Kayu Kusi warisan alam masih ada di Balangan

Jenis kayu besar yang ditaksir berusia ratusan tahun masih terlihat di Hutan Desa Panggung, kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Ada dua pohon jenis kayu kusi yang besar di desa tersebut, seperti di seberang sungai pitap, dan di daerah tabat besar Kali Maraup, kata penduduk setempat, Senin, saat ANTARA Kalsel menyusuri kawasan hutan wilayah tersebut.

Kayu kusi sejenis kayu besi, tetapi kualitasnya masih dibawah kayu ulin, tetapi juga keras dan warna kayunya persis ulin.

Menurut penduduk setempat dua pohon besar yang merupakan warisan alam tersebut ditaksir bersusia sekitar 300 tahun, dan garus tengahnya sekitar satu setengah meter, tetapi akar atau disebut penduduk setempat banir begitu besar.

Jenis pohon tersebut dipelihara lantaran menjadi tempat lebah besarang, dan pada musim tertentu puluhan lebah bersarang dan terlihat bergelantungan, hanya saja untuk mengambil madu dari sarang lebah tersebut tentu harus cekatan dan memiliki keberanian yang kuat, karena sangat tinggi.

Pada waktu dulu saat warga setempat sering melakukan permainan gasing, jenis kayu tersebut menjadi pilihan untuk dibuat gasing lantaran tingkat kekerasannya yang kuat, sehingga gasing tak mudah pecah walau harus dibenturkan antar gasing saat beradu permainan tradisional itu.

Antara Kalsel sendiri dipandu oleh penduduk setempat untuk mencapai dua lokasi tersebut, dan sempat berfoto di bawah pohon besar tersebut, hanya saja untuk mencapai pohon harus nekat masuk diantara rimbunnya tanaman rotan yang berduri hingga badan terkena duri rotan dan berdarah.

Di kawasan Tabat Besar atau kali meraup masih terlihat sarang lebah bergelantungan, dan tat kali pohon di pukul -pukul sebagian lebah bertebangan karena mungkin agak terganggu.

Diharapkan kedua pohon besar tersebut harus tetap terpelihara karena bisa menjadi objek penelitian dan objek pendidikan untuk generasi yang akan datang, karena belakangan ini sulit ditemui pohon besar yang sebesar itu.

Gua Gunung Batu, Tebing Tinggi layak dijual sebagai Destinasi Wisata

Seorang pemerhati lingkungan dan tokoh Perkumpulan Hijau Daun (PHD) dan Forum Komunitas Hijau Kota (FKH) Banjarmasin, Haji Murjani atau yang dikenal dengan sebutan Zany Thalux menilai Gua Gunung Batu, Desa Sumsum, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, sangat eksotis dan layak dijual sebagai destinasi wisata nusantara bahkan ke internasional.

Penilaian tersebut disampaikan oleh Zany Thalux di Banjarmasin, Rabu, setelah ia bersama anggota FKH yang lain menjelajahi wisata Balangan termasuk Gua Gubung Batu Tebing Tinggi.

Menurut ia objek wisata ini layak dijual lantaran tidak susah menjangkaukanya, berada persis di tepi jalan beraspal mulus Desa Sumsum, dari Kota Paringin ibukota Kabupaten Balangan paling jauh 20 kilometer.

Selain mudah dijangkau, gua ini memang sangat eksotis, penuh dengan stalaktit dan stalakmit, wisatawan bisa menikmati lorong demi lorong gua tersebut.

Selain itu, lorong demi lorong tersebut mudah dilalui tidak membahayakan, anak kecil pun mampu masuk gua dan lorong tersebut ternyata tembus ke puncak gunung.

Dari Puncak gunung terlihat pemandangan alam yang menakjubkan, berhadapan dengan Gunung Hantanung, terlihat aliran sungai yang jernih, lembah, dan kawasan hutan setempat.

Apalagi jika dalam lorong gua tersebut diberi penerangan listrik warna warni tentu sangat indah, apalagi lokasinya tak jauh dari aliran listrik jalanan sehingga mudah saja menyambungkan aliran listriknya.

Di negeri Cina ada gua yang diberi aliran listrik masuk lorong demi lorong, ternyata konon gua tersebut sangat diminati wisatawan untuk mengunjunginya, makanya hal tersebut harus ditiru, tambah Zany Thaluk yang juga dikenal sebagai pecinta wisata alam tersebut.

Hanya saja yang perlu diperhatikan bagaimana kebersihan dan keamanan karena kebersihan dan keamanan adalah kunci kesuksesan sebuah objek wisata, dan diberi tulisan tulisan ajakan supaya tak membuang sampah sembarangan atau larangan corat coret didnding gua.
puncak Gunung Batu (Antaranews Kalsel/Hasan Z)

Hal tersebut agaknya belum diperhatikan oleh pengunjung di Gunung Batu ini, karena masih terlihat sampah berserakan dimana-mana terutama sampah plastik bekas minuman dan makanan kecil.

Harusnya di lokasi ini dibangun Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dari pemuda setempat yang bertugas menjaga sapta pesona, khususnya keamanan dan kebersihan tersebut, tutur senior FKH dan PHD itu.

Budaya Gotong Royong warga Balangan, hadapi acara perkawinan

Budaya gotong royong masih terlihat begitu kental di dalam masyarakat Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Hal tersebut terlihat di saat acara mencari kayu bakar, untuk bahan bakar mengawah, dalam acara perkawinan anak Ajian dan Mahdiani, dimana terlihat ratusan orang terlibat dalam acara tersebut.

Dalam acara tersebut ratusan ibu-ibu gotong royong membuat penganan khas setempat sebagai tradisi acara mengayu yakni “bubur ambul” dimana para ibu ibu tersebut memasak secara bersama sama menggunakan kawah (wajan) besar setelah dimasukan adunan ke dalam kawah lalu oleh ibu-ibu adonan tersebut diaduk bersama sama.

Pengadukan penganan tersebut terus berlangsung sampai penganan dinilai sudah matang, kemudian dimasukan ke dalam piring lalu di kasih kuah air gula aren yang disebut juruh lalu disuguhkan kepada para kaum bapak-bapak yang bergotong royong membelah kayu bakar (Manungkih).

Pihak bapak bapak dengan bergotong royong menggergaji kayu yang berasal dari kayu karet yang sudah tua, setelah digergaji lalu diangkut bersama-sama ada yang pakai grobak ada pula yangpakai sepeda motor.

Kayu atau pohon karet yang masih berupa pohon tersebut setelah dipotong sesuai panjang yang diingini kemudian diangkut ke satu lokasi dimana titik gotong royong.

Lalu kayu tersebut dibelah atau ditungkih secara bersamaan sehingga menjadi potongan potongan kayu bakar yang mudah digunakan saat menanak nasi pakai kawah atau menanak gulai atau gangan juga pakai kawah.

Nasi dan gulai itulah nantinya sebagai suguhan saat acara perkawinan yang dijadwalkan sebulan lagi.

Mengayu memang dilakukan sebulan sebelum acara hari perkawinan, karena jika tak selama ini dikhawatirkan kayu tak kering dan tak dimakan api saat menanak nasi.

Yayasan Dangsanak Kita bantu muallaf di bulan Ramadhan

Yayasan Dangsanak Kita yang bergerak dalam bidang keagamaan dan kemanusian kembali memberikan santunan atau pemberian sembako kepada para mualaf yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Penyerahan paket sembako 130 dari total 170 untuk muallaf dan dai Paramasan, dilakukan Minggu (25/4) oleh Ketua Yayasan Dangsanak Kita, Drs Fachrurazie, dan Ketua Pembina yayasan Prof.Dr.H.Akh.Fauzi Aseri, M.A. serta Wakil ketua yayasan Drs.H.Indrajaya Said.

Sembako tersebut diterimakan oleh bapak Muhiddin selaku Ketua muallaf Paramasan, bertempat di Islamic Center Paramasan, milik yayasan Dangsanak Kita.

Selain itu pula diserahkan uang insentif untuk dua orang dai Loksado, dua orang dai Paramasan, seorang relawan, seorang muallaf pasca operasi yang masih lumpuh, total enam orang isi amplop berkisar Rp.200.000, sd Rp 300.000,- sebagai tanda tali simpatik Dangsanak Kita.

Paket sembako juga diberikan kepada Mahasiswa Universitas Negeri (UIN) Antasari yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kecamatan Paramasan, masing-masing posko KKN mendapat dua paket sembako.

Kegiatan lainnya penyerahan karpet untuk mushalla/majelis taklim, TK Al-Qur’an seluas 60 M2 di desa Malinau Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Di dusun ini ada sekitar 30 kepala keluarga warga Dayak muallaf yang dibina oleh Da’i Mahli. Mahli juga merangkap sekretaris MUI Kecamatan Loksado HSS, adalah anak asuh Yayasan Dangsanak Kita, Dia ini lulusan pesantren Darussalam Martapura dan sekarang melanjutkan kuliah dan menyelesaikan sekripsi di STAI Darul Ulum Kandangan dengan beasiswa yayasan Dangsanak Kita.

Kemudian juga ada penyerahan karpet titipan dari pengurus Forhati Kalsel, untuk TK PIAUD Forhati Cinta Meratus, di dusun Munggu Lahung -Paramasan Kab. Banjar , diterimakan oleh Ustadz Rifani selaku pengelola TK. juga Sembako untuk guru dan pengelola TK PIAUD Forhati di Munggulahung

Pertubuhan Banjar Malaysia dukung FKH bantu Sungai Madang

Warga Malaysia keturunan Banjar yang tergabung dalam organisasi Pertubuhan Banjar Malaysia (PBM) mendukung keinginan Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin mengembalikan Desa Sungai Madang, atau Gudang Hirang, Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan menjadi lagi sentra buah-buahan khususnya jeruk Sungai Madang.

Bukti dukungan PBM terhadap FKH tersebut dengan mengirimkan uang donasi melalui Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) yg diketuai oleh bapak Rudy Arifin, senilai Rp10 juta.

Jumat pagi donasi dari Pertubuhan Banjar Malaysia (PBM) sebesar Rp 10 juta diserahkan sekretaris Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) pak H. Syarifuddin. yang diterima oleh saudara Majid dari desa Sungai Madang yang didampingi Ketua FKH Mohammad Ary.

Uang itu digunakan untuk membantu warga dalam pengadaan bibit jeruk jenis Sungai Madang. Selain dari PBM ada juga bantuan donasi dari Komunitas Rumah Sepeda Indonesia senilai Rp1,4 juta yang disalurkan melalui FKH juga diserahkan oleh anggota FKH Akhmad Arifin kepada saudara Majid.

Bantuan tersebut disalurkan setelah melihat kondisi tanaman jeruk dan tanaman buah-bauhan lainnya rusak dan mati lantaran diterjang banjir beberapa waktu lalu.
Adapun teknis pendistribusiannya kordinasi FKH dilakukan oleh ketua RT 9 Desa Gudang Hirang, ketua kelompok tani dan Majid anggota Badan Perwakilan Desa setempat.

Sebelumnya juga keinginan FKH tersebut direspon Dinas Kehutanan Kalsel yang memberikan bibit aneka buah-buahan sebanyak 400 batang.

Dalam upaya menggerakan desa Sungai Madang rencananya akan ada kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh kandidat doktor Herawati dosen program studi ilmu kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran ULM pada pagi hari minggu ini.

Kegiatan kandidat doktor tersebut antara lain Ikut kegiatan penanaman pohon, susur sungai untuk mengetahui kondisi (kesehatan) masyarakat setempat bergabung dengan komunitas FKH.

Kemudian memberikan pelayanan kesehatan seperti pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat, serta pengobatan gratis, konsultasi kesehatan, pencatatan kesehatan, pendidikan kesehatan, dan lainnya.

FKH Banjarmasin dibantu Dishut kembangkan Sungai Madang sentra buah

Keinginan para relawan kemanusiaan dan lingkungan yang tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) mengembalikan Desa Sungai Madang, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, sebagai sentra buah buahan khususnya jeruk direspon oleh Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Selatan.

Terbukti dengan dikirimkannya sekitar 400 bibit pohon buah-buahan oleh Dinas Kehutanan Kalsel ke Desa Sungai Madang, Rabu, dan bibit tersebut diterima oleh FKH Banjarmasin yang kemudian oleh FKH Banjarmasin diserahkan lagi ke warga Sungai Madang atau Desa Gudang Hirang.

Pengiriman bibit dari Banjarbaru ke lokasi menggunakan mobil terbuka tersebut diterima oleh Ketua FKH Banjarmasin Mohammad Ary dan kemudian diserahkan ke Ketua RT 9 Sarifudin dan Ketua Kelompok Tani setempat Syaifullah serta warga lainnya.

Kedatangan ratusan bibit buah-buahan tersebut disambut gembira oleh penggagas dari FKH banjarmasin,Mohammad Ary, Akhmad Arifin dan Paman Anum di lokasi tersebut.

Seorang petugas Dishut menyebutkan, sebanyak 400 batang bantuan Dishut untuk pengembangan sentra buah tersebut terdiri dari enam jenis buah-buahan seperti bibit mangga 50 batang, rambutan 100 bibit, adpukat 14 bibit, durian 100, lengkeng 86, jambu kristal 50 bibit.

Anggota FKH Akhmad Arifin mengakui keinginan FKH tersebut disampaikan ke Dishut dan direspon, dan ia berharap keinginan itu setrsu direspon pihak lainnya yang peduli terhadap Desa Sungai Madang yang pernah berjaya menjadi sentra produksi jeruk Sungai Madang.

Ia mengakui ide pemberian bibit tersebut setelah melihat kondisi Sungai Madang pasca banjir dimana banyak pohon jeruk dan buah-buahan yang lain banyak yang mati.

Pihak FKH sendiri juga sudah mengumpukan dana sekitar rp5 juta yang rencananya akan dibelikan bibit jeruk jenis sungai madang untuk dikembangbiakan skala besar di kawasan tersebut.

Ketua RT 9 Gudang Hirang sarifudin menyebutkan di desanya ada sekitar 125 KK yang menggeluti usaha perkebunan, dan nantinya akan dilakukan pembagian bibit untuk dikembangkan kepada warga di sana.

Pihak FKH sendiri selain ingin mengembalikan Sungai Madang sebagai sentra jeruk sekaligus untuk menjadikan kawasan itu menjadi kawasan wisata petik buah jeruk dan wisata susur sungai atau susur saka di perkebunan.

,

Relawan FKH ingin kembalikan Sungai Madang sentra jeruk

Para relawan kemanusiaan dan lingkungan yang tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin berkeinginan mengembalikan Desa Sungai Madang sebagai sentra jeruk di Provinsi Kalimantan Selatan.

Keinginan tersebut dilontarkan Ketua FKH Kota Banjarmasin Mohammad Ary kepada para petani jeruk di Desa Sungai Madang, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, saat berkunjung ke kawasan tersebut, Jumat.

Dalam kunjungan Mohammad Ary bersama anggota FKH lainnya, Akhmad Arifin, Haji Ridha, dan Paman Anum sempat berdilaog dengan warga setempat termasuk ketua kelompom tani Sungai Madang, Syaiful.

Dalam kunjungan tersebut, FKH Banjarmasin melontarkan keinginanya mengembalikan kejayaan Sungai Madang sebagai sentra produksi jeruk Sungai Madang, atau yang disebut jeruk Siam Banjar.

Kepada petani setempat, Majid dan kawan kawan FKH Banjarmasin tahap awal ini bersedia memberikan bibit jeruk untuk kembali ditanam di kawasan setempat.

Mengingat kawasan setempat perkebunan jeruknya sudah sekarat artinya banyak yang mati, akibat beberapa kali terkena musibah banjir dalam beberapa tahun belakangan ini.

Konon matinya jeruk di kawasan tersebut setelah terjadinya beberapa kali banjir besar, sejak tahun 1980, hingga tanaman banyak terendam dan mati.

Bahkan FKH Banjarmasin berkeinginan bukan saja sebagai sentra kebun jeruk, tetapi Sungai Madang juga bisa dijadikan objek wisata lingkungan petik jeruk.

Apalagi jika di kawasan sungai madang bisa dibangun dermaga, sehingga bisa naik klotok dari Siring ke Tendean langsung ke Sungai Madang, menikmati wisata petik jeruk.

Diharapkan pula di Sungai Madang dibentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang mengelola lokasi wisata petik jeruk, dan tambah elok lagi jika dibangunkan fasilitas lainnya termasuk lokasi lokasi selfie, seperti “parit cinta” umpamanya, kata Mohammad Ary sambil tersenyum.

STII Kalsel kenalkan varitas padi Trisakti

Serikat Tani Islam Indonesia (STII) Provinsi Kalimantan Selatan, berhasil mengenalkan keberadaan padi unggul varietas Trisakti yang memiliki kemampuan berproduksi cukup tinggi kepada petani.

Hasil panen padi varitas Trisakti yang dilakukan panen perdana oleh Bupati Tabalong Anang Sahfiani yang didampingi oleh Ketua STII Kalsel, Ustadz Khairani Idris di salah satu sentra persawahan Kecamatan Jaro, pertengahan minggu ini yang berhasil memproduksi 13,5 ton per hektare.

Hasil itu, kata Khairani Idris membuktikan hasil tertinggi karena sebelumnya produksi setempat paling banter antara lima hingga enam ton per hektare.

Setelah berhasil mengenaikan di Kabupaten Tabalong rencananya varietas ini akan dikembangkan secara luas di seluruh kabupaten dan kota se Kalimantan Selatan, dalam kaitan meningkatkan produkvitas padi wilayah ini.

Ketika ditanya soal varietas tersebut ia menyebutkan memang varietas itu sudah dikenal beberapa tahun sebelumnya oleh seorang peneliti padi Prof Ali Zum, yang juga Wakil Ketua Umum STII pusat.

Saat panen perdana yang dihadiri para pejabat Pemkab Tabalong dan kalangan Pertanian setempat disamping para pengurus STII Kalsel dan Tabalong sendiri, Bupati Anang Sahfiani menyatakan berterimakasih kepada STII mengenaikan varietas baru tersebut.

Ia berharap varietas ini kian dikembangkan di Tabalong mengingat areal persawahan setempat cukup luas, apalagi jika dikaitkan dengan ibukota RI yang baru di wilayah Kaltim, maka Tabalong bisa menjadi pintu terdepan di Kalsel yang memerlukan pangan yang lebih banyak lagi di kemudian hari.

Sementara Ketua STII Banjarmasin Mohammad Ary yang hadir saat panen perdana bersama pengurus STII lainnya Pak Indra merasa gembira kahadiran STII di tengah masyarakat, termasuk sudah mengenalkan varietas Trisakti.

Dengan kehadiran STII diharapkan bukan hanya persawahan yang baru tetapi juga terhadap sektor sektor pertanian yang lain, termasuk perkebunan dan perikanan.

Yayasan Dangsanak Kita sepakat bina muallaf di Balangan

Sebuah yayasan yang bergerak dalam kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan yakni yayasan Dangsanak Kita sepakat dengan beberapa pihak untuk membina para mualaf di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Kesepakatan tersebut setelah adanya pertemuan dengan pihak yayasan dengan Pemerintah Kabupaten Balangan, Kementerian agama Balangan, MUI Balangan, Baznas setempat , dan pihak Panitia Penuntutan Kabupaten Balangan (PPKB) di aula Mes Pemkab Balangan, di Paringin, Senin.

Dalam pertemuan lima pihak tersebut bersepakat untuk membina para mualaf di kawasan Pegunungan Meratus, dengan meningkatkan akidah para mualaf yang ditaksir ratusan orang yang menyebar di beberapa lokasi.

Selain itu, bersepakat untuk memberikan berbagai solusi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan mereka, mengingat kondisi kesejahteraan para mualaf tersebut cukup tertinggal.

Di samping itu akan pula memberikan peluang kepada anak-anak para mualaf untuk sekolah di pesantren hingga mereka mengerti agama dan nantinya bisa menjadi dai di kawasan mereka masing-masing.

Untuk mematangkan kesepakatan tersebut akan ada pertemuan lanjutan semua pihak yang bersepakat yang diharapkan difasilitasi Pemkab setempat.

Sehari sebelumnya pihak yayasan sudah melakukan perjalanan ke beberapa lokasi kantong para mualaf seperti di Desa Palipi dan Mentoyan.

Rombongan sempat berdialog dengan para mualaf yang pada intinya mereka bergembira jika ada pihak yang melakukan pembinaan terhadap mereka, terutama dalam kaitan peningkatan akidah dan kesejahteraan.

Rombongan yayasan Dangsanak Kita yang terdiri dari pembina Prof Fauzi Aseri, ketua yayasan Fachrurazie dan anggota lainnya DR Yahya MOP, Hairul Anam, dan Helmi Mijani.

Dalam perjalanan ke kawasan Halong tersebut, pihak yayasan sempat mengunjungi kantong-kantong Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari seperti di Mentoyan yang mereka juga ditugaskan untuk memberikan bimbingan kepada para mualaf.

Sebelumnya pihak yayasan juga menyemangati kegiatan keagamaan pihak mualaf di Pegunungan Meratus seperti di Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Paramasan Kabupaten Banjar.

Bahkan di Paramasan yayasan sudah membeli sebuah tanah seluas satu hektare dan tanah itu sudah diwakafkan dan sekarang dibangun sebuah gedung Islamic Cinter yang digunakan untuk pembinaan mualaf hingga sekarang.

LP2M UIN Antasari ajak Yayasan Dangsanak Bina Muallaf di Balangan

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin mengajak yayasan Dangsanak Kita untuk mengembangkan desa desa binaan di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Hal tersebut seperti diutarakan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, DR Yahya MOF kepada Antara Kalsel, di Banjarmasin, Rabu.

LP2M UIN Antasari merasa perlu mengajak lembaga atau yayasan yang sangat berpengalaman menangani program dimaksud yaitu Yayasan Dangsanak yang pembinanya Prof.Dr.H.Akh.Fauzi Aseri, MA ( mantan Rektor UIN Ant) untuk bersama sama mengkordinasikan dengan sejumlah komponen masyarakat di Balangan

Yang dilibatkan dalam program tersebut seperti Pemkab Balangan, Kemenag Balangan, Baznas Balangan, MUI Balangan, serta para tokoh PPKB Kabupaten Balangan.

Ketua LP2M UIN Antasari Dr Yahya MOF meninjau posko KKN di pedalaman (Antaranews Kalsel/Hasan Z)

Yahya MOF menuturkan, sejak 2018 LP2M UIN Antasari terus mengembangkan desa-desa binaan untuk masyarakat pedalaman di sepanjang Pegunungan Meratus yang terbentang di enam kabupaten.

Seperti Kabupatan Tanah Bumbu, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dan Kabupaten Balangan.

Kabupaten tersebut yang desa atau dusun-dusunnya secara rutin ditempati mahasiswa KKN tematik artinya fokus giatnya pada tiga tema tertentu seperti tema penguatan kualitas aqidah, tema peningkatan ketrampilan fikih ibadah, serta tema tahsin tilawah.

Giat mahasiswa KKN tematik selain yang tiga fokus tersebut masih ada Program lintas sektoral yang melibatkan semua masyarakat lintas agama dan keyakinan untuk berkegiatan bersama Mahasiswa KKN

Selain itu LP2M juga berusaha untuk program kaderisasi pembinaan masyarakat muslim mu’allaf dalam jangka panjang 10 atau 15 tahun mendatang dengan memfasilitasi anak-anak mereka utk melanjutkan studinya kejenjang yg lebih tinggi.

Seperti anak-anak mereka ( muallaf) yang lulus SDN dibantu utk disekolahkan ke pondok pesantren terdekat yang ada di wilayah Balangan dan Hulu Sungai Tengah dan ketika anak-anak ini selesai setingkat madrasah aliyah maka diharapkan perguruan tinggi eperti UIN Antasari yang menyambutnya.

Hal ini tentu perlu dana yang dapat menjamin keberlangsungan pendidikan mereka Untuk mewujudkan program tersebut.

Karena itu LP2M UIN Antasari merasa perlu mengajak yayasan untuk bersama sama mengkordinasikan dengan sejumlah komponen masyarakat Kabupaten Balangan seperti tersebut di atas.

Program menyekolahkan anak-anak muallaf ini nanti akan terus dilanjutkan ke kabupaten lain seperti Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

“Harapan saya sebagai ketua LP2M UIN Antasari, dengan adanya sinergitas lintas lembaga ini akan memperjelas dan lebih memiliki kemampuan terhadap arah program bersama untuk pendidikan jangka panjang dan secara nyata meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya saudara-saudara kita di pedalaman Meratus akan terwujud dan berkelanjutan,” kata Yahya MOF.