2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 260.000 kali di 2014. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 11 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

FKH INGINKAN PERSINGGAHAN HIJAU DI TRANS KALIMANTAN

singgahOleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,(Antara)- Sebuah organisasi pecinta lingkungan hidup, Forum Komunitas Hijau (FKH) menginginkan adanya titik persinggahan (rest area) di kawasan Trans Kalimantan poros tengah yang berada di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan.

Lokasi yang cocok untuk titik persinggahan tersebut berada di Kabupaten Banjar trans Kalimantan Banjarmasin-Balikpapan, kata Wakil Ketua FKH Banjarmasin Mohamad Ary di Banjarmasin, Rabu.

Menurut Mohamad Ary yang melakukan kampanye hijau bersepeda sepanjang 488 kilometer dan saat lewat di wilayah Kabupaten Banjar menemukan sebuah pohon besar jenis pohon kariwaya (beringin) di daerah Danau Salak, persis di pinggir Trans Kalimantan.

Pohon tersebut, menurut Mohamad Ary cukup besar dan rindang, persis di pinggir jalan jika lokasi tersebut dibenahi maka akan menjadi objek wisata.

Apalagi berada di pinggir jalan, jika di bawah pohon besar tersebut dibersihkan, lalu dibuatkan tempat duduk atau berteduh maka bisa menjadi lokasi persinggahan pengguna jalan di wilayah tersebut.

Jalan A Yani Danau Salak tersebut merupakan Jalan Trans Kalimantan yang termasuk ruas jalan dengan arus lalu-lintas terpadat di Kalsel.

Dengan adanya lokasi tempat duduk di bawah pohon beringin tersebut maka akan memberikan fasilitas berteduh baik oleh masyarakat setempat, terutama pengguna jalan raya khususnya pengguna kendaraan roda dua.

“Biasanya pengguna jalan pengendara roda dua seringkali beristirahat di bawah pohon jika perjalanan yang ditempuh jarak jauh, maka jika ada tempat berteduh maka akan memberikan fasilitas bagi mereka sebagai lokasi titik persinggahan,” kata Mohamad Ary.

Ia berharap bukan hanya pohon beringin itu saja yang dibersihkan diberikan fasilitas tempat duduk, tetapi hendaknya di lokasi tersebut dibeli oleh Pemkab Banjar dengan ukuran tanah yang luas dan dijadikanlah hutan kota.

Apalagi di lokasi dekat pohon beringin tersebut terdapat banyak buah-buah khas Kalsel, seperti kasturi (Mangefera kasturi) ramania (gandaria) langsat, manggis, dan aneka buah-buahan tentu akan menjadi data tarik sebagai kawasan wisata.

Lokasi tersebut juga bisa dibuatkan tempat jualan atau pedagang kaki lima yang khusus memperdagangkan buah-buahan dan hasil perkebunan dan pertanian.

Oleh karena itu FKH, yang menjadi organisasi pendorong pemerintah dalam hal pelestarian lingkungan hidup, mengharapkan adanya perhatian Pemkab Banjar mengenai hal tersebut sehingga ada sebuah hutan kota.

SULTAN INGINKAN TALI PERSAUDARAAN KULAAN DIPERERAT

Oleh Hasan Zainuddin

Sultan

Banjarmasin, (Antara) – Bupati Banjar, Kalimantan Selatan, Sultan Khaerul Saleh menginginkan tali persaudaraan antara kulaan Banjar Banua (Kalimantan Selatan) dan kulaan Banjar Negeri Malaysia dipererat lagi.

“Saya berterima kasih kepada Kulaan Banjar Malaysia yang sudah berkunjung ke Martapura, dan moga saja hal ini akan membuka peluang kunjungan lebih banyak lagi Kulaan Banjar Malaysia ke daerah ini,” kata Sultan Khaerul Saleh di Kota Martapura, 45 KM Utara Banjarmasin, Kamis.

Khaerul Saleh yang secara budaya dinobatkan sebagai raja Banjar tersebut, mengharapkan selain kunjungan warga Malaysia keturunan Suku Banjar ke Banua tentu juga kunjungan warga Banjar Banua ke negeri Semenanjung Malaysia juga ditingkatkan.

Kepada perantau Suku Banjar yang berhasil menjadi pengusaha atau pejabat di negara jiran tersebut, diharapkannya tidak melupakan tanah nenek moyangnya di Banua.

Kedatangan 19 anggota Kulaan Banjar Malaysia ke Martapura tersebut merupakan bagian dari rangkaian perjalanan wisata ziarah mereka ke tanah ato (nenek moyang) tersebut.

Selama di kota intan Martapura, kulaan Banjar tersebut mengunjungi pendulangan intan di Desa Cempaka Kota Banjarbaru, serta ke pusat cenderamata Bumi Selamat Martapura, serta ke sentra perdagangan intan dan batu permata di kota santri tersebut.

Sebelumnya mereka juga sudah mengunjungi beberapa wilayah di Kalsel, seperti ke Kalua, Amuntai, Kandangan, Rantau, dan Barabai yang konon merupakan asal para ato nenek mereka.

Para Kulaan Banjar Malaysia tersebut adalah generasi ketiga hingga keempat dari nenek moyang mereka, ke wilayah ini semata-mata ingin tahu tanah kelahiran ato tersebut.

Selain itu mereka mencari susur galur (juriat) atau keluarga jika masih ada di Banua, khususnya di daerah yang dikunjungi tersebut, kata Muhthar Mdnoor selaku ketua rombongan.

Sewaktu di Banjarmasin selain ke makam Sultan Suriansyah rombongan juga ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Sewaktu di lokasi tersebut beberapa di antara Kulaan Banjar Malaysia itu sempat meneteskan air mata.

“Saat berada di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin beberapa di antara 19 anggota Pertubuhan Banjar Malaysia tersebut berlinang air matanya, mereka membayangkan dari pelabuhan inilah ato (nenek moyang mereka) berkayuh hingga sampai ke Semenanjung Malaysia,” kata Muhthar Mdnoor.

Hari terakhir Jumat (28/11) setelah selama lima hari di wilayah ini, akan ke Pasar Terapung Loka Baintan serta kunjungan ke stasiun televisi Banua, Banjar TV.

KALSEL BERPOTENSI JADI OBJEK WISATA SUSUR GALUR MALAYSIA

wisata susur galur

Oleh Hasan Zainuddin

 

Banjarmasin,(Antara ) – Proivinsi Kalimantan Selatan yang sering disebut Banua kini berpotensi menjadi objek wisata susur galur (mencari juriat) dari Kulaan Banjar Malaysia sekaligus untuk mengetahui tanah kelahiran nenek moyang mereka.

Ketua Forum Silaturahmi Kulaan Banjar (PSKB) Banua Mohamad Ary di Banjarmasin, Kamis mengakui begitu besar minat orang Banjar yang tinggal di Malaysia untuk melihat tanah kelahiran ato (datoe/nenek) mereka di wilayah ini.

Berdasarkan keterangan di Malaysia terdapat sekitar dua juta jiwa Suku Banjar yang tinggal sudah ratusan tahun di negera jiran tersebut, dan sekarang dari mereka sebagian besar hidupnya sudah sejahtera.

Berwisata merupakan sebuah kebutuhan masyarakat kulaan Banjar yang sejahtera itu, karena itu mereka berkeinginan sekali melihat tanah kelahiran nenek moyang sekaligus wisata jiarah dan susur galur atau yang sering disebut sebagai wisata mencari silsilah keluarga.

Keinginan warga Malaysia asal keturunan Suku Banjar tersebut terungkap ketika 19 anggota FSKB melakukan lawatan ke berbagai lokasi kampung-kampung orang Banjar di Malaysia.

Seperti di Bangi, Bukit Melintang, Began Serai, Sungai Manik, Began Datoh, dan beberapa tempat lagi.

Dalam kunjungan FSKB 17-29 Oktober 2014 lalu itu, warga Banjar Malaysia begitu antusias menyambut kedatangan dari tamu Banua, dan merekapun berjanji mengunjungi Banua.

Oleh karena itu tanggal 24 November datang sebanyak 20 orang Kulaan Banjar Malaysia untuk wisata jiarah. Banyak diantara mereka yang sejak lahir sudah berada di negara semenanjung tersebut tak pernah menginjak kakinya ke wilayah ini.

Selain itu,mereka juga ingin mencari keluarga atau juriat siapa tahu masih bisa ketemu keluarga yang dicari setelah tiba di daerah ini, dan kebanyakan wilayah nenek moyang mereka itu adalah Kalua Kabupaten Tabalong, Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara, serta di daerah Alai Kabupaten Hulu Sungai tengah.

Rombongan yang diketahui Muhthar Md Noor tersebut mengunjungi Pasar Terapung, jiarah ke makam Raja Banjar Sultan Suriansyah di Kuin Banjarmasin, serta ke Palabuhan Trisakti.

Mereka juga mengunjungi daerah Rantau Kabupaten Tapin, Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalua Kabupaten Tabalong, dan Barabai Kabupaten Hulu Sungai tengah.

Rombongan sempat dijamu makan siang oleh Bupati Banjar Sultan Khaerul Saleh, mengunjungi Museum Lambung Mangkurat, dan Pendulangan Intan Desa Cempaka Banjarbaru, dan pusat Permata dan Pasar Intan Bumi Selamat Martapura Kabupaten Banjar.

Setelah kedatangan rombongan tersebut, kini akan menyusullagi dua rombongan besar kulaan Banjar Malaysiua ke Banua, tujuan mereka tetap sama ingin tah tanah kelahiran ato, mencari juriat, serta jiarah ke makam ulama dan tokoh Banjar di Kalsel.

Beberapa orang lagi, menyatakan akan membawa rombongan lagi ke Kalsel,jika penerbangan bisa langsung antara Bandara Symsudin Noor dengan Bandara Kuala Lumpur. Mereka berharap Pemprov Kalsel bisa merampungkan pelebaran Bandara Sysmsudin Noor dari Bandara lokal menjadi Bandara Internasional.

PEREMPUAN MALAYSIA INGIN DALAMI SENI BANJAR

wanita

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 2/11 (Antara)- Seorang perempuan keturunan Suku Banjar Salwana Jaafar, yang tinggal di Sungai Manik, Negeri Perak, Malysia iengin sekali mendalami seni budaya Suku banjar yang ada di Banua atau Kalimantan Selatan.

Keinginan Salwana Jaafar tersebut diutarakannya melalui telpon ke wartawan Antara Cabang Kalsel, Banjarmasin, Kamis menyusul pertemuan warga Sungai Manik Malaysia dengan Forum Silaturahmi Kulaan banjar Banua (FSKB) di Malaysia,pekan lalu.

Salwana Jaafar yang mengaku mecintai seni budaya nenek moyangnya tersebut, maka ada keinginan untuk mendalaminya, khususnya seni tari-tarian, dan musik panting.

Menurutnya jika berhasil menguasai seni tari-tarian dan musik panting maka ia akan membangun sebuah grup atau sanggar kesenian Banjar di Sungai Manik, sehingga jika ada acara hiburan atau kesenian yang harus ditampilkan pada acara perkawinan, kenduri, atau pertemuan lainnya maka yang ditampilkan seni budaya Banjar tersebut.

“Saya ingin sekali kalau ada tampilan kesenian di kampung saya Sungai Manik itu selalu seni budaya Banjar, tapi sayang saya tak bisa menguasainya,” katanya.

Selain itu, tambahnya, bila sudah mampu menguasai seni budaya itu lalu bangun sanggar untuk menularkan ilmu seni budaya tersebut kepada generasi Suku Banjar yang ada di negeri jiran tersebut, mengingat komunitas Suku Banjar di negeri jiran tersebut banyak sekali,sehingga seni budaya tersebut kekal atau lestari hingga masa depan..

Berdasarkan catatan, Suku Banjar yang ada di Malaysia ditaksir sekitar dua juta jiwa, tetapi yang mudah terdata sekitar satu jiwa, sulitnya mendata Suku Banjar di Malaysia karena sudah ada di tanah Melayu tersebut puluhan bahkan ratuan tahun lalu, bahkan hingga ada yang generasi ketujuh.

Selain itu Suku Banjar Malaysia sudah terjadi kawin silang dengan suku lain seperti Melayu, Jawa, Minang, Mandailing, dan suku bangsa lainnya yang sudah menyatu menjadi bangsa Melayu baru di Malaysia.

Menurut Salwana Jaafar yang aktif menjalin hubungan melalui sarana internet Facebook dengan komunitas Banjar Banua tersebut, untuk merealisasikan keinginan tersebut terkendala masalah pendanaan.

Ia berharap ada pihak yang lain bisa menjadi menyukung keinginan tersebut, umpamanya pemerintah Provinsi Kalsel, atau pihak Kesultanan yang ada di Kota Martapura, Kabupaten Banjar.

Selain itu, ia berharap ada kerjasama dengan pihak Taman Budaya Kalsel, di Banjarmasin yang selama ini dikenal sebagai pencetak seniman Banjar di Banua, sebab ia perlu datang ke Banjarmasin setidaknya selama 20 hari.

“BATITI KULAAN” HUBUNGKAN KELUARGA TERPUTUS BANUA – MALAYSIA

sungai Manik

FSKB bertemu dengan Kulaan Banjar Malaysia  Sungai Manik Negeri Perak

 

Oleh Hasan Zainuddin
Tetesan air mata Mdnoh Rahidin keturunan Suku Banjar yang lama tinggal di Negeri Johor, Malaysia setelah bertemu dengan rombongan Forum Silaturahmi Kulaan Banjar Banua (FSKB) menggambarkan betapa rindu dirinya akan Kalimantan Selatan tanah nenek moyangnya.

“Saya ingin tahu sekali mengenai juriat keturunan ayah saya yang ada di Desa Paran Kabupaten Balangan di Banua” kata Mdnoh Rahidin saat bertemu dengan 19 anggota FSKB di Kota Melaka dalam perjalanan Batiti Kulaan 17-26 Oktober 2014 lalu.

Menurut Mdnoh Rahidin seorang pegawai Bomba (regu pemadam kebakaran Malaysia) tersebut sudah lama keinginan untuk mencari juriat keturunan di Indonesia tetapi harus bagaimana.

“Bagi Saya Kota Banjarmasin saja tak tahu apalagi Desa Paran Kabupaten Balangan,”katanya seraya menanyakan berapa jarak antara Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin ke desa nenek moyangnya itu.

Ketika diberitahu sejauh sekitar 200 kilometer, ia pun kaget. ” wah jauh sekali, seandainya ia mencarinya sendiri ke Banjarmasin jelas sendiri, jelas akan kehilangan jejak,” katanya.

Setelah berbincang lebar dengan para anggota FSKB maka ia pun berjanji akan bertandang ke Indonesia untuk mencari pihak keluarga bersama isterinya yang kini bekerja di sebuah perusahaan minyak Malaysia.

Tekad mencari keluarga tersebut didasari pesan almarhum ayahnya Haji Rahidin Bin Masak, agar mencari juriat keluarga di Indonesia, karena pesan itulah ada keinginan kuat mencari jejak keluarga tersebut.

Banyak cerita yang hampir sama dengan kasus Mdnoh Rahidin ini yang semuanya berharap bisa mengetahui keberadaan juriat satu sama lain yang berada di dua negara serumpun ini, setelah puluhan tahun bahkan ratusan tahun tak ada pernah kontak lagi.

Dalam perjalanan “Batiti Kulaan” FSKB tersebut, beberapa lokasi kawasan pemukiman Suku Banjar di Malaysia, seperti di Bukit Malintang Negeri Sembilan, Negeri Johor, Sungai Manik, Began Serai, Bagan Datuk negeri Perak, dan beberapa lokasi lagi.

FSKB sepakat mengeratkan tali persaudaraan dengan Pertubuhan Kulaan Banjar Malaysia setelah melakukan pertemuan di negara jiran tersebut.

Anggota FSKB, Mohamad Ary yang juga ketua rombongan dalam perjalanan Batiti Kulaan atau muhibah ini menuturkan, setelah melakukan perjalanan selama sembilan hari banyak pengalaman yang didapat dalam upaya menyambangi pemukiman-pemukiman Suku Banjar yang berada di negeri seberang tersebut.

Dalam beberapa kali pertemuan antara kedua belah pihak sepakat menjalin persaudaraan yang lebih dekat, dengan tujuan eratkan hubungan kekeluargaan yang selama ini agak terputus, sekaligus sebagai wadah atau wahana bagi siapa saja di kedua belah pihak untuk mencari juriat di dua negara berbeda tersebut.

Menurut Mohamad Ary, banyak Suku Banjar yang sudah lama bermukim di Malaysia ingin mencari juriat keluarga yang ada di banua asal Kalimantan selatan, tetapi setelah hubungan lama terputus sekarang sudah kehilangan jejak untuk mencari juriat tersebut.

Atau sebaliknya warga Banua di kalsel yang sudah kehilangan jejak pula untuk mencari juriat keluarga yang madam (merantau) ke Malaysia puluhan bahkan ratusan tahun silam.

FSKB yang dimotori anggota Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin ini akan menjadi jembatan bagi mereka yang terputus hubungan keluarga tersebut untuk saling mengetahui kedua belah pihak, dan kalau perlu FSKB bisa mempertemukannya.

Sebagai Contoh saja, Pak Mdnoh Rahidin keturunan Banjar Kalsel yang lama tinggal di Negeri Johor Malaysia, yang sempat menitikkan air mata setelah bertemu dengan rombongan FSKB tersebut kini sudah menemukan titik terang keluarganya, setelah anggota FSKB memberitahukan hal tersebut ke keluarga yang ada di Kabupaten Balangan.

Sekarang kedua belahpihak keluarga sudah berhubungan melalui saluran telpon, dan mereka berjanji akan bertemu, kata Mohamad Ary seraya menyebutkan bagi keluarga lain yang ingin mencari keluarga yang terputus silahkan hubungi IKA Unlam di Banjarmasin.

Dalam kunjungan Batiti Kulaan tersebut rombongan FSKB disambut dengan hangat para warga di beberapa lokasi tersebut, bahkan sempat menyaksikan festival budaya Banjar di Bukit Melintang.

Rombongan juga sempat bertemu dengan Mr Criag orang Amerika Serikat yang tinggal di Kedah Malaysia yang ternyata mendalami dan mahir bahasa Banjar.

Rombongan juga bertemu dengan tokoh masyarakat Banjar batu pahat, Jaini Musa yang ingin bertemu dengan para juriatnya yang berada di Kalsel.

Bahkan dalam perjalanan muhibah ini rombongan FSKB ikut dalam parade mobil Kulaan Adventure Team ke lokasi wisata peranginan.

Kemudian bertemu dengan para pengerusi koperasi Kulaan Banjar Malaysia di Bangi, Mohamad Saleh dan Kamar Mohamad Zaman dan beberapa pengerusi koperasi lainnya.

Di Bukit Melintang, rombongan sempat menjenguk dua orang sepuh Suku Banjar yang sudah ujur dengan usia hampir satu abad yang dipercaya sebagai sepuh Suku Banjar yang dulunya membuka hutan wilayah Bukit Melintang sebagai kawasan pemukiman Suku Banjar.

FSKB juga bertemu dengan Rektor Universitas Islam Azlan Shah Nordin Kardi asli suku Banjar, serta Prof Jamil Hasim yang juga keturunan Banjar asal Lampihong, sepakat melakukan kerjasam pendidikan dengan FSKB yang sebagian anggotanya adalah anggota Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.

Rompongan juga disambut hangat kulaan Banjar Malaysia di Desa Sungai Manik yang 80 persen penduduknya juga sebagai petani padi atau disebut pekerja bandang adalah orang Banjar yang membuka lahan sejak ratusan tahun silam.

Hanya saja pertanian di lokasi ini tak lagi menggunakan sistem tradisional khas Banjar di Kalsel, seperti menyemai atau menaradak, merincah, memuntal,meampar, merumput, kemudian menanjang lalau mengatam.
Sistem yang digunakan petani ini sudah berubah hampir semuanya pakai mekanik, sehingga satu hektare menghasilkan 10 ton, dan setiap petani sekurangnya memiliki bandang sepuluh hektare dan mamppu panen dua kali setahun.

Istimewanya lagi warga Banjar yang menggarap bandang (sawah) di Malaysia ini selain menjual padinya sendiri, oleh karajaan Malaysia mereka juga mendapat insentif, setiap ton dihargai 250 ringgit Malaysia, jika setiap heltare bandang menghasilkan 10 ton maka petani akan memperoleh insentif atau bonus dari kerajaan 2500 ringgit,maksudnya untuk menggairahkan petani untuk menanam padi.

Namun banyak pula dari keturunan Banjar di Malaysia ini tak lagi mengelola bandang namun beternak ayam, berkebun sawit, berkebun getah karet, dan tak sedikit pula yang sudah menjadi pejabat, pengusaha, atau seniman dan olahragawan terkenal.

Keturunan atau juriat Suku Banjar Kalimantan Selatan yang tinggal di Malaysia dan kiprahnya mulai kelihatan di berbagai sektor kehidupan di negara tetangga itu bisa menjadi generasi Melayu Baru.

Seperti diutarakan seorang tokoh masyarakat Banjar di Teluk Intan, Negeri Perak Malaysia, Muhamad Isa,
Dalam perbincangan dengan rombongan FSKB, Mohamad Isa yang juga dikenal sebagai guru dan anggota pemerhati sejarah Malaysia tersebut di rumahnya di Malaysia pekan lalu, mengatakan sekarang keturunan suku Banjar Kalimantan Selatan di Malaysia setelah puluhan bahkan ratusan tahun banyak yang melakukan kawin silang.

Banyak suku Banjar yang kawin dengan sesama Banjar atau kawin silang dengan suku melayu Malaysia, dengan suku Jawa Minang, Bugis, dan etnis lain yang kini populasinya berkembang pesat dan menjadi sebuah kekuatan baru yang disebut Melayu Baru.

Keturunan mereka ini sekarang berlomba menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan dan banyak di antara mereka yang sudah menjadi kamum intelektual, baik di pemerintahan, akademisi, politik, olahragawan, seniman, bahkan usahawan.

Bahkan posisi kelompok ini dinilai sebuah kekuatan baru dan menjadi saingan kuat dari kelompok lain yang juga dikenal kuat di negeri tersebut, seperti kelompok keturunan India muslim, yang di antaranya terdapat Mahathir Mohamad.

Berdasarkan catatan Keturunan Banjar di Malaysia sudah sulit di data tetapi sekitar dua juta jiwa karena sudah beranak pinak dan kawin silang dengan suku bangsa atau etnis lain.

Kedatangan Suku Banjar ke semenanjung itu ditaksir sudah ratusan tahun lalu, sejak penjajahan Belanda, ada yang langsung dari Banua ke Malaysia, ada pula yang sebelum ke Malaysia datang dulu ke Tembilahan Riau, atau ke Kuala Tungkal Provinsi Jambi serta dari Dili Serdang Sumatera Utara. Merasa kurang cocok di sana lalu berlayar lagi mencari penghidupan hingga ke Malaysia ini.

Di antara keturunan Banjar yang sudah berkiprah di negara tersebut, seperti Menteri Besar Johor Datuk Seri Hj Mohamad Khalid Nordin, penyanyi Malaysia Sarimah Ibrahim, mantan Kepala Kepolisian Tan Sri Musa Dato’ Hj Hassan, Malik Noor merupakan juara bina badan Asia peringkat heavyweight sebanyak 6 kali, Rektor Universiti Islam Azlan Shah Tan Sri Nordin Kardi.

Kemudian juga ada nama Datuk Jamal Abdilah bintang film dan penyanyi, jabatan lainnya yang pernah dipegang orang banjar mantan Menteri Pengajaran, Mufti Negeri Perak, Wakil Menteri Kewangan, dan lainnya .

MERASAKAN KECETA CEPAT NAIK BUKIT BENDERA PENANG MALAYSIA

aku1 Oleh Hasan Zainuddin
Telinga terasa berat seperti layaknya naik pesawat terbang di kala kereta cepat yang membawa rombongan Forum Silaturahmi Kulaan banjar Banua (FSKB) dan penumpang lainnya termasuk penulis menaiki Bukit Bendera yang ada di Kota Penang, negeri Penang, Malaysia.
Hanya saja gerbong yang ditumpangi tersebut terlalu sesak oleh pengunjung, sehingga pandangan tak leluasa melihat kiri dan kanan yang berada di tengah hutan lebat bukit yang menjadi objek wisata andalan tanah Melayu tersebut.
Dari perjalanan naik kereta listrik cepat dari bawah ke puncak Bukit Bendera setinggi 830 meter itu, gerbong beberapa kali berhenti, saat itu tampak suasana alam hutan yang masih alami, aneka tanaman hutan seperti layaknya hutan tropis yang ada di Banua (Kalimantan Selatan).
Selain itu juga tampak Kota Penang dari kejauhan dimana terdapat sebuah bangunan semacam menara tinggi yang menjadi ikon kota, serta air laut yang membiru dan pantai di kota yang didominasi penduduk etnis Tionghoa, Melayu, dan India tersebut.
Dari puncak, para wisatawan bisa menikmati pemandangan ke bawah seluruh pulau bahkan juga ke seberang laut
Berdasarkan catatan, Bukit Bendera merupakan sebuah kawasan parlemen di negara bagian Pulau Pinang, negara Malaysia.
Pulau Pinang yang dihubungkan dengan sebuah jembatan menyeberangi laut sekitar 25 kilometer ini terletak di antara negeri Kedah dengan negeri Perak di utara Semenanjung Malaysia.
Bukit bendera setinggi mendekati satu kilometer di atas Georgetown, puncak Bukit Bendera (Bahasa Inggris: Penang Hill) menyediakan tempat nyaman yang memungkinkan wisatawan menikmati sejuknya puncak bukit yang penuh dengan pepohonan.
Hutan di kiri dan kanan rel kereta cepat tersebut terlihat aneka tanaman pakis, palm-palman, enau, risi, serta aneka pohon yang selayaknya ada di hutan tropis.
Bukit ini secara umum bersuhu 15-25 derajat celsius, di lokasi ini terdapat taman yang menyenangkan, pondok bergaya tua, restoran, kuil, serta Masjid Muslim di puncaknya.
Bukit Pulau Penang ini sebenarnya juga digelari Bukit Strawberi karena penghasil buah stroberi, lokasi ini dengan kondisi alam dan suhu ternyata ideal bagi pengembangan buah stroberi.
Tadinya penulis agak enggan ikut naik kereta listrik cepat ke bukit ini, karena pengunjung begitu berjejal, selain itu ada perasaan ngeri atau takut, karena tampak rel keretanya begitu menanjak tajam ke atas.
Ada pikiran jika gerbong kereta listrik amblas atau jatuh pasti akan menimbulkan mala petaka besar, karena akan jatuh ke bawah yang begitu dalam.
Tetapi setelah semua anggota FSKB ikut membeli tiket, lalu penulis tinggal sendirian di bawah ada perasaan rugi, akhirnya penulis pun ikut berjejal antri beli tiket seharga RM 30,- per orang.
Karena beli tiket belakangan akhirnya penulis terpisah dengan rombongan, tetapi setelah sampai kepuncak akhirnya terkumpul lagi dengan rombongan.
Ketika sampai di puncak seluruh pengunjung turun dari kereta listrik tersebut, dan ternyata di puncak terdapat hamparan daratan yang luas semacam lapangan basket, dan terdapat banyak kendaraan roda dua atau sepeda motor.
Semua itu menimbulkan keheranan di pikiran penulis, dari mana kendaraan roda itu bisa lewat menaiki bukit hingga berada di lokasi yang begitu tinggi tersebut?
Di puncak tersebut juga ada bangunan dua lantai, di dalamnya terdapat rumah makan aneka makanan dan minuman, serta toko-toko barang-barang cendramata, serta kantor-kantor petugas.
Dari ratusan bahkan ribuan pengunjung yang berjejal di puncak bukit tersebut tampak terlihat aneka bangsa, ada yang berkulit putih bermata sipit, berkulit hitam bermata galak, ada bule, ada yang berjilbab, ada yang berpakaian minim, dan semuanya menyatu di lokasi tersebut.
Saat di puncak perut terasa lapar dan dahaga, hampir semua anggota rombongan FSKB mencari makanan untuk mengobati rasa haus dan lapar, lalu memesan makanan dan minum. Tadinya dikira makanan dan minuman di lokasi tersebut mahal, tetapi setelah melihat tarif yang ada di menu-menu makanan dan minuman ternyata relatif murah, seperti nasi goreng hanya RM5,- atau sekitar Rp20 ribu.
Anggota rombongan FSKB terpencar duduknya, ada duduk dimeja tengah dan yang asyik ngobrol dengan orang Melayu, ada pula yang duduk meja sudut ngobrol dengan wisatawan bule, bahkan ada pula yang ngobrol dengan wisatawan India yang duduk bagian belakang.
Melihat objek wisata ini menimbulkan komentar pengunjung yang menyatakan Malaysia itu memang hebat dalam mengemas wisatanya.
Setelah hampir dua jam menikmati puncak Bukit Bendera, rombongan sepakat turun. Dalam perjalanan turun terasa lebih nyaman hingga sampai ke bawah.
Kunjungan FSKB selama di Malaysia beberapa objek wisata di kunjungi selain di Bukit Bendera juga ke Melaka River Cruise, Negeri Melaka.

Persaudaraan

Rombongan FSKB datang ke Malaysia dalam kaitan lawatan dan silaturahmi ke pemukiman Suku Banjar asal Kalsel yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun tinggal di negeri tersebut.
Dalam kunjungan FSKB tersebut, beberapa lokasi kawasan pemukiman Suku Banjar di Malaysia, seperti di Bukit Malintang Negeri Sembilan, Sungai Manik, Began Serai, Bagan Datuk negeri Perak, dan beberapa negeri termasuk di Penang.
FSKB sepakat mengeratkan tali persaudaraan dengan Pertubuhan Kulaan Banjar Malaysia setelah melakukan pertemuan di negara jiran tersebut.
Anggota FSKB, Mohamad Ary yang juga ketua rombongan dalam perjalanan muhibah ini menuturkan, setelah melakukan perjalanan selama sembilan hari 17-26 Oktober 2014 banyak pengalaman yang didapat dalam upaya menyambangi pemukiman-pemukiman Suku Banjar yang berada di negeri seberang tersebut.
Dalam beberapa kali pertemuan antara kedua belah pihak sepakat menjalin persaudaraan yang lebih dekat, dengan tujuan eratkan hubungan kekeluargaan yang selama ini agak terputus, sekaligus sebagai wadah atau wahana bagi siapa saja dikedua belah pihak untuk mencari juriat di dua negara berbeda tersebut.
Menurut Mohamad Ary, banyak Suku Banjar yang sudah lama bermukim di Malaysia ingin mencari juriat keluarga yang ada di banua asal Kalimantan selatan, tetapi setelah hubungan lama terputus sekarang sudah kehilangan jejak untuk mencari juriat tersebut.
Atau sebaliknya warga Banua di kalsel yang sudah kehilangan jejak pula untuk mencari juriat keluarga yang madam (merantau) ke Malaysia puluhan bahkan ratusan tahun silam.
Melalui FSKB dan Kulaan Malaysia inilah akan menjadi jembatan bagi mereka yang terputus hubungan keluarga tersebut untuk saling mengetahui kedua belah pihak, dan kalau perlu dipertemukan.
Sebagai Contoh saja, Pak Mdnoh Rahidin keturunan Banjar Kalsel yang lama tinggal di Negeri Malaka, yang sempat menitikkan air mata setelah bertemu dengan rombongan FSKB tersebut.
Sebab ia tahu cerita keluarga hanya dari almarhum ayahnya yang sudah lama meninggal dunia, dan ayahnya berpesan ia harus mencari juriat keluarga yang ada di Indonesia, tetapi untuk mencarinya ia sendiri tidak mengerti harus bagaimana karena tak pernah ke Indonesia, apalagi ke Kalsel.
Dalam kunjungan tersebut rombongan FSKB disambut dengan hangat para warga di beberapa lokasi tersebut, bahkan sempat menyaksikan festival budaya Banjar di Bukit Melintang.
Rombongan juga sempat bertemu dengan Mr Craig orang Amerika Serikat yang tinggal di Malaysia yang ternyata mendalami dan mahir bahasa Banjar.
Rombongan juga bertemu dengan tokoh masyarakat Banjar batu pahat, Jaini Musa yang ingin bertemu dengan para juriatnya yang berada di Kalsel.
Bahkan dalam perjalanan muhibah ini rombongan FSKB ikut dalam parade mobil Kulaan Adventure Team ke lokasi wisata peranginan.
Kemudian bertemu dengan para pengerusi koperasi Kulaan Banjar Malaysia di Bangi,Johor, Mohamad Saleh dan Kamar Mohamad Zaman dan beberapa pengerusi koperasi lainnya.
Di Bukit Melintang, rombongan sempat menjenguk dua orang sepuh Suku Banjar yang sudah ujur dengan usia hampir satu abad yang dipercaya sebagai sepuh Suku Banjar yang dulunya membuka hutan wilayah Bukit Melintang sebagai kawasan pemukiman Suku Banjar.
FSKB juga bertemu dengan Rektor Universitas Islam Azlan Shah Nordin Kardi asli suku Banjar, serta Prof Jamil Hasim yang juga keturunan Banjar asal Lampihong, sepakat melakukan kerjasam pendidikan dengan FSKB yang sebagian anggotanya adalah anggota Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.
Rompongan juga disambut hangat kulaan Banjar Malaysia di Desa Sungai Manik yang 80 persen penduduknya juga sebagai petani padi atau disebut pekerja bandang adalah orang Banjar yang membuka lahan sejak ratusan tahun silam. ***3***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.