FKH BER “PERILAKU” AJAK WARGA CINTAI LINGKUNGAN

ontelOleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,21/3 ()- Puluhan orang bersepeda tua (ontel) menyusuri jalan-jalan di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, sebagian dari mereka membawa puluhan batang bibit penghijauan.
Sesekali mereka singgah di sebuah lokasi, biasanya masjid, sekolah, atau tempat lainnya di lokasi yang gersang tak lain hanya menanam pohon penghijauan.
Mereka yang cinta lingkungan tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin ini kemana-mana selalu menyandang “butah” (wadah berasal dari anyaman berbahan tumbuhan lokal), baik saat aksi lingkungan, maupun ke pasar, bahkan ke mal atau pusat perbelanjaan.
Mereka juga selalu mengenakan kemeja hijau dan di belakang baju bertuliskan “tanam pohon sedekah oksigen.”
Kelompok ini asalnya berasal dari berbagai komunitas pecinta lingkungan yang kemudian bersatu menjadi sebuah forum yang kerjanya selain melakukan penghijauan, juga membersihkan sungai dari sampah, membersihkan lingkungan sekolah, masjid, dan lokasi-lokasi tempat wisata.
Para anggota kelompok ini berasal dari berbagai profesi, ada yang guru, dosen, ulama, pelajar, mahasiswa, wartawan, pengusaha, karyawan swasta dan ada yang pegawai negeri. Pendidikan mereka ada yang hanya lulusan SD tetapi apa pula yang bergelar profesor.
Aksi lingkungan mereka biasanya hanya Sabtu atau Minggu, untuk memberi peluang kepada mereka yang kerja sebagai pegawai negeri atau krayawan swasta untuk ikut berkiprah, dan semuanya tidak ada paksaan, ini hanyalah kerelaan hati saja.
“Kami tak pernah mengajak, apalagi memaksa, kegiatan kami hanyalah kerelaan hati, untuk beramal jariah dalam pelestarian lingkungan, kalau ada kerjaan yang lebih penting jangan ikut kami, tetapi jika tak ada kerjaan ketimbang hanya termenung di rumah ya lebih baik bergabung dengan kami,” kata Zhany Talux komandan aksi lingkungan FKH Banjarmasin.
Nawaitu kegiatan FKH bagaimana alam Banjarmasin atau Kalimantan Selatan bisa menjadi hijau kembali, segar dan teduh, dan penuh dengan bunyi kicau burung dan binatang-binatang lainnya yang membentuk semacam “orkestra alam.” Karena itulah kehidupan yang sesungguhnya.
Bagi mereka kelompok yang disebut oleh sebagian masyarakat “orang gila lingkungan,” ini pembangunan yang sesungguhnya bukan diwarnai dengan jembatan layang yang bertingkat-tingkat, atau mal atau pusat perbelanjaan yang gemerlapan, tetapi adanya air bersih di sungai yang di dalamnya hilir mudik ikan-ikan dan biota air lainnya.
“Buat apa apa hotel mewah, pusat perbelanjaan atau tempat-tempat mewah lainnya, jika kita tak ada air, semuanya itu menjadi tak berarti apa-apanya, makanya jaganya lingkungan dengan pepohonan agar tersedianya air bersih bagi kehidupan,” katanya.
Kelompok ini tergerak merehabilitasi lingkungan setelah seringnya terjadi bencana alam, seperti kekeringan, kebanjiran, kebakaran hutan, bahkan belakangan ini yang lebih miris adalah serbuan asap tebal yang menyelimuti pemukiman saat kemarau, lantaran asap asal kebakaran semak belukar dan hutan.
Warga bagaikan hidup dilautan lantaran banjir, bagaikan hidup di neraka saat kebakaran hutan, bahkan bagaikan hidup di alam kabut, setelah serbuap asap asal kebakaran hutan.
Ini mungkin saja kesalahan manusia terdahulu yang rakus merusak alam, jika alam tidak direhabilitasi bagaimana kehidupan selanjut. Sekarang ini sudah menderita apalagi kedepan tentu lebih menderita lagi.
Meranjak dari kekhawatiran itulah, FKH yang dikordinatori oleh Hasan Zainuddin dan Mohammad Ary selalu mengajak dan mengajak anggotanya yang kini sudah berjumlah ratusan orang agar terus terlibat melakukan aksi hijau sekaligus mengedukasi masyarakat luat untuk mencintai lingkugan.
Hingga sekarang tak kurang dari tujuh ribu pohon penghijauan sudah ditanam di berbagai lokasi, baik sekolah, masjid, tepi jalan raya, dan tepian sungai untuk menghindari abrasi tepian sungai.
Dalam aksi FKH selalu mandiri, melakukan pembibitan sendiri, mengangkut bibit dan aksi makan dan minum selalu menggunakan kantor pribadi masing-masing secara gotong royong.
“Kita ini bukan siapa-siapa, kita bekerja juga bukan untuk menjadi siapa-siapa” kata Mohamad Ary anggota yang lain, makanya kelompok ini tak boleh terkontaminasi politik atau kepentingan lainnya kecuali hanya untuk pelestarian lingkungan.
Dalam aksi bukan saja tanam pohon di Banjarmasin dan sekitarnya, tetapi kelompok ini juga datang ke berbagai tempat di Kalimantan Selatan, khusunya di lokasi-lokasi destinasi wisata, atau pemukiman-pemukiman bantasan sungai, untuk aksi kebersihan dan penghijauan sekaligus mengajak warga ayuuu cinta lingkungan.
Dalam kegiatan selalu banyak diikuti anggota, karena prinsipnya kelompok ini menggunakan motto, “bekerja, berkarya, bergembira, berbahagia, dan awet muda.” Motto lainnya “bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, bekerja ikhlas.”
Dengan motto demikian maka setiap anggota selalu ingin ikut dalam aksi karena ada kegembiraan dan kesenangan hati yang bisa memuaskan perasaraan atau hati.
Bahkan FKH juga membentuk masyarakat peduli sungai (Melingai), dan menobatkan 52 orang warga di Banjarmasin menjadi pemangku sungai yang tugasnya adalah memotivasi warga sekitar sungai memelihara sungai, dalam kegiatan di sungai ini tak ada tujuan lain hanya murni pelestarian lingkungan.
Tetapi kegiatan ini dilihat oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal ini Balai Wilayah Sungai (BWS) II Kalimantan yang kemudian diikutkan lomba antar masyarakat peduli sungai, dan ternyata Melingai dari FKH ini berhasil keluar sebagai juara pertama secara nasional hingga memperoleh piala dan hadiah ke Jakarta pada Hari Kebaktian PU tahun 2016 lalu.

Makna Atribut

Selaku muncul pertanyaan mengapa baju yang dikenakan selalu bewarna hijau dan bertuliskan “tanam pohon sedekah oksigen,” kemudian mengapa selalu bersepeda tua (ontel) dan mengenakan “butah” alat atau wadah berbahan anyaman dari tanaman lokal yang ramah lingkungan.
Ternyata semua aksi dengan atribut itu dimaknai sebagai perilaku anggota yang selalu dengan bersahabat alam dan selalu dengan ramah lingkungan.
Warna baju hijau penunjukan kecintaan anggota terhadap suasana lingkungan yang hijau, kemudian sepeda dilambangkan sebagai transportasi ramah lingkungan untuk mengurangi kemacetan, mengurangi pemanfaatan bahan bakar minyak (BBM), mengurangi sebaran karbon dioksida di udara, serta selalu berolahraga.
Makna lain sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya bangsa yang dulunya senang bersepeda disamping bermanfaat sebagai pelestarian peninggalan bahari yang berguna untuk memancing kedatangan wisatawan ke wilayah ini, makanya anggota FKH sekaligus anggota Gernasta (gerakan nasional masyarakat sadar wisata).
Penggunaan butah sebagaai wadah yang ramah lingkungan untuk mengurangi pmanfaatan kantongan pelastik. Pelastik yang banyak menjadi limbah mencenari lingkungan yang diketahui sangat merusak lingkungan karena 200 tahun pelastik hanya bisa terurai.
Limbah pelastik diyakini merusak jika ke sungai akan mematikan kehidupan biota sungai, jida terpendam di tanah akan mematikan kehidupan biota tanah seperti cacing, jangkrik, dan sebagainya lantaran pelastik menghambat oksigen ke dalam tanah dan menghambat aliran air tanah.
Makna lainnya dengan butah diharapkan industri anyaman penduduk Kalsel kembali menggeliat, terutama perajin anyaman butah, tanggui, lanjung, dan lainnya, pada gilirannya bisa meningkatkan lapangan pekerjaan, peningkatan perekonomian masyarakat, serta memanfaatkan bahan lokal, seperti bambu, rotan, pandan, anjat, ilalang dan lainnya.
Oleh karena itu perilaku sehari-hari anggota FKH ini tak lain adalah sebagai perlambang bagi masyarakat ayu kita cinta lingkungan, ayu kita ramah alam, ayu kita bersahabat dengan alam, karena bersahabat dengan alam itulah kehidupan yang sebenar-benarnya. *

Video Aneka Kegiatan FKH

 

 

 

 

 

Foto Aneka Kegiatan FKHhttps://www.youtube.com/watch?v=7LgIuTzRI4c

12

3 4

5 6

7 8

10 11

12


 

 

BERKEMAH SAMBIL NIKMATI INDAHNYA EMBUN PAGI TAHURA

Oleh Hasan Zainuddin
Tatkala membuka mata saat bangun pagi di lokasi perkemahan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam kawasan Riam Kanan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, terlihat cahaya sang surya mengintip di balik pepohonan di hutan yang memiliki “segudang” spicies tanaman ini.

Sementara gumpalan embun pagi di dedaunan pohon kawasan yang memiliki aneka spicies satwa itupun terlihat seakan “bergelinjang manja” saat tersentuh sinaran mentari pagi yang cerah.

Suara “orkestra” aneka burung dan binatang lain di kawasan seluas 112 ribu hektare kawasan Pegunungan Meratus tersebut seakan melenyapkan perasaan lelah waktu menempuh perjalanan ke kawasan itu.

“Cuaca masih terasa sangat dingin, selimut tebal masih membalut tubuhku, yang membuat ku seakan enggan beranjak dari tempat tidur di perkemahan kawasan hutan lindung tersebut,” kata Abdul Kadir seorang mahasiswa FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin jurusan sejarah ini.

Abdul Kadir yang juga bergelar Utuh Tawing ini bersama penulis dan 12 orang rombongan melakukan perkemahan di wilayah tersebut, Sabtu malam (16/7) lalu, selain menikmati suasana alam sekaligus melakukan penghijauan dengan menanam 200 bibit pohon penghijauan.

Abdul Kadir melakukan aksi hijau tersebut bersama anggota komunitas Sepeda Antik (Saban) Banjarmasin yang sekaligus pula anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) setempat.

Rombongan datang ke lokasi yang termasuk kawasan hutan pendidikan ini hanya mengayuh sepeda tua (ontel) dengan jarak tempuh sekitar 60 kilometer dari Kota Banjarmasin, guna menunjukkan komunitas ini cinta lingkungan dengan menggunakan sarana angkutan ramah alam, untuk mengurangi produksi emisi karbon di udara dan menekan pemakaian energi yang tak bisa terbarukan.

Dalam perkemahan kelompok yang mengaku “sahabat alam” ini sempat berdikusi kecil tentang berbagai hal menyangkut kelestarian lingkungan ternasuk Tahura Sultan adam yang sebenarnya adalah kawasan “Menara Air” atau wilayah resapan air untuk sungai-sungai di wilayah paling selatan pulau trerbesar nusantara ini.

“Hutan ini terjaga, maka kehidupan kita di Banjarmasin dan sekitarnya akan terjada, tetapi jika hutan ini rusak maka tamatlah riwayat kita, karena tak akan ada lagi suplai air bersih bagi kita,” kata Zany Thaluk dalam diskusi tersebut.

Mohammad Ary yang merupakan pimpinan kelompok ini berbicara panjang lebar mengenai kelestarian lingkungan sebagai kehidupan yang berkelanjutan.

“Saat ini alam sudah rusak ditandai dengan asap, kering, kebakaran hutan saat kemarau banjir dan tanah longsor saat musim hujan, musibah itu bisa jadi akibat olah manusia-manusia sebelumnya, kita harus merehabilitasi, jika tidak maka anak cucu kita kemudian hari kian menderita,”katanya memberi wejangan.

Oleh karena, tambah Mohammad Ary, saatnya kelompok ini berkiprah walau sedikit tetapi ikut mengembalikan kerusakan alam ini, dan semoga ini menjadi motivasi bagi masyarakat luas untuk berbuat serupa.

Saban dan FKH ini sudah menanam sekitar 7000 pohon pinang, 4000 pohon trambesi, ribuan lagi kumpulan pohon aren, palam putri, palam, asam jawa, petai, jengkol pohon buah-buahan di berbagai lokasi baik di Banjarmasin dan sekitarnya sejak tujuh tahun keberadaan organisasi kecil dari kelompok pecinta liungkungan ini.

Usai diskusi di kemah dekat bibir sungai kecil di wilayah perkemahan tersebut, kelompok ini kemudian berpetulang ke tengah hutan.

“Coba kita masuk hutan, kita nikmati suasana alam di tengah kegelapan yang suasananya terdengar nyanyian suara binatang malam jangkrik dan belalang,”kata Muhammad Ari seraya mempipin perjalanan jelajah hutan tersebut.

Bermodalkan lampu sinter dan penerangan kecil di telpon genggam satu persatu lokasi hutan dan sungai dilalui, dan rombongan ingin sekali ketemu binang seperti landak, kancil, atau rusa.

Tetapi perjalanan ke hutan dimulai sekitar pukul 01:00 Wita tersebut tak berlangsung lama, karena takut ke sasar akhirnya balik ke kemah dan perasaan ingin ketemu binatang di tengah malam tak kesampaian kecuali hanya beberapa burung ditemui bertengger di dahan.
Alami Kerusakan

Tahura Sultan Adam berdasarkan catatan termasuk hutan lindung Riam Kanan, kawasan Suaka Margasatwa, dan hutan pendidikan.

Penulis sendiri beberapa waktu lalu sempat bertanya kepada Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, masih dijabat Akhmad Ridhani mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.

¿Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,¿ katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh kala melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

¿Hingga 2010 luasan lahan kritis yang sudah ditanami bibit pohon mencapai 100 hektare dan luasannya akan terus ditingkatkan untuk mengurangi banyaknya lahan kritis,¿ katanya seraya menyebutkan tanaman yang dikembangkan tersebut adalah jenis buah-buahan dan jenis kayu khas setempat, seperti ulin, kruing, sintuk dan lainnya.

Dijelaskan, terjadinya lahan kritis di kawasan Tahura bukan disebabkan penebangan liar tetapi lebih banyak akibat terjadinya kebakaran hutan sehingga membuat areal sekitarnya kritis karena tidak ditumbuhi pepohonan.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Dikatakannya, upaya yang dilakukan untuk mengurangi luasan lahan kritis adalah rehabilitasi lahan melalui program penanaman bibit pohon baik yang dibiayai APBD Provinsi Kalsel, APBN maupun bantuan pihak ketiga.

Pihak ketiga yang memberikan dana penghijauan di areal yang menjadi kawasan penelitian, pendidikan, dan wisata alam tersebut, selain dari donatur luar negeri juga dari berbagai perusahaan, termasuk dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin.

¿Setiap tahun melalui APBD Kalsel dialokasi anggaran untuk rehabilitasi lahan termasuk memanfaatkan dana APBN serta menjaring bantuan dari pihak ketiga terutama kalangan swasta,¿ ujarnya.

Ditambahkan, penanaman bibit pohon yang dibiayai APBD Kalsel setiap tahun mencapai luasan 10 hektare dan melalui APBN berhasil ditanami bibit pohon dengan luasan mencapai 40 hektare hingga 50 hektare.

¿Ke depan kami berupaya memfokuskan bantuan dari pihak ketiga sebagai bentuk partisipasi mereka terhadap upaya kepedulian lingkungan sehingga luasan lahan yang bisa ditanami lebih besar,¿ katanya.

Tahura Sultan Adam ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1989 secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah Kabupaten Tanah Laut.

Sejak tahun 2008 telah dibentuk UPT Dinas kehutanan Provinsi Kalsel Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan Dasar Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang SOTK Perangkat Daerah Provinsi Kalsel dan Pergub Kalsel Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tahura Sultan Adam.
Kawasan Wisata

Tahura termasuk kawasan wisata dan kawasan pendidikan karena di dalamnya terdapat hutan yang mengandung aneka jenis tanaman.

Tahura yang berekosistem hutan hujan tropika ini terdapat aneka flora dan fauna yang beberapa diantaranya spesifik Kalimantan, seperti meranti (Shorea spp), ulin (Eusideroxylon zwageri), kahingai (Santiria tomentosa).

Tanaman lain damar (Dipterocarpus spp.), pampahi (Ilexsimosa spp.), kuminjah laki (Memecylon leavigatum), keruing (Dipterocarpus grandiflorus), mawai (Caethocarpus grandiflorus), jambukan (Mesia sp.), kasai (Arthocarpus kemando), dan lain-lain.

Sedangkan faunanya terdapat bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates muelleri), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang merah (Muntiacus muntjak), kijang mas (Muntiacus atherodes), dan pelanduk (Tragulus javanicus).

Kemudian juga ada hewan landak (Hystrix brachyura), musang air (Cynogale benetti), macan dahan (Neofelis nebulosa), kuau/harui (Argusianus argus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang (Berenicornis comatus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang bondol (Haliastur indus), raja udang sungai (Alcedo atthis), raja udang hutan (Halycon chloris), dan lain-lain.

Wilayah ini terdapat Waduk seluas lebih kurang 8.000 Ha dengan fungsi utama sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air satu-satunya di Provinsi Kalimantan Selatan. Berperan penting sebagai pengatur tata air, mencegah erosi dan banjir, sebagai objek wisata alam, danau/waduk ini memiliki bentang alam yang menarik dengan panorama danau, lembah dan bukit disekelilingnya serta untuk kegiatan olahraga air.

Objek wisata yang ada kawasan ini antara lain Pulau Pinus
Berupa pulau seluas lebih kurang tiga hektare terletak di tengah danau dapat ditempuh lebih kurang 15 menit dari Pelabuhan Tiwingan. Pulau ini didominasi oleh tanaman Pinus Merkussi.

Kemudian juga ada objek wisata Pulau Bukit Batas kurang lebih satu hektare berdekatan letaknya dengan pulau pinus, dapat ditempuh lebih kurang 30 menit dari pelabuhan Tiwingan. Seperti halnya dengan pulau pinus, kawasan ini cocok untuk rekreasi santai dan olahraga.

Lalu ada pula air terjun Surian, air terjun Batu Kumbang, dan air terjun Mandin Sawa yang sangat menunjang kegiatan Bina Cinta Alam. Dari sungai Hanaru dapat dicapai lebih kurang dua jam dengan menelusuri sungai Hanaru atau lebih kurang tiga jam melalui jalan patroli yang sudah ada.

Air Terjun Bagugur terletak di hulu sungai Tabatan. Dari desa Kalaan dapat ditempuh lebih kurang dua jam melalui jalan reboisasi dan areal bekas perladangan berpindah.

Bumi Perkemahan Awang Bangkal seluas enam hektare terletak di daerah Awang Bangkal. Tidak jauh dari jalan raya Banjarbaru ¿ Pelabuhan Tiwingan, berada didekat sungai Tambang Baru, sehingga mudah mendapatkan air. Bentang alam dari bukit disekelilingnya serta tepian sungai Tambang Baru merupakan daya tarik tersendiri.

Pusat Pengelola/Informasi di Mandiangin di daerah Mandiangin merupakan suatu komplek bangunan yaitu kantor pusat pengelola, kantor pusat informasi sumber daya alam, plaza dan bumi perkemahan. Di areal ini terdapat prasasti peresmian berdirinya Tahura Sultan Adam dan Puncak Penghijauan Nasional (PPN) ke 29 yang ditandatangani oleh Presiden RI Bapak Soeharto.

Di lokasi ini pula pusat pengelolaan hutan pendidikan Fakultas Kehutanan Unlam. Pada pengembangan selanjutnya kawasan ini dikembangkan menjadi arboretum, penangkaran satwa, taman safari, kolam renang, taman burung, bumi perkemahan dilengkapi dengan souvenir shop dan lain-lain.

 

FKH TANAM BUAH SERAYA SEDEKAH OKSIGEN

Banjarmasin ()- Bersepeda onthel, Zany Thalux (45 tahun) seorang anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin berkeliling satu kampung ke kampung lain di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hanya untuk tanam pohon.

BUAH
Bersama sejumlah teman di komunitas unik ini, Zany Thalux mencangkul tanah satu demi satu lubang ke lubang lain, seraya menanam pepohonan maksudnya agar lokasi kota ini dan sekitarnya menjadi rindang.

Dari sekian pepohonan hijau yang dikembangkan oleh komunitas yang beranggotakan sekitar 70 orang ini sebagian besar adalah tanaman buah lokal, seperti rambutan garuda, rambutan antalagi, kuini, mentega, kacapuri, langsat, kasturi (mangepera delmiayan kasturi), rambai padi, petai, jengkol, dan asam jawa.

Sudah beberapa lokasi dihijaukan oleh komunitas sebagian anggotanya berusia tua ini, dan dari satu lokasi aksi ke lokasi aksi lainnya menggunakan sepeda tua pula (onthel).

Sebagai contoh penamaman pohon buah di halaman masjid raya Sabilal Muhtadin, di halaman Gelanggang remaja Hasanudin HM, atau di Ruang Terbuka Hijau (RTH) milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih.

Dalam upaya pengembangan tanaman lokal ini para anggota komunitas sekaligus berkampanye, menggunakan selebaran, sepanduk, pamlet, dan alat peraga yang menyebutkan menanam pohon adalah bersedekah oksigen, menanam pohon adalah beramal jariah, dan menanam pohon adalah menciptakan lingkungan sehat.

Ia menggambarkan, seandainya seseorang menanam pohon,kemudian pohon itu berusia 300 tahun, maka usia sejarah penanamnya bisa mencapai 300 tahun, selama 300 tahun pula penanamnya memperoleh amal jariah.

Sebab pohon yang ditanam itu menciptakan keteduhan, menciptakan keindahan, menyerap polutan (racun udara), pohon habitat binatang, jika pohon itu berbuah berarti ditambah amal jariahnya , itu hanya satu pohon, jika sepuluh pohon, jika seratus pohon, jika seribu pohon bisa dibayangkan berapa banyak manfaat yang diberikan oleh si penanam pohon.

Belum lagi pohon memproduksi oksigen, karena oksigen itu mahal makanya perlu disediakan di alam.Sekarang saja harga oksigen di rumah sakit minimal rp25 ribu per liter, padahal sehari seorang manusia menghirup 2.880 liter oksigen kali Rp25 ribu berarti sehari kalau beli seharga Rp72 juta.

“Makanya kami tak pernah lelah menanam pohon, dan aksi kami lakukan setiap hari Sabtu dan Minggu, karena tak sedikit anggota kami yang juga pegawai negeri sipil, pedagang, dan usahawan yang hanya waktu luang di dua hari dalam seminggu tersebut,” kata Zany Thaluk yang dikenal seorang PNS lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin ini.

Menurut kordinator lapangan FKH ini lingkungan hijau yang penuh oksigen itu perlu terutama menghadapi era pemanasan global, tanpa upaya penghijauan maka penderitaan dan penderitaan akan selalu muncul, seperti kekeringan, kebakaran hutan, banjir, serta yang terakhir serbuan asap.

“Kekeringan, banjir, dan asap sekarang ini, mungkin saja kesalahan manusia-manusia sebelumnya yang serakah merusak lingkungan, kalau itu terus dibiarkan, maka anak cucu kemudian hari akan lebih menderita lagi,” katanya.

“Sekarang saja, tiap kemarau rasanya kita ini bagaikan hidup di dalam awan saja, karena penuh asap, coba kalau tak ada rehabilitasi lingkungan, bagaimana setahun, lima tahun, atau sepuluh tahun ke depannya, mungkin asap kian pekat lagi, susah dibayangkan,” kata Zany Thalux dengan semangat.

Beranjak dari pemikian itulah, kaitan hari buah sedunia yang diperngati setiap 1 Juli ini FKH mencoba mengkampanyekan pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon buah-buahan lokal apalagi Kalimantan dikenal banyak spicies tanaman khas yang sebagian pula sudah langka, maka perlu pelestarian.

Sementara Wakil Ketua FKH, Mohamad Ary menambahkan mengajak seluruh masyarakat tanam pohon buah buahan baik untuk konservasi hutan, peneduh, maupun buah konsumsi.

Salah satunya Asam Jawa atau Asam Kamal (tamarindus indica).

Pohon ini cocok untuk ditanam sbg konservasi lahan dan pohon peneduh. Pada lahan subur, sdh berbuah pada usia 5 thn.

Batang pohonnya cukup keras dan tumbuh besar mampu hidup hingga ratusan tahun. Buahnya mengandung senyawa kimia antara lain asam sitrat, asam anggur, asam suksinat, pectin dan gula invert.

Kulit bijinya mengandung phlobatanim dan bijinya mengandung albuminoid serta pati.

Daunnya terdapat kandungan kimia saponin, flavonoid dan kanin. Unsur-unsur yang terkandung dalam tanaman asam jawa, baik daun, kulit pohon maupun daging bijinya dapat dimanfaatkan untuk bahan obat-obatan tradisional.

Tanaman ini memiliki khasiat yang cukup banyak dalam menyembuhkan beberapa penyakit, di antaranya daun asam jawa berkhasiat untuk menurunkan kadar kolesterol darah yang tinggi, pengobatan demam, rematik, sakit kuning, cacingan, sariawan, sulit tidur atau insomnis.

Sahabat sahabat alam FKH Banjarmasin, bekerja sama dengan BP DAS mulai menanam dan membagikan pohon ini, dan bekerja sama dengan Hidayat Aziz, sdh mbagikan pohon ini kepada masyarakat untuk ditanam di tepian jalan kawasan Loksado Pegunungan Meratus, agar tebing jalan tidak lagi longsor.

Selain pohon ini, FKH juga bermimpi bisa menanam lebih banyak jenis pohon untuk kelestarian lingkungan dan penyelamatan plasma nutfah.

Kian Langka

Samlan (60 th), seorang warga Banjarmasin mengaku rindu mencicipi lagi beberapa buah Kalimantan (Borneo) yang dulunya banyak ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan.

Tetapi kerinduan akan buah khas Borneo tersebut seringkali tak kesampaian, masalahnya buah tersebut sudah sulit diperoleh, walau mencarinya ke mana-mana termasuk ke wilayah sentra buah-buahan daerah Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) atau yang sering pula disebut wilayah Hulu sungai.

“Dulu aku sering makan buah durin merah, yang disebut Lahung, tetapi kini jangankan memakannya melihat pun sudah tak pernah lagi,” kata Mahlan saat bercerita kepada penulis.

Kerinduan akan buah-buahan lokal tersebut agaknya bukan hanya menimpa Samlan ini tetapi mungkin ratusan bahkan ribuan orang warga yang tinggal di bagian selatan pulau terbesar di tanah air ini.

Sebut saja buah yang sudah langka itu yang disebut karatongan, mahrawin, atau mantaula yang kesemuanya masih family durian (durio family).

Belum lagi jenis buah lain seperti family rambutan banyak yang sudah hampir punah, sebut saja siwau, maritam, jenis mangga-manggaan yang dulu banyak dikenal dengan sebutan asam tandui, hasam hurang, hambawang pulasan dan beberapa jenis lagi yang sulit diperoleh dipasaran.

Berdasarkan keterangan buah jenis di atas langka lantasan pohon buah-bauah tersebut terus ditebang untuk digunakan sebagai bahan baku gergajian.

Berdasarkan keterangan penduduk Desa Panggung pohon buah yang terbilang langka tersebut biasanya berbentuk besar dan tinggi, sehingga menggiurkan bagi orang untuk menebangnya dan menjadikan sebagai kayu gergajian.

“Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kayu buah-buahan tersebut ditebang diambil kayunya untuk dijual dan untuk bahan bangunan pembangunan rumah penduduk,” kata Rusli penduduk setempat.

Perburuan kayu buah-buahan tersebut setelah kayu-kayu besar dalam hutan sudah kian langka pula, akibat penebangan kayu sebelumnya, sementara permintaan kayu untuk dijadikan vener ( bahan untuk kayu lapis) terus meningkat, setelah kayu-kayu ekonomis dalam hutan sudah sulit dicari, Bukan hanya untuk vener, kayu-kayu dari pohon buah itu dibuat papan untuk dinding rumah penduduk, atau dibuat balokan serta kayu gergajian.

Beberapa warga menyayangkan adanya tindakan oknum masyarakat yang suka melakukan penebangan kayu buah tersebut, lantaran jenis kayu ini adalah kayu yang berumur tua.

“Kalau sekarang ditanam maka mungkin 50 tahunan bahkan ratusan tahun baru kayu itu besar,” kata warga yang lain. Sebagai contoh saja, jenis pohon buah lahung yang sering ditebang adalah pohon yang ratusan tahun usianya, makanya ukuran garis tengahnya minimal satu meter.

Warga mengakui agak sulit melarang penebangan kayu pohon buah tersebut lantaran itu kemauan pemilik lahan dimana pohon itu berada, dijual dengan harga mahal, sehingga oleh pemilik lahan cara itu dianggap menguntungkan.

Pohon buah-buahan lokal Kalimantan ini banyak ditemui di wilayah adanya pemukiman penduduk daratan Pegunungan Meratus seperti di Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dikenal sebagai sentra buah-buahan lokal Kalsel.

Kawasan ini setiap musim buah memproduksi buah lokal seperti tiwadak (cempedak), durian yang kalau di kawasan setempat terdapat sekitar 30 spicies durian, rambutan sekitar 40 spicies, dan mangga-manggaan yang juga puluhan spicies.

Jenis buah yang biasanya selalu melimpah, adalah langsat terdapat beberapa spicies,rambai beberapa spicies.

Mangga-manggan saja juga banyak jenisnya sebut saja Kasturi (Mangifera casturi), Hambuku (Mangifera spp), Hambawang (Mangifera foetida), kuwini (Mangifera odorata), Ramania, tetapi populasinya terus menyusut termasuk buah lain seperti Pampakin (Durio kutejensis), Mundar (Garcinia spp), Pitanak (Nephelium spp), Tarap (Arthocarpus rigitus), Kopuan (Arthocarpus spp), Gitaan (Leukconitis corpidae), serta Rambai (Sonneratia caseolaris).

Buah tersebut di atas dulu masih banyak tumbuh di mana-mana hanya saja sekarang sudah mulai menghilang, belum terlihat upaya pelestariannya.

CARA BERTANI BANJAR MALAYSIA BEDA DARI BANUA

penulis

Penulis dipersawahan (Bandang) warga Banjar Sungai Manik,Malaysia

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 30/10 (Antara) – Cara bertani sawah warga Suku Banjar yang berada di beberapa wilayah negeri di Negara Malaysia sudah jauh berbeda bila dibandingkan cara tradisional bersawah khas Banjar di Banua atau Kalimantan Selatan, Indonesia.

“Mereka warga Banjar Malaysia sudah menggunakan sistem modern, semua sudah menggunakan mekanik,” kata Abdussamad Thalib, Pembantu Dekan Dua, Fakultas pertanian Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Kamis.

Hal tersebut dikemukakan Abdussamad Thalib setelah pulang dalam perjalanan mengikuti perjalanan titian muhibah 17-26 Oktober 2014 ke beberapa lokasi pemukiman suku Banjar yang tinggal ratusan tahun di negeri jiran tersebut.

Saat di Malaysia, rombongan dari Forum Silaturahmi Kulaan Banua (FSKB) yang dikoordinir oleh Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin tersebut sempat melihat cara bertani di Bagan Serai dan Sungai Manik, negeri Perak Malaysia.

Di sana rombongan berjumlah 19 orang berbincang dengan seorang tokoh masyarakat Banjar Bagan Serai, Haji Sulaiman yang kala itu menceritakan bahwa cara bertani atau yang disebut bandang warga setempat sudah tak memanfaatkan lagi cara lama masyarakat Banjar seperti layaknya di Banua (Kalimantan Selatan).

Menurut Haji Sulaiman yang mengakui nenek moyangnya dari Kelua Kabupaten Tabalong Kalsel Indonesia tersebut, petani di sana tak lagi “merincah” (menyiapkan lahan) dengan alat tajak, tak lagi “menanjang” (nanam padi) dengan alat tanjang, serta “mengatam” (panen padi) dengan ranggaman (ani-ani) seperti layaknya di Banua.

Tetapi cara kerja bandang di sana sudah semuanya pakai mekanik atau alat mesin pertanian (Alsistan), mereka hanya main perintah atau tunjuk, tak lagi bekerja sebagaimana cara bersawah tradisional.

“Badan kami tak lagi kotor untuk berjebur ke bandang, kami cukup perintahkan kepada pemakai Alsintan untuk mengerjakan semuanya, tinggal membayar upah,” tuturnya.

Mulai menyiapkan lahan sampai panen selama tiga bulan semuanya pakai mekanik, maka petani tinggal menerima jumlah padi yang dihasilkan dari alat-alat mesin tersebut.

Bahkan bertani di sini banyak memperoleh bantuan pemerintah (kerajaan) termasuk penyediaan pupuk, bahkan bila sudah panen setiap panen oleh kerajaan diberikan intensif lagi, setiap ton diperhitungkan sekitar 200 ringgit.

“Jika hasil sawah atau bandang 10 ton per hektare-nya, maka bonus kerajaan setiap ton 200 ringgit Malaysia, maka setiap ton petani akan memperoleh sekitar 2000 ringgit, jika setiap petani mengelola 10 hektare bandang maka akan memperoleh bonus kerajaan 20000 ringgit,” katanya.

Karena itu petani setempat, selain memperoleh hasil sawah untuk diri sendiri hasil itupun diperhitungkan oleh kerajaan untuk diberikan bonus, maksudnya agar petani giat bekerja untuk menghasilkan pangan bagi kemakmuran masyarakat.

Wilayah pemukiman suku Banjar yang banyak mengelola sawah tersebut, adalah wilayah Bagan Serai dan Sungai Manik ini karena wilayahnya dataran rendah yang berair dan sistem irigasinya di bantu oleh kerajaan.

Dengan cara bertani demikian maka sudah dipastikan setiap petani tampak lebih sejahtera bila dibandingkan dengan petani banua, maka jangan heran jika setiap petani sudah memiliki mobil atau yang disebut warga setempat kereta.

Kunjungan FSKB tersebut bertujuan untuk mempererat hubungan persaudaraan tersebut antara warga Banjar di Malaysia yang ditaksir sekitar dua juta jiwa dengan warga Banjar yang ada di Banua.

Selain saling mengunjungi satu sama lain, cara lain mempererat persaudaraan tersebut melalui pertemanan dan komunikasi melalui jejaring sosial, katanya seperti Facebook ada grup kulaan banjar se-dunia yang sudah beranggotakan 14 ribu orang lebih.

Kaitan saling mengunjungi tersebut sudah pernah dilakukan baik oleh kulaan Banjar Malaysia ke Banua (Kalsel) maupun kulaan Banjar Banua ke Malaysia, dan saling kunjung mengunjungi tersebut akan terus dilakukan, apalagi dari kedua belah pihak ada yang berkaitan berkeluarga.

Untuk kunjungan balasan kedua kulaan Banjar Banua yang dikoordinir Ika Unlam selain silaturahmi, wisata, serta buat dokumenter orang Banjar madam ke Malaysia.

Banyak lokasi yang dikunjungi antara lain ke Kampong Bukit Melintang yang 80 persen penduduknya orang Banjar, mengikuti kegiatan “Mini Karnival Kulaan” kegiatannya berupa demonstrasi membuat wadai (kue) Banjar, kegiatan membaca berjanji, ada penjualan produk2 usaha orang Banjar Malaysia, silaturrahmi, demonstrasi pukong (bapukung).

Ke Universitas Islam Azlan Shag bertemu dengan rektor Nordin Kurdi serta Prof Jamil Hasim yang keturunan Banjar, di Kuala Kangsar.

Rombongan juga Johor Bahru, singgah di Kantor PBM dan Koperasi Kulaan (Ko-Kulaan) di Bangi, pusat wisata negeri Melaka, mengunjungi objek wisata berupa situs warisan (heritage) yang diakui UNESCO, antara lain Pelabuhan Lama dimana terdapat Museum kapal Portugis, Benteng Portugis, Pasar Seni dan Kerajinan cendera mata.

MENYAKSIKAN KEBERADAAN DUA POHON BESAR BALANGAN

Oleh Hasan Zainuddin
pohon kuisi pohon kusi
Berjalan sekitar setengah jam dari Desa Panggung, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan selatan, menyusuri hutan bambu, kebun karet, dan menyerangi sungai serta semak belukar kami bertiga dari Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin sampai ketujuan yakni dua pohon besar.

Kondisi fohon tersebut terlihat menjulang ke udara melebihi tingginya pepohonan lainnya di kawasan perkebunan karet dan semak belukar tersebut.

“Itulah dua pohon yang ditaksir berusia sekitar 300 tahun, sebab sejak kecil saya sudah menyaksikan kedua pohon tersebut ya sudah seperti itu,” kata Ali Kucut (55 tahun) warga Desa Panggung yang menjadi pemandu perjalanan kami ke hutan tersebut.

Menurut Ali, kedua pohon tersebut merupakan sisas hutan alam yang masih tertinggal, karena di kawasan tersebut sudah menjadi kawasan perkebunan karet.

Kedua pohon tersebut terpelihara karena bermanfaat, pertama pohon kayu kusi adalah pohon besar yang biasanya di atas atau di dahan pohon tersebut menjadi habitat lebah atau tempat lebah membuat sarang.

Selain itu kayu kusi termasuk kayu bernilai ekonomis seperti kayu ulin tetapi karena manfaat sarang lebah itulah maka oleh pemilik lahan tersebut yakni Ifan Paijas, tidak membolehkan siapapun untuk menebang kayu itu untuk dibuat papan atau bahan lainnya.

Sementara pohon buah lahung yang merupakan milik Ali Kucut sendiri diakuinya tak ingin ditebang lantaran menghasilkan buah tiap tahun.

Pohon buah lahung miliknya tak kalah besarnya, merupakan harta warisan dari orang tuanya sehingga tak boleh siapapun untuk menebang.

“Alhamdulillah tiap tahun pohon ini menghasilkan ratusan bahkan ribuan biji buah lahung, lumayan kalau dijual untuk menambah penghasilan keluarga,” kata Ali Kucut.

Berdasarkan catatan, jenis pohon ini hampir sama dengan pohon durian hanya saja lebih besar dan tinggi, dan yang membedakan adalah buahnya, walau juga berduri seperti dirian tetapi durinya panjang-panjang dan lancip.

Selain itu, warga kulit buah ini merah kehitaman dan menghasilkan aroma yang menyengat beda dibandingkan aroma buah durian matang.

Untuk mengambil isi buah, buah ini harus dipenggal dengan parang karena tak bisa dibelah seperti durian, sebabg kulitnya relatif kuat dan alut sudah belah seperti durian.

Sementara isi buah mirip isi buah durian tetapi daging buah warnanya kuning keemasan, rasanya daging buah juga beda dengan durian, namun ketebalan daging buah yang tipis, sehingga walau makan satu biji tidak terasa kenyang.

Lantaran gading buah sedikit maka banyak warga memanfaatkan daging buah lahung atau layung ini hanya untuk bahan pecampur adonan kue-kue agar kue terasa enak.

Selain itu juga bahan pecampur bubur kacang hijau, kolak, atau makanan lainnya, dan makanan apa saja yang menggunakan bahan dari buah langka ini pasti mudah dikenal penduduk setempat karena aromanya itu.

pohon lahung pohon lahung

Dilestarikan

Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, berharap dua pohon besar yang terletak di hutan Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, tetap dipelihara sebagai harta warisan alam.

“Masalahnya pohon sebesar itu sekarang ini sudah sulit diperoleh dan dilihat sebagai kekayaan dan warisan hutan alam,” kata Wakil Ketua FKH Banjarmasin Mohammad Ary saat berada di Desa Panggung, Kabupaten Balangan, Kalsel ini.

Mohamad Ary bersama anggota FKH lainnya berada di desa yang berdekatan dengan Pegunungan Meratus tersebut untuk melihat dari dekat kedua pohon besar yang tumbuh di areal perkebunan karet milik warga tersebut.

Kedua pohon besar tersebut pertama adalah pohon kayu kusi (sejenis kayu besi) yang berdiameter (garis tengah) hampir dua meter dengan ketinggian puluhan meter, sehingga enam orang dengan tangan terbentang mengelilingi pohon tersebut untuk bisa bersentuhan satu sama lain.

Menurut Ary, kedua pohon besar tersebut sangat berguna dikemudian hari sebagai objek wisata, objek pelelitian dan pendidikan.

Oleh karena itu ia berharap kepada pemilik lahan atau warga setempat bisa menjaga kedua pohon besar tersebut, begitu juga pemerintah Kabupaten Balangan harus ikut memanfaatkan kedua pohon itu sebagai objek wisata alam yang eksotis.

PAK TUA MENGABDI LINGKUNGAN MELALUI RIBUAN PINANG

Oleh Hasan Zainuddin

pinang

Pinang di tepian Bandara Syamsudin Noor

Keringat begitu deras meleleh di wajah berjenggot dan berkumis yang sudah memutih tetapi kedua orang pecinta lingkungan ini terus saja mencangkul tanah merah di tengah cuaca panas di tepi jalan trans Kalimantan.

Satu lubang dan dua lubang terus mereka gali, satu per satu bibit pohon pinang mereka tanam, sehingga tampak berjejer di dekat pagar bandara Syamsudin Noor Kota Banjarbaru, Proivinsi Kalimantan selatan ini.

Sesekali mereka mengobrol seraya menenggak air putih dan menyeka keringat yang terus membasahi baju kaos lengan panjang yang mereka kenakan.

“Kita ini memang orang gila, ya gila terhadap tanaman, karena ingin bumi ini hijau,” kelakar Pak Mugeni (66 tahun) salah seorang dari mereka berbicara kepada temannya yang juga tua Akhmad Arifin (55 tahun).

akhmat Arifin Akhmat Arifin

“Ya memang kita ini orang gila,” kata Akhmad Arifin seraya tertawa terkekeh-kekeh sambil terus mencangkul tanah dengan pacul walau di dekat mereka hilir-mudik kendaraan bermotor di jalan yang padat arus lalu-lintas jalur Banjarmasin ibukota Provinsi Kalsel dengan Kota Martapura ibukota Kabupaten Banjar itu.

Di lokasi saat penanaman puluhan bibit pinang, kedua orang yang sudah terbilang tua ini tak pernah kenal lelah, mereka terus bekerja dan bekerja dari pagi hingga matahari tenggelam.

Semua pekerjaan tersebut dilakukan oleh Pak Mugeni seorang pensiunan PNS dan Akhmat Arifin yang kini mendekati pensiun PNS tersebut tanpa ada yang menyruh, tanpa ada yang memberi upah, atau tanpa ingin dilihat orang, semuanya dilakukan dengan keikhlasan.

“Alhamdulillah sudah lima ribu bibit berhasil kami tanam bibit pinang ini sejak dua tahun lalu,” kata Akhmad Arifin.

Menurut Akhmat Arifin mereka berdua membentuk sebuah komunitas yang namanya Masyarakat Peduli Pohon (MPP), anggota komunitas ini baru terdiri dari dirinya sendiri bersama seluruh keluarganya terdiri dari isteri dan anak-anak dan Pak Mugeni sekeluarga juga terdiri dari isteri dan anak-anaknya.

Kedua keluarga besar ini sejak dua tahun ini bekerja keras melakukan pembibitan pohon pinang, baik di pekarangan rumah masing-masing juga di beberapa lahan khusus milik sendiri dan lahan yang disewa.

Untuk melakukan pembibitan tersebut, mereka jauh-jauh hari melakukan pencarian bibit pinang atau buah matang yang diambil dari Birayang Kabupaten Hulu Sungai Tengah maupun di Rantau Kabupaten Tapin.

Buah pinang yang memerah berarti sudah tua dan siap disemai itu dibeli dari uang kantong sendiri dengan harga Rp300 per biji.

Buah pinang tersebut kemudian disemai di pekarangan dan kebun setelah tumbuh kemudian dimasukan ke plebek (pelastik tanaman) dan dibiarkan beberapa bulan setelah berakar dan agak besar lalu dipindahkan ke lokasi yang menjadi sasaran penghijauan pohon pinang ini, kata Akhmat Arifin.

Obsesi mereka tak lain berkeinginan menghijaukan tepi jalan protokol antara Kota Banjarmasin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ke arah Kota Martapura ibukota Kabupaten banjar dengan ribuan pohon pinang.

“Keinginan itu sudah lama sekali tetapi pelaksanaannya baru dikerjakan dalam dua tahun terakhir ini.” katanya seraya menyebutkan jarak kedua kota itu 45 kilometer.

Menurut Akhmad Arifin yang dikenal sebagai pecinta lingkungan dan pemerhati Bekantan (kera hidung panjang /Nasalis larvatus) tersebut,pihaknya sudah mengumpulkan sedikitnya 15 ribu bibit pohon pinang.

Dari jumlah tersebut sebanyak sekitar lima ribu batang sudah di tanam,sebagiannya tepian jalan antara banjarmasin-Martapura, seperti di kawasan Gambut, Simpang tiga Liang Anggang, tepian Bandara Syamsudin Noor, dekat asrama haji, dan daerah lainnya.

Pohon yang ditanam tersebut sekarang sudah tinggi sekitar satu meter, dan sudah menghijaukan tepian jalan tersebut, khsususnya yang tampak sisi jalan trans Kalimantan di dekat pagar Bandara Syamsudin Noor Jalan A Yani kilometer 23 tersebut.

Penanaman secara bertahap, dan itu dilakukan dan kini akan terus ditanami hingga sepanjang jalan kedua kota di Kalsel itu hijau dengan pohon pinang, katanya.

Menurutnya, penanaman tak bisa langsung banyak lantaran bisa dikerjakan disaat ia dan temannya Pak Mugeni tidak ada kerjaan, makanya paling bisa dilakukan pada hari Sabtu atau minggu.

“Maklum saya ini kan masih sebagai PNS di lingkungan Pemprov Kalsel, jadi pekerjaan penanaman hanya hari Sabtu atau Minggu,” katanya seraya menyebutkan saat penamaman mereka berdua hanya bisa menanam sehari puluhan batang saja.

Sebab menanam pinang tak sembarang bisa dilakukan, tanah harus dikasih lubang besar dulu, baru di buah bibit kemudian ditimbun lalu disiram, katanya.

Selain itu, mereka juga menanam pinang di beberapa lokasi Banjarmasin, seperti Jalan Kayu Tangi, Jalan Pramuka, Jalan Gatot Soebroto, Siring Tendean, halaman Masjid Jami, lokasi masjid dan makam Sultan Suriansyah,deman markas besar Korem Antasari Jalan Sudrman, serta arah ke Handil Bakti.

masjid jami Tanaman di Masjid Jami

Pilihan penghijauan pinang karena banyak pertimbangan karena selain mudah memperoleh bibit, mudah dirawat dan mudah tumbuh, disamping memiliki estetika (keindahan), maka bilaa menanam pohon pinang di sebuah lokasi apalagi perkotaan maka lokasi kota itu akan menjadi cantik dan hijau (green and beautiful).

Pohon pinang, daunnya tidak berguguran tak membuat sampah kota, pohonnya tegak lurus tak bercabang hingga tak menghalangi pemandangan terutama arus lalu-lintas, akarnya kuat sulit tumbang, maka sangat cocok di pinggir jalan

Selain itu, jika menanam pohon penghijauan termasuk pinang maka merupakan bentuk pengabdian lingkungan sekaligu memberikan sedekah oksigen kepada masyarakat, karena pohon penghijauan selain menyerap polutan (racun di udara) juga mengeluarkan oksigen bagi kehidupan manusia, katanya.

Dengan pertimbangan tersebut maka sejak tahun 2012, 2014, dan tahun-tahun berikutnya akan terus menanam pinang minimal menghabiskan 15 ribu bibit yang sudah tersedia, tetapi jika dianggap masih perlu bibit tersebut akan ditambah lagi.

“Menanam pohon pinang ini diharapkan akan memancing pihak pecinta lingkungan lain menanam pohon jenis lainnya, agar bumi ini terus hijau dan mengurangi efek dari pemanasan global yang sudah dirasakan belakangan ini, dan itulah bentuk yang bisa kami persembahkan kepada bumi ini jika kami sudah meningal dunia kelak,” kata Akhmat Arifin.

Hanya saja sedih, jika tanaman pinang yang mereka tanam kekeringan di saat musim kemarau, terpaksa mereka berdua setiap hari menyiram bibit tanaman itu satu per satu dengan peralatan seadanya seperti ember, jeregan, atau teko air.

Sedih lagi jika tanaman mereka di tebang orang yang tak suka terhadap tanaman tersebut, atau terkena proyek pelebaran jalan, proyek pembangunan gedung, atau bahkan karena dicabut oleh masyarakat yang iseng.

mugeni

Saat ku (penulis) bantu Pak Mugeni tanam pinang

pinang

pinang.

lokasi tanaman pinang di depan Makorem Banjarmasin

Berbagai Manfaat

Menurut catatan Akhmat Arifin, pinang terutama ditanam untuk dimanfaatkan bijinya, yang di dunia Barat dikenal sebagai betel nut. Biji ini dikenal sebagai salah satu campuran orang makan sirih, selain gambir dan kapur.

Biji pinang mengandung alkaloida seperti misalnya arekaina (arecaine) dan arekolina (arecoline), yang sedikit banyak bersifat racun dan adiktif, dapat merangsang otak.

Sediaan simplisia biji pinang di apotek biasa digunakan untuk mengobati cacingan, terutama untuk mengatasi cacing pita. Sementara itu, beberapa macam pinang bijinya menimbulkan rasa pening apabila dikunyah.

Zat lain yang dikandung buah ini antara lain arecaidine, arecolidine, guracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya.

Secara tradisional, biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit disentri, diare berdarah, dan kudisan, biji ini juga dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna merah dan bahan penyamak.

Berdasarkan catatan lagi, akar pinang masa lalu digunakan sebagai bahan peracun untuk menyingkirkan musuh atau orang yang tidak disukai.

Pelepah daun yang seperti tabung (dikenal sebagai upih) digunakan sebagai pembungkus kue-kue dan makanan. Umbutnya dimakan sebagai lalapan atau dibikin acar.

Batangnya kerap diperjual belikan, terutama di kota-kota besar menjelang perayaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, sebagai sarana untuk lomba panjat pinang. Meski kurang begitu awet, kayu pinang yang tua juga dimanfaatkan untuk bahan perkakas atau pagar. Batang pinang tua yang dibelah dan dibuang tengahnya digunakan untuk membuat talang atau saluran air.

Pinang juga kerap ditanam, di luar maupun di dalam ruangan, sebagai pohon hias atau ornamental.

Saat ini biji pinang sudah menjadi komoditi perdagangan. Ekspor dari Indonesia diarahkan ke negara-negara Asia selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, atau Nepal. Negara-negara pengekspor pinang utama adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Myanmar.

Biji pinang yang diperdagangkan terutama adalah yang telah dikeringkan, dalam keadaan utuh (bulat) atau dibelah. Di negara-negara importir tersebut biji pinang diolah menjadi semacam permen sebagai makanan kecil.

Manfaat buah pinang sangat banyak untuk kesehatan seperti meningkatkan gairah seks, mengobati luka kulit, obat cacingan, menguatkan gigi dan gusi, menyembuhkan kudis, obat setelah melahirkan dan aneka manfaat kesehatan lainnya.

Melihat “segudang” manfaat itulah maka tak salah kiranya pilhan penghijauan memilih tanaman jenis palm-palman ini, demikian Akhmad Arifin.

pinang pinggir jalan

Contoh pinang dipinggir jalan yang ada di daerah lain begitu indah dan hijau

FKH BANJARMASIN MULAI WUJUDKAN “GREEN CITY”

Oleh Hasan Zainuddin

FKH
Banjarmasin, 31/1 (Antara)- Kondisi Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang sebelumnya terlihat gersang, kini telah berubah 180 derajat.

Perubahan drastis itu antara lain terlihat di Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Hasannuddin, Jalan A Yani, Jalan Brigjen Hasan Basri.

Waktu itu orang jangankan berjalan kaki, naik kendaraan roda dua terasa kepanasan, tetapi sekarang jalan tersebut begitu rindang, teduh, sejuk, dan dingin sehingga orang berani berlama berteduh, berjalan kaki, atau bersepeda di kawasan itu.

“Saya begitu senang melihat kota kita yang teduh, itu berkat semua pihak termasuk Pemerintah Kota Banjarmasin yang berusaha menciptakan kota yang hijau, bukan sebuah kota yang gersang seperti waktu lalu,” kata Wakil Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin, Mohammad Ari.

Apalagi, katanya, sesuai amanat Undang-undang No 26/2007 tentang penataan ruang, Pemkot Banjarmasin bersama warga berkomitmen melakukan pembangunan berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan alami.

Dalam hal tata ruang 2012 Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menetapkan Kota Banjarmasin sebagai kota hijau (green city) bersama 60 kota lainnya di Indonesia.

Sebagai kota hijau ada delapan atribut yang harus dilakukan oleh kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini.

Delapan atribut tersebut seperti adanya perencanaan pembangunan yang mengarah kepada pelestarian lingkungan, ketersediaan Ruang terbuka Hijau (RTH) seluas 30 persen dari luas kota sekitar 90 kilometer persegi.
Kemudian kota ini juga harus menerapkan ramah energi atau tidak melakukan pemborosan, harus tersedianya  air bersih dan pemakaian yang terkendali, penanganan limbah dan sampah yang bagus hingga tak mencemari liungkungan.

Atribut lain, seperti pemanfaatan bangunan yang tersedia taman-taman dan penghijauan dan hemat energi, transportasi yang tidak menimbulkan banyak polusi serta hemat bahan bakar, serta peran warga setempat untuk mendukung keberadaan kota hijau tersebut.

“Kami sebagai warga masyarakat yang tergabung dalam wadah FKH tentu saja berkomitmen kuat menciptakan Banjarmasin sebagai kota hijau tersebut, agar kota ini benar-benar menjadi kota yang indah, rindang, dan sejuk hingga menjadi lokasi yang nyaman sebagai hunian,” katanya.

FKH sendiri  adalah kumpulan organisasi cinta lingkungan, seperti dari komunitas pencinta pohon, Persatuan Anggrek Indonesia (PAI), Pena Hijau, Komunitas Wartawan Banjarmasin Cinta Lingkungan, Mapala Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), serta komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (Saban).

Organisasi FKH sendiri sudah melakukan penghijauan dengan ribuan pohon trambesi, 2.500 pohon pinang, dan terakhir gerakan penanamaan seribu lukut (Asplenium Nidus) atau sering pula disebut tanaman paku sarang burung.

Penanaman lukut tersebut berlangsung setiap Sabtu pada tiga minggu terakhir dan hampir 800 pohon sudah ditanam, baik di Jalan Lambung Mangkuratm maupun di Jalan Pire Tenbdean atau di pohon penghijauan proyek Siring setempat.

Berdasarkan catatan, tanaman lukut  merupakan jenis tumbuhan paku populer sebagai tanaman hias halaman.

Orang Sunda menyebutnya kadaka, sementara dalam bahasa Jawa dikenal dengan kedakah. Penyebaran alaminya adalah di sabuk tropis Dunia Lama (Afrika Timur, India tropis, Indocina, Malesia, hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik).

Paku ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar, entalnya dapat mencapai panjang 150cm dan lebar 20cm, menyerupai daun pisang.

Peruratan daun menyirip tunggal, warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung. Spora terletak di sisi bawah helai, pada urat-urat daun, dengan sori tertutup semacam kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae).

Ental-ental yang mengering akan membentuk semacam “sarang” yang menumpang pada cabang-cabang pohon. “Sarang” ini bersifat menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya.

Setelah selesai program lukutisasi Banjarmasin, FKH sebagai pendukung program kota hijau terhadap kota yang berjuluk daratan dengan seribu sungai itu, akan melakukan kegiatan lainnya. Seperti penanaman pohon “kariwaya” (beringin) di beberapa lokasi serta penghijauan tanaman rambai padi (Soneratia sp) di tepian Sungai Kerokan Jalan Jafri Jam-jam.

Green Festival

Dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan green city tersebut maka organisasi FKH menggelar green festival di tengah Kota Banjarmasin, guna mengajak masyarakat mencintai lingkungan.

Festival yang berlangsung Minggu (1/12) lalu di lokasi objek wisata Siring Pire Tendeaan Banjarmasin tersebut dihadiri ribuan pengunjung.

Sebanyak 26 stand ikut memeriahkan festival yang pertama kali digelar oleh kalangan FKH yang terdiri dari para kelompok pencinta lingkungan tersebut.

Stand tersebut diisi oleh perajin yang mengolah kerajinan tangan dengan bahan sampah nonorganik. Kreasi daur ulang itu diikuti kelompok sekolah hijau dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
Kegiatan tersebut juga diisi pameran foto lingkungan hidup yang digelar oleh organisasi lingkungan Pena Hijau, serta pameran sistem kerja bank sampah.

Saat itu pula didemonstrasikan bagaimana membuat pupuk organik melalui sampah organik oleh pelaku FKH terutama dari Pak Basri yang dikenal sebagai aktivis lingkungan Banjarmasin.

Pak Basri dibantu beberapa anggota FKH mendemonstrasikan beberapa alat sederhana tentang cara pengolahan sampah menjadi pupuk organik. Dia pun mengajak pengunjung menjawab berbagai pertanyaan berkenaan dengan pelestarian lingkungan.

Bagi pengunjung yang berhasil menjawab pertanyaan maka diberikan hadiah bibit buah-buahan seperti bibit rambutan, jeruk dan aneka bibit penghijauan lainnya.

Menurut anggota FKH Banjarmasin Akhmad Arifin kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Kota Banjarmasin yang dinyatakan sebagai kota hijau di tanah air.

Melalui aneka kegiatan FKH nantinya diharapkan melahirkan keinginan penduduk kota mencintai lingkungan yang akhirnya kota menjadi rindah, teduh, dingin, dan indah.

FKH sendiri dikukuhkan oleh Wali Kota Banjarmasin Haji Muhdin bertepatan pada peringatan hari tata ruang.

Kegiatan FKH selain didukung Pemkot Banjarmasin juga diberikan dana kegiatan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pusat.

Dengan aneka program Pemkot yang didukung FKH maka akan memudahkan pencapaian kota Banjarmasin sebagai salah satu green city di Indonesia.

koran

aneka foto kegiatan FKH

——————————–

festival  

festival green

festival2  

festival3

Festival green

kumunitas   Pengurus FKH

 lukutlukut.lukut1      

     mapala unlam      Penanaman Lukut

     pinang 

pinang        Penanaman Pinang


   rusmin      

wawancara   Wawancara televisi