata Gubernur Kalsel yang datang mengenakan kain khas Kalsel Sasiringan tersebut.
Seorang tokoh masyarakat Kalsel, Gusti Rusdy Effendi  AR yang juga pemimpin umum Harian Banjarmasin Post menyambut baik kehadiran perahju pinter tersebut, karena menurutnya hal itu merupakan lanjutan pengoperasian perhu pinter yang pernah dibuat oleh harian terbesar Kalsel itu era tahun 80-an.
Era tahun 80-an Banjarmasin Post pernah mengoperasikan perahu pinter dengan berbagai bahan bacaan, sekaligus digunakan untuk menjajakan surat kabar Banjarmasin Post ke berbagai pelosok pemukiman bantaran sungai dan  pantai.
Akibat pengoperasian perahu tersebut maka pihak Banjarmasin Post pernah diundang ke Negara India untuk mempresentasikan cara pemasaran surat kabar ke berbagai pelosok melalui sungai tersebut, kata Gusti Rusdi Effendi AR tersebut.
Menurutnya upaya penuntasan buta aksara di Kalsel harus didukung sepenuhnya oleh segenap masyarakat, termasuk membangunkan perahu pinter tersebut.

Dampak yang diharapkan pengoperasian perahu pintar di Sungai Banjarmasin selain membantu mencerdaskan bangsa juga akan menambah kesemarakan sungai Banjarmasin yang sudah dikenal sebagai objek wisata di Indonesia ini.
“Saya berharap bukan hanya perahu pinter yang hilir mudik di Sungai Banjarmasin ini, tetapi juga perahu-perahu lembaga lainnya, termasuk perahu perbankan untuk melayani nasabah bank di pemukiman bantaran sungai dan pantai” katanya.
Gusti Rusdi Effendi AR yakin bila kian banyak perahu berkeliaran di Sungai yang yang membelah Kota Banjarmasin maka akan meningkatkan kekhasan sungai ini dan kian banyak pula wisatawan datang menikmati wisata sungai.
Banjarmasin dikenal sebagai kota seribu sungai dengan jumlah sungai membelah kota ini sebanyak 107 buah, objek wisata yang paling dikenal adalah pasar terapung Desa Kuin Banjarmasi.
Sebelumnya secara terpisah Gubernur Kalsel pernah mengungkapkan sebanyak 44.242 warga Kalsel yang tersebar di 13 kabupaten dan kota masih menderita buta aksara, atau tidak bisa membaca dan menulis, terutama di daerah terpencil maupun pelosok desa.
Besarnya jumlah warga yang belum melek baca tersebut karena tidak adanya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, akibat keadaan ekonomi maupun terbatasnya sarana pendidikan di Kalsel terutama untuk daerah terpencil.
Guna mengurangi banyaknya warga yang masih belum bisa membaca tersebut, Pemprov Kalsel telah membuat program pengentasan buta aksara sejak tahun 2006.
Menurut gubernur, pada 2006 jumlah warga yang masuk dalam program penuntasan buta aksara mencapai 11.114 warga, 2007 kembali diprogramkan sebanyak 19.730 orang, sedangkan sisanya yaitu, 13.733.
Program penuntasan buta aksara, diantaranya dengan program kejar paket A hingga paket B tambahnya, menjadi salah satu prioritas untuk dilaksanakan secara berkesinambungan karena berkaitan langsung dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM).
Pengoperasian perahu pinter, mobil-mobil pinter dan sepeda motor pinter yang menyebar di berbagai pelosok daratan dan sungai diharapkan kian menuntaskan buta aksara di wilayah paling selatan Pulau terbesar Indonesia Kalimantan ini.

Gub Kalsel di dalam perahu pintar

KONTAMINASI TINJA, SEBUAH ANCAMAN KESEHATAN SUNGAI BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/4 (ANTARA)- Deretan jamban (bangunan kecil tempat buang tinja langsung ke sungai) merupakan pemandangan biasa di Kota Banjarmasin, dianggap tak masalah karena keberadaan jamban sudah ada secara turun temurun.
Membuang limbah rumah tangga ke sungai juga dianggap biasa di dalam masyarakat kota seribu sungai itu. Sungai dijadikan urat nadi kehidupan, sebagai tempat tinggal, sarana transportasi dan sarana ekonomi.
Akibat kebiasaan itu sungai Banjarmasin tak bersih lagi, tercemar bahan kimia, menyempit, dangkal, bahkan ada yang mati.
Kantor Dinas Permukiman dan Prasarana Kota (Kimpasko) setempat mencatat 57 sungai dinyatakan kurang berfungsi lagi.
Tahun 1995, kota ini tercatat 117 sungai berfungsi sebagaimana mestinya tapi kini tinggal 60 yang mengalir baik, jika tidak dipelihara maka sungai itu kian rusak khususnya sungai kecil anak sungai Martapura dan Barito.

deretan jamban tepi sungai
Direktur Perusahaan Daerah Instalasi Pengolahan Air Limbah (PD Ipal) Kota Banjarmasin, Muhidin MT mengakui sungai sudah tercemar sampah dan limbah serta cukup mengkhawatirkan terdapat kandungan bakteri koli di air sungai yang berasal dari pembuangan tinja sembarangan.
Pencemaran tinja itu bukan saja adanya budaya jamban, juga Septec Tank (tempat penampungan tinja WC/kakus) rumah warga kurang standar, akhirnya tinja mencemari air di sekitar kakus dan mengalir kemana-mana.
Tiap warga buang tinja sekitar 125 gram/hari, bila penduduk Kota 700 ribu jiwa dapat dibayangkan produksi tinja yang dapat mencemari lingkungan, belum lagi pencemaran limbah rumah tangga dan industri yang juga sangat mempengaruhi kondisi air sungai itu.
Dalam kaitan memperingati hari air internasional 22 Maret 2008 lalu, tambahnya pihak PD Ipal melakukan berbagai kegiatan untuk menyadarkan mayarakat guna menjaga kualitas air melalui sistem sanisati yang baik.

Sanitasi Indonesia
Masalah penanganan sanitasi buruk itu ternyata bukan saja di Banjarmasin tetapi juga dialami secara masional.
Sebuah catatan, menyebutkan satu lagi prestasi buruk terhadap Indonesia dibanding negara lain di Asean, yakni negara terburuk ketiga l penanganan sanitasi yang dampaknya bisa menimbulkan kerugian besar, sementara sanitasi terjelek Asean diraih negara laos dan Nyanmar.
Menurut Nugroho Tri Utomo yang juga Sekretaris Koordinator Indonesian Sanitasi Sector Development Program (ISSDP) saat lokakarya beberapa waktu lalu di Banjarmasin, akibat sanitasi buruk itu berdampak besar bagi Indonesia seperti masalah ekonomi, kesehatan, dan sosial budaya.
Ilustrasinya dampak ekonomi akibat sanitasi yang buruk itu, Indonesia alami kerugian sedikitnya Rp40 triliun, belum lagi dampak kesehatan dimana masyarakat miskin harus mengeluarkan sedikitnya 25 persen penghasilannya hanya untuk membayar dampak dari sanitasi yang buruk itu.
Misalnya, kerugian itu bila masyarakat harus membayar pengobatan akibat serangan berbagai penyakit dari sanitasi jelek itu, membayar keperluan air bersih, membayar keperluan mandi cuci dan kakus (MCK) dan sebagainya.
Buruknya masalah penanganan sanitasi Indonesia terlahir akibat adanya anggapan masalah sanitasi tanggungjawab tiap rumah tangga, dimana sebuah rumah tangga yang sudah menyediakan fasilitas sanitasi yang baik maka dianggap selesai.
Padahal seharusnya sanitasi bukan lagi urusan pribadi-pribadi masyarakat tetapi harus menjadi persoalan bersama, masyarakat dan pemerintah, dan itu harus bersama-sama untuk menanganinya, tidak bisa ditunda lagi dalam penanganan tersebut, katanya.
Sementara sebuah catatan lagi disebutkan bahwa dalam kurun 30 tahun terakhir ini pemerintah indonesia hanya menyediakan dana sekitar 820 juta Dolar AS untuk sektor sanitasi, artinya hanya Rp200,- setahunnya untuk setiap penduduk, jumlah yang sangat sedikit mengingat kebutuhan dana untuk itu idealnya Rp47 ribu per orang per tahun.
Anggaran pemerintah untuk sektor sanitasi memang sangat minim, apalagi bila dibandingkan dengan anggaran sektor air bersih yang besarnya lebih dari Rp6 miliar Dolar AS untuk periode yang sama, padahal untuk kedua urusan kesehatan masyarakat kedua sektor tersebut memiliki saling ketergantungan.
Mengenai penanganan buangan tinja berdasarkan sebuah catatan bukanlah masalah sepele. Seseorang tiap harinya membuang tinja seberat 125-250 gram, jika saat ini seratus juta orang Indonesia tinggal di kawasan perkotaan, maka setiap harinya kawasan perkotaan bisa menghasilkan 25 ribu ton tinja.
Selain jumlah tinja begitu banyak, tinja juga memiliki potensi dampak dari keempat kandungannya, dan dampak itu sudah tentu merepotkan.
Empat dampak tinja seperti mikroba, sebagian diantaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri salmonela typhi penyebab tifus, bakteri vibrio cholerae penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan virus penyebab polio, tinja mengandung puluhan miliar mikroba termasuk bakteri koli-tinja.
Tinja juga mengandung materi organik sebagian merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna, ia dapat membentuk karbohidrat, dapat pula berupa protein, enzim, lemak, mikroba, dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BOD5.
Kemudian tinja juga mengandung telur cacing, seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut seseorang, sebut saja cacing keremi, cacing cambuk, cacing tambang, serta cacing gelang.
Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut seseorang.
Kandungan lain tinja adalah nutrien, umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfor (P) yang dibawa sisa-sisa protien dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk solfat. satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 mg dan fosfat seberat 30 mg.

Pananganan
Melihat kondisi air sungai dan penanganan sanitasi buruk di Banjarmasin itu maka pemerntah setempat mendirikan PD Ipal guna mencegah pencemaran air lingkungan dengan mengolah air limbah hingga air jadi bersih alu dibuang kelingkungan agar lingkungan tetap baik.
PD Ipal sudah melakukan upaya perbaikan air dengan mendirikan tiga titik lokasi pengolahan air limbah di Jalan Lambung Mangkurat dan Pekapuran Raya serta Jalan HKSN Banjarmasin yang berhasil menjaring 900 pelanggan perhotelan, rumah sakit, pertokoan, dan sebagian rumah tangga.
Air limbah pelanggan tak lagi langsung dibuang tapi diolah dulu hingga bersih baru bisa dipergunakan atau dikocorkan ke sungai dan lingkungan.
Guna menciptakan lingkungan yang bersih PD Ipal mentargetkan membangun 14 titik lokasi Ipal agar bisa sebanyak mungkin mengcover sehingga seluruh lingkungan menjadi sehat.
Guna mewujudkan itu kini dikerjakan proyek besar pemasangan sistem perpipaan dalam upaya mengolah air limbah. Melalui dana APBN, menambah berbagai fasilitas sistem perpipaan, khususnya pipa primer.
14 titik lokasi pengembangan Ipal kedepan, antaranya di lokasi S Parman, Pekauman, Karang Mekar, Kampung Melayu, Gatot Soebroto, Kayu Tangi, Sultan Adam, Belitung, Pemurus, Pramuka, serta kawasan Teluk Dalam.
Menurutnya bila sistem perpipaan air limbah tersebut berhasil dengan baik, diharapkan satu perlima air limbah di masyarakat kota bisa tertangani baik.
Upaya lain membersihkan kondisi air dari pencemaran tinja dilakukan melalui Dinas Kimprasko dengan mengembangkan sanitasi masyarakat (sanimas).
Sanimas didirikan di lokasi kumuh, padat penduduk miskin (kumis), dibangunkan tempat mandi dan cuci, serta untuk buang tinja (MCK), kemudian air limbahnya ditampung lalu diolah hingga airnya yang terbuang tak mengandung bakteri lagi.
Tahun 2007 ada empat lokasi sanimas yakni di Kelayan Tengah, Teluk Dalam, Pelambuan, dan Antasan Kecil timur. Tahun 2008 ini kembali membangun sanimas lima lokasi di Sungai Jingah, Kelayan Luar, Kampung Melayu, Pekauman, serta di Belitung Selatan.
Melalui upaya itu ditambah meningkatnya kesadaran warga menjaga kondisi air sungai maka kedepan diharapkan ancaman penyakit akibat penanganan sanitasi buruk itu tidak terdengar lagi.

INDONESIA BARU LIMA PERSEN MENGOLAH AIR LIMBAH PEMUKIMAN
Banjarmasin,11/3 (ANTARA)- Ketua Forum Komunikasi Pengelolaan Air Limbah Pemukiman (Forkalim) H.Abimayu,BE mengungkapkan negara Indonesia baru lima persen air limbah pemukiman yang mampu diolah menjadi air bersih yang baru dibuang ke lingkungan.
Tingkat pengolahan air limbah pemukiman yang relatif kecil itu maka lingkungan Indonesia  berpotensi tercemar berat air limbah pemukiman yang pada gilirannya membahayakan kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia, kata Abimayu, Rabu.
Ketika ditanya ANTARA di sela-sela mengikuti acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forkalim di Hotel Rodeta Banjarmasin, Abimayu menyebutkan minimnya pengelolaan air limbah pemukiman itu karena investasi untuk itu sangat  mahal sementara usaha tersebut tidak memberikan keuntungan yang besar hingga kurang diperhatikan.
Dibandingkan dengan pengolahan air bersih untuk kebutuhan dasar masyarakat yang begitu pesat perkembangannya, pengolahan air limbah pemukiman ini sangat jauh tertinggal.
Padahal di negara maju, dimana sangat memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakatnya, maka pengolahan air limbah tersebut seakan perioritas hingga tingkat pengolahannya begitu tinggi.
Mengolahan air limbah dimaksud adalah air limbah yang berada di dalam perpipaan pemukiman kemudian di olah hingga kondisi air tersebut mampu berada di kisaran baku mutu air yang aman bagi lingkungan baru di buang ke sungai dan sebagainya hingga tidak lagi merusak lingkungan.
Salah satu air limbah yang berbahaya jelas kotoran manudia yang membawa bakteri coli yang berbahaya bagi kesehatan, khususnya di wilayah pemukiman padat penduduk, seperti di perkotaan.
Sebagai contoh saja, Kota Banjarmasin tempat diselanggarakannya Rakernas Forkalim peretama di luar Jawa, ternyata kondisi limbah kotoran manusia begitu tinggi mencemari air sungai.
Secara terpisah, Kepala Perusahaan Daerah (PD) Pengolahan Air Limbal (PAL) Banjarmasin, H.Muh Muhidin,ST membenarkan kandungan baktari coli di sungai Banjarmasin sudah tercatat 16000 PPM, sementara batas baku mutu hanya 30 PPM, begitu tingginya pencemaran tinja di wilayah ini.
Hal itu terjadi karena kondisi Septec Tank (tempat penampngan tinja)  atau kakus rumah-rumah penduduk di Banjarmasin kebanyakan dibuat tidak standar,  akhirnya tinja mencemari air di sekitar kakus dan mengalir kemana-mana.
Selain itu memang ada budaya masyarakat Banjarmasin yang membuang kotoran sembarangan langsung ke  sungai melalui budaya jamban.
Oleh karena itu, Pemko Banjarmasin melalui PD Pal berusaha mencegah pencemaran air limbah pemukiman itu kemudian diolah hingga bersih agar lingkungan juga bersih, tambahnya.
Menurut Abi Mayu sesuai dengan MDG’S 2015 hendaknya air limbah pemukiman ini harus diolah menjadi air bersih yang sehat bagi lingkungan, tetapi karena investasi mengenai itu besar, maka kemungkinan sesuai MDG’S 2015 air pengelolaan limbah tidak bisa mencapainya.
Beberapa daerah di tanaha air memang sudah mulai serius mengelola air limbah ini, khususnya di Banjarmasin sudah terdapat tiga titik lokasl instalasi pengolahan air limbah dengan kapasitas cukup besar, dari 14 titik lokasi yang direncakakan agar wilayah ini bersih dari air limbah tersebut.
Kota-kota lain yang terus memacu produksi air limbah pemukiman itu, adalah 11 kota, antara lain Kota Medan, Jakarta,Bandung, Cirebon, Jogyakarta, Balikpapan, Denpasar, Solo, serta Kota Makassar.
Berdasarkan keterangan sebelum Rakernas digelar peserta yang berasal dari kota-kota pengolah air limbah tersebut berkesempatan menyusuri sungai-sungai wilayah pemukiman Banjarmasin untuk menyaksikan kondisi air sungai tersebut dari limpahan air limbah pemukiman.
Paparan yang disampaikan pada rakernas tersebut antara lain, dari ketua Forkalim Abimayu sendiri juga ada dari PDAM DKI Jaya, PDAM Balikpapan, BLU Denpasar, DLH Sekber Kerta Mantul Yogyakarta, PDAM bandung, PDAM Surakarta, serta PD PAL  Banjarmasin.

WISATA PASAR TERAPUNG LOK BAINTAN SUNGAI MARTAPURA

foto anas

Pasar terapung di Muara Sungai Kuin-Barito, telah lama menjadi salah satu primadona wisata di Kalimantan Selatan.
Pasar terapung yang berada di pinggiran kota Banjarmasin, tak pernah dilupakan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara bila bertandang ke Kalimantan Selatan. Apalagi Pasar terapung sejak bertahun-tahun telah menjadi ikon salah satu televisi swasta terbesar, melalui “jinggle” seorang ibu di atas “jukung” dan mengacungkan jempol “… OK”.
Namun bagi wisatawan bosan dengan suasana Pasar Terapung Muara Kuin-Barito dengan Pasar Terapung Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar dapat menjadi alternatif.
Terutama bagi pelancong yang datang ke Banjarmasin malas bangun terlalu pagi.
Umumnya Pasar Terapung di Kalimantan hanya ramai saat subuh hingga pagi hari. Namun tidak demikian dengan Pasar Terapung Lok Baintan. Pasar terapung yang satu ini bisa dinikmati pada siang hari.
Secara umum, Pasar Terapung Lok Baintan tak beda dengan Pasar Terapung di muara Sungai Kuin/Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar tradisional di atas jukung yang menjual beragam dagangan, seperti hasil produksi pertanian/perkebunan dan berlangsung tidak terlalu lama, paling lama sekitar tiga hingga empat jam.
Pasar terapung di muara Sungai Kuin/Sungai Barito aktivitasnya mulai sebelum subuh atau sekitar pukul 03.30 Wita hingga matahari beranjak naik sekitar pukul 06.30 Wita. Sementara di Lok Baintan, aktivitas pasar terapung mulai menjelang siang, sekitar pukul 09.00 Wita hingga jam 11.00 Wita.
Selain itu, Pasar Terapung Muara Kuin berada di hilir sungai yang lebar dan dalam, sedangkan pasar terapung di Lok Baintan berada pada kawasan hulu Sungai Martapura dan keadaannya pun tidak sedalam dan selebar Sungai Barito.
Untuk menuju obyek wisata Pasar Terapung Lok Baintan yang baru muncul atau diketahui khalayak luar daerah pada dekade 1990-an itu, bisa melalui jalan darat dari Banjarmasin ke arah Sungai Tabuk, melewati Jalan Martapura Lama/Jalan Veteran. Kalau jalan darat, bisa naik “taksi” atau angkutan pedesaan jurusan Sungai Tabuk – Banjarmasin ataupun ojek.
Bila naik mobil pribadi atau carter, maka di sekitar Jalan Veteran kilometer 11 harus turun dan naik ojek lagi menuju lokasi pinggir Sungai Martapura tempat aktivitas pasar terapung tersebut.
Jika naik angkutan Pedesaan tarifnya sekitar Rp3.500 perorang dengan lama perjalanan sekitar 15 menit dari Terminal Induk-Jalan A.Yani Banjarmasin.
Selain jalan darat, pelancong juga bisa menggunakan angkutan sungai, seperti naik klotok (perahu bermotor kecil) dengan rupa-rupa ukuran dari isi sekitar delapan orang hingga 14 orang.
Pelancong bisa naik dari dermaga masjid Sungai Gardu di Jalan Veteran, dengan biaya carter sekitar Rp250.000 dan lama perjalanan sekitar dua jam.
Lok Baintan, merupakan salah satu obyek wisata yang hendak dikembangkan Pemerintah Kabupaten Banjar.
Pemerintah setempat juga melakukan pembinaan terhadap sejumlah obyek wisata andalan, seperti kawasan pendulangan intan tradisional, serta obyek wisata alam Lembah Kahung, yang termashyur dengan keindahan panorama alam kawasan Pegunungan Meratus yang masih lestari.
Lembah Kahung yang berada dekat kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Riam Kanan, Kabupaten Banjar tersebut belakangan menjadi perhatian dan menjadi kegiatan pecinta alam atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan hidup di Kalimantan Selatan.

LOK BAINTAN, PEWARIS BUDAYA SUNGAI TERMEGAH DI KALSEL
SEPULUH jukung (perahu khas Kalimantan Selatan) berarak melaju cepat dengan ditarik sebuah kelotok (perahu bermesin tempel). Formasi kelotok yang menjadi “abang pengojek” dan jukung sebagai penumpang itu menyerupai anak panah yang melesat membelah Sungai Martapura.

HARI itu Matahari pagi di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), belum muncul. Semburat merah dari timur hanya menjadi satu-satunya sumber cahaya yang memandu konvoi para jukung milik petani.

Jukung yang merupakan perahu kecil yang terbuat dari kayu utuh itu memuat beraneka macam hasil pertanian. Para pemilik jukung yang didominasi perempuan semuanya memakai tanggui, caping lebar khas Kalsel yang terbuat dari daun rumbia.

Beberapa kelompok konvoi jukung, baik yang mengojek kelotok maupun hanya dengan mendayung sendirian, bergegas menuju lokasi pasar terapung. Mereka seolah berlomba adu cepat sampai ke tujuan.

PUKUL 06.30 suasana pasar terapung di Lok Baintan sudah ramai. Semua dagangan yang mereka bawa adalah hasil kebun yang baru saja mereka petik. Aneka buah-buahan, mulai dari sirsak, srikaya, nanas, pisang, hingga rambutan menjadi pemandangan menyegarkan.

Sayuran kampung beraneka jenis, mulai dari daun singkong, kacang panjang, kangkung, hingga sayuran khas Kalsel, yaitu daun jaruk tigaron. Cabai lokal, ikan lokal, umbi keladi lokal, padi lokal, hingga umbut kelapa untuk sayuran acara perkawinan tersedia di pasar terapung.

Pasar terapung di Lok Baintan memang unik. Mereka tidak hanya menunggu di suatu tempat untuk bertransaksi, melainkan bergerak mengikuti aliran arus. Masyarakat setempat menyebutnya pasar balarut (berlarut). Jika ada yang membutuhkan barang dagangannya, pembeli dengan jukungnya akan menghampirinya sambil berlarut bersama arus sungai.

Pukul 08.30 pasar terapung yang hanyut terbawa arus sejauh satu kilometer sampai di bawah jembatan gantung. Masih ada satu kilometer lagi untuk bisa melihat pasar hanyut dari atas jembatan.

Dari atas jembatan itulah keajaiban, kemegahan, dan keindahan budaya sungai terlihat dan bisa dirasakan. Ratusan, bahkan pada musim tertentu mencapai ribuan jukung terlihat berjejal menutupi sebagian ruas Sungai Martapura.

LOK Baintan selama ini belum pernah tercatat sebagai lokasi pasar terapung yang patut dikunjungi oleh agen-agen travel. Entah mengapa, sangat sedikit warga Kota Banjarmasin yang mengetahui bahwa tidak jauh dari Banjarmasin ternyata ada pasar terapung, the real floating market.

Selama ini, pasar terapung yang menjadi andalan Kalsel adalah di Kuin, Banjarmasin. Akan tetapi, kini kondisi pasar terapung di Kuin sudah tidak sealami dulu, berangsur sepi.

Untuk melihat pasar terapung di Kuin dari dekat hanya bisa dilakukan dengan menggunakan kelotok. Selain ombak sungai yang besar, kondisi Sungai Barito di Kuin yang dekat dengan industri penggergajian kayu membuat pemandangan tidak sedap.

Banyak pedagang di pasar terapung Kuin yang berasal dari daerah lain, sedangkan di Lok Baintan “pesertanya” hanya dari daerah sekitar yang benar-benar merupakan komunitas masyarakat sungai. Tradisionalisme dan terjaganya alam sekitar Lok Baintan benar-benar menjadi kekuatan pamor pasar terapung.

Lok Baintan dari Banjarmasin bisa diakses dengan dua cara, yaitu dari darat atau melalui sungai dengan menyewa kelotok. Jalan darat ditempuh dari Kota Banjarmasin ke Pasar Subuh Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk, sekitar 10 kilometer dari Banjarmasin. Kemudian dari pasar Sungai Lulut menerabas jalan tanah selebar dua meter yang masih darurat dan becek sekitar lima kilometer menuju Lok Baintan.

Jika melalui sungai, sesampainya di Pasar Sungai Lulut, kendaraan diparkir dan kemudian menyewa kelotok menuju Lok Baintan. Lama perjalanan sekitar 45 menit.

Tarif normal kelotok ke Lok Baintan bervariasi dulu sekitar Rp 30.000, sekarang sudah sekitar ratusan ribu  dan jika sewa penuh setengah hari sekitar Rp200.000. Hanya saja, sulit mendapatkan kelotok pada pagi hari karena memang tidak ada jalur reguler menuju Lok Baintan.

Tidak adanya akses jalan darat yang memadai memang membuat antusiasme wisatawan rombongan menuju Lok Baintan berkurang. Akan tetapi, kondisi itu sebenarnya justru menjadi penyelamat Lok Baintan sehingga sampai kini komunitas sungainya masih tetap lestari.

Pihak Dinas Pariwisata Kalsel mengakui bahwa pasar terapung Lok Baintan merupakan alternatif pasar terapung Banjarmasin yang kini telah dikenal. “Pasar terapung Lok Baintan memang masih sangat alami. Kami akan menjadikannya alternatif pasar terapung selain yang di Kuin, Banjarmasin,” katanya.

PROMOSI memang menjadi kunci keberhasilan untuk mengenalkan budaya unik masyarakat dengan membalutnya sebagai event wisata. Selama ini Kalsel hanya dikenal lewat Banjarmasin yang peradabannya sudah beralih ke urban.

Di kala semua orang modern bermimpi naik mobil mewah dan Jakarta sibuk membuat busway, Lok Baintan tetap tenang dan tetap yakin memakai jukung sebagai “mobnas” mereka dengan Sungai Martapura sebagai jalan tol.

Jika ingin melihat pameran jukung terbesar, pameran rumah terapung, atau pameran budaya Banjar sesungguhnya, tengoklah Lok Baintan. “Pameran rakyat” yang menceritakan asal muasal peradaban di kota itu kini eksistensinya terancam karena debit sungai terus naik akibat perusakan hutan di bagian hulu.

Sungai Martapura dengan kekayaan sumber daya budaya dan sumber daya alam kini telah menciptakan sebuah peradaban yang berbeda dengan kota. Hanya saja, bangunan sosial dan bangunan fisik mereka kini mendapat stereotip “kampungan”, “jorok”, “kumuh”, dan “miskin”.

Untuk mempertahankan budaya sungai beserta transportasinya, pakar sungai yang juga pengajar di Fakultas Teknik Sipil Universitas Lambung Mangkurat, Robertus Chandra Wijaya, mengatakan, yang perlu, ada konsep yang jelas untuk apa sungai itu akan digunakan.

Pemerintah harus segera menetapkan apakah sungai-sungai di Banjarmasin akan digunakan untuk fungsi drainase saja, atau navigasi saja, atau sekaligus untuk drainase dan navigasi. “Ataukah hanya untuk memenuhi kebutuhan penduduk di tepi sungai itu,” katanya.

Daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu sudah gundul. “Di sana dulu ada areal HPH (hak pengusahaan hutan) yang sekarang ditinggalkan dan gundul,” katanya(amir s).

Pasar Terapung Lok Baintan

LOK BAINTAN, kini secara kasat mata, boleh jadi merupakan pasar terapung terbesar di Kalimantan Selatan dan tentu saja di dunia (sebab di dunia cuma ada di sini yang alami). Keunikannya tak tertanding, eksotikanya pun demikian.

Bayangkan, orang bertransaksi dengan perahu terus melaju. Barang dagangannya pun hanya dari hasil bumi. Pendeknya, mereka semua adalah sekumpulan petani yang menjual hasil buminya ke sini.

Pasar terapung yang terletak di kecamatan Sungai Tabuk ini, pelaku pasarnya berasal dari Pamakuan, Sungai Tapang, Lok Baintan dan Sungai Tabuk sendiri. Aktivitasnya, dimulai selepas Subuh hingga sekitar jam 10.00 wita siang.

Karena transaksinya sambil melaju, pasar terapung semakin siang semakin jauh ke hilir. Eksotika lainnya, semua petani dan pedagang-nya memakai tanggui. Tanggui adalah topi besar dari daun rumbia khas Kalimantan Selatan.

Bukan itu saja, keramahan dan keakraban para petani dan pedagang yang semuanya dominan perempuan itu menambah pesona yang hadir di situ. Dan, melihat anek sayur-mayur yang hijau dan segar, seakan menghadirkan kesegaran jiwa bagi anda yang saban hari dijejali oleh kepenatan dan kejenuhan dunia kerja. Benar-benar eksotik.

Pasar Terapung Lok Baintan Dijadikan Objek Wisata Nasional

– Pemerintah Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan menjadikan lokasi pasar terapung Lok Baintan sebagai objek wisata nasional yang akan selalu dipromosikan ke berbagai daerah di tanah air dan mancanegera.

Bupati Banjar Ir Khairul Saleh kepada ANTARA di Banjarmasin, Kamis mengakui adanya keinginan tersebut, mengingat potensi pasar terapung untuk menjadi objek pariwisataan nasional begitu besar.

Masalanya kegiatan pasar terapung tersebut, termasuk unik dibandingkan objek wisata yang lain, seperti pasar terapung Desa Kuin Sungai Barito Banjarmasin yang sudah begitu dikenal luas.

Kelebihan pasar terapung Lok Baintan dibandingkan pasar terapung di Banjarmasin, adalah lama kegiatannya lebih panjang, kalau di Banjarmasin hanya sampai pukul 08:00 Wita sementara di Lok Baintan sampai pukul 10:00 Wita.

Kelebihan lain konsentrasi para pedagang dan pembeli di atas sungai yang menggunakan sarana jukung (sampan) di Lok Baintan di satu tempat, sementara di Banjarmasin terbagi dua dan agak terpencar.

Melihat waktu kegiatan pasar terapung Lok Baintan ini lebih panjang maka berpeluang lebih besar pula menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi, tinggal bagaimana pemerintah beserta mayarakat bisa mempromosikan keberadaan objek tersebut.

Untuk memudahkan akses ke objek wisata sungai Kabupaten Banjar tersebut, pihak Pemkab setempat akan membangunkan jalan darat hingga sampai ke lokasi objek wisata itu.

Dengan adanya jalan darat itu maka mudahkan pengunjung baik dari kota Banjarmasin ibukota propinsi, maupun dari Martapura ibukota kabupaten setempat, sebab selama ini ke arah objek ini hanya bisa dilewati melalui jalur sungai saja, tambahnya.

Selain jalan juga akan dibangunkan fasilitas lain seperti dermaga, tetapi pembangunan dermaga tersebut akan memperoleh bantuan dana dari Pemerintah Propinsi.

Ketika ditanya mengenai dunia kepariwisataan Kabupaten Banjar, ia menyebutkan memang sudah cukup berkembang, tetapi hanya pada dua objek seperti kepariwisataan keagamaan, yaitu ziarah ke makam ulama besar, Syech Muhamad Arsyad Al Banjari, desa Kelampaian, serta objek wisata belanta batu permata kota intan Martapura.

Kedua objek wisata yang sudah begitu dikenal tersebut akan dipelihara sebaik-baiknya disamping diusahakan untuk lebih ditingkatkan lagi dimasa-masa mendatang.

Khususnya wisata perbelanjaan batu permata akan diperluas lokasinya dan diperbanyak koleksi batu permata yang dijual di pusat perbelanjaan tersebut.

Berdasarkan informasi, kota Martapura sudah begitu dikenal luas sebagai lokasi transaksi batu permata, khususnya permata intan sehingga banyak pedagang dan pembeli dari berbagai kota di tanah air serta dari mancanegara yang “berburu” intan asli hasil pendulangan daerah setempat, konon berlian asal setempat lebih bening dan berkualitas tinggi.

Lok Baintan dan Tradisi Air yang Tersisa

Orang masih sering menyamakan pasar terapung dengan Kota Banjarmasin. Padahal, di Banjarmasin kini sudah sulit mendapatkan pasar terapung.

Di tempat bernama Kuin yang dulu identik dengan pasar terapung, kini jarang terlihat sampan-sampan yang menjual kebutuhan sehari-hari. Aneka toko swalayan mini di darat sudah menjadi pengganti bagi warga Banjarmasin untuk mendapatkan kebutuhan pokoknya, layaknya kota besar lain di Indonesia.

Namun, cobalah menaiki sampan yang menghulu Sungai Martapura ke arah timur. Sekitar lima kilometer dari Banjarmasin, tradisi berjualan di sungai masih terjaga di Lok Baintan. Mulai matahari terbit sampai sekitar pukul 10.00 Wita, di tengah Sungai Martapura, puluhan sampan melakukan transaksi. Pembeli maupun penjual sama-sama naik sampan.

Tradisi pasar terapung memang tradisi air. Tradisi ini hanya akan terjaga manakala airlah yang menjadi sarana transportasi utama. Di Lok Baintan, belum ada jalan darat yang layak untuk menuju tempat lain. Akhirnya, semua rumah di sana memang menghadap ke sungai.

Toko-toko di Lok Baintan pun menghadap ke sungai yang menyebabkan pembeli harus mengayuh sampan untuk mengunjunginya. Sebuah tradisi yang indah dan memancarkan harmoni dengan alam.

Keindahan Lok Baintan adalah keindahan air. Keindahannya hanya tetap ada manakala sumber airnya tersedia. Sampai kapankah keindahan ini akan terjaga