MECIPTAKAN MAGNET EKONOMI SUNGAI BANJARMASIN

Banjarmasin – Hamparan seluas sekitar 98 kilometer persegi itu awalnya hanyalah rawa-rawa kemudian dibelah-belah lagi tak kurang oleh 102 sungai besar dan kecil. Kali besarnya adalah Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin dan Sungai Barito yang menjadi pembatas sisi barat.
Lokasi yang dulunya konon dipenuhi hutan galam dan hutan bakung itu memang sejak 490 tahun sudah memiliki sebuah perkampungan kecil yang berdasarkan sejarah disebut Bandarmasih. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi kampung besar bahkan sempat ada kerajaannya.

Di kawasan ini tak ada sumber daya alam berupa bahan tambang, tak ada juga hutan hingga tak ada kayu dan hasil hutan lainnya. Yang ada hanyalah aliran sungai yang melimpah, sedikit ada persawahan yang kini sudah berubah fungsi menjadi kawasan perkotaan yang sekarang disebut Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.

“Bagaimana kita membangun kota ini, tak ada sumber daya alam berupa tambang dan hutan, yang ada hanyalah sungai, makanya tak ada pilihan lain, kecuali sungai inilah yang akan ‘disulap’ sebagai penggerak ekonomi kota,” kata Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Pernyataan wali kota itu agaknya dibarengi dengan kebijakan-kebijakan pemkot setempat, hingga semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) diminta harus berorientasi ke sungai dalam program kerjanya.

Geliat menganak-emaskan sungai agaknya sudah kelihatan sejak wali kota sebelumnya yang dipimpin Haji Muhidin dengan membangun siring/tepi sungai Jalan Tendean dan Jalan Sudirman serta dermaga angkutan sungai.

Sudah lebih dari Rp150 miliar dana digelontorkan untuk membangun kedua siring atau tepi/bantaran sungai tersebut, baik dari APBD setempat tetapi lebih besar dari APBN Kementerian Pekerjaan Umum.

Sekarang keberadaan siring tersebut telah memberikan arti cukup berarti yang mengubah wajah kota ke arah “kota sungai,” karena kawasan tersebut menjadi semacam “water front city”.

Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkerama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Di wilayah ini terdapat pasar terapung dengan aneka barang yang dijual seperti hasil alam berupa buah-buahan, sayuran, ikan, dan lainnya dijualbelikan oleh ibu-ibu berpakaian khas menggunakan jukung (sampan).

Ada pula 80 buah “klotok” (perahu bermsin) wisata yang hilir mudik yang mengajak wisatawan menyusuri sungai dengan tarif hanya Rp5.000 per orang.

Wisata susur sungai sudah menjadi andalan merangsang wisatawan lokal dan mancanegara datang ke wilayah berjuluk “kota dengan seribu sungai” ini.

Di lokasi itu pula ada menara pandang (pantau) berlantai empat yang didalamnya menjadi lokasi pertemuan, ada stan cindera mata, dan pusat kuliner.

Belum lagi berdiri ikon kota yang disebut sebagai monumen Bekantan atau patung kera berhidung panjang (Nasalis larvatus), sehingga bagi siapapun yang berkunjung lalu berfoto dengan latar belakang patung tersebut, maka akan diketahui jika saat foto itu dibuat sedang berada di Banjarmasin.

Hampir sama seperti patung singa di kota Singapura, yang sama-sama pula mengeluarkan air mancur dari mulutnya.

Dalam upaya menciptakan sungai sebagai yang terdepan itu, Pemkot Banjarmasin kembali membangun siring lebih panjang lagi. Jika sekarang sudah dirbangun lima kilometer, kini masih dilesaikan agar menjadi 10 kilometer.

Jika sudah mencapai 10 kilometer, berdasarkan keterangan Pemkot nantinya akan dibangun lagi beberapa lokasi dan fasilitas wisata di kawasan siring, seperti ada kampung ketupat, kampung sasirangan, dan kampung iwak (ikan).
Ciptakan Gula
Keinginan untuk menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi itu agaknya memang sudah lama, tetapi kurang didukung oleh masyarakat setempat. Terbukti sungai banyak menjadi “bak sampah”, penduduk dengan begitu mudahnya membuang sampah ke sungai.

Akibatnya sungai seakan menjadi “gudang” barang rongsokan, karena sampahnya ada yang kasur bekas, lemari kayu, sepeda bekas, kulkas rusak, kipas angin rusak, dan aneka barang rongsokan lainnya.

Belum lagi sungai mendangkal karena sidementasi, sungai diserang gulma seperti eceng gondok hingga mampet, sungai tempat buang hajat (air besar) hingga menciptakan kontaminasi baktari koliform, sungai terkontaminasi logam, keruh, bau, dan aneka persoalan lainnya.

Kemudian sungai pun tak bisa terelakan lagi menjadi permukiman khususnya di bantarannya. Akibatnya sungai menyempit dan ada pula sungai yang kemudian mati.

Bahkan yang sangat memprihatinkan semua rumah penduduk menjadikan kawasan sungai sebagai bagian belakang rumah, sementara muka rumah menghadap ke jalan raya, akibatnya merusak pemandangan dan keindahan kawasan sungai.

Sungai juga tempat industri kayu lapis, tempat industri karet, tempat industri rumah tangga lainnya, akibatnya sungai penuh dengan limbah industri, sungguh memprihatinkan.

Banyak aturan dibuat Pemkot setempat dalam upaya menyelamatkan perwajahan sungai itu agar elok, tetapi aturan tersebut hanyalah bagaikan “macan ompong.” saja.

Oleh karena itu seyogianya pemerintah berpikir tak usah “memaksa” warga setempat untuk menyelamatkan sungai dengan perda-perda, tetapi bagaimana menjadikan sungai itu bagaikan barang pemanis atau gula.

Jika sungai menjadi “gula” atau pemanis kehidupan tentu keberadaannya akan menjadi daya pikat kuat bagi kehidupan warga di wilayah yang berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa tersebut. Mereka akan dengan sendirinya memelihara sungai lalu menjadikannya sebagai barang atau lokasi yang berharga.

Jika sungai sudah menjadi tempat beharga, maka warga sudah bisa dipastikan tidak lagi membuang sampah sembarangan ke sungai. Rumah yang tadinya membelakangi sungai bertahap akan diubah oleh pemiliknya menghadap ke sungai sehingga sungai menjadi indah.

Begitu juga berbagai dunia usaha yang tadinya tak terpikir ke sungai bisa jadi menjadikan sungai sebagai harapan baru bagi kehudupan selanjutnya.

Upaya menciptakan “gula” itu bisa dicontoh di beberapa kota besar seperti Bangkok, Singapura, Venesia Italia dan Belanda.

Umpamanya saja di sungai berdiri aneka penggerak ekonomi, selain pasar terapung. Di sungai juga banyak restauran terapung, rumah-rumah terapung, ada tempat permainan, lokasi pusat oleh-oleh, hotel terapung, ada panggung hiburan, atraksi budaya, dan aneka fasilitas wisata.

Karena itu, mulai sekarang ayo jual keberadaan sungai kepada kalangan investor, beri kemudahan berinvestasi, beri gambaran peluang potensi keuntungan. Dengan demikian investor bisa berbondong-bondong turut membangun Kota Banjarmasin menjadi sebuah wilayah yang tak kalah dengan venesia Italia. sungaisungai1

PROYEK “WATERFRONT CITY” WUJUDKAN BANJARMASIN METROPOLIS

Oleh Hasan Zainuddin

kota11

Banjarmasin, 11/2 (Antara) – Era tahun 90-an kondisi di bantaran Sungai Martapura baik di tepi Jalan Piere Tendean dan tepi Jalan Sudirman pusat Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, tampak kumuh oleh aneka bangunan liar, tumpukan kayu galam, warung, serta pemukiman penduduk.

Tetapi selama lima tahun terakhir ini kondisi bantaran sungai tersebut berbalik 190 derajat, dimana terlihat asri,penuh dengan taman-taman dengan aneka bunga, taman bermain, pohon-pohon penghijauan, lampu-lampu hias, toilet wisata, serta aneka fasilitas wisata lainnya termasuk dermaga wisatanya.
Di lokasi itupun terdapat panggung hiburan, lokasi pasar terapung, pusat kuliner aneka khas makanan lokal seperti nasi kuning, pusat jajanan jagung bakar, dan banyak lagi kegiatan yang menggambarkan lokasi itu sebagai objek wisata di kota “seribu sungai” Banjarmasin ini.

Semua tersebut tercipta berkat gencarnya Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, melalui kantor Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) membangun proyek siring yang menjadikan kawasan tersebut menjadi wilayah “waterfront city.”
Seperti diakui Kepala Dinas SDA Banjarmasin Muryanta kepada penulis, pembangunan proyek siring merupakan prioritas untuk menciptakan Banjarmasin sebagai kota metpropolis.

Masalahnya, Banjarmasin tak miliki apa-apa seperti hutan, tambang, atau lahan pertanian, tapi hanya memiliki sungai, agar kota ini maju bagaimana sungai diolah untuk mendukung ekonomi masyarakat.

Dengan dasar pemikiran tersebut Pemkot Banjarmasin didukung Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan  Pemerintah Pusat dalam hal ini Balai Besar Sungai Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bertekad membenahi bantaran sungai menjadi wilayah waterfron city.
siring-sudirman
Waterfront city adalah konsep pengembangan kota di tepian air baik itu tepi pantai, sungai ataupun danau.

Pengertian “waterfront” dalam Bahasa Indonesia secara harfiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan.

Konsep waterfront city dikembangkan mengingat Kota Banjarmasin tergolong kota yang unik dibandingkan kota dimanapun, karena terdapat sungai yang membelah kota ini dengan posisi meliuk-liuk.

Berdasartkan catatan, tak kurang dari 74 sungai membelah kota seluas sekitar 90 km persegi ini, sungai-sungai tersebut merupakan anak dari dua sungai besar yakni Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Sutjiono warga Jakarta yang pernah ke Banjarmasin dalam kaitan pertemuan dengan direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin pernah berkomentar keberadaan sungai di Banjarmasin merupakan berkah.

Menurutnya, sungai di Banjarmasin jika dipelihara selain bisa menjadi sumber air baku untuk air bersih juga menjadi lokasi wisata.

Lihat juga kota Bangkok Thailand, Hongkong, Nederland Belanda, Vinessia Italia, atau Singapura dimana sungai ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah objek wisata yang menarik telah berhasil menciptakan kota tersebut sebagai kota tujuan wisata dunia.

Melihat kenyataan tersebut sebenarnya Kota Banjarmasin bisa mengejar kemajuan kota kota ternama di dunia tersebut, tentu dengan memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya.

Apalagi Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang melebihi dari kota-kota yang disebut di atas, sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri, tinggal bagaimana pemerintah kota ini menciptakannya lebih menarik lagi.

Ketika_senja_di_Siring

Mulai 2008
Muryanta menyatakan jauh-jauh hari Banjarmasin sudah memikirkan bagaimana kota ini menjadi metropolis dengan mengandalkan sungai tersebut.

Karena itu bertahap membenahi sungai,mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.

“Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Piere Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata yang menarik dan menjadi ikon kota,”tuturnya.

Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian  Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit.

Belum lagi pembangunan fasilitas berkaitan dengan kepariwisataan sungai tersebut, seperti penataan bantaran sungai dalam upaya menciptakan keindahan itu.

Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanangkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.

Menurutnya karena arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan lain selain bagaimana agar sungai-sungai yang banyak membelah kota ini bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat ke depannya.

Kemudian Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut.

Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai Kota Banjarmasin, seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.

“Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah,” tutur Muryanta.

Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.

Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.

siring

SIRING-KOTA-HIJAU

Keberadaan dermaga itu akan memperkuat keberadaan pariwisata air sebab orang akan mudah bepergian kemana-mana melalui air, harapannya Banjarmasin bisa menjadi kota mertropolis menarik seperti kota-kota wisata air di dunia itu.

Muryanta menambahkan pekerjaan pembangunan siring sebagai lokasi waterforont city akan memanjang hingga lima kilometer.

“Saya yakin proyek siring sepanjang lima Km bisa diselesaikan 10 tahun,padahal target sebelumnya itu baru bisa dikerjakan selama 25 tahun,” katanya.

Optimistis mampu merampungkan proyek tersebut didasari dengan kenyataan yang ada selama lima tahun terakhir ini saja sudah dibangun tiga kilometer. Tiga kilometer tersebut seperti sepanjang siring di Jalan Piere Tendean, eks SMP6, serta Jalan Sudirman.

Tinggal penyelasaian antara Siring eks SMP 6 ke pekapuran hingga ke Jalan RK Ilir tepatnya hingga Tempat Pendaratan Ikan (TPI) air tawar Jalan RK Ilir,tambahnya.

Tiga kilometer proyek siring tersebut sudah menghabiskan dana sedikitnya Rp75 miliar, sebagian besar atau Rp60 miliar berasal dari dana APBN melalui Balai Besar Sungai Kementerian PU, sisanya melalui APBD Pemprov Kalsel, serta APBD Kota Banjarmasin.

Untuk menyelasaikan sepanjang lima kilometer proyek siring tersebut maka dibutuhkan dana sedikitnya Rp150 miliar lagi, katanya seraya menyebutkan bahwa proyek siring dikerjakan sejak tahun 2008.

“Kami akan lanjutkan pembangunan siring Sungai Martapura, agar kota kita tambah indah dan nyaman, hingga nantinya di proyek siring tersebut akan terdapat pusat kuliner ketupat seperti di Pekapuran serta pusat cendramata kain Sasirangan di kampung Seberang Masjig,” tambah Muryanta.

Apalagi sekarang sedang diselasaikan proyek menara pandang Rp14 miliar berlantai empat  yang berarsitektur khas budaya Banjar di lokasi siring Pire Tendean akan menambah kesemarakan kota Banjarmasin.

menara pandang

 

menara pandang

Menara Pandang Hampir selesai

Menara pandang yang hampir rampung itu mampu dinaiki 200 pengunjung, bila naik ke atas maka seluruh kota Banjarmasin akan terlihat.

Pemkot Banjarmasin nantinya akan menambah lagi sebuah patung besar berbentuk kera Bekantan (Nasalis larvatus) yang merupakan maskot Kalsel, dan patung itu juga berada di Siring Pire Tendean.

“Siapapun nantinya berfoto dengan latar belakarang menara pandang atau patung Bekantan maka orang akan tahu bahwa lokasi foto itu berada di banjarmasin,”katanya.

Untuk mewujudkan lebih panjang proyek siring dan menjadi “waterfront city” Banjarmasin tinggal bagaimana mempercepat pembangunannya asal pembebasan lahan bisa segera dilakukan Pemkot Banjarmasin, dan dana untuk pembebasan lahan tercatat Rp50 miliar hingga Rp70 miliar.

Bila pekerjaan proyek siring “waterfront city” berjalan baik maka Banjarmasin bisa menjadi sebuah kota Metpropolis sejajar dengan kota wisata air dunia.

siring1

 

siring1

 

siring2

MENIKMATI SOTO BANJAR SAMBIL WISATA SUSUR SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin

2

http://www.youtube.com/watch?v=Gi3eJkEoscQ

Banjarmasin, 13/3 (Antara) – Menyusuri Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan menggunakan “klotok” (angkutan kota di perairan) seraya menikmati kuliner khas setempat, soto Banjar merupakan salah satu kegiatan wisata yang belakangan ini kian digandrungi
“Menikmati kuliner sambil menyaksikan pemandangan Sungai Martapura dengan aneka budaya sungainya, tak terasa sepiring soto ditambah 10 tusuk sate ayam ludes dimakan,” kata seorang wisatawan lokal, Aprizal warga Jalan Laksana Intan,Kelurahan Kelayan Selatan, Banjarmasin.

Menurut dia, biasanya ia makan tak pernah sebanyak itu, tetapi di tengah suasana yang menyenangkan seperti itu ditambah lezatnya soto membuat makan menjadi lahap, ” tutur Aprizal yang berwisata bersama isteri , putrinya dan keluarga yang lain.

Belakangan ada kecendrungan wisatawan menikmati wisata susur sungai sambil menikmati berbagai kuliner khas kota yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut.

Mereka datang ke Banjarmasin baik perorangan maupun grup kemudian mendatangi warung-warung kuliner, setelah itu menyewa sebuah klotok lalu bepergian susur sungai selama satu jam atau lebih sambil makan dan minum di dalam angkutan sungai tersebut.
Seperti pemantauan penulis di rumah makan Soto Abang Amat, Banua Anyar, Selasa (12/3) begitu banyak wisatawan nusantara memenuhi lokasi yang berada di tepian Sungai Martapura tersebut.

Di lokasi rumah makan yang berada di perkampungan padat penduduk tersebut, wisatawan bisa makan dan minum sambil dihibur kesenian lokal, musik panting.

Bahkan pengunjung juga diajak berjoget ria diiringi irama musik panting dengan lagu-lagu berbahasa Banjar.

Pernah beberapa waktu lalu, Ahmad Mukhlis Yusuf (MY) saat masih menjabat Direktur Utama LKBN “Antara” datang bersama isterinya dan beberapa kerabatnya mengunjungi Soto Abang Amat. Setelah makan lalu ikut bergabung dengan pengunjung lain berjoget diiringi irama lagu-lagu lokal di rumah makan soto tersebut.

“Tolong ambil potret saya lagi ikut berjoget untuk kenang-kenangan,” kata MY kepada penulis waktu itu.

Hembusan angin dan bunyi riak gelombang Sungai Martapura dan suasana lingkungan perairan yang asri menambah keasyikan para pengunjung untuk mencicipi hidangan makanan yang didominasi lontong, telur, dan ayam kampung tersebut.

Dari sekian pengunjung tersebut ada yang lebih memilih menikmati kuliner seraya dihibur musik panting, ada pula yang lebih memilih hidangan dimasukan ke dalam klotok lalu makan di dalam klotok seraya menikmati wisata susur sungai.

Seperti keluarga Aprizal ini, memilih makan dan minum di dalam klotok lalu berlayar selama satu jam rute rumah makan Soto Banjar Abang Amat Banua Anyar ke lokasi kawasan wisata sungai Siring Tendean pusat kota Banjarmasin pulang-pergi.

Selama perjalanan sungai tersebut wisatawan bisa menyaksikan aneka budaya sungai, seperti warung-awrung terapung, rumah terapung, industri terapung, dan suasana Kota Banjarmasin di pinggir sungai.

Pengunjung bisa menyaksikan budaya lainnya dimana warga setempat berada di “lanting” (tempat khusus mandi dan cuci di atas sungai) mandi, mencuci, sikat gigi, bahkan ada yang sambil buang hajat besar di jamban yang ada di lanting tersebut.

Terus ada pula warga yang asyik memancing, mencari kerang sungai, atau menyaksikan sekumpulan anak-anak sedang berenang ke sana-kemari dan bermain di permukaan air.

Memang di Banjarmasin, banyak rumah penduduk halamannya tidak menghadap ke daratan, tetapi menghadap ke sungai, karena tak punya halamann daratan, anak-anak yang suka bermain, merekapun terpaksa bermain di air.

Tarif klotok rute Banua Anyar-Siring Tendean hanya Rp100.000,- tetapi bila rute lebih jauh seperti Banua Anyar-Pasar terapung, banua Anyar-Pulau kembang Rp200.000,- kata, Rahmadi pemilik klotok
yang mangkal di kawasan tersebut.

Terdapat sekitar sepuluh buah klotok mangkal dan yang siap melayani rute wisata susur sungai di rumah makan Soto Amang Amat tersebut.

panting

 

Musik panting di rumah makan Abang Amat

Di Banjarmasin selain rumah makan Soto Abang Amat masih ada beberapa lokasi untuk penikmat kuliner seraya wisata susur sungai, seperti rumah makan Soto Bawah Jembatan, rumah Makan Yana Yani di Sungai Jingah, atau rumah patin, Pasar Lima.
Dibenahi

Kepala Dinas Kebudayaan,Pemuda, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Norhasan berjanji membenahi wisata susur sungai itu, dengan membuat paket wisata agar memudahkan wisatawan menikmati keunikan wisata perairan tersebut.

“Kita susun rute wisata perairan mulai dari dermaga wisata air balaikota Banjarmasin menuju arah makam habieb Basirih, Pasar Terapung, Makam Sultan Suriansyah, terus ke Pulau Kembang,” kata Norhasan.http://www.youtube.com/watch?v=UIlfSmNYuJ4

Kemudian dilanjutkan Pasar Terapunghttp://www.youtube.com/watch?v=BcBiWZMGLGs, Pulau Kaget, Pulau Bakut, industri perkayuan Alalak, terus ke rumah makan soto, kekampung sasirangan, kampung katupat, masjid Raya Sabilal Muhtadin, Pasar lima kembali ke dermaga balaikota, katanya.

Banjarmasin juga akan membangun fasilitas penjualan cendaramata, kawasan kuliner yang mudah dijangkau jalan darat dan air,ditambah ketersediaan tenaga pramu wisata hingga memudahkan wisatawan memperoleh pemandu menyusuri paket-paket tersebut.

Susur sungai menggunakan “klotok” (perahu bermesin) atau spead oat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu.

Untuk mendukung wisata susur sungai Pemkot Banjarmasin menyediakan dua buah kapal wisata air yang cukup besar, ditambah beberapa perahu kecil yang bisa menyusuri sungai-sungai kecil di tengah pemukiman penduduk yang padat.

Para wisatawan, khususnya dari mancanegara, tertarik menyaksikan berbagai kehidupan sungai di pemukiman padat penduduk itu sebuah keunikan tersendiri karena tak ditemui di negara mereka.

Oleh karena itu keunikan itulah yang menjadi daya pikat dan terus dijual ke wisatawan, tambahnya.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat pemerintah setempat memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin, Ir Muryanta mengakui Pemkot setempat menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami menjadikan sungai magnet ekonomi karena itu terus dibenahi sungainya,” katanya seraya menjlesakan wilayah ini 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.

Sementara wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 104 sungai dan sebanyak 74 sungai masih berfungsi baik yang bisa dijadikan objek wisata.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan, katanya.

1234567891011121314151617

SUNGAI MEMBELAH KOTA ASET PEMBANGUNAN BANJARMASIN

sungaiwarung

Oleh Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,8/3 ()- “Sangat elok” demikian, komentar seorang wisatawan dari Negara Malaysia, ketika berkunjung ke wilayah berjuluk “kota seribu sungai dan seribu jembatan” Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Komentar tersebut terlontar setelah menyaksikan alam lingkungan kota ibukota provinsi bagian Selatan Pulau terbesar tanah air Kalimantan (Borneo) tersebut dimana  sedikitnya 107 sungai dan 250 buah jembatan yang membelah-belah wilayah yang hanya seluas 72 km tersebut,
Kondisi alam Banjarmasin sebenarnya adalah sebuah wilayah yang memiliki karasteristik unik di bandingkan kota manapun di dunia ini, melihat karateristik yang unik dan menarik itu sebenarnya kota ini memiliki sebuah kelebihan, jika dikelola dengan baik dan benar akan melahirkan sesuatu yang menakjubkan, kata Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Ir Herry Suhardiyanto, MSc saat berada Banjarmasin.
Kehadiran Rektor ITB bersama empat peneliti IPB lainnya ke Banjarmasin dalam kaitan kerjasama antara IPB dengan Pemko Banjarmasin dalam upaya pemanfaatan sungai sebagai aset yang harus dikembangkan mendukung kemajuan kota tersebut.
Menurut Herry kalau sungai dinilai sebuah kelebihan mengapa keberadaan sungai kemudian dikeluhkan sebagai suatu yang menjadi penghambat, akhirnya sungai dirusak bahkan sungai dimatikan.
Sebagai contoh saja karena dinilai sungai sebuah masalah lalu setiap pembangunan fisik perkotaan di Banjarmnasin selalu saja dilakukan pengurukan tanah merah di atas sungai atau rawa, padahal kalau sungai dinilai sebagai aset bagaimanapun dalam pembangunan fisik perkotaan itu seharusnya tidak menghilangkan ciri khas sungai tersebut.
Oleh karena itu ia berharap pemerintah dan masyarakat Banjarmasin menyadari sistem pembangunan selama ini adalah sistem yang bisa menghilangkan kelebihan dan keunikan kota itu.
Kedepan seharusnya dicarikan format yang tepat untuk mengeksploitasi kelebihan tersebut dengan mengutamakan keberadaan sungai dalam setiap kali adanya pembangunan perkotaan.
Salah satu upaya hendaknya dilakukan, merubah sistem tata ruang yang ada dimana sungai-sungai yang membelah kota ini menjadi sesuai ruang yang dilestarikan, sebaliknya hanya kawasan non sungai saja yang diperuntukan bagian dari wilayah pembangunan fisik perkotaan tersebut.
Bila sungai dieksploitasi baik,  sebenarnya akan melahirkan manfaat besar, salah satu yang bisa dirasakan pasti adalah menjadi objek wisata yang menarik.
Bila kota ini mampu menciptakan wisata sungai, kedepannya tanpa dibiayai dengan mahalpun kota ini berkembang sendirinya menjadi sebuah kota yang maju, rakyat yang serjahtera, karena wisata memancing devisa besar bagi peningkatan ekonomi rakyat.
Melalui kerjasama tersebut pihak ITB akan membuat konsep pembangunan kota mengedepankan sungai sebagai daya tarik kota ini.
Wali Kota Banjarmasin, haji Yudhi Wahyuni saat menghadiri HUT Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin mengakui sungai di kotanya begitu banyak, potensi sungai itu tak salahnya dimanfaatkan bagi pembangunan, sungai sebagai daya tarik wisata, daya tarik ekonomi, dan daya tarik transportasi air.
Bukti Pemerintah setempat kian memperhatikan sungai adalah dibentuknya lembaga baru mengurusi sungai, yaitu Dinas Pengelolaan Sungai dan drainase, dan pada tahun 2009 ini mengalokasikan dana miliaran rupiah dalam mengelola sungai tersebut.
Pelaksana Tugas Harian (Plt) Kepala Dinas Sungai dan Drainase, Ir Muryanta ketika dikonfirmasikan menyatakan pihaknya bertekad keras menghidupkan keberadaan sungai, baik sebagai drainase, daerah resapan air, sumber air masyarakat, sumber transportasi air, serta aneka kehidupan sosial ekonomi lainnya.
Instansi yang baru dibentuk tersebut kini berusaha menghidupkan kembali sungai yang mati, karena berdasarkan catatan terakhir terdapat 30 sungai yang sudah kehilangan fungsinya, lantaran mendangkal, dan ditumbuhi gulma dan limpahan limbah perkotaan.
Pihak instansi ini akan memaksimalkan fungsi sungai  yaitu dengan pengerukan dasar sungai dan pelebaran sungai, seperti terlihat di Sungai Veteran, Sungai Jalan A Yani, Sungai Teluk Dalam, Sungai Miai, Sungai Kayu Tangi, dan beberapa sungai lainnya.
Bahkan ratusan rumah yang berada di bantaran sungai sekarang ini dibongkar dan dipindahkan ketempat lain, sementara lahan bekas perumahan bantaran sungai akan dibuatkan siring sungai hingga menjadi kawasan pertamanan kota dan jalur hijau.
Ia menyakan tindakan tersebut karena kedepan Pembangunan Kota Banjarmasin mengarah kepada berbasis sungai yaitu dengan memanfaatkan keberadaan sungai sebagai pilar pembangunannya harapannya perkembangan kota kian maju.
Melihat potensi sungai di Banjarmasin sebagai pilar pembangunan maka Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banjarmasin kedepan akan dirivisi, semua pembangunan yang ada di kota ini harus memperhatikan potensi sungai tersebut.
Bahkan waktu segera akan dikeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang sungai, apalabila melanggar ketentuan tersebut maka akan diberikan sanksi berat, agar warga tidak coba-coba lagi menganggu keberadaan sungai tersebut.
Sebagai contoh saja setiap pembangunan jembatan yang menyeberangi sungai, bentuk jembatan  harus dibuatkan melengkung ke atas, agar angkutan  sungai dibawahnya tidak terganggu oleh keberadaan jembatan tersebut.
Bangunan rumah, bangunan pertokoan, kantor, dan bangunan fisik lainnya di pinggir sungai diharapkan tidak lagi belakangnya menjorok ke sungai, melainkan seharusnya muka bangunan menghadap ke sungai kemudian diberi halaman luas dengan taman-taman serta lampu-lampu hias sehingga sungai kian hidup.
Begitu juga dalam setiap pemberian ijin Mendirikan Bangunan (IMB) bakal tidak diberikan kepada mereka yang berusaha membangun bangunan fisik menganggu keberadaan sungai seperti di bantaran sungai.
Sementara bangunan yang sudah terlanjur berdiri di bantaran sungai sedikit demi sedikit akan dibebaskan agar seluruh sungai di kota ini akhirnya bebas dari bangunan fisik, kecuali pertamanan dan penghijauan.
Beberapa lokasi tepin sungai Banjarmasin yang sudah menjadi pertamanan lengkap dengan lampu hias, seperti di siring jalan Sudirman, Siring Metro City, halaman Hotel Boreno, halaman Balaikota Banjarmasin, depan Kantor Gubernur Kalsel, Jalan Pos, dan beberapa kawasan lainnya.
Melihat potensi sungai demikian begitu besar tidak salahnya kalau sungai dimanfaatkan bagi pembangunan kota, khususnya sungai sebagai daya tarik kepariwisataan, daya tarik perekonomian, dan daya tarik transportasi air.
Bahkan melihat sungai demikian telah banyak melahirkan penilaian bahwa Kota Banjarmasin merupakan sebuah kota paling unik, menarik di tanah air yang memiliki nilai jual tinggi ke belahan dunia lain sebagai kota wisata.
Sementara pemerhati lingkungan, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Dr Ir H Rusdi gembira keinginan Banjarmasin menyelamatkan sungai, sebab kalau melihat perilaku warga selama ini bisa jadi 50 tahun kota ini terancam tenggelam.
“Kebiasaan warga dengan  pola hidup selama ini membahayakan kota ini, dimana warga seenaknya membuang sampah ke sungai, melakukan pembangunan fisik dengan tidak memperhatikan kondisi lingkungan, yaitu sistim  pengurukan tanah hingga menghilangkan sungai, dan kawasan resapan air,”katanya.
Perkiraan tenggelamnya daratan kota ini bisa dilihat dengan kenaikan permukaan air di daratan Banjarmasin belakangan ini. Bila permukaan daratan semula hanya 15 Cm di bawah permukaan air laut, sekarang tinggi permukaan air laut bertambah 16 cm sehingga bila air pasang sedikit saja maka kota ini sudah terendam.
“Kondisi permukaan air di daratan Banjarmasin ini harus dicegah pertambahan, yang tentunya dengan kembali menata dan membatasi sistim kegiatan pengurukan tanah di kota yang sudah tua ini,” kata Dekan Fakultas Teknik Unlam di saat dialog mengatasi banjir Kota Banjarmasin, di balaikota.
Rusdi juga mengatakan seringnya banjir melanda kota ini saat diguyur hujan menandakan bahwa kota ini sudah sangat rawan bencana banjir.
“Bila kondisi ini tak segera diantisipasi.kedepan bila sedikit saja hujan maka banjir sudah bisa dirasakan kota ini, apalagi belakangan fenomena alam kian tak bersahabat, maka Banjarmasin bisa menjadi sasaran banjir,”katanya lagi.
Ancaman banjir kota ini selain kota ini tidak ditata juga terjadinya illegal loging, illegal mining di hulu sungai yang muara sungai mengarah ke Banjarmasin seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Apalagi tambahnya, dengan pengaruh global warning dengan mencairnya gunung es maka terjadi perubahan permukaan air laut yang terus meninggi yang pengaruhnya juga sampai ke Banjarmasin.
Atas banyak kekhawatiran semacam itulah, pembenahan Kota Banjarmasin yang selama ini banyak berorienrtasi ke daratan mencoba berpaling dengan berusaha membenahi sungai-sungai tersebut menjadi sebuah aset pembangunan untuk kemajuan ekonomi, kemajuan sosial budaya, dan kemajuan kota lainnya yang diharapkan melalui kekayaan sungai akan bisa mensejahterakan masyarakatnya.

REVITALILASI SUNGAI DI BANJARMASIN
Banjarmasin,3/4 (ANTARA)- Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin melalui kantor Dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase akan merevitalisasi sungai di wilayah ini.
“Pemko Banjarmasin menyediakan dana setidaknya Rp17,8 miliar pada tahun 2009 dalam upaya merevitalisasi sungai dan drainase,” kata Kepala dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase, Muryanta, kepada pers di Banjarmasin, Jumat.
Selama tahun ini, katanya, kegiatan proyek sungai akan dilakukan, baik bidang sungai besar maupun bidang sungai kecil.
Untuk bidang sungai besar, proyek yang dikerjakan adalah normalisasi sungai dengan pembangunan siring tiang pancang, yaitu pembangunan siring di Jalan Piere Tendean dengan nilai Rp9,8 miliar.
Selain itu, revitalisasi dan penataan bantaran sungai kawasan Ujung Murung melanjutkan pekerjaan sebelumnya dengan nilai Rp2,3 miliar.
Sementara proyek di bidang sungai kecil adalah normalisasi sungai Komplek Banjar Indah Permai dengan nilai Rp193,9 juta, normalisasi sungai Kompleks Beruntung Jaya Rp221,2 miliar, serta proyek normalisasi sungai di Jalan Jafri Zam-zam -Saka Permai Rp199,1 miliar.
Proyek di bidang sungai kecil juga meliputi normalisasi sungai antara Jalan Jafri Zam-zam ke arah Cendrawasih, normalisasi sungai Jalan A Yani kilometer enam yang merupakan anak sungai Pemurus.
Kemudian normalisasi sungai Jalan Belitung, sungai Jalan Surgi Mufti, dan normalisasi sungai di Jalan Pengembangan, tambahnya. Dia menyebutkan pekerjaan normalisasi sungai tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2008 lalu dalam upaya mengembalikan fungsi sungai.
Dalam kegiatan normalisasi sungai tersebut sudah banyak rumah penduduk di Bantaran Sungai yang dirobohkan, kemudian lahan bekas rumah diubah menjadi taman dan lampu-lampu hias dalam upaya mempercantik kota.
Sebagai contoh saja saat pembebasan perumahan di jalan veteran dan jalan Jafri Zam-zam.
Fungsi sungai di Banjarmasin selain untuk kepetluan sehari-hari manci dan cuci juga untuk transportasi, objek wisata, dan drainase.
Berdasarkan catatan, ada 107 sungai di Banjarmasin, tetapi 30 persen di antaranya sudah dinyatakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena pendangkalan, tercemar limbah, dan akibat pembangunan fisik perkotaan seperti perumahan dan pertokoan.

50 TAHUN KEDEPAN BANJARMASIN BAKAL TENGGELAM
Banjarmasin,23/2 (ANTARA)- Seorang pemerhati lingkungan, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Dr Ir H Rusdi HA menilai Kota  Banjarmasin yang merupakan ibukota propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), 50 tahun, terancam tenggelam jika perilaku masyarakat terhadap kota ini tak segera merubah.
“Kebiasaan warga dengan  pola hidup seperti sekarang jelas membahayakan terhadap kondisi kota ini, dimana warga seenaknya membuang sampah ke sungai, serta melakukan pembangunan fisik dengan tidak memperhatikan kondisi lingkungan, yakni dengan sistim  pengurukan tanah hingga menghilangkan kawasan resapan air,”kata guru besar Unlam itu kepada wartawan di balaikota Banjarmasin, Senin.
Perkiraan bakal tenggelamnya daratan Kota Banjarmasin bisa dilihat dari dengan kenaikan permukaan air di daratan Kota Banjarmasin belakangan ini.
Bila permukaan daratan Banjarmasin yang semula hanya 15 Cm di bawah permukaan air laut,  sekarang tinggi permukaan air laut bertambah 16 cm sehingga bila air pasang sedikit saja maka Banjarmasin sudah terendam.
“Kondisi permukaan daratan Banjarmasin ini harus dicegah pertambahan, yang tentunya dengan kembali menata dan membatasi sistim kegiatan pengurukan kota yang sudah tua ini,” kata Dekan Fakultas Teknik Unlam Banjarmasin ini  di sela-sela dialog mencari solusi mengatasi banjir Kota Banjarmasin, di aula Kayuh Baimbai balaikota Banjarmasin.
Dalam seminar seminar kerjasama Pemko Banjarmasin dengan Unlam tersebut, Rusdi juga mengatakan seringnya banjir melanda Banjarmasin pada saat diguyur hujan menandakan bahwa kota ini sudah sangat rawan bencana banjir.
“Bila kondisi ini tak segera diantisipai mulai sekarang, maka kedepan bila sedikit saja hujan maka banjir sudah bisa dirasakan kota ini, apalagi belakangan fenomena alam kian tak bersahabat, maka Banjarmasin bisa menjadi sasaran banjir,”katanya lagi.
Ancaman banjir di Banjarmasin ini selain kondisi kota yang tidak ditata sedemikian rupa hingga lingkungan terganggu, juga terjadinya illegal loging, illegal mining di hulu sungai yang muara sungai mengarah ke Banjarmasin seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Apalagi tambahnya, dengan pengaruh global warning dengan mencairnya gunung es maka terjadi perubahan permukaan air laut yang terus meninggi yang pengaruhnya juga sampai ke Banjarmasin.
Sementara Prof Dr Hadin Muhjad menilai dengan kondisi Banjarmasin yang kerap Banjir atau terendam ini belum terlambat jika mulai sekarang akan dilakukan antisipasi atau pencegahan dengan memberikan payung atau aturan hukum pada saat membangun kota ini diantaranya mengurangi pengurukan tanah saat pembangunan fisik.
Pejabat Sementara Kepala Dinas Drainase dan Sungai Kota Banjarmasin Ir Muryanta ST mengatakan dengan banyaknya persolan yang mengancam kota Banjarmasin, sudah saatnya Pemko mempunyai gagasan untuk mengembalikan pembangunan kota Banjarmasin berbasis Sungai, serta mengelurkan Perda tentang sungai.
“Saat ini ada 77 sungai yang masih hidup dan 30 sungai yang sudah mati, kedepan 30 sungai itu  akan dihidupkan lagi supaya kota Banjarmasin benar-benar bisa mengembalikan kota yang mempunyai julukan kota seribu sungai,” tambahnya.

rumah2 lanting