“SAHUR BERSAMA” BUDAYA BARU ERATKAN TALI SILATURAHMI

rudy ariffin

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/7-2016 ()- Saling salam-salaman dan peluk-pelukan lalu duduk saling berhadap-hadapan seraya ngobrol dan sedikit sambutan setelah itu doa lalu makan secara bersama-sama pula.

Itulah budaya sahur bersama yang sudah tujuh kali dilakukan oleh Rudy Ariffin selagi masih menjabat gubernur Kalimantan Selatan dua periode, ketika tibanya bulan Ramadhan dengan kalangan wartawan di wilayah paling selatan pulau terbesar nusantara ini.

“Saya kangen ketemu teman-teman wartawan, kebetulan saya juga terima SMS yang menanyakan masih adakah sahur bersama dengan wartawan, walau saya sudah tak lagi Gubernur Kalsel, saya jawab tentu tahun ini tetap ada,” kata mantan gubernur Kalsel Rudy Ariffin seraya disambut tepuk tangan sekitar 50 wartawan yang hadir dalam acara sahur bersama tersebut.

Sahur bersama dengan mantan orang nomor satu di Kalsel itu berlangsung Minggu (3/7) dini hari di kediamannya di Kota Banjarbaru, sekitar 40 Km Utara Banjarmasin.

“Insya Allah jika ada umur, sahur bersama semacam ini tetap kita gelar di tahun-tahun mendatang, saya senang cara-cara ini karena mampu meningkatkan tali silaturahmi, dan bisa mencairkan kebuntuan komunikasi diantara kita,” kata Ketua DPW PPP Kalsel tersebut yang meletakan jabatan selalu gubernur Kalsel sekitar delapan bulan lalu.

Hadir kala itu Ketua PWI Kalsel Faturahman serta seluruh unsur pengurus PWI dan sejumlah wartawan, disamping datang pula anggota DPR RI dua periode, HM Aditya Mufti Ariffin dari PPP asal daerah pemilihan provinsi Kalsel yang juga putra dari Rudy Ariffin.

Selain itu terlihat pula Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarbaru, Komandan Kodim Kabupaten Banjar, serta Kapolres Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.

Rupanya, gaya kepemimpinan Rudy Ariffin dengan menggelar atraksi sahur bersama dengan berbagai unsur masyarakat tersebut, belakangan menjadi trend baru, sehingga bukan saja digelar di kalangan pejabat, tetapi juga sudah merasuki budaya di kalangan pengusaha, tokoh masyarakat, dan komunitas.

Bahkan Gubernur Kalsel periode 2016-2020 Haji Sahbirin Noor melanjutkan budaya tersebut dan menggelar sahur bersama pula dengan wartawan pada Selasa (28/6) lalu.

Dalam acara sahur tersebut Gubernur mengaku gembira bisa bertatap muka dengan hampir seluruh wartawan yang ada di Banjarmasin, hingga saling mengenal satu sama lain, dan saling tukar pendapat.

Karena menurutnya pers mempunyai peran besar dalam pelaksanaan dan menyukseskan pembangunan, seraya mengharapkan agar insan pers di Kalsel terus meningkatkan peran dan partisipasi untuk kemajuan pembangunan dan masyarakat daerah ini khususnya.

Begitu juga tanpa pers sulit untuk memotivasi atau mengajak masyarakat supaya bersama-sama pula mamajukan banua Kalsel agar masyarakatnya lebih sejahtera, tuturnya didampingi Wakil Gubernur setempat H Rudy Resnawan, pada acara sahur yang digelar di rumah dinas Jalan R Soeprapto Kota Banjarmasin tersebut.
Atraksi wisata

Bertemu masyarakat dan seraya makan sahur bersama yang sudah sering dilakukan gubernur Kalsel itu kini juga sudah dilakukan beberapa kali oleh Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Bahkan Ibnu Sina setiap kali acara sahur bersama dengan para pejabat lingkup Pemkot setempat, dengan unsur kepolisian, serta komunitas sekaligus bertindak sebagai penceramah dan Imam Sholat Subuh.

“Saya bahagia bisa bertemu semua kalangan saat sahur bersama, banyak keluhan masyarakat yang disampaikan untuk perbaikan di kota ini, dan itu saya tampung dan saya akan perhatikan untuk menjadikan kota Banjarmasin sesuai motto “Baiman” atau barasih wan nyaman,” kata wali kota dari unsur partai politik PKS ini.

Berdasarkan catatan, Wali Kota Ibnu Sina menghadiri sahur bersama dengan pihak Sapol Air Polresta Banjarmasin, dan bersama pedagang pasar terapung, bersama komunitas lingkungan, terakhir bersama Balakar 654, sebuah organisasi regu pemadam kebakaran di kota Banjarmasin.

Saat menghadiri “Sahur On The River” (SOTR) III atau Sahur Susur Sungai yang oleh Satuan Polisi Air (Sapol air) Polresta Banjarmasin Sabtu (25/6) dinihari lalu wali kota menilai acara ini memiliki keunikan, sahur bersama dengan ratusan orang, di tepian sungai, di lokasi objek wisata keagamaan lagi.

Menurut dia, SOTR ini semestinya lebih sering dibudayakan. Bukan saja untuk meningkatkan tali silaturahmi, tetapi merupakan salah satu bentuk syiar agama. Yang tidak kalah penting, SOTR di kota seribu sungai ini menjadi atraksi wisata yang tak ada ditemui di belahan banua manapun.

“Saya sudah banyak tanya, tak ada seorang pun menjumpai acara sahur bersama, di lokasi pinggiran sungai yang dihadiri ratusan orang,” kata Ibnu Sina lagi.

Ke depan, kata dia, Pemkot akan melibatkan diri dalam kegiatan semacam ini, dan bahkan mungkin akan menjadi kalender kepriwisataan yang di tawarkan kepada wisatawan, khususnya wisatawan keagamaan.

“Ayu kita menikmati wisata sungai dengan menyusuri kehidupan air, seraya makan sahur bersama,” kata Ibnu Sina dengan nada ajakan.***4***

Iklan

MENGANGKAT KEMBALI BUDAYA BADADAMARAN SELAMA RAMADHAN

          Oleh Hasan Zainuddin
          Banjarmasin, 17/9 (ANTARA)- Sekelompok anak muda menyalakan obor terbuat dari minyak tanah sambil bercanda ria di tengah suasana kampung yang terang benderang sambil menggelolarkan budaya Badadamaran di malam bulan Ramadhan.
         Sesekali mereka bersuara agak kencang dengan kata-kata “kalah kampung di hulu, kalah kampung di hilir, manang kampung tengah,” seakan menandakan bahwa kelompok anak muda yang berada di kampung (desa) tengah tersebut memenangi gerakan menyalakan lampu malam Ramadhan tersebut.

          Kebiasaan menyalakan lampu obor, atau penerangan apa saja di saat malam-malam Ramadhan yang disebut budaya Badadaran merupakan budaya yang sudah turun temurun di dalam masyarakat Suku Banjar yang mendiami kawasan Kalimantan Selatan (Kalsel) khususnya lagi di kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel).
          Tak ada yang tahu persis mengapa budaya tersebut sudah ada sejak turun temurun di dalam masyarakat yang tinggal di pulau terbesar Indonesia tersebut, namun perkiraan hal itu muncul setelah para ulama tempo dulu menganjurkan umat Islam supaya menyemarakkan datangnya ramadhan dengan memberikan penerangan di muka rumah masing-masing.
         Tujuannya agar umat Islam yang ingin bepergian ke masjid, ke surau untuk melaksanakan shalat tarawih berjemaah akan mudah, atau melakukan ibadah lainnya.
         Menurut berbagai cerita tetuha masyarakat di bilangan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Baangan, atau sekitar 210 Km Utara Banjarmasin berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menyemarakan budaya memberikan penerangan di pekarangan rumah di malam-malam Ramadhan tersebut.
         “Waktu dulu karena tak ada alat yang mudah untuk menyalakan lampu penerangan di depan rumah, maka penduduk di wilayah Banua Enam (dulu masih Banua Lima) karena masih belum ada pemekaran kabupaten di  Kalsel ini, memanfaatkan gatah kayu damar untuk disulut menjadi obor, sebagai alat penerangan,” kata Wahyudin penduduk Desa Panggung.
         Akibat kebiasaan menyulut getah kayu damar yang dinamakan damar tersebut maka budaya penerangan tersebut disebut Badadamaran, tambahnya.
         Seiring perkembangan zaman di saat getah kayu damar sulit diperoleh maka selanjutnya warga setempat menggantikan damar dengan karet lembaran kering yang setelah disulut dengan api lalu menyala menjadi obor.
         Agar memudahkan menyalakan karet tersebut  maka dibuatkan wadah yang terbuat dari batang pisang, pelepah daun rumbia, atau menggunakan bambu.
         Tempat membakar karet tersebut pun di bentuk-bentuk ada yang menyerupai kapal terbang, menyerupai binatang, menyerupai rumah-rumahan dan sebagainya, sehingga ketika deretan karet yang dinyatakan di tempat itu maka terlihat indah.
         “Biasanya antar kelompok pemuda di kampung berbeda seakan berlomba membuat lokasi Badadaran seindah mungkin, agar dikatakan berjaya dalam arena Badadamaran tersebut,” kata Wahyudin.
         Pada perkembangan berikutnya, bukan saja karet yang dibakar tetapi sudah lebih modern dengan menempatkan batang-batang lilin di tempat-tempat yang dibuat untuk budaya Badadamaran tersebut, bahkan deretan ampu templok menggunakan minyak tanah.
         Lalu setelah zaman terus berkembang pada tahap berikutnya, budaya Badadamaran khususnya di kampung-kampung tertentu sudah pula memanfaatkan lampu lampion atau lampu berhias yang disebut tanglong.
         Bahkan perkembangan terakhir setelah listrik masuk desa ke seluruh wilayah Kalsel memasang lampu penerangan di depan rumah dengan bahan seadanya yang semakin berkurang, bahkan di ganti bola-bola listrik kecil warna warni menghiasi depan rumah dan pinggir jalan desa-desa tersebut.
         Akhirnya memasuki era tahun 90-an dan tahun 2000-an ini, budaya Badadamaran nyaris menghilang karena banyak warga menggantikannya dengan lampu listrik kecil kerlap-kerlib.
         Ketika penulis melakukan perjalan dari Banjarmasin ke wilayah Banua Enam  beberapa hari lalu tak melihat tradisi khas saat Ramadhan seperti “badadamaran” menyulut lampu minyak tanah atau obor karet di tepi jalan atau di muka rumah.
         Beberapa penduduk Banua Enam menuturkan budaya Badadamaran tersebut, mulai menghilang sejak berhasilnya program pemerintah menggalakkan listrik masuk desa yang hampir mencapai seluruh
wilayah Kalsel.
         “Perkiraan budaya Badadamaran ini sudah mulai hilang sekitar satu dasawarsa lalu. Tadinya walau listrik sudah menyala di desa namun ada saja warga yang melakukan budaya tersebut, tetapi belakangan ini benar-benar sudah hilang,” kata seorang penduduk.
         Selagi budaya tersebut masih marak, kedatangan bulan Ramadhan begitu terasa, sebab sepanjang desa yang tadinya gelap gulita tak ada penerangan menjadi suasana terang benderang. Setiap buah rumah menyalakan lampu-lampu di tepi jalan atau depan rumah dengan jumlah beberapa buah.
         Melihat kenyataan menghilangnya budaya tersebut maka melahirkan keinginan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin pada bulan Ramadhan tahun 1429 hijriah atau tahun 2008 ini kembali membudayakan kebisayaan masyarakat suku Banjar, menggelar atraksi budaya “badadamaran.”
    “Badadamaran atau menyalakan lampu penerangan sebanyak mungkin di pekarangan rumah selama bulan Ramadhan, khususnya masuk malam ke 21 Ramadhan atau malam selikur,” kata Walikota Banjarmasin. Haji Yudhi Wahyuni.
         Untuk mensukseskan tersebut pihak Pemko Banjarmasin melalui Dinas Tata Kota (Distako) dan Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokum) akan membuat surat edaran yang ditujukan kepada seluruh pemilik rumah, pemilik toko, pemilik bangunan yang ada di Banjarmasin untuk membuat lampu penerangan berhias atau tanglong di depan rumah atau toko masing-masing.
         Pihak pemko Banjarmasin sendiri akan membangun lampu berhias atau tanglong di median jalan-jalan protokol, seperti jalan Sudirman, jalan Lambung Mangkurat, serta Jalan Hasanudin HM, agar jalan-jalan protokol tersebut semarak oleh lampu berhias khususnya memasuki malam ke-21 hingga malam lebaran.
         Selain itu Pemko Banjarmasin meminta kepada seluruh camat dan lurah untuk berbuat serupa beramai-ramai membuat tanglong atau lampu penerangan di lokasi kecamatan atau kelurahan hingga ke kampung-kampung agar Ramadhan tahun ini semarak dengan lampu penerangan.
         “Kepada kelurahan yang ternyata berdasarkan penilaian menciptakan suasana bulan Ramadhan dengan budaya badadamaran yang semarak akan memperoleh hadiah dari pemko Banjarmasin, juara yang diberikan hadiah dari kelurahan juara I hingga kelurahan juara III,” kata Walikota Banjarmasin.
         Berdasarkan berbagai keterangan budaya badadamaran ini beberapa tahun belakangan ini kian jarang dilakukan masyarakat, terutama setelah masuknya energi listrik ke berbagai pelosok kampung bukan sana di Kota Banjarmasin tetapi hingga ke pelosok desa Kalsel.
         Beberapa anggota masyarakat Banjarmasin menyambut baik prakarsa Pemko Banjarmasin menyemarakan kembali budaya yang sudah hilang tersebut, bahkan beberapa anggota masyarakat sudah menyiapkan beberapa lampu lentera yang bakal dihias  menjadi lampu tanglong yang akan ditempatkan di tepi-tepi jalan dan pekarangan rumah.
         “Kita berharap pembudayaan kembali Badadamaran tersebut, akan membangkitkan semangat menyambut Ramadhan dan bisa bernostalgia di kala masih anak-anak dulu,” Kata Kaspul warga Banjarmasin yang berasal dari Banua Enam tersebut.

PASAR WADAI RAMADHAN BANJARMASIN OBJEK WISATA KULINER TAHUNAN

     Oleh Hasan Zainuddin
      Banjarmasin,2/9 (ANTARA)- Mulyadi seorang usahawan pertambangan di Kalimantan Selatan (Kalsel) hilir mudik di kawasan Pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair) di Jalan Sudirman tepatnya dipinggiran Sungai Martapura Banjarmasin,
      Sesekali ia berucap “dimana ya langganan saya membeli kue (penganan) amparan tatak yang enak dan lezat, di pasar wadai ini.”
      Mulyadi yang beserta anak buahnya ke lokasi pasar wadai tersebut akhirnya menemukan kios seorang ibu penjual kue dari puluhan kios kue di pasar yang hanya berdiri  hanya bulan Ramadhan tersebut, seraya membeli beberapa potong kue untuk dibawa pulang.
      “Saya sudah terbiasa membeli kue di lokasi kios milik ibu itu, walau ada kue sejenis di tempat lain, tetapi rasanya menurut saya paling enak punya ibu itu,”katanya seraya menunjuk bu haji penjual kios di pasar wadai Banjarmasin tersebut.
      Lain lagi, beberapa orang wisatawan asal Jepang yang dipandu seorang pramuwisata datang ke pasar wadai, dengan membidik-bidikan kamera digitalnya, para wisatawan tersebut lebih tertarik dengan masakan yang terbuat dari ikan-ikan lokal, seperti saluang goreng, lais pepes, haruan baubar, baung gangan asam, serta gangan batanak (ikan asin gabus digulai).
      Sementara beberapa pengunjung yang lain bergerombol menyerbu sebuah kios yang khusus menjual burung balibis goreng, burung puyuh dan burung punai goreng.

 

Ramadhan Cake Fair
      Di lokasi pasar kue tahunan yang dikelola Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Banjarmasin ini memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional khas suku Banjar, di Kalsel, seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, cincin, untuk-untuk, gagatas,onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh,bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.
     Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas Kalsel, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.
     Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Drs.Rudy Ariffin, saat membuka kegiatan tahunan Senin 1 September 2008 itu menyatakan, pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair) yang berlangsung setiap bulan Ramadhan di Kota Banjarmasin dinyatakan sebagai objek wisata kuliner di wilayah Kalsel.
      Dinilai sebagai wisata kuliner lantaran keberadaan Pasar Wadai Ramadhan menyediakan aneka penganan (kue) dan makanan khas suku Banjar, yang sebagian sulit ditemukan di hari biasa.
      Mengingat pasar wadai Ramadhan objek wisata kuliner maka akan terus dipublikasikan ke penjuru tanah air dan penjuru dunia dalam kaitan memancing minat wisatawan datang ke Banjarmasin, kata Rudy Ariffin didampingi Walikota Banjarmasin, Yudhi Wahyuni.
      Menurut Rudy Ariffin yang merupakan putra asli suku Banjar tersebut, keberadaan pasar Wadai dinilai sebagai objek wisata kuliner lantaran di lokasi ini dijual aneka ragam penganan, makanan dan minuman khas suku Banjar Kalsel. Selain itu juga tersedia aneka penganan dan makanan yang berasal dari suku-suku yang ada di tanah air.
      Sebagian kue dan makanan khas Kalsel yang dijual itu jarang ditemukan di hari biasa kecuali di bulan Ramadhan seperti wajik, bingka, lamang, sarimuka, putri malu, kraraban,amparan tatak, papare, kelepon, kikicak, bingka barandam dan kue lainnya.
       Melihat banyaknya kue tradisional yang khas tersebut, maka pasar wadai Ramadhan tidak hanya diminati kaum muslimin saja, tapi juga oleh warga non-muslim serta kalangan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.
      Kekhasan atraksi wisata dan juga atraksi budaya pasar wadai ini maka keberadaanya sudah menjadi event wisata tahunan dan bagian dari kalender kebudayaan Kalsel, yang bisa mendukung Visit Indonesia Year tahun 2008 serta visit Kalsel tahun 2009 mendatang, kata Rudy Ariffin.
      Gubernur Kalsel juga berharap pasar wadai dapat memenuhi kebutuhan untuk berpuka puasa kaum muslimin di wilayah ini, karena itu diingatkan kepada para pedagang agar memperhatikan segala aspek, seperti stabilitas harga, kebersihan, kesehatan, kualitas, serta variasi produk dagangan.
      “Bila pedagang bisa menjaga segala aspek tersebut di atas maka lokasi ini benar-benar akan memancing para pembeli, pada akhirnya mampu menjadikan pasar wadai sebagai lokasi wisata kuliner bagi semua orang,” katanya.
      Walikota Banjarmasin, Haji Yudhi Wahyuni menuturkan (Pemko), Banjarmasin melalui kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat kembali menggelar event wisata tahunan, Pasar Wadai Ramadhan di pusat kota Banjarmasin untuk memancing kunjungan wisatawan.
      Pasar wadai (kue) ini sudah menjadi kalender kepariwisataan yang terus dipromosikan sebagai atraksi wisata, budaya, dan keagamaan.

 


      Menurutnya, pegelaran pasar wadai tahun inipun, bukan semata kegiatannya sebagai ajang penjualan kue dan penganan lainnya, tetapi kegiatannya tetap dipadukan dengan atraksi seni budaya bernuansa kedaerahan Kalsel, serta nuansa keagamaan Islam.
      Sebagai atraksi wisata, budaya, dan agama, maka lokasi pasare wadai akan didesain sedemikian rupa dengan tetap lebih menonjolkan kebudayaan daerah dan keagamaan, dimana kue-kue yang dijual sebagian besar produk lokal atau kue tradisional, bahkan diantaranya ada yang hampir punah.
     “Makanya, kebaradaan pasar wadai ini juga bisa menjadi ajang nostalgia orang-orang suku Banjar, baik yang ada di Kalsel, maupun yang ada di luar Kalsel, seperti dari Pulau Jawa atau Tembilahan Provinsi Riau yang datang khusus untuk menikmati kue-kue nostalgia tersebut,” tuturnya.
     Tujuan lain mendirikan pasar wadai ini, kata Yudhi Wahyuni guna memberikan pelaung untuk terbukanya lapangan pekerjaan setidaknya selama bulan Ramadhan, meningkatkan roda perekonomian masyarakat dan menekan angka pengangguran.
     Hal lain yang bisa diambil manfaat keberadaan pasar wadai adalah memberikan peluang kepada masayarakat untuk melaksanakan invonasi dan pengembangan kreativitas seni dan budaya lokal yang bermanfaat bagi dunia kepariwisataan.
      Berdasarkan catatan, keberadaan pasar wadai Ramadhan di Banjarmasin tersebut dimulai pada tahun 1985, ketika walikota Banjarmasin saat itu, Haji Kamarudin yang melihat begitu banyaknya penjual wadai di berabagai sudut kota saat puasa yang bukan saja semrawut tetapi juga merusak mandangan.
     Oleh karena itu, atas kebijakannya kemudian para pedagang wadai tersebut dikumpulkan menjadi satu lokasi yang pertama berada di Jalan RE Martadinata. Dengan berkumpulnya pedagang wadai itu memperoleh sambutan positip masyarakat Umat Islam karena memudahkan mereka mencari hidangan berbuka puasa.
     Tetapi respon cukup menarik justru datang dari kalangan wisatawan, dimana banyak sekali kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut. Akhirnya oleh Pemko Banjarmasin bahkan oleh Pemprop Kalsel, lokasi itu lebih dikembangkan yang tak sekedar tempat berjualan tetapi sebagai atraksi wisata tahunan dan atraksi budaya hingga populer sampai sekarang.  ***2***
      Fungsi lain
      Keberadaan pasar wadai ini menureut Walikota Banjarmasin tak semata untuk menjual penganan dan makanan tetapi masih banyak fungsi lainnya, sebagai contoh saja sebagai wahana meningkatkan nilai budaya dalampengembangan seni dan budaya.
      “Kita hampir setiap hari menggelar seni khas suku Banjar di lokasi ini, pada tahun ini ada kesenian kasidah, ada keseniah hadrah, melukis, seperti digelar lomba-lomba, seperti lomba azan, lomba mewarna, lomba tausyiah, serta aneka pertunjukan tradisional lainnya,” kata walikota kepada sejumlah wartawan yang memawancarainya.
      Namun sebagian orang menjadikan pasar wadai sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa).
      Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk ngabuburit.
      Sebagai objek wisata maka keberadaan pasar ini pun diciptakan sedemikian rupa bernuansa budaya Suku Banjar yang merupakan suku terbesar di daratan Kalsel.
    Menurut penuturan Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Banjarmasin Hesly Junianto SH, pasar ramadhan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.
     Mulai tahun 80-an oleh Pemko Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Ramadhan Cake Fair. Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.      
    Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar biasanya pula digelar berbagai pertunjukan rakyat, seperti madihin, lamut, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.
    Setiap pertunjukan selalu saja memperoleh sambutan hangat dari masyarakat, terutama kawula muda yang berdatangan bukan saja dari Kota Banjarmasin sendiri tetapi dari kota sekitarnya. Seperti tahun ini, lokasi pertunjukan persis di tengah pasar sehingga memudahkan pengunjung untuk menikmati seni tradisi tersebut.
     Sementara itu Kepala Kasubdin Daya Tarik Wisata dan Seni Dinas Pariwisata Seni dan Budaya setempat Noor Hasan, mengatakan kegiatan ini tidak hanya  dimaksudkan untuk melestarikan seni budaya setempat, tetapi juga untuk melestarikan penganan tradisional khas Sulsel.
     “Banyak penganan (kue) yang hampir punah lantaran jarang ditemui di hari biasa, bisa ditemukan pada saat pegelaan pasar Ramdahan ini, yang membuktikan kegiatan tahunan ini mampu melestarikan budaya membuat penganan tersebut,” kata Noor Hasan.   
    Masyarakat suku Banjar yang tinggal di Kalsel dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kekayaan budaya khususnya penganan tradisional, namun beberapa jenis penganan tersebut kini nyaris punah.
    Di antara penganan tersebut seringkali dibuat hanya kebutuhan ritual atau kebutuhan kenduri karena diyakini kue-kue itu kalau dimakan diyakini akan membawa berkah.
         Penganan itu hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.
    “Lihat saja makanan kecil, kue kering, snack, mie instan, kacang-kacang keluaran perusahaan besar seperti PT Indofood menyebar hingga ke pelosok pedesaan yang mendesak makanan khas asli daerah setempat,” kata Aminah, pedagang kue tradisional di Banjarmasin.
    Makanan modern tersebut datang melalui pedagang eceran menawarkan dengan harga sangat murah. Ada satu bungkus kue kering keluaran PT Indofood dijual hanya Rp250 per bungkus, sedangkan kue tradisional dijual Rp500 per buah.
    Karena lebih murah dan punya kemasan serta tahan lama maka kue modern dari perusahaan besar itu benar-benar menjadi pilihan masyarakat, akibatnya kue tradisional kurang dihiraukan lagi.
     Melihat kenyataan tersebut maka kehadiran pasar Ramadhan disambut hangat masyarakat, bukan saja sarana hiburan, atau lokasi ngabuburit serta objek wisata, tetapi sebagai sarana pelestarian penganan khas Kalsel tersebut.

 

 

 

PASAR WADAI SURGA PENIKMAT MAKANAN TRADISIONAL
          Bunyi tabuhan beduk sebagai tanda saatnya berbuka puasa bagi umat muslim masih sekitar dua jam lagi, namun kawasan Jalan Sudirman Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel) sudah sesak dengan pengunjung.
         Tak kurang dari seribu warga memadati kawasan yang terletak di tepi Sungai Martapura itu. Umumnya tujuan mereka jalan-jalan sambil membeli makanan di Pasar Wadai untuk berbuka puasa.
         Setiap bulan Ramadhan, Jalan Jenderal Sudirman memang disulap Pemko Banjarmasin menjadi kawasan Pasar Wadai, sebuah pasar yang menjajakan masakan-masakah tradisional khas Kalsel.
         Pada bulan Ramadhan tahun ini sebanyak 143 pedagang berjualan di Pasar Wadai. Bahkan mencapai 200 pedagang jika ditambah dengan pedagang yang tak resmi.
         Para pedagang resmi menempati tenda yang disediakan panitia. Tenda berwarna biru tersusun rapi di pinggiran Sungai Martapura. Di dalamnya memanjang meja yang terbuat dari kayu sebagai tempat para pedagang Pasar Wadai memajang dagangannya.
         Sedangkan pedagang yang tak resmi memajang dagangannya di pinggir trotoar, di pinggir jalan dan ujung jalan tapi tak terlalu jauh dari lokasi pedagang resmi.
         Pasar Wadai Ramadhan, sebenarnya bukan hanya di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, beberapa tempat di Banjarmasin terdapat pasar wadai, hanya saja tempatnya lebih kecil dan makanan yang dijual tak selengkap Pasar Wadai yang berada di depan kantor Gubernur Kalsel itu. 
    Bagi warga Banjarmasin, tak lengkap rasanya jika tak mengunjungi Pasar Wadai, karena pasar itu hanya ada pada bulan Ramadhan. Tak hanya itu kue-kue yang jual pun beragam dan hanya bisa dijumpai pada bulan Ramadhan.
         Umumnya kue yang dijual di pasar adalah kue tradisional khas Banjar, seperti bingka kentang, putri selat, lapis India dan bingka berandam.
         Selain kue, berbagai masakan Banjar juga dijual di pasar ini, seperti iwak pais, iwak masak habang, pais seluang, gangan waluh, sayur umbut dan itik panggang.
         Kue-kue tradisional itu pula yang menjadi daya pikat setiap pengunjung terutama penikmat makanan tradisional untuk datang ke Pasar Wadai. Bahkan, banyak pengujung dari luar daerah datang ke Banjarmasin hanya ingin berwisata kuliner di Pasar kebanggaan warga banua ini.
         “Sudah tiga hari saya di Banjarmasin. Saya tak memiliki saudara di kota Seribu Sungai ini, saya ke sini hanya sekadar ingin melihat dan membeli kue tradisional di pasar wadai. Kebetulan saya memang penggemar makanan tradisional,” kata Dodo, warga Jakarta. 
    Warga Banjarmasin biasanya mulai menyerbu pasar wadai sekitar pukul 16.00 Wita, bersamaan dengan pedagang makanan tradisional itu mulai menggelar dagangan mereka. Pengunjung mencapai puncaknya sekitar pukul 18.00 Wita dan mulai berkurang menjelang buka puasa.
         Selain berburu makanan tradisional, ada juga warga Banjarmasin datang ke Pasar Wadai sekadar jalan-jalan sambil menunggu beduk ditabuh sebagai tanda buka puasa telah tiba.
         Bagi warga menunggu saat berbuka puasa tak terasa jika sudah berada di pasar wadai, karena selain kue dan makanan, perhiasan dan kebutuhan rumah tangga juga banyak dijual di pasar itu.
         “Setiap hari saya ke pasar wadai, selain membeli kue juga jalan-jalan sambil menunggu waktu berkuka puasa,” ujar Yuli, warga Jalan Jafri Zam Zam, Banjarmasin saat berada di pasar wadai.  

panggung hiburan ditengah keramaian pengunjung pasar wadai

 

        

   Satu-satunya di Indonesia
    Warga Banjarmasin harus bangga dengan kehadiran pasar wadai setiap bulan Ramadhan, sebab sejumlah pengunjung dari luar daerah mengaku kagum dengan pasar wadai, karena makanan yang dijual bevariasi dan mengutamakan makanan tradisional.
         Tak hanya itu, Kalsel hanya satu-satunya daerah di Indonesia yang memikiki pasar wadai Ramadhan. Di daerah lain tak mungkin ditemui pasar seperti ini.
         Karena kekhasan itu pula yang “mengetuk” hati para pejabat di Kalsel untuk menjadikan Pasar Wadai sebagai salah satu objek wisata andalan Kalsel. 
    Gubernur Kalsel Rudy Ariffin dalam sambutannya saat acara pembukaan Pasar Wadai, mengatakan, Pasar Wadai Ramadhan merupakan objek wisata kuliner di Kalsel yang sudah menjadi kalender tahunan.
         Gubernur berjanji akan terus mempromisikan Pasar Wadai, sehingga makin dikenal baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
         “Pasar Wadai adalah objek wisata kuliner di Kalsel dan sudah menjadi kalender tahunan, jadi selayaknya terus dipromisikan,” ujarnya.
         Dari penelusuran ANTARA, Pasar Wadai Ramadhan ada sejak 1985, atas inisiatif Walikota H Kamarudin. Saat itu dia melihat banyaknya penjual kue tradisional di Banjarmasin setiap bulan Ramadhan.
         Walikota akhirnya meminta para pedagang itu dikumpulkan menjadi satu di tempat yang strategis dan dipilihlan Jalan RE Martadinata, sebagai pusat jajanan kue tradisional itu.
         Seiring makin banyaknya pedagang yang berminat berjualan di Pasar Wadai, Jalan RE Martadinata yang memang sempit dianggap tak layak lagi sebagai lokasi pasar wadai.
         Dipilihlan Jalan Jenderal Sudirman, depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin sebagai lokasi yang baru, tapi tempat itu ternyata masih dianggap kurang layak, sehingga lokasi Pasar Wadai digeser ke depan kantor Gubernur Kalsel.
                          
                               Ajang lestarikan budaya
   Pasar wadai selain menjadi salah satu wadah untuk menunggu bedug magrib  bagi warga Banjarmasin dan wisata kuliner, juga menjadi ajang untuk melestarikan budaya Banjar yang kini semakin sulit ditemui.
        Berbagai pentas seni budaya ditampilkan dipanggung yang dibangun berhadapan dengan petak-petak pedagang yang menyajikan puluhan masakah khas Banjar.
        Musik seni panting, madihin hingga tari-tarian yang juga mulai punah, ikut disajikan menghibur warga yang sedang belanja berbagai panganan berbuka puasa.
        Sambil memilih berbagai macam panganan, mulai dari bingka kentang, bingka tapai, bingka telur atau bingka yang pecah dilidah yang rasanya mak nyuuus, warga bisa mendengarkan merdunya dentingan musik panting yang terdengar menyayat hati.
        Bukan hanya itu, begitu masuk pintu gerbang pasar, warga juga akan dimanjakan dengan aroma sedap dari berbagai masakan, mulai dari ikan patin bakar, ikan haruan, ikan papuyu, sepat siam hingga ikan asin dan berbagai macam ikan lokal lainnya, yang heeem, baunya bikin perut semakin keroncongan.
        Yang lebih membuat tantangan puasa semakin berat, berbagai macam panganan tradisional, dengan berbagai bentuk menarik seperti kue lam yang sangat manis, kue puteri selat, amparan tatak pisang, kelelapon, kekeraban, lapis india, yang semua jenis kue tersebut sulit ditemukan pada hari biasa.
        Pasar wadai adalah surganya bagi penikmat masakan tradisional, sehingga rugi besar bila harus dilewatkan berlalu begitu saja, seperti meruginya umat Muslim yang tidak bisa merasakan nikmatnya Ramadan dengan meningkatnya amal soleh (ulul M)