SATU SEPEDA SEJUTA SAUDARA DIBUKTIKAN DI BANGKOK

Oleh Hasan Zainuddin

gue

ku mencoba sepeda tua di Bangkok
Tak terbayangkan bisa terbang ke Bangkok, ibukota negara Thailand, namun berkat hoby sepeda tua lalu berkumpul di komunitas sepeda antik Banjarmasin (Saban) dan tiap minggu rely di wilayah Banjarmasin.
Tadinya aku tak terlalu suka naik sepeda apalgi sepeda tua (onthel) tetapi setelah bertemu banyak kawan dikomunitas ini akhirnya ku membeli sepeda, dan ternyata bersepeda bukan saja berolahraga namun ternyata melahirkan banyak kawan.
Lantaran ikut komunitas tersebut akhirnya Saban melalui Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) yang berpusat di Jakarta mengundang anggota Saban bergabung dengan mereka untuk muhibah ke komuitas sepeda tua di Bangkok Thailand.
Ringkas cerita, akhirnya anggota Saban sebanyak enam orang berangkat ke Bangkok via Jakarta, rombongan Kosti yang berasal dari berebagai wilayah Indonesia sebelum terbang ke Bangkok berkumpul di terminal keberangkatan Internasional di Bandara Soekarno Hatta.
Dimpimpin oleh Aleks Setiawan kemudian rombongan terbang ke Bangkok dengan transir di Bandara Changi Internasional Singapura.
Setibanya di Bangkok dibantu oleh warga Bangkok berbangsa India, namun mahir berbhasa Melayu itu rombongan memperoleh sebuah penginapan sederhana, milik pengusaha India Muslim.
Sebelum ke Penginapan rombongan Kosti sekitar 50 orang sempat berkumpul dulu dengan rombongan Kosti lain yang berangkat secara berlainan penerbangan, kemudian pimpinan rombongan diambil alih oleh Fahmi Saimima, Yakni Sekjen Kosti yang terlebih dahulu terbang ke Kota Bangkok.
Rombongan muat dalam sebuah bus bertingkat yang dikemudikan oleh seorang warga Bangkok terurunan Bangsa Thai.
Uniknya bus ini dengan juru kemudi sang suami kemudian karnetnya seorang isteri, sehingga dua sejoli inilah yang membawa kemi ke mana-mana di Bangkok, dengan tujuan utama adalah lokasi komunitas sepeda tua di kota ibukota Thailand tersebut.
Sebelum bertemu dengan para komunitas rombonga diajak oleh Fami Saimima bertamasya ke berbagai lokasi termasuk ke objek wisata, atau pasar malam untuk yakni Asiatique The Riverfront.

gue1

Ku di pasar malam
Di sini rombongan selain makam malam juga sempat berbelanja berbagai oleh-oleh serta menikmati sungai Bangkok di waktu malam.
Di lokasi ini pula terlihat begitu ramai oleh wisatawan barat terutama yang berada di kafe-kafe yang berjejer di sepanjang jalan kawasan objek wisata malam ini.
Selain ke pasar malam rombongan keesok harinya dibawa pula ke Pasar Chatuchak yang terkenal di kota ini, karena luasnya yang belasan hektare dan apa saja ada dijual di lokasi ini, baik barang pecah belah, pakaian, elektornik, hingga ke alat pertanian dan tanaman seperti anggrek.
Berada di pasar yang paling besar di kota Bangkok ini rombongan sempat berbelanja, dan rombongan kesulitan berkomunikasi lantaran kebanyakan pedagang hanya pandai berbahasa setempat, sehingga seringkali transaksi berbahasa isyarat.
Harga-harga di lokasi inipun terbilang murah, lantaran kurs uang Thailand dibandingkan rupiah tidak terlalu mahal, yakni satu baht thai sama dengan rp400,-
Setelah puas berbelanja di pasar tersebut rombongan kemudian berwisaya ke berbagai tempat peribadatan orang Thailand yaitu kuil-kuil yang berada di tepian sungai Chao Phraya.

gue2

ku di tepian sungai Bangkok
Sore harinya berkunjung ke komunitas sepeda tua yang berada di kota ini disini rombongan kosti disambut oleh teman-teman di Thailand dengan aneka sepeda tua termasuk dua buah sepeda tertua yang ada di kota Bangkok.
Yakni dua sepeda dengan memiliki lingkarang ban yang besar di depan dan kecil di belakang,peserta dari Indonesia sempat menaiki sepeda tua tersebut.
Dilokasi tersebut rombongan disajikan makanan khas Indonesia yakni masakan Jawa serta enak kue-kue juga khas dai Indonesia yang konon oleh panitia di sana sengaja didatangkan orang Indonesia memasak makanan tersebut.

 

gue3bersama ary

Komunitas Sepeda Tua Jangan Disepelekan

Bersepeda tua bukan komunitas murahan, bukan komunitas orang pinggiran, tetapi komunitas yang memiliki jaringan kuat bukan saja di tanah air tetapi ke seluruh dunia.

Sebagai contoh para pecinta sepeda tua yang tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) memprogramkan lawatan ke komunitas pecinta sepeda tua yang ada di negara Rusia.

Program berangkat ke Rusia tersebut pada tahun 2017, kata Sekjen Kosti pusat Fahmi Saimima kepada Antara Kalsel, Selasa.

Menurut dia para pecinta sepeda Indonesia sudah berpengalaman memberangkatkan duta mereka ke berbagai belahan dunia, yang terakhir 28-30 November 2015 ke Bangkok negara Thailand dengan jumlah sekitar 50 orang.

Rombongan pecinta sepeda tua Indonesia ke Thailand tersebut dari berbagai daerah di tanah air, termasuk enam orang berasal dari Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebelum ke Thailand anggota Kosti ini sudah pula tiga kali ke negara Malaysia, tambahnya seraya menyebutkan bahwa keberadaan pecinta sepeda tua Indonesia tak bisa dipandang “sebelah mata,” lagi bagi pecinta sepeda tua dunia,lantaran komunitasnya terbesar di Indonesia.

Kosti juga sudah memberangkatkan anggotanya ke IVCA Congres & Rally 2015 di kota Solvesborg, Swedia.

“Sejak tahun 2012 di Gent Belgia, lalu di tahun 2013 di Republik Ceko, dan 2014 lalu di Hungaria kita selalu hadir mengibarkan sang saka Merah Putih.” katanya.

Kosti akan menggelar Kongres Sepeda Tua tahun 2018 di Ubud Provinsi Bali yang bakal dihadiri sedikitnya 35 negara, dan konferensi sepeda tua di Bandung

“MELINGAI” HARAPAN BARU BAGI PELESTARIAN SUNGAI

20150901melingaigambar

 

 

 

 

Oleh Hasan Zainuddin

 

“Sangat Elok,” demikian komantar Mdnoh Rahidin, wisatawan Malaysia ketika mengunjungi Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, belum lama.

Ketika ditanya apa yang membuat wisatawan “susur galur” (mencari juriat) tersebut terpesona terhadap kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa dengan luas hanya sekitar 92 kilometer persegi tersebut.

Ia mengaku melihat begitu banyak sungai yang melingkar-lingkar yang membelah kota paling selatan pulau terbesar di Indonesia itu.

“Tidak ada daerah lain memiliki sebanyak sungai seperti di Banjarmasin ini. Jika sungai-sungai ini lebih ditata, kota Banjarmasin akan mengalahkan kota wisata sungai Malaysia, Malaka,” kata wisatawan yang membawa empat saudaranya mencari keluarga yang terpisah, puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun tersebut.

Pernyataan wisatawan keturunan Suku Banjar yang sejak datuk (atok) berada di Malaysia tersebut, satu di antara pernyataan “kagum” dari puluhan, bahkan ratusan pengunjung ke kota berjuluk “kota seribu sungai” (City of Thousand Rivers) Banjarmasin ini atas keberadaan sungai-sungai di kota tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Kota (Bappeko) Banjarmasin Ir. Fajar Desira mengakui wilayah ini dialiri banyak sungai, baik sungai besar seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura maupun sungai kecil, ditambah anak-anak sungai dan kanal.

Hanya saja keberadaan sungai-sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat itu kini mulai rusak, tercemar gulma, tercemar sampah, pendangkalan yang hebat, bahkan penyembitan akibat perkembangan kota dan permukiman.

“Dahulu sungai di Banjarmasin jumlahnya mencapai 150 buah. Namun, hasil inventarisasi belakangan tinggal 102 buah. Sungai itu mati akibat pendangkalan dan berubah fungsi menjadi permukiman dan perkembangan kota lainnya,” kata perencana yang dikenal sebagai perancang Kota Banjarmasin tersebut.

Menurut dia, panjang sungai yang membelah dan mengaliri kota yang dikenal dengan wisata sungai “pasar terapung” tersebut mencapai 185.000 meter.

Melihat kenyataan tersebut, kata mantan Kepala Dinas PU Kota Banjarmasin itu, wajar jika arah pembangunan kota wisata sungai ini berorientasi bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi penggerak perekonomian masyarakat.

Selain itu, sungai dikembalikan fungsinya sebagai drainase, sebagai alat transportasi, dan sarana komunikasi, terutama sebagai sarana kepariwisataan pada masa mendatang.

Untuk menjurus sebagai kota wisata tersebut, sejak 10 tahun terakhir ini sudah banyak yang dilakukan pemerintah setempat, di antaranya pembangunan siring sebagai lokai “water front City” (kota bantaran sungai), ratusan miliar rupiah sudah dikeluarkan guna mewujudkan sarana tersebut.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) Banjarmasin Ir. Muryanta mengatakan bahwa kota ini tidak memiliki sumber daya alam, seperti hutan dan tambang, maka pilihan penggerak ekonomi masyarakat adalah sungai-sungai tersebut.

Oleh karena itu, dibangun siring sekitar 3 kilometer dari 5 kilometer yang direncanakan di lokasi tersebut akan tersedia fasilitas taman, tempat bermain, wisata kuliner, patung bekantan, pasar terapung, kedai terapung, menara pandang (pantau), dan pusat cendera mata.

“Siring yang sedang diselesaikan menjadi 5 kilometer itu, ada wisata kuliner di kampung ketupat, ada wisata cendera mata di kampung sasirangan, ada wisata ikan di tempat pelelangan ikan,” katanya.

Muryanta menjelaskan pembangunan siring tersebut memperoleh dukungan pemerintah provinsi dan pusat seperti dari Balai Sungai Kementerian PU.

Untuk mendukung wisata sungai tersebut, kini sudah dibangun sejumlah dermaga angkutan sungai, seperti kelotok (perahu bermotor), spead boat, dan sampan (jukung), untuk memudahkan perjalanan wisata susur sungai.

Bahkan, kata Muryanta, ratusan jembatan dibuat melengkung agar di bawahnya bisa dilalui oleh perahu-perahu wisata tersebut.

Ia menilai keinginan kuat pemerintah untuk mewujudkan Kota Banjarmnasin sebagai kota wisata itu akan terwujud jika adanya dukungan seluruh masyarakat, apalagi adanya keinginan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didukung Kementerian Pekerjaan Umum, yakni “Kemitraan Habitat,” untuk menjadikan kota ini bagaikan kota air yang terkenal, seperti di Venesia Italia.

Melingai

Untuk mewujudkan keinginan kuat pemerintah mewujudkan Kota Banjarmasin sebagai kota air, dengan segala persoalan tersebut di atas, maka diperlukan partisipasi yang nyata pula di tengah masyarakat. Pasalnya, jika keinginan tersebut tidak melibatkan masyarakat secara luas, keinginan tersebut tak bakalan tercapai.

Oleh karena itulah, sejumlah organisasi masyarakat yang berorientasi lingkungan mencoba berhimpun dalam satu wadah yang mengkhususkan diri terhadap pelestarian sungai yang disebut “Melingai”.

Dinamakan “Melingai” karena itu sebuah singkatan Masyarakat Peduli Sungai. Akan tetapi, arti harfiah dari melingai itu sendiri dalam bahasa lokal (Banjar) artinya membersihkan.

Pendirian organisasi masyarakat tersebut kumpulan dari banyak organisasi masyarakat, seperti Masyarakat Pencinta Pohon, Forum Komunitas Hijau, Pena Hijau, Sahabat Bekantan Indonesia, dan organisasi lainnya, termasuk Satuan Polisi Air (Sapol Air) Banjarmasin yang pada tanggal 19 Agustus 2015 mengadakan pertemuan pertama sekaligus pembentukan pengurus yang diketuai Ferry Husain, kemudian dibantu tiga wakil ketua serta bidang-bidang.

Setelah pembentukan organisasi tersebut, langsung membuka jejaring sosial atau melalui, seperti Facebook, Twitter, dan wibe site, untuk mengimpun sukarelawan yang ingin berpartisipasi dalam pelestarian sungai tersebut.

Ternyata organisasi ini memperoleh respons positif masyarakat sehingga banyak yang menyatakan bersedia bergabung menjadi sukarelawan, yang tugasnya nanti antaranya memberikan edukasi kepada masyarakat dengan menanam pohon penghijauan di pinggir sungai, pembersihan sampah di sungai, pelepasliaran bibit ikan, penghapusan budaya jamban, dan memberikan pengertian dampak negatif perumahan yang mengancam keberadaan sungai.

Tugas lainnya Melingai adalah memberikan pengertian begitu vitalnya daerah resapan air di Pegunungan Meratus yang selama ini menjadi “Tandon Air Tawar Raksasa” yang merupakan hulu dari sungai-sungai di Banjarmasin yang harus diselamatkan dan direhabilitasi.

Aksi lapangan pertama yang dilakukan puluhan anggota Melingai pada tanggal 30 Agustus, yakni melakukan pembersihan sungai dari tumpukan sampah yang mengapung di air, sampah yang berada di daratan kawasan Pasar Terapung kompleks wisata Siring Jalan Pire Tendean.

Berdasarkan pemantauan aksi tersebut ternyata memberikan dampak positif di lokasi yang selalu memperoleh ribuan pengunjung setiap hari libur tersebut karena lokasi tersebut menjadi bersih dari sampah.

“Biasanya di lokasi ini bertaburan sampah. Akan tetapi, setelah aksi Melingai, alhamdulillah lokasi sini menjadi bersih karena para pedagang dan pengunjung dengan merasa malu sendiri tak membuang sampah secara sembarangan setelah melihat aksi Melingai,” kata Ruslan, pengunjung.
Ruslan berharap pengelola lokasi siring itu untuk menempatkan lebih banyak bak-bak sampah penampungan agar masyarakat dan pedagang tidak susah mencari bak sampah. Apalagi, bak sampah yang ada sekarang ini tidak memadai jika dibandingkan dengan luasnya lokasi tersebut.

Menurut Ferry Husain, melihat respons positif tersebut maka aksi akan terus dijadwalkan secara berkala ke berbagai sasaran dengan melibatkan lebih banyak sukarelawan. Jadwal terdekat pada tanggal 27 September 2015, pusat tetap di Siring Tendean, tetapi untuk pembersihan sampah sungai dan tempat lain untuk penanaman penghijauan pinggir sungai dan pelepasliaran bibit ikan.

Ia berharap dengan kian banyak sukarelawan, kian banyak yang akan termotivasi melestarikan sungai sehingga ke depan kota ini benar-benar menjadi kota wisata, kota budaya, dan kota perdagangan yang berbasis sungai untuk memperkuat julukan “Kota dengan Seribu Sungai.”

 

 

SANG MAESTRO LAGU BANJAR ITU TELAH TIADA

Oleh Hasan Zainuddin

anang

“Kotabaru, gunungnya Ba’ mega, Ba’ mega, umbak manampur di sala karang Umbak, manampur di sala karang. Batamu lawanlah adinda, Adinda iman di dada, rasa malayang Iman di dada, rasa malayang,” demikian satu bait lagu Banjar berjudul Paris Barantai yang diciptakan sang maestro lagu Banjar, Haji Anang Ardiansyah.

Lagu Paris Barantai yang sudah menasional tersebut merupakan salah satu dari 103 lagu ciptaan seniman besar asal Provinsi Kalimantan Selatan itu yang melegenda. Semua ciptaan seniman ini hampir seluruhnya melegenda.

Ciptaan semacam itu tak mungkin ada lagi, karena seniman yang masa hidupnya juga berkarier di dunia militer tersebut, kini telah menghembuskan napas terakhirnya Jumat (7/8) pukul 01:10 WIB.

Jumat pagi, hampir semua status di media sosial Facebook yang diikuti warga Kota Banjarmasin memuat kalimat “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun” yang menyatakan berpulang ke rahmatullah untuk Anang Ardiansyah.

Dengan demikian, kematian maestro pecinta lagu Banjar yang lahir di Banjarmasin, 3 Mei 1938 itupun cepat menyebar, dan pernyataan turut berduka cita pun terus tertulis dari banyak status media sosial itu.

Meninggalnya penyanyi sekaligus pencipta lagu khas etnis yang banyak tinggal di wilayah Kalimantan bagian Selatan tersebut menimbulkan duka yang mendalam di banyak kalangan, sehingga kabar kematiannya begitu cepat menyebar.

Menurut Riswan Rifandi, putra almarhum, ayahnya menghembuskan napasnya di Rumah Sakit (RS) Suaka Insan di ruang ICU karena penyakit stroke.

“Ayah memang mengalami komplikasi,” ujarnya seraya menyebutkan bahwa almarhum ayahnya disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya di makam keluarga Guntung Lua, Banjarbaru.

“Kami sekeluarga memohon maaf dan keikhlasannya bagi seluruh lapisan masyarakat, jika dalam pergaulan beliau ada kekhilafan,” ucap Riswan yang mantan wartawan dan kini menjadi seorang pendidik tersebut.

Meninggalnya sang maestro ini cukup membuat kaget para pekerja seni di Kalsel, terbukti hampir semua seniman daerah dan pejabat daerah melayat ke rumah duka.

Salah satunya, Koordinator Karya Cipta Indonesia (KCI) wilayah Kalimantan Selatan Hesly Junianto yang menyatakan figur H Anang Adriansyah sebagai seniman daerah yang namanya sudah menasional, hingga kematiannya menjadi duka semua penggiat seni.

“Sebab beliau bisa kita katakan bapaknya seniman lagu Banjar, sebab karya ciptanya memang hampir tidak ada duanya, baik lirik maupun syairnya,” kata mantan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banjarmasin itu.

Pihaknya di KCI, kata Hesly, sudah mendaftarkan semua lagu ciptaan sang maestro ke daftar karya cipta Indonesia sebagai hak paten yang ada nilai royalti.

“Insya-Allah, pada Desember 2015, royalti ciptaan lagu H Anang sudah mulai keluar, bahkan ini berjalan hingga tujuh turunan warisnya,” tuturnya.

Sementara seorang seniman muda yang juga pencipta lagu Banjar Jimmy Huzain mengaku kehilangan seorang panutan setelah meninggalnya H Anang Ardiansyah.

“Beliau (Anang Ardiansyah) sebagai penginspirasi musik Banjar, saya pun mencipta lagu banyak belajar dari beliau, kita sangat kehilangan sosoknya,” ujar pencipta lagu dengan hits berjudul “Sungaiku” itu saat melayat ke rumah duka di Jalan Banjar Indah Permai, Komplek Mahoni, Banjarmasin.

Diakui Jimmy, panggilan akrabnya, dirinya bisa menelurkan sekitar 32 buah lagu yang terkumpul di tiga album belakangan ini terciptanya itu banyak terinspirasi dari lagu-lagu Anang Ardiansyah yang hampir semuanya hits dan melegenda.

“Kita akui, semua lagu pak Anang Ardiansyah baik lirik maupun syairnya tidak ada duanya, hingga wajar kalau melegenda,” ujarnya.

Dikatakan dia, lagu-lagu Anang Ardiansyah banyak bercerita tentang sejarah banjar dan khazanah kebudayaan masyarakatnya yang dirangkai dalam syair-syair yang luar biasa indah dan tertata diungkapkan dengan Bahasa Banjar yang fasih.

“Yang saya ingat pesan beliau, ciptalah lagu daerah dengan menggali khazanah budaya dan daerah ini atau tentang sejarah, sehingga lagu itu bisa dikenang dan didendangkan dari masa ke masa,” tuturnya.

Pesan itu, aku Jimmy, yang menjadi inspirasinya dalam menciptakan berbagai karya lagu berbahasa banjar saat ini, hingga sudah terkumpul 32 buah lagu dalam tiga album yang sudah dilempar ke pasaran.

“Saya terinspirasi juga bercita-cita seperti beliau bisa menciptakan ratusan buah lagu hits, yang hingga kini terus didendangkan, bahkan sudah menasional,” ujarnya.

Mencipta sejak SMA

Berdasarkan catatan Wikipedia, Anang Ardiansyah mulai mencipta lagu sejak SMA. Ketika itu ia merantau ke Malang, Jawa Timur pada tahun 1957 untuk belajar di SMA Islam Malang setelah menempuh SD dan SMP di Banjarmasin. Setahun kemudian Anang pindah ke Surabaya.

Di kota ini dia bergabung dengan Orkes Melayu Rindang Banua yang dipimpin dokter Sarkawi. Orkes ini merupakan kumpulan pemuda Kalimantan yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kalimantan.

Sebelum bergabung dalam band itu, ia meraih juara harapan seriosa Lomba Nyanyi Langgam di Malang. Di sinilah mereka belajar membuat lagu banjar.

Saat itu belum ada lagu Kalimantan (Kalsel) yang diciptakan dengan iringan musik band. Saat itu, Anang dan teman-teman band-nya mengawali debutnya dengan membuat lagu banjar dari gubahan lagu-lagu rakyat berupa pantun.

Setelah digubah, jadilah lagu-lagu banjar baru dan bisa diterima warga. Band-nya sering membawakannya saat diundang mengisi acara perkawinan. Begitu seringnya membawakan lagu banjar, Rindang Banua menjadi terkenal di Surabaya dan Banjarmasin.

Band ini terangkat namanya tahun 1959 saat lagu Paris Barantai masuk rekaman piringan hitam yang dikerjakan di Lokananta, Solo, Jawa Tengah.

Selain berkesenian, Anang juga memiliki karier panjang pada jajaran militer hingga berpangkat kolonel. Seniman Kalsel ini masuk TNI tahun 1962 setelah lulus Sekolah Calon Perwira (Secapa) di Banjarmasin pada 1961.

Selama hampir 30 tahun bergabung dengan TNI, Anang bertugas ke berbagai daerah, seperti Bandung, Cirebon, Surabaya, Makassar, dan Balikpapan. Terakhir dia bertugas di Banjarmasin.

Selama bertugas pun, dia terus membuat lagu banjar. Saat bertugas di Kalimantan Timur, Anang sempat menciptakan lagu untuk daerah setempat, seperti Balikpapan, Sarung Samarinda, Di Hunjuran Mahakam, Di Panajam Kita Badapat, dan Apo Kayan. Lagu-lagu itu direkamnya dalam kaset pada 1987 dengan judul Curiak.

Selesai di militer (dengan jabatan terakhir sebagai pemeriksa di Inspektorat Daerah Militer VI/Tanjungpura, Balikpapan), tahun 1992 Anang membentuk kelompok musik Tygaroon’s Group dan mendirikan Tygaroon’s Mini Studio. Dari studio itulah beberapa album lagu banjar dihasilkannya.

Kegiatan berkesenian mulai menurun ketika Anang terjun di dunia politik. Periode 1999-2004, ia menjabat Wakil Ketua DPRD Hulu Sungai Utara dan Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Golkar Kabupaten Hulu Sungai Utara hingga karier berkeseniannya pun menurun hingga akhirnya seniman senior itu pun tiada. Tinggal, lagu-lagunya yang akan menemani masyarakat.

BANJARMASIN DIJADIKAN WISATA DUNIA BAGAIKAN VENESIA

Oleh Hasan Zainuddin

pasar terapung

Bersantai di pinggir sungai Jalan Pire Tendean sambil menikmati jagung bakar menjadi pilihan sebagian warga untuk berekreasi di daerah yang berjuluk “kota seribu sungai”, Banjarmasin.

Sementara warga lainnya, memilih menikmati masakan atau kuliner khas Suku Banjar, soto banjar di warung Abang Amat atau soto bawah jembatan banua hanyar sambil menikmati musik panting jenis musik tradisional setempat.

Tidak sedikit pula warga justru memilih berziarah di makam Habib Basirih atau mengunjungi masjid tertua, Masjid Sultan Suriansyah, sebagai objek wisata keagamaannya, yang juga merupakan bagian dari wisata sungai di kota tua tersebut.

Para pendatang bahkan dari mancanegara lebih banyak memilih bercengkrama di Pasar Terapung Sungai Barito atau ke Pasar terapung Lokbaintan serta pasar Terapung buatan di depan Siring Pire Tendean.

Bagi wisatawan yang suka dengan binatang kota ini juga menyediaan objek wisata air, yaitu ke Pulau Kembang, tempat ratusan bahkan mungkin ribuan ekor kera abu-abu berekor panjang yang terbilang jinak dan bersahabat dengan wisatawan.

Wisatawan juga bisa menyaksikan bekantan (Nasalis larvatus) atau hidung panjang yang ada di Pulau Kaget, tidak jauh dari kota yang telah bertekad menjadikan keberadaan air sebagai modal utama membangun kepariwisataan itu.

Susur sungai menggunakan kelotok (perahu bermesin) atau spead boat juga sering kali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota seraya menyaksikan aktivitas warga, seperti mandi, cuci, dan bersikat gigi di atas lanting.

Ada juga di antara mereka yang melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang relatif banyak mereka temui di pesisir sungai, seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kota Banjarmasin, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, dinilai memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kota mana pun di dunia ini karena kota yang hanya 92 kilometer persegi ini dibelah oleh sedikitnya 102 sungai.

Melihat kenyataan tersebut maka oleh pemkot dan pemprov setempat bertekad menjadikan kota ini kota wisata air. Bahkan, pemerintah Kementerian Pekerjaan Umum relatif banyak mengeluarkan dana untuk menciptakan wilayah ini menjadi wisata air berkelas dunia.

Untuk mewujudkan hal itu, kata Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin Fajar Desira, Kemen-PU dan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) membentuk sebuah tim yang diturunkan ke Banjarmasin.

Tim terdiri atas beberapa orang itu sudah tiga kali meninjau dua lokasi di Banjarmasin, yakni Sungai Kelayan dan Sungai Kerokan, Jalan Jafri Zamzam, untuk diubah menjadi lokasi wisata sungai melalui program yang dinamaman Kemitraan Habitat.

Tim itu juga sudah beberapa kali melakukan kordinasi dan pertemuan dengan berbagai pihak di Banjarmasin, terakhir awal Agustus 2015.

Menurut Fajar, Banjarmasin harus bersyukur terpilih menjadi lokasi program Kemitraan Habitat tersebut karena wilayah ini dinilai unik. Kota lain yang juga menjadi pilihan, yakni Kota Malang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat) karena kedua kota tersebut juga dinilai memiliki krasteristik kota yang unik.

Mengingat Banjarmasin memiliki banyak sungai, kota ini akan diciptakan benar-benar menjadi sebuah kota sungai di Indonesia. Dengan demikian, akan jelas arah pembangunan kota ini sehingga semua harus berkomitmen membangun kota ini menjadi kota pariwisata sungai.

Sungai, kata Fajar, bukan saja sebagai lokasi drainase dan sumber air minum, melainkan juga sebagai transportasi, komunikasi, dan sebagai objek perekonomian masyarakat, khususnya pariwisata.

Dalam upaya menciptakan program Kemitraan Habitat teresebut, pemerintah akan mengajak banyak kalangan, termasuk pengusaha, aktivis lingkungan, LSM, dan banyak organisasi lain yang berkomitmen menjadikan kota ini sebagai ikon kota sungai di Tanah Air.

Apalagi, pembangunan Kota Banjarmasin dalam sepuluh terakhir ini sudah banyak mengarah untuk mewujujdkan kota sungai tersebut, seperti pembangunan siring, fasilitas wisata sungai, termasuk pembuatan pasar terapung yang mulai mengubah wajah kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa ini menjadi kota pariwisata tersebut.

Program Kemitraan Habitat tersebut memfasilitasi penyelenggaraan permukiman dan perkotaan yang sedang dilaksanakan oleh masyarakat, termasuk dunia usaha mendorong terjadinya percepatan pembangunan dan pengembangan permukiman dan perkotaan di Indonesia yang lebih layak huni dan berkelanjutan.

Secara terpisah Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta mengatakan bahwa pemkot setempat telah menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota. Oleh karena itu, kami akan terus benahi sungai,” katanya.

Menurut Muryanta, wilayah kota minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil. Sungai besar, seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim, jelas tidak mungkin. Oleh karena itu, potensi yang ada saja untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Ia mencontohkan dua kota yang terbilang maju menjadikan sungai sebagai daya pikat ekonomi, seperti Denpasar atau Yogyakarta.

Begitu pula, kota lain di luar negeri, seperti Bangkok, Hong Kong, atau Venesia Italia, bahkan sekarang Malaysia mulai ikut-ikut membenahi sungai sebagai daya pihak ekonomi tersebut.
Melihat kenyataan itu, wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat.

Untuk menjadikan wisata sungai, menurut dia, sudah miliar rupiah dana untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di Jalan Sudirman dan Jalan Pire Tendean yang telah terbukti memberikan keindahan kota. Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Untuk siring, akan dibangun sepanjang 10 kilometer. Akan tetapi, sekarang sudah terbangun sekitar 5 kilometer. Lokasi siring akan dijadikan aneka wisata, seperti wisatra kuliner, pusat cendera mata, permainan sungai, pasar terapung, dan restoran terapung.

Di siring pula, sekarang sedang dibangun sarana olahraga, sarana bermain sepeda, dan sedang dibangun monumen (patung) maskot Kalsel, bekantan atau kera hidung panjang (Nasalis larvatus), diharapkan menjadi ikon kota bagaikan patung singa di Singapura.

Dengan semua upaya tersebut, ke depan Banjarmasin sudah bisa menjadi objek wisata dunia bagaikan Venesia, Italia.

ERATKAN SILATURAHMI FSKB BATITI KE JAMBI, RIAU, DAN KEPRI

Oleh Hasan Zainuddin
tungkal
Orang Banjar sejak dulu dikenal sebagai suku perantau atau madam, tujuan yang terbanyak adalah ke pesisir Timur Pulau Sumatare seperti di Tungkal Kabupaten Sambung jabung Provinsi Jambi, Tembilahan Indragiri Hilir Provinsi Riau, serta di Kepulauan Riau (Kepri) bahkan ke Singapura dan Malaysia.
Madamnya orang Banjar ke Pesisir Sumatera ini terjadi akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, seperti ke Kuala Tungkal Jambi dan ke Bumi Sri Gemiliang Tembilahan.
Sehingga etnis Banjar yang tinggal di Sumatera , Singapura, dan Malaysia kebanyakan adalah anak, cucu, intah, piat dari para migran etnis Banjar yang berada di kedua wilayah ini, atau hingga generasi kelima dan keenam.
Migrasi orang Banjar madam dilandasi berbagai motif, seperti politik dimana terjadi perang saudara sesama Banjar serta tekanan tentara penjajah Belanda pada abad ke-19.
Belakangan migrasi orang Banjar lantaran motif ekonomi dan agama.
Motif ekonomi baiknya usaha perdagangan di wilayah tersebut, serta terhampar lahan pasang surut yang luas yang bisa digarap untuk perkebunan kelapa dan persawahan padang surut.
Orang Banjar dan suku Bugis lah ternyata etnis yang punya keahlian dalam menggarap lahan seperti pasang surut ini, sementara suku lain tang ada yang pandai menggarap lahan itu.
Motif agama muncul belakangan orang yang Madam ke daerah itu setelah adanya pengajian ulama besar yang juga mufti kerajaan Indragiri, yakni Syech Abdurahman Sidiq Al Banjari.
Dimana banyak orang Banjar madam berasal dari berbagai wilayah di Kalimantan untuk menuntut ilmu agama atau berguru dengan ulama yang berada di Kampung Hidayah Sapat yang berasal dari Dalam Pagar Martapura ini.
Banyak para datuk-datuk Banjar yang madam sebelum ke dua negeri di Sumatera ini terlebih dahulu ke Batu Pahat Malaysia kemudian menyerang ke pesisir Sumatera.
Mereka membuka hutan rawa pasang surut di Kuala Tungkal dan Tembilahan secara turun menurun dan penduduknya pun terus berkembang biak.
Etnis Banjar Kuala Tungkal ini kemudian menyebar di berbagai penjuru di provinsi Jambi termasuk di Kota Jambinya sendiri, bahkan ke berbagai wilayah Sumatera.
Sementara di Tembilahan etnis Banjar kemudian menyebar ke seluruh Provinsi Riau dan Kepulauan Riau termasuk ke Singapura dan Malaysia.
Tak heran jika sekitar 800 ribu penduduk Indragiri Hilir 40 persen adalah etnis Banjar dan mendominasi dalam sisi bahasa, hingga orang Melayu, Minang, Bugis, bahkan etnis Tionghoa di wilayah nyiur melambai ini pandai berbahasa Banjar.
Bukan saja sisi bahasa, sisis agama juga mendominasi. Etnis Banjar di wilayah ini terkenal sebagai seoarang ulama, dai, guru gaji, bilal, khotif,pengasuh pesantren, hingga kaum (penjaga) masjid .
Tak heran baik di Kota Jambi, Kuala Tungkal, Tembilahan,Pekanbaru, Kota Batam, orang Banjar identik dengan ke ulama-annya.
Sebagai etnis dengan jiwa pedagang Banjar terkenal sebagai usahawan berhasil bidang jual-beli kebutuihan pokok di pasar-pasar, pedagang kain, pedagang emas dan berlian, bahkan perdagangan antar pulau.
Bahkan belakangan lantaran etnis Banjar sudah berpikiran maju dan banyak keturunan etnis Banjar yang terus sekolah hingga mampu menduduki posisi penting di pemerintahan maupun di partai politik hingga mendoiminasi poisisi di DPRD di beberapa wilayah peisisir ini.
Jalinan silaturhami antara suku banjar di pesisir Timur Sumatera dengan yang di Banua (Kalsel) terus berlanjut, baik kegiatan keagamaan dan perdagangan, hingga saling mengunjungi satu sama lain.
Untuk melihat perkembangan tersebutlah Forum Silatuhami Kulaan Banjar (FSKB) yang berada di Banjarmasin melakukan perjalanan untuk “batamuan” wan kula-kula atau Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) mulai dari Kota Jambi, terus ke Kuala Tungkal, Tembilahan dan Kota Batam Kepulauan Riau. ***Hasan Zainuddin***

abu

tungkal2

tembilahantembilahan1

batambatam1

KOMPLEKS MAKAM SYEKH ABDURRAHMAN SIDDIQ PERLU PERHATIAN

sapat

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/4 (Antara)- Kompleks pemakaman ulama besar Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad ‘Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari, yang berada di Kampung Hidayah, Sapat, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau perlu perhatian.
“Kami rombongan dari Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pekan lalu mengunjungi kompleks makam ulama keturunan Suku Banjar tersebut, kondisinya memprihatinkan,” kata Ketua Forum Silatuhami Kulaan Banjar (FSKB) Mohammad Ary di Banjarmasin, Jumat.
Menurut Mohammad Ary, kompleks yang menjadi objek wisata religi tersebut terlihat sederhana, tidak menggambarkan di lokasi tersebut bermakam seorang ulama besar mufti kerajaan Indragiri dan menyebar ilmu agama Islam di wilayah tersebut.
Sebagai contoh saja, dermaga yang dibuat sederhana, kemudian jalan menuju makam sekitar dua kilometer terbuat jalannya kecil rusak.
Kemudian masjid yang dekat makam sekarang kondisinya sedang direhabilitasi tetapi terkesan terbengkalai, karena menurut panitia masjid pembangunan masjid tersebut kekurangan dana.
“Kalau melihat pembangunan masjid tersebut paling selesai 50 persen, dan masih memerlukan perhatian untuk menyelesaikan 50 persennya,” kata Mohammad Ary bersama 14 orang rombongan yang tergabung dalam Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Kota Banjarmasin, Kalsel.
Mohammad Ary mengajak semua pihak, baik pemerintah Indragiri Hilir dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, dan masyarakat yang berada di dua wilayah tersebut mengulurkan tangannya untuk memperbaiki kompleks pemakaman yang berada di tengah pemukiman Suku Banjar perantauan tersebut, khususnya penyelasaian masjid tesebut.
Selain itu, kata Mohammad Ary ada rencana juriat atau keturunan ulama yang sering disebut sebagai “Wali Sapat,” untuk membangun pesantren di sekitar makam, dan perlu pembebasan lahan untuk pembangunan pesantren tersebut, tentu pula memerlukan dana yang membutuhkan perhatian semua pihak.
Pembangunan pesantren tersebut untuk mengembalikan kawasan tersebut sebagai lokasi kompleks pengajian agam Islam yang pernah dibangun oleh almarhum Syekh Abdurahmmad Siddiq selagi masih hidup di kawasan tersebut.
Berdasarkan ketarangan lokasi tersebut dulu dibangun kompleks pengajian oleh ulama tersebut dan santrinya bukan saja dari pulau Sumatera dan tak sedikit yang menimba ilmu berasal dari tanah Banjar Kalimantan Selatan, sehingga banyak murid-murid ulama ini yang berada di Kalimantan Selatan.
Syekh Abdurahmmad Siddiq dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan, nama lahirnya sebenarnya hanyalah Abdurrahman.
Nama “Siddiq” ia dapat dari seorang gurunya saat ia belajar di Mekkah. Ia merupakan cicit dari ulama ternama etnis Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Saat baru berusia tiga bulan, ibunda Abdurrahman Siddiq meninggal dunia, dan tak sempat mendapat asuahan sang ibunda, kemudian dirawat kakek dan neneknya. Sang kakek merupakan seorang ulama bernama Mufti H Muhammad Arsyad.
Namun baru diusia setahun, sang kakek meninggal, maka Abdurrahman Siddiq pun tumbuh dewasa hanya bersama neneknya, Ummu Salamah.
Sang nenek merupakan muslimah yang taat beribadah dan faqih beragama. Ia mendidik syekh dengan kecintaan pada Alquran. Beranjak dewasa, nenek mengirim syekh pada guru-guru agama di kampung halamannya. Ketika dewasa, Syakh makin giat menuntut ilmu agama.
Ia melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, ia masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahiran Islam, Makkah pada tahun 1887.
Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Saudi. Tak hanya di Makkah, ia pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah.
Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.
Ia diangkat oleh Sultan Mahmud Shah (Raja Muda) sebagai Mufti Kerajaan Indragiri 1919-1939 berkedudukan di Rengat dan mengabdikan diri di Kerajaan Indragiri.

selamat datang

kolam

Kolam atau tempat wudhu yang dibuat Syekh Abdurahman Siddiq selagi hidup

masjid

masjid yang belum selesai

KEMILAU “RED BORNEO” MAGNET KUNJUNGAN WISATAWAN KE MARTAPURA

Oleh Hasan Zainuddin

red borneo

Banjarmasin,17/3 () – Setiap sudut di Pasar Batuah Kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terlihat orang bergerombol, setelah didekati ternyata ada saja pedagang batu cincin emperan yang memperoleh perhatian pembeli.

“Ini asli Red Borneo pak, tuh ada urat-urat batu yang menyerupai burung, dan tembus pandang lagi,” kata seorang wanita setengah baya yang menggelar dagangannya di kaki lima di pusat keramaian kota yang berjuluk “kota Intan,” Martapura tersebut.

Gerombolan pembeli bukan saja terlihat di kaki lima, tetapi juga terlihat dietalasi pedagang batu cincin kecil-kecilan yang banyak digelar pinggir jalan kota “Serambi Mekkah” ini.

Bahkan di pusat pertokoan permata Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura pun begitu ramainya pengunjung membeli batu permata, khususnya Red Borneo.

Pembeli bukan saja masyarakat Kalsel, tetapi didengar dari bahasanya kebanyakan dari luar Kalsel, Sulawesi, Pulau Jawa, dan Sumatera, bahkan dari Malaysia.

Memang berdasarkan keterangan kunjungan wisatawan khususnya wisatawan nusantara meningkat drastis ke Kota Martapura, setelah munculnya batu cincin “Red Borneo” (merah Kalimantan) sejak empat bulan terakhir ini.

“Sekarang banyak sekali kunjungan wisatawan, khususnya pemburu batu Red Borneo dari berbagai wilayah nusantara,” kata Alfian pemilik toko batu-batu cincin, di lokasi pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura, Senin.

Alfian menuturkan, dengan banyaknya berdatangan pemburu batu Red Borneo maka perajin hampir kewalahan mengolah batu cincin tersebut, sebab para pendatang itu bukan saja membeli untuk pribadi tetapi tak sedikit yang membeli secara borongan untuk diperdagangkan lagi di daerah asal mereka.

Mereka juga bukan saja membeli batu sudah jadi tetapi tak sedikit pula yang membeli bongkahan bebatuan Red Borneo dengan sistem per kilogram, kata Alfian didampingi pedagang lainnya Kaspul Anwar.

Menurut Alfian setelah ditemukannya Red Borneo oleh seorang penduduk di Desa Kiram atau Gunung Pematun, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, maka jenis batu permata tersebut kian terkenal saja.

Apalagi setelah kontes keindahan batu cincin Red Borneo mengalahkan batu Bacan dari Ternate, ditambah Presiden Jokowi yang konon juga memakai jenis batu cincin ini, maka membuat jenis batu yang bewarna merah tersebut kian diburu pencinta dan pengoleksi batu permata.

Dampaknya, kata mereka, Kota Martapura kian diserbu, buktinya hampir semua penginapan di kota yang berjuluk “serambi Mekkah,” ini selalu penuh oleh wisatawan, bahkan setiap even kegiatan masyarakat baik yang ada di Banjarmasin, Banjarbaru, Palangkaraya, Kuala Kapuas, maka paket kunjungan selalu Ke Martapura.

Disebutkan, Red Borneo yang banyak dicari adalah yang bewarna merah polos, tetapi yang jenis kristal atau yang tembus pandang harganya bisa capai Rp35 juta, sementara yang jenis super hanya ratusan ribu hingga sejuta rupiah per biji.

Sedangkan yang Red Borneo biasa artinya bewarna-warna itu hanya sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per biji, kata Alfian.

Dengan maraknya pemburuan Red Borneo menyebabkan banyak warga Kota Martapura yang kini beralih profesi, jika dulu profesi kemasan, pengolah kayu pokah, buruh bangunan, sopir angkot, beralih jadi pengolah Red Borneo.

Pengolah batu bisa dilihat di Deka Pekauman, Kampung Melayu, Kramat, Kraton, Dalam Pagar dan desa-desa lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banjar Abdul Gani Fauzie membenaran peningkatan kunjungan wisatawan.

Ia mengatakan, meningkatnya kunjungan ke Martapura dapat dilihat dari aktivitas di pertokoan CBS yang setiap hari dipenuhi pengunjung.

Kenaikan pengunjung mencapai 100 persen lebih bahkan keramaian di pusat penjualan batu pertama itu, tidak hanya pada hari libur seperti Sabtu dan Minggu.

“Biasanya pertokoan CBS Martapura hanya ramai pada hari libur Sabtu dan Minggu, tetapi sejak awal tahun setiap hari selalu ramai pengunjung yang jumlahnya ratusan orang,” ucapnya.

Menurut dia, pengunjung yang datang bukan hanya peminat maupun kolektor batu, tetapi juga masyarakat awam yang ingin mengetahui bentuk dan keunikan Red Borneo.

“Mereka umumnya melihat-lihat seperti apa batu Red Borneo. Jika tertarik warna dan keunikannya maka bisa ikut membeli baik untuk dipakai maupun dijadikan koleksi,” ujarnya.

Ditambahkan, “booming” batu Red Borneo diperkirakan bertahan lama karena batu berbeda dengan koleksi lain seperti tumbuhan maupun hewan peliharaan lainnya.

“Batu itu semakin lama disimpan semakin bagus karena selain memiliki nilai seni, juga diyakini sebagian orang bertuah sehingga cukup banyak yang mengoleksinya,” kata dia.

Kota berlian

Berdasarkan ketarangann dulu wisatawan datang ke kota “para ulama” ini kebanyakan berburu berlian, menginat daerah ini merupakan penghasil berlian, namun belakangan setelah ditemukan Red Borneo di areal pertambangan nikel dan biji besi di Desa Kiram ini maka banyak yang beruru Red Borneo.

Kota Martapura memangs ejak lama dikenal sebagai pusatnya batu mulia sehingga banyak pendatang ke kota ini hanya untuk berburu batu mulia tersebut.

Bukan hanya berlian dan Red Borneo yang dicari pendatang ke Martapura, tetapi juga aneka permata lain, seperti zamrud, yakut, merah delima, dan aneka batu permata lainnya.

Martapura bukan saja dikenal sebagai produsen batu permata tetapi juga kota ini dikenal sebagai pusat kerajinan batu permata, terdapat ratusan perajin yang menyebar lokasinya di kota ini.

“Banyak pedagang batu permata dari berbagai negara lain, seperti dari India, Birma, Thailand, Singapura, Afrika Selatan, Malaysia, bahkan dari negara Eropa datang ke Martapura membawa bahan mentah atau bahan baku batu permata,¿ kata Muksin seorang pemilik toko permata di CBS menambahkan.

Bahan baku batu permata tersebut dijual oleh pendatang dari negtara lain itu ke perajin setempat, kemudian oleh perajin setempat diolah menjadi batu cincin, batu giwang, liontin, dan jenis batu permata lainnya.

Kemudian oleh perajin hasil olahan tersebut dijual kepada para pedagang di kota ini, makanya batu permata apa saja tersedia di CBS Martapura ini, kata Muksin lagi.

Para pedagang batu permata yang menjual bahan baku tersebut keumudian uangnya dibelikan lagi berbagai jenis olahan batu permata Martapura termasuk berlian yang kemudian dijual kembali oleh mereka ke negara asal.

Pengakuan para pedagang luar daerah, Martapura sudah memiliki nama besar di kalangan pedagang permata, kalau permata di jual di daerah lain, harganya bisa turun, tetapi kalau dijual di Kota Martapura harganya bisa meningkat.

Oleh karena itu banyak kalangan pedagang permata yang selalu ingin bertransaksi di kota ini, karena banyak pemburu permata berkeliaran di kota kecil tersebut.

Akibat dari semua itu maka kawasan pertokoan CBS Martapura benar-benar menjadi magnet uang, karena setiap hari miliyaran rupiah uang beredar di kawasan ini.

Berdasarkan catatan, batu-batuan yang menjadi perhiasan yang dijual di wilayah ini antara lain akik, biduri bulan, topas, merah siam, merah daging, merah delima, cempaka, berlian, anggur, giok, intan, kuarsa, kecubung, mutiara, mata kucing, pirus, safir, yakut, zamrud, ruby,opal, spinel, bloodstone, tashmarine, quattro, dan alexandrite.

Batu permata lain yang juga terdapat di sini tetapi belum ada nama Indonesia seperti, chrysoberyl, chrysocolla, chrysoprase, hematite, jasper, kunszite, lapis lazuli, malachite, obsidian, olivine atau peridot, pyrite, tanzanite, tourmaline.

Untuk lebih mempopulerkan Red Borneo dan menambah magnet Kota Martapura maka bupati setempat Sultan Khaerul Saleh mewajibkan seluruh pejabat lingkungan pemkab setempat memakai cincin dengan batu batu mulia khas yang juga dikenal dengan nama ruby Kalimantan (natural rhodonite). ***3***

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya