WARTAWAN BERPERAN MENEKAN PENULARAN AIDS

Oleh Hasan Zainuddin

2

“Alya” seorang waria dan sekretaris pengurus komunitas waria Kota Banjarmasin tak malu-malu menceritakan delapan tahun hubungannya dengan pasangannya yang menurutnya laki-laki muda, termasuk hubungan seks.

Sementara puluhan wartawan yang mengikuti workshop mengenai HIV/Aids di Banjarmasin 2-4 April 2013 itu, tertawa terpingkal-pingkal jika dari alur cerita yang disampaikan begitu lucu.

Sementara seorang staf Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kalsel, menceritakan pula adanya penderita AIDS di Kalsel menimpa seorang lelaki yang beristeri dua, hingga kedua isteri ikut mengidap penyakit itu.

Lalu diceritakan pula adanya seorang Penjaja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi menderita AIDS lalu melayani konsumen laki-lakinya bergonta ganti.

“Terus terus, gali saja apa yang menarik yang bisa dikaitkan dengan potensi penularan Aids,” kata Saiful Harahap seorang narasumber dalam workshop yang diselanggarakan KPA Kalsel bekerjasama dengan Bidang Kesra Kantor Pemprop Kalsel tersebut.

Menggali berbagai keterangan dari mereka yang berpotensi tertular AIDS atau sumber-sumberlainnya sesuatu yang baik diketahui wartawan,kemudian diolah berita lalu disiarkan, dengan demikian masyarakat mengerti bagaimana penularan Aids lalu menghindarinya, kata pemimpin redaksi situs online www. Aidsindonesia.com
“Wartawan melalui pemberitaannya berperan besar untuk menekan penularan penyakit itu,” katanya saat workshop peliputan dan penulisan berita HIV/Aids yang komprehensif untuk wartawan guna mendorong penanggulangan Aids di Kalsel.

Mantan wartawan senior surat kabar Sinar Harapan itu menyebutkan dengan peran demikian pemerintah hendaknya memberdayakan wartawan dalam penanganan kasus yang mengkhawatirkan ini.

HIV/AIDS sangatlah berbahaya, sampai saat ini belum ditemukan obatnya, bahkan negara yang maju seperti Amerika Serikat dan China tidak mampu menemukan obat akan penyakit ini, salah satu yang efektif adalah menghindari kegiatan yang memiliki resiko terjangkit.

“Kita perlu mencegah penyakit HIV/Aids sebelum penyakit ini menyerang kita,” katanya
Caranya adalah mengungkap penomena penularan HIV/AIDS seperti di wilayah Kalsel ini yang sudah tergolong tinggi.

Berdasarkan laporan KPA Kalsel jumlah kasus HIV/AIDS wilayah inii 2002- 2012 tercatat 587 kasus.

Koordinator Sekretariat KPA Kalsel, Nursalin, saat pembukaan kegiatan itu menjelaskan rincian kasus HIV 2002 empat kasus, 2003 lima kasus, 2004 tujuh kasus, 2005 sebesar 20 kasus, 2006 sebanyak 16 kasus, 2007 sebanyak 35 kasus, 2008 sembilan kasus, 2009 sebesar 23 kasus, 2010 sebesar 35 kasus, 2011 sebanyak 51 kasus, dan 2012 sebesar 120 kasus dengan jumlah komulatif 325 kasus.

Persentasi HIV tertinggi kelompok umur 20-29 tahun 40,6 persen, usia 30-39 tahun 18,6 persen, dan usia 40-49 tahun 4,9 persen. Persentasi pada laki-laki 17,8 persen perempuan 68,3 persen dan sisanya 13,9 persen adalah tidak diketahui.

Jumlah kasus HIV tertinggi penjaja seks 183 kasus, warga binaan pemasyarakatan 44 kasus, tenaga non profesional 22 kasus, dan ibu rumah tangga 18 kasus.

Daerah tertinggi HIV tertinggi adalah Tanah Bumbu 149 kasus, Kota Banjarmasin 68 kasus, Kota Banjarbaru 36 kasus, Kotabaru 16 kasus, dan Kabupaten Banjar 13 kasus.

Sedangkan kasus AIDS tahun 2006 dilaporkan 10 kasus, 2007 18 kasus, 2008 23 kasus, 2009 28 kasus, 2010 38 kasus, 2011 65 kasus, dan 2012 80 kasus dengan jumlah 262 kasus.

Persentasi terkena usia, tertinggi 30-39 tahun 38,2 persen, 20-29 tahun 35,3 persen, dan 40-49 tahun 15,3 persen, persentasi pada laki-laki 62,2 persen dan perempuan 37,8persen, tambahnya.

Kasus AIDS tertinggi pada ibu rumah tangga 41 kasus,non profesional 34 kasus, penjaja seks 18 kasus,dan lain-lain sembilan kasus.

Jumlah kasus Aids terbanyak dilaporkan di Kota Banjarmasin 121 kasus, Kota Banjarbaru 25 kasus, Kabupaten Tanah Bumbu 25 kasus,Kabupaten Kotabaru 16 kasus, serta Kabupaten Tabalong 13 kasus.

Mengenai situasi HIV/AIDS triwulan IV,Oktober-Desember 2012 lalu disebutkannya kasus HIV tertinggi kelompok umur 20-29 tahun atau 50 persen, diikuti kelompok usia 30-39 tahun 31,25persen, dan kelompok 40-49 tahun 12,5persen.

Rasio HIV antara perempuan dan laki-laki adalah1,2 :1 dan persentasi faktor resiko HIV tertinggi adalah hubungan seks tidak aman 93,6 persen, prinatal 6,25 persen.

Jumlah kasus HIV tertinggi dilaporkan di Kota Banjarmasin, enam orang,Kabupaten Tanah Bumbu lima orang, Kota Banjarbaru dua orang, dan sekorang lagi di Kabupaten Kotabaru.

Sementara kasus Aids periode Oktober-Desember 2012 dilaporkan 17 kasus, persentasi tertinggi usia 30-39 tahun 47,1persen, diikuti kelompok usia 20-29 tahun 41,2persen, dan kelompok usia 40-49 tahun 11,8 persen.

Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan 1,1 :1 dan jumlah kasus tertinggi Kota Banjarmasin empat orang, Kabupaten Tanah Bumbu empat orang,Kotabaru tiga orang, Kabupaten Banjar dua orang, Barito Kuala seorang, Tabalong seorang, serta Kota Banjarbaru seorang
Terungkap pula selain penderita terdapat 41 kasus mengenai ibu rumah tangga serta tujuh kasus terhadap bayi.

Menurut Saiful, AIDS bisa juga dikatakan bukan penyakit hanyalah kondisi terjadi pada seseorang yang sudah tertular HIV karena kerusakan sistem kekebalan tubuh.
Hubungan seks
Kondisi seseorang yang sudah tertular HIV (secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular) yang ditandai dengan beberapa jenis penyakit (disebut infeksi oportunistik), seperti jamur, sariawan, diare, TB yang sangat sulit disembuhkan
HIV dalam jumlah yang dapat ditularkan (hanya) terdapat dalam
Cairan darah (laki-laki dan perempuan) air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV) cairan vagina (perempuan) air susu ibu (ASI).

Salah satu alasan mengapa HIV sangat berbahaya jika sudah masuk ke dalam tubuh adalah HIV akan masuk ke dalam sel-sel darah putih dan menjadikannya sebagai pabrik untuk memproduksi HIV baru.

Setiap hari HIV rata-rata memproduksi 10 miliar (10.000.000.000) sampai 1 trilun (1.000.000.000.000) virus (HIV) baru.

HIV yang baru diproduksi itu kemudian mencari sel darah putih lagi dan kembali memproduksi HIV baru.

Melihat tinggi kasus penyakit ini di Kalsel,ini harus ditungkap agar masyarakat mengerti dan tahu lalu menghindari hal-hal yang bisa tertular AIDS.

Biasanya,katanya, pertumbuhan penyakit ini kebanyakan melalui hubungan seks, dari seorang laki-laki terjangkit kepada perempauan, dan perempuan terjangkit jika berhubungan seks lagi dengan laki-laki lain maka laki-laki lain juga terjangkit, terus demikian.

Perempuan terjangkit bisa pula menjangkiti bayi yang baru lahir, dengan demikian maka HIV/AIDS terus menular.

Maka sudah bisa dibayangkan jiga ada sepuluh ibu rumah tangga yang terjangkit berarti ia mempunyai suami sepuluh orang juga berarti sudah ada 20 yang terjangkit.

Kemudian jika ada 10 bayi terjangkit karena ia memiliki ayah dan ibu berarti sudah ada 30 orang yang terjangkit, dan mudah menghitungkan dan jika yang terjangkit itu ribuan maka sudah berapa yang trerjangkit, tuturnya.
Menurutnya lagi seseorang bisa tertular HIV, jika melakukan hubungan seksual, di dalam atau di luar nikah, dengan orang yang sudah tertular HIV (HIV-positif) dengan kondisi alat kelamin laki-laki bersentuhan langsung dengan alat kelamin perempuan.

Kemudian bisa pula menerima transfusi darah yang mengandung HIV
menerima cangkok organ tubuh yang mengandung HIV, menggunakan jarum suntik, jarum tindik, jarum tattoo, jarum akupunktur, alat-alat kesehatan yang terkontaminasi darah yang mengandung HIV menyusui air susu ibu (ASI) yang mengandung HIV. katanya.

Dalam kegiatan tersebut para peserta selain diminta bertanya ke berbagai pihak juga diajak mengunjungi lokasisasi Pembatuan kilometer 17 Kabupaten Banjar.

Dengan penggalian kberbagai sumber dari wartawan diharapkan akan terungkap misteri penomena penyebaran Aids dengan demikian diharapkan akan mampu mencari solusi terbaik menekan penyakit tersebut.

Iklan

PENULARAN HIV/AIDS “MENGUSIK” WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

aids
Warga Penghuni wilayah paling selatan pulau terbesar Indonesia Kalimantan, kini kian terusik penularan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) and Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), padahal belakangan kian gencar penanggulangan berbagai penyakit menular lainnya guna menuju masyarakat sehat.

Terungkapnya penyakit tersebut tentu menimbulkan tanda tanya besar banyak pihak mengingat wilayah ini termasuk wilayah agamis.

Mengapa penyakit yang sebagian besar berjangkit di lokasi pristitusi merebak di wilayah yang sebenarnya “mengharamkan” lokalisasi.

Kasus HIV/AIDS menimbulkan dugaan adanya praktek pristitusi terselubung di tempat-tempat terselubung pula, yang menerpa wilayah ini, dan ditengarai selain ditempat hiburan malam, perhotelan, kafe-kafe, lokasi karaoke atau bahkan di lokasi pertambangan batubara yang menjamur di wilayah Kalsel.

Konon banyak pekerja tambang berasal dari luar daerah bekerja di Kalsel tanpa isteri,kemudian “jajan” ke lokasi “remang-remang” ilegal dekat tambang, atau lokasi lain yang bisa menyebarkan penularan panyakit menakutkan itu.

Penularan ini pula diduga akibat kian merebaknya penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik, serta kegiatan seks yang menyimpang.

Peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Kalsel ternyata menjadi sorotan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi.
Saat mengunjungi Banjarmasin (27/2) lalu menyatakan jika angka tersebut terus meningkat, maka akan menjadi bencana bagi Kalsel.

“Ini merisaukan, kalau HIV/AIDS tidak dikendalikan, maka capaian pengurangan penyakit menular lainnya tidak berguna,” ujarnya dihadapan Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin dan jajaran kesehatan setempat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, dari 2002 hingga 2012, angka kasus HIV/AIDS sudah menembus melebihi angka 200 kasus, dan Itupun diduga, masih banyak kasus HIV/AIDS yang belum terdata.

Padahal dalam kasus penyakit tersebut biasanya satu orang yang terdata diduga masih ada sepuluh orang lainnya yang terjangkit tapi belum diketahui,dengan demikian tentu mengusik ketentraman warga yang selama ini sudah merasa agak “aman” dengan kian berkurangnya serangan penyakit, TBC, DBD, malaria, dan penyakit menular lainnya.

Apalagi berdasarkan data kasus HIV/AIDS justru paling banyak menular dikalangan generasi muda yang sebenarnya menjadi pemegang tongkat estapet pembangunan wilayah 13 kabupaten dan kota serta berpenduduk 3,6 juta jiwa itu.

Yang merisaukan pula kasus HIV/AIDS di Kalsel juga menyerang ibu rumah tangga, yang sebenarnya kelompok yang jauh darikegiatan yang bisa menularkan HIV/AIDS.

Kasus HIV di Kalimantan Selatan tertinggi terdapat pada remaja usia produktif yang berumur antara 20-29 tahun yaitu mencapai 50 persen dari total kasus HIV hingga Desember 2012 sebanyak 325 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Akhmad Rusdianyah di Banjarmasin, Kamis mengatakan, berdasarkan estimasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) nasional pada 2009, di Kalimantan Selatan terdapat 948 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Sejak 2002 sampai dengan Desember 2012 sudah ditemukan atau dilaporkan HIV/AIDS sebanyak 587 kasus atau 61,9 persen dari estimasi yang ditetapkan tersebut,” katanya.

Khusus HIV/AIDS, kata dia, prosentase kumulatif HIV tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun, sebanyak 40,6 persen, selanjutnya umur 30-39 tahun sebanyak 18,6 persen, dan 40-49 senbanyak 4,9 persen.

Dari 325 kasus HIV tersebut, sebanyak 68,3 persen terjadi pada perempuan, terutama pada penjaja seks komersial sebanyak 183 kasus, 17,8 persen pada laki-laki dan sisanya 13,9 persen tidak diketahui.

Selanjutnya, yang sangat memprihatinkan, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut kini juga sudah menyerang ibu rumah tangga dengan kasus yang telah ditemukan sebanyak 18 orang.

Penyakit ini juga ditemukan pada warga binaan sebanyak 44 orang dan tenaga non profesional 22 kasus.

Jumlah kasus HIV tertinggi, tambah Rusdiansyah, di Kabupaten Tanah Bumbu sebanyak 149 kasus, Kota Banjarmasin 68 kasus, Banjarbaru, 36 kasus, Kotabaru 16 kasus dan Kabupaten Banjar 13 kasus.

Sedangkan untuk AIDS, sampai dengan Desember 2012 mencapai 262 kasus, dengan kasus tertinggi terjadi pada ibu rumah tangga sebanyak 41 kasus, tenaga non profesional 34 kasus, penjaja seks 18 kasus dan lain-lain 9 kasus.

Daerah terbanyak penderita AIDS yaitu, Banjarmasin, 121 kasus, Banjarbaru, 25 kasus, Tanah Bumbu 25 kasus, Kotabaru, 16 kasus, dan Tabalong sebanyak 13 kasus.

Menurut Rusdiansyah, faktor resiko penularan AIDS tertinggi adalah hubungan seks tidak aman yaitu 88,2 persen dan melalui jarum suntik narkoba dan lainnya sebanyak 11,7 persen.

aids1

Pencegahan
Pihak Dinas Kesehatan Kalsel sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum, khususnya mereka yang beresiko tinggi terjangkit virus yang belum ada obatnya tersebut.

Bahkan di Kalsel dan beberapa kabupaten dan kota di wilayah ini membentuk sebuah lembaga khusus menanggulangi penyakit ini yaitu Komisi Penanggulangan Aids (KPA) , serta lembaga lainnya.

Kota Banjarmasin yang juga banyak kasus HIV/AIDS sudah mengantisipasi penularan tersebut dengan berbagai cara, salah satunya mengkhususnya sebuah Puskesmas untuk melakukan perawatan penyakit tersebut.

Puskesmas yang dipilih melakukan penanganan penyakitHIV/AIDS adalah Puskesmas Pekauman, dimana petugasnya dilatih mengenai penangananh HIV/AIDS serta dilengkapi dengan berbagai peralatan.

Di Banjarmasin sendiri penanggulangan penyakit HIV/AIDS terlihat kian gencar saja, dengan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat luas hingga ke daerah pinggiran, ke tempat hiburan malam, lembaga pemasyarakatan, serta pengambilan simpel darah.

Untuk mencegah penularan penyakit ini di Banjarmasin, yakni membentuk aturan melalui Perda.

“¿Melihat sudah banyaknya warga Banjarmasin terjangkit HIV/AIDS, maka dipandang perlu adanya aturan berupa Perda guna menangkal penyakit itu,¿ kata anggota DPRD Banjarmasin, M Dafik As¿ad.

DPRD Kalsel juga tak tinggal diam, bersama instansi/pihak terkait akan membahas masalah HIV/AIDS. “Ya nanti kita bicarakan dengan pimpinan dewan atau ketua komisi, untuk mengundang instansi/pihak terkait permasalahan HIV/AIDS,” ujar Wakil Ketua Komisi IV bidang kesra DPRD Kalsel H Budiman Mustafa.

Kasus HIV/AIDS ini juga mencuat kepermukaan saat seminar kependudukan kerjasama antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalsel dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setempat.

Dalam seminar tersebut meminta BKKBN meningkatkan perannya terutama menggalakan pemakaian kondom, atau memberikan penyuluhan yang lebih gencar lagi mengenai kesehatan alat produksi (Kespro).

Kepala BKKBN Kalsel, Sunarto mengakui masalah HIV/AIDS telah menjadi perhatian, tetapi porsi program penanggulangan penyakit tersebut relatif agak kecil dibandingkan program lainnya.

Masalah pemakaian kondom atau KB pria bagian dari upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS, begitu juga mengenai masalah-masalah kesehatan reproduksi yang selalu ditekankan terjangkitnya penyakit kelamin termasuk HIV/ADIS

PERNIKAHAN DINI, ANCAMAN BESAR KEHIDUPAN SOSIAL KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, 17/9 ()- Seorang perempuan muda berambut bercat pirang, dengan pakaian minor sambil mengisap sebatang rokok duduk di warung Jalan A Yani dekat Hotel Banjarmasin Internasional (HBI).
Ketika didekati ia bertanya “bapak naikkah?” Penulis bingung harus menjawab apa, karena tak mengerti apa yang dimaksud naik.
Ketika ditanya apa maksudnya, lalu gadis berkulit putih berusia sekitar 19 tahun itu menjelaskan maksud naik itu alah masuk ke dalam diskotik yang ada di HBI tersebut.
Secara panjang lebar ia bercerita, Lisa (nama samaran) hampir tiap malam masuk diskotik, sebagai wanita penghibur tamu di dunia gemerlap (dugem), ya sekedar menambah penghasilan setelah menjanda hampir dua tahun lalu.
Dengan seorang anak hasil perkawinan dengan pasangan sama-sama muda usia, kehidupan yang menjanda sekarang ini bisa dikatakan morat-marit, tak ada orang yang bisa memberikan nafkah dalam kehidupannya termasuk mantan suaminya yang sekarang tak tahu lagi ujung rimbanya.
Ujung-ujungnya setelah kebingungan Lisa pun terjerumus ke dalam dunia malam. “Yah lumayan tiap malam, ada saja uang tip yang diberikan tamu di diskotik,” tutur Lisa tanpa malu-malu.
Menurut Lisa, di dalam dunia gemerlap, ia tak sendiri bahkan puluhan atau ratusan dan mungkin juga ribuan orang yang nasibnya serupa, yakni terjun ke dunia malam setelah menjadi korban dari perceraian yang sebelumnya nikah dini.
Berdasarkan ceritanya, dia bersama teman-temannya umumnya adalah janda muda yang mencari sesuap nasi dengan berjingkrak ria di diskotik, peramusaji di ruang karaoke, pelayan di meja biliar, pub, cafe, bahkan ada dari mereka yang bertindak lebih jauh lagi sebagai wanita panggilan.
Keberadaan wanita muda yang sudah menjadi binal tersebut,agaknya dimanfaatkan pengusaha hiburan malam, dengan memberikan fasilitas masuk gratis bagi mereka pada malam tertentu, maksudnya agar tempat hiburan tersebut dipenuhi wanita malam, hingga memancing lebih banyak pengujung pria.
Akhirnya sudah bisa dipastikan tempat-tempat hiburan malam seperti yang ada di Banjarmasin seakan-akan tak mampu lagi menampung pengunjung yang selalu memludak seperti yang terlihat di Diskotik HBI,Grand Plaza, dan Diskotik Aria Barito.
“Aku heran, wilayah  kita ini adalah daerah yang agamis, tetapi kok begitu maraknya tempat-tempat seperti itu,” kata seorang warga kota Banjarmasin.
Berarti penanganan sosial di daerah ini ada yang salah yang harus dicarikan solusi terbaik, tambah warga kota.

Pernikahan Dini
Banyak batasan mengenai arti pernikahan dini, tetapi secara umum disebutkan pernikahan dini adalah pernikahan manusia masih remajaatau masa peralihan antara masa anak-anak ke dewasa.
Saat pernikahan mereka bisa dikatakana bukan lagi anak, baik bentuk badan, sikap dan cara berpikir serta bertindak, namun bukan pula orang dewasa yang telah matang berfikir.
Angka pernikahan dini atau pernikahan pada usia dibawah yang dianjurkan ternyata masih tinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Bahkan angka tersebut tertinggi di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Rosihan Adhani kepada wartawan pernah mengungkapkan, angka pernikahan dini di Kalsel mencapai 9 persen.
Angka tersebut merupakan angka pasangan yang menikah pada usia di bawah 15 tahun.
Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kalsel diatas angka rata-rata nasional, ucapnya.
Angka pernikahan dini nasional sendiri hanya 4,8 persen. Jumlah tersebut jauh dibandingkan dengan Kalsel.
Menurut Rosihan, tingginya angka pernikahan dini di Kalsel disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor ekonomi dan budaya, atau lantaran tidak mampu melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, banyak diantara pelajar yang memilih menikah.
Fakta tersebut, lanjut Rosihan, cukup mengkhawatirkan, pasalnya usia menikah yang terlalu muda membuat risiko kesehatan terutama untuk ibu dan bayi.
“Ini penyumbang angka kematian bayi dan ibu, menikah kan perlu kesiapan fisik dan kalau usia terlalu dini tidak baik,” katanya.
Menurut Rosehan Adhani selain berisiko terhadap kesehatan, menikah terlalu dini juga membuat pasangan kerap mengalami kesulitan ekonomi. Akhirnya, banyak anak pasangan yang menikah dini tidak mendapat asupan gizi yang memadai, bahkan pola asuh anak juga kerap tidak diperhatikan.
“Makanya dianjurkan menikah usia 20 tahun untuk perempuan dan usia 25 untuk laki-laki, harapannya sudah siap fisik dan mental termasuk soal ekonomi,” tandasnya.
Sekadar diketahui, berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, Kalimantan Selatan ternyata membukukan “prestasi” yang cukup mencengangkan. Provinsi dengan penduduk lebih dari 3,6 juta jiwa ini ternyata menempati urutan pertama angka pernikahan dini di Indonesia.
Angka pernikahan dini Kalsel menempati urutan pertama di Indonesia dan mengalahkan Jawa Barat yang pada tahun sebelumnya menempati urutan pertama. Angka umur perkawinan secara nasional masing-masing berbeda-beda.
Untuk umur 10-14 tahun tercatat sebanyak 4,8 persen pasangan menikah di usia ini. Yang cukup mencengangkan adalah perkawinan usia 15-19 tahun yang merupakan angka tertinggi yakni 41,9 persen.
Untuk usia 20-24 tahun, tercatat angka perkawinan sebanyak 33,6 persen.

Angka Perceraian
Dengan banyaknya kasus pernikahan dini di wilayah paling Selatan pulau terbesar tanah ini menyebabkan juga seringnya terjadi perceraian.
Tingkat perceraian di Kalimantan Selatan dalam setiap tahunnya cukup tinggi, kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalsel Abdul Halim Ahmad di Banjarmasin.
Menurut dia, selama 2010 jumlah perceraian di Kalsel tidak kurang dari empat ribu kasus, yang terjadi pada pihak swasta maupun pegawai negeri sipil (PNS) bahkan guru.
“Jumlah perceraian tersebut masih cukup tinggi, dengan berbagai sebab dan alasan,” katanya.
Salah satu penyebab terjadinya perceraian, tambah dia, antara lain karena masalah ekonomi baik karena ekonomi kurang maupun ekonomi yang membaik.
Selain itu, kata dia, juga karena perkawinan di bawah umur sehingga menyebabkan seseorang belum terlalu siap menghadapi persoalan rumah tangga yang terjadi.
Untuk menekan angka perceraian tersebut, kata dia, pihaknya akan melakukan sosialisasi masalah perkawinan melalui badan penasehatan perkawinan.
“Pasangan yang akan menikah akan kita berikan penyuluhan dan bimbingan, begitu juga yang ingin melakukan cerai akan dilakukan mediasi, sehingga persoalan yang dihadapi tidak harus berakhir pada perpisahan,” katanya.
Sementara data BKKBN Kalsel selama 2009 menunjukkan bahwa jumlah janda atau duda yang belum menikah kembali sebanyak 156.835 orang atau 15,82 persen dari 991.641 keluarga.
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merupakan kabupaten paling banyak jumlah janda atau dudanya yaitu 21,58 persen.
Disusul Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sebanyak 21,31 persen dan Hulu Sungai Utara (HSU) sebanyak 19,42 persen.
Banyaknya jumlah janda atau duda di Kalsel tersebut, kemungkinan dipicu karena tingginya pernikahan di bawah umur.
Namun tidak menutup kemungkinan tingkat perceraian akibat menikah di bawah umur lebih rentan terjadi, karena pasangan belum matang dalam menghadapi persoalan rumah tangga.
Berdasarkan hasil survei demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tingkat pernikahan di bawah umur Kalsel cukup tinggi.
Berdasarkan hasil SDKI 2009, pasangan yang menikah di bawah umur 20 tahun sebanyak 32.483 orang dari total pasangan usia subur sebanyak 732.206.


SEKS BEBAS REMAJA SEBUAH KERISAUAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,17/9 ()- Hampir sebagian besar dari 64 juta penduduk remaja Indonesia belakangan ini memiliki alat komunikasi handpone (HP) dan sebagian besar pula dari HP tersebut mampu mengakses internet.
“Sudah bisa dibayangkan kalau seorang remaja memiliki alat komunikasi yang mampu mengakses internet, siapa yang disalahkan bila remaja itu mengakses situs porno,” kata pejabat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pusat.
Deputi Bidang Advodkasi,Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Hardiyanto saat berada di Banjarmasin, mengakui keberadaan remaja belakangan ini kian merisaukan saja.
Bukan HP saja remaja dengan mudah mengakses berbagai informasi dunia tetapi juga laptop, komputer, serta peralatan elektronik lainnya yang mudah akses jaringan internet, disamping media-media lain yang beredar bebas.
“Dimanapun remaja berada termasuk dalam kamar sendirian, siapa yang bisa menangkal agar remaja tidak menyaksikan tayangan film dan gambar porno,”katanya saat berada di Banjarmasin menghadiri acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Kalsel.
Kerisauan pejabat BKKBN tersebut, besar kemungkinan sudah merata di Indonesia, tak terkecuali di Banjarmsin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sendiri.
Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Hj Diah R Praswasti, angka seks bebas kalangan remaja menunjukkan peningkatan yang mencengahkan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga akhir 2011 ada peningkatan persalinan remaja. Dari sebanyak 50 orang pada 2010, melonjak menjadi 235 orang pada 2011.
Data lainnya terjadi pada kasus KTD (Kehamilan yang tidak diinginkan), dari 35 orang 2010, melonjak menjadi 220 orang pada 2011.
Data tersebut berdasarkan acuan dari 26 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat bekerjasama dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
] Semua itu untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Kota Banjarmasin, dengan rentang usia dari sembilan tahun hingga 19 tahun.
Hj Diah menerangkan setiap Puskesmas membina UKS yang ada di setiap sekolah. Kemudian hasilnya didapat dari laporan setiap UKS kepada Puskesmas dan dievaluasi Dinkes Kota Banjarmasin.
Dari perkembangan seks bebas tersebut terimplikasi terhadap perkembangan penyakit yang menakutkan yakni Aids/Hiv.


“Berdasarkan data kumpulan dari 26 Puskesmas yang tersebar se Kota Banjarmasin dan telah dievaluasi Dinkes,” ujarnya.
“Serangan Aids di kota ini juga meningkat dan itu sungguh merisaukan hingga memerlukan kewaspadaan kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.
Yang cukup merisaukan pula penyakit yang menakutkan tersebut sudah menjalar ke kalangan usia remaja yaitu pelajar, tambahnya lagi tanpa merinci pelajar mana yang terkena penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas di lapangan warga Banjarmasin yang terkena Aids 33 orang dan terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat 52 orang.
Mereka yang terbanyak terjangkit penyakit yang pernah menghebohkan dunia tersebut,adalah kelompok yang memang beresiko tinggi yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).
Selain itu mereka yang berprilaku seks menyimpang seperti homoseks, lesbian, serta prilaku bebas lainnya disamping jarum suntik, obat-obatan terlarang, dan akibat lainnya.
Pihak Dinkes Banjarmasin sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum. Adis.
Melihat kenyataan tersebut membuat Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin juga menjadi risau dan meminta semua pihak melakukan pengawasan terhadap perilaku remaja tersebut.
“Saya menghimbau kepada orang tua, guru, ataupun masyarakat untuk mengawasi anak-anak kita, sebab jumlah remaja yang mengalami kasus ini semakin meningkat,” katanya lagi.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya pada lingkungan rumah, namun juga di lingkungan sekolah, seperti para guru atau pun masyarakat umum yang kebetulan melihat hal-hal ganjil dilakukan oleh remaja hendaknya diawasi hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Misalnya, jika melihat dua remaja yang sengaja duduk di tempat remang-remang dan gelap segera ditegur, jangan sampai mereka terperosok ke hal-hal yang dilarang agama,”kata Muhidin.
Dia pun berencana agar Dinas Pendidikan juga menyiapkan program khusus untuk ini yakni melakukan ceramah agama untuk siswa SMP dan SMA. Program ini dimaksudkan untuk meberikan gambaran bahaya serta dampak dari pergaulan bebas.
“Nantinya kita juga anggarkan untuk program ini, sebab kita akan menggunakan tokoh agama atau alim ulama yang nanti keliling ke sekolah-sekolah tiap minggu untuk memberikan nasihat agama kepada murid-murid,”kata Muhidin.
Untuk tempat-tempat yang mungkin rentan terjadinya seks bebas oleh remaja, perlu diawasi pula, seperti warnet, maka Pemkot pun akan melakukan razia terhadap lokasi tersebut.
Misalnya ada warnet buka 24 jam dan banyak remaja yang nongkrong di situ, Pemkot melalui Satpol PP akan melakukan razia, karena seperti alporan yang diterima para remaja mudah melakukan hal-hal yang tak lazim di tempat itu.
Tiga Persoalan Besar
Menurut Deputi Adpin BKKBN, Drs Hardiyanto terdapat tiga persoalan besar yang menghadang remaja Indonesia.
Tiga persoalan besar tersebut selain masalah seks bebas pranikah, penyalahgunaan narkotika, dan berjangkitnya penyakit hiv/aids.
Padahal penduduk remaja sekarang ini begitu banyak dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia 30 persen atau 64 juta jiwa diantaranya adalah usia remaja atau usia 10 hingga 24 tahun.
Kelompok remaja tersebut sedang galau menghadapi tiga persoalan besar tersebut, lantaran berbagai informasi belakangan yang sekarang sulit dibendung yang mempengaruhi tingkat perilaku remaja itu sendiri.
Oleh karena itu BKKBN sekarang ini mencoba mencari solusi menghadapi tiga persoalan tersebut, dengan mengembangkan apa yang disebut Remaja Berencana (Rebre),yakni pendidikan refproduksi agar mereka mengerti dan tahu apa yang baik dan tidak baik.
Dengan mengetahui persoalan remaja diharapkan mereka mengerti bahwa kawin muda itu tidak baik, dan berusaha sekolah setinggi mungkin sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Masalahnya kawin dini menjadi persoalan dalam kemudian karena kesehatan refproduksi wanita masih belum baik, sementara laki-lakinya belum bisa bertanggungjawab.
Kalau ibu muda yang masih rawan melahirkan itu bisa menimbulkan kematian ibu lahir atau kematian bayi lahir.
“Apa mau setelah kawin dan punya anak, ditinggalkan begitu saja oleh pasangan laki-lakinya, sementara perempuan remaja yang sudah punya anak dan tidak ada kerjaan mau kemana membawa kehidupan itu, akhirnya semua jadi berentakan dan menjadi beban keluarga dan masyarakat,” tuturnya.
Pusat Informasi Pelayanan (PIP) remaja juga dibentuk BKKBN agar para meraja saling curhat mengenai refproduksi, sehingga melalui PIP mereka bisa mengetahui bahayanya pergaulan bebas, narkotika, dan hiv/aids.
Di lokasi PIP remaja tersebut BKKBN menyediakan seorang tenaga konsuling yang memberikan bimbingan terhadap remaja dalam menghadapi tiga persoalan tersebut.
Dari PIP remaja maka akan melahirkan remaja berencana yang mengerti menghadapi kehidupan kedepan, dan PIP remaja bisa dikembangkan di sekolah, madrasah, pesantren, di dalam masyarakat umum, dan kelompok dimana banyak terdapat remaja.
Seluruh indonesia tidak kurang dari 20 ribu PIP remaja yang sudah dibentuk, dan bisa dijadikan alat pengembangan pemikiran remaja menghadapi tiga persoalan besar yang dihadapi remaja tersebut, katanya.

SEKS BEBAS REMAJA SEBUAH KERISAUAN

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,24/6 (ANTARA)- Hampir sebagian besar dari 64 juta penduduk remaja Indonesia belakangan ini memiliki alat komunikasi handpone (HP) dan sebagian besar pula dari HP tersebut mampu mengakses internet.
“Sudah bisa dibayangkan kalau seorang remaja memiliki alat komunikasi yang mampu mengakses internet, siapa yang disalahkan bila remaja itu mengakses situs porno,” kata pejabat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pusat.
Deputi Bidang Advodkasi,Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Hardiyanto saat berada di Banjarmasin, mengakui keberadaan remaja belakangan ini kian merisaukan saja.
Bukan HP saja remaja dengan mudah mengakses berbagai informasi dunia tetapi juga laptop, komputer, serta peralatan elektronik lainnya yang mudah akses jaringan internet, disamping media-media lain yang beredar bebas.
“Dimanapun remaja berada termasuk dalam kamar sendirian, siapa yang bisa menangkal agar remaja tidak menyaksikan tayangan film dan gambar porno,”katanya saat berada di Banjarmasin menghadiri acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Kalsel.
Kerisauan pejabat BKKBN tersebut, besar kemungkinan sudah merata di Indonesia, tak terkecuali di Banjarmsin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sendiri.
Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Hj Diah R Praswasti, angka seks bebas kalangan remaja menunjukkan peningkatan yang mencengahkan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga akhir 2011 ada peningkatan persalinan remaja. Dari sebanyak 50 orang pada 2010, melonjak menjadi 235 orang pada 2011.
Data lainnya terjadi pada kasus KTD (Kehamilan yang tidak diinginkan), dari 35 orang 2010, melonjak menjadi 220 orang pada 2011.
Data tersebut berdasarkan acuan dari 26 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat bekerjasama dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
] Semua itu untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Kota Banjarmasin, dengan rentang usia dari sembilan tahun hingga 19 tahun.
Hj Diah menerangkan setiap Puskesmas membina UKS yang ada di setiap sekolah. Kemudian hasilnya didapat dari laporan setiap UKS kepada Puskesmas dan dievaluasi Dinkes Kota Banjarmasin.
Dari perkembangan seks bebas tersebut terimplikasi terhadap perkembangan penyakit yang menakutkan yakni Aids/Hiv.
“Berdasarkan data kumpulan dari 26 Puskesmas yang tersebar se Kota Banjarmasin dan telah dievaluasi Dinkes,” ujarnya.
“Serangan Aids di kota ini juga meningkat dan itu sungguh merisaukan hingga memerlukan kewaspadaan kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.
Yang cukup merisaukan pula penyakit yang menakutkan tersebut sudah menjalar ke kalangan usia remaja yaitu pelajar, tambahnya lagi tanpa merinci pelajar mana yang terkena penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas di lapangan warga Banjarmasin yang terkena Aids 33 orang dan terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat 52 orang.
Mereka yang terbanyak terjangkit penyakit yang pernah menghebohkan dunia tersebut,adalah kelompok yang memang beresiko tinggi yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).
Selain itu mereka yang berprilaku seks menyimpang seperti homoseks, lesbian, serta prilaku bebas lainnya disamping jarum suntik, obat-obatan terlarang, dan akibat lainnya.
Pihak Dinkes Banjarmasin sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum. Adis.
Melihat kenyataan tersebut membuat Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin juga menjadi risau dan meminta semua pihak melakukan pengawasan terhadap perilaku remaja tersebut.
“Saya menghimbau kepada orang tua, guru, ataupun masyarakat untuk mengawasi anak-anak kita, sebab jumlah remaja yang mengalami kasus ini semakin meningkat,” katanya lagi.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya pada lingkungan rumah, namun juga di lingkungan sekolah, seperti para guru atau pun masyarakat umum yang kebetulan melihat hal-hal ganjil dilakukan oleh remaja hendaknya diawasi hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Misalnya, jika melihat dua remaja yang sengaja duduk di tempat remang-remang dan gelap segera ditegur, jangan sampai mereka terperosok ke hal-hal yang dilarang agama,”kata Muhidin.
Dia pun berencana agar Dinas Pendidikan juga menyiapkan program khusus untuk ini yakni melakukan ceramah agama untuk siswa SMP dan SMA. Program ini dimaksudkan untuk meberikan gambaran bahaya serta dampak dari pergaulan bebas.
“Nantinya kita juga anggarkan untuk program ini, sebab kita akan menggunakan tokoh agama atau alim ulama yang nanti keliling ke sekolah-sekolah tiap minggu untuk memberikan nasihat agama kepada murid-murid,”kata Muhidin.
Untuk tempat-tempat yang mungkin rentan terjadinya seks bebas oleh remaja, perlu diawasi pula, seperti warnet, maka Pemkot pun akan melakukan razia terhadap lokasi tersebut.
Misalnya ada warnet buka 24 jam dan banyak remaja yang nongkrong di situ, Pemkot melalui Satpol PP akan melakukan razia, karena seperti alporan yang diterima para remaja mudah melakukan hal-hal yang tak lazim di tempat itu.


Tiga Persoalan Besar
Menurut Deputi Adpin BKKBN, Drs Hardiyanto terdapat tiga persoalan besar yang menghadang remaja Indonesia.
Tiga persoalan besar tersebut selain masalah seks bebas pranikah, penyalahgunaan narkotika, dan berjangkitnya penyakit hiv/aids.
Padahal penduduk remaja sekarang ini begitu banyak dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia 30 persen atau 64 juta jiwa diantaranya adalah usia remaja atau usia 10 hingga 24 tahun.
Kelompok remaja tersebut sedang galau menghadapi tiga persoalan besar tersebut, lantaran berbagai informasi belakangan yang sekarang sulit dibendung yang mempengaruhi tingkat perilaku remaja itu sendiri.
Oleh karena itu BKKBN sekarang ini mencoba mencari solusi menghadapi tiga persoalan tersebut, dengan mengembangkan apa yang disebut Remaja Berencana (Rebre),yakni pendidikan refproduksi agar mereka mengerti dan tahu apa yang baik dan tidak baik.
Dengan mengetahui persoalan remaja diharapkan mereka mengerti bahwa kawin muda itu tidak baik, dan berusaha sekolah setinggi mungkin sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Masalahnya kawin dini menjadi persoalan dalam kemudian karena kesehatan refproduksi wanita masih belum baik, sementara laki-lakinya belum bisa bertanggungjawab.
Kalau ibu muda yang masih rawan melahirkan itu bisa menimbulkan kematian ibu lahir atau kematian bayi lahir.
“Apa mau setelah kawin dan punya anak, ditinggalkan begitu saja oleh pasangan laki-lakinya, sementara perempuan remaja yang sudah punya anak dan tidak ada kerjaan mau kemana membawa kehidupan itu, akhirnya semua jadi berentakan dan menjadi beban keluarga dan masyarakat,” tuturnya.
Pusat Informasi Pelayanan (PIP) remaja juga dibentuk BKKBN agar para meraja saling curhat mengenai refproduksi, sehingga melalui PIP mereka bisa mengetahui bahayanya pergaulan bebas, narkotika, dan hiv/aids.
Di lokasi PIP remaja tersebut BKKBN menyediakan seorang tenaga konsuling yang memberikan bimbingan terhadap remaja dalam menghadapi tiga persoalan tersebut.
Dari PIP remaja maka akan melahirkan remaja berencana yang mengerti menghadapi kehidupan kedepan, dan PIP remaja bisa dikembangkan di sekolah, madrasah, pesantren, di dalam masyarakat umum, dan kelompok dimana banyak terdapat remaja.
Seluruh indonesia tidak kurang dari 20 ribu PIP remaja yang sudah dibentuk, dan bisa dijadikan alat pengembangan pemikiran remaja menghadapi tiga persoalan besar yang dihadapi remaja tersebut, katanya.