MECIPTAKAN MAGNET EKONOMI SUNGAI BANJARMASIN

Banjarmasin – Hamparan seluas sekitar 98 kilometer persegi itu awalnya hanyalah rawa-rawa kemudian dibelah-belah lagi tak kurang oleh 102 sungai besar dan kecil. Kali besarnya adalah Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin dan Sungai Barito yang menjadi pembatas sisi barat.
Lokasi yang dulunya konon dipenuhi hutan galam dan hutan bakung itu memang sejak 490 tahun sudah memiliki sebuah perkampungan kecil yang berdasarkan sejarah disebut Bandarmasih. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi kampung besar bahkan sempat ada kerajaannya.

Di kawasan ini tak ada sumber daya alam berupa bahan tambang, tak ada juga hutan hingga tak ada kayu dan hasil hutan lainnya. Yang ada hanyalah aliran sungai yang melimpah, sedikit ada persawahan yang kini sudah berubah fungsi menjadi kawasan perkotaan yang sekarang disebut Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.

“Bagaimana kita membangun kota ini, tak ada sumber daya alam berupa tambang dan hutan, yang ada hanyalah sungai, makanya tak ada pilihan lain, kecuali sungai inilah yang akan ‘disulap’ sebagai penggerak ekonomi kota,” kata Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Pernyataan wali kota itu agaknya dibarengi dengan kebijakan-kebijakan pemkot setempat, hingga semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) diminta harus berorientasi ke sungai dalam program kerjanya.

Geliat menganak-emaskan sungai agaknya sudah kelihatan sejak wali kota sebelumnya yang dipimpin Haji Muhidin dengan membangun siring/tepi sungai Jalan Tendean dan Jalan Sudirman serta dermaga angkutan sungai.

Sudah lebih dari Rp150 miliar dana digelontorkan untuk membangun kedua siring atau tepi/bantaran sungai tersebut, baik dari APBD setempat tetapi lebih besar dari APBN Kementerian Pekerjaan Umum.

Sekarang keberadaan siring tersebut telah memberikan arti cukup berarti yang mengubah wajah kota ke arah “kota sungai,” karena kawasan tersebut menjadi semacam “water front city”.

Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkerama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Di wilayah ini terdapat pasar terapung dengan aneka barang yang dijual seperti hasil alam berupa buah-buahan, sayuran, ikan, dan lainnya dijualbelikan oleh ibu-ibu berpakaian khas menggunakan jukung (sampan).

Ada pula 80 buah “klotok” (perahu bermsin) wisata yang hilir mudik yang mengajak wisatawan menyusuri sungai dengan tarif hanya Rp5.000 per orang.

Wisata susur sungai sudah menjadi andalan merangsang wisatawan lokal dan mancanegara datang ke wilayah berjuluk “kota dengan seribu sungai” ini.

Di lokasi itu pula ada menara pandang (pantau) berlantai empat yang didalamnya menjadi lokasi pertemuan, ada stan cindera mata, dan pusat kuliner.

Belum lagi berdiri ikon kota yang disebut sebagai monumen Bekantan atau patung kera berhidung panjang (Nasalis larvatus), sehingga bagi siapapun yang berkunjung lalu berfoto dengan latar belakang patung tersebut, maka akan diketahui jika saat foto itu dibuat sedang berada di Banjarmasin.

Hampir sama seperti patung singa di kota Singapura, yang sama-sama pula mengeluarkan air mancur dari mulutnya.

Dalam upaya menciptakan sungai sebagai yang terdepan itu, Pemkot Banjarmasin kembali membangun siring lebih panjang lagi. Jika sekarang sudah dirbangun lima kilometer, kini masih dilesaikan agar menjadi 10 kilometer.

Jika sudah mencapai 10 kilometer, berdasarkan keterangan Pemkot nantinya akan dibangun lagi beberapa lokasi dan fasilitas wisata di kawasan siring, seperti ada kampung ketupat, kampung sasirangan, dan kampung iwak (ikan).
Ciptakan Gula
Keinginan untuk menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi itu agaknya memang sudah lama, tetapi kurang didukung oleh masyarakat setempat. Terbukti sungai banyak menjadi “bak sampah”, penduduk dengan begitu mudahnya membuang sampah ke sungai.

Akibatnya sungai seakan menjadi “gudang” barang rongsokan, karena sampahnya ada yang kasur bekas, lemari kayu, sepeda bekas, kulkas rusak, kipas angin rusak, dan aneka barang rongsokan lainnya.

Belum lagi sungai mendangkal karena sidementasi, sungai diserang gulma seperti eceng gondok hingga mampet, sungai tempat buang hajat (air besar) hingga menciptakan kontaminasi baktari koliform, sungai terkontaminasi logam, keruh, bau, dan aneka persoalan lainnya.

Kemudian sungai pun tak bisa terelakan lagi menjadi permukiman khususnya di bantarannya. Akibatnya sungai menyempit dan ada pula sungai yang kemudian mati.

Bahkan yang sangat memprihatinkan semua rumah penduduk menjadikan kawasan sungai sebagai bagian belakang rumah, sementara muka rumah menghadap ke jalan raya, akibatnya merusak pemandangan dan keindahan kawasan sungai.

Sungai juga tempat industri kayu lapis, tempat industri karet, tempat industri rumah tangga lainnya, akibatnya sungai penuh dengan limbah industri, sungguh memprihatinkan.

Banyak aturan dibuat Pemkot setempat dalam upaya menyelamatkan perwajahan sungai itu agar elok, tetapi aturan tersebut hanyalah bagaikan “macan ompong.” saja.

Oleh karena itu seyogianya pemerintah berpikir tak usah “memaksa” warga setempat untuk menyelamatkan sungai dengan perda-perda, tetapi bagaimana menjadikan sungai itu bagaikan barang pemanis atau gula.

Jika sungai menjadi “gula” atau pemanis kehidupan tentu keberadaannya akan menjadi daya pikat kuat bagi kehidupan warga di wilayah yang berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa tersebut. Mereka akan dengan sendirinya memelihara sungai lalu menjadikannya sebagai barang atau lokasi yang berharga.

Jika sungai sudah menjadi tempat beharga, maka warga sudah bisa dipastikan tidak lagi membuang sampah sembarangan ke sungai. Rumah yang tadinya membelakangi sungai bertahap akan diubah oleh pemiliknya menghadap ke sungai sehingga sungai menjadi indah.

Begitu juga berbagai dunia usaha yang tadinya tak terpikir ke sungai bisa jadi menjadikan sungai sebagai harapan baru bagi kehudupan selanjutnya.

Upaya menciptakan “gula” itu bisa dicontoh di beberapa kota besar seperti Bangkok, Singapura, Venesia Italia dan Belanda.

Umpamanya saja di sungai berdiri aneka penggerak ekonomi, selain pasar terapung. Di sungai juga banyak restauran terapung, rumah-rumah terapung, ada tempat permainan, lokasi pusat oleh-oleh, hotel terapung, ada panggung hiburan, atraksi budaya, dan aneka fasilitas wisata.

Karena itu, mulai sekarang ayo jual keberadaan sungai kepada kalangan investor, beri kemudahan berinvestasi, beri gambaran peluang potensi keuntungan. Dengan demikian investor bisa berbondong-bondong turut membangun Kota Banjarmasin menjadi sebuah wilayah yang tak kalah dengan venesia Italia. sungaisungai1

“MELINGAI” HARAPAN BARU BAGI PELESTARIAN SUNGAI

20150901melingaigambar

 

 

 

 

Oleh Hasan Zainuddin

 

“Sangat Elok,” demikian komantar Mdnoh Rahidin, wisatawan Malaysia ketika mengunjungi Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, belum lama.

Ketika ditanya apa yang membuat wisatawan “susur galur” (mencari juriat) tersebut terpesona terhadap kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa dengan luas hanya sekitar 92 kilometer persegi tersebut.

Ia mengaku melihat begitu banyak sungai yang melingkar-lingkar yang membelah kota paling selatan pulau terbesar di Indonesia itu.

“Tidak ada daerah lain memiliki sebanyak sungai seperti di Banjarmasin ini. Jika sungai-sungai ini lebih ditata, kota Banjarmasin akan mengalahkan kota wisata sungai Malaysia, Malaka,” kata wisatawan yang membawa empat saudaranya mencari keluarga yang terpisah, puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun tersebut.

Pernyataan wisatawan keturunan Suku Banjar yang sejak datuk (atok) berada di Malaysia tersebut, satu di antara pernyataan “kagum” dari puluhan, bahkan ratusan pengunjung ke kota berjuluk “kota seribu sungai” (City of Thousand Rivers) Banjarmasin ini atas keberadaan sungai-sungai di kota tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Kota (Bappeko) Banjarmasin Ir. Fajar Desira mengakui wilayah ini dialiri banyak sungai, baik sungai besar seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura maupun sungai kecil, ditambah anak-anak sungai dan kanal.

Hanya saja keberadaan sungai-sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat itu kini mulai rusak, tercemar gulma, tercemar sampah, pendangkalan yang hebat, bahkan penyembitan akibat perkembangan kota dan permukiman.

“Dahulu sungai di Banjarmasin jumlahnya mencapai 150 buah. Namun, hasil inventarisasi belakangan tinggal 102 buah. Sungai itu mati akibat pendangkalan dan berubah fungsi menjadi permukiman dan perkembangan kota lainnya,” kata perencana yang dikenal sebagai perancang Kota Banjarmasin tersebut.

Menurut dia, panjang sungai yang membelah dan mengaliri kota yang dikenal dengan wisata sungai “pasar terapung” tersebut mencapai 185.000 meter.

Melihat kenyataan tersebut, kata mantan Kepala Dinas PU Kota Banjarmasin itu, wajar jika arah pembangunan kota wisata sungai ini berorientasi bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi penggerak perekonomian masyarakat.

Selain itu, sungai dikembalikan fungsinya sebagai drainase, sebagai alat transportasi, dan sarana komunikasi, terutama sebagai sarana kepariwisataan pada masa mendatang.

Untuk menjurus sebagai kota wisata tersebut, sejak 10 tahun terakhir ini sudah banyak yang dilakukan pemerintah setempat, di antaranya pembangunan siring sebagai lokai “water front City” (kota bantaran sungai), ratusan miliar rupiah sudah dikeluarkan guna mewujudkan sarana tersebut.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) Banjarmasin Ir. Muryanta mengatakan bahwa kota ini tidak memiliki sumber daya alam, seperti hutan dan tambang, maka pilihan penggerak ekonomi masyarakat adalah sungai-sungai tersebut.

Oleh karena itu, dibangun siring sekitar 3 kilometer dari 5 kilometer yang direncanakan di lokasi tersebut akan tersedia fasilitas taman, tempat bermain, wisata kuliner, patung bekantan, pasar terapung, kedai terapung, menara pandang (pantau), dan pusat cendera mata.

“Siring yang sedang diselesaikan menjadi 5 kilometer itu, ada wisata kuliner di kampung ketupat, ada wisata cendera mata di kampung sasirangan, ada wisata ikan di tempat pelelangan ikan,” katanya.

Muryanta menjelaskan pembangunan siring tersebut memperoleh dukungan pemerintah provinsi dan pusat seperti dari Balai Sungai Kementerian PU.

Untuk mendukung wisata sungai tersebut, kini sudah dibangun sejumlah dermaga angkutan sungai, seperti kelotok (perahu bermotor), spead boat, dan sampan (jukung), untuk memudahkan perjalanan wisata susur sungai.

Bahkan, kata Muryanta, ratusan jembatan dibuat melengkung agar di bawahnya bisa dilalui oleh perahu-perahu wisata tersebut.

Ia menilai keinginan kuat pemerintah untuk mewujudkan Kota Banjarmnasin sebagai kota wisata itu akan terwujud jika adanya dukungan seluruh masyarakat, apalagi adanya keinginan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didukung Kementerian Pekerjaan Umum, yakni “Kemitraan Habitat,” untuk menjadikan kota ini bagaikan kota air yang terkenal, seperti di Venesia Italia.

Melingai

Untuk mewujudkan keinginan kuat pemerintah mewujudkan Kota Banjarmasin sebagai kota air, dengan segala persoalan tersebut di atas, maka diperlukan partisipasi yang nyata pula di tengah masyarakat. Pasalnya, jika keinginan tersebut tidak melibatkan masyarakat secara luas, keinginan tersebut tak bakalan tercapai.

Oleh karena itulah, sejumlah organisasi masyarakat yang berorientasi lingkungan mencoba berhimpun dalam satu wadah yang mengkhususkan diri terhadap pelestarian sungai yang disebut “Melingai”.

Dinamakan “Melingai” karena itu sebuah singkatan Masyarakat Peduli Sungai. Akan tetapi, arti harfiah dari melingai itu sendiri dalam bahasa lokal (Banjar) artinya membersihkan.

Pendirian organisasi masyarakat tersebut kumpulan dari banyak organisasi masyarakat, seperti Masyarakat Pencinta Pohon, Forum Komunitas Hijau, Pena Hijau, Sahabat Bekantan Indonesia, dan organisasi lainnya, termasuk Satuan Polisi Air (Sapol Air) Banjarmasin yang pada tanggal 19 Agustus 2015 mengadakan pertemuan pertama sekaligus pembentukan pengurus yang diketuai Ferry Husain, kemudian dibantu tiga wakil ketua serta bidang-bidang.

Setelah pembentukan organisasi tersebut, langsung membuka jejaring sosial atau melalui, seperti Facebook, Twitter, dan wibe site, untuk mengimpun sukarelawan yang ingin berpartisipasi dalam pelestarian sungai tersebut.

Ternyata organisasi ini memperoleh respons positif masyarakat sehingga banyak yang menyatakan bersedia bergabung menjadi sukarelawan, yang tugasnya nanti antaranya memberikan edukasi kepada masyarakat dengan menanam pohon penghijauan di pinggir sungai, pembersihan sampah di sungai, pelepasliaran bibit ikan, penghapusan budaya jamban, dan memberikan pengertian dampak negatif perumahan yang mengancam keberadaan sungai.

Tugas lainnya Melingai adalah memberikan pengertian begitu vitalnya daerah resapan air di Pegunungan Meratus yang selama ini menjadi “Tandon Air Tawar Raksasa” yang merupakan hulu dari sungai-sungai di Banjarmasin yang harus diselamatkan dan direhabilitasi.

Aksi lapangan pertama yang dilakukan puluhan anggota Melingai pada tanggal 30 Agustus, yakni melakukan pembersihan sungai dari tumpukan sampah yang mengapung di air, sampah yang berada di daratan kawasan Pasar Terapung kompleks wisata Siring Jalan Pire Tendean.

Berdasarkan pemantauan aksi tersebut ternyata memberikan dampak positif di lokasi yang selalu memperoleh ribuan pengunjung setiap hari libur tersebut karena lokasi tersebut menjadi bersih dari sampah.

“Biasanya di lokasi ini bertaburan sampah. Akan tetapi, setelah aksi Melingai, alhamdulillah lokasi sini menjadi bersih karena para pedagang dan pengunjung dengan merasa malu sendiri tak membuang sampah secara sembarangan setelah melihat aksi Melingai,” kata Ruslan, pengunjung.
Ruslan berharap pengelola lokasi siring itu untuk menempatkan lebih banyak bak-bak sampah penampungan agar masyarakat dan pedagang tidak susah mencari bak sampah. Apalagi, bak sampah yang ada sekarang ini tidak memadai jika dibandingkan dengan luasnya lokasi tersebut.

Menurut Ferry Husain, melihat respons positif tersebut maka aksi akan terus dijadwalkan secara berkala ke berbagai sasaran dengan melibatkan lebih banyak sukarelawan. Jadwal terdekat pada tanggal 27 September 2015, pusat tetap di Siring Tendean, tetapi untuk pembersihan sampah sungai dan tempat lain untuk penanaman penghijauan pinggir sungai dan pelepasliaran bibit ikan.

Ia berharap dengan kian banyak sukarelawan, kian banyak yang akan termotivasi melestarikan sungai sehingga ke depan kota ini benar-benar menjadi kota wisata, kota budaya, dan kota perdagangan yang berbasis sungai untuk memperkuat julukan “Kota dengan Seribu Sungai.”

 

 

BANJARMASIN DIJADIKAN WISATA DUNIA BAGAIKAN VENESIA

Oleh Hasan Zainuddin

pasar terapung

Bersantai di pinggir sungai Jalan Pire Tendean sambil menikmati jagung bakar menjadi pilihan sebagian warga untuk berekreasi di daerah yang berjuluk “kota seribu sungai”, Banjarmasin.

Sementara warga lainnya, memilih menikmati masakan atau kuliner khas Suku Banjar, soto banjar di warung Abang Amat atau soto bawah jembatan banua hanyar sambil menikmati musik panting jenis musik tradisional setempat.

Tidak sedikit pula warga justru memilih berziarah di makam Habib Basirih atau mengunjungi masjid tertua, Masjid Sultan Suriansyah, sebagai objek wisata keagamaannya, yang juga merupakan bagian dari wisata sungai di kota tua tersebut.

Para pendatang bahkan dari mancanegara lebih banyak memilih bercengkrama di Pasar Terapung Sungai Barito atau ke Pasar terapung Lokbaintan serta pasar Terapung buatan di depan Siring Pire Tendean.

Bagi wisatawan yang suka dengan binatang kota ini juga menyediaan objek wisata air, yaitu ke Pulau Kembang, tempat ratusan bahkan mungkin ribuan ekor kera abu-abu berekor panjang yang terbilang jinak dan bersahabat dengan wisatawan.

Wisatawan juga bisa menyaksikan bekantan (Nasalis larvatus) atau hidung panjang yang ada di Pulau Kaget, tidak jauh dari kota yang telah bertekad menjadikan keberadaan air sebagai modal utama membangun kepariwisataan itu.

Susur sungai menggunakan kelotok (perahu bermesin) atau spead boat juga sering kali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota seraya menyaksikan aktivitas warga, seperti mandi, cuci, dan bersikat gigi di atas lanting.

Ada juga di antara mereka yang melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang relatif banyak mereka temui di pesisir sungai, seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kota Banjarmasin, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, dinilai memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kota mana pun di dunia ini karena kota yang hanya 92 kilometer persegi ini dibelah oleh sedikitnya 102 sungai.

Melihat kenyataan tersebut maka oleh pemkot dan pemprov setempat bertekad menjadikan kota ini kota wisata air. Bahkan, pemerintah Kementerian Pekerjaan Umum relatif banyak mengeluarkan dana untuk menciptakan wilayah ini menjadi wisata air berkelas dunia.

Untuk mewujudkan hal itu, kata Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin Fajar Desira, Kemen-PU dan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) membentuk sebuah tim yang diturunkan ke Banjarmasin.

Tim terdiri atas beberapa orang itu sudah tiga kali meninjau dua lokasi di Banjarmasin, yakni Sungai Kelayan dan Sungai Kerokan, Jalan Jafri Zamzam, untuk diubah menjadi lokasi wisata sungai melalui program yang dinamaman Kemitraan Habitat.

Tim itu juga sudah beberapa kali melakukan kordinasi dan pertemuan dengan berbagai pihak di Banjarmasin, terakhir awal Agustus 2015.

Menurut Fajar, Banjarmasin harus bersyukur terpilih menjadi lokasi program Kemitraan Habitat tersebut karena wilayah ini dinilai unik. Kota lain yang juga menjadi pilihan, yakni Kota Malang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat) karena kedua kota tersebut juga dinilai memiliki krasteristik kota yang unik.

Mengingat Banjarmasin memiliki banyak sungai, kota ini akan diciptakan benar-benar menjadi sebuah kota sungai di Indonesia. Dengan demikian, akan jelas arah pembangunan kota ini sehingga semua harus berkomitmen membangun kota ini menjadi kota pariwisata sungai.

Sungai, kata Fajar, bukan saja sebagai lokasi drainase dan sumber air minum, melainkan juga sebagai transportasi, komunikasi, dan sebagai objek perekonomian masyarakat, khususnya pariwisata.

Dalam upaya menciptakan program Kemitraan Habitat teresebut, pemerintah akan mengajak banyak kalangan, termasuk pengusaha, aktivis lingkungan, LSM, dan banyak organisasi lain yang berkomitmen menjadikan kota ini sebagai ikon kota sungai di Tanah Air.

Apalagi, pembangunan Kota Banjarmasin dalam sepuluh terakhir ini sudah banyak mengarah untuk mewujujdkan kota sungai tersebut, seperti pembangunan siring, fasilitas wisata sungai, termasuk pembuatan pasar terapung yang mulai mengubah wajah kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa ini menjadi kota pariwisata tersebut.

Program Kemitraan Habitat tersebut memfasilitasi penyelenggaraan permukiman dan perkotaan yang sedang dilaksanakan oleh masyarakat, termasuk dunia usaha mendorong terjadinya percepatan pembangunan dan pengembangan permukiman dan perkotaan di Indonesia yang lebih layak huni dan berkelanjutan.

Secara terpisah Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta mengatakan bahwa pemkot setempat telah menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota. Oleh karena itu, kami akan terus benahi sungai,” katanya.

Menurut Muryanta, wilayah kota minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil. Sungai besar, seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim, jelas tidak mungkin. Oleh karena itu, potensi yang ada saja untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Ia mencontohkan dua kota yang terbilang maju menjadikan sungai sebagai daya pikat ekonomi, seperti Denpasar atau Yogyakarta.

Begitu pula, kota lain di luar negeri, seperti Bangkok, Hong Kong, atau Venesia Italia, bahkan sekarang Malaysia mulai ikut-ikut membenahi sungai sebagai daya pihak ekonomi tersebut.
Melihat kenyataan itu, wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat.

Untuk menjadikan wisata sungai, menurut dia, sudah miliar rupiah dana untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di Jalan Sudirman dan Jalan Pire Tendean yang telah terbukti memberikan keindahan kota. Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Untuk siring, akan dibangun sepanjang 10 kilometer. Akan tetapi, sekarang sudah terbangun sekitar 5 kilometer. Lokasi siring akan dijadikan aneka wisata, seperti wisatra kuliner, pusat cendera mata, permainan sungai, pasar terapung, dan restoran terapung.

Di siring pula, sekarang sedang dibangun sarana olahraga, sarana bermain sepeda, dan sedang dibangun monumen (patung) maskot Kalsel, bekantan atau kera hidung panjang (Nasalis larvatus), diharapkan menjadi ikon kota bagaikan patung singa di Singapura.

Dengan semua upaya tersebut, ke depan Banjarmasin sudah bisa menjadi objek wisata dunia bagaikan Venesia, Italia.

SIRING TENDEAN OBJEK WISATA BARU BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin

1

Banjarmasin,22/9 (Antara)- Sekelompok gadis remaja begitu asyiknya senam dengan gaya mengikuti alunan musik yang dibunyikan dari alat tape recorder.

Sementara di sisi lain sebuah organ tunggal dimainkan dengan irama dangdut menghadirkan beberapa penyanyi yang berpakaian seksi.

Tentu saja dua kegiatan tersebut memperoleh tontonan ratusan mungkin ribuan orang yang berjejal di lokasi bangunan Siring Sungai Jalan Piere Tendean atau tepian Sungai Martapura Banjarmasin.

Memang setiap pagi minggu ratusan hingga ribuan orang mendatangi lokasi objek wisata baru yang diciptakan Pemkot Banjarmasin sejak beberapa bulan belakangan ini yang disebut sebagai wisata “Siring Tendean.”

Banyak keunikan atau kelebihan lain lokasi ini dibandingkan objek wisata lainnya di kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa tersebut.

Di sini bukan saja sering dipergelarkan pertunjukan rakyat seperti musik dangdut, tari-tarian, kesenian rakyat lainnya juga terdapat pula lokasi penjualan soevener dan kuliner khas setempat.

jaringjualan

Tak heran lokasi ini juga sebagai tempat atau kosentrasi bagi warga yang melakukan olahraga lari pagi atau jogging, dan bila lelah bisa sarapan pagi minum teh, kopi, atau minuman aneka jenis lainnya. Di sini juga dijual aneka makanan khas setempat, seperti ketupat kandangan, nasi kuning, pundut nasi, dan kue 41 macam.

“Kalau kita ke Monas Jakarta, atau Jalan Pahlawan Surabaya pada pagi minggu, tentu menyaksikan banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan aneka jenis gadangan, nah begitu juga di lokasi Siring Tendean ini sudah seperti itu,”kata Muhlis pengunjung objek wisata tersebut saat berbicara lewat telpon seluler mengambarkan kondisi lokasi itu kepada temannya yang berada di Jakarta.

Muhlis bersama keluarganya mendatangi wisata Siring Tendean bukan melalui jalan darat, melainkan menggunakan “klotok” (perahu mesin tempel) dari kediamannya di bilangan Sungai Lulut.

Itulah kelebihan Siring Tendean ini, bisa ditempuh dari dua jalur darat dan sungai, dan kawasan ini bagian dari rute wisata perairan yang diperomosikan Pemkot Banjarmasin belakangan ini.

2345

Namun yang ditonjolkan objek wisata Siring Tendean adalah pasar terapung, dimana ratusan ibu-ibu menggunakan pakaian adat setempat seraya mengayuh sampan (jukung) dan mendekat ke Siring tendean.

Ibu-ibu menggunakan “tanggui” (topi besar) tersebut datang ke lokasi tersebut sebagai pelaku pasar terapung (floating market) yang juga diciptakan pemnerintah setempat untuk memancing wisatawan.

Para ibu-ibu tersebut kebanyakan datang mengayuh sampan ke lokasi tersebut dengan berjualan aneka buah-buahan, seperti jeruk, semangka, jambu bul, jambu air, jambu biji mangga, mentega, sarikaya, ketapi, kuini, pisang, rambutan, dan aneka buah lokal lainnya.

Selain itu mereka juga menjual aneka sayuran, seperti cabe, kangkung, genjer, daun ubi kayu, jantung pisang, keladi (talas), rebung (bambu muda) umbut kelapa, ketimun, katu, pakis, kalakai, dan aneka jenis sayuran lokal lainnya.

Dagangan lain ikan segar, beras, gula, tepung dan barang kebutuhan pokok lainnya pun terlihat, termasuk aneka industri rakyat seperti tikar purun, jintingan purun, dapur tanah, tajau, dan aneka anyaman.

Untuk memudahkan pengujung lokasi ini berbelanja,maka oleh pemerintah setempat dibuatkan dermaga,kemudian dermaga itu disambung pula dengan lanting (titian) terbuat dari kayu hingga bisa mendekati para pedagang yang menggunakan sampan tersebut.

6

Tak heran mereka yang datang ke lokasi ini bukan hanya wisatawan tetapi juga ibu rumah tangga yang mencari keperluan dapur, termasuk para pedagang barang makanan, karena konon harga di pedagang sungai ini lebih murah ketimbang harga kebutuhan yang dijual di daratan.

Dengan begitu semaraknya lokasi ini menyebabkan para pendatang banyak yang mengambil latar belakang kegiatan pasar ini sebagai foto kenang-kenangan.

“Dengan berfoto di lokasi ini maka orang akan tahu kalau kita sudah datang ke Banjarmasin,”kata Andriano seorang pendatang dari Samarinda Kalimantan Timur seraya memperlihatkan fotonya dengan latar belakangan pasar terapung Siring Tendean ini.

Pasar terapung adalah objek wisata andalan Banjarmasin sejak dulu tetapi lokasi aslinya agak jauh dari pusat kota yaitu di Desa Kuin Sungai Barito dan Loka Baintan Sungai Martaputa Kabupaten Banjar.

Untuk memudahkan pengunjung melihat pasar terapung lalu oleh Pemkot Banjarmasin dikumpulkanlah sejumlah pedagang keliling yang sering menyusuri sungai di kota ini untuk berjualan ke lokasi pasar terapung buatan Siring Tendean.

Tentu untuk memancing pedagang keliling sungai tersebut bersedia
ke lokasi khusus itu, mereka diberikan subsidi, kata Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin beberapa waktu lalu kepada wartawan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase, Muryanta mengatakan Siring Tendean salah satu lokasi yang dibangun Pemkot Banjarmasin menghidupkan wisata perairan.

Menurut Muryanta keinginan menciptakan Siring Sungai sebagai ikon kota sudah lama makanya banyak bangunan kumuh di bantaran sungai dibebaskan lalu dibuat Siring Sungai yang lengkap dengan pertamanan, lampu hias dan fasilitas lainnya.

Oleh karena itu pekerjaan terhadap pembangunan siring tersebut terus dilanjutkan dan disempurnakan sebagai kawasan wisata perairan di wilayah yang berjuluk “kota seribu sungai.”
“Kita sudah mendesain sedemikian rupa kawasan Siring Tendean yang berseberangan dengan Siring Sudirman, sebagai lokasi wisata yang menarik dan unik,” katanya.

Lihatlah nanti kalau sudah selesai semuanya pasti akan indah di lihat dari sudut manapun, tuturnya lagi.

Penyempurnaan Siring Tendean itu dikerjakan secara multiyear, yakni, diselesaikan hingga akhir 2013 ini dengan segala fasilitas pendukungnya, termasuk nanti akan dibuatkan patung Bekantan (Kera besar hidung besar) yang merupakan maskot fauna Kalsel.

Siring sungai tersebut bukan hanya di Jalan Tendean dibuat oleh Pemkot Banjarmasin tetapi juga di Jalan Sudirman, Jalan Pasar Lama, Jalan Ujung Murung, Jalan Sungai Mesa dan eks SMP enam Banjarmasin.

Siring yang dibangun semuanya di tepian Sungai Martapura tersebut telah menghabiskan dana puluhan miliar rupiah.

Membangun wisata perairan sudah menjadi pilihan kota Banjarmasin,karena wilayah ini tak ada sumberdaya alam seperti tambang, hutan, dan pertanian, makanya pariwisata sungai menjadi pilihan membangkit perekonomian setempoat, demikian Muryanta.

orkes

penyanyi sedang menghibur pengunjung siring tendean

 

MENIKMATI SOTO BANJAR SAMBIL WISATA SUSUR SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin

2

http://www.youtube.com/watch?v=Gi3eJkEoscQ

Banjarmasin, 13/3 (Antara) – Menyusuri Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan menggunakan “klotok” (angkutan kota di perairan) seraya menikmati kuliner khas setempat, soto Banjar merupakan salah satu kegiatan wisata yang belakangan ini kian digandrungi
“Menikmati kuliner sambil menyaksikan pemandangan Sungai Martapura dengan aneka budaya sungainya, tak terasa sepiring soto ditambah 10 tusuk sate ayam ludes dimakan,” kata seorang wisatawan lokal, Aprizal warga Jalan Laksana Intan,Kelurahan Kelayan Selatan, Banjarmasin.

Menurut dia, biasanya ia makan tak pernah sebanyak itu, tetapi di tengah suasana yang menyenangkan seperti itu ditambah lezatnya soto membuat makan menjadi lahap, ” tutur Aprizal yang berwisata bersama isteri , putrinya dan keluarga yang lain.

Belakangan ada kecendrungan wisatawan menikmati wisata susur sungai sambil menikmati berbagai kuliner khas kota yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut.

Mereka datang ke Banjarmasin baik perorangan maupun grup kemudian mendatangi warung-warung kuliner, setelah itu menyewa sebuah klotok lalu bepergian susur sungai selama satu jam atau lebih sambil makan dan minum di dalam angkutan sungai tersebut.
Seperti pemantauan penulis di rumah makan Soto Abang Amat, Banua Anyar, Selasa (12/3) begitu banyak wisatawan nusantara memenuhi lokasi yang berada di tepian Sungai Martapura tersebut.

Di lokasi rumah makan yang berada di perkampungan padat penduduk tersebut, wisatawan bisa makan dan minum sambil dihibur kesenian lokal, musik panting.

Bahkan pengunjung juga diajak berjoget ria diiringi irama musik panting dengan lagu-lagu berbahasa Banjar.

Pernah beberapa waktu lalu, Ahmad Mukhlis Yusuf (MY) saat masih menjabat Direktur Utama LKBN “Antara” datang bersama isterinya dan beberapa kerabatnya mengunjungi Soto Abang Amat. Setelah makan lalu ikut bergabung dengan pengunjung lain berjoget diiringi irama lagu-lagu lokal di rumah makan soto tersebut.

“Tolong ambil potret saya lagi ikut berjoget untuk kenang-kenangan,” kata MY kepada penulis waktu itu.

Hembusan angin dan bunyi riak gelombang Sungai Martapura dan suasana lingkungan perairan yang asri menambah keasyikan para pengunjung untuk mencicipi hidangan makanan yang didominasi lontong, telur, dan ayam kampung tersebut.

Dari sekian pengunjung tersebut ada yang lebih memilih menikmati kuliner seraya dihibur musik panting, ada pula yang lebih memilih hidangan dimasukan ke dalam klotok lalu makan di dalam klotok seraya menikmati wisata susur sungai.

Seperti keluarga Aprizal ini, memilih makan dan minum di dalam klotok lalu berlayar selama satu jam rute rumah makan Soto Banjar Abang Amat Banua Anyar ke lokasi kawasan wisata sungai Siring Tendean pusat kota Banjarmasin pulang-pergi.

Selama perjalanan sungai tersebut wisatawan bisa menyaksikan aneka budaya sungai, seperti warung-awrung terapung, rumah terapung, industri terapung, dan suasana Kota Banjarmasin di pinggir sungai.

Pengunjung bisa menyaksikan budaya lainnya dimana warga setempat berada di “lanting” (tempat khusus mandi dan cuci di atas sungai) mandi, mencuci, sikat gigi, bahkan ada yang sambil buang hajat besar di jamban yang ada di lanting tersebut.

Terus ada pula warga yang asyik memancing, mencari kerang sungai, atau menyaksikan sekumpulan anak-anak sedang berenang ke sana-kemari dan bermain di permukaan air.

Memang di Banjarmasin, banyak rumah penduduk halamannya tidak menghadap ke daratan, tetapi menghadap ke sungai, karena tak punya halamann daratan, anak-anak yang suka bermain, merekapun terpaksa bermain di air.

Tarif klotok rute Banua Anyar-Siring Tendean hanya Rp100.000,- tetapi bila rute lebih jauh seperti Banua Anyar-Pasar terapung, banua Anyar-Pulau kembang Rp200.000,- kata, Rahmadi pemilik klotok
yang mangkal di kawasan tersebut.

Terdapat sekitar sepuluh buah klotok mangkal dan yang siap melayani rute wisata susur sungai di rumah makan Soto Amang Amat tersebut.

panting

 

Musik panting di rumah makan Abang Amat

Di Banjarmasin selain rumah makan Soto Abang Amat masih ada beberapa lokasi untuk penikmat kuliner seraya wisata susur sungai, seperti rumah makan Soto Bawah Jembatan, rumah Makan Yana Yani di Sungai Jingah, atau rumah patin, Pasar Lima.
Dibenahi

Kepala Dinas Kebudayaan,Pemuda, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Norhasan berjanji membenahi wisata susur sungai itu, dengan membuat paket wisata agar memudahkan wisatawan menikmati keunikan wisata perairan tersebut.

“Kita susun rute wisata perairan mulai dari dermaga wisata air balaikota Banjarmasin menuju arah makam habieb Basirih, Pasar Terapung, Makam Sultan Suriansyah, terus ke Pulau Kembang,” kata Norhasan.http://www.youtube.com/watch?v=UIlfSmNYuJ4

Kemudian dilanjutkan Pasar Terapunghttp://www.youtube.com/watch?v=BcBiWZMGLGs, Pulau Kaget, Pulau Bakut, industri perkayuan Alalak, terus ke rumah makan soto, kekampung sasirangan, kampung katupat, masjid Raya Sabilal Muhtadin, Pasar lima kembali ke dermaga balaikota, katanya.

Banjarmasin juga akan membangun fasilitas penjualan cendaramata, kawasan kuliner yang mudah dijangkau jalan darat dan air,ditambah ketersediaan tenaga pramu wisata hingga memudahkan wisatawan memperoleh pemandu menyusuri paket-paket tersebut.

Susur sungai menggunakan “klotok” (perahu bermesin) atau spead oat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu.

Untuk mendukung wisata susur sungai Pemkot Banjarmasin menyediakan dua buah kapal wisata air yang cukup besar, ditambah beberapa perahu kecil yang bisa menyusuri sungai-sungai kecil di tengah pemukiman penduduk yang padat.

Para wisatawan, khususnya dari mancanegara, tertarik menyaksikan berbagai kehidupan sungai di pemukiman padat penduduk itu sebuah keunikan tersendiri karena tak ditemui di negara mereka.

Oleh karena itu keunikan itulah yang menjadi daya pikat dan terus dijual ke wisatawan, tambahnya.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat pemerintah setempat memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin, Ir Muryanta mengakui Pemkot setempat menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami menjadikan sungai magnet ekonomi karena itu terus dibenahi sungainya,” katanya seraya menjlesakan wilayah ini 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.

Sementara wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 104 sungai dan sebanyak 74 sungai masih berfungsi baik yang bisa dijadikan objek wisata.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan, katanya.

1234567891011121314151617

AKTIVITAS PASAR TERAPUNG KIAN MERISAUKAN

Oleh Hasan Zainuddin

apung

Beberapa wisatawan mengakui agak kecewa setelah mengunjungi Pasar terapung (Floating Market) di Sungai Barito Banjarmasin, Kalimantan Selatan, lantaran aktivitas yang berada di atas sungai itu benar-benar berkurang.

“Saya pernah lihat kegiatan pasar terapung seperti di televisi swasta nasional RCTI yang ditayangkan berulang-ulang, oh begitu ramainya kegiatan pasar tersebut, tetapi setelah saya melihat sendiri, kok tidak seperti dalam tayangan RCTI Oke itu,” kata Hamzah, asal Jakarta.

Walau aktivitas pasar terapung tidak semarak dulu lagi, tetapi ia tetap merasa senang bisa berkunjung ke pasar tersebut.

“Tetap asyik dan menarik, dan saya bersama teman tetap puas berwisata sungai ke kawasan tersebut, seraya menikmati wisata susur sungai Martapura, dan Sungai Barito yang eskotik dan indah,” kata Hamzah seorang karyawan swasta.

Dengan berwisata susur sungai ke pasar terapung, ia merasakan nikmatnya kuliner khas soto Banjar, katupat balamak, lamang, nasi kuning, nasi pundut dan aneka makanan lainnya.

Dengan berwisata unik itu pula, mampu menikmati belanja makan dan minum di atas air seraya menyaksikan pemandangan hilir mudik aneka angkutan sungai, dan pemandangan sungai Barito lainnya.

Berdasarkan keterangan, aktivitas pasar yang satu-satunya berada di atas air di Indonesia itu belakangan tidak seperti itu lagi, karena sudah jauh berkurang baik jumlah pelaku transaksi di pasar itu maupun waktu kegiatannya yang sekarang hanya tinggal beberapa jam saja.

Para pedagang pasar terapung menyebutkan berkurangnya aktivitas di pasar tersebut lantaran prasarana darat ke berbagai pelosok desa di Banjarmasin dan daerah sekitarnya termasuk wilayah Kabupaten Barito Kuala sudah mulai membaik.

Dengan tersedianya jalan darat itu maka banyak pedagang yang tadinya memanfaatkan transportasi sungai berpindah ke daratan, dan mereka tidak lagi menggunakan sampan (perahu) melainkan menggunakan kendaraan roda dua yaitu sepeda motor.

Apalagi sekarang ini warga begitu mudah memperoleh sepeda motor setelah kian maraknya penawaran kendaraan tersebut dengan sistem kredit. Dengan sebuah sepeda motor para pedagang mudah mendatangi pasar grosir kemudian mudah lagi menjajakan dagangan masuk kampung keluar kampung melalui sarana modern itu.

Penyebab lainnya begitu banyak aktivitas kapal angkutan yang melintasi kawasan pasar terapung perairan Desa Kuin dan Alalak itu.

Beberapa buah kapal penyebarangan untuk mengangkut penumpang umum dan karyawan perusahaan antara Desa Kuin ke Handil Subarjo Kabupaten Barito Kuala bolak-balik melintas persis di tengah pasar terapung.

Tidak jarang kapal itu begitu kencang jalannya melahirkan gelombang air yang besar, dengan demikian pengguna jukung kecil yang biasanya paling banyak di pasar terapung itu menjadi takut terhantam gelombang itu, karena bila tidak hati-hati bisa tenggelam.

Ahmad Ariffin, seorang pemandu wisata menyayangkan berkurangnya aktivitas pasar terapung yang sudah begitu luas dikenal di kalangan wisatawan tersebut.

“Keberadaan pasar terapung itu telah menjejajarkan kepariwisataan Banjarmasin dengan kota lain seperti Bangkok, Hongkong, Venesia Italia,atau Amsterdam Belanda yang sama-sama memiliki pasar terapung,” katanya.

Bahkan pasar terapung Banjarmasin memiliki kelebihan tersendiri, lantaran kemunculannya secara almiah bukan rekayasa, pasar itu ada sesuai kebutuhan warga sekitarnya dan barang dagangan yang dijualpun adalah hasil alam seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian lainnya termasuk kebutuhan pokok.

Keunikan lainnya, para pelaku di pasar ini didominasi ibu-ibu tua yang mengayuh jukung dengan dagangan aneka hasil pertanian,kemudian mengenakan pakaian sehari-hari dan bertopi besar yang disebut Tanggui.

Melihat keunikan itulah maka wajar jika menjadi magnet bagi wisatawan karena itu setiap kedatangan wisatawan baik secara perorangan maupun secara grup selalu saja minta rute kunjungan ke pasar terapung, kata Ahmad Arifin.

Oleh karena itu, wajar bila hal itu menimbulkan kerisauan banyak pihak setelah melihat aktivitas pasar terapung yang terus berkurang belakangan ini, dan bila tak ada upaya penyelamatan maka dikhawatirkan pasar yang khas tersebut akan hilang dan tinggal cerita saja lagi.

M Nur Sya'bani

Penyelamatan
Melihat kenyataan tersebut, maka banyak pihak yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan keberadaan pasar terapung tersebut, diantaranya pemerintah itu sendiri dengan memberikan bantuan modal kepada para pelaku di pasar itu melalui koperasi.

Selain itu, pemerintah pusat melalui Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) juga pernah membantu sebuah kapal wisata yang refresentatif yang bisa digunakan untuk para wisatawan ke areal tersebut.

Bahkan pemerintah membangunkan sebuah dermaga wisata di tempat itu sekaligus membangun sebuah tempat penginapan agar wisatawan bisa menyaksikan kegiatan pasar terapung lebih awal setelah menginap di penginapan sederhana tersebut.

Pemprov Kalsel sendiri sudah beberapa kali menggelar festival pasar terapung, maksudnya tak lain agar kecintaan masyarakat terhadap pasar tersebut tetap lestari dengan demikian maka aktivitas itu diharapkan tidak berkurang.

Tak ketinggal Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin yang berusaha menyelamatkan pasar terapung melalui penyemarakan wisata susur sungai dengan menyediakan beberapa kapal wisata sungai yang representatif.

Belakangan Pemkot mencoba membentuk sebuah lokasi pasar terapung buatan yang bukan lagi berada di lokasi asal tetapi di pusat kota Banjarmasin sendiri, yakni di depan taman siring Sungai Martapura.

Pasar terapung buatan tersebut diagendakan hanya sekali seminggu yakni pada tiap hari minggu, dan harapanya lokasi itu bisa mengurangi kekecewaan jika wisatawan tidak lagi menemukan kesemarakan di pasar terapung aslinya Sungai Barito.

Pasar terapung buatan tersebut dibuka Wali Kota Banjarmasin, Haji Muhidin Minggu (10/2 ) lalu dengan mengumpulkan sedikitnya 60 pedaganga menggunakan sampan yang hilir mudik di sungai depan masjid Raya Sabilal Muhtadin tersebut.

Para pedagang tersebut diberikan subsidi, sehingga seandainya dagangan mereka kurang laku di lokasi baru tersebut,mereka tetap memperoleh keuntungan dari pemberian subsidi tersebut.

Menurut Muhidin aktivitas pasar buatan seminggu sekali ini tidak bermaksud merubah atau mematikan dimana tempat aslinya pasar terapung di Kuin atau di Lokbaintan Kabupaten Banjar, karena di dua tempat itu tidak mungkin di hilangkan lantaran sudah mendunia.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, Olahraga (Kadisbudparpora) Kota Banjarmasin Drs H Norhasan mengatakan pasar terapung di Sungai Martapura ini adalah untuk menghidupkan wisata pasar terapung di dua tempat aslinya.

“Kami tak ingin kebiasaan unik jual beli warga di pinggiran sungai yang hanya ada di daerah kita ini memudar, karena saat ini mulai banyak ditinggalkan pelakunya padahal menjadi wisata yang sudah mendunia,” katanya.

MENATA WISATA AIR DI “KOTA SERIBU SUNGAI”

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin,10/5 (ANTARA)- Sekelompok wisatawan dengan sebuah kapal berlayar di Sungai Martapura arah ke Pasar Terapung sementara kelompok yang lain justru ke Makam Sultan Suriansyah, sedangkan kelompok lainnya ke Pulau Kembang.
Kelompok wisatawan menikmati wisata air Kota Banjarmasin dengan tujuan seakan terserah kemauan siapa yang mengajak, bukan berdasarkan sebuah paket wisata sebagaimana mestinya.


Kepala Dinas Kebudayaan,Pemuda, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Norhasan kepada pers di balaikota Banjarmasin, Kamis mengakui belum tersusunnya paket wisata khusus wisata sungai di kota yang berjuluk “kota seribu Sungai,” tersebut.
Oleh karena itu kedepan pihaknya harus membuat paket wisata perairan tersebut, agar memudahkan wisatawan menikmati keunikan wisata perairan tersebut.
“Kita sudah susun rute paket wisata perairan kota ini, dimulai dari dermaga wisata air depan balaikota Banjarmasin menuju arah makam habieb Basirih, Pasar Terapung, Makam Sultan Suriansyah, terus ke Pulau Kembang,” kata Norhasan.
Kemudian wisata air dilanjutkan Pasar Terapung, Pulau Kaget, Pulau Bakut, industri perkayuan Alalak, terus kekampung sasirangan, kampung katupat, masjid Raya Sabilal Muhtadin, Pasar lima kembali ke dermaga balaikota, katanya.
Itu baru kerangka rute yang perlu direvisi lagi sebelum hal itu menjadi rute wisata yang baku yang kemudian dipublikasikan ke hotel, penerbangan, biro perjalanan, dan agen-agen wisata lainnya.
Menurut Norhasan bukan hanya paket wisata yang harus disusun dalam upaya menata kepariwisataan air, juga diperlukan dukungan pasilitas yang lain.
Fasilitas dimaksud, karena belum adanya pusat penjualan cendaramata yang terkosentrasi, sehingga menyulitkan wisatawan memperoleh barang cendarama tersebut.
Banjarmasin diperlukan sebuah kawasan atau sentra pusat penjualan cendaramata yang bukan saja mudah dijangkau jalan darat tetapi mudah dijangkau melalui angkutan wisata sungai.
Selain itu juga diperlukan kawasan kuliner yang juga mudah dijangkau jalan darat dan air.
“Moga-moga keinginan menata wisata air tersebut memperoleh respon baik oleh kalangan investor, DPRD dan petinggi Pemerintah Kota Banjarmasin dan pihak pemprop Kalsel,” katanya.
Tenaga pramu wisata yang selama ini belum dibentuk sebuah wadah di Kota Banjarmasin kedepannya perlu pemikiran mewujudkannya, sehingga memudahkan wisatawan memperoleh pemandu menyusuri paket-paket tersebut.
Menurut Norhasan, keunikan wisata kota ini dibandingkan dengan daerah lain adalah susur sungai.
Susur sungai menggunakan “klotok” (perahu bermesin) atau spead boat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu.
Wisatawan bisa melihat aktivitas warga dimana terlihat banyak warga mandi, cuci, bersikat gigi di atas lanting.
Atau melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang banyak ditemui si pesisir sungai seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.
Untuk mendukung wisata susur sungai Pemkot Banjarmasin menyediakan dua buah kapal wisata air yang cukup besar, ditambah beberapa perahu kecil yang bisa menyusuri sungai-sungai kecil di tengah pemukiman penduduk yang padat.
Para wisatawan, khususnya dari mancanegara, kata norhasan tertarik menyaksikan berbagai kehidupan sungai di pemukiman padat penduduk itu sebuah keunikan tersendiri karena tak ditemui di negara mereka.
Oleh karena itu keunikan itulah yang menjadi daya pikat dan terus dijual ke wisatawan, tambahnya.
Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) setempat memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.
Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta mengakui Pemkot setempat menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.
“Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota karena itu kami akan terus benahi sungai,” katanya.
Menurut Muryanta, wilayah kota Banjarmasin seluas 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Sementara wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.


Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 104 sungai dan sebanyak 74 sungai masih berfungsi baik yang bisa dijadikan objek wisata.
Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.
“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.
Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat.
Pemerintah pusat melalui Dirjen Sumber Daya Air akan membantu pembenahan sungai di Jalan Pire Tendean.
Tahap awal untuk menjadikan sungai sebagai objek pembangunan tersebut, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Sungai dan Drainase terus mengupayakan normalisasi sungai.
Upaya normalisasi tersebut dilakukan pembersihan sungai dari bangunan-bangunan yang ada di atasnya.
Sebagai contoh dan sudah dibebaskan bangunan sepanjang sungai di Jalan Sudirman, Jalan Pire Tendean, Jalan Pembangunan, Jalan Veteran, Jalan Teluk Dalam, dan beberapa bangunan lainnya di pinggir sungai.
Bahkan puluhan miliar rupiah sudah dikeluarkan untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di jalan Sudirman dan Pire Tendean.
Hal itu terbukti memberikan keindahan kota dimana di kedua siring tersebut ditanami aneka tanaman hias, lampu-lampu hias serta lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.


Untuk mewujudkan komitmen menjadikan sungai sebagai objek wisata sudah pula dilontarkan Wali Kota setempat, Haji Muhidin yang di berbagai kesempatan selalu memuji-muji wisata airnya yang kini kian digandrungi para wisatawan.
Untuk menambah kesemarakan wisata air tersebut, Pemkot menambah lagi satu lokasi wisata baru, kata Norhasan
Lokasi wisata baru tersebut berada di Kawasan Jalan Jafri zam-zam, karena lokasinya yang cukup strategis, di tepian Sungai dan berdekatan dengan stadion 17 Mei Banjarmasin, yaitu sebuah objek wisata Pasar Terapung buatan.
“Kita telah memperoleh bantuan pemerintah pusat untuk membuat desain pembangunan Pasar Terapung di Jafri Zam-zam, karena pasar terapung termasuk tiga objek wisata andalan Kalsel yang menjadiperhatian pemkerintah pusat selain, pendulangan intan dan pusat penjualan batu permata Kota Martapura,”kata Norhasan.
Keinginan Pemkot menjadikan kawasan tersebut sebagai objek wisata terungkap dari kunjungan Wali Kota Banjarmasin, H Muhidin yang sebelumnya sempat menijuau kawasan tersebut.
Wali kota menilai, kawasan Jafri Zam-zam itu sangat potensial untuk dijadikan objek wisata, mengingat adanya sungai Karokan yang cukup indah, selain itu juga ada stadion yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga bagi masyarakat, baik pagi atau sore hari.
Di lokasi tersebut juga ada sebuah bangunan yang tadinya untuk rumah dinas wali kota, tetapi karena terbentur tata ruang, fasilitas itu menjadi terlantar, dan kini dibenahi sebagai fasilitas wisata keluarga.
Untuk mendukung kota ini sebagai objek wisata air, maka pihak Dinas Bina Marga mengarahkan berbagai pembangunan jalan dan jembatan yang dikelolanya mendukung wisata air.
Banjarmasin membuat jembatan yang ada di kota ini dengan bentuk melengkung, yang artinya jembatan dibangun tidak bakal mematikan keberadaan sungai, dengan bentuk yang demikian maka sungai akan tetap bisa dilalui perahu khususnya perahu wisata.
Berbagai kalangan menyambut baik keinginan Pemkot memasarkan wisata air tersebut, dan diharapkan hal itu akan mempercepat peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan kota.