ERATKAN SILATURAHMI FSKB BATITI KE JAMBI, RIAU, DAN KEPRI

Oleh Hasan Zainuddin
tungkal
Orang Banjar sejak dulu dikenal sebagai suku perantau atau madam, tujuan yang terbanyak adalah ke pesisir Timur Pulau Sumatare seperti di Tungkal Kabupaten Sambung jabung Provinsi Jambi, Tembilahan Indragiri Hilir Provinsi Riau, serta di Kepulauan Riau (Kepri) bahkan ke Singapura dan Malaysia.
Madamnya orang Banjar ke Pesisir Sumatera ini terjadi akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, seperti ke Kuala Tungkal Jambi dan ke Bumi Sri Gemiliang Tembilahan.
Sehingga etnis Banjar yang tinggal di Sumatera , Singapura, dan Malaysia kebanyakan adalah anak, cucu, intah, piat dari para migran etnis Banjar yang berada di kedua wilayah ini, atau hingga generasi kelima dan keenam.
Migrasi orang Banjar madam dilandasi berbagai motif, seperti politik dimana terjadi perang saudara sesama Banjar serta tekanan tentara penjajah Belanda pada abad ke-19.
Belakangan migrasi orang Banjar lantaran motif ekonomi dan agama.
Motif ekonomi baiknya usaha perdagangan di wilayah tersebut, serta terhampar lahan pasang surut yang luas yang bisa digarap untuk perkebunan kelapa dan persawahan padang surut.
Orang Banjar dan suku Bugis lah ternyata etnis yang punya keahlian dalam menggarap lahan seperti pasang surut ini, sementara suku lain tang ada yang pandai menggarap lahan itu.
Motif agama muncul belakangan orang yang Madam ke daerah itu setelah adanya pengajian ulama besar yang juga mufti kerajaan Indragiri, yakni Syech Abdurahman Sidiq Al Banjari.
Dimana banyak orang Banjar madam berasal dari berbagai wilayah di Kalimantan untuk menuntut ilmu agama atau berguru dengan ulama yang berada di Kampung Hidayah Sapat yang berasal dari Dalam Pagar Martapura ini.
Banyak para datuk-datuk Banjar yang madam sebelum ke dua negeri di Sumatera ini terlebih dahulu ke Batu Pahat Malaysia kemudian menyerang ke pesisir Sumatera.
Mereka membuka hutan rawa pasang surut di Kuala Tungkal dan Tembilahan secara turun menurun dan penduduknya pun terus berkembang biak.
Etnis Banjar Kuala Tungkal ini kemudian menyebar di berbagai penjuru di provinsi Jambi termasuk di Kota Jambinya sendiri, bahkan ke berbagai wilayah Sumatera.
Sementara di Tembilahan etnis Banjar kemudian menyebar ke seluruh Provinsi Riau dan Kepulauan Riau termasuk ke Singapura dan Malaysia.
Tak heran jika sekitar 800 ribu penduduk Indragiri Hilir 40 persen adalah etnis Banjar dan mendominasi dalam sisi bahasa, hingga orang Melayu, Minang, Bugis, bahkan etnis Tionghoa di wilayah nyiur melambai ini pandai berbahasa Banjar.
Bukan saja sisi bahasa, sisis agama juga mendominasi. Etnis Banjar di wilayah ini terkenal sebagai seoarang ulama, dai, guru gaji, bilal, khotif,pengasuh pesantren, hingga kaum (penjaga) masjid .
Tak heran baik di Kota Jambi, Kuala Tungkal, Tembilahan,Pekanbaru, Kota Batam, orang Banjar identik dengan ke ulama-annya.
Sebagai etnis dengan jiwa pedagang Banjar terkenal sebagai usahawan berhasil bidang jual-beli kebutuihan pokok di pasar-pasar, pedagang kain, pedagang emas dan berlian, bahkan perdagangan antar pulau.
Bahkan belakangan lantaran etnis Banjar sudah berpikiran maju dan banyak keturunan etnis Banjar yang terus sekolah hingga mampu menduduki posisi penting di pemerintahan maupun di partai politik hingga mendoiminasi poisisi di DPRD di beberapa wilayah peisisir ini.
Jalinan silaturhami antara suku banjar di pesisir Timur Sumatera dengan yang di Banua (Kalsel) terus berlanjut, baik kegiatan keagamaan dan perdagangan, hingga saling mengunjungi satu sama lain.
Untuk melihat perkembangan tersebutlah Forum Silatuhami Kulaan Banjar (FSKB) yang berada di Banjarmasin melakukan perjalanan untuk “batamuan” wan kula-kula atau Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) mulai dari Kota Jambi, terus ke Kuala Tungkal, Tembilahan dan Kota Batam Kepulauan Riau. ***Hasan Zainuddin***

abu

tungkal2

tembilahantembilahan1

batambatam1

KOMPLEKS MAKAM SYEKH ABDURRAHMAN SIDDIQ PERLU PERHATIAN

sapat

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/4 (Antara)- Kompleks pemakaman ulama besar Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad ‘Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari, yang berada di Kampung Hidayah, Sapat, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau perlu perhatian.
“Kami rombongan dari Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pekan lalu mengunjungi kompleks makam ulama keturunan Suku Banjar tersebut, kondisinya memprihatinkan,” kata Ketua Forum Silatuhami Kulaan Banjar (FSKB) Mohammad Ary di Banjarmasin, Jumat.
Menurut Mohammad Ary, kompleks yang menjadi objek wisata religi tersebut terlihat sederhana, tidak menggambarkan di lokasi tersebut bermakam seorang ulama besar mufti kerajaan Indragiri dan menyebar ilmu agama Islam di wilayah tersebut.
Sebagai contoh saja, dermaga yang dibuat sederhana, kemudian jalan menuju makam sekitar dua kilometer terbuat jalannya kecil rusak.
Kemudian masjid yang dekat makam sekarang kondisinya sedang direhabilitasi tetapi terkesan terbengkalai, karena menurut panitia masjid pembangunan masjid tersebut kekurangan dana.
“Kalau melihat pembangunan masjid tersebut paling selesai 50 persen, dan masih memerlukan perhatian untuk menyelesaikan 50 persennya,” kata Mohammad Ary bersama 14 orang rombongan yang tergabung dalam Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Kota Banjarmasin, Kalsel.
Mohammad Ary mengajak semua pihak, baik pemerintah Indragiri Hilir dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, dan masyarakat yang berada di dua wilayah tersebut mengulurkan tangannya untuk memperbaiki kompleks pemakaman yang berada di tengah pemukiman Suku Banjar perantauan tersebut, khususnya penyelasaian masjid tesebut.
Selain itu, kata Mohammad Ary ada rencana juriat atau keturunan ulama yang sering disebut sebagai “Wali Sapat,” untuk membangun pesantren di sekitar makam, dan perlu pembebasan lahan untuk pembangunan pesantren tersebut, tentu pula memerlukan dana yang membutuhkan perhatian semua pihak.
Pembangunan pesantren tersebut untuk mengembalikan kawasan tersebut sebagai lokasi kompleks pengajian agam Islam yang pernah dibangun oleh almarhum Syekh Abdurahmmad Siddiq selagi masih hidup di kawasan tersebut.
Berdasarkan ketarangan lokasi tersebut dulu dibangun kompleks pengajian oleh ulama tersebut dan santrinya bukan saja dari pulau Sumatera dan tak sedikit yang menimba ilmu berasal dari tanah Banjar Kalimantan Selatan, sehingga banyak murid-murid ulama ini yang berada di Kalimantan Selatan.
Syekh Abdurahmmad Siddiq dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan, nama lahirnya sebenarnya hanyalah Abdurrahman.
Nama “Siddiq” ia dapat dari seorang gurunya saat ia belajar di Mekkah. Ia merupakan cicit dari ulama ternama etnis Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Saat baru berusia tiga bulan, ibunda Abdurrahman Siddiq meninggal dunia, dan tak sempat mendapat asuahan sang ibunda, kemudian dirawat kakek dan neneknya. Sang kakek merupakan seorang ulama bernama Mufti H Muhammad Arsyad.
Namun baru diusia setahun, sang kakek meninggal, maka Abdurrahman Siddiq pun tumbuh dewasa hanya bersama neneknya, Ummu Salamah.
Sang nenek merupakan muslimah yang taat beribadah dan faqih beragama. Ia mendidik syekh dengan kecintaan pada Alquran. Beranjak dewasa, nenek mengirim syekh pada guru-guru agama di kampung halamannya. Ketika dewasa, Syakh makin giat menuntut ilmu agama.
Ia melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, ia masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahiran Islam, Makkah pada tahun 1887.
Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Saudi. Tak hanya di Makkah, ia pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah.
Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.
Ia diangkat oleh Sultan Mahmud Shah (Raja Muda) sebagai Mufti Kerajaan Indragiri 1919-1939 berkedudukan di Rengat dan mengabdikan diri di Kerajaan Indragiri.

selamat datang

kolam

Kolam atau tempat wudhu yang dibuat Syekh Abdurahman Siddiq selagi hidup

masjid

masjid yang belum selesai

KEMILAU “RED BORNEO” MAGNET KUNJUNGAN WISATAWAN KE MARTAPURA

Oleh Hasan Zainuddin

red borneo

Banjarmasin,17/3 () – Setiap sudut di Pasar Batuah Kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terlihat orang bergerombol, setelah didekati ternyata ada saja pedagang batu cincin emperan yang memperoleh perhatian pembeli.

“Ini asli Red Borneo pak, tuh ada urat-urat batu yang menyerupai burung, dan tembus pandang lagi,” kata seorang wanita setengah baya yang menggelar dagangannya di kaki lima di pusat keramaian kota yang berjuluk “kota Intan,” Martapura tersebut.

Gerombolan pembeli bukan saja terlihat di kaki lima, tetapi juga terlihat dietalasi pedagang batu cincin kecil-kecilan yang banyak digelar pinggir jalan kota “Serambi Mekkah” ini.

Bahkan di pusat pertokoan permata Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura pun begitu ramainya pengunjung membeli batu permata, khususnya Red Borneo.

Pembeli bukan saja masyarakat Kalsel, tetapi didengar dari bahasanya kebanyakan dari luar Kalsel, Sulawesi, Pulau Jawa, dan Sumatera, bahkan dari Malaysia.

Memang berdasarkan keterangan kunjungan wisatawan khususnya wisatawan nusantara meningkat drastis ke Kota Martapura, setelah munculnya batu cincin “Red Borneo” (merah Kalimantan) sejak empat bulan terakhir ini.

“Sekarang banyak sekali kunjungan wisatawan, khususnya pemburu batu Red Borneo dari berbagai wilayah nusantara,” kata Alfian pemilik toko batu-batu cincin, di lokasi pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura, Senin.

Alfian menuturkan, dengan banyaknya berdatangan pemburu batu Red Borneo maka perajin hampir kewalahan mengolah batu cincin tersebut, sebab para pendatang itu bukan saja membeli untuk pribadi tetapi tak sedikit yang membeli secara borongan untuk diperdagangkan lagi di daerah asal mereka.

Mereka juga bukan saja membeli batu sudah jadi tetapi tak sedikit pula yang membeli bongkahan bebatuan Red Borneo dengan sistem per kilogram, kata Alfian didampingi pedagang lainnya Kaspul Anwar.

Menurut Alfian setelah ditemukannya Red Borneo oleh seorang penduduk di Desa Kiram atau Gunung Pematun, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, maka jenis batu permata tersebut kian terkenal saja.

Apalagi setelah kontes keindahan batu cincin Red Borneo mengalahkan batu Bacan dari Ternate, ditambah Presiden Jokowi yang konon juga memakai jenis batu cincin ini, maka membuat jenis batu yang bewarna merah tersebut kian diburu pencinta dan pengoleksi batu permata.

Dampaknya, kata mereka, Kota Martapura kian diserbu, buktinya hampir semua penginapan di kota yang berjuluk “serambi Mekkah,” ini selalu penuh oleh wisatawan, bahkan setiap even kegiatan masyarakat baik yang ada di Banjarmasin, Banjarbaru, Palangkaraya, Kuala Kapuas, maka paket kunjungan selalu Ke Martapura.

Disebutkan, Red Borneo yang banyak dicari adalah yang bewarna merah polos, tetapi yang jenis kristal atau yang tembus pandang harganya bisa capai Rp35 juta, sementara yang jenis super hanya ratusan ribu hingga sejuta rupiah per biji.

Sedangkan yang Red Borneo biasa artinya bewarna-warna itu hanya sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per biji, kata Alfian.

Dengan maraknya pemburuan Red Borneo menyebabkan banyak warga Kota Martapura yang kini beralih profesi, jika dulu profesi kemasan, pengolah kayu pokah, buruh bangunan, sopir angkot, beralih jadi pengolah Red Borneo.

Pengolah batu bisa dilihat di Deka Pekauman, Kampung Melayu, Kramat, Kraton, Dalam Pagar dan desa-desa lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banjar Abdul Gani Fauzie membenaran peningkatan kunjungan wisatawan.

Ia mengatakan, meningkatnya kunjungan ke Martapura dapat dilihat dari aktivitas di pertokoan CBS yang setiap hari dipenuhi pengunjung.

Kenaikan pengunjung mencapai 100 persen lebih bahkan keramaian di pusat penjualan batu pertama itu, tidak hanya pada hari libur seperti Sabtu dan Minggu.

“Biasanya pertokoan CBS Martapura hanya ramai pada hari libur Sabtu dan Minggu, tetapi sejak awal tahun setiap hari selalu ramai pengunjung yang jumlahnya ratusan orang,” ucapnya.

Menurut dia, pengunjung yang datang bukan hanya peminat maupun kolektor batu, tetapi juga masyarakat awam yang ingin mengetahui bentuk dan keunikan Red Borneo.

“Mereka umumnya melihat-lihat seperti apa batu Red Borneo. Jika tertarik warna dan keunikannya maka bisa ikut membeli baik untuk dipakai maupun dijadikan koleksi,” ujarnya.

Ditambahkan, “booming” batu Red Borneo diperkirakan bertahan lama karena batu berbeda dengan koleksi lain seperti tumbuhan maupun hewan peliharaan lainnya.

“Batu itu semakin lama disimpan semakin bagus karena selain memiliki nilai seni, juga diyakini sebagian orang bertuah sehingga cukup banyak yang mengoleksinya,” kata dia.

Kota berlian

Berdasarkan ketarangann dulu wisatawan datang ke kota “para ulama” ini kebanyakan berburu berlian, menginat daerah ini merupakan penghasil berlian, namun belakangan setelah ditemukan Red Borneo di areal pertambangan nikel dan biji besi di Desa Kiram ini maka banyak yang beruru Red Borneo.

Kota Martapura memangs ejak lama dikenal sebagai pusatnya batu mulia sehingga banyak pendatang ke kota ini hanya untuk berburu batu mulia tersebut.

Bukan hanya berlian dan Red Borneo yang dicari pendatang ke Martapura, tetapi juga aneka permata lain, seperti zamrud, yakut, merah delima, dan aneka batu permata lainnya.

Martapura bukan saja dikenal sebagai produsen batu permata tetapi juga kota ini dikenal sebagai pusat kerajinan batu permata, terdapat ratusan perajin yang menyebar lokasinya di kota ini.

“Banyak pedagang batu permata dari berbagai negara lain, seperti dari India, Birma, Thailand, Singapura, Afrika Selatan, Malaysia, bahkan dari negara Eropa datang ke Martapura membawa bahan mentah atau bahan baku batu permata,¿ kata Muksin seorang pemilik toko permata di CBS menambahkan.

Bahan baku batu permata tersebut dijual oleh pendatang dari negtara lain itu ke perajin setempat, kemudian oleh perajin setempat diolah menjadi batu cincin, batu giwang, liontin, dan jenis batu permata lainnya.

Kemudian oleh perajin hasil olahan tersebut dijual kepada para pedagang di kota ini, makanya batu permata apa saja tersedia di CBS Martapura ini, kata Muksin lagi.

Para pedagang batu permata yang menjual bahan baku tersebut keumudian uangnya dibelikan lagi berbagai jenis olahan batu permata Martapura termasuk berlian yang kemudian dijual kembali oleh mereka ke negara asal.

Pengakuan para pedagang luar daerah, Martapura sudah memiliki nama besar di kalangan pedagang permata, kalau permata di jual di daerah lain, harganya bisa turun, tetapi kalau dijual di Kota Martapura harganya bisa meningkat.

Oleh karena itu banyak kalangan pedagang permata yang selalu ingin bertransaksi di kota ini, karena banyak pemburu permata berkeliaran di kota kecil tersebut.

Akibat dari semua itu maka kawasan pertokoan CBS Martapura benar-benar menjadi magnet uang, karena setiap hari miliyaran rupiah uang beredar di kawasan ini.

Berdasarkan catatan, batu-batuan yang menjadi perhiasan yang dijual di wilayah ini antara lain akik, biduri bulan, topas, merah siam, merah daging, merah delima, cempaka, berlian, anggur, giok, intan, kuarsa, kecubung, mutiara, mata kucing, pirus, safir, yakut, zamrud, ruby,opal, spinel, bloodstone, tashmarine, quattro, dan alexandrite.

Batu permata lain yang juga terdapat di sini tetapi belum ada nama Indonesia seperti, chrysoberyl, chrysocolla, chrysoprase, hematite, jasper, kunszite, lapis lazuli, malachite, obsidian, olivine atau peridot, pyrite, tanzanite, tourmaline.

Untuk lebih mempopulerkan Red Borneo dan menambah magnet Kota Martapura maka bupati setempat Sultan Khaerul Saleh mewajibkan seluruh pejabat lingkungan pemkab setempat memakai cincin dengan batu batu mulia khas yang juga dikenal dengan nama ruby Kalimantan (natural rhodonite). ***3***

MENYELAMATKAN SATWA UNIK BEKANTAN MELALUI EKOWISATA LAWAHAN

Oleh Hasan Zainuddin
bekantan2

 

Banjarmasin, 13/3 (Antara) – Keprihatinan terhadap kehidupan kera Bekantan (Nasalis larvatus) begitu kuat dilontarkan masyarakat, tetapi begitu hebat pula kerusakan lingkungan oleh masyarakat yang mendesak populasi satwa endemik Kalimantan tersebut.

Berdasarkan undang-undang, satwa Bekantan termasuk dilindungi, di antaranya melalui UU Nomor 7 Tahun 1999. Walau ada aturannya, tetapi kenyataannya sampai saat ini tak ada tersangka atau pihak yang dijerat melalui aturan tersebut.

Populasi Bekantan terus menyusut akibat eksploitasi hutan, baik oleh penebangan, penambangan serta alih fungsi lahan dari hutan ke kebun kelapa sawit, serta akibat kebakaran hutan belakangan ini.

Selain itu Bekantan juga diburu oleh manusia untuk berbagai kepentingan dan secara alami satwa itu juga diburu oleh buaya muara, ular sawah, biawak, dan elang laut.

Bekantan agaknya hidup tergantung dari hutan lantaran satwa ini termasuk “leaf monkey”, hidupnya bergantung dari makanan yang berasal dari daun-daunan. Di kala dedaunan di habitatnya banyak yang rusak, saat itu pula kehidupan satwa unik tersebut terancam.

Di Provinsi Kalimantan Selatan, tadinya banyak bekantan yang terlihat di mana-mana. Kawasan khusus satwa ini adalah Pulau Kaget wilayah pinggiran Sungai Barito yang berdekatan dengan Kota Banjarmasin. Tetapi karena pulau tersebut menjadi kawasan yang dieksploitasi manusia sekarang satwa tersebut sudah susah terlihat di habitatnya yang rusak itu.

Keluhan demi keluhan terhadap populasi satwa yang juga sering disebut sebagai “kera bule” ini terus terangkat ke permukaan seperti yang terakhir di Kabupaten Kotabaru.

Seperti yang dilansir media massa, seorang pemerhati lingkungan Akhyat Fauzan mengatakan, secara tidak langsung aktivitas pertambangan di Pulau Sebuku mengancam berkurangnya populasi satwa langka Bekantan.

Aktivitas pertambangan yang tidak mempertimbangan pelestarian lingkungan menyebabkan populasi Bekantan semakin menyusut, ujar Akhyat tanpa menyebutkan jumlah populasinya dengan detail.

Menurut dia, ada perusahaan yang tidak peduli terhadap kehidupan Bekantan yang mengandalkan kawasan hutan tersebut. Akhyat khawatir apabila kawasan hutan di Pulau Sebuku habis akibat aktivitas perusahaan tambang, lantas bagaimana nasib Bekantan yang jumlahnya kini terus berkurang itu.

Sungguh ironi, Bekantan yang dulu bisa hidup bebas di alam terbuka itu kini mulai tersisih karena alamnya dijadikan tempat beraktivitas perusahaan.

Namun tak semua perusahaan semata mengambil keuntungan alam tanpa memperhatikan lingkungan. Ada sebuah perusahaan di Tapin Selatan Kabupaten Tapin justru mencadangkan dana CSR untuk menyelamatkan Bekantan.

Perusahaan tersebut PT Antang Gunung Meratus (AGM) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tapin untuk melakukan rehabilitasi lahan penyelamatan Bekantan, dan lahan tersebut akan dijadikan Objek Ekowisata Lawahan.

Untuk kepentingan tersebut, Pemkab Tapin menerbitkan Surat Nomor 188.45/060/KUM/2014 tentang Penetapan Kawasan Bernilai Penting bagi Konservasi Spesies Bekantan.

Pengembangan ekowisata Bekantan melalui pembentukan tim yang berasal pemerintah daerah, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), WWF dan PT AGM.

“Wilayah Ekowisata Bekantan ini dibangun di lahan seluas 90 hektare di kanal PT AGM. Kami harap selain PT AGM, penyelamatan habitat Bekantan juga menggandeng perusahaan lainnya,” kata Deputi Direktur Umum PT AGM Budi Karya Yugi Budi kepada penulis saat mengunjungi lokasi tersebut awal Maret ini.

Menurut Budi Karya Yugi perusahaannya bersedia mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk konservasi lahan rawa yang rusak akibat terbakar dan merusak habitat kera yang menjadi maskot Kalsel tersebut.

“Kami kini sedang melakukan rehabilitasi di lahan rawa yang tadinya ditumbuhi hutan galam dan kayu Pulantan yang rusak akibat terbakar masa musim kemarau lalu, untuk menyelamatkan kera Bekantan itu,” katanya.

Menurut dia, biaya rehabilitasi lahan konservasi tersebut berasal dari dana CSR perusahaan untuk melakukan penghijauan, penanaman kembali bibit Galam, Pulantan, Lkut, dan tanaman hutan rawa lainnya.

Melalui penanaman kembali tersebut, pihaknya akan merehabilitasi pohon yang rusak terbakar dan kini sudah berdaun muda untuk makanan satwa Bekantan, sehingga sekitar 300 ekor bekantan di kawasan tersebut bisa diselamatkan.

Bahkan kawasan tersebut akan dijadikan lokasi ekowisata dan ternyata hal tersebut direspon oleh Pemerintah Kabupaten Tapin hingga menetapkan kawasan Desa Lawahan menjadi kawasan ekowisata.
Kawasan yang ditetapkan menjadi ekowisata oleh pemerintah setempat seluas 90 hektare, artinya jika perusahaan merehabilitasi lahan 16 hektare berarti ada luasan 74 hektare yang menjadi tanggungjawab pemerintah setempat untuk merehabilitasinya.

Untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah ekowisata PT AGM sudah membuatkan dermaga “klotok” (perahu motor tempel) ke wilayah tersebut, sekaligus menyediakan sarana jalan kaki dan menara pantau.

“Kita ingin pengunjung tak bersentuhan langsung atau berdekatan dengan Bekantan karena satwa tersebut terlalu pemalu atau penakut dengan pengunjung. Karena itu kita sediakan menara pantau saja. Melalui menara pantau itulah pengunjung bisa menyaksikan kehidupan kera endemik ‘Pulau Borneo’ tersebut,” katanya.

Mengutip keterangan Pemkab setempat, Budi Karya Yugi menuturkan ke depan selain bisa dilalui melalui wisata susur sungai, juga akan disediakan jalan darat dari Jalan A Yani kabupaten itu hingga ke lokasi, sehingga pengunjung bisa menggunakan mobil.

Ia mengharapkan dengan adanya konservasi tersebut akan menjadikan wilayah yang berada dekat dengan kanal pengangkutan batu bara PT AGM tersebut menjadi objek wisata andalan Kabupaten Tapin, bahkan Kalsel, karena disitulah habitat Bekantan terbanyak.

Secara terpisah Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang dipimpin ketuanya Amalia Rezeki menyatakan kegembiraannya adanya rehabilitasi lahan rawa oleh perusahaan swasta untuk menyelamatkan satwa kera hidung besar Bekantan (Nasalis larvatus) dari kepunahan.

“Kami mengajak siapapun untuk berkomitmen menyelamatkan satwa Bekantan, dan ternyata itu sudah direspons perusahaan swasta PT AGM,” kata Amalia Rezeki kepada pers di Banjarmasin, Kamis.

Didampingi pendiri SBI Feri, Amalia Rezeki menuturkan sejak ditetapkannya Bekantan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan oleh Gubernur Kalsel, melalui persetujuan DPRD tanggal 28 Maret 1990 berarti sudah 25 tahun bekantan yang menjadi ikon kebanggaan. Namun demikian perhatian terhadap bekantan dirasakan belum optimal.

Oleh karena itu dengan adanya kesediaan swasta tersebut mengkonservasi lahan diharapkan akan memancing perusahaan lain berbuat serupa, walau dana yang digunakan melalui CSR perusahaan, tambahnya.

Pihaknya pada 28 Maret 2015 berencana mencanangkan Hari Bekantan Indonesia wilayah Kalimantan Selatan yang ditandai berbagai kegiatan.

“Kami ingin mengajak semua pihak peduli terhadap satwa langka yang menjadi ikon Kalsel tersebut melalui Hari Bekantan Indonesia,” katanya seraya menyebutkan kegiatan tersebut antara lain melakukan observasi kawasan konservasi dan pelepasliaran bekantan di habitatnya.

Selain itu adanya aksi “prusiking up sling” dari Jembatan Barito serta Festival Kelotok Hias yang akan dihadiri para petinggi Kalsel, seperti ketua DPRD, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD), institusi perguruan tinggi, mahasiswa dan pelajar, kader konservasi, para aktivis lingkungan hidup, pecinta alam dan masyarakat sekitarnya.

Lokasi yang dipilih dalam kegiatan tersebut adalah Pulau Kaget yang merupakan habitat Bekantan, yang terdapat hutan rambai padi sebagai makanan utama satwa berbadan besar dan berhidung panjang tersebut.bekantan1

MENYAKSIKAN KERA BESAR “BEKANTAN” DI LAHAN KONSERVASI

bekantan1

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,6/3 (Antara)- ” Itu dia” kata pengemudi klotok (perahu metor tempel) seraya menunjuk ke beberapa ekor Bekantan (Nasalis larvatus) yang bergelantungan di pohon Pulantan, di kawasan lahan rawa Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, atau sekitar 150 kilometer Utara banjarmasin.

“Wah banyak Bekantannya,” kata Erwin seorang kameraman Banjar TV seraya membidikkan kameranya ke arah kelompok kera hidung pandang endemik Pulau Kalimantan (Boeneo) tersebut.

Dengan pelan-pelan klotok merapat ke hamparan rawa yang ditumbubi Pulantan dan tanaman galam itu. “Jangan berisik,” kata pengemudi klotok itu mengingatkan, karena bekantan terlalu peka terhadap kedatangan orang.

Ternyata benar setelah melihat kedatangan rombongan yang terdiri dari wartawan yang tergabung dalam grup “pena hijau,” Forum Komunitas Hijau (FKH) , Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), peneliti dan dari karyawan perusahaan PT Antang Gunung Meratus (AGM), itu kelompok parimata itu menjauh.

Kendati menjauh namun binatang berkulit kuning kemerahan tersebut tetap bergelantungan di atas pohon, sehingga para wartawan bisa saja mengabadikan kehidupan satwa itu melalui kamera menggunakan lensa zoom.

“Alhamdulillah, aku dapat momen yang bagus,” kata Erwin lagi seraya terus membidikkan kamera videonya ke arah kehidupan bekantan yang konon terdapat sekitar 300 ekor di kawasan yang berdekatan dengan operasi perusahaan batubara PT AGM tersebut.

Pemantauan penulis kawasan yang ada kehidupan Bekantan tersebut terlihat hutan yang rusak, kendati masih ada pohon-pohon hijau, tetapi sebagian besar sudah “meranggas,” karena lahan itu tampak bekas kebakaran.

Para kera tersebut, tampak lebih banyak berada di daratan ketimbang di atas pohon, mereka makan daun-daun pakis (kelakai) yang memang hidup merambat di daratan, dan tampak waspada terhadap kedatangan rombongan, sambil makan sambil menjauh.

Peneliti Bekantan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hadi Sukadi Alikodra mengungkapkan bahwa sekitar 300 ekor bekantan yang hidup di sekitar kawasan pertambangan dan perkebunan sawit di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, sempat mengalami stres akibat kebakaran lahan.

Menurut Alikodra di Banjarmasin, bekantan yang sebelumnya hidup di kawasan konservasi dan ekowisata yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Tapin bersama perusahaan tambang PT AGM terpaksa harus mencari rumah baru untuk melanjutkan hidup.

“Pada saat kebakaran lahan, seluruh bekantan yang ada di kawasan konservasi harus lari menyeberang sungai, untuk menyelamatkan diri,” katanya.

Pada musim kemarau 2014, kebakaran lahan cukup besar terjadi di kawasan perkebunan sawit, hingga membakar puluhan hektare kawasan konservasi, tempat para bekantan tersebut hidup.

Petugas dari beberapa perusahaan yang ada di sekitar wilayah tersebut, bisa memblok beberapa bagian kawasan, sehingga tidak ikut terbakar, sehingga bisa dimanfaatkan untuk melanjutkan hidup para bekantan.

Saat ini, para bekantan tersebut, kembali hidup dan berkembang biak, di kawasan hutan Galam dan Pulantan yang ada di sepanjang pinggiran sungai di wilayah Lawahan atau Muning, Kabupaten Tapin.

Sementara peneliti Bekantan dari Universitas Lambung Mangkurat Profesor Arif Soendjoto mengatakan, kini Bekantan tersebut juga makan rumput, kemungkinan karena makanan berupa daun Pulantan dan daun Galam tidak mencukup lagi.

Mempertahankan keberadaan hewan endemik khas Kalimantan tersebut, Pemkab Tapin bersama PT AGM menyiapkan lahan untuk konservasi Bekantan.

Dalam rangka melindungi habitat Bekantan, Pemkab Tapin menerbitkan Surat Nomor 188.45/060/KUM/2014 tentang Penetapan Kawasan Bernilai Penting bagi Konservasi Spesies Bekantan.

Pengembangan ekowisata Bekantan benbentuk tim yang berasal pemerintah daerah, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), WWF dan PT AGM.

“Wilayah Ekowisata Bekantan ini dibangun di lahan seluas 90 hektare di kanal PT AGM, kami harap selain PT AGM, penyelamatan habitat Bekantan juga menggandeng perusahaan lainnya,” kata Deputi Direktur Umum PT AGM Budi Karya Yugi Budi.

Menurut Budi Karya Yugi perusahaan bersedia mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk konservasi lahan rawa yang rusak akibat terbakar dan merusak habitat kera yang menjadi maskot Kalsel tersebut.

“Kami kini sedang melakukan rehabilitasi di lahan rawa yang tadinya ditumbuhi hutan galam dan kayu Pulantan yang rusak akibat terbakar masa musim kemarau lalu, untuk menyelamatkan kera Bekantan itu,” katanya.

Menurut dia, rehabilitasi di lahan konservasi tersebut adalah berasal dari dana CSR perusahaan untuk melakukan penghijauan, penanaman kembali bibit Galam, Pulantan, Lkut, dan tanaman hutan rawa lainnya.

Melalui penanaman kembali tersebut, akan merehabilitasi pohon yang rusak yang terbakar dan kini sudah berdaun muda untuk makanan satwa Bekantan, sehingga sekitar 300 ekor bekantan di kawasan tersebut bisa diselamatkan.

Bahkan kawasan tersebut akan dijadikan lokasi ekowisata dan ternyata hal tersebut direspon oleh Pemerintah Kabupaten Tapin hingga menetapkan kawasan Desa Tandui dan Lawahan menjadi kawasan ekowisata.
Kawasan yang ditetapkan menjadi ekowisata oleh pemerintah setempat seluas 90 hektare, artinya jika perusahaan merehabilitasi lahan 16 hektare berarti ada luasan 74 hektare yang menjadi tanggungjawab pemerintah setempat merehabilitasinya.

bekantan2

Untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah ekowisata PT AGM sudah membuatkan dermaga “klotok” (perahu motor tempel) ke wilayah tersebut, sekaligus menyediakan sarana jalan kaki sekaligus menara pantau.

“Kita ingin pengunjung tak bersentuhan langsung atau berdekatan dengan Bekantan karena satwa tersebut terlalu pemalu atau penakut dengan pengunjung, karena itu kita sediakan menara pantau saja, mulai menara pantau itulah pengunjung bisa menyaksikan kehidupan kera endemik pulau Borneo tersebut,” katanya.

Mengutip keterangan Pemkab setempat, Budi Karya Yugi menuturkan kedepan selain bisa dilalui melalui wisata susur sungai, juga akan disediakan jalan darat dari Jalan A yani kabupaten itu hingga ke lokasi, sehingga pengunjung bisa pakai mobil.

Ia mengharapkan dengan adanya konservasi tersebut akan menjadikan wilayah yang berada dekat dengan kanal pengangkutan batubara PT AGM tersebut menjadi objek wisata andalan Kabupaten Tapin, bahkan Kalsel, karena disitulah habitat Bekantan terbanyak.

Secara terpisah Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang dipimpin ketuanya Amalia Rezeki menyatakan kegembiraannya adanya rehabilitasi lahan rawa oleh perusahaan swasta untuk menyelamatkan satwa kera hidung besar Bekantan (Nasalislarvatus) dari kepunahan.

“Kami mengajak siapapun untuk berkomitmen menyelamatkan satwa Bekantan, dan ternyata itu sudah direspons perusahaan swasta PT AGM,” kata Amalia Rezeki kepada pers di Banjarmasin, Kamis.

Didampingi pendiri SBI Feri, Amalia Rezeki menuturkan sejak ditetapkannya Bekantan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan oleh Gubernur Kalimantan Selatan, melalui persetujuan DPRD tanggal 28 Maret 1990 berarti sudah 25 tahun bekantan yang menjadi ikon kebanggaan, namun demikian perhatian terhadap bekantan dirasakan belum optimal.

Oleh karena itu dengan adanya kesediaan swasta tersebut mengkonservasi lahan diharapkan akan memancing perusahaan lain berbuat serupa, walau dana yang digunakan melalui dana CSR perusahaan, tambahnya.

lahan

TAMBANG ADARO KALSEL SUGUHKAN “RACUN” ATAU “MADU”

guekolam adaro

 

 

 

 

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 2/3 (Antara) – Munculnya air berwarna susu di Sungai Balangan beberapa waktu lalu melahirkan aneka kecemasan di kalangan masyarakat di sekitar operasi tambang batu bara PT Adaro Indonesia di Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Perubahan lingkungan air sungai yang menjadi tumpuan kehidupan ribuan masyarakat di wilayah utara Provinsi Kalimantan itu konon pertama kali dalam sejarah. Dengan serta-merta tudingan ditujukan ke perusahaan tambang pemegang kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi I Nomor J2/J.I.DU/52/82 tanggal 16 November 1982 itu.

Menurut informasi keruhnya air Sungai Balangan akibat limbah tambang yang ada di tandon penampungan meluber lantaran hujan, lalu masuk masuk sungai.

Hal itu hanya salah satu tudingan miring keberadaan perusahaan emas hitam yang merupakan kontraktor dari pemerintah Indonesia. Masih ada “sejuta” persoalan lingkungan yang dilontarkan berbagai kalangan yang mengaku pencinta lingkungan terhadap perusahaan besar yang menandatangani kontrak selama 30 tahun itu.

Tudingan lain, merebaknya air limbah ke persawahan, berhamburannya debu ke udara yang konon membawa perubahan keasaman tanah lingkungan sekitar, bahkan rusaknya biota sungai serta habitat flora fauna lainnya di daratan sekitar tambang.

“Dahulu di wilayah tambang ini ada beberapa buah bukit atau gunung, menjadi lokasi bagi warga berburu rusa, kancil, atau mencari beberapa burung. Akan tetapi, sekarang sudah tidak ada lagi karena menjadi lahan tambang,” kata seorang warga.

Keluhan demi keluhan terus muncul di kalangan masyarakat terhadap kehadiran perusahaan penyuplai produk tambang batu bara terbanyak di Tanah Air itu yang diyakini bakal menyuguhkan bencana besar.

Selain persoalan di atas masih ada keluhan berupa adanya peledakan-peledakan tanah oleh petugas tambang yang konon pula dipercayai akan mengubah struktur tanah yang bisa menyebabkan gempa.

Kekhawatiran lainnya adalah kehadiran puluhan tandon raksasa bak “bumi menganga” di beberapa lokasi tambang perusahaan yang sudah beroperasi sejak 1992 dan pada tahun 2014 memproduksi 55.321.427 ton ini.

Belakangan tersiar kabar atau isu yang cukup “mengerutkan kening”, yakni persoalann ganti rugi lahan penduduk setempat yang dicadangkan untuk lahan tambang yang konon pula ditunggangi oleh kegiatan para “mafia” yang kesemuanya perlu penanganan dan kearifan karena hal itu bisa melahirkan konflik sosial.

Walau keluhan bertubi-tubi terus dimunculkan, tidak ada yang bisa menahan terus beroperasinya perusahaan yang dahulunya milik pemodal asing yang kini beralih ke modal nasional itu.

Buktinya setelah selesai penambangan di Kabupaten Balangan perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta ini terus merambah operasinya ke Tutupan dan Wara ke Kabupaten Tabalong, bahkan ke Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah.

Terus beroperasinya pertambangan skala besar itu karena tak terbukti melahirkan apa yang dikhawatirkan tersebut.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami melakukan penambangan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan pemerintah, terutama untuk menjaga lingkungan,” kata Kepala Teknik Tambang PT Adaro Iswan Sujarwo.

Seperti dijelaskan Iswan Sujarwo yang didampingi Humas PT Adaro Kadarisman saat menerima 20 orang peserta kegiatan Jurnalistik Tambang 2015 di Kantor PT Adaro Dahai Paringin, 17–19 Februari 2015.

Tak adanya persoalan lingkungan itu setelah pihak manajemen perusahaan terus mengupayakan rehabilitasi bekas tambang, seperti reklamasi, penghijauan, dan pengolahan air limbah yang sistimatis.

Menurut dia, setiap usaha tambang yang dilakukan selalu dibarengi dengan pemikiran pengembalian lingkungan yang persis seperti asal. Maka, setiap penggalian lubang tambang, akan ada reklamasi dengan menyelamatkan tanah pucuk (top soil)
Usai penambangan, material tanah (disposal) dikembalikan, termasuk tanah pucuk (humus), sehingga areal tersebut bisa ditanami aneka tanaman penghijauan hingga alam kembali seperti sediakala (semula jadi).

“Lihat saja alam ini, ini bekas tambang,” kata Kadarismnan, Humas PT Adaro, tatkala mengajak wartawan yang tergabung dalam jurnalistik tambang tersebut ke lokasi penghijauan lokasi tambang Paringin.

Dalam pemantauan penulis lokasi bekas tambang Paringin tampak asri dengan pohon-pohon menjulang, sementara terdapat beberapa danau yang begitu jernih dan riak-riak air akibat ikan-ikan yang hidup di dalamnya.

Sementara itu, tanaman air seperti genjer, kangkung, teratai, dan keladi masih hidup dan subur di pinggiran danau yang menandakan alam itu sudah kembali seperti semula.

Beberapa wartawan yang tergabung dalam kegiatan tersebut mengaku betah berlama-lama berada di kawasan hutan hasil reklamasi tersebut sebab udaranya terasa dingin di bawah pehononan yang rindang, apalagi di lokasi itu ada sebuah bangunan pendopo konstruksi beton sebagai tempat istirahat atau pertemuan.

“Wah, asyik juga juga bertamsaya ke lokasi ini, bisa bermalam dan berkemah,” kata Fahruraji, wartawan Radio Smart FM.

Sementara itu, wartawan LPP RRI mempertanyakan kepada petugas soal kepemilikan lahan setelah usainya operasi tambang ini.

“Lahan ini kan tidak ada bertuan kan, berarti boleh dong kita minta barang sedikit,” katanya sambil bercanda.
Seorang petugas bernama Pristo Janu menuturkan bahwa lahan bekas usaha pertambangan yang sudah dikembalikan layaknya sebagai alam asal seluas 260 hektare di lokasi tambang Paringin ini.

Setelah ada pohon pelindung kini diusahakan menanam jenis tanaman hutan yang lokal.

Ia menjelaskan bahwa penghijauan kawasan itu bekerja sama dengan Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru.

“Kalau di areal baru reklamasi seperti di Tutupan atau di Wara Kabupaten Tabalong masih tidak mungkin langsung ditanami tanaman asal karena belum tersedia tanaman pelindung, sudah banyak dicoba di sana tetapi mati. Namun, jika sudah hijau seperti ini, tanaman asal akan hidup,” tuturnya.

Selain itu, di dua lokasi Kabupaten Tabalong itu sebagian besar masih beraktivitas tambang karena pengambilan batu bara masih berlangsung sehingga hanya sedikit yang direklamasi.

Tanaman asal tersebut seperti tanaman ulin (Eusideroxylon zwageri), meranti merah (Shorea leprosula), balangeran (Shorea balangeran), gaharu (Aquilaria malaccensis), hopea (Hopea adorata), mersawa (Anisoptera marginata), Pulai (Alstonia scholaris), Jabon (Anthoecephalus cadamba), dan Kemiri Sunan (Aleurites trisperma).

Selain sudah berkembang biaknya jenis tumbuhan juga sudah pula berdatangan aneka satwa karena tersedianya air untuk minum dan makanan bagi satwa-satwa tersebut.

“Berdasarkan penelitian kini sudah hidup 76 spesies burung. Mereka mengonsumsi buah-buahan dan nektar dari bunga-bunga pohon sehingga suasana alam ditandai alunan simponi burung-burung tersebut,” tutur Pristo Janu.

Semua kegiatan pengembalian alam lingkungan ini sejak Juni 2009 sampai dengan sekarang, seperti vegetasi, pola perlakuan vegetasi, pembuatan desain penelitian uji jenis dan penanaman pengayaan, penanaman pada plot uji jenis, pengamatan uji jenis, dan penyulaman tanaman.

Untuk melakukan penghijauan ini, PT Adaro juga memiliki lahan pembibitan di kawasan tambang Tutupan dengan luas sekitar 2 hektare dengan kapasitas sekitar70.000–130.000 bibit dengan produksi rata-rata sekitar 10.000–30.000 bibit per bulan.

Dipembibitan ini aneka jenis tanaman dibibitkan, seperti tanaman akasia, durian, pinus, cempedak, angsana, nyamplung, albazia/sengon, ramania, pioner, jambu air, mahang, flamboyan, bambu, kasturi, sungkai (lurus), kemiri, halaban, spatudea, cemara, daun salam, kayu manis, dan lamtoro.

Kemudian, kayu galam, eukalyptus, jeruk, kaliandra, nangka, gulinggang, cery, gamal, asam jawa, turi, pinang, johar, sunan, jati putih/gmelina, kopi, jarak, rambutan, kayu hutan, kepu, kelapa sawit, kupang, meranti, sirsak , ketapang, eboni, terembesi, pongamia gaharu, sukun , mahoni, kesambi, waru, kayu putih, pulai, mangga, dan paku-pakuan.

Air Limbah

Seorang karyawati berseragamkan pakaian perusahaan tampak tidak canggung menenggak segelas air putih yang ngocor di keran sebuah penampungan air hasil olahan dari air bekas tambang untuk mengobati dahaganya.

“Silakan minum,” kata karyawati tersebut ketika menyambut kedatangan wartawan yang berkunjung ke lokasi ini.

“Ini aman dan sehat,” katanya lagi seraya mengambilkan beberapa gelas kepada wartawan yang ikut dalam kegiatan jurnalistik tambang.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya pengolahan air bersih di lokasi tambang ini dinamakan Water Treatment Plant (WTP) T-300 ini diresmikan Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, Selasa, 2 Juni 2013.

Berdasarkan pemberitaan tersebut, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin menghadiri peresmian pemakaian WTP ini. Waktu itu Gubernur mengungkapkan bahwa ini adalah langkah yang baik dari Adaro, yang memanfaatkan lahan bekas tambang untuk menampung air hujan dan air limbah sebelum diolah agar sesuai baku mutu untuk dialirkan ke sungai.

“Volume airnya amat besar dan ini menjadi sumber yang baik untuk masyarakat,” katanya waktu itu.

Pada acara tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengungkapkan bahwa hal itu memang menjadi kewajiban perseroan untuk memastikan tersedianya air bersih untuk warganya.

“Jadi, perusahaan tidak melulu memikirkan soal untung, tetapi juga soal sosial dan kelestarian alam,” ujarnya.

Menurut seorang petugas WTP Norvie Yudi kepada wartawan tim jurnalistik tambang bahwa keberadaan WTP sangat membantu karyawan dan masyarakat untuk kebutuhan air bersih yang kapasitasnya mencapai 20 liter per detik.

Air bersih tersebut, kata dia, disuplai ke berbagai warga lingkungan tambang yang kesulitan air bersih sehingga warga benar-benar terbantu. Sebanyak 650 kepala keluarga (KK) telah memperoleh suplai air bersih secara cuma-cuma selama 24 jam dengan sistem jaringan pipanisasi.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Desa Dahai Muhamad Yusuf yang diakuinya warga selalu memperoleh air bersih dari PT Adaro. Bagi mereka, hal itu merupakan berkah yang bisa dirasakan keberadaan perusahaan.

“Wilayah kami memang sulit air bersih karena jauh dari sungai, sementara air tanah selain sulit dicari. Seandainya ada, kualitasnya juga takbersih. Oleh karena itu, sumbangan perusahaan kepada warga sangat disyukuri,” katanya kepada para wartawan jurnalistik tambang yang datang bukan saja dari Banjarmasin, melainkan juga dari Kalimantan Tengah.

Ia mengatakan bahwa air dari perusahaan tersebut tidak saja untuk mandi dan cuci, tetapi juga menjadi air minum.

“Selama ini, tidak ada masalah, berarti air tersebut sehat saja,” kata Muhamad Yusuf.

Dalam upaya mengolah air limbah bekas tambang itu, bukan saja langsung dibuat air bersih, melainkan juga tidak sedikit diolah lagi dengan sistematis sesuai dengan teknik pengendalian limbah oleh manajemen perusahaan anak usaha PT Adaro Energy Tbk., yakni PT Adaro Indonesia.

Hal itu dengan membuatkan beberapa tandon raksasa sebagai penampungan air limbah, seperti tandon pertama, tandon kedua, dan tandon seterusnya hingga tandon terakhir.

“Pada tandon terakhir inilah air diolah hingga jika air dilepas ke sungai sudah tak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Misalnya, menurunkan tingkat keasaman air ke titik normal,” kata Humas Adaro Kadarisman yang didampingi anggota Humas lainnya Iksan.

Untuk memastikan air limbah tersebut tak berbahaya, di beberapa tandon diujicobakan budi daya udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dan ikan nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia).

Upaya budi daya air bekas galian tambang itu hasil kerja sama dengan LIPI Limnologi Cibinong Bogor. Upaya ini adalah untuk memberikan sesuatu yang terbaik kepada masyarakat sekitar tambang sebagai salah satu program pascatambang melalui usaha perikanan.

Berdasarkan hasil analisis daging udang dan ikan nila, BEST dinyatakan layak dan aman untuk dikonsumsi berdasarkan baku mutu yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk batas maksimum cemaran logam berat dalam pangan.

Melihat kenyataan tersebut, sulit dikatakan jika operasi pertambangan yang memperkerjakan 23.212 orang ini tidak memperhatikan lingkungan, apalagi semuanya bebas diawasi oleh siapa pun, termasuk wartawan. Tampaknya tidak ada yang ditutup-tutupi.

Usaha tambang dengan subkontraktor lebih dari 170 perusahaan didukung 70 persen perusahaan yang berasal dari sekitar wilayah operasi ini juga sudah pula memberikan berkah bagi masyarakat sekitar tambang melalui dana CSR untuk konservasi hutan, budi daya perikanan
ekonomi, irigasi perikanan, pertanian, sosial, pendidikan, wisata, olahraga, budaya–seperti pengembangan kesenian daerah–, dan keagamaan, serta aneka kegiatan masyarakat.

Memang cukup sulit menghitung berapa banyak dana yang dikeluarkan perusahaan penyuplai batu bara PLTU Pulau Jawa dan Bali ini untuk kebutuhan CSR.

“Wah, cukup banyak, kan sudah lama perusahaan ini beroperasi,” kata Manager Corporate Social Responsibility (CSR) Idham.

Ia meminta jangan dilihat berapa nilai yang dikeluarkan perusahaan untuk CSR. Akan tetapi, seberapa jauh dampak CSR teradap kemajuan masyarakat.

Berdasarkan informasi sudah ribuan pelajar dan mahasiswa yang memperoleh beasiswa perusahaan, sudah begitu banyak sarana olahraga, tempat ibadah, dan sarana lainnya memperoleh perbaikan melalui CSR, termasuk bantuan bibit tanaman karet dan tanaman kebun buah-buahan lainnya.

Memang sulit untuk menghitung keuntungan masyarakat terkait dengan kehadiran perusahaan yang menghasilkan batu bara jenis Envirocoal yang dipasarkan ke 18 negara ini sebab selain SCR, juga ada kontribusi pajak, kemudian berupa royalti yang dikelola pemerintah pusat, kemudian setelah dibagi sebagian kembali ke daerah ini. Anggaran itu tentu jumlahnya sangat besar.

Bukti lain yang bisa menggambarkan keuntungan daerah terkait dengan kehadiran perusahaan ini adalah kemajuan pembangunan wilayah Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong, khususnya Kota Paringin dan Kota Tanjung, yang melebihi kemajuan kota lainnya di 13 kabupaten dan kota lain di wilayah ini.

Kemajuan itu tak dipungkiri pula oleh siapa pun bahwa semuanya berkat kehadiran perusahaan ini.

Walau kontribusi perusahaan terhadap daerah tak dipungkiri begitu besar, sebagian warga masih merasa belum puas. Pasalnya, kalau melihat Undang-Undang Dasar Pasal 33 sumber daya alam dikelola negara untuk kesejahteraan masyarakat, menurut mereka, rasanya belum seimbang dengan berapa banyak produksi batu bara yang sudah keluar dari perut bumi daerah ini.

“Susah membayangkan berapa banyak uang hasil tambang sejak operasi 1992 hingga 2015. Produksinya sudah mencapai 55 juta per tahun yang 2015 ini ditargetkan 65 juta ton. Kalau itu untuk kesejahteraan, tentu masyarakat sudah sejahtera. Akan tetapi, kenyataannya masih banyak warga sekitar tambang yang miskin,” kata seorang warga.

Oleh karena itu, disarankan agar perusahaan tidak sekadar menghadiahkan royalti, pajak, dan CSR, tetapi hendaknya ada ketentuan lagi yang mewajibkan sebagian keuntungan perusahaan harus dikembalikan kepada masyarakat wilayah ini.

Bila kehadiran perusahaan sudah benar-benar memberikan kesejahraan kepada masyarakat, anggapan PT Adaro hanyalah menghadirkan “racun” akan berubah pandangannya hingga memunculkan anggapan kehadirannya menyuguhkan “madu”.

 

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 260.000 kali di 2014. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 11 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.