BANJARMASIN “DIHANTUI” KESULITAN AIR BERSIH

Oleh Hasan Zainuddin

air bersih
Banjarmasin,2/10 (ANTARA)- Banjarmasin sebagai ibukota seribu sungai tidak identik dengan mudahnya warga mendapatkan air bersih, bahkan perkiraan lima tahun kedepan wilayah yang berada di delta Tatas ini memasuki tahapan krisis air bersamaan dengan memburuknya resapan disekitar sungai Martapura.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Ir Muslih, di Banjarmasin, Selasa mengakui masalah ketersediaan air bersih jadi pemikiran perusahaannya.

muslih

 

Ir Muslih

 

Ketersediaan air bersih perusahaannya belakangan ini tergantung dengan Sungai Martapura yang berhulu ke Sungai Riam Kanan dan Sungai Riam Kiwa.

Padahal kedua sungai itu sudah mengalami pendangkalan akibat erosi setelah kawasan resapan air rusak lantaran banyaknya aktivitas di wilayah tersebut.

Bukti alam sudah rusak bisa dilihat kondisi bendungan Riam Kanan, dimana saat hujan sedikit saja maka sudah mengalami kebanjiran, dan bila kemarau debit air cepat sekali menyusut.

“Kalau alam di sekitar itu masih baik maka turun naik debit air di bendungan itu tidak terlalu besar, musim kemarau atau musim penghujan biasanya debit air tidak terlalu berpengaruh,” tuturnya.

riamkanan_800_600

 

Bendungan Riam Kanan menyusut

 

Tetapi sekarang ini turun naik debit air di bendungan Riam Kanan begitu drastis seakan tak ada lagi wilayah resapan air yang mampu menahan jumlah debit air tersebut.

Kalau kondisi tersebut terus berlanjut maka lima tahun kedepan air bersih akan sulit diperoleh,karena bila debit air di hulu sungai Martapura terus menyusut maka air laut akan masuk kedaratan dan terjadi kontaminasi kadar garam yang tinggi akhirnya air Sungai Martapura tersebut tak bisa diolah air minum.

Bila mengandalkan air tanah untuk wilayah ini tidak bisa diolah air minum karena kandungan besi dan asam terlalu tinggi, tuturnya.

Oleh karena itu, Muslih berharap semua pihak yang merasa prihatin kondisi tersebut, harus ikut memikirkan bagaimana agar resapan air di hulu sungai terpelihara, syukur-syukur kalau direhabilitasi.

Untuk mengatasi persoalan jangka pendek, PDAM Banjarmasin merencanakan membangun embung (penampungan air) skala besar dalam upaya persediaan air di musim kemarau.

Menurutnya rencana sudah cukup lama tetapi kini bertekad untuk direalisasikan, dan PDAM sudah miliki desain mengenai pembangunan embung tersebut dan kini berusaha mencari peluang dana ke pemerintah pusat dalam mewujudkan keinginan tersebut.

Selain berharap bantuan pemerintah PDAM juga mencoba melobi pemerintah provinsi Kalsel disamping mencari dana sendiri untuk kepentingan tersebut.

Bila dana sudah tersedia diharapkan tahun 2014 sudah mulai mengerjakan proyek tersebut dan pada tahun-tahun berikutnya embung yang berlokasi di Sungai Tabuk itu berfungsi sebagaimana mestinya yaitu penyangga kebutuhan air baku.

Kerusakan lingkungan

gue

Aku (penulis) di Tahura Sultan Adam
untuk ketersediaan air Sungai Martapura tergantung dari ketersediaan air di areal Pegunungan Meratus yakni di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam seluas 112 ribu hektare.

Tahura ini diakui sudah mengalami kerusakan lantaran kebakaran hutan, dan ditengarai juga akibat adanya penebangan kayu secara liar dan usaha pertambangan ilegal, dan kegiatan pemukiman.

Menurut Muslih kerusakan lingkungan di hulu bisa dilihat dari juga tingkat kekeruhan air Sungai Martapura yang begitu tinggi lantaran partikel lumpur dalam air yang pekat.

Tingkat kekeruhan air sungai yang ideal untuk diolah menjadi air bersih hanya 50 hingga 100 mto per liter, tetapi hasil laboratorium ternyata air Sungai Martapura pernah mencapai 500 hingga 1000 mto, malah kasus tertinggi capai 5000 mto per liter,kata Muslih.

Akibat kerusakan hutan di hulu sungai, menyebabkan terjadi erosi dan bila terjadi hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai terus mengalir kemuara hingga ke Banjarmasin.

Keluhan serupa bukan saja dirasakan PDAM Banjarmasin, tetapi juga PDAM di Kota Martapura Kabupaten Banjar, serta PDAM Kota Banjarbaru.

Bahkan menurut perkiraan, bila tidak ada upaya perbaikan kawasan Tahura yang dianggap sebagai wilayah “menara air” Kalsel itu, maka lima atau sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan kesulitan memperoleh air bersih untuk air minum.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani di lokasi Tahura Sabtu belum lama ini mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.

“Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,” katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Ketika ditanya adanya pemukiman di tengah hutan lindung Tahura tersebut, disebutkan terdapat 7000 jiwa di 12 desa penduduk. Penduduk sulit direlokasi ke luar kawasan masalahnya sudah turun temurun sebelum ditetapkannnya kawasan Tahura sebagai hutan lindung.

Walau perkampungan tersebut sulit dipindahkan tetapi keberadaan penduduk dinilai tidak merusak lingkungan, bahkan dinilai masih melestarikan lingkungan dengan tidak merusak hutan.

“Agar penduduk tidak merusak lingkungan,mereka dirangkul untuk memperbaiki lingkungan, seperti mereka dibiarkan berkebun tetapi kebun yang baik untuk kawasan resapan air, seperti perkebunan buah-buahan, kebun karet, serta reboisasi hutan”, katanya.

Menurut Muslih untuk mengatasi persoalan air bersih ke depan selain harus dilakukan rehabilitasi kawasan air juga perlu penanganan terhadap Bendungan Riam Kanan yang selama ini menjadi kunci ketersediaan air tawar untuk diproduksi air bersih.

Oleh karena itu ia menyarankan Bendungan Riam Kanan tersebut dikelola badan khusus agar lebih terpelihara dengan baik.

“Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, debit air di lokasi itu akan terus menyusut, sehingga daerah ini pasti akan kesulitan air,” katanya lagi.

Bendungan Riam Kanan sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan, misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.

“Lembaga tersebut bisa saja semacam badan usaha milik daerah (BUMD) atau dikelola badan usaha milik negara (BUMN),” katanya.

Ia mencontohkan di Korea Selatan ada bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni ¿Q-Water¿ dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.

“Pemerintah provinsi dan kabupaten diharapkan lebih serius memikirkan bendungan Riam Kanan, karena masalah air bersih vital bagi kehidupan masyarakat,” katanya.

kantor Kantor PDAM Bandarmasih

Iklan

SERANGAN MALARIA HANTUI MASYARAKAT KALIMANTAN SELATAN

(Oleh Hasan Zainuddin)
Banjarmasin,12/7 (ANTARA)- Malaria salah satu penyakit menular yang paling ditakuti masyarakat dunia kini telah menghantui sekitar tiga juta jiwa lebih masyarakat penghuni wilayah Propinsi Kalimantan Selatan.
Masalahnya sejak dulu hingga sekarang penyakit yang terbukti telah menimbulkan sejuta orang meninggal per tahun di seluruh dunia tersebut tak pernah bebas menyerang warga di wilayah paling Selatan pulau terbesar di tanah air ini, bahkan belakangan serangan yang ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut kian merajalela saja.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, drg.Rosehan Adhani ketika dikonfirmasikan wartawan saat mengikuti kegiatan coffie morning Gubernur Kalsel diaula Abdi Persada kantor Gubernur Kalse, Banjarmasin Rabu (11/7) membenarkan serangan malaria kini sudah mengkhawatirkan.
Empat Kabupaten/Kota dari 13 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Balangan, dan Banjarbaru serangan malaria sudah dinyatakan dalam kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan telah merenggut 22 orang korban meninggal dunia.
Di Kabupaten Banjar malaria menyerang warga Desa Paramasan dengan korban meninggal sebanyak 14 orang, enam orang warga dinyatakan positif mengidap malaria harus mendapatkan pengobatan secara rutin.
Di Kota Banjarbaru yaitu di Desa Landasan Ulin dan Syamsuddin Noor, satu orang meninggal, Kabupaten Balangan di Kecamatan Halong, tiga orang meninggal dan yang terakhir adalah Tanah Laut di desa Damit, dua orang meninggal.
Sementara itu, itu Kabupaten Tanah Bumnbu, satu orang meninggal dan Kabupaten Tabalong dua orang meninggal, Kendati ada warga yang meninggal akibat nyamuk malaria namun dua kabupaten tersebut tidak ditetapkan sebagai daerah KLB karena jumlah kasusnya tidak terlalu besar atau tidak meningkat drastis.
Khusus korban Malaria di Desa Damit kabupaten Tanah Laut yaitu kakak beradik atas nama Suga Hanok (8) dan Dakka Abraham (5) yang meninggal pada 26 Juni 2007.
Dari 30 penderita yang ditemukan di Desa Damit Hulu, 29 penderita dinyatakan terkena gigitan nyamuk plasmodium falsiparum dan 1 penderita disebabkan plasmodium vivax.
Menurut Rosehan, dari hasil survei yang dilakukan sejak Januari 2007, terdapat 747 warga yang tersebar di 13 kabupaten dan kota di Kalsel dinyatakan positif mengindap penyakit Malaria dari 2839 warga yang diperiksa.
Dari 13 kabupaten tersebut, kabupaten Tabalong merupakan kabupaten yang paling banyak penderita penyakit Malaria mencapai 374 penderita, selanjutnya yaitu, kabupaten Banjar mencapai 146 orang.
Kabupaten Tanah Laut dari 210 orang yang diperiksa 79 orang juga dinyatakan positif Malaria, Banjarbaru 59 orang penderita, Tanah Bumbu (Tanbu) 47 orang, Hulu Sungai Selatan (HSS),44 orang, Kotabaru 39 orang.
Selanjutnya di Kabupaten Balangan 12 orang, Banjarmasin, enam orang, Hulu Sungai Tengah (HST) lima orang, Barito Kuala (Batola) satu orang. Sedangkan dua kabupaten lainnya, Tapin dan HSU, dinyatakan bebas kasus malaria.
Meningkatnya serangan malaia di Kalsel cukup membingungkan masyarakat, masalahnya wilayah ini tak henti-hentinya melakkan penanggulangan terhadap penyakit menular bahkan sudah miliaran rupiah uang digunakan hanya dalam upaya pemberantasan berbagai penyakit menular ini.
Kebingungan lain bertambah lagi setelah melihat serangan malaria kini bukan saja di masyarakat pedalaman tetapi kini justru menyebar di perkotaan.
Di Kabupaten Banjar malaria menyerang 14 warga Desa Peramasan Atas, suatu desa yang jauh di Pedalaman tepatnya di atas Pegunungan Meratus yang sulit dijangkau petugas kesehatan, dan agaknya serangan itu sudah bisa dimaklumi.
Masyarakat pedalaman menganggap penyakit ini akibat “wisa” semacam penyakit yang dibuat orang atau guna-guna, sehingga seringkali warga hanya berobat kedukun, atau meminum ramuan tanaman lokal yang pahit, seperti akar penawar sampai, akat pepaya, atau biji langsat.
Tetapi belakangan penyakit malaria justru berada di perkotaan, contohnya saja di Landasan Ulin sebuah wlayah yang padat penduduk perkotaan masuk Kota Banjarbaru, dekat Bandara Syamsudin Noor, dekat dengan Kota Banjarmasin, bahkan dengan kota Banjarbaru Martapura.
“Ini pertanda apa,” kata Agus Mulyadi seorang warga Banjarbaru, apakah petanda alam Kalsel sudah rusak, sehingga penyakit malaria menyebar di perkotaan.
Perkiraan kian merebaknya penyakit malaria perkotaan akibat rusaknya alam Kalsel agaknya ada benarnya, sebab hasil penelitian Dinas Kesehatan Kalsel ternyata nyamuk penyebab penyakit ni banyak bersarang di lubang-lubang bekas galian penambangan batubara.
Usaha penambangan batubara Kalsel belakangan sudah tidak terkendali lagi dimana-mana terlihat lubang bekas galian usaha pertambangan yang telah memproduksi sedikitnya 60 juta ton batubara per tahun.
Perkiraan akibat rusaknya alam juga bisa dibuktikan dengan begitu banyak hutan lebat yang telah dibabat, kemudian menjadi hutan terbuka dan semak belukar yang merupakan habitat dari penyabaran nyamuk yang oleh penduduk Kalsel disebut sebagai Nyamuk Tiruk ini.
Kerusakan alam demikian telah menyebabkan kehidupan nyamuk secara fisik lebih besar dari nyamuk biasa dan kala menggigit kemanusia selalu nungging ini terus menyebar tak terkecuali ke perkotaan.
Pertumbuhan penduduk, migrasi, sanitasi yang buruk dan daerah yang terlalu padat, memudahkan penyebaran penyakit ini. Pembukaan lahan-lahan baru serta perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) telah memungkinkan kontak antara nyamuk dengan manusia yang bermukim di daerah itu.
Selain itu, perubahan iklim, perubahan lingkungan seperti penelantaran tambak, genangan air di bekas galian pasir juga penebangan hutan bakau, juga mempercepat penyebaran penyakit malaria. Hal itu diperparah dengan perpindahan penduduk dari daerah endemis ke daerah bebas malaria dan sebaliknya.
Apa itu malaria
Berdasarkan sebuah catatan yang ada dalam situs menyebutkan malaria adalah sejenis penyakit menular yang menyebabkan sekitar 350-500 juta orang terinfeksi dan lebih dari 1 juta kematian setiap tahun, terutama di daerah tropis dan di Afrika di bawah gurun Sahara.
Malaria disebabkan oleh parasit protozoa. Plasmodium (salah satu Apicomplexa) dan penularan vektor untuk parasit malaria manusia adalah nyamuk Anopheles. Ragam dari Plasmodium falciparum dari parasit ini bertanggung jawab atas 80 persen kasus dan 90 persen kematian.
Untuk penemuannya atas penyebab malaria, seorang dokter militer Prancis Charles Louis Alphonse Laveran diberikan Penghargaan Nobel untuk Fisiologi dan Medis pada 1907.
Gejala dari malaria termasuk demam, menggigil, arthralgia (sakit persendian), muntah-muntah, anemia, dan convulsion. Dan mungkin juga rasa “tingle” di kulit terutama malaria yang disebabkan oleh P. falciparum. Komplikasi malaria termasuk koma dan kematian bila tak terawat anak kecil lebih mungkin berakibat fatal
Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus plasmodium.
Penyakit ini memiliki empat jenis dan masing-masing disebabkan spesies parasit yang berbeda. Jenis malaria itu adalah Malaria tertiana (paling ringan), yang disebabkan plasmodium vivax dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama dua minggu setelah infeksi).
Kemudian malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria.
Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau dan kematian.
Malaria kuartana yang disebabkan plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama daripada penyakit malaria tertiana atau tropika gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala itu kemudian akan terulang lagi tiap tiga hari.
Malaria yang paling jarang ditemukan adalah yang disebabkan plasmodium ovale yang mirip dengan malaria tertiana.
Penyakit yang mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin dan menggigil) serta demam berkepanjangannya ini berasal dari nyamuk Anopheles sp. Ketika nyamuk anopheles betina (yang mengandung parasit malaria) menggigit manusia, akan keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk ke dalam darah dan jaringan hati.
Dalam siklus hidupnya parasit malaria membentuk stadium sizon jaringan dalam sel hati (stadium ekso-eritrositer). Setelah sel hati pecah, akan keluar merozoit atau kriptozoit yang masuk ke eritrosit membentuk stadium sizon dalam eritrosit (stadium eritrositer).
Disitu mulai bentuk troposit muda sampai sizon tua atau matang sehingga eritrosit pecah dan keluar merozoit.
Sebagian besar Merozoit masuk kembali ke eritrosit dan sebagian kecil membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap nyamuk malaria betina dan melanjutkan siklus hidupnya di tubuh nyamuk (stadium sporogoni).
Di dalam lambung nyamuk, terjadi perkawinan antara sel gamet jantan (mikro gamet) dan sel gamet betina (makro gamet) yang disebut zigot. Zigot berubah menjadi ookinet, kemudian masuk ke dinding lambung nyamuk dan berubah menjadi ookista. Setelah ookista matang akan pecah dan keluar sporozoit yang berpindah ke kelenjar liur nyamuk, dan siap untuk ditularkan ke manusia.

KABUPATEN HSS KALSEL KLB MALARIA, DUA MENINGGAL
    Banjarmasin, 31/1 (ANTARA) – Empat desa di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalimantan Selatan (Kalsel) ditetapkan sebagai daerah yang mengalami kejadian luar biasa (KLB) Malaria, setelah adanya 14 orang warga yang dirawat akibat positif gigitan nyamuk anopheles dan dua orang meninggal.
    Wakil Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Gusti Asykin Noor SpKJ, Kamis, mengungkapkan,empat desa yang kini sedang terkena serangan malaria tersebut, yaitu Desa Bajayau, Kecamatan Daha Barat, Tanjung Selor, Bajau Tengah, Badaun dan Desa Baru.
    Asyikin Noor yang didamping Kabid P2PL, Sukamto mengungkapkan, terungkapnya kasus malaria di HSS berawal dari ditemukannya 14 penderita malaria yang dalam perawatan rumah sakit HSS dan dua orang meninggal.
    Dengan ditemukannya kasus tersebut, tambahnya, tim dinas kesehatan provinsi dan kabupaten langsung mengadakan identifikasi ke desa Bajayau dan beberapa desa tetangga lainnya.
    Hasilnya dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap 68 orang, 40 orang diantaranya positif terkena serangan malaria.
    Bukan hanya melakukan pemeriksaan terhadap warga, petugas juga menemukan sebanyak 313 nyamuk anopheles yaitu nyamuk yang membawa dan menyebarkan bibit penyakit malaria.
    “Dari hasil investigasi yang dilakukan tim kesehatan, ternyata bibit penyakit malaria tersebut di bawa oleh warga yang baru datang dari kawasan tambang emas di gunung mayit Kabupaten Tanah Laut,” katanya.
    Usai bekerja di kawasan pertambangan, beberapa warga Bajayau pulang ke kampungnya, dan ternyata mereka itu menderita malaria dan dengan mudah menyebar ke beberapa warga dan desa lainnya.
    Akhir Desember 2007, KLB Malaria juga terjadi di Kabupaten Barito Kuala (Batola) di Desa Kolam Kiri Kecamatan Berambai. Puluhan warga juga terserang nyamuk Malaria.
    Dari hasil infestigasi, ternyata pencetusnya penyebaran penyakit tersebut juga berasal dari Gunung Mayit atau tambang emas di Tanah Laut.
    Mengantisipasi agar tidak terjadi penyebaran penyakit tersebut, petugas akan segera melakukan pengasapan di empat desa yang dinyatakan KLB Malaria, selain itu juga membagikan kelambu yang telah dicelup obat.
    Petugas kini juga mendirikan posko malaria, untuk menangani dengan cepat bila ada warga yang menunjukkan gejala penyakit serupa dengan penyakit yang telah banyak merenggut nyawa warga Kalsel tersebut.
    “Memutus mata rantai penularan penyakit mematikan tersebut, kini dinas kesehatan juga telah melakukan pengobatan massal dan selalu waspada dilokasi kejadian,” demikian Sukamto.

532 WARGA DI KALSEL TERSERANG MALARIA 5 MENINGGAL
    Banjarmasin, 20/2 (ANTARA) – Hingga saat ini serangan penyakit Malaria masih menghantui warga di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Barito Kuala (Batola).
    Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosehan Adhani, Rabu, mengungkapkan, sampai saat ini sudah 532 warga di Kecamatan Daha Barat, Kaliring Kabupaten HSS dan Kecamatan Jejangkit Batola positif terkena penyakit mematikan tersebut dan 5 orang meninggal dunia.
    Dari lima orang yang meninggal dunia akibat terlambat ditolong atau dilakukan pengobatan tersebut tiga orang warga HSS dan dua orang merupakan warga Batola.
    Saat ini, tambahnya petugas dinas kesehatan telah melakukan pengambilan sampel darah terhadap 384 warga di HSS, dan hasilnya sebanyak 136 warga positif mengidap penyakit malaria klinis, yang bisa menularkan.
    Dari hasil penelitian yang dilakukan tersebut, sebanyak 112 orang terkena gigitan nyamuk malaria dengan jenis Palsiparum dan 23 orang terkena gigitan nyamuk dengan jenis vivax.
     Masih tingginya serangnya nyamuk malaria di tiga kecamatan tersebut, hingga kini pemerintah belum mencabut status kejadian luar biasa (KLB) yang telah ditetapkan sejak beberapa bulan lalu.
    Diungkapkannya, saat ini pihak telah melakukan antisipasi dengan cara membagikan kelambu tidur yang telah disemprot obat anti malaria, memberikan pengobatan, melakukan penyemprotan agar nyamuk pembawa penyakit malaria tidak terus berkembang.
    Selain itu, menempatkan petugas medis untuk selalu siaga di tiga kecamatan tersebut, untuk segera melakukan pertolongan pertama bila ada warga yang sewaktu-waktu mendapatkan serangan penyakit mematikan tersebut.
    Bukan hanya itu, tambah Rosehan, Kamis (21/2) Dinkes Kalsel juga akan merekrut tenaga kontrak paramedis sebanyak 12 orang untuk ditempat di seluruh daerah yang rawan serangan malaria, terutama dikawasan pegunungan meratus.
    Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit malaria merupakan penyakit yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pihaknya, karena selalu menyerang dalam setiap tahun dan menimbulkan kematian.
    Pada 2007, 9289 warga yang tersebar di Kalsel dinyatakan positif menderita penyakit malaria, dan 31 orang meninggal dunia.
    “Kita berharap pada 2008 ini akan terjadi penurunan kasus yang signifikan, dengan mulai tumbuhnya kesadaran masayrakat tentang menjaga lingkungan tetap bersih dan segera berobat bila terserang gejala malaria,” katanya.
    Apalagi dengan ditempatkannya 12 petugas paramedis yang akan dikontrak selama satu tahun untuk bertugas di daerah yang selama ini endemis malaria, demikain Rosehan.