BERANGAN-ANGAN, INAN/PANGGUNG DESA WISATA

dessaku

desaku

desaku1

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,25/3-2017 ()- Meniti jalan setapak dari satu hutan ke hutan lain, kemudian menelusuri sungai, naik jembatan gantung, melewati padang sawah, kentemu aneka pepohonan besar, dan diiringi bunyi burung elang, burung curiak, sesekali terdengar bunyi lutung (hirangan), ramainya bunyi katatangir, dan aneka bunyi lainnya yang membentuk “orkestra alam.”
“Sangat menyenangkan, membuat hati ini rasanya tenang sekali, kita terbiasa di kota yang bising, masuk desa rasanya hati ini damai, kapan lagi kita bang ke desa abang Desa Panggung atau Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan,” kata Nunuk Febriani anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin yang pertengahan Maret 2017 bertandang ke desa Panggung/Inan.
Lain lagi cerita, pak Mugeni seorang pensiunan berusia 76 tahun juga asal Kota Banjarmasin saat bertandang ke desa yang berdekatan dengan lereng Pegunungan Meratus ini, ia merasakan berada di desa jauh damai rasanya dibandingkan kota yang hiruk pikuk.
Bahkan saat berada di desa ini ia mencoba mandi di sebuah sungai, namanya sungai Pangkaranin, sekitar 500 meter dari jalan raya agak masuk ke dalam, di sungai ini ia ingin mandi berlama-lama, dan ia memisahkan diri dengan kawanan lainnya dan menyendiri.
Ternyata ia mandi di sungai yang airnya jernih tetapi warna agak ke cocacola-an itu telanjang bulat dan berendam berlama-lama di sungai itu tanpa sehelai kain pun menutup tubuhnya.
Ketika ditanya mengapa sampian telanjang apakah tak takut di gigit ular ia mengaku sama sekali tak takut diganggu binatang di sungai itu, bahkan menurutnya ia benar-benar menikmati.
Dalam pikirannya ia mencoba menjadi nenek moyang tempoe dulu tanpa ada pakaian lalu mandi di sungai yang masih alamiah seperti itu apa rasanya, lalu ia mencoba merasakan sejuk air, bagaimana rasanya resapan air alam langsung ke badan tanpa ada kain penghalang,  merasakan ditempuh arus air, seraya mendengarkan bunyi gemericik  air, bunyi semilir angin yang menerpa pepohonan, lalu ia mencoba menikmati bunyi binatang kecil di sungai itu dengan seksama, lalu buni burung di atas beterbangan, sekali bunyi kera.
“Eh ternyata dunia ini nikmat sekali, eh damai sekali, nikmat apa yang kau dustakan, asal kita benar-benar bisa menikmatinya,” kata orang tua mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin yang getol menggalakan dunia wisata di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.
Lain lagi cerita Mohammad Ary seorang aktivis lingkungan dan petinggi di Perguruan Tinggi Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) ini, sehari berada di kampung ini rasanya tak cukup seharusnya berminggu-minggu, tuturnya, karena melalui matanya telinganya , dan perasanaan ia cermati satu per satu di desa itu.
“Kalau melihat potensi alam, lahan yang subur, mustahil orang desa ini miskin, karena saya lihat tanaman cabai saja begitu suburnya, apalagi tanaman lain, kalau ada lahan satu hektare saja, sudah cukup kaya untuk menjalani kehidupan di desa ini, asal warga desa tidak malas bekerja menggarap lahan.
Ia mebcoba mencermati satu persatu pohon dan tanaman, semunya potensi ekonomi tinggi, banyak pohon gaharu, banyak pohon buah, dan sebagainya.
“Lihat ini ada pohon besar kusi mungkin usianya 300 tahun lebih, ini sangat bernilai sebagai warisan alam, ini kalau dipublikasikan tentu akan menarik orang datang ke desa ini, ini harus dipelihara sebagai lokasi penelitian, pendidikan, dan wisata,” kata Kepala Bagian Kerjasama Luar Negeri Unlam ini.
Sebagian orang yang pernah berkunjung ke desa ini selalu ingin mengulangi lagi kunjungannya, karena bisa menikmati suasana kampung dengan sambutan warga yang ramah, bisa merasakan bagaimana bercengkrama di “warung” dalam budaya mewarung, bisa menikmati ikut maaruah ( selamatan), sholat berjemaah di surau, atau ikut ke padang karet untuk nyadap lateks karet di kebun.
Banyak pilihan untuk merasa kehidupan yang sesungguhnya di desa ini, ada pemandian yang disebut “kolam jakatarub” ada beberapa pohon besar dengan diameter dua meter, ada sungai mengalir deras yakni sungai pitab dengan aneka kehidupannya seperti bisa menikmati mencari kijing (kerang sungai), mencari ketuyung (siput sungai), mencari daun paku (pakis) yang banyak dipantai sungai, atau bahkan mencari buah-buah hutan yang tak mungkin bisa ditemukan di perkotaan.
Bahkan beberapa kru televisi nasional, sepeti program si bolang, petualangan, makanan asal, di dol dan lainnya sudah beberapa kali melakukan liputan di desa ini, para kru televisi nasional yang datang dari Jakarta ini, meliput bagaimana memperoleh madu kelulut, atau bagaimana mencari ikan dengan cara membumbun, menantai, atau bagalau.
Lalu ada juga liputan mencari kulat karikit, kulat patiti, kulat lamak baung, kemudian mencari kijing dan sebagainya dan sudah puluhan kali liputan televisi nasional tertutama Trans7 .
Melihat potensi tersebut maka aku penulis sebagai seorang asal desa ini berkeinginan menciptakan desa ini sebagai desa wisata, tentu desa ini lebih dibenahi dan harus memperoleh dukungan semua pihak, siapa tahu desa ini kian maju dan warganya kian sejahtera.
Untuk menciptakan desa wisata desaku, yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin,.atau sekitar tujuh kilometer dari Paringin ibukota Kabupaten Balangan,  tentu akses telepon dan internet harus mudah, kamudian akses jalan ke desa nyaman dan dari desa ke lokasi-lokasi yang menjadi perhatian pengunjung harus ada jalan yang mudah.
Umpamanya saja, di desa ini yang sudah dikenal, adalah lebah kalulut maka harus ada peternakan lebah kelulut ini dan alhamdulillah sudah dilakukan warga.
Lalu di desa ini ada beberapa pohon besar yang sebenarnya sangat diminati wisata makanya jalan ke arah pohon besar ini juga harus mudah, pohon besar tercatat Pohon Kusi, Pohon durian Lahung, pohon Binjai Wanyi, dan Pohon Tandui.

Lalu ada sungai-sungai kecil sebagai lokasi pemandian, ada petualangan ke gunung.
Di kampung ini masih ada kera besar yang disebut Bekantan (Nasalis larvatus), di sini ada tupai besar panjang hampir satu meter yang disebut kerawak atau tengkarawak, ada pula binatang kuung sejenis tokek tetapi sangat besar seperti kura-kura namun bisa terbang dari pohon ke pohon, di sini banyak kaluang atau kalong atau  kelalawar besar, ada pula kancil, trenggiling, dan adapula binatang Sikak bentuk persis  tupai tetapi agak hitam tak bisa naik pohon hanya di tanah.
Tanaman selain aneka anggrek dan buah-buahan juga ada banyak tanaman obat, dulu disebut telunjuk langit, ada pelungsur ular, bahkan ada tanaman beracun kecubung, jelatang, kerangka hirang, penyambung jawa, dan ratusan lain spicies tanaman langka.
Yang paling menarik di desa ini adanya danau tabat basar, dengan danau tabat besar ini jika gulma sungai atau kayapu di lokasi itu dibersihkan tentu sungainya lebih luas, lalu di lokasi ini mudah dijangkau dengan jalan darat, dibuatkan lapangan parkir kendaraan, lapangan pertunjukan jika ada pertunjukan, lalu dibuatkan rakit bambu, adan jukung atau sampan, biar siapa naik rakit atau jukung bisa membayar untuk kas desa, buatkan lokasi untuk foto selfie berbentuk amur atau tanda cinta, sehingga siapa berfoto di lokasi ini maka akan tahu itu berada di tabat basar.
Apalagi jika di dekat ini dibuatkan rumah pohon, atau rumah yang dibangun dari empat pohon  naik ke rumah pakai tangga dan dari rumah bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Tak usah besar yang penting di rumah ini bisa duduk dan bisa memfoto alam sekelilingnya.
Masyarakat sini sudah punya atraksi, seperti orkes dangdut, baanalan (pantul), ada jua ondel-ondel ala balangan, ada bambarungan, ada kuda gepang dan sebagainya sebagai atraksi wisata.
Sementara kuliner tentu di sini unik ada mandai, ada kulat kerikit, ada pucuk paku, kalakai, daun telunjuk langit, makanan keringnya ada rimpi pisang, ada rimpi tiwadak, keripik dan lainnya. Tinggal bagaimana membuat kerajinan tangan sebagai barang cendramata.
Jika semua ini diangan-angan kan ,  tentu adanya dukungan pemerintah dan masyarakat maka desa Panggung/Inan ini akan terwujud sebagai desa wisata.

sungaiku sungaiku1

pondok pondok1

jembatan gantung jembatan gantung1

santai pohon besar

watangan watangan1

anak hairudin lampau

Aruhan

aruh aruhan

aruhan1 aruhan2

lalapan

usung anggrek

durian panjang  butah6

buah-buahan

kasturi mundar
kepayang manggis

langsat lua

gambis

binatang

Bekantan dan Tengkarawak

bekantan tangkarawak

kulat

kulat kulat1

baulah gula habang

gula habang

mandian

danau anihing  mandian

mandian1

Kuliner

waluh mandai

Gangan walut

waluitmandai1

Rimpi tiwadak

rimpi tiwadak

petualang

sepeda

BUDAYA PEMBUATAN KAPUR SIRIH PULAU SUGARA

 

1

kapur

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,- Kapur Sirih yang sering digunakan untuk berbagai keperluan tadinya dikira berasal dari batu kapur seperti kapur untuk mengecat pagar atau sejenisnya.
Tetapi setelah penulis bersama kawan-kawan dari Komunitas Sepeda Antik (Saban) Banjarmasin touring ke daerah Pulau Sugara Jelapat Berangas ketemu dengan perajin kapus sirih ini.
Ternyata kapur sirih bukan dari batu kapur melainkan berasal dari kulit kerang jenis kapah yang setelah diproses sedemikian rupa akhirnya menjadi kapur sirih yang sangat putih bersih.
Seorang perajin menuturkan,pembuatan kapus sirih di Pulau Sugara yang berada di Kabupaten Barito Kuala atau berdekatan dengan Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan ini sudah ada sejak zaman belanda.
Bahkan waktu dulu tahun 70-an jumlah perajin kapur sirih mungkin puluhan lokasi, tetapi sekarang tinggal dua lokasi saja lagi, lantaran perajin beralih profesi ke pembuatan sampan, industri anyaman dan industri kayu.
Yang unik dari proses pembuatan kapur sirih inilah saat kulit kerang kapah dimasukan ke kaleng atau belik, setelah diisi air atau banyu ternyata airnya menjadi panas mencapai 100 derajat silsius padahal tidak ditaruh di atas tungku api.
Dengan air yang terus mendidih maka kulit kerang tadi secara pelan-pelan menjadi hancur kemudian membentuk gumpalan-gumpalan kecil, lalu oleh perajin kumpalan kecil itu didinginkan.
Setelah itu lagi dicampur lagi dengan air lalu diaduk-aduk terus menerus sampai gumpalan kecil tadi menjadi halus, lama kelamaan akhirnya menjadi kapus sirih yang halus dan lembut dan siap dipasarkan.
Setiap belek ukuran 20 liter dijual dengan harga rp65 ribu per blek yang langsung diambil oleh pedagang pengumpul untuk dijual lagi ke berbagai wilayah di Kalsel, Kaltim, Kalteng, bahkan konon sampai ke Pulau Jawa.

Tujuh wanita perajin industri kapur sirih di Pulau Sugara saat ditemui Antara Kalsel di lokasi industri, Sabtu menuturkan, industri ini tetap bertahan karena masih banyaknya permintaan.

Permintaan bukan saja warga Barito Kuala dan Kota Banjarmasin tapi juga banyak permintaan dari daerah lain, dari Kotabaru, Kuala Kapuas, Palangkaraya Kalimantan Tengah, bahkan dari Pulau Jawa.

“Bahkan kami pernah memperoleh permintaan memproduksi seribu blek (satu blek =25 kg) per bulan, permintaan dari sebuah perusahaan perkebunan tersebut tak bisa dipenuhi,” kata Jumiati seorang dari perajin tersebut.

Mereka menyatakan hanya sanggup sekitar 500 blek per bulan, itupun jika mereka memperoleh bantuan modal dari pemerintah dan bahan baku yang berupa kulit kerang kapah mencukupi.

Menurut mereka, industri kapur sirih Pulau Sugara ini mungkin satu-satunya industri kecil yang memproduksi kapur sirih yang masih bertahan di wilayah Barito Kuala dan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pulau Sugara sebenarnya walau masuk Kabupaten Barito Kuala tetapi mereka mengakui sebagai warga Kota Banjarmasin, lantaran desa mereka hanya berbatas sebuah sungai kecil dengan pinggiran Kota Banjarmasin.

Menurut mereka di desa mereka terdaoat empat keluarga yang memproduksi kapur sirih secara turun temurun sejak ratusan tahun silam, dari empat keluarga itulah produksi kapus sirih yang beredar secara luas di pasaran.

Ketika ditanya soal bahan baku, disebutkan sekarang ini tak masalah, karena didatangkan dari berbagai daerah seperti dari Kuala Pembuang atau Kumai Kalimantan Tengah dengan harga Rp1 juta per ton.

Dari bahan baku satu ton bila diolah menjadi kapur bisa berjumlah dari satu ton, karena sifatnya bahan baku itu setelah diproses menjadi kapur sirih maka bisa mengembang, kata Jumiati.

Mereka berharap, perajin yang tinggal sedikit ini supaya memperoleh bantuan modal dari pemerintah, sebab jika mereka gulung tikar maka masyarakat akan kesulitan memperoleh bahan kapur sirih di pasaran.

Kapur sirih selama ini banyak digunakan untuk bahan makan sirih, penjernih air, campuran pembuat kue,  bahan aneka obat tradisional, industri kosmetika, dan aneka kegunaan lainnya.

 

Sementara hasil sebuah liputan media lain menceritakan bahwa
kapur sirih banyak dimanfaatkan sejak dahulu hingga kini, terutama dalam pengobatan herbal. Zaman dulu, kapur sirih sering digunakan dengan daun sirih dan dicampir buah pinang oleh orangtua untuk nyirih.

Saat ini, kapur sirih yang berwarna putih dan berbentuk serbuk ini lebih banyak digunakan untuk bahan baku obat herbal dan produk kecantikan. Ternyata, komoditas ini terbuat dari kulit kerang yang dibakar dan kemudian ditumbuk halus. Hingga saat ini, kapur sirih banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Salah satu tempat pembuatan kapur sirih terletak di Pulau Sugara, Kalimantan Selatan. Banyak warga di sana yang memproduksi kapur sirih sebagai mata pencarian sehari-hari. Pulau Sugara merupakan pulau kecil yang dikelilingi Sungai Barito dan Sungai Martapura. Tempat ini masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Barito Kuala, dekat dengan Kota Banjarmasin.

Letak lokasi ini hanya 20 menit dari Pasar Terapung Muara Kuin. Saat KONTAN mendatangi sentra produksi kapur sirih ini, terlihat banyak warga sibuk mengaduk adonan kapur sirih dalam ember-ember besar. Pekerja yang mengaduk justru didominasi para wanita. Ada juga yang sibuk menjemur kulit kerang dan membakar kulit kerang.
Di Pulau Segara ini, ada lebih dari 11 pengusaha pembuat kapur sirih yang sudah menjalankan usaha ini selama puluhan tahun. Bulkini Azis (30 tahun) misalnya. Dia adalah generasi ketiga yang membuat kapur sirih yang meneruskan usaha orangtuanya.

Bulkini panggilan akrabnya, tidak tahu persis kapan awalnya Pulau Segara sampai bisa menjadi sentra pembuatan kapur sirih. “Yang jelas sejak saya kecil, saya sudah terbiasa melihat orang buat kapur. Malah hingga sekarang Pulau Segara menjadi satu-satunya tempat di Kalimantan yang masih bertahan membuat kapur sirih,” katanya.

Bulkini bercerita, permintaan kapur sirih masih besar hingga kini. Bukan hanya dari Banjarmasin tapi juga sampai ke Kapuas, Palangkaraya, Samarinda, bahkan hingga ke Sulawesi dan Pulau Jawa.

Bulkini dibantu oleh empat orang karyawan membuat kapur sirih dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 15.00 WIB. Dia bisa menghasilkan tiga sampai empat ember besar kapur sirih per hari. Satu ember beratnya sekitar 25 kg. Harga jual satu ember kapur sirih sebesar Rp 65.000.

Adonan-adonan kapur dalam ember nantinya dikumpulkan hingga mencapai minimal 300 kg, setelah itu baru dijual. Setiap dua minggu sekali, pemasok kapur sirih datang dari Banjarmasin membeli kapur-kapur sirih dari tempat ini. Bulkini bisa menghasilkan omzet hingga Rp 15 juta tiap dua minggu dari penjualan kapur sirih ini.

Suryani Isah (46 tahun), juga meneruskan usaha orangtuanya. Dia bilang, tidak jarang wisatawan datang ke Pulau Sugara sekadar untuk melihat tradisi pembuatan kapur sirih yang sudah berusia sekitar setengah abad ini.
Suryani dan ketiga karyawannya bisa menghasilkan 50 kg−70 kg adonan kapur sirih per hari. Dalam sebulan Suryani bisa menghasilkan omzet Rp 20 juta.

Tradisi nyirih merupakan warisan budaya nenek moyang Indonesia sejak dulu kala. Bagi warga Pulau Sugara, Kalimantan Selatan, nyirih merupakan simbol dari tradisi masyarakat Melayu. Bahkan, di zaman modern sekarang ini pun beberapa suku di Kalimantan seperti suku Banjar dan suku Dayak masih mempertahankan tradisi ini.

Sadikin dan istrinya Jumyati, pembuat kapur sirih di sentra ini bercerita, awalnya para generasi terdahulu membuat kapur sirih hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Barito saja. Kemudian berkembang hingga ke Samarinda, sebab Suku Dayak suka menyirih dan menggunakan sirih sebagai ritual-ritual adat. Hingga di tahun 1980-an, baru kapur sirih mulai terkenal sampai seantero Kalimantan bahkan sekarang sudah dikirim sampai ke Jawa dan Sulawesi.

Sadikin bisa menghasilkan enam ember besar kapur sirih per hari. Penumbukan kerang didominasi kaum wanita, sebab para pria sibuk bertugas mencari kerang. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Sadikin dan beberapa pembuat kapur sirih lain biasanya mendatangkan bahan baku kulit kerang dari Aluh Aluh, Kuala Pembuang Satu, atau Kotawaringin, Kalimantan Tengah.

Bulkini Azis, produsen kapur sirih lainnya mengaku tidak kesulitan mencari pasokan bahan baku kerang, meski di Sungai Barito sulit mencari kulit kerang yang sesuai kriteria. Sebab kerang yang digunakan bukan kerang yang biasa dikonsumsi yang berwarna hijau.

Melainkan kerang yang berada di pasir atau dasar perairan dekat laut.
Meski aliran Sungai Barito di Pulau Sugara hampir menuju lautan, namun cangkang kerang tidak begitu keras. “Kerang paling bagus kualitasnya dari Kotawaringin dan sekitaran Pangkalan Bun karena cangkangnya tebal dan ukurannya besar,” kata Bulkini.

Dalam sebulan Bulkini bisa membutuhkan satu ton cangkang kerang untuk produksi. Pemasok mengirim kerang dengan karung-karung melalui jalur sungai. Biasanya untuk kerang dari Pangkalan Bun di antar ke Aluh Aluh. Setelah itu Bulikini membawa ke Pulau Segara.

Bulkini membeli satu ton cangkang kerang seharga Rp 1 juta-Rp 1,2 juta.
Para pembuat kapur sirih nantinya menjual produknya secara kolektif. Hal ini disebabkan para pengepul dari Banjarmasin hanya mau membeli kapur minimal 500 kg sekali datang. Sedangkan, beberapa pembuat kapur hanya bisa memproduksi 30 kg sampai 50 kg per hari.

Aneka manfaat Kapur Sirih

33 Manfaat Kapur Sirih untuk Kulit – Wajah – Kesehatan
Sponsors Link

Kandungan Kapur sirih

Dalam sebuah tulisan di internet menyebutkan manfaat kapur sirih sudah banyak diminati oleh orang tua dahulu ternyata berkhasiat. Kandungan yang dimilikinya seperti kadinen, sineol, karvakol, kavinol, dan zat samak yang baik untuk kesehatan. Maka tak ada salahnya menggunakan kapir sirih untuk mengatasi masalah kulit dan pencernaan.

Perlu anda ketahui, kandungan yang ada di kapur sirih tersebut cukup panas jika diberikan di sekitar area wajah. Jadi disarankan untuk yang memiliki wajah sensitif tidak mencoba mengoleskan ke permukaan wajahnya. Sedangkan untuk kulit normal, tidak disarankan memakai setiap hari secara terus menerus.

Manfaat kapur sirih ternyata banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, berikut ini diantaranya :

1. Mengurangi bau

Bau badan menjadi masalah yang cukup mengganggu untuk aktivitas remaja. Kepercayaan diri bahkan juga menurun ketika menyadari bahwa wangi tubuh anda sudah hilang. Berikut adalah solusi untuk mengurangi bau badan :

Potong jeruk nipis menjadi dua
Lapisi permukaan jeruk dengan sirih
Oleskan pada ketiak anda sehabis mandi
Biarkan meresap selama 5 menit
Cuci bersih bagian ketiak anda
2. Memutihkan paha

Manfaat kapur sirih ternyata juga sangat baik untuk mencerahkan kulit. Apalagi di daerah pangkal paha. Memang kebanyakan wanita memiliki kulit bersih, mulus, dan putih disekitar lengan dan lutut. Namun di daerah pangkal paha? Belum tentu.

Caranya adalah :

Kapur sirih yang sudah direndam, ditambahkan dengan jeruk nipis
Oleskan secara merata pada bagian pangkal paha dan selangkangan
Gunakan sesering mungkin, dianjurkan dipakai setelah mandi
3. Mengurangi resiko kerutan setelah melahirkan

Waktu hamil tentu membuat anda terlihat semakin lebih berisi. Sebab dalam perut anda ada nyawa kecil yang harus dilindungi. Ketika melahirkan, tentu meninggalkan bekas kerutan atau stretch mark. Untuk menghilangkannya dapat melalui ramuan sirih, yakni :

Campurlah sirih sebanyak satu sendok dengan minyak kayu putih setengah sendok
Aduk rata sampai semua benar-benar tercampur
Tambahkan jeruk nipis
Oleskan pada bagian perut setiap selesai mandi
4. Mengecilkan kutil dan tahi lalat

Kutil dan tahi lalat mampu menurunkan tingkat rasa percaya diri anda. Apalagi jika keberadaanya berada di sekitar wajah. Selain membuat risih mata memandang, kadang kutil dan tahi lalat ini juga bisa membesar. Oleh karena itu, lebih baik anda segera membuangnya. Paling tidak mengempeskanya. Caranya :

Cukup dengan satu sendok sirih, campurkan detergen
Aduk campuran tersebut hingga benar-benar tercampur
Oleskan dengan cotton buds pada kutil atau tahi lalat
Tunggulah sampai 20 menit
Bilas dengan air hangatagar mengelupas
Untuk kutil, tutuplah dengan kasa pada bagian kutil tersebut. Gantilah selama 2 hari sekali. Perhatikan apakah sudah mengecil.
5. Mencerahkan ketiak

Ketiak yang sering di cukur bulunya, lama-lama menjadi menghitam. Sebab kulit pada bagian yang melindungi ketiak mengelupas pelan-pelan secara paksa oleh alat cukur. Hal ini membuat kebingungan remaja putri yang merasa risih dengan bulu ketiaknya. Namun ia juga tak mau memiliki ketiak kusam. Solusinya gunakanlah manfaat kapur sirih untuk ketiak. Caranya :

Tuangkan satu sendok kapur sirih dengan satu sendok perasan lemon
Campurkan dengan penambahan air. Aduk sampai rata
Bersihkan ketiak anda dahulu (disarankan setelah mandi)
Oles pada bagian ketiak anda
Tunggu selama 20 menit
Bersihkan dengan air hangat dan sabun hingga benar-benar bersih
Gunakan 3 kali selama seminggu
6. Mengurangi bulu ketiak

Selain mampu mencerahkan, sirih juga mampu mengurangi atau merontokan bulu ketiak. Hal ini sering di praktekan oleh wanita Indonesia jaman dahulu. Cara dan ramuannya sama dengan yang mencerahkan ketiak.

7. Menyembuhkan sakit tenggorokan

Sakit batuk serta gatal pada tenggorokan adalah indikasi bahwa anda sudah terserang penyakit. Meski bukan penyakit parah, namun hal ini mengganggu aktivitas anda. Solusinya dengan membuat ramuan kapur sirih. Caranya :

Peraslah air jeruk nipis dalam sendok
Campurkan dengan sedikit kapur sirih
Diminum langsung
Anda juga bisa menggunakan ramuan ini :

Peras air jerusk dalam satu sendok makan
Campurkan dengan setengah sendok madu dan garam
Aduk hingga benar-benar tercampur. Lalu di saring
Minum secara rutin 2-3 kali sehari
8. Mengurangi resiko kanker

Banyak orang berasumsi bahwa kapur sirih juga mampu menghilangkan atau menyembuhkan kanker kulit. Meski belum terbukti secara klinis, tapi orang tua jaman dahulu sudah mempercayainya. Ramuanya adalah :

Tuangkan satu sendok sirih dalam wadah
Campurkan dengan deterjen
Oleskan pada kulit yang terdapat kanker
Perhatikan, lama-lama kanker akan mengurang
Ingat, hal ini belum teruji secara klinis. Jadi disarankan anda membaca banyak referensi dan mengikuti saran dokter sebelum mengaplikasikan ramuan ini.

Top Untuk Kanker

Dalam dunia pengobatan, kapur sirih banyak dimanfaatkan sejak dahulu hingga kini, terutama dalam pengobatan herbal. Zaman dulu, kapur sirih sering digunakan dengan daun pinang oleh orangtua untuk nyirih.

Kapur sirih yang berwarna putih dan berbentuk serbuk ini lebih banyak digunakan untuk bahan baku obat herbal dan produk kecantikan. Ternyata, komoditas ini bukan terbuat dari batu kapur, tapi terbuat dari kulit kerang besar dan tebal yang berada di pasir pantai, bukan kerang hijau yang biasa dikonsumsi atau dari batu koral. Proses pembuatannya dengan kulit kerang yang dibakar dan kemudian ditumbuk halus. Hingga saat ini, kapur sirih banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Ternyata ada 11 manfaat tak terduga kapur sirih untuk kehidupan sehari-hari sebagai berikut :

1. Menghaluskan kulit dari flex hitam – Bagi Anda yang ingin meghaluskan kulit dengan cara yang alami, Anda bisa mencoba menggunakan bubuk kapur sirih ini. Ada beberapa keunggulan yang bisa Anda nikmati dengan menggunakan kapur sirih. Diantaranya adalah harganya yang lebih murah dan lebih alami. Kapur sirih bisa Anda manfaatkan untuk menyamarkan flek hitam pada kulit Anda. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan kulit yang sehat, Anda bisa campurkan air kapur sirih tersebut dengan perasan jeruk nipis. Cara penggunaannya mudah, oleskan cairan tersebut pada bagian yang Anda inginkan. Barulah setelah sekitar 10 menit, basuh dengan air sampai bersih.

2. Mengurangi bau ketiak – Bau badan menjadi masalah yang cukup mengganggu untuk aktivitas remaja. Kepercayaan diri bahkan juga menurun ketika menyadari bahwa wangi tubuh anda sudah hilang. Berikut adalah solusi untuk mengurangi bau badan :

Potong jeruk nipis menjadi dua
Lapisi permukaan jeruk dengan sirih
Oleskan pada ketiak anda sehabis mandi
Biarkan meresap selama 5 menit
Cuci bersih bagian ketiak anda
3. Memutihkan paha – Manfaat kapur sirih ternyata juga sangat baik untuk mencerahkan kulit. Apalagi di daerah pangkal paha. Memang kebanyakan wanita memiliki kulit bersih, mulus, dan putih disekitar lengan dan lutut. Namun di daerah pangkal paha? Belum tentu.

Caranya adalah :

Kapur sirih yang sudah direndam, ditambahkan dengan jeruk nipis
Oleskan secara merata pada bagian pangkal paha dan selangkangan
Gunakan sesering mungkin, dianjurkan dipakai setelah mandi
4. Mengurangi resiko kerutan setelah melahirkan – Waktu hamil tentu membuat anda terlihat semakin lebih berisi. Sebab dalam perut anda ada nyawa kecil yang harus dilindungi. Ketika melahirkan, tentu meninggalkan bekas kerutan atau stretch mark. Untuk menghilangkannya dapat melalui ramuan sirih, yakni :

Campurlah sirih sebanyak satu sendok dengan minyak kayu putih setengah sendok
Aduk rata sampai semua benar-benar tercampur
Tambahkan jeruk nipis
Oleskan pada bagian perut setiap selesai mandi
5. Mengecilkan kutil dan tahi lalat – Kutil dan tahi lalat mampu menurunkan tingkat rasa percaya diri anda. Apalagi jika keberadaanya berada di sekitar wajah. Selain membuat risih mata memandang, kadang kutil dan tahi lalat ini juga bisa membesar. Oleh karena itu, lebih baik anda segera membuangnya. Paling tidak mengempeskanya. Caranya :

Cukup dengan satu sendok sirih, campurkan detergen
Aduk campuran tersebut hingga benar-benar tercampur
Oleskan dengan cotton buds pada kutil atau tahi lalat
Tunggulah sampai 20 menit
Bilas dengan air hangatagar mengelupas
Untuk kutil, tutuplah dengan kasa pada bagian kutil tersebut. Gantilah selama 2 hari sekali. Perhatikan apakah sudah mengecil.
6. Mencerahkan ketiak – Ketiak yang sering di cukur bulunya, lama-lama menjadi menghitam. Sebab kulit pada bagian yang melindungi ketiak mengelupas pelan-pelan secara paksa oleh alat cukur. Hal ini membuat kebingungan remaja putri yang merasa risih dengan bulu ketiaknya. Namun ia juga tak mau memiliki ketiak kusam. Solusinya gunakanlah manfaat kapur sirih untuk ketiak. Caranya :

Tuangkan satu sendok kapur sirih dengan satu sendok perasan lemon
Campurkan dengan penambahan air. Aduk sampai rata
Bersihkan ketiak anda dahulu (disarankan setelah mandi)
Oles pada bagian ketiak anda
Tunggu selama 20 menit
Bersihkan dengan air hangat dan sabun hingga benar-benar bersih
Gunakan 3 kali selama seminggu
7. Mengurangi bulu ketiak – Selain mampu mencerahkan, sirih juga mampu mengurangi atau merontokan bulu ketiak. Hal ini sering di praktekan oleh wanita Indonesia jaman dahulu. Cara dan ramuannya sama dengan yang mencerahkan ketiak.

8. Menyembuhkan sakit tenggorokan – Sakit batuk serta gatal pada tenggorokan adalah indikasi bahwa anda sudah terserang penyakit. Meski bukan penyakit parah, namun hal ini mengganggu aktivitas anda. Solusinya dengan membuat ramuan kapur sirih. Caranya :

Peraslah air jeruk nipis dalam sendok
Campurkan dengan sedikit kapur sirih
Diminum langsung
Anda juga bisa menggunakan ramuan ini :

Peras air jerusk dalam satu sendok makan
Campurkan dengan setengah sendok madu dan garam
Aduk hingga benar-benar tercampur. Lalu di saring
Minum secara rutin 2-3 kali sehari
9. Mengobati penyakit encok – Cara membuatnya – Ambil daun ubi kayu atau daun singkong kemudian dicampur dengan kapur sirih secukupnya kemudian diremas hingga hancur. Taburi ramuan tersebut di area yang terkena encok dan rematik.

10. Membantu untuk hal-hal darurat – Kapur sirih juga dapat mengeluarkan semut dari dalam telinga dengan cara mengoleskan kapur sirih pada bagian belakang telinga. Efek panas yang di keluarkan oleh kapur sirih dapat mengeluarkan semut dari lubang telinga anda.

11. Sebagai obat sakit perut untuk anak-anak – Ketika anak-anak kita sakit perut, segeralah menggunakan daun sirsak yang telah bercampur kapur sirih, kemudian di oleskan pada perut anak yang sakit.

Selain bisa digunakan untuk merawat kulit tubuh dan juga bisa megatasi bau ketiak, bubuk kapur sirih ini biasanya juga bisa digunakan untuk mengolah makanan supaya mendapatkan hasil tekstur makanan yang keras. Misalnya saat Anda membuat manisan buah, rendam manisan tersebut ke dalam rendaman kapur sirih untuk mendapatkan tekstur yang lebih keras. Nah, itu tadi adalah informasi singkat dari kami, selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

2

3

4

5

 

 

HERFETOFAUNA INDONESIA TERANCAM PUNAH SEBELUM DIIDENTIFIKASI

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,22/3 (Antara)- Meski Indonesia mempunyai spesies katak nomor satu di Asia dan nomor dua di dunia setelah brazil, tapi sangat disayangkan 10 persen spesies katak kita terancam kepunahan.
Hal tersebut dikatakan Zainudin yang juga dikenal sebagai peneliti muda dari Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin di sela-sela kegiatan inventarisasi katak di Jawa Barat bersama Prof Satyabhama Das Biju ahli katak dunia, demikian rilis yang disampaikan ke penulis, Rabu (22/3-2017).
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia, termasuk dari jenis amfibi. Setidaknya saat ini terdapat 436 jenis amfibi di Indonesia yang telah berhasil di Identifikasi dan 178 jenis diantaranya dapat dijumpai di Kalimantan bahkan 73 persen endemik.
Hampir 30 persen amfibi Indonesia digolongkan IUCN Redlist dalam status data deficient atau belum bisa diidentifikasi secara lengkap menurut para ahli herpetofauna IPB.
Kurangnya data baik biologis maupun ekologis mempersulit kegiatan konservasi guna menyelamatkan spesies terancam.
“Diperlukan banyak data baik biologis maupun ekologis untuk menunjang keberhasilan konservasi spesies nasional tersebut, sedangkan penelitian atau bahkan peneliti untuk hal tersebut masih dapat dikatakan sedikit”
Selain amfibia, Pulau Kalimantan juga memiliki keragaman reptil yang luar biasa. Bahkan Kalimantan dikenal sebagai surganya para herpetologist di dunia. Buaya senyulong (Tomistoma schegelli), tuntong laut (Callagur borneoensis), dan Biawak tanpa telinga (Lanthanatus borneensis) adalah merupakan reptilia yang paling diminati pemerhati hepertofauna dunia ini juga termasuk dalam daftar yang terancam punah.
Sementara itu Prof. Biju terus memberikan dorongan kepada para peneliti muda yang mengikuti Workshopnya tanggal 12 – 18 Maret lalu, dengan tema Amphibian Field Ecology & Taxonomy di Research Center for Climate Change – Universitas Indonesia Depok – Jawa Barat.
“Indonesia mempunyai banyak spesies herfetofauna, terutama amfibi, hal ini hendaknya menjadi peluang besar bagi peneliti di Indonesia sekaligus menjadi tugas besar bagi para peneliti, tidak ada yang tidak mungkin untuk menemukan spesies baru dan mempublikasikannya ”, ucap Prof. Satyabhama Das Biju.
Perubahan iklim, hilangnya habitat dan perburuan merupakan merupakan momok yang mendorong terjadinya kepunahan masal bahkan menjadi 100 kali lebih cepat, sementara informasi mengenai objek-objek yang dikonservasi tersebut minim.
“inilah yang dapat menyebabkan, spesies tersebut punah sebelum dipelajari atau bahkan ditemukan. Untuk itu perlu adanya upaya perlindungan bagi spesies-spesies hepertofauna yang ada, terlebih yang belum teridentifikasi dan terisolasi “, jelas Zainudin yang juga dikenal sebagai peneliti muda dari Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.

1

2

3

keterangan Gambar: (atas) Buaya Senyulong adalah buaya karismatik khas kalimantan yang terancam kepunahan akibat perburuan dan hilangnya habitat.
(bawah) katak adalah indikator penting bagi perubahan lindungan, hilangnya katak dilingkungan mengindikasikan penurunan kualistas lindungan

“MELINGAI” IKUT LOMBA ANGKAT LUMPUR SELAMATKAN AIR

https://wordpress.com/stats/day/hasanzainuddin.wordpress.com

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,22/3 (Antara)- “Kami tak terlalu berharap adanya jembatan layang, kami tidak terlalu butuh hotel mewah dan mal atau pusat perbelanjaan yang gemerlapan. Yang kami butuhkan justru sungai yang baik dengan persediaan air bersih yang cukup, karena itulah pembangunan untuk kehidupan,” kata sekelompok pemuda sebagai peserta lomba angkat lumpur.
“Buat apa bangunan fisik mewah kalau air bersih tidak ada, karena hal itu sama saja dengan bunuh diri, makanya kami bertekad menyelamatkan persediaan air di muka bumi ini,” kata kelompok pemuda dari komunitas Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang jadi peserta, saat diwawancarai beberapa kru televisi dari TVRI, Antaranews TV, dan BanjarTV usai lomba angkat lumpur yang dibuka Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina tersebut.
Dalam lomba angkat lumpur yang diselanggarakan Balai Wilayah Sungai Kalimantan II bekerjasama dengan Pemkot Banjarmasin, Korem 101 Antasari, dan Kodam Mulawarman tersebut diikuiti 400 peserta dibagi dalam 40 kelompok, salah satunya adalah peserta dari Melingai Banjarmasin tersebut.
Lomba yang berlangsung di Sungai Teluk Dalam Kota Banjarmasin tersebut dalam kaitan Hari Air Sedunia ke-25 yang jatuh pada tanggal 22 Maret 2017 hari Rabu ini. Tampak kemeriahan dan semangat dari para peserta yang terdiri dari kalangan berbagai komunitas, kelompok pecinta lingkungan, masyarakat cinta sungai, regu pemadam kebakaran, pelajar, mahasiswa, dan kelompok masyarakat lainnya.
Semangat dari pecinta lingkungan “Melingai” tersebut agaknya berasalasan karena Banjarmasin yang dikenal sebagai “kota seribu sungai” tersebut kini kondisi sungainya sudah memprihatinkan, dari 150 sungai yang ada sebelumnya, kini tinggal 102 sungai, karena selebihnya sudah mati lantaran sidementasi, terkena pengembangangan perkotaan, gulma, dan smpah rumah tangga dan limbah.
Kandungan bakteri koliform di sungai Banjarmasin yang berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah sangat memprihatinkan, lantaran mencapai belasan ribu PPM, idealnya kandungan bakteri tersebut di air sungai hanya 250 PPM saja.
Itu lantaran air sungai tercemar berat tinja manusia setelah penanganan sanitasi di kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu tidak tertangani dengan baik, sementara Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah (PD Pal) hanya mampu merekrut lima persen pelanggan dari jumlah penduduk keseluruhan.
Rusaknya sungai di Banjarmasin juga ditandai dengan intrusi air laut yang begitu jauh ke hulu sungai yang menandakan areal resapan air atau kesmen area di Pegunungan Meratus sudah rusak akibat penebangan kayu secara liar dan penambangan, akhirnya debet air berkurang sehingga tekanan ke hilir melemah dan tekanan air laut ke hulu sungai kian menguat.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, sudah seringkali mengeluarkan keluhan menyusul kian menyusutnya persediaan air baku untuk diolah menjadi air bersih di perusahaan tersebut.
“Dalam sejarah tak pernah air laut intrusi jauh ke hulu di Sungai Martapura yang selama ini menjadi sumber bahan baku air PDAM kami, sekarang sudah sampai ke Sungai Tabuk, padahal Sungai Tabuk adalah lokasi terbesar pengambilan air baku perusahaan kami,” kata Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih.
Kerisauan akan minimnya persediaan air tersebut terus mengemuka di kalangan masyarakat, karena berdasarkan catatan jumlah air tawar di dunia ini hanya tiga persen dibandingkan air laut, dan dari tiga persen air tawar tersebut hanya tiga persen saja yang bisa dimanfaatkan untuk air minum, yakni air permukaan seperti air sungai itu.
Oleh karena itu, jika air permukaan yang berada di aliran sungai tersebut rusak maka air bersih akan menjadi rebutan, dan dikhawatirkan air bersih akan lebih mahal ketimbang dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan dikhawatirkan pula kedepan peperangan antarnegara atau bangsa boleh jadi karena merebutkan persediaan air bersih ini saja.
Makanya, oleh pecinta lingkungan seperti “Melingai” ini keinginan mempertahankan persediaan air sungai sebagai air minum itu lebih penting dari segala-galanya, karena kehidupan apapun di dunia ini pasti ada ketergantungan dengan persoalan air ini.
“Melingai” yang dibentuk oleh kalangan pecinta lingkungan di kota sungai ini, tadinya hanya beberapa orang saja, namun sekarang semakin banyak yang terlibat dalam kelompok ini yang selalu melakukan kegiatan atau aksi lingkungan setiap hari Sabtu atau Minggu.
Kegiatannya antara lain membersihkan sampah yang mengapung di sungai, membersihkan selokan dan drainase, serta penanaman pohon penghijauan di bantaran sungai, membersihkan gulma sungai, tak kurang dari 7000 pohon sudah ditanam, termasuk memperindah sungai-sungai kecil dengan tanaman teratai.
Dengan komitmen demikianlah maka “Melingai” pun tak ingin ketertinggalan dalam lomba angkat lumpur yang tujuannya selain merehabilitasi sungai sekaligus sebagai kegiatan edukasi kepada masyarakat untuk sama-sama memelihara sungai.

Air dan Air Limbah

Pada peringatan hari air se-dunia kali ini bertema “air dan air limbah” yang keinginannya mengajak semua pihak mempertahankan ketersediaan air dan pengelolaan air limbah secara baik sebagai investasi kehidupan ke depan.
Berdasarkan catatan, salah satu dari 17 target Sustainable Development Goals (SDG 20130) memastikan akses air bersih dan sanitasi untuk semua. Sekarang ini kelangkaan air berdampak pada 40 persen orang di seluruh dunia, lebih dari 663 juta orang hidup tanpa pasokan air bersih dekat dengan rumahnya.
Angka itu diperkirakan kian mengkhawatirkan seiring kian bertambahnya penduduk bumi ini, tahun 2050 penduduk bumi ditaksir sembilan miliar orang. Diperkirakan pula satu di antara empat orang akan terdampak oleh kekurangan air.
Indonesia banyak tantangan penyediaan air baku untuk air bersih dan pengelolaan air limbah, cakupan pelayanan baru sekitar 70 persen maka diperlukan daya dukung air baku yang besar.
Pelayanan air minum jaringan perpipaan masih 20 persen itupun sebagian besar berada di perkotaan. Kondisi ini disebabkan insfrastruktur yang ada belum dimanfaatkan secara optimal dan kurang maksimalnya pemasangan pipa distribusi dan sambungan rumah.
Kondisi diperparah adanya pencemaran air, pengelolaan daerah tangkapan air yang kurang baik, dan fenomena perubahan iklim. Perubahan iklim terbukti mempengaruhi siklus air sehingga memperpanjang kemarau, meningkatnya intensitas hujan, dan menaikan permukaan alur sehingga meningkatkan kawasan banjir dan kekeringan.
Dari sisi suplai air baku, dihadapkan tantangan degradasi DAS di daerah hulu, menurunnya debit pada sumber-sumber air, dan tingginya laju sidimentasi pada tumpungan-tumpungan air, seperti bendungan, embung, danau, dan situ.
Selain itu kualitas air semakin rendah akibat tingginya tingkat pencemaran pada sungai dan sumber-sumber air lainnya.
Melihat kenyataan tersebut sudak selayaknya seluruh masyarakat memelihara sumber-sumber air yang ada di muka bumi ini, dan membentuk kelompok-kelompok kepedulian terhadap lingkungan hidup, seperti memelihara hutan sebagai kawasan resapan air, menjaga sungai sebagai tempat penyimpanan air, dan melakukan rehabilitasi melalui gerakan penanaman pohon, pembersihan sungai hingga setidaknya kedepan mengurangi keluhan mengenai ketersediaan air bersih ini.
“Melingai” dari Kota Banjarmasin yang kini sudah beranggotakan ratusan orang selalu melakukan aksi-aksi untuk menyentuh perasaan masyarakat agar ikut berkiprah memelihara lingkungan, khususnya menjaga sungai agar tidak dikotori oleh limbah-limbah, tak membuang sampah sembarangan, jangan pula menebang pohon kawasan resapan air karena ketersediaan air bersih sebenarnya itulah pembangunan dan kehidupan yang sesungguh-sungguhnya. ***4****1234

https://www.facebook.com/groups/1418569291713085/

FKH BER “PERILAKU” AJAK WARGA CINTAI LINGKUNGAN

ontelOleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,21/3 ()- Puluhan orang bersepeda tua (ontel) menyusuri jalan-jalan di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, sebagian dari mereka membawa puluhan batang bibit penghijauan.
Sesekali mereka singgah di sebuah lokasi, biasanya masjid, sekolah, atau tempat lainnya di lokasi yang gersang tak lain hanya menanam pohon penghijauan.
Mereka yang cinta lingkungan tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin ini kemana-mana selalu menyandang “butah” (wadah berasal dari anyaman berbahan tumbuhan lokal), baik saat aksi lingkungan, maupun ke pasar, bahkan ke mal atau pusat perbelanjaan.
Mereka juga selalu mengenakan kemeja hijau dan di belakang baju bertuliskan “tanam pohon sedekah oksigen.”
Kelompok ini asalnya berasal dari berbagai komunitas pecinta lingkungan yang kemudian bersatu menjadi sebuah forum yang kerjanya selain melakukan penghijauan, juga membersihkan sungai dari sampah, membersihkan lingkungan sekolah, masjid, dan lokasi-lokasi tempat wisata.
Para anggota kelompok ini berasal dari berbagai profesi, ada yang guru, dosen, ulama, pelajar, mahasiswa, wartawan, pengusaha, karyawan swasta dan ada yang pegawai negeri. Pendidikan mereka ada yang hanya lulusan SD tetapi apa pula yang bergelar profesor.
Aksi lingkungan mereka biasanya hanya Sabtu atau Minggu, untuk memberi peluang kepada mereka yang kerja sebagai pegawai negeri atau krayawan swasta untuk ikut berkiprah, dan semuanya tidak ada paksaan, ini hanyalah kerelaan hati saja.
“Kami tak pernah mengajak, apalagi memaksa, kegiatan kami hanyalah kerelaan hati, untuk beramal jariah dalam pelestarian lingkungan, kalau ada kerjaan yang lebih penting jangan ikut kami, tetapi jika tak ada kerjaan ketimbang hanya termenung di rumah ya lebih baik bergabung dengan kami,” kata Zhany Talux komandan aksi lingkungan FKH Banjarmasin.
Nawaitu kegiatan FKH bagaimana alam Banjarmasin atau Kalimantan Selatan bisa menjadi hijau kembali, segar dan teduh, dan penuh dengan bunyi kicau burung dan binatang-binatang lainnya yang membentuk semacam “orkestra alam.” Karena itulah kehidupan yang sesungguhnya.
Bagi mereka kelompok yang disebut oleh sebagian masyarakat “orang gila lingkungan,” ini pembangunan yang sesungguhnya bukan diwarnai dengan jembatan layang yang bertingkat-tingkat, atau mal atau pusat perbelanjaan yang gemerlapan, tetapi adanya air bersih di sungai yang di dalamnya hilir mudik ikan-ikan dan biota air lainnya.
“Buat apa apa hotel mewah, pusat perbelanjaan atau tempat-tempat mewah lainnya, jika kita tak ada air, semuanya itu menjadi tak berarti apa-apanya, makanya jaganya lingkungan dengan pepohonan agar tersedianya air bersih bagi kehidupan,” katanya.
Kelompok ini tergerak merehabilitasi lingkungan setelah seringnya terjadi bencana alam, seperti kekeringan, kebanjiran, kebakaran hutan, bahkan belakangan ini yang lebih miris adalah serbuan asap tebal yang menyelimuti pemukiman saat kemarau, lantaran asap asal kebakaran semak belukar dan hutan.
Warga bagaikan hidup dilautan lantaran banjir, bagaikan hidup di neraka saat kebakaran hutan, bahkan bagaikan hidup di alam kabut, setelah serbuap asap asal kebakaran hutan.
Ini mungkin saja kesalahan manusia terdahulu yang rakus merusak alam, jika alam tidak direhabilitasi bagaimana kehidupan selanjut. Sekarang ini sudah menderita apalagi kedepan tentu lebih menderita lagi.
Meranjak dari kekhawatiran itulah, FKH yang dikordinatori oleh Hasan Zainuddin dan Mohammad Ary selalu mengajak dan mengajak anggotanya yang kini sudah berjumlah ratusan orang agar terus terlibat melakukan aksi hijau sekaligus mengedukasi masyarakat luat untuk mencintai lingkugan.
Hingga sekarang tak kurang dari tujuh ribu pohon penghijauan sudah ditanam di berbagai lokasi, baik sekolah, masjid, tepi jalan raya, dan tepian sungai untuk menghindari abrasi tepian sungai.
Dalam aksi FKH selalu mandiri, melakukan pembibitan sendiri, mengangkut bibit dan aksi makan dan minum selalu menggunakan kantor pribadi masing-masing secara gotong royong.
“Kita ini bukan siapa-siapa, kita bekerja juga bukan untuk menjadi siapa-siapa” kata Mohamad Ary anggota yang lain, makanya kelompok ini tak boleh terkontaminasi politik atau kepentingan lainnya kecuali hanya untuk pelestarian lingkungan.
Dalam aksi bukan saja tanam pohon di Banjarmasin dan sekitarnya, tetapi kelompok ini juga datang ke berbagai tempat di Kalimantan Selatan, khusunya di lokasi-lokasi destinasi wisata, atau pemukiman-pemukiman bantasan sungai, untuk aksi kebersihan dan penghijauan sekaligus mengajak warga ayuuu cinta lingkungan.
Dalam kegiatan selalu banyak diikuti anggota, karena prinsipnya kelompok ini menggunakan motto, “bekerja, berkarya, bergembira, berbahagia, dan awet muda.” Motto lainnya “bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, bekerja ikhlas.”
Dengan motto demikian maka setiap anggota selalu ingin ikut dalam aksi karena ada kegembiraan dan kesenangan hati yang bisa memuaskan perasaraan atau hati.
Bahkan FKH juga membentuk masyarakat peduli sungai (Melingai), dan menobatkan 52 orang warga di Banjarmasin menjadi pemangku sungai yang tugasnya adalah memotivasi warga sekitar sungai memelihara sungai, dalam kegiatan di sungai ini tak ada tujuan lain hanya murni pelestarian lingkungan.
Tetapi kegiatan ini dilihat oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal ini Balai Wilayah Sungai (BWS) II Kalimantan yang kemudian diikutkan lomba antar masyarakat peduli sungai, dan ternyata Melingai dari FKH ini berhasil keluar sebagai juara pertama secara nasional hingga memperoleh piala dan hadiah ke Jakarta pada Hari Kebaktian PU tahun 2016 lalu.

Makna Atribut

Selaku muncul pertanyaan mengapa baju yang dikenakan selalu bewarna hijau dan bertuliskan “tanam pohon sedekah oksigen,” kemudian mengapa selalu bersepeda tua (ontel) dan mengenakan “butah” alat atau wadah berbahan anyaman dari tanaman lokal yang ramah lingkungan.
Ternyata semua aksi dengan atribut itu dimaknai sebagai perilaku anggota yang selalu dengan bersahabat alam dan selalu dengan ramah lingkungan.
Warna baju hijau penunjukan kecintaan anggota terhadap suasana lingkungan yang hijau, kemudian sepeda dilambangkan sebagai transportasi ramah lingkungan untuk mengurangi kemacetan, mengurangi pemanfaatan bahan bakar minyak (BBM), mengurangi sebaran karbon dioksida di udara, serta selalu berolahraga.
Makna lain sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya bangsa yang dulunya senang bersepeda disamping bermanfaat sebagai pelestarian peninggalan bahari yang berguna untuk memancing kedatangan wisatawan ke wilayah ini, makanya anggota FKH sekaligus anggota Gernasta (gerakan nasional masyarakat sadar wisata).
Penggunaan butah sebagaai wadah yang ramah lingkungan untuk mengurangi pmanfaatan kantongan pelastik. Pelastik yang banyak menjadi limbah mencenari lingkungan yang diketahui sangat merusak lingkungan karena 200 tahun pelastik hanya bisa terurai.
Limbah pelastik diyakini merusak jika ke sungai akan mematikan kehidupan biota sungai, jida terpendam di tanah akan mematikan kehidupan biota tanah seperti cacing, jangkrik, dan sebagainya lantaran pelastik menghambat oksigen ke dalam tanah dan menghambat aliran air tanah.
Makna lainnya dengan butah diharapkan industri anyaman penduduk Kalsel kembali menggeliat, terutama perajin anyaman butah, tanggui, lanjung, dan lainnya, pada gilirannya bisa meningkatkan lapangan pekerjaan, peningkatan perekonomian masyarakat, serta memanfaatkan bahan lokal, seperti bambu, rotan, pandan, anjat, ilalang dan lainnya.
Oleh karena itu perilaku sehari-hari anggota FKH ini tak lain adalah sebagai perlambang bagi masyarakat ayu kita cinta lingkungan, ayu kita ramah alam, ayu kita bersahabat dengan alam, karena bersahabat dengan alam itulah kehidupan yang sebenar-benarnya. *

Video Aneka Kegiatan FKH

 

 

 

 

 

Foto Aneka Kegiatan FKHhttps://www.youtube.com/watch?v=7LgIuTzRI4c

12

3 4

5 6

7 8

10 11

12


 

 

“MELINGAI” INSPIRATOR BAGI MASYARAKAT LESTARIKAN SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 8/12 (Antara) – Secara tak terduga sekelompok orang yang tergabung dalam komunitas pecinta lingkungan, Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, dinyatakan sebagai juara nasional dalam lomba masyarakat peduli sungai se-Indonesia.

Piagam dan piala tersebut diserahkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dr Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc saat peringatan Hari Bakti PU yang berlangsung di halaman kantor Kementerian PUPR di Jakarta, Sabtu, 3 Desember 2016.

“Ini benar-benar tak terduga, kok kita bisa juara,” kata Wakil Ketua Melingai Banjarmasin Mohammad Ary.

Pasalnya, dari awal dibentuknya organisasi tanggal 19 Agustus 2015 tak pernah mencari target, apalagi juara. Semua yang dilakukan hanyalah semata bekerja dan bekerja untuk membersihkan lingkungan, khususnya sungai, serta melakukan penghijauan di beberapa lokasi di kota ini.

“Kami ini bukan siapa-siapa, dan tak ingin menjadi siapa-siapa, niat kami melakukan ini semata karena Allah, dan ingin melestarikan lingkungan, makanya kami selalu aksi setiap Sabtu atau Minggu,” katanya.

Melingai yang selalu aksi bersama Forum Komunitas Hijau di wilayah yang berjuluk “Kota Seribu Sungai” tersebut, sebagian besar anggotanya adalah kalangan anak muda tetapi digerakkan oleh para senior yang memang sudah tua.

Kelompok ini sudah menanam ribuan pohon penghijauan di beberapa ruang terbuka hijau di Kota Banjarmasin dan sekitarnya, serta aksi membersihkan sungai dan menanam pohon penahan abrasi di beberapa lokasi di pinggiran sungai.

Banjarmasin dikenal sebagai kota sungai lantaran terdapat 102 sungai dan yang terbesar adalah Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Dalam aksi kelompok yang selalu menggunakan sepeda tua (ontel) dan menggunakan wadah non plastik yang disebut “butah” ini selalu mengajak masyarakat setempat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan.

Tujuan aksi bukan saja ke kawasan permukiman padat penduduk, tetapi juga ke sekolah-sekolah mengingat ada sekitar 300 ribu anak pelajar yang harus ditanamkan kecintaan terhadap lingkungan, dan mereka diharapkan menjadi generasi emas ke depan.

Organisasi ini tidak memiliki kartu keanggotaan, tetapi dikatakan organisasi ini bagaikan sebuah kapal besar tanpa pagar yang terus berlayar, silakan masuk jika ingin ikut dan silakan keluar jika tak ingin ikut lagi, tak ada ajakan, apalagi pemaksaan, semuanya berdasarkan kerelaan hati.

Dalam setiap kali bekerja kelompok ini tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memberi upah, dan tidak mencari perhatian, serta tidak mencari penghargaan, semata karena ingin lingkungan baik saja. Kalau ada biaya seperti untuk makan dan minum atau peralatan semuanya gotong royong atau urunan dari kantong masing-masing anggota.

Sementara motto atau slogan kelompok ini adalah “bekerja, berkarya, bergembira, berbahagia, dan awet muda,” makanya setiap kali ada aksi selalu ada perasaan gembira sehingga para anggota tak pernah malas untuk ikut berkiprah menjaga lingkungan.

Tetapi setelah melihat aksi yang selalu dilakukan kelompok ini setiap minggu maka selalu saja banyak masyarakat yang terpanggil hatinya untuk ikut berkiprah meletarikan sungai.

Bahkan belakangan masyarakat terlibat dalam lomba membersihkan sungai sekaligus membentuk pemangku sungai di 52 kelurahan yang ada di kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa ini.

Lantaran keberadaan kelompok Melingai ini yang dinilai unik maka oleh Balai Wilayah Sungai Kementerian PUPR dilibatkan mewakili Provinsi Kalsel dalam lomba tingkat nasional pada tahun 2016.

Pemberitahuan keikutsertaan itupun terlalu singkat, hanya 10 hari, sehingga para anggota Melingai bekerja keras mengumpulkan kliping dan data serta foto dan rekaman video sebagai bukti dalam setiap kegiatan sebelumnmya.

Sementara provinsi lain yang sudah terbiasa ikut lomba yang diselenggarakan Kementerian PUPR ini sudah mempersiapkan segala sesuatunya.

Semua data dan dokumen pendukung itu yang dipaparkan oleh Wakil Ketua Melingai Mohammad Ary di hadapan dewan yuri dari Kekenterian PUPR dan perguruan tinggi.

Dalam penilaian pertama lomba yang digelar Ditjen Sumberdaya Air Kementerian PUPR di Kota Banjarmasin itu, menempatkan Melingai selaku tuan rumah berada di urutan empat nilai 107 dari enam kelompok yang dinominasikan.

Pada lomba yang berlangsung tiga hari diikuti 18 kelompok masyarakat peduli sungai yang berasal dari 18 provinsi di tanah air tersebut, tiga dewan juri menempatkan nominasi pertama adalah Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) Yogyakarta dengan nilai 113.

Sementara kelompok masyarakat dari Peguyuban Pengendali dan Penanganan Air Pasang Panggung Lor (P5L) Kota Semarang sebagai nominasi kedua dengan nilai 110.

Sedangkan nominasi ketiga dari Jawa Barat dari kelompok masyarakat Ekolink dengan nilai 109. Nominasi kelima yakni Santri Jogo Kali dari Jawa Timur dengan nilai 102 dan nominasi terakhir berasal dari Komunitas Peduli Sungai Batu Bulan Maluku dengan nilai 102.

Dari enam nominator ini kemudian diuji lagi untuk menentukan juara setelah tim juri melakukan peninjauan lapangan ke lokasi kelompok masyarakat tersebut berada.

Setelah dewan juri meninjau dan menggodok apa yang dilakukan Melingai di Banjarmasin, hingga pada penilaian terakhir, kelompok ini dinyatakan sebagai juara pertama. Juara dua Forum Komunikasi Winongo Asri Yogyakaaarta dan juara III Peguyuban Pengendali dan Penanganan Air Pasang Panggung Kota Semarang.

Juara IV Ekoling Jawa Barat, Juara V Joko Kali Jawa Timur dan Juara VI Masyarakat Peduli Sungai Batu Bulan, Maluku.

Para juara ini lalu diundang ke Jakarta menerima piala dan penghargaan pada hari Bakti PUPR sekaligus bagi Melingai mengambil hadiah berupa kendaraan roda tiga dan seperangkat alat pengeras suara untuk aksi.

Setibanya di Jakarta, saat upacara hari Bakti PUPR, Menteri PUPR menyatakan apresiasinya terhadap keberadaan Melingai.

“Teruskan kerja kalian, dan kalian sudah berhasil mengajak warga untuk menciptakan lingkungan yang bersih, khususnya sungai, itu sesuatu yang perlu memperoleh dukungan,” katanya saat berbincang dengan anggota Melingai, di Jakarta (3/12).

Menteri PUPR yang sedikit-sedikit pandai berbahasa Banjar, lantaran pernah tinggal di kawasan Kacapiring Banjarmasin itu mendatangi sendiri enam anggota Melingai yang berada di lokasi upacara.

Ketertarikan Menteri PUPR terhadap anggota Melingai tersebut, juga menjadi perhatian banyak orang di lokasi peringatan hari Bakti PU. Rupanya pemakaian topi kuning yang dikenakan anggota dan atribut yang dikenakan berupa wadah ramah lingkungan non plastik yang disebut “butah”
Setibanya di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dari Jakarta rombongan Melingai Juga memperoleh sambutan hangat dari Gubernur Kalsel Sahbirin Noor atau Paman Birin yang kala itu mengajak foto bersama dengan para anggota sekaligus berpesan Melingai tetap berperan sebagai ujung tombak pemeliharaan sungai di wilayah ini.

Video Kegiatan Melingai


https://www.youtube.com/watch?v=YmJ3BpwfDgc https://www.youtube.com/watch?v=VjglNErJBfw

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aneka Foto Kegiatan Melingai


1

2 3

4 5

6 7

9 10

BANJARMASIN BERI KEMUDAHAN INVESTASI

Banjarmasin,15/9 (Antara)- Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin,Kalimantan Selatan, melalui Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsenibud) setempat berjanji memberikan kemudahan berbagai hal perijinan bagi investor yang ingin berinvestasi sektor jasa kepariwisataan.
Hal tersebut tak lain agar investasi sektor kepariwisataan bisa berkembang sesuai kebutuhan sekarang, dan tujuannya tak lain adalah meningkatkan kunjungan wisman dan wisnu ke Banjarmasin, kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disparsenibud Mohammad Khozaimi di Banjarmasin, Kamis.
Ia mencontohkan seperti kemudahan dalam perizinan pengelolaan perhotelan, hal ini bisa dilihat dari jumlah hotel yang mencapai 80 buah dengan lokasi terpusat di tengah kota dan menyebar di lokasi-lokasi strategis lainnya.
Berikutnya juga dalam perizinan usaha restauran dan rumah makan. Disparsenibud memberikan target hanya dalam waktu seminggu rekomendasi perizinan dari Disparsenibud sudah dapat diperoleh.
Harapannya dengan memberikan kemudahan-kemudahan ini para pengelola hotel dan rumah makan menjadi tertib dan termotivasi memberikan pelayanan berbasis keamanan, kenyamanan, dan berbudaya kepada wisman dan wisnu yang berkunjung ke Kota Banjarmasin.
Kota Banjarmasin dengan keeksotisan budaya sungainya menjadi aset penting dalam meningkatkan pembangunan dan potensi pariwisatanya.
Disparsenibud mulai menangkap peluang untuk menarik investor sehingga mau bekerjasama dalam mengelola potensi kota guna meningkatkan pendapatan daerah.
Harapan kedepannya adalah Banjarmasin semakin potensial dengan paket wisata susur sungai.
Sehingga diharapkan Banjarmasin memiliki fasilitas dermaga yang refresentatif dengan kapal-kapal wisata dengan daya muat lebih besar sekitar 100 orang penumpang.
Kapal-kapal ini menjadi pilihan yang menyenangkan untuk menikmati wisata susur sungai dengan menyinggahi 36 destinasi wisata di sekeliling Kota Banjarmasin.
Pengembangan selanjutnya, akan digagas konsep restoran terapung dan fungsi cottage di rumah lanting.
Toko-toko souvenir dengan desain menarik berkonstruksi terapung dan panggung di sepanjang tepian sungai, kata Khuzaimi yang juga anggota dari Masyarakat Peduli Sungai 9Melingai) ini.
Pengunjung dapat bersinggah dan berbelanja secara langsung tanpa harus keluar dari kelotok (drive thru) namun juga bisa mampir dan bersinggah sambil menikmati suasana sungai di cafe-café terapung yang didesain menyatu dengan toko-toko souvenir.
Banyak sekali mimpi dan harapan Disparsenibud yang mulai diinisiasi bersama tim desain Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sebagai mitra menuju Banjarmasin yang lebih baik, beridentitas dan berbudaya sungai.
Semoga ini menjadi kenyataan yang menyenangkan, “ayo ke Banjarmasin.” katanya dengan suara agak nyaring

jimi