“SAHUR BERSAMA” BUDAYA BARU ERATKAN TALI SILATURAHMI

rudy ariffin

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/7-2016 ()- Saling salam-salaman dan peluk-pelukan lalu duduk saling berhadap-hadapan seraya ngobrol dan sedikit sambutan setelah itu doa lalu makan secara bersama-sama pula.

Itulah budaya sahur bersama yang sudah tujuh kali dilakukan oleh Rudy Ariffin selagi masih menjabat gubernur Kalimantan Selatan dua periode, ketika tibanya bulan Ramadhan dengan kalangan wartawan di wilayah paling selatan pulau terbesar nusantara ini.

“Saya kangen ketemu teman-teman wartawan, kebetulan saya juga terima SMS yang menanyakan masih adakah sahur bersama dengan wartawan, walau saya sudah tak lagi Gubernur Kalsel, saya jawab tentu tahun ini tetap ada,” kata mantan gubernur Kalsel Rudy Ariffin seraya disambut tepuk tangan sekitar 50 wartawan yang hadir dalam acara sahur bersama tersebut.

Sahur bersama dengan mantan orang nomor satu di Kalsel itu berlangsung Minggu (3/7) dini hari di kediamannya di Kota Banjarbaru, sekitar 40 Km Utara Banjarmasin.

“Insya Allah jika ada umur, sahur bersama semacam ini tetap kita gelar di tahun-tahun mendatang, saya senang cara-cara ini karena mampu meningkatkan tali silaturahmi, dan bisa mencairkan kebuntuan komunikasi diantara kita,” kata Ketua DPW PPP Kalsel tersebut yang meletakan jabatan selalu gubernur Kalsel sekitar delapan bulan lalu.

Hadir kala itu Ketua PWI Kalsel Faturahman serta seluruh unsur pengurus PWI dan sejumlah wartawan, disamping datang pula anggota DPR RI dua periode, HM Aditya Mufti Ariffin dari PPP asal daerah pemilihan provinsi Kalsel yang juga putra dari Rudy Ariffin.

Selain itu terlihat pula Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarbaru, Komandan Kodim Kabupaten Banjar, serta Kapolres Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.

Rupanya, gaya kepemimpinan Rudy Ariffin dengan menggelar atraksi sahur bersama dengan berbagai unsur masyarakat tersebut, belakangan menjadi trend baru, sehingga bukan saja digelar di kalangan pejabat, tetapi juga sudah merasuki budaya di kalangan pengusaha, tokoh masyarakat, dan komunitas.

Bahkan Gubernur Kalsel periode 2016-2020 Haji Sahbirin Noor melanjutkan budaya tersebut dan menggelar sahur bersama pula dengan wartawan pada Selasa (28/6) lalu.

Dalam acara sahur tersebut Gubernur mengaku gembira bisa bertatap muka dengan hampir seluruh wartawan yang ada di Banjarmasin, hingga saling mengenal satu sama lain, dan saling tukar pendapat.

Karena menurutnya pers mempunyai peran besar dalam pelaksanaan dan menyukseskan pembangunan, seraya mengharapkan agar insan pers di Kalsel terus meningkatkan peran dan partisipasi untuk kemajuan pembangunan dan masyarakat daerah ini khususnya.

Begitu juga tanpa pers sulit untuk memotivasi atau mengajak masyarakat supaya bersama-sama pula mamajukan banua Kalsel agar masyarakatnya lebih sejahtera, tuturnya didampingi Wakil Gubernur setempat H Rudy Resnawan, pada acara sahur yang digelar di rumah dinas Jalan R Soeprapto Kota Banjarmasin tersebut.
Atraksi wisata

Bertemu masyarakat dan seraya makan sahur bersama yang sudah sering dilakukan gubernur Kalsel itu kini juga sudah dilakukan beberapa kali oleh Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Bahkan Ibnu Sina setiap kali acara sahur bersama dengan para pejabat lingkup Pemkot setempat, dengan unsur kepolisian, serta komunitas sekaligus bertindak sebagai penceramah dan Imam Sholat Subuh.

“Saya bahagia bisa bertemu semua kalangan saat sahur bersama, banyak keluhan masyarakat yang disampaikan untuk perbaikan di kota ini, dan itu saya tampung dan saya akan perhatikan untuk menjadikan kota Banjarmasin sesuai motto “Baiman” atau barasih wan nyaman,” kata wali kota dari unsur partai politik PKS ini.

Berdasarkan catatan, Wali Kota Ibnu Sina menghadiri sahur bersama dengan pihak Sapol Air Polresta Banjarmasin, dan bersama pedagang pasar terapung, bersama komunitas lingkungan, terakhir bersama Balakar 654, sebuah organisasi regu pemadam kebakaran di kota Banjarmasin.

Saat menghadiri “Sahur On The River” (SOTR) III atau Sahur Susur Sungai yang oleh Satuan Polisi Air (Sapol air) Polresta Banjarmasin Sabtu (25/6) dinihari lalu wali kota menilai acara ini memiliki keunikan, sahur bersama dengan ratusan orang, di tepian sungai, di lokasi objek wisata keagamaan lagi.

Menurut dia, SOTR ini semestinya lebih sering dibudayakan. Bukan saja untuk meningkatkan tali silaturahmi, tetapi merupakan salah satu bentuk syiar agama. Yang tidak kalah penting, SOTR di kota seribu sungai ini menjadi atraksi wisata yang tak ada ditemui di belahan banua manapun.

“Saya sudah banyak tanya, tak ada seorang pun menjumpai acara sahur bersama, di lokasi pinggiran sungai yang dihadiri ratusan orang,” kata Ibnu Sina lagi.

Ke depan, kata dia, Pemkot akan melibatkan diri dalam kegiatan semacam ini, dan bahkan mungkin akan menjadi kalender kepriwisataan yang di tawarkan kepada wisatawan, khususnya wisatawan keagamaan.

“Ayu kita menikmati wisata sungai dengan menyusuri kehidupan air, seraya makan sahur bersama,” kata Ibnu Sina dengan nada ajakan.***4***

Iklan

SAHUR SUSUR SUNGAI ATRAKSI WISATA RAMADHAN

susur sungaiBanjarmasin ()- Makan dan minum seraya mengayuh sampan dilakukan puluhan ibu-ibu di Pasar Terapung Siring Tendean Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sekali-sekali air di gelas tumpah tat kala sampan yang ditumpangi para pedagang sayuran dan buah-buahan di lokasi pasar unik ini oleng lantaran terhamtam gelombang sungai.

Dibantu lampu minyak tanah dan sedikit tersiram sinaran listrik jalanan mereka terlihat samar-samar, namun tak mengurangi keceriaan para pedagang di atas Sungai Martapura ini untuk bersantap sahur bersama dalam kegiatan “Sahur Susur Sungai” (Sahur On The River).

Kegiatan tersebut seperti terlihat pada Minggu dinihari (12/6) yang digagas oleh Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polresta Banjarmasin, menggelar acara sahur susur sungai dari Sungai Barito hingga Sungai Martapura yang ada di kota setempat.

“Kegiatan sahur susur sungai ini bekerja sama dengan PT Mitra Bahtera Segara Sejati (MBSS),” kata Kepala Satuan Polisi Air Polresta Banjarmasin AKP Untung Widodo Sst.

Saat mulai susur sungai pihak Satpolair dan PT MBSS membagikan nasi kotak kepada para nelayan pemancing ikan yang ada di sungai tersebut.

“Kami bagikan nasi kotak kepada para nelayan itu agar nanti mereka bisa sahur dan berpuasa,” tutur pria yang akrab dengan awak media itu.

Dia mengatakan, susur sungai yang dilakukan itu berakhir di Pasar Terapung Siring Tandean di mana di siring tersebut sudah disiapkan acara sahur bersama dengan beberapa komunitas di antaranya Komunitas Kamtibmas Perairan, Komunitas Masyarakat Peduli Sungai (Melingai), serta para pedagang pasar terapung di siring tersebut.

Bukan itu saja dalam acara sahur bersama di Siring Tandean itu turut hadir Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Drs Wahyono MH dan Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

“Tujuan acara ini untuk menjalin silaturahmi dengan warga sadar keamanan, ketertiban masyarakat (Kamtibmas) khususnya di wilayah perairan Banjarmasin,” ucapnya.

Bukan itu saja, Polri juga lebih dituntut untuk menjalin kemitraan dengan semua unsur serta hadir di tengah-tengah masyarakat, untuk kebersamaan.

Sahur bersama ini untuk mempererat tali silaturahmi dengan pedagang pasar terapung, komunitas kelotok wisata, pecinta lingkungan, agar semakin terjalin keakraban dan mendukung tugas tugas kepolisian untuk menciptakan keamanan dan ketertiban.

“Kami bersama PT MBSS membagikan 50 nasi kotak untuk masyarakat di pesisir serta nelayan dan sekitar 150 orang makan pakai alas daun pisang saat sahur bersama,” ujarnya.

Sementara itu Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Drs Wahyono MH mengatakan dirinya sangat senang bisa hadir di tengah-tengah masyarakat Kota Banjarmasin dan melaksanakan sahur bersama.

“Kegiatan seperti ini harus rutin dilakukan untuk memperat jalinan kasih antara komunitas pedagang pasar terapung dan kelotok wisata,” katanya.

Yang jelas Polisi selalu berharap masyarakat bisa membantu dan bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam menjaga, menciptakan serta memelihara keamanan dan ketertiban di kota ini, dan Polresta menyambut baik kegiatan Satpolair tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin Iwan Fitriady di Banjarmasin, mengatakan kegiatan Sahur On The River itu luar biasa dan baru pertama kali dilakukan.

“Kami berterima kasih kepada Satpol Air sebagai penggagas pertama kali kegiatan ini walau sederhana tapi hasilnya luar biasa,” tuturnya.

Menurutnya, sahur susur sungai merupakan model baru dalam atraksi wisata yang berada persis di lokasi destinasi wisata Pasar Terapung yang merupakan lokasi yang sudah dikenal luas di Kalsel maupun nusantara.

“Kita berharap atraksi-atraksi wisata semacam itu, harus digali dan diciptakan untuk menambah kesemarakan lokasi yang kini terus dipromosikan sebagai wisata andalan kota Banjarmasin ini,” kata Iwan Fitriady.

Pasar terapung adalah lokasi objek wisata andalan yang dikunjungi hampir lima ribuan orang setiap minggu, lokasi ini menarik lantaran kekhasan tersendiri dimana para pedagang mengenakan kostum tradisional dengan bertopi lebar (tanggui) berjualan di lokasi tersebut.

Sementara barang dagangan yang dijual sebagian besar adalah hasil alam setempat seperti satur-sayuran, buah-buahan, aneka ikan air tawar dan rawa, penganan tradisional, kue kering lokal, serta kuliner-kuliner khas setempat.

Kuliner yang banyak dijajakan pedagang antara lain ketupat kandangan, laksa, lupis, jagung rebus bajarang banyiur, jaring, bubungko, pais, pundut nasi, ketupat balamak, lapat, nisan bacucuk paring, nasi kuning, soto Banjar, dan banyak lagi yang lainnya.

Para pedagang ini berasal dari desa-desa pinggiran kota Banjarmasin serta dari kabupaten lainnya yang datang ke lokasi ini tengah malam dengan mengayuh jukung atau sampan.

Seorang pedagang Ibu Hasnah (50 tahun) mengaku datang dari Lok Baintan Kabupaten Banjar, datang ke lokasi ini menjual dagangan hasil alam, seperti keladi, ubi jalar, daun singkong, kembang tegarus, pisang masak, jantung pisang, ikan sepat, siput hailing dan beberapa lagi.

“Lumayan pak, jika nasib baik dagangan ini cepat ludes di beli pengunjung, biasanya yang suka membeli selain pengunjung lokal tak sedikit dari wisatawan nusantara dan mancanegara, hingga keuntungan bisa mencapai rp200 ribu per hari,” tuturnya.

Dibudayakan

Kepala Satuan Polisi Air Polresta Banjarmasin AKP Untung Widodo menyatakan melihat kesuksesan acara kali ini, maka sahur susur sungai ini akan dibudayakan setiap bulan Ramadhan, selain upaya menjaga kamtibmas perairan, sekaligus sebagai sarana silaturahmi, ddisamping sebagai atraksi wisata.

Menurutnya lokasi mangkal kegiatan ini di beberapa titik perairan baik di Sungai Martapura, maupun Sungai Barito dengan menyambangi para nelayan, para pemukiman bantaran sungai, pedagang pasar terapung, serta pedagang ikan air tawar.

“Pada hari Minggu dinihari akan datang digelar di lokasi Tempat Pelelangan Ikan Air Tawar, di Jalan RK Hilir< insya alllah seluruh komunitas tetap diundang,” kata Untung Widodo.

Dalam aksi sahurt besama selain pembagian nasi kotak juga makan bersama yang seluruh makananan baik nasi maupun lauk pauknya beralaskan daun pisang di lokasi raket atau lanting kawasa n tersebut.

Pola semacam itu tetap dipertahankan pada kegiatan serupa pada pegelaran kemudian, dan harapannya cara -cara ini akan memancing pengunjung dan wisatawan.

Untung Widodo menuturkan kegiatan ini dibantu pihak ketiga yang bergerak dalam pelayanan dan diharapkan kedepan kian banyak yang terlibat dalam partisipasinya.

Kegiatan berakhir setelah Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina membagikan paket sembako kepada perwakilan komunitas kapal wisata, komunitas pedagang pasar terapung, dilanjutkan dengan Sholat Subuh berjamaah dengan imam wali kota sendiri.

BANDARA SYAMSUDIN NOOR DIBAYANGI PENGHENTIAN EMBARKASI HAJI

Oleh Hasan Zainuddin

banjarmasin-syamsudin noor
Banjarmasin, 14/3 (Antara) – Berita terkait kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang melarang pesawat berbadan kecil mendarat di Bandara negeri itu selama musim haji mendatang telah melahirkan kekhawatiran banyak pihak, termasuk masyarakat Provinsi Kalimantan Selatan.

Pasalnya, masyarakat Kalsel yang dominasi beragama Islam tersebut sudah merasa “bahagia” setelah salah satu bandar udara (Bandara) di wilayah ini, yakni bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sejak tahun 2004 sudah ditetapkan sebagai Bandara embarkasi haji.

Dengan status Embarkasi haji, masyarakat Kalsel yang menunaikan ibadah haji bisa terbang langsung dari Bandara Syamsudin Noor ke Bandara King Abdul Azis, Jenddah Arab Saudi.

landasanpacu

 

Landasan Pacu

Padahal sebelum tahun 2004 warga Kalsel ke tanah suci menunaikan rukun Islam kelima tersebut harus terlebih dahulu terbang dan menginap Ke Bandara Juanda Surabaya, atau Ke Sepinggan Balikpapan, bahkan ke Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta.

Karena dinilai merepotkan waktu itu berbagai upaya Pemerintah Prmprov Kalsel dan masyarakatnya memperjuangkan Bandara Syamsudin Noor menjadi Embarkasi Haji, tentu dengan memperluas bandara tersebut hingga mampu didarati pesawat dengan penumnpang 350 orang.

Keberhasilan mengubah Bandara Syamsudin Noor sebagai embarkasi haji hingga memancing jemaah calon haji provinsi lain juga ikut terbang di bandara tersebut seperti dari provinsi Kalimantan Tengah, akhirnya Bandara Syamsudin Noor yang sudah memiliki asrama haji tersebut tiap tahun kian ramai saja.

Tetapi setelah adanya kebijakan pemerintah Arab Saudi tersebut apakah pada musim haji 2013 ini Bandara Syamsudin Noor masih bisa menjadi embarkasi haji?.

Menurut informasi, Pemerintah Saudi Arabia hanya memperbolehkan pesawat berbadan besar semacam air bus untuk mendarat di bandara mereka guna mengurangi intensitas kepadatan di bandara mereka itu.

Sebaliknya, kondisi Syamsudin Noor sendiri belum mampu untuk menampung pesawat berbadan besar tersebut.

Pemerintah Saudi hanya akan mengizinkan pesawat jenis B767-500 dengan kapasitas sekitar 500 seat yang diperbolehkan landing di bandara King Abdul Aziz.

Sementara ini, Bandara Syamsudin Noor dengan kondidi runway (landasan pacu) hanya panjang 2500 meter dengan demikian hanya bisa didarati pesawat pesawat jenis B767-300 dengan kapasitas 326 seat.

Jika rencana pemerintah Arab Saudi tersebut benar-benar terwujud, tentunya pesawat jenis tersebut dilarang landing di King Abdul Aziz.

“Jika ini terjadi, efeknya sangat besar. Kalsel tidak bisa menjadi embarkasi haji lagi. Jamaah Kalsel sendiri kembali harus berangkat melalui bandara lain lagi,” ungkap Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kalsel, M Takhim, kepada wartawan.

Menurut dia untuk mengimbangi keinginan pemerintah Arab Saudi tersebut tentu harus diimbangi dengan pengembangan Bandara Syamsudin Noor sendiri, dan itu tergantung sangat tergantung pembebasan lahan yang hingga kini belum tuntas.

“Setidaknya Bandara Syamsudin Noor memiliki panjang runway minimal panjang 3000 meter, bila itu terwujud maka pesawat berbadan besar sudah bisa mendarat,” katanya.

Selain perpanjangan runway yang juga harus dilakukan di Bandara Syamsudin Noor yang berjarak sekitar 28 kilometer dari pusat Kota Banjarmasin tersebut itu adalah perbaikan terminal penumpang baik kedatangan maupun keberangkatan.

Selain itu untuk melayani adanya pesawat berbadan besar maka juga harus ada perpanjangan runway, pembuatan taxiway paralel, perluasan apron, dan lainnya.

Proses pengembangan Bandara yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalsel tersebut masih terus berjalan dan saat ini masih berada pada fase pembebasan lahan.

Pemprov Kalsel kini terus berharap kinerja tim pembebasan lahan Kota Banjarbaru untuk berusaha agar seluruh lahan yang diperlukan untuk pengembangan bandara bisa segera dibebaskan.

“Jika lahan sudah semuanya dibebaskan, maka sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah, pengembangan sisi darat yaitu pembangunan terminal baru dan lahan parkir baru, landasan pacu akan segara dilaksanakan,” katanya.

images
Belum Jelas
Kabar akan dihentikannnya Bandara Syamsudin Noor sebagai embarkasi haji sebenarnya hingga kini belum jelas, dan isu mengenai tersebutpun berhembus setelah adanya kabar mengenai kebijakan pemerintah Arab Saudi tersebut.

Untuk memastikan persoalana tersebut Dinas Perhubungan bersama DPRD Kalsel bakal mendatangi Kementerian Perhubungan untuk menanyakan tentang ancaman penghapusan Bandara Syamsudin Noor sebagai embarkasi haji.

Kepala Bidang Angkutan Udara Dinas Perhubungan Kalsel, Ismail Iskandar, di Banjarmasin, Selasa (12/3) mengatakan, pihaknya akan mempertanyakan masalah tersebut.

“Sampai sekarang kami memang belum mendapatkan informasi langsung dari pihak terkait mengenai persoalan tersebut, namun kita tetap harus antisipasi mumpung masih ada waktu,” katanya.

Sebelumnya Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Kalsel Arsyadi mengatakan menada, pihaknya belum mendapatkan penjelasan dan menerima surat terkait persoalan Bandara Syamsudin Noor yang terancam dihapuskan menjadi embarkasi haji.

Namun, kalau memang benar informasi tersebut, tambah dia, PT Angkasa Pura masih memiliki waktu untuk membangun atau menambah landasan pacu sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

“Waktu sekitar delapan atau tujuh bulan masih sangat memungkinkan untuk membangun tambahan landasan pacu tersebut, tinggal kebijakannya mendukung atau tidak,” katanya.

Menurut Arsyadi, untuk memperjelas persoalan tersebut, pihaknya segera melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Pihak DPRD Kalsel sendiri menanggapi serius persoalan tersebut, sehingga meminta Pemprov Kalsel turun tangan dan bergerak cepat untuk menyelesaikan atau mencari solusi agar status embarkasi haji pada Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin tidak jadi dicabut.

“Kalau permasalahan ini tidak ditanggapi serius, jangan salahkan Arab Saudi menentukan kebijakannya,” kata Ketua Komisi I bidang hukum dan pemerintahan DPRD Kalsel Achmad Bisung.

Ia juga mengingatkan kepada PT Angkasa Pura selaku pengelola Bandara Syamsudin Noor segera menindaklanjuti persoalan ini untuk mencari jalan keluar agar status embarkasi haji itu.

Permasalahan pencabutan status ini tentu saja membuat semua kalangan keberatan dan kecewa, karena embarkasi haji di bandara tersebut merupakan kebangaan masyarakat mayoritas Muslim ini.

“Saya tidak setuju kalau status embarkasi haji dicabut. Jadi bagaimana cara PT Angkasa Pura harus memperpanjang runway sesuai dengan permintaan Pemerintah Arab Saudi agar pesawat besar bisa mendarat di Bandara Syamsudin Noor,” cetusnya.

Menurut Bisung, kalau memang PT Angkasa Pura tidak sanggup menyelesaikan masalah ini, maka lebih baik pengelolaannya diserahkan saja ke Pemprov Kalsel saja.

PERINGATAN MAULID NABI WAHANA PELESTARIAN TRADISI

Oleh Hasan Zainuddin

 

 

walikota
Banjarmasin,11/2 (ANTARA)- Sebanyak 135 peserta sebagian besar anak-anak mengikuti prosesi tradisi “Baayun” dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman Makam Pangeran Suriansyah Kota Banjarmasin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
Ikut pula dalam prosese tradisi tersebut antara lain Wali Kota Banjarmasin, Haji Muhidin, Wakil Wali Kota setempat, Irwan Anshari, serta Komandan Kodim 1007 Letkol Inf Bambang Sujarwo.
Peserta “baayun” dalam acara yang berlangsung pada pertengahan bulan Maulid tersebut duduk pada sebuah ayunan terbuat dari kain yang diberi aneka bunga-bunga, hiasan kertas, buah-buahan, kue-kue tradisional, uang receh, dan aneka benda lainnya yang dinilai sakral.
Menurut panitia, Bahrudin, baayun atau mengayun anak merupakan tradisi masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan yang telah dilaksanakan turun-temurun, khususnya di bulan Maulid.
Para peserta baanyun yang didominasi anak-anak itu diayun oleh para keluarganya sendiri seperti orang tua, seraya bernyanyi dengan syair-syair yang mengandung nasehat-nasehat maksudnya agar si anak menjadi orang yang berhasil dikemudian hari.
Wali Kota Banjarmasin sendiri menyatakan gembira mengikuti prosesi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diarngkaikan dengan pegelaran budaya masyarakat yang bukan saja bernilai keagamaan tetapi juga mengandung nilai pelestarian tradisi nenek moyang yang bisa disaksikan warga sekarang ini.
Bahkan proses tradisi ini bernuansa seni, tentu bernilai bagi dunia pariwisata, sehingga kegiatan tahunan semacam itu bisa diagendakan untuk sebuah agenda pariwisata setempat.
Tradisi baanyun anak ini bukan hanya di Banjarmasin yang banyak digelar saat perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi hampir merata di 13 kabupaten dan kota di provinsi paling Selatan Kalimantan ini.
Bahkan sebuah acara prosesi baanyun anak pernah diikuti ribuan orang di Kampung Banua Halat, Kabupaten Tapin yang konon di wilayah tersebut kegiatan demikian sudah turun temurun bahkan sebelum warga setempat memeluk agama Islam.
Baanyun anak bagi warga setempat dinilai sebuah aktivitas ritual maksudnya agar anak nantinya menjadi anak yang berguna, atau hal itu dilakukan karena sebuah nazar, bahkan baanyun anak dianggap mampu menyembuhkan penyakit.
Akibat kepercayaan semacam itulah sehingga tradisi baayun anak terus berlangsung hingga sekarang, terutama saat merayakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Aneka Tradisi

Peringatan Maulid Nabi tersebut selalu semarak di gelar di dalam masyarakat Kalimantan Selatan, intinya peringatan tersebut memuji kebesaran Allah, serta menjujung tinggi tauladan Nabi Muhammad SAW.
Oleh karena itu, dalam setiap peringatan Maulid yang diutamakan adalah tausyiah oleh para ulama agar masyarakat Islam mendalami ilmu agama serta menjalankan perintah agama.
Hal kedua yang dominan dalam kegiatan ini adalah puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW melalui pembacaan syair-syair Maulid, baik yang disebut syair Maulid Diba maupun Syair Maulid Al Habsyi.
Setelah dua hal yang utama tersebut, peringatan Maulid juga dibarengi dengan aneka budaya, seperti pegelaran proses baanyun anak tadi, maupun kegiatan lain umpamanya saja pembakaran dupa, peletakan uang receh, serta penyajian aneka kuliner khas yang dinilai sakral.
Dalam penyajian kuliner ini biasanya warga membuat wadai 41 macam( kue 41 jenis) khas setempat, jangan heran bila menjelang acara ini ibu-ibu jauh-jauh hari sudah menyiapkan aneka bahan pembuatan kue itu kemudian rame-rame membuatnya saat acara, dan akibat itulah kue-kue tradisi tak pernah hilang di dalam masyarakat ini.
Seringkali pula malam sebelum diselanggarakan Maulid Rasul itu ada pegelaran seni, seperti madihin, balamut, atau bakisah yang ketiga kesenian itupun adalah bagian dari penampilan syair-syait berupa nasehat-nesahat agar warga menjalankan perintah agama.
Meriahnya acara Mauludan Rasul di desa-desa tertentu di Kalsel bukan saja sebagai atraksi budaya dan agama ternyata acara tersebut dinilai sebagai ajang silaturahmi terbesar di tengah masyarakat.
Menurut beberapa warga Desa Panggung dan Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, bila acara Maulud Rasul itu digelar salah satu keluarga, maka keluarga yang lain seakan wajib menghadiri acara itu, karena kehadiran keluarga merupakan bentuk penghargaan bagi sipenyelanggara acara tersebut.
“Makanya bila ada keluarga yang tak hadir dalam acara Maulud Rasul maka keluarga tersebut dianggap mengurangi nilai hubungan kekeluargaanya, dan nantinya bila keluarga yang tidak hadir itu menyelanggarakan acara serupa maka si keluarga yang lain bisa tidak hadir pula,” kata Muhamad penduduk setempat.
Oleh karena itu tidak heran bila satu keluarga menggelar acara Maulud Rasul maka hampir seluruh keluarga berdatangan, bahkan yang berada di kota juga ikut mudik untuk meramaikan acara tahunan tersebut.
Bahkan menghadiri Maulud Rasul dianggap lebih sakral ketimbang hadir saat Lebaran Idul Fitri atau Idhul Adha, karena saat acara ini merupakan ajang silaturahmi keluarga paling akbar dalam setahun.
Berdasarkan keterangan, acara Maulid Rasul digelar secara bergantian di setiap desa di lereng Pegunungan Meratus pedalaman Kalsel tersebut, sehingga nyaris setiap hari selama bulan Rabiul Awal atau bulan maulid nabi ini selalu saja ada acara tersebut.
Karena acara ini dianggap menarik maka banyak sekali warga berdatangan dari kota-kota besar bahkan warga dari propinsi tetangga Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Timur (Kaltim).
Penyelanggaraan acara Mauludan Rasul dalam rangka memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW memang dinilai mahal, tetapi bagi warga tidak menjadi masalah, karena penyelanggraan yang telah terjadi secara turun-temurun di tengah masyarakat Muslim setempat dinilai bisa mengangkat harkat martabat, disamping nilai-nilai agama.
Oleh karena itu bagaimanapun seorang keluarga di desa-desa tersebut berusaha untuk ikut menjadi penyelanggara walau harus membayar mahal.
Tetapi warga memiliki cara tersendiri untuk meringankan beban penyelanggaraan tersebut yakni dengan cara menggelar tabungan mingguan yang disebut “handil maulud” (semacam arisan) dengan cara menyetor uang setiap minggu kepada seorang panitia yang dipercaya mengumpulkan dana sehingga selama setahun akan terkumpul dana yang cukup besar.
“Dana yang dikumpulkan selama setahun itulah yang kemudian dibelikan sapi atau kerbau, untuk disembelih, kemudian daging sapi atau kerbau itu dibagi-bagian kepada warga yang ikut menjadi anggota tabungan maulud tersebut.” kata Muhamad yang menakui setiap tahun menggelar acara Mauludan Rasul tersebut.***4***

KIAT MENGATASI KETIDAK NYAMANAN PERJALANAN HAJI

Oleh Hasan Zainuddin
Berdasarkan berbagai pengalaman mereka yang sudah menjalankan ibadah haji, banyak cerita mengenai perjalanan haji tersebut, namun sebagian besar menyatakan bahwa menunaikan ibadah haji sebaiknya di usia dini.
Mengapa pendapat tersebut sering terlontar, karena ibadah haji merupakan ibadah fisik yang merupakan napak tilas dari sejarah nabi Muhamad SAW serta nabi lainnya, oleh karena itu dengan usia muda maka fisik akan lebih kuat untuk melakukan perjalanan ibadah haji.
Tetapi bukan hanya persiapan fisik menghadapi ibadah haji, karena berdasarkan pengalaman penulis keberangkatan haji  ke tanah suci di kloter 13 embarkasi Banjarmasin tahun 1429 hijriah atau tahun 2008, memerlukan pula kesiapan mental dan spritual.
Dalam upaya menyiapkan kekuatan fisik, penulis terlebih dahulu berlatih dan berolahraga sebelum berangkat ke tanah suci, serta memeriksakan kesehatan ke dokter.
Persiapan menjaga kesehatan berdasarkan pengalaman penulis adalah membawa obat-obatan, dan vitamin, khususnya obat flu, obat maag, anti biotik, obat gosok analgesik untuk menahan rasa sakit di kaki, tangan,  obat pelembab bibir (lipgloss) dan bagian tubuh lainnya.
Selain itu penulis juga membawa madu, serta vitamin dosis tinggi khususnya vitamin c yang dibeli di apotik agar badan tetap vit dan energi kuat, dengan jumlah cukup 40 hari selama per jalanan ibadah haji.
Melakukan imunisasi miningitis tetap diikuti, ditambah dengan imunisasi penyakit influenza.
Pengalaman teman yang tidak ikut imunisasi influenza maka penyakit flu selama di tanah suci dinilai cukup parah, sementara bagi siapa yang meimunisasi influenza kendati terserang penyakit tersebut tetapi tidak sampai parah.

jejal1jejal ditrowongan

Agar tetap vit selama di tanah suci berdasarkan pengalaman penulis  selalu meminum air putih, serta perut tak boleh kosong, artinya apa yang bisa dikonsumsi harus di konsumsi agar perut tetap terisi.
Karena bila perut kosong, maka perut akan diisi angin hingga produksi asam lambung tinggi  akhirnya selera makan akan hilang.
Makanan yang harus tetap dimakan selain nasi dan lauk pauknya juga perlu buah-buahan dan sayuran, janganlah meminum es, atau es crem, dan jangan pula meminum yang punya soda, seperti sprit, coca cola, atau sejenisnya.
Karena meminum es mudah terserang flu, dan meminum minuman mengandung soda mudah terserang sakit perut dan maag.
Selain itu, di Kota Makkah atau Madinah, banyak dijual susu yang disebut susu laban dan susu luna, kedua jenis susu ini sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh.
Makan kurma juga ternyata cukup baik menjaga stamina, karena kurma mengandung kadar gula dan zat lain yang berguna bagi meningkatkan stamina.
Jangan terlalu memilih makanan, apa yang bisa kita makan makan saja, seperti roti arab, lempeng arab, nasi samin, kebab, dan makanan arab lainnya, sikat saja yang penting kenyang jangan biarkan perut kosong.
mabitbermalam di Muzdhalifah

Janganlah terlalu bernafsu untuk beribadah selama di Makkah atau Madinah sebelum menyelasaikan rukun dan wajib haji, karena banyak pengalaman jemaah  akibat terlalu bernafsu beribadah sebelum rukun dan wajib haji  akhirnya badan kelelahan, hingga sampai saat wukuf di arafah, mabit (bermalam) di Muzdhalifah, dan melontar di Mina terserang sakit akibatnya terhambat dalam proses puncak ibadah haji tersebut.
Selain itu dalam upaya menjaga kesehatan tubuh jiwa harus sehat, artinya selama di sana tak boleh stress walau kondisi ketidak nyamanan itu selalu dirasakan.
Kiatnya adalah dari awal kita sudah sadar, bahkan apapun kesulitan dalam menjalankan ibadah maka itu bagian dari ibadah, semakin sulit dijalani diharapkan pahala yang diperoleh akan lebih besar ketimbang yang lebih mudah.
Bila sudah sadar apapun kesulitan dan ketidak nyaman dalam perejalanan haji merupakan bagian , maka kita memperoleh perasaraan sabar, tulus dan iklas saja menghadapi ketidak nyamanan tersebut, akhirnya jiwa kita tenteram akhirnya jiwa kita sehat, jiwa sehat maka fifik kita juga sehat.
Sebagai contoh saja, bila naik bis yang seharusnya cukup 40 penumpang bisa terjadi ditumpangi hingga 90 orang, kita harus menerima hal itu, jangan jengkel atau jangan kecewa dan hadapi saja dengan perasaan sabar, tulus dan iklas.
Begitu juga saat kita tawab, sai, atau melontar dimana ditengah jutaan manusia, badan kita terhimpit, terinjak, dan sebagainya hingga merasa sakit, ya sabar saja dan jangan jengkel apalagi membalas kepada orang lain yang mehimpit kita, itulah resiko menjalankan ibadah fisik seperti haji ini.
Begitu juga saat shalat di masjid, kita harus rela memberi tempat kepada orang lain, walau harus berhimpitan, dan kalau terhimpit pun kita hadapi saja jangan  jengkel atau kesal, dan kita harus sadar itulah kondisi disana.
Kalau kita dari awal sudah sadar bahwa semua itu merupakan bagian dari ibadah maka perasaan kita tidak akan kesal, malah ada perasaan senang dan itulah sebuah tantangan menghadapi berbagai kesulitan tersebut akhirnya timbul  perasaan lega.
Yang tak kalah penting saat berada di Kota Makkah atau Madinah, fikiran kita harus bersih atau netral, jangan berpikir macam-macam yang di luar logika atau di luar kemampuan, karena bila pikiran kita tidak netral bisa jadi kita kehilangan kontrol kejiwaan, akhirnya bisa terjadi pula  des lokasi atau des orientasi.
Akibat pikiran tidak netral banyak jemaah yang tak tahu mau berbuat apa setelah tiba di sana, atau tak tahu lagi berada di mana, akhirnya banyak jemaah yang tersesat tak bisa pulang, atau bingung tak karuan hingga tak bisa beribadah, bahkan yang fatal lagi ada jemaah yang tidak bisa melihat keberadaan ka bah.
Oleh karena itu selama di sana pikiran harus netral, dan jernih dan sadar sedang berada di Masjidil Haram dengan Ka bah nya dengan jutaan umat, hingga tidak akan bingung sendiri.
Jenuh, seringkali menghinggapi para jemaah,  untuk menghilangkan kejenuhan selama di Kota Makkah atau Madinah tak salahnya kita banyak-banyak beribadah, atau bolehlah sering-sering  mungkin jalan-jalan baik di lingkungan pemondokan atau lingkungan masjidil haram, jangan terlalu banyak tinggal di pemondokan.
Kalau memang suka berbelanja dan kalau memang ada uangnya tak salahnya pula mengunjungi lokasi pedagang kaki lima, mengunjungi toko-toko, super market dan lokasi dagangan lainnya, atau sekedar melihat-lihat dagangan dan mendengar kaset-kaset bacaan al qur’an yang banyak di toko-toko dekat masjidil haram, karena dengan demikian mungkin hati kita senang dan puas maka akan terhindar dari perasaan bete (jenuh).
Dengan cara-cara tersebut di atas maka akan menghilang kejenuhan selama berada disana, karena kalau jenuh, jengkel atau kesal serta bete, maka jiwa kita berarti sakit akhirnya badan kita pun sakit.
Makanya usahakan agar hati kita merasa senang terus, walau dengan kondisi apapun, selain berdesakan, rebutan, antri berjam-jam ditambah dengan cuaca yang panas saat siang atau dingin menggigil di saat malam.
Jangan pula terlalu sibuk memikirkan rumah serta keluarga yang ditinggalkan di tanah air, yang perlu kita pikirkan apa yang kita hadapi hari itu juga.
Tetapi kunci yang paling baik adalah mensyukuri nikmat tuhan karena kita bisa berangkat ke tanah suci, karena tidak semua orang bisa, makanya keberangkatan kita ke sana dinikmati senikmat-nikmat mungkin, karena dengan demikian bisa jadi di kala orang lain bergegas ingin segera pulang kita ingin tetap berlama-lama di sana.

berjejalan naik bis

tidur-dan-lelah kelelahan dan tidur

 

Info lain mengenai perjalanan haji klikInfo haji kalsel

PENGALAMAN DELAPAN HARI DI KOTA MADINAH

masjid Nabawi

Oleh Hasan Zainuddin
Setelah hampir sebulan di Kota Makkah ketika mengikuti perjalanan gelombang kedua ibadah haji Indonesia , 1429 Hijriah atau tahun 2008, rasanya hati ini ingin sekali melihat kota Madinah dengan masjid Nabawinya.
Setelah diberitahu akan keberangkatan ke kota dimana Nabi Muhammad SAW dimakamkan itu, serta merta aku bersama isteri berkemas, seraya menaiki bis yang memmbawa rombongan kami kloter 13 embarkasi Banjarmasin menuju Madinah.
aku i’ tikaf

Perjalanan enam jam rasanya sebentar saja dalam perjalanan tersebut, karena bis yang membawa kami ke kota dengan warganya relatif ramah tersebut, seakan tidak berada di jalanan karena begitu licinnya jalan, dan lempang tak ada hambatan sedikitpun.
Setibanya di kota Madinah kami ditempatkan pada sebuah pondokan yang bernama Janamat Abrar tidak jauh dari masjid Nabawi, artinya bila terdengar azan pertama, bergegas ke masjid masih sempat ikut shalat berjemaah di masjid Nabawi.
Kedatangan hari pertama, cuaca begitu dingin, badan menggigil walau sudah menggunakan pakaian berlapis, kendati dingin tetapi tidak mengurangi semangat mengikuti shalat arbain 40 waktu di masjid yang begitu indah.
bagian atas masjid

Apalagi ratusan ribu bahkan mungkin jutaan jemaah dari berbagai negara di dunia terlihat berjubel mengikuti shalat arbain, menambah semangat untuk selalu ber i tikaf dan beribadah.
Selain mengikuti shalat arbain 40 waktu, selama di Madinah rombongan kami juga melakukan perjalanan dan ziarah ke berbagai tempat, seperti ke masjid Kuba, ke jabal uhut, atau ke perkebunan kurma dengan selalu memperhitungkan waktu agar tidak sampai ketinggalan mengikuti shalat arbain.
Pertama ke masjid Nabawi, mata ini rasanya tak ingin lepas memcermati satu demi satu bangunan masjid megah tersebut, termasuk keindahan menaranya, pintu-pintunya, bahkan kubah dan segala macam yang ada di sekitar masjid.
aku di halaman nabawi

Subhanallah, demikian ucapan pertama setelah menginjakan kaki di dalam masjid yang walau matahari terang benderang tetapi di dalam masjid rasanya sejuk, atau walau di luar masjid menggigil akibat kedinginan saat subuh atau malam tetapi di dalam masjid tetap sejuk.
Satu demi satu orang disekelilingku ku salami, lalu salingberkenalan dengan bahasa seadanya, campur-campur bahasa Arab sedikit-sedikit, ditambah sedikit-sedikit bahasa Inggris bagi yang bisa berbahasa inggris.
Kosa kata yang aku ketahui baik bahasa Arab maupun bahasa inggris sebatas mampu berkenalan, tanya bangsa, tanya nama, nanya alamat dan tanya kerjaan, selebihnya hanya bisa diam saja.
Temanku bertanya,mengapa saya selalu berkenalan dan salam-salaman kepada orang disekelingku yang berasal dari berbagai bangsa tersebut, semua itu kulakukan hanya sebagai rasa syukur bisa bersalaman dan berkenalan juga agar menambah akrab saat beribadah.
Tujuan lain, siapa tahu di akhirat nanti,mereka-mereka yang sudah aku salami dan berkenalan itu akan menjadi saksi dan menyatakan bahwa aku benar-benar shalat di masjid Rasullullah tersebut.
Karena sesuai janji Rasullulah barang siapa shalat 40 waktu tanpa putus di masjid Nabawi maka surgalah limpahannya.
Dalam satu riwayat l Rasul bersabda,” Barang siapa sholat di masjidku 40 waktu tanpa terputus, maka ia pasti selamat dari neraka dan segala siksa dan selamat dari sifat munafik”.
kamera pantau ditiang

Berziarah ke masjid Nabawi ini adalah masyru’ (diperintahkan) dan termasuk ibadah. Penyataan ini sesuai dengan sabda Rasul : ” Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa’.
Selain berkenalan, selama di masjid Nabawi aku juga selalu duduk di samping tiang dalam masjid yang megah  tersebut, seraya tiang di dalam masjid itu ku ucap dan dalam hatinya mudahan tiang masjid ini juga menjadi saksi bahwa aku pernah i tikaf dan beribadah di masjid tersebut.
Setiap sudut, setiap ruangan, aku perhatikan satu demi satu,  terlihat hampir tiap tiang terdapat kamera pemantau, dan setiap tiang pula khususnya di bawah tiang itu terdapat lubang-lubang pendingin (AC), setiap tiang juga terdapat tempat al qur’an.
Untuk mengetahui lebih detil keberadaan masjid, sesekali seusai shalat aku berkeliling masjid,menyaksikan  indahnya tenda-tenda besar di luar masjid, indahnya lampu-lampu penerangan, indahnya ukiran-ukiran pintu, ornamen nuasna Arabia pada dinding-dinding masjid yang berkilau kekuningan karena di lapisi emas.
Indahnya, kubah yang bisa menutup dan membuka sendiri saat cuaca panas atau dingin, serta serba serbi keindahan menyelimuti masjid tersebut.
makam nabi

Suara muazin, suara imam yang merdu menambah kekhusukan jemaah yang memadati ruang demi ruang, bahkan halaman masjid yang sangat luas.
Aku berusaha mengetahui berbagai hal mengenai masjid tersebut termasuk berbagai literatur yang ada kukumpulkan, hanya mengobati penasarannya terhadap kemegahan tersebut.
Berdasarkan sebuah keterangan tertulis yang aku peroleh menyebutkan masjid Nabawi adalah Masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad  SAW beserta para sahabatnya di tengah kota Madinah.
Pembangunannya dimulai pada bulan Rabiul Awal tahun 1 H (September 662M) setelah beliau hijrah dari Mekah ke Yastrib (nama Madinah dulu).
lubang ac pada tiang

Perletakan batu pertama dilakukan oleh Nabi SAW diikuti oleh Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali dan pada awalnya Masjid ini sangat kecil yaitu hanya sekitar 1050 m2 saja. Tiang-tiang dibuat dari batang kurma sedangkan penerangannya dari pelepah kurma yang dibakar.
Masjid ini berapa kali terbakar dan kemudian diperbaiki kembali.
Menurut sejarahnya pertama kali dibangun panjang masjid 29m dan lebarnya 25m.
Dua bulan sebelum perang Badar, pada bulan Rajab tahun kedua, setelah adanya perintah merubah arah kiblat maka pintu masjid dirubah dari dinding utara ke dinding selatan yang dinamakan pintu Bab-ut-tawassul dan luas masjid menjadi 1764m2 (42m x 42m).
Selama pemerintahan Walid bin Abdulmalik  tahun 781M panjang masjid menjadi 126 dan lebar 76m, kemudian pada tahun 1955 panjangnya menjadi 128m dan lebar 91m.
Masjid Nabawi  mempunyai 5 pintu utama, 2 terletak di sebelah barat yang dekat arah kiblat disebut Babussalam dan pintu satu lagi terletak didekat pojok utara disebut Baburrahma. Sisi timur Masjid tidak terdapat pintu, dekat dinding sebelah selatan terletak Bab Jibril yang berlawanan arah dengan Baburrahma.
Dalam perjalanannya Masjid ini mengalami berbagai perkembangan besar. Bulan Safar 1405 H (Nov 1984M) Raja Fahd meletakan batu pertama projek perluasan Masjid yang akan menjadi Masjid termegah sepanjang sejarah.
Pembangunannya baru dimulai tepat 1 tahun kemudian yaitu oktober 1985 dengan menggusur semua bangunan yang ada sekitar Masjid berupa pertokoan, pasar, hotel dan gedung bertingkat yang sudah berusia ratusan tahun silam dengan ganti kerugian yang sangat mahal.
Sebuah majalah bahkan menyatakan harga tanah disana mencapai SR 250.000/m2 atau sekitar USD67.000, padahal harga tanah di kawasan elite New York hanya USD26.000 saja.
Penggusuran pertama seluas 100.000m2 dan diatas tanah tersebut dibangun Masjid baru seluas 82.000m2 yang mengitari dan menyatu dengan bangunan yang sudah ada dan dengan tambahan ini maka luas Masjid menjadi 98.000m2 yang mampu menampung sekitar 167.000 jemaah sekaligus dilantai dasar.
Lantai atasnya dapat menampung 90.000 jemaah dan apabila ditambah dengan halaman Masjid bisa mencapai 650.000 jemaah pada hari biasa dan lebih dari 1.000.000 pada musim haji atau bulan ramadhan.
Untuk pengaturan udara dalam Masjid yang sangat luas ini dibuat 27 ruangan terbuka dengan ukuran 18x18m yang mengagumkan ada 9 buah atap Masjid berbentuk kubah yang dapat terbuka dan tertutup secara manual atau otomatis.
pintu nabawi

Biasanya kubah ini dibuka setelah sembahyang Zuhur, udara segar mengalir dan masjid tidak terasa panas. Setiap kubah mempunyai berat sekitar 80 ton terbuat dari kerangka baja dan beton yang dilapisi kayu pilihan dengan hiasan relief yang sangat indah.
Untuk menyejukan seluruh ruangan didalam Masjid dibangun satu unit AC central raksasa diatas tanah seluas 70.000m2 yang letaknya 7 km sebelah barat Masjid.
Hawa dingin disalurkan melalui pipa bawah tanah dan didistribusikan ke setiap penjuru Masjid melalui bagian bawah dari setiap pilar yang berjumlah 2104 buah.
Sebelum diperluas, Masjid ini hanya punya 4 menara namun sekarang setiap pojok ada menara baru sehingga jumlahnya menjadi 10 buah termasuk 2 menara besar yang mengapit pintu gerbang utama.
Dipuncak semua menara yang tingginya 104m terdapat ornamen bulan sabit dari bahan perunggu dilapis emas murni 24 karat dengan tinggi 7m dan berat 4.5 ton.
Diketinggian 87m dipasang sinar laser yang memancarkan cahaya kearah Mekah sejauh 50Km untuk menunjukan arah kiblat dan dinyalakan pada waktu tertentu terutama waktu solat.
Pada bagian tengah Masjid terdapat 2 ruang terbuka yang setiap ruangan dilengkapi enam buah payung artistik hasil perpaduan arsitektur modern dan teknologi canggih dan dapat digerakan secara otomatis untuk membuka dan menutupnya. Payung ini anti api dan batang payung juga berfungsi sebagai saluran AC.
Jangan khawatir kalau rindu minum air zam-zam karena seperti di Masjid Haram, disinipun banyak sekali terdapat tempat minum air zam-zam, saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka mengalirkan atau membawa air zam-zam dari Mekah kesini dengan jarak 450km.
dalam masjid yang megah

Dibawah Masjid ada tempat parkir mobil untuk lebih dari 10.000 mobil dengan jalan akses langsung ke luar kota Madinah sehingga tidak mengganggu lalu lintas sekitar Masjid, luar biasa sekali konstruksi masjid ini dan secara arsitektur sangat modern

MAKKAH DAN MADINAH KOTA HIJAU DITENGAH PADANG TANDUS

afarah hijau   sudut kota Madinah  hijau

Masjid Kuba  pohon diberi selang air

Taman Kota Makkah Penghijauan

kebun kurma

Oleh Hasan Zainuddin
Mungkin diluar perkiraan orang, di wilayah kawasan padang pasir dan gunung-gunung berbatu yang tandus seperti di wilayah Arabia ternyata kota-kota setempat seperti Makkah dan Madinah kini berubah menjadi sebuah kawasan yang hijau dan asri.
Padahal di kedua kota tersebut, termasuk juga kota lain di Arab Saudi hampir sudah dipastikan jarang sekali adanya turun hujan yang bisa menyiramkan air kepada tanaman yang ada di bawahnya.
Wilayah tanah berpasir dan batu yang diperkirakan jauh dari subur bagi tanaman ternyata karena keinginan kuat pemerintah Arab Saudi untuk melakukan penghijauan ternyata hal itu bisa diwujudkan seperti yang terlihat sekarang ini.
Penulis yang melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Arab Saudi menyaksikan sendiri kawasan hijau dan asri di sudut-sudut kota Makkah, Madinah, dan Jeddah.
Padahal di luar dari kawasan kota tersebut hanya terlihat padang tandus dengan gunung yang penuh dengan bebatuan, sementara sungai juga ada terlihat tetapi bukannya terdapat air, melainkan di bawahnya hanya hamparan tandus penuh dengan pasir bebatuan.
Memang terdapat satu dua tanaman itupun hanya tanaman padang pasir seperti pohon korma.
Seperti perjalanan antara Makkah dan Madinah beberapa jembatan dilalui tetapi dibawahnya hanyalah sungai yang kondisinya kering kerontang.
Antara kota yang satu dan kota yang lain sudah bisa dipastikan tidak ada pemukiman penduduk, kecuali warung dan kedai, lantaran kesulitan mencari air minum dan kebutuhan air lainnya.
Sementara di wilayah sekitarnya tandus dengan cuaca panas saat siang dan dingin saat malam, ternyata Kota Makkah dan Madinah terlihat sejuk, dimana kawasan-kawasan jalan protokol, kawasan pertokoan dipenuhi oleh pepohonan, walau jenis pohon itu hanya beberapa jenis saja, penulis sendiri tidak tahu nama pohon tersebut.
Tetapi walau hanya beberapa jenis, namun kondisinya perkembangan pohon tersebut terlihat cukup subur untuk menghijaukan kota Makkah dan Madinah.
Selain itu, ada jenis bunga-bungaan kecil yang ditanam pemerintah Arab Saudi ternyata juga berkembang baik hingga mengeluarkan bunga yang berwarna warni cukup memperindah perkotaan.
Bunga-bunga warna warni tersebut banyak di tanam di kawasan median jalan, dibawah pepohonan besar yang hijau, seperti terlihat perjalanan antara Masjidil Haram ke masjid Tanaim atau ke masjid Jah ranah, dua wilayah kawasan mikat untuk melaksanakan umrah.
Bukan hanya pusat perkotaan yang agak asri dan hijau tetapi juga terlihat di kawasan yang tadinya kawasan tandus, contohnya di kawasan pusat peribadatan puncak ibadah haji kawasan Ararafah.

kuba
Bila puluhan tahun lalu, kawasan ini benar-benar gersang dan tandus belakangan terlihat hijau dan asri oleh pepohonan besar, sehingga cukup sejuk bagi jemaah haji yang melaksakan ibadah wukuf.
Banyak jemaah haji melakukan itikaf dan berdoa khusu di bawah pepohonan rindang tanpa kepanasan oleh matahari yang terlihat “garang.”
Selain itu tak sedikit pula jemaah setelah ber itikaf kemudian membentang tikar lalu tiduran di bawah pepohonan rindang tersebut.
Kemudian di Mina juga ada beberapa sudut yang terlihat hijau, tetapi di kawasan Mina ini lebih banyak bangunan perkemahan dan bangunan melontar yang megah.
Wilayah-wilayah lain yang terlihat hijau dan asri kawasan masjid Kuba, wilayah perkebunan kurma, dan wilayah lainnya.
Penulis sendiri merasa penasaran menyaksikan pepohonan yang subur ditengah kawasan tandus tersebut, sehingga penulis mencermati kawasan per tamanan dan jalur-jalur hijau lainnya.
Ternyata selain di jaga para petugas taman dan kebun yang selalu menyirami tanaman juga banyak sekali selang-selang air dengan mesin khusus untuk menyemprotkan air setiap saat terhadap pepohonan dan pertamanan, sehingga wilayah tersebut walau selalu disinari matahari tetapi juga selalu tersiram air sehingga bisa tumbuh berkembang  dengan baik.
Bahkan untuk pohon besar setiap batang pohonnya tersedia satu kran air yang setiap saat menyemprotkan air ke pohon.
Melihat kesungguhan untuk menghijaukan wilayah tersebut ternyata padang gersang tanpa hujanpun bisa disulap  menjadi wilayah hijau dan asri apalagi di negara kita yang sudah subur dengan mudahnya memperoleh air hujan, maka sebenarnya untuk melakukan penghijauan itu lebih mudah asal ada kemauan kuat seperti masyarakat di Arab Saudi tersebut.

aku5 aku di tanah suci