MECIPTAKAN MAGNET EKONOMI SUNGAI BANJARMASIN

Banjarmasin – Hamparan seluas sekitar 98 kilometer persegi itu awalnya hanyalah rawa-rawa kemudian dibelah-belah lagi tak kurang oleh 102 sungai besar dan kecil. Kali besarnya adalah Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin dan Sungai Barito yang menjadi pembatas sisi barat.
Lokasi yang dulunya konon dipenuhi hutan galam dan hutan bakung itu memang sejak 490 tahun sudah memiliki sebuah perkampungan kecil yang berdasarkan sejarah disebut Bandarmasih. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi kampung besar bahkan sempat ada kerajaannya.

Di kawasan ini tak ada sumber daya alam berupa bahan tambang, tak ada juga hutan hingga tak ada kayu dan hasil hutan lainnya. Yang ada hanyalah aliran sungai yang melimpah, sedikit ada persawahan yang kini sudah berubah fungsi menjadi kawasan perkotaan yang sekarang disebut Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.

“Bagaimana kita membangun kota ini, tak ada sumber daya alam berupa tambang dan hutan, yang ada hanyalah sungai, makanya tak ada pilihan lain, kecuali sungai inilah yang akan ‘disulap’ sebagai penggerak ekonomi kota,” kata Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Pernyataan wali kota itu agaknya dibarengi dengan kebijakan-kebijakan pemkot setempat, hingga semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) diminta harus berorientasi ke sungai dalam program kerjanya.

Geliat menganak-emaskan sungai agaknya sudah kelihatan sejak wali kota sebelumnya yang dipimpin Haji Muhidin dengan membangun siring/tepi sungai Jalan Tendean dan Jalan Sudirman serta dermaga angkutan sungai.

Sudah lebih dari Rp150 miliar dana digelontorkan untuk membangun kedua siring atau tepi/bantaran sungai tersebut, baik dari APBD setempat tetapi lebih besar dari APBN Kementerian Pekerjaan Umum.

Sekarang keberadaan siring tersebut telah memberikan arti cukup berarti yang mengubah wajah kota ke arah “kota sungai,” karena kawasan tersebut menjadi semacam “water front city”.

Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkerama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Di wilayah ini terdapat pasar terapung dengan aneka barang yang dijual seperti hasil alam berupa buah-buahan, sayuran, ikan, dan lainnya dijualbelikan oleh ibu-ibu berpakaian khas menggunakan jukung (sampan).

Ada pula 80 buah “klotok” (perahu bermsin) wisata yang hilir mudik yang mengajak wisatawan menyusuri sungai dengan tarif hanya Rp5.000 per orang.

Wisata susur sungai sudah menjadi andalan merangsang wisatawan lokal dan mancanegara datang ke wilayah berjuluk “kota dengan seribu sungai” ini.

Di lokasi itu pula ada menara pandang (pantau) berlantai empat yang didalamnya menjadi lokasi pertemuan, ada stan cindera mata, dan pusat kuliner.

Belum lagi berdiri ikon kota yang disebut sebagai monumen Bekantan atau patung kera berhidung panjang (Nasalis larvatus), sehingga bagi siapapun yang berkunjung lalu berfoto dengan latar belakang patung tersebut, maka akan diketahui jika saat foto itu dibuat sedang berada di Banjarmasin.

Hampir sama seperti patung singa di kota Singapura, yang sama-sama pula mengeluarkan air mancur dari mulutnya.

Dalam upaya menciptakan sungai sebagai yang terdepan itu, Pemkot Banjarmasin kembali membangun siring lebih panjang lagi. Jika sekarang sudah dirbangun lima kilometer, kini masih dilesaikan agar menjadi 10 kilometer.

Jika sudah mencapai 10 kilometer, berdasarkan keterangan Pemkot nantinya akan dibangun lagi beberapa lokasi dan fasilitas wisata di kawasan siring, seperti ada kampung ketupat, kampung sasirangan, dan kampung iwak (ikan).
Ciptakan Gula
Keinginan untuk menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi itu agaknya memang sudah lama, tetapi kurang didukung oleh masyarakat setempat. Terbukti sungai banyak menjadi “bak sampah”, penduduk dengan begitu mudahnya membuang sampah ke sungai.

Akibatnya sungai seakan menjadi “gudang” barang rongsokan, karena sampahnya ada yang kasur bekas, lemari kayu, sepeda bekas, kulkas rusak, kipas angin rusak, dan aneka barang rongsokan lainnya.

Belum lagi sungai mendangkal karena sidementasi, sungai diserang gulma seperti eceng gondok hingga mampet, sungai tempat buang hajat (air besar) hingga menciptakan kontaminasi baktari koliform, sungai terkontaminasi logam, keruh, bau, dan aneka persoalan lainnya.

Kemudian sungai pun tak bisa terelakan lagi menjadi permukiman khususnya di bantarannya. Akibatnya sungai menyempit dan ada pula sungai yang kemudian mati.

Bahkan yang sangat memprihatinkan semua rumah penduduk menjadikan kawasan sungai sebagai bagian belakang rumah, sementara muka rumah menghadap ke jalan raya, akibatnya merusak pemandangan dan keindahan kawasan sungai.

Sungai juga tempat industri kayu lapis, tempat industri karet, tempat industri rumah tangga lainnya, akibatnya sungai penuh dengan limbah industri, sungguh memprihatinkan.

Banyak aturan dibuat Pemkot setempat dalam upaya menyelamatkan perwajahan sungai itu agar elok, tetapi aturan tersebut hanyalah bagaikan “macan ompong.” saja.

Oleh karena itu seyogianya pemerintah berpikir tak usah “memaksa” warga setempat untuk menyelamatkan sungai dengan perda-perda, tetapi bagaimana menjadikan sungai itu bagaikan barang pemanis atau gula.

Jika sungai menjadi “gula” atau pemanis kehidupan tentu keberadaannya akan menjadi daya pikat kuat bagi kehidupan warga di wilayah yang berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa tersebut. Mereka akan dengan sendirinya memelihara sungai lalu menjadikannya sebagai barang atau lokasi yang berharga.

Jika sungai sudah menjadi tempat beharga, maka warga sudah bisa dipastikan tidak lagi membuang sampah sembarangan ke sungai. Rumah yang tadinya membelakangi sungai bertahap akan diubah oleh pemiliknya menghadap ke sungai sehingga sungai menjadi indah.

Begitu juga berbagai dunia usaha yang tadinya tak terpikir ke sungai bisa jadi menjadikan sungai sebagai harapan baru bagi kehudupan selanjutnya.

Upaya menciptakan “gula” itu bisa dicontoh di beberapa kota besar seperti Bangkok, Singapura, Venesia Italia dan Belanda.

Umpamanya saja di sungai berdiri aneka penggerak ekonomi, selain pasar terapung. Di sungai juga banyak restauran terapung, rumah-rumah terapung, ada tempat permainan, lokasi pusat oleh-oleh, hotel terapung, ada panggung hiburan, atraksi budaya, dan aneka fasilitas wisata.

Karena itu, mulai sekarang ayo jual keberadaan sungai kepada kalangan investor, beri kemudahan berinvestasi, beri gambaran peluang potensi keuntungan. Dengan demikian investor bisa berbondong-bondong turut membangun Kota Banjarmasin menjadi sebuah wilayah yang tak kalah dengan venesia Italia. sungaisungai1

MENIKMATI SAHUR SUSUR SUNGAI DINI HARI RAMADHAN

Oleh Hasan Zainuddin20160625wali

Menikmati warung soto terapung di Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, seraya memancing udang dan ikan sudah merupakan kebiasaan sebagian warga setempat.
Lalu menikmati makan aneka santapan kuliner khas Suku Banjar berupa laksa, katupat kandangan, putu mayang, lapat, lontong, puracit, kokoleh, pundut nasi, dan nasi kuning di pasar terapung kawasan Jalan Pierre Tendean mulai jadi tren di kalangan pendatang.

Berbelanja sayuran berupa daun singkong, jantung pisang, kacang panjang, umbut kelapa, keladi, daun pakis, labu, karawila dan aneka sayuran lainnya merupakan kenikmatan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke pasar terapung di kota dengan penduduk sekitar 800 ribu jiwa ini.

Dibantu siraman sinar lampu minyak tanah dan sedikit terkena sinaran lampu listrik jalanan, pembeli dan penjual bisa bertransaksi, walau kadangkala harus hati-hati lantaran perahu bisa oleng dihantam riak gelombang sungai yang berhulu ke kawasan Pegunungan Meratus tersebut.

“Ayo ke Banjarmasin, kota yang `barasih wan nyaman` (Baiman/bersih dan nyaman, red),” kata Wali Kota Ibnu Sina saat menghadiri atraksi wisata susur sungai yang disebut Sahur On The River (SOTR) III atau Sahur Susur Sungai yang oleh Satuan Polisi Air (Sapol air) Polresta Banjarmasin, di lokasi Kubah Basirih, Sabtu (26/6) dini hari.

Wali kota memuji kotanya memiliki anugerah yang tidak dipunyai oleh kota manapun di dunia, karena dibelah oleh sedikitnya 102 sungai, besar dan kecil.

Dengan kelebihan itu, maka Banjarmasin memiliki keunggulan bila ingin menjadikan sungai sebagai objek wisata, dimanapun di dunia ini jika sungai dijadikan objek wisata maka wisatawannya akan berdatangan.

Sebagai contoh, kota Bangkok yang menjajakan sungai sebagai objek wisatanya, Hongkong, Venesia Italia, Belanda dan kawasan lain lagi.

Oleh karena itu, Pemkot Banjarmasin bersama masyarakat bertekad menjadikan pariwisata sungai Kota Banjarmasin sebagai destinasi unggulan melalui berbagai budaya, atraksi, dan kegiatan yang nuansanya bisa menjadi destinasi wisata.

“Saya melihat atraksi SOTR III ini ada keunikan, sahur bersama dengan ratusan orang, di tepian sungai, di lokasi objek wisata keagamaan lagi,” kata Ibnu Sina saat menghadiri SOTR III di kubah Basirih, Sabtu (25/6) dini hari.

Melihat keunikan ini wajar jika ke depan cara-cara seperti itu lebih dibudayakan, bukan saja untuk meningkatkan tali silaturahmi, tetapi merupakan salah satu bentuk syiar agama.

Satu hal yang tak kalah penting, khususnya di “kota seribu sungai,” Banjarmasin, dengan adanya pergelaran semacam ini menjadi atraksi wisata yang tak ditemui di belahan benua manapun.

“Saya sudah banyak tanya, tak ada seorang pun menjumpai acara sahur bersama di lokasi pinggiran sungai yang dihadiri ratusan orang,” kata Ibnu Sina.

Oleh karena itu, ke depan Pemkot Banjarmasin akan melibatkan diri dalam kegiatan semacam ini. Bahkan mungkin kegiatan ini akan dijadikan kalender kepariwisataan yang ditawarkan kepada wisatawan, khususnya wisatawan keagamaan.

“Ayo kita menikmati wisata sungai dengan menyusuri kehidupan air, seraya makan sahur bersama,” kata Ibnu Sina dengan nada ajakan.

Menurutnya, acara ini akan dipublikasikan luas kepada masyarakat setiap Ramadhan, dan lokasinya pun bisa diperbanyak, bukan hanya satu lokasi tetapi di beberapa lokasi.

Dalam acara Sahur Susur Sungai tersebut selain makan sahur bersama, Satuan Polisi Perairan Polresta Banjarmasin juga melakukan sosialisasi kepada nelayan atau masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan ikan dengan cara yang dilarang atau “Illegal Fishing”.

“Acara sahur susur sungai ini ketiga kalinya kami laksanakan dan kegiatan intinya menjaga Kamtibmas masyarakat pinggiran sungai seraya beribadah puasa selama Ramadhan dengan benar,” kata Kasat Polair Polresta Banjarmasin AKP Untung Widodo.

Kegiatan sahur susur sungai ini sudah yang ketiga kalinya selama Ramadhan tahun ini, pertama di pasar terapung kawasan Jalan Pierre Tendean bekerja sama dengan PT Mitra Bahtera Segara Sejati (MBSS), kata Untung Widodo.

Saat mulai menyusuri sungai pihak Satpolair dan PT MBSS membagikan nasi kotak kepada para nelayan pemancing ikan yang ada di sungai tersebut.

“Kami bagikan nasi kotak kepada para nelayan itu agar nanti mereka bisa sahur dan berpuasa,” tutur pria yang akrab dengan awak media itu.

Tujuan acara ini untuk menjalin silaturahim dengan warga sadar keamanan, ketertiban masyarakat (Kamtibmas) khususnya di wilayah perairan Banjarmasin, ucapnya.

Bukan itu saja, Polri juga lebih dituntut untuk menjalin kemitraan dengan semua unsur serta hadir di tengah-tengah masyarakat, untuk kebersamaan.

Kegiatan ini selain untuk mempererat tali silaturahim dengan pedagang pasar terapung, komunitas kelotok (perahu) wisata, pecinta lingkungan, agar semakin terjalin keakraban dan mendukung tugas tugas kepolisian untuk menciptakan keamanan dan ketertiban.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin Iwan Fitriady mengatakan kegiatan Sahur On The River itu luar biasa dan baru pertama kali dilakukan.

“Kami berterimakasih kepada Satpol Air sebagai penggagas pertama kali kegiatan ini walau sederhana tapi hasilnya luar biasa,” tuturnya.

“Kita berharap atraksi-atraksi wisata semacam itu digali dan diciptakan untuk menambah kesemarakan lokasi yang kini terus dipromosikan sebagai wisata andalan kota Banjarmasin,” kata Iwan Fitriady.

Pasar terapung adalah lokasi objek wisata andalan yang dikunjungi hampir lima ribuan orang setiap minggu, lokasi ini menarik lantaran kekhasan tersendiri di mana para pedagang mengenakan kostum tradisional dengan bertopi lebar (tanggui) berjualan di lokasi tersebut.

Sementara lokasi terakhir Kubah Basirih merupakan tempat ziarah umat Islam yang bukan saja dari Kalsel, tetapi dari Pulau Jawa, Sumatera, bahkan dari Malaysia.

Karena di lokasi tersebut adalah wilayah pemakaman ulama-ulama besar sebelumnya yang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Kota Banjarmasin. ***4***

WISATA KULINER TEPIAN SUNGAI MARTAPURA BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin

1

4
Tak terasa dua gelas kopi sudah habis terminum, dua bungkus kacang goreng ditambah beberapa iris kue tradisional khas Banjar “amparan tatak” pun telah habis, kini kembali lapar, ingin rasanya mengkonsumsi nasi kuning pula,kata Masran warga kota Banjarmasin saat ngobrol bersama penulis di sentra kuliner “Mandiri,” Jalan Pos Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Ngobrol di areal sentra kuliner tepian Sungai Martapura di ibukota provinsi paling selatan pulau terbesar tanah air itu, memang tak terasa waktu .
“Kita mulai ngob rol tadi dari jam 13:00 Wita, ini sudah jam 16: wita,” kata Masran lagi seraya memperlihatkan jarum jam di tangannya.
Suasana lokasi sentra kuliner “Mandiri” yang dibangun Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) setempat itu agaknya cocok bagi mereka yang ingin ngobrol lama.
Di bawah puluhan tenda-tenda warna warni tepian sungai dan dinaungi pepohonan yang rindang lokasi yang dulunya merupakan kawasan pasar burung tersebut merupakan ideal bagi wisatawan yang ingin berlama-lama menikmati semilirnya angin dan gemericik suara riak air sungai Martapura yang berhulu ke Pegunungan Meratus tersebut.
Apalagi lokasi itu dijual aneka makanan dan kue-kue tradisional sehingga bisa memanjakan selera makan pagi, makan siang , serta makan malam, atau sekedar mencicipi kue kecil atau aneka kue lainnya seraya menghirup panasnya kopi atau teh.
Sejauh mata memandang terlihat aneka pemandangan tepian sungai yang sudah dimodifikasi menjadi Water Front City (kota bantaran sungai) yang dibangun Pemkot Banjarmasin dengan dana ratusan miliar rupiah.
Apalagi aktivitas warga di sungai yang bermuara ke Sungai Barito tersebut menambah pemandangan yang mengusik diri untuk berlama-lama, lantaran di sungai tersebut terlihat hilir-mudiknya “klotok” semacam angkutan warga sejenis perahu bermesin, hilir-mudik di wilayah yang dikenal dengan sebutan “kota seribu sungai,” tersebut.
Klotok itu adadalah jenis angkutan kota yang ada di sungai seperti layaknya mobil angkot di daratan dengan jarak tempuh agak jauh, kemudian masih ada hilir-mudik jukung (sampan) juga angkutan untuk warga kota ke sana kemari dengan jarak pendek, ibabarat di daratan itu adalah becak.

2
Kemudian masih hilir-mudik kapal-kapal sungai yang mengangkut barang dagangan, barang pertanian, bahkan barang tambang yang menyusuri kawasan yang selama ini menjadi rute wisata susur sungai.
Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin saat melakukan pembukaan sentra kuliner tersebut pertengahan Juni 2014 lalu menyatakan kebanggaannya karena wilayah ini menambah perbendaharaan lokasi wisata kuliner setelah sebelumnya juga diresmikan Kota Kawasan Wisata Kuliner (KWK) Gang Pengkor Jalan Brigjen Hasan Basri.
Lokasi sentra kuliner tepian Sungai Martapura yang juga juga dikenal sebagai jalur Jalan Pos sepanjang sekitar 300 meter menghubungkan Jalan Hasanudin HM dengan jalan Sudirman dekat Jembatan Merdeka.
Menurut wali kota keberadaan sentra kuliner ini akan memperkuat posisi Kota Banjarmasin sebagai kota wisata, khususnya sebagai wilayah paiwisata perairan.
Dengan adanya lokasi tersebut akan memudahkan wisatawan yang datang ke kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa tersebut untuk menikmati kuliner khas setempat, seperti laksa, ketupat kandangan, nasi kuning, lupis, lontong, dan penganan 41 macam.
Selain itu juga tersedia makanan nasional, seperti nasi goreng, soto, masakan padang, masakan jawa, masakan Palembang, dan aneka makanan nusantara lainnya di sejumlah kios yang tercatat 52 buah tersebut.
“Bagi wisatawan makan di lokasi ini akan merasakan nikmatnya udara Sungai Martapura berada di pepohnan rindang, sambil menikmati pemandangan hilir mudiknya berbagai perahu dan angkutan air lainnya,” kata Muhidin.
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata setempat, Subhan menuturkan lokasi tersebut akan dimeriahkan lagi dengan aneka atraksi wisata, seperti lomba perahu (jukung), yang akan diagendakan serta permainan jet ski.
Subhan juga merencanakan menambah atraksi wisata lainnya seperi benana boat, perahu karet, dan atraksi wisata disamping hiburan trasidional seperti musik panting atau madihin, di lokasi tersebut.
“Seberang sungai ini akan dibangun patung raksasa, berupa patung Bekantan (kera hidung panjang/ Nasalis larvatus) yang merupakan maskon fauna Kalsel, sehingga bagi yang berada di sentra kuliner ini akan bisa menikmati patung raksasa ini dari seberang sini,” kata Subhan seraya menunjuk rencana pembangunan patung bekantan itu persen seberang sungai yaitu Jalan Pire Tendean.
“Kita berharap lokasi ini menjadi ikon pariwisata, karena di seberang sungainya juga sudah ada pusat kuliner Taher Square yang akan dilengkapi dengan patung Bekantan tersebut,”kata Subhan.
Menurut Subhan sentra kuliner ini bagian rute perjalanan objek wisata air di Kota Banjarmasin , selain pasar terapung, wisata relegi masjid Raya Sabilah Muhtadin, makam habibb Basirih, masjid Sultan Suriansyah, museum Wasaka, pusat kuliner katupat, pusat pelelangan ikan, dan dermaga balaikota Banjarmasin.

klotok

klotok

Susur Sungai

Keberadaan beberapa lokasi sentra kuliner tepian sungai Martapura yang dibangun Pemkot Banjarmasin tersebut memperoleh respon positif dari Pemerintah Provinsi (Pemrov) Kalimantan Selatan.
Pemprov Kalimantan Selatan melalui instansi kepariwisataan setempat kian menggalakkan pariwisata sungai yang merupakan wisata andalan provinsi setempat yang terus dipromosikan ke dunia luar khsususnya ke manca negara.
wisata susur sungai Kota Banjarmasin dan sekitarnya merupakan yang ditonjolkan dalam memancing lebih banyak lagi kedatangan wisatawan, sekaligus memperluas posisi ibu kota provinsi tersebut sebagai wilayah kepariwisataan air.
Kepala Dinas Pariwisata Kalsel Mohandes kepada penulis menyebutkan wisata susur sungai tersebut selain menyusuri Sungai di Banjarmasin juga diarahkan ke sungai lainnya di luar Kota bahkan hingga ke Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Wisata susur sungai tersebut dengan memanfaatkan kapal -kapal sungai yang dimodifikasi menjadi kapal wisata menyusuri Sungai Martapura dan Sungai Barito serta anak-anak sungai yang di wilayah Banjarmasin yang memiliki 105 buah sungai ini.
Hanya saja ia menyayangkan di Banjarmasin terdapat bangunan jembatan yang cukup rendah hingga menyulitkan lalu-lalang kapal wisata air tersebut.
“Lihat saja Jembatan Merdeka dan Jembatan Dewi, kondisinya cukup rendah hingga kalau air pasang dalam maka jembatan tersebut akan sulit dilalui kapal wisata,” kata Mohandes seraya menunjuk dua jembatan tersebut yang lokasinya tidak jauh dari peresmian pusat kuliner tersebut.
Oleh karena itu ia menyarankan bagaimana kondisi jembatan tersebut nantinya bisa ditinggikan dari kondisi sekarang agar memudahkan pengembangan wisata air tersebut.
Menurut Mohandes, kelebihan kota Banjarmasin adalah banyaknya sungai alam bukan sungai buatan yang relatif memiliki pemandangan indah di kalangan wisatawan untuk menyusurinya, Apalagi di kiri kanan sungai terdapat pemukiman penduduk dengan aneka budaya khas setempat, seperti rumah lanting, warung terapung, industri terapung, dan budaya lainnya.
Rute yang dijual dalam wisata susur sungai tersebut tentu merupakan objek andalan setempat, seperti pasar terapung, pusat perdagangan Banjarmasin, wisata kuliner soto Banjar, Pulau Kembang dengan ratusan ekor kera jinak, masjid Sultan Suriansyah, makam Ulama Basirih, masjid Raya Sabilah Muhtadin, Siring sungai, dan Museum Wasaka serta beberapa objek lagi.
Wisata susur sungai tersebut pun akan dikemas sedemikian rupa ke arah pusat cenderamata seperti kampung sasirangan yang akan diladeni oleh pemandu wisata yang berpengalaman yang bisa memberikan penjelasan mengenai kondisi kota serta aneka budayanya, kata Mohandes.
Dalam rute susur sungai itulah nantinya para wisatawan bisa singgah ke sentra-sentra kuliner dengan menikmati aneka makanan setempat, dengan demikian maka wilayah ini akan menjadi daya pikat tersendiri di mata wisatawan nusantara maupun manca negara.

5

6

MENIKMATI SOTO BANJAR SAMBIL WISATA SUSUR SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin

2

http://www.youtube.com/watch?v=Gi3eJkEoscQ

Banjarmasin, 13/3 (Antara) – Menyusuri Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan menggunakan “klotok” (angkutan kota di perairan) seraya menikmati kuliner khas setempat, soto Banjar merupakan salah satu kegiatan wisata yang belakangan ini kian digandrungi
“Menikmati kuliner sambil menyaksikan pemandangan Sungai Martapura dengan aneka budaya sungainya, tak terasa sepiring soto ditambah 10 tusuk sate ayam ludes dimakan,” kata seorang wisatawan lokal, Aprizal warga Jalan Laksana Intan,Kelurahan Kelayan Selatan, Banjarmasin.

Menurut dia, biasanya ia makan tak pernah sebanyak itu, tetapi di tengah suasana yang menyenangkan seperti itu ditambah lezatnya soto membuat makan menjadi lahap, ” tutur Aprizal yang berwisata bersama isteri , putrinya dan keluarga yang lain.

Belakangan ada kecendrungan wisatawan menikmati wisata susur sungai sambil menikmati berbagai kuliner khas kota yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut.

Mereka datang ke Banjarmasin baik perorangan maupun grup kemudian mendatangi warung-warung kuliner, setelah itu menyewa sebuah klotok lalu bepergian susur sungai selama satu jam atau lebih sambil makan dan minum di dalam angkutan sungai tersebut.
Seperti pemantauan penulis di rumah makan Soto Abang Amat, Banua Anyar, Selasa (12/3) begitu banyak wisatawan nusantara memenuhi lokasi yang berada di tepian Sungai Martapura tersebut.

Di lokasi rumah makan yang berada di perkampungan padat penduduk tersebut, wisatawan bisa makan dan minum sambil dihibur kesenian lokal, musik panting.

Bahkan pengunjung juga diajak berjoget ria diiringi irama musik panting dengan lagu-lagu berbahasa Banjar.

Pernah beberapa waktu lalu, Ahmad Mukhlis Yusuf (MY) saat masih menjabat Direktur Utama LKBN “Antara” datang bersama isterinya dan beberapa kerabatnya mengunjungi Soto Abang Amat. Setelah makan lalu ikut bergabung dengan pengunjung lain berjoget diiringi irama lagu-lagu lokal di rumah makan soto tersebut.

“Tolong ambil potret saya lagi ikut berjoget untuk kenang-kenangan,” kata MY kepada penulis waktu itu.

Hembusan angin dan bunyi riak gelombang Sungai Martapura dan suasana lingkungan perairan yang asri menambah keasyikan para pengunjung untuk mencicipi hidangan makanan yang didominasi lontong, telur, dan ayam kampung tersebut.

Dari sekian pengunjung tersebut ada yang lebih memilih menikmati kuliner seraya dihibur musik panting, ada pula yang lebih memilih hidangan dimasukan ke dalam klotok lalu makan di dalam klotok seraya menikmati wisata susur sungai.

Seperti keluarga Aprizal ini, memilih makan dan minum di dalam klotok lalu berlayar selama satu jam rute rumah makan Soto Banjar Abang Amat Banua Anyar ke lokasi kawasan wisata sungai Siring Tendean pusat kota Banjarmasin pulang-pergi.

Selama perjalanan sungai tersebut wisatawan bisa menyaksikan aneka budaya sungai, seperti warung-awrung terapung, rumah terapung, industri terapung, dan suasana Kota Banjarmasin di pinggir sungai.

Pengunjung bisa menyaksikan budaya lainnya dimana warga setempat berada di “lanting” (tempat khusus mandi dan cuci di atas sungai) mandi, mencuci, sikat gigi, bahkan ada yang sambil buang hajat besar di jamban yang ada di lanting tersebut.

Terus ada pula warga yang asyik memancing, mencari kerang sungai, atau menyaksikan sekumpulan anak-anak sedang berenang ke sana-kemari dan bermain di permukaan air.

Memang di Banjarmasin, banyak rumah penduduk halamannya tidak menghadap ke daratan, tetapi menghadap ke sungai, karena tak punya halamann daratan, anak-anak yang suka bermain, merekapun terpaksa bermain di air.

Tarif klotok rute Banua Anyar-Siring Tendean hanya Rp100.000,- tetapi bila rute lebih jauh seperti Banua Anyar-Pasar terapung, banua Anyar-Pulau kembang Rp200.000,- kata, Rahmadi pemilik klotok
yang mangkal di kawasan tersebut.

Terdapat sekitar sepuluh buah klotok mangkal dan yang siap melayani rute wisata susur sungai di rumah makan Soto Amang Amat tersebut.

panting

 

Musik panting di rumah makan Abang Amat

Di Banjarmasin selain rumah makan Soto Abang Amat masih ada beberapa lokasi untuk penikmat kuliner seraya wisata susur sungai, seperti rumah makan Soto Bawah Jembatan, rumah Makan Yana Yani di Sungai Jingah, atau rumah patin, Pasar Lima.
Dibenahi

Kepala Dinas Kebudayaan,Pemuda, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Norhasan berjanji membenahi wisata susur sungai itu, dengan membuat paket wisata agar memudahkan wisatawan menikmati keunikan wisata perairan tersebut.

“Kita susun rute wisata perairan mulai dari dermaga wisata air balaikota Banjarmasin menuju arah makam habieb Basirih, Pasar Terapung, Makam Sultan Suriansyah, terus ke Pulau Kembang,” kata Norhasan.http://www.youtube.com/watch?v=UIlfSmNYuJ4

Kemudian dilanjutkan Pasar Terapunghttp://www.youtube.com/watch?v=BcBiWZMGLGs, Pulau Kaget, Pulau Bakut, industri perkayuan Alalak, terus ke rumah makan soto, kekampung sasirangan, kampung katupat, masjid Raya Sabilal Muhtadin, Pasar lima kembali ke dermaga balaikota, katanya.

Banjarmasin juga akan membangun fasilitas penjualan cendaramata, kawasan kuliner yang mudah dijangkau jalan darat dan air,ditambah ketersediaan tenaga pramu wisata hingga memudahkan wisatawan memperoleh pemandu menyusuri paket-paket tersebut.

Susur sungai menggunakan “klotok” (perahu bermesin) atau spead oat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu.

Untuk mendukung wisata susur sungai Pemkot Banjarmasin menyediakan dua buah kapal wisata air yang cukup besar, ditambah beberapa perahu kecil yang bisa menyusuri sungai-sungai kecil di tengah pemukiman penduduk yang padat.

Para wisatawan, khususnya dari mancanegara, tertarik menyaksikan berbagai kehidupan sungai di pemukiman padat penduduk itu sebuah keunikan tersendiri karena tak ditemui di negara mereka.

Oleh karena itu keunikan itulah yang menjadi daya pikat dan terus dijual ke wisatawan, tambahnya.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat pemerintah setempat memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin, Ir Muryanta mengakui Pemkot setempat menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami menjadikan sungai magnet ekonomi karena itu terus dibenahi sungainya,” katanya seraya menjlesakan wilayah ini 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.

Sementara wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 104 sungai dan sebanyak 74 sungai masih berfungsi baik yang bisa dijadikan objek wisata.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan, katanya.

1234567891011121314151617

MENATA WISATA AIR DI “KOTA SERIBU SUNGAI”

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin,10/5 (ANTARA)- Sekelompok wisatawan dengan sebuah kapal berlayar di Sungai Martapura arah ke Pasar Terapung sementara kelompok yang lain justru ke Makam Sultan Suriansyah, sedangkan kelompok lainnya ke Pulau Kembang.
Kelompok wisatawan menikmati wisata air Kota Banjarmasin dengan tujuan seakan terserah kemauan siapa yang mengajak, bukan berdasarkan sebuah paket wisata sebagaimana mestinya.


Kepala Dinas Kebudayaan,Pemuda, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Norhasan kepada pers di balaikota Banjarmasin, Kamis mengakui belum tersusunnya paket wisata khusus wisata sungai di kota yang berjuluk “kota seribu Sungai,” tersebut.
Oleh karena itu kedepan pihaknya harus membuat paket wisata perairan tersebut, agar memudahkan wisatawan menikmati keunikan wisata perairan tersebut.
“Kita sudah susun rute paket wisata perairan kota ini, dimulai dari dermaga wisata air depan balaikota Banjarmasin menuju arah makam habieb Basirih, Pasar Terapung, Makam Sultan Suriansyah, terus ke Pulau Kembang,” kata Norhasan.
Kemudian wisata air dilanjutkan Pasar Terapung, Pulau Kaget, Pulau Bakut, industri perkayuan Alalak, terus kekampung sasirangan, kampung katupat, masjid Raya Sabilal Muhtadin, Pasar lima kembali ke dermaga balaikota, katanya.
Itu baru kerangka rute yang perlu direvisi lagi sebelum hal itu menjadi rute wisata yang baku yang kemudian dipublikasikan ke hotel, penerbangan, biro perjalanan, dan agen-agen wisata lainnya.
Menurut Norhasan bukan hanya paket wisata yang harus disusun dalam upaya menata kepariwisataan air, juga diperlukan dukungan pasilitas yang lain.
Fasilitas dimaksud, karena belum adanya pusat penjualan cendaramata yang terkosentrasi, sehingga menyulitkan wisatawan memperoleh barang cendarama tersebut.
Banjarmasin diperlukan sebuah kawasan atau sentra pusat penjualan cendaramata yang bukan saja mudah dijangkau jalan darat tetapi mudah dijangkau melalui angkutan wisata sungai.
Selain itu juga diperlukan kawasan kuliner yang juga mudah dijangkau jalan darat dan air.
“Moga-moga keinginan menata wisata air tersebut memperoleh respon baik oleh kalangan investor, DPRD dan petinggi Pemerintah Kota Banjarmasin dan pihak pemprop Kalsel,” katanya.
Tenaga pramu wisata yang selama ini belum dibentuk sebuah wadah di Kota Banjarmasin kedepannya perlu pemikiran mewujudkannya, sehingga memudahkan wisatawan memperoleh pemandu menyusuri paket-paket tersebut.
Menurut Norhasan, keunikan wisata kota ini dibandingkan dengan daerah lain adalah susur sungai.
Susur sungai menggunakan “klotok” (perahu bermesin) atau spead boat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu.
Wisatawan bisa melihat aktivitas warga dimana terlihat banyak warga mandi, cuci, bersikat gigi di atas lanting.
Atau melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang banyak ditemui si pesisir sungai seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.
Untuk mendukung wisata susur sungai Pemkot Banjarmasin menyediakan dua buah kapal wisata air yang cukup besar, ditambah beberapa perahu kecil yang bisa menyusuri sungai-sungai kecil di tengah pemukiman penduduk yang padat.
Para wisatawan, khususnya dari mancanegara, kata norhasan tertarik menyaksikan berbagai kehidupan sungai di pemukiman padat penduduk itu sebuah keunikan tersendiri karena tak ditemui di negara mereka.
Oleh karena itu keunikan itulah yang menjadi daya pikat dan terus dijual ke wisatawan, tambahnya.
Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) setempat memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.
Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta mengakui Pemkot setempat menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.
“Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota karena itu kami akan terus benahi sungai,” katanya.
Menurut Muryanta, wilayah kota Banjarmasin seluas 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Sementara wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.


Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 104 sungai dan sebanyak 74 sungai masih berfungsi baik yang bisa dijadikan objek wisata.
Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.
“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.
Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat.
Pemerintah pusat melalui Dirjen Sumber Daya Air akan membantu pembenahan sungai di Jalan Pire Tendean.
Tahap awal untuk menjadikan sungai sebagai objek pembangunan tersebut, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Sungai dan Drainase terus mengupayakan normalisasi sungai.
Upaya normalisasi tersebut dilakukan pembersihan sungai dari bangunan-bangunan yang ada di atasnya.
Sebagai contoh dan sudah dibebaskan bangunan sepanjang sungai di Jalan Sudirman, Jalan Pire Tendean, Jalan Pembangunan, Jalan Veteran, Jalan Teluk Dalam, dan beberapa bangunan lainnya di pinggir sungai.
Bahkan puluhan miliar rupiah sudah dikeluarkan untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di jalan Sudirman dan Pire Tendean.
Hal itu terbukti memberikan keindahan kota dimana di kedua siring tersebut ditanami aneka tanaman hias, lampu-lampu hias serta lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.


Untuk mewujudkan komitmen menjadikan sungai sebagai objek wisata sudah pula dilontarkan Wali Kota setempat, Haji Muhidin yang di berbagai kesempatan selalu memuji-muji wisata airnya yang kini kian digandrungi para wisatawan.
Untuk menambah kesemarakan wisata air tersebut, Pemkot menambah lagi satu lokasi wisata baru, kata Norhasan
Lokasi wisata baru tersebut berada di Kawasan Jalan Jafri zam-zam, karena lokasinya yang cukup strategis, di tepian Sungai dan berdekatan dengan stadion 17 Mei Banjarmasin, yaitu sebuah objek wisata Pasar Terapung buatan.
“Kita telah memperoleh bantuan pemerintah pusat untuk membuat desain pembangunan Pasar Terapung di Jafri Zam-zam, karena pasar terapung termasuk tiga objek wisata andalan Kalsel yang menjadiperhatian pemkerintah pusat selain, pendulangan intan dan pusat penjualan batu permata Kota Martapura,”kata Norhasan.
Keinginan Pemkot menjadikan kawasan tersebut sebagai objek wisata terungkap dari kunjungan Wali Kota Banjarmasin, H Muhidin yang sebelumnya sempat menijuau kawasan tersebut.
Wali kota menilai, kawasan Jafri Zam-zam itu sangat potensial untuk dijadikan objek wisata, mengingat adanya sungai Karokan yang cukup indah, selain itu juga ada stadion yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga bagi masyarakat, baik pagi atau sore hari.
Di lokasi tersebut juga ada sebuah bangunan yang tadinya untuk rumah dinas wali kota, tetapi karena terbentur tata ruang, fasilitas itu menjadi terlantar, dan kini dibenahi sebagai fasilitas wisata keluarga.
Untuk mendukung kota ini sebagai objek wisata air, maka pihak Dinas Bina Marga mengarahkan berbagai pembangunan jalan dan jembatan yang dikelolanya mendukung wisata air.
Banjarmasin membuat jembatan yang ada di kota ini dengan bentuk melengkung, yang artinya jembatan dibangun tidak bakal mematikan keberadaan sungai, dengan bentuk yang demikian maka sungai akan tetap bisa dilalui perahu khususnya perahu wisata.
Berbagai kalangan menyambut baik keinginan Pemkot memasarkan wisata air tersebut, dan diharapkan hal itu akan mempercepat peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan kota.

“SUSUR SUNGAI” BENTUK WISATA UNIK KALTENG

Oleh Hasan Zainuddin
Berada di sebuah kapal yang berlayar menyusuri sungai yang jernih, membelah suasana hutan bergambut, sesekali melintas di kawasan perkampungan masyarakat Dayak, sebuah bentuk wisata baru di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Wisata susur sungai belakangan ini semakin diminati oleh warga setempat, karena unik dan khas.
Dalam perjalanan menyusuri sungai itu, wisatawan antara lain dapat menjumpai tanaman khas daerah ini, seperti rasau (jenis pandan) yang menghijau, dan berbagai satwa pulau terbesar di tanah air itu.
Satwa yang sering dijumpai melalui perjalanan di atas air ini seperti orangutan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), uwa-uawa (Hylobates sp), lutong, kera abu-abu, dan biawak.
Dari beberapa lokasi wisata susur sungai paling diandalkan bagi kepariwisataan Kalteng adalah susur Sungai Rungan-Kahayan Kota Palangkaraya, kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Provinsi Kalteng, Sadar Ardi, di Palangkaraya, Jumat.
Hampir tiap hari, ada saja rombongan pengunjung yang datang untuk menikmati wisata susur sungai.
Mereka dibawa menyusuri Sungai Rungan dan Kahayan menggunakan kapal wisata yang telah disediakan.
Kapal yang dioperasikan berbahan kayu Ulin (kayu besi) bertingkat dua memiliki kamar tidur dengan pendingin ruangan, bar, disertai ‘live’ musik serta tempat bersantai di lantai atas.
Paket wisata tersebut menawarkan objek-objek wisata alam, bukan saja melihat hutan rawa gambut, tumbuhan kayu ulin, kayu balngeran, juga ke lokasi pemancingan, atraksi burung elang, habitat orangutan di Pulau Kaja, dan situs sejarah Dayak yaitu sandung Temanggung Lawak Surapati.
Paket wisata yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu mulai Rp750 ribu untuk 10 orang, sudah termasuk suguhan makanan ringan. Biaya tergantung rute yang dipilih serta jumlah anggota rombongan, kata Sadar Ardi.
Wisata yang mulai digagas sejak 2008 itu makin diminati masyarakat. Banyak instansi yang menyuguhkan wisata ini bagi tamu mereka dari luar Kalteng.
Pengunjung lokal Kalteng juga makin banyak yang menggunakan kapal wisata susur sungai, kata Sadar Ardi.
Berdasarkan sebuah catatan, Kalteng memiliki sedikitnya sebelas sungai besar dengan panjang rata-rata ratusan kilometer, ditambah geografis dan karateristik yang kaya akan hutan tropis dan budaya.
Dengan mencermati pangsa pasar wisatawan dan mancanegara dan wisatawan nusantara yang kini mulai kecendrungan menyukai wisata petualangan maka tampaknya jenis susur sungai merupakan pilihan tepat bagi wilayah ini.
Kepala Bidang Parwisata, Disbudpar Kota Palangkaraya, Anna Menur menyatakan objek wisata susur sungai jadi ikon wisata setempat, makanya terus dipromosikan.
Promosi wisata susur sungai bukan saja melalui media massa, cetak maupun elektronik, tetapi juga melalui biro perjalanan, bahkan ke agen-agen penerbangan.
Pihak Pemko Palangkaraya melalui Disbudpar kini mencetak ratusan bahkan ribuan eksemplar buku saku kepawisataan Palangaraya yang di antaranya mempromosikan wisata susur sungai tersebut.
Selain itu, Pemko juga menerbitkan brosur, pamflet mengenai wisata susur sungai.
Susur sungai dirancang bagi wisatawan yang mencintai alam linkungai serta kehidupan sungai di wilayah Kalteng, khususnya di Palangkaraya.
“Bila anda ke kota kami, kota cantik Palangkaraya tidak akan terasa lengkap tanpa adanya sensasi petualangan susur sungai, di mana anda dapat menyaksikan alam pulau Kalimantan yang sungguh eksotis,” kata Anna Menur.
Aida Meyarti,SH dari Dinas Pariwisata Kalteng mengatakan, selain susur sungai Rungan-Kahayan juga kini dipromosikan susur sungai Sekonyer di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Sungai Sekonyer jalur sungai ke areal Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), yang di dalamnya terdapat lokasi rehabilitasi satwa langka orangutan.
Kelebihan Sungai Sekonyer lantaran miliki pemandangan alam lingkungan yang indah juga di sana terdapat spesies binatang yang unik dan menarik.
Seperti di Sungai Kumai bagian dari jalur Sungai Sekonyer terdapat jenis pesut, selain itu juga terdapat satwa yang disebut masyarakat setempat sebagai satwa dugong-dugong.
Dugong-dugong juga dikenal sebagai sapi laut, karena habitatnya adalah diareal rumput laut di muara sungai.
Selain itu perjalanan jalur Sungai sekonyer dengan kelotok (perahu motor tempel) wisata, perjalanan akan melalui kawasan mangrove didominasi pohon bakau (Rhizophora spp), pohon pidada (Sonneratia spp) yang menumbuhkan akar napas (pneumatophore).
Pohon lain dijalur wisata itu kendeka (Bruguiera spp), serta pohon nirih (Xylocarpus spp).
Mengutip sebuah catatan, Sungai Buaya adalah nama asli Sungai Sekonyer, nama Sikonyer diambil dari nama sebuah kapal yaitu kapal Sikuner. Nama asli kapal tersebut diubah berdasarkan bahasa Melayu menjadi Sekonyer.
Ceritanya, pada masa kolonial Belanda di muara Sungai Buaya berlabuhlah sebuah kapal perompak atau bajak laut.
Kapal itu tenggelam tepat di muara Sungai Buaya ditembak oleh seorang bernama Bujang dengan sebuah meriam kecil bernama “palembang” milik seorang tokoh agama Islam, “Kyai Gede.”
Meriam hanya dapat ditembakkan oleh keturunan Kyai Gede atau salah seorang suku keturunan Dayak Gambu, oleh penduduk sekitar kemudian nama Sekonyer ini sering dipakai untuk menyebut nama asli dari Sungai Buaya itu.
Perjalanan jalur sungai ini kemudian menemui kawasan tanaman nipah (Nypa fruticans Wurmb) lalu kawasan pohon rasau, kemudian terus ke Tanjung Harapan Desa Sekonyer, Pesalat tempat pendidikan konservasi, wisata Pondok Tanggui, Pondok Ambung, Muara Ali, Danau Panjang hingga camp Leakey lokasi rehabilitasi orangutan.
Guna menanamkan lagi kecintaan masyarakat Kalteng dan Kalimantan Selatan (Kalsel) terhadap angkutan air itu, maka sebuah harian yang terbit di Banjarmasin, yakni Banjarmasin Post menggelar kegiatan susur sungai Barito-Kahayan.
Kegiatan ini menurut tulisan di harian tersebut untuk melestarikan budaya sungai yang mulai ditinggalkan masyarakat Kalsel dan Kalteng karena perkembangan transportasi darat dan udara.
Selain itu, Banjarmasin Post ingin mengajak warga di dua provinsi bertetangga ini mengingat kembali sejarah transportasi di dua sungai utama tersebut.
Barito dan Kahayan merupakan urat nadi masyarakat Kalsel dan Kalteng sejak masa penjajahan. Apalagi, sejak kedua sungai dihubungkan oleh sejumlah anjir (kanal) seperti Anjir Serapat.
Kedua sungai ini memang memiliki sejarah sebagai jalur perdagangan kedua provinsi, kata Aida..
Pada era era 50-an, banyak saudagar Banjarmasin membawa barang ke daerah hulu Sungai Barito dan Kahayan. Selanjutnya dari hulu sungai, mereka membawa bahan-bahan alam seperti rotan ke Banjarmasin. Rute ini ini mereka lalui selama berhari-hari.
Ini tidak hanya dilakukan pedagang dari Banjarmasin, tetapi juga dari hulu Sungai Kahayan dan Barito. Biasanya mereka berlabuh di tepian Sungai Martapura Banjarmasin.
Selain tinggal di kapal, mereka biasanya menginap di Hotel Sinar Amandit dan Mess Candi Agung yang ada di tepi Sungai Martapura.
Sekarang banyak generasi muda yang tidak mengetahui sejarah tersebut. Mereka tahunya dari Banjarmasin (Kalsel) ke Palangkaraya (Kalteng) menggunakan jalur darat hanya beberapa jam saja.
Agar mereka tidak melupakan sejarah, maka harian itu bekerjasama pihak pemerintah kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya Kalteng menggelar Susur Sungai Barito-Kahayan diikuti 54 peserta dari akademisi, sejarawan, pencinta lingkungan, dan sejumlah wartawan, beberapa hari lalu.
Dan kini, wisata susur sungai bukan hanya sekedar menyajikan keunikan kepariwisataan Kalteng saja, melainkan juga untuk mengenang kebiasaan warga setempat tempo dulu, yang selalu bepergian menggunakan angkutan air.

Klotok, salah satu angkutan wisata susur sungai

Lokasi wisata susur sungai