BANJARMASIN KOTA TEPIAN YANG TERTINGGALKAN

Oleh Hasan Zainuddin

Beberapa kali muncul pertanyaan, siapa yang mendesain bentuk Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan? walau pertanyaan itu sering muncul tetapi tak ada jawaban yang pasti mengenai pertanyaan tersebut.jimiefoto Jimie.

Lantaran tak ada jawaban yang pasti siapa perancang kota yang berjuluk “wilayah dengan seribu sungai” tersebut maka munculah anggpapan Banjarmasin hanyalah sebuah pekampungan besar yang nyaris tanpa ada perencanaan dan berkembang sendirinya menjadi sebuah kota yang modern seperti saat ini.

Dengan berkembangnya secara alamiah maka Banjarmasin menjadi sebuah kota yang “banci” di katakan kota sungai, tetapi perkembangannya lebih dominan ke darat, di katakan kota darat tetapi dominasi kehidupan masyarakatnya justru lebih ke sungai.

Budaya warga Banjarmasin yang kini berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa diwilayah sekitar 98 kilometer persegi itu lebih banyak ke sungai mengingat wilayah ini terbelah2 oleh sungai besar dabn kecil, Sungai Barito dan Sungai Martapura adalah sungai terbesar.

Banjarmasin tadinya terdapat 150 sungai tetapi karena pembangunan terus berkembang maka yang bisa dikatakan sungai sekarang ini tinggal 102 buah, selebihnya mati lantaran sidementasi, diserang gulma dan sampah, dan tersita akibat pembangunan perumahan, pertokoan, dan pembangunan fisik lainnya.

Dikatakan mati lantaran sungai tersebut tak mampu berfungsi lagi sebagai penyedia air baku untuk air minum, tak lagi bisa menjadi lokasi mandi dan cuci, tak berfungsi sebagai drainase, apalagi untuk transportasi air.

Dulu sungai-sungai benar-benar berfungsi sebagai sarana tarsnportasi, baik sebagai sarana angkutan ekonomi, angkutan anak skolah, angkutan masyarakat umum, melalui armada yang disebut jukung, klotok (perahu bermesin) spead boat, dan getek.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir pemerintah setempat membangun jalan darat bagaikan sarang laba-laba termasuk akses ke badan-badan sungai melalui jembatan, warga terbiasa menggunakan sampan sudah berpindah menggunakan sepeda, sepeda motor, atau mobil.

Dampak yang dirasakan sungai tak lagi terawat dengan baik, diserang gulma, tempat pembungan sampah, dan tak lagi sebagai sarana transportasi yang dominan, bahkan sungai tercemar logam berat, bakteri e-coli, kadar keasaman yang tinggi, dan mudah terintrusi air laut.

Dampak lainnya lagi, aktivitas ekonomi di sungai fraktis mati, beberapa lokasi pasar terapung tinggal kenangan, warung-warung terapung sudah kian langka, beca-beca air sudah tak tampak lagi, tinggal sedikit klotok sebagai angkutan, itupun lebih banyak sebagai angkutan wisata melalui paket susur sungai.

Akibat arah pembangunan Kota Banjarmasin yang serba tanggung itu bisa dilihat dari pembangunan jalan raya, walau pun tersedia tetapi jalan itu sempit-sempit hingga menimbulkan kemacetan dimana-mana, sementara angkutan sungai yang bisa diandalkan sebagai angkutan massal belum dilirik sebagaimana mestinya.

Memang ada kemauan politik Pemkot setempat untuk menghidupkan lagi “napas” sungai melalui pembangunan siring yang akan menjadi lokasi “Water Front City” seperti di Siring Sudirman, Siring Tendean, siring RK hilir, dan siring Martadinata yang direncanakan sepanjang lima kilometer, dan sudah terealisasi sekitar tiga kilometer lebih.

Sarana wisata pun terus dilengkapi di kawasan “water front city” tersebut seperti pusat jajajan, pusat olahraga, patung bekantan, menara pandang, pasat terapung buatan, dan tempat hiburan rakyat.

Dengan upaya tersebut sungai kini mulai beringsut lagi sebagai “magnet” ekonomi dan daya pikat kunjungan orang tak kurang dari 5000 pengunjung setiap minggu ke lokasi siring-siring yang dibuat kontruksi beton tersebut.

Pemkot Banjarmasin sendiri bertekad lagi menjadikan sungai sebagai “beranda” depan yang artinya arah pembangunan kawasan sungai jadi perioritas kedepan, tetapi setelah munculnya aturan pemerintah pusat yang baru, akhirnya Dinas Sungai dan Drainase yang merupakan bagian SKPD yang khusus mengurusi sungai ditiadakan, dan hanya sebagai bidang di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Dengan perubahan status SKPD dinas sungai hanya masuk dalam bidang di Dinas PUPR tentu konsekwensinya dana untuk sungai diciutkan drastis, maka muncullah pertanyaan mampukan Pemkot menjadikan sungai sebagai beranda depan.

Ada yang menganggapakn keinginan itu hanya slogan semata, tetapi ada juga yang optimis hal itu bisa dilakukan dengan menggerakkan partisipasi masyarakat, melalui perusahaan-perusahaan swasta, dana CSR, atau melalui komunitas yang menghimpun kekuatan merubah lagi wajah sungai menjadi sebuah kota tepian yang modern dengan nilai jual tinggi khususnya pariwisata menyaingin Vinisia Italia, Belanda, Hongkong, ataupun Bangkok Thailand.

 

aneka video tentang Banjarmasin

 

 

 

 

 

“PWR” BUKTI KENTALNYA TOLERANSI BERAGAMA

1

Oleh Hasan Zainuddin
Di antara orang berjilbab, bersarung, berkopiah haji, dan berbaju koko, tak sedikit pengunjung Pasar Wadai Ramadhan (PWR) atau Ramadhan Cake Fair (RCF) yang digelar setiap Ramadhan di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, yang bermata sipit dan berkulit putih, atau yang berhidung mancung datang membeli penganan di lokasi tersebut.
Belum lagi, kadangkala berbaur juga pembeli berbaju biarawati, atau yang berkepala gundul dan berpakaian kuning-kuning ikut berjubel di tengah ribuan pengunjung pasar yang hanya muncul setiap bulan Ramadhan itu.
Selain itu, kedatangan sekelompok wisatawan bule yang dipandu para peramuwisata yang seringkali berbaur di tengah keramaian pasar penganan itu, membuktikan bahwa PWR bukanlah untuk kepentingan satu golongan agama saja.
“Banyak pembeli kue khas Banjar yang dikenal dengan kue 41 macam adalah orang-orang Cina,” kata Ibu Maspah, seorang dari ratusan pemilik kios dagangan di pasar wadai Ramadhan yang berada di bilangan Jalan RE Martadinata, depan balaikota Banjarmasin itu.
“Orang Cina biasanya berani membeli agak mahal dagangan saya, sehingga saya bisa lebih untung, ” kata Ibu Maspah.
Didingar dari cara bicaranya kebanyakan orang Cina yang berbelanja ke pasar wadai tersebut adalah mereka yang memang sudah lama tinggal di Banjarmasin, serta kota-kota lain di Kalsel, umumnya mereka adalah orang kaya dan dari kalangan pedagang.
Namun, berdasarkan keterangan, mereka orang Cina itu tak sedikit mengajak keluarga mereka dari Pulau Jawa serta daerah lain khusus datang menikmati penganan khas Kalsel di pasar tersebut.
Sementara kedatangan kalangan wisatawan mancanegara (Wisman) yang mengenakan pakaian celana pendek, kaos senglet, kaos oblong, baik wisman pria dan wanita tak masalah berada di lokasi ini.
Bahkan ada dari mereka setelah membeli penganan langsung menyantap di lokasi itu juga, tidak mengerti bahwa saat itu lagi bulan puasa, namun oleh masyarakat setempat hal itu dimaklumi saja.
Menurut para pedagang, akibat banyaknya pendatang non-muslim di lokasi itu menyebabkan harga penganan dan masakan lebih mahal dibandingkan di tempat lain, dan berapa pun banyaknya barang dagangan hampir bisa dipastikan akan habis terjual.
Deobora (35), warga Banjarmasin yang beragama Kresten, mengaku dia selalu menunggu kehadiran pasar Ramadhan ini, karena momen ini benar-benar memberikan kesenangan bagi keluarganya.
“Keluarga kami hampir tiap hari membeli makanan di pasar Ramadhan tersebut, banyak pilihan makanan, begitu juga penganan aneka ragam, sulit didapati hari lain,” kata Deobora yang dikenal sebagai seorang PNS di lingkungan Pemko Banjarmasin tersebut.
Memang Pemkot Banjarmasin sendiri membangun lokasi destinasi wisata tahunan saat Ramadhan ini bukan semata untuk umat Islam, tetapi diciptakan untuk semua golongan, bahkan dijadikan kalender kepariwisataan tahunan yang terus dipublikasikan ke dunia luar sebagai andalan kepariwisataan Kalsel.
Banyak fungsi di pasar ini selain sebagai objek wisata, juga sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa), serta sebagai sarana pelestarian budaya.
Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk ngabuburit.
Atau, sekelompok wisman begitu asyik membidik-bidikan kamera ke para pedagang atau pembeli yang sedang bertransaksi di lokasi itu, sedangkan yang lain ikut berjubel begitu asyik mencari-cari kue-kue tradisional yang juga hanya muncul pada saat digelarnya pasar tersebut.
Selain penganan dan makanan di sana terdapat sekitar 41 macam kue khas dan tradisonal Suku Banjar, bahkan banyak di antaranya sebenarnya adalah kue-kue yang langka.
Sebagai objek wisata maka keberadaan pasar ini pun diciptakan sedemikian rupa bernuansa budaya Suku Banjar yang merupakan suku terbesar di daratan Kalsel.
Menurut keterangan pasar ramadhan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.
Mulai tahun 80-an oleh Pemkot Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair). Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.
Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar pula berbagai pertunjukan rakyat, seperti kesenian tradisional, seperti madihin, lamut, rebana, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.
Setiap pertunjukan selalu saja memperoleh sambutan hangat dari masyarakat, terutama kawula muda yang berdatangan bukan saja dari Kota Banjarmasin sendiri tetapi dari kota sekitarnya. Seperti tahun ini, lokasi pertunjukan persis di tengah pasar sehingga memudahkan pengunjung untuk menikmati seni tradisi tersebut.
Pasar Wadai ini tidak hanya dimaksudkan untuk melestarikan seni budaya setempat, tetapi juga untuk melestarikan penganan tradisional khas Kalsel.
“Banyak penganan (kue) yang hampir punah lantaran jarang ditemui di hari biasa, bisa ditemukan pada saat pegelaan pasar Ramdahan ini, yang membuktikan kegiatan tahunan ini mampu melestarikan budaya membuat penganan tersebut,” kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Banjarmasin, Jimmie Khuzain.
Masyarakat suku Banjar yang tinggal di Kalsel dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kekayaan budaya khususnya penganan tradisional, namun beberapa jenis penganan tersebut kini nyaris punah.
Menurut keterangan terdapat 41 macam penganan tradisional Suku Banjar yang dikenal selama ini, tetapi tak sedikit penganan tradisional itu yang tak lagi terdata dan diketahui.
Dari 41 macam itu saja mungkin belasan yang nyaris punah, dan penganan itu muncul bila ada hajatan, kenduri, atau acara ritual lainnya di masyarakat Suku Banjar.
Penganan tradisional yang nyaris punah itu antara lain seperti kue kelalapon, kue kakikicak, sasagon, cucur, wajik, cangkarok batu, bubur habang, bubur putih, apam habang, apam putih, bingka barandam, garigit, ilat sapi, dan wadai satu.
Di antara penganan tersebut seringkali dibuat hanya kebutuhan ritual atau kebutuhan kenduri karena diyakini kue-kue itu kalau dimakan diyakini akan membawa berkah.
Penganan itu hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.

 

SUSUR SUNGAI MALAM TREN BARU WISATA RAMADHAN

 

 

kapalOleh Hasan Zainuddin
Naik kelotok (perahu bermesin) seraya menikmati semilir angin malam bermandikan lembutnya cahaya lampu listrik jalanan yang menerobos masuk ke areal sungai merupakan tren baru wisata susur Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, selama bulan Ramadhan ini.
Bermodalnya hanya rp5 ribu rupiah per orang tarif yang dikenakan angkutan air ini dalam sekali berlayar yang menyebabkan banyak kaum remaja usai terawih menyempatkan diri secara berkelompok naik perahu unik kelotok ini menyusuri ruang demi ruang lokasi sungai yang membelah wilayah yang berjuluk “kota seribu sungai.” ini.
Biasanya mereka datang ke destinasi wisata unik ini secara rombongan, sesama kawan sekolah, atau sesama alumni sekolah, perguruan tinggi lalu reunian, sambil ngobrol di atas kapal yang berlayar ke sana ke mari sepanjang lima kilomtere wilayah kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa tersebut.
Para penikmat wisata susur sungai ini biasa selalu tak membuang waktu menikmati wisatanya dengan berfoto bareng, selfie, bahkan saat berada di atas kapal kelotok yang membawanya melewati kawasan andalan susur sungai wilayah tersebut, seperti lokasi patung Bekantan (kera hidung besar), menara pandang, jembatan merdeka, jembatan pasar lama, dan pasar terapung, Pasar Wadai Ramadhan, serta pemukiman atas air (lanting) yang banyak ditemui di kawasan tersebut.
“Saya suka naik kelotok malam hari, lantaran suasananya yang beda dibandingkan siang, selain hawanya dingin tak panas, juga mata bisa memandang ke berbagai lokasi dengan keindahan lampu-lampu jalanan, taman-taman, atau terang benderangnya gedung bertingkat, kerlap kerlip lampu kendaraan di jalanan, dan lokasi indah lainnya,” kata Rusman seorang pengujung.
Perasaan yang seragam juga disampaikan oleh puluhan bahkan ribuan pengunjung ke lokasi yang mungkin satusatunya yang ada di tanah tersebut, sehingga pengunjung terus membludak.
Apalagi jika hari Sabtu dan Minggu, dimana dua hari dalam seminggu tersebut terdapat atraksi pasar terapung yang menyajikan aneka jualan yang khas berupa hasil alam setempat menjadi magnet pengunjung ke lokasi susur sungai tersebut.
Pengunjung menikmati wisata susur sungai seraya belanja di lokasi pasar terapung yang didominasi pedagangnya wanita berpakaian khas bertopi lebar (tanggui).
Yang menarik lagi selama Ramadhan digelarnya pasar wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair) tepatnya di tepian Sungai Martapura menambah kesemarakan wisara sungai, karena penikmat susur sungai ini pun singgah untuk berbekanja aneka penganan dan wadai-wadai khas Banjar yang banyak digelar di lokasi atraksi tahunan tersebut.
Belum lagi tersedia warung warung terapung dengan lampu templok dengan sinar remang-remang terdapat di tepian sungai menjajakan dagangan mereka berupa soto Banjar, sate, dan kue-kue, tentu kenikmatan tersendiri para pengunjung yang menyempatkan berwisata malam.
Lokasi yang menjadi andalan destinasi susur sungai Banjarmasin tersebut tak lain adalah Sungai Martapura yang pusat kosentrasinya adalah tepian Siring Tendean yang terletak di jalan Pire Tendean, kemudian Menara Pandang, kawasan Patung Bekantan, serta tepian RE Martadinata, depan balai kota setenpat, di mana lokasi ini terdapat Ramadhan Cake Fair.
Tambahan lainnya di lokasi siring ini pun banyak digelar penganan dan makanan cemilan seperti jagung rebus, jagung bakar, roti bakar, aneka juce, kacang rebus dan goreng, serta ada jualan bakso, gado-gado, dan nasi kuning.
Lokasi kuliner ini pun digelar begitu saja di tepian sungai, pembeli duduk di atas hemparan tikar, karpet, atau tempat duduk yang didesain penjual sedemikian rupa hingga sangat asyiik untuk lokasi ngobrol bermalam-malaman.
Tak jauh dari pusat kuliner disitulah terdapat dermaga sekitar 80 uah kelotok wisata yang siap memanjakan penikmat susur sungai menikmasi malam Ramadhan di kawasan yang belakangan sudah banyak diminati pengunuung itu, dan tercatat tak kurang 6000 pengunjung setiap minggunya.
Penikmat wisata susur sungai ini tak hanya penduduk lokasi dan kawasan-kawasan lain di Provinsi Kalimantan Selatan, tak sedikit pula yang berasal dari luar daerah, Kalteng, Kaltim, Pulau Jawa, Sumatera, bahkan dari Singapura dan Malaysia.

Tren meningkat

Berdasarkan keterangan selama Ramdhan ini wisata susur Sungai Martapura di wilayah siring sungai Kota Banjarmasin dinyatakan para pengemudi trasportasi sungai, yakni, sopir kelotok, ada mengalami peningkatan, khususnya saat malam Ramadhan saat ini.
“Antara pukul 19.00 Wita hingga pukul 21.00 Wita, penumpang yang ingin melakukan wisata susur sungai cukup banyak setiap malamnya di bulan suci Ramadhan ini,” ujar salah seorang pengemudi trasportasi sungai, Kelotok, Muhammad, Selasa.
Dia pun merasa aneh, hingga begitu banyakya para pengunjung di siring sungai yang melakukan wisata susur sungai sekitar sepuluh menit itu, yakni, menempuh jarak dari siring sungai Jalan Piare Tendean berputar ke Jembatan Pasar Lama dan siring Balaikota Banjarmasin tersebut.
“Sampai-sampai kelotok kita tidak ada yang lama-lama nganggur menunggu anterian selama malam Ramadhan ini, minimal tiga kali giliran mengangkut penumpang setiap malamnya itu,” papar warga Basirih, Banjarmasin Utara tersebut.
Padahal, kata Muhammad, kalau sebelum bulan Ramadhan ini, maraknya wisata susur sungai itu hanya pada hari Sabtu dan Minggu, tapi di bulan Ramadhan ini hampir setiap hari.
“Makanya dalam hati kita bertegur juga, dari mana orang-orang ini datangnya, sebab bisa dibilang ribuan orang setiap malamnya itu, sebab bisa dihitung ada puluhan kelotok yang setiap berangkatnya itu sekitar 25 orang diangkutnya,” paparnya.
Namun dibalik itu, aku Muhammad, pihaknya merasa bersyukur mendapatkan berkah rezeki yang cukup banyak, dan dia yakin ini adalah berkah bulan suci Ramadhan. “Moga kondisi ini akan terus semarak hingga berakhirnya Ramadhan nanti,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin Ikhsan Alhak menyatakan, kelangsungan wisata susur sungai dan wisata di siring sungai Martapura menunjukkan kemajuan setiap waktu.
Di mana, tutur dia, enam ribuan bahkan mungkin sampai puluhan ribu pengunjung setiap pekannya melakukan kunjungan untuk merasakan sensasi pariwisata yang dimiliki kota seribu sungai ini.
Namun dia berpesan, agar semuanya menjaga keselamatan, khususnya yang melakukan wisata susur sungai agar tidak berada di atas kapal, sebab sangat berbahaya.
“Makanya kita minta juga trasportasi wisata sungai agar melengkapi standar keamanan, karena ini penting untuk memastikan semuanya berjalan lancar dan tidak terjadi masalah yang tidak diinginkan,” pungkasnya.

BKSDA BERUPAYA UNGKAP KEBERADAAN KIJANG EMAS

Oleh Hasan Zainuddin
kijang

Banjarmasin,21/3 () – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan kini berusaha keras memastikan keberadaan satwa unik dan langka kijang emas yang onon berada di wilayah kerjanya.
Kasie Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Ridwan saat berbincang dengan penulis di Banjarmasin, Rabu mengakui pihaknya merasa penasaran dengan keberadaan binatang tersebut.
“Kita memastikan keberadaannya, karena berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, kijang emas itu memang ada di wilayah ini,” katanya.
Untuk memastikan keberadaan tersebut, pihak BKSDA Kalsel telah memasang sebanyak enam buah kamera pengintai binatang di beberapa lokasi dimana perkiraan satwa itu berada.
Alat kamera tersebut memang dinilai kurang mencukupi untuk mengintai satwa itu, karena idealnya minimal 30 kamera, tetapi karena harganya mahal maka hanya bisa dipasang enam buah.
“Tahu ga harga kamera itu sangat mahal sekitar rp30 juta per unit, bayangkan kalau harus menyediakan 30 unit maka dana yang harus dikeluarkan minimal rp1 miliar,” tambahnya.
Kendati mahal, pihak BKSDA akan menambah kamera tersebut sebanyak 10 unit lagi untuk mengetahui keberadaan kijang emas serta satwa-satwa yang ada di wilayah ini.
Namun pemasangan sudah berlangsung dua bulan belakangan ini belum terekam adanya gambar di kamera yang memastikan keberadannya.
Tetapi biasanya pemasangan akan menelan waktu enam bulan untuk bisa mengetahui ada tidaknya satwa yang menjadi perbincangan tersebut, tuturnya.
Berdasarkan catatan, gonjang ganjing adanya kehidupan kijang emas atau juga disebut kijang kuning (Muntiacus atherodes) di kawasan Pegunungan Meratus wilayah Kalimantan Selatan sering terdengar, tetapi agak sulit membuktikan keberadaan satwa tersebut.
Walau dari cerita dari mulut ke mulut konon berasal dari tetua warga setempat membenarkan adanya satwa khas tersebut, namun pihak instansi yang berwenang di provinsi ini tak ada satu yang mengulas tentang kijang tersebut.
Bahkan sebuah tulisan yang dilansir oleh media Dinas Kehutanan Tabalong Kalimantan Selatan, yang mengutip keterangan Menteri Kehutanan menyebutkan bukan tidak ada tetapi tak terbukti ada binatang yang banyak membuat orang penasaran ingin melihatnya itu.
Pernyataan tersebut segera ditindaklanjuti oleh Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel yang menugaskan tim kecil untuk mencari keberadaan kijang kuning di bagian selatan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam dan tidak ditemukan jejak ataupun wujudnya.
Meskipun demikian, upaya yang telah dilakukan tentunya mendapat perhatian bagi sekelompok kecil masyarakat yang berusaha untuk menemukan jejak atau wujudnya.

WALHI : 335,88 KM SUNGAI KALSEL JADI LUBANG TAMBANG

Oleh Hasan Zainuddin

walhibws
Banjarmasin (20/3-2018)- Fakta spasial menyebutkan sepanjang 335,88 kilometer sungai di wilayah Provinsi Kalimantan berubah menjadi lubang tambang, dan itu sungguh mengkhawatirkan bagi kelestarian sumber daya air.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono di Banjarmasin Selasa, saat memberikan paparan dalam seminar “Selamatkan Alam Untuk Air.”
Dalam seminar dalam rangkaian Hari Air Dunia yang diselenggarakan Balai Wilayah Sungai (BWS) II Kalimantan tersebut, Walhi Kalsel mengungkapkan pula lebih dari 5.600 kilometer sungai di Kalsel melintas dan berasal dari hutan, terutama hutan tropis Pegunungan Meratus.
Namun disayangkan sebanyak 41 persen hutan Meratus dan hutan lainnya di Kalsel, saat ini juga terdapat izin tambang, katanya dalam makalah “Menyelamatkan Air Menyelamatkan Kehidupan.”
Selain itu, tambahnya, faksa spasial lainnya di ekosistem karst menunjukkan, luas pegunungan karst di Kalsel mencapai 610.766 hektare, dari luas tersebut sebanyak 356.552 hektare di antaranya di kawasan tersebut kini dibebani izin tambang.
Kemudian hutan Kalsel mencapai 984.791 hektare, dan sebanyak 399.000 hektare hutan itu saat ini juga dibebani izin tambang.
Diungkapkan pula total izin tambang di Kalsel 1,2juta hektare atau 33 persen dari luas Kalsel 3,7 juta hektare, dan total izin perkebunan kelapa sawit 618,7 ribu hektare atau sekitar 17 persen luas Kalsel.
Akibat dari sektor pertambangan tersebut tentu mencemari air sungai sebagai sumber kehidupan.
Pernah terjadi satu hektare tanah longsor di Desa Kintap Tanah Laut akibat lubang tambang dekat sungai, terjadi menjelang Idul Fitri terbukti kejadian tersebut pencemaran tambang mengotori air sungai.
Dalam paparan tersebut terungkap pula pertambangan batubara meracuni air di Kalsel dan melecehkan hukum Indonesi9a (Greenpeace Indonesia).
Seminar yang berlangsung sehari itu diikuti 100 peserta dari kalangan pecinta lingkungan, mapala, mahasiswa, akademisi, serta perwakilan berbagai instansi yang terkait.

Balitbanghut Banjarbaru Teliti Pohon Raksasa

Oleh Hasan Zainuddin

pohon

Banjarmasin ()- Pihak tim dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru, terjun ke Desa Mentoyan, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan pohon raksasa.

Seorang peneliti utama dari instansi tersebut, Syaifudin S Hut kepada Antara, di Halong 230 Km Utara Banjarmasin, Jumat mengakui timnya diterjunkan ke lokasi tersebut, atas perintah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Perintah tersebut, keluar setelah tersebar berita ditemukannya sebuah pohon berukuran besar besar oleh kalangan anak muda pecinta lingkungan Forum Komunitas Hijau (FKH) Balangan beberapa waktu lalu.

Untuk memastikan keberadaan pohon besar yang berpotensi sebagai objek wisata, penelitian, dan objek pendidikan tersebut maka diterjunkanlah tim yang terdiri dari dia sendiri serta dua peneliti lainnya.

Kedua peneliti tersebut yakni Edy Suryanto, dan Akhmad Ali Musthofa, dibantu oleh pemuda FKH Balangan sebagai pemandu jalan ke kawasan tersebut.

Tim ini dibantu berbagai peralatan melakukan melakukan pengukuran, disamping mencari anakannya untuk dikembangbiakan di areal instansi mereka di Banjarbaru.

Penelitian tersebut pada hari Kamis (15/3) menelan waktu beberapa jam, di wilayah tersebut dan sempat menjadi perhatian warga setempat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa banir pohon tersebut dengan ukuran 25,7 meter atau untuk mengelilingi pohon ini memerlukan setidaknya 15 orang berpegangan tangan.

Tinggi batang tanpa cabang 16,5 meter, tinggi banir 16 meter, tinggi keseluruhan 42 meter, diameter pohon tanpa banir 203 centemeter.

Yang unik, getah pohon ini bewarna merah darah, dan terdapat semacam damar diantara kulit pohon yang terkelopas.
Pohon berada di RT 1 Desa Mentoyan. Warga setempat menyebut pohon Jalamu sejenis pohon kenari.

Mereka berharap pohon tersebut terpelihara dengan baik karena itu adalah warisan alam yang sangat langka, sebagai objek wisata, objek penelitian, dan objek pendidikan di kemudian hari.

Balitbanghut Teliti Pohon Buah Lahung

Oleh Hasan Zainuddin

lahung

lahung1

Banjarmasin () – Pihak tim dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru, terjun ke Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan pohon lahung (durio dulcis).

Seorang peneliti utama dari instansi tersebut, Syaifudin S Hut kepada Antara, melalui WhatsApp (WA) Senin, mengakui timnya terjun ke lokasi tersebut, untuk melakukan penelitian keberadaan pohon yang mulai langka itu, maksudnya untuk pelestarian.

Eksplorasi tersebut berlangsung minggu lalu bersama anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) setempat.

Tim yang terdiri dari dia sendiri serta dua peneliti lainnya. Kedua peneliti tersebut yakni Edy Suryanto, dan Akhmad Ali Musthofa, dibantu oleh pemuda FKH Balangan sebagai pemandu jalan ke kawasan tersebut.

Tim ini dibantu berbagai peralatan melakukan melakukan pengukuran terhadap sebuah pohon lahung besar yang ada di desatersebut, disamping mencari anakannya untuk dikembangbiakan di areal instansi mereka di Banjarbaru.

Berdasarkan penelitian tim pohon lahung besar yang berada di hutan yang terdapat perkebunan karet itu berdiameter 112 cm, lebar tajuk 26,92 meter, tinggi batang bebas cabang 16 meter, tinggi total 37 meter, dan tinggi banir 5 meter.

Sementara itu pemerhati buah endemik Kalimantan, Hanif Wicaksono melalui FB-nya menjelaskan buah lahung sejenis durian, tetapi kulit warna merah kehitaman dengan duri lancip dan panjang.

Bagi beberapa orang yang baru merasakan durian lahung akan sangat wajar bila merasa aneh. hal ini seperti melihat orang barat yang baru mencoba durian.

Ada kesan aneh yg susah dijelaskan. bahkan beberapa orang pun mendeskripsikan lahung mempunyai aroma seperti aerosol, alkohol, mint, bahkan pembersih lantai.

Memang tidak memungkiri lahung punya bau unik yg khas, tetapi tidak semua lahung beraroma keras.

Pada dasarnya buah lahung itu manis sesuai namanya “dulcis” yang berarti manis. lahung seperti durian punya banyak sekali varian. beberapa varian lahung mempunyai aroma yg lebih lembut dan rasa yang manis krimi tanpa bau yang mencolok seperti lahung.

Meski rata2 lahung berwarna putih banyak juga lahung yang mempunyai daging buah berwarna kuning hingga oranye. Dari berdaging tipis hingga tebal.

Durio dulcis di Kalsel termasuk spesies yang diketahui paling sering mengalami silang alami (hybrid) selain pampakin (D kutejensis).

Hal ini kemungkinan karena masa pembungaan lahung yg lebih awal daripada spesies durio lain.

PARADE BANJARMASIN SASIRANGAN FESTIVAL DIIKUTI RIBUAN PESERTA

bsf

etnik

etnik1

penuh cinta

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,()- Parade Banjarmasin Festival (BSF) yang merupakan puncak kegiatan BSF, Sabtu pagi di Banjarmasin meriah dengan diikuti ribuan peserta.
Pantauan di lapangan, menyaksikan farade tersebut diikuti bukan saja dari kalangan kalangan karyawan Pemkot Banjarmasin dan jajarannya, tetapi juga kalangan organisasi kemasyarakat, pelajar, mahasiswa, dan komunitas.
Farade berjalan kaki yang mengambil rute Jalan Lambung Mangkurat dari balaikota Jalan RE Martadinata terus ke Siring Tendean tersebut panjang peserta hampir satu kilometer.
Parade didahului oleh pemain drum band yang memainkan alatnya secara atraktif dan merekapun semuanya menggunakan kostum kain sasirangan.
Barisan kedua diiiringi oleh ibu-ibu PKK yang dipimpin Ketua PKK yang juga isteri Wali Kota Ibnu Sina, Siti Wasilah tersebut juga menggunakan kebaya sain sasirangan.
Hanya saja kelompok ibu-ibu isteri pejabat Pemkot Banjarmasin tidak berjalan kaki, tetapi menggunakan kendaraan semacam kereta, seraya mereka melambai-lambaikan tangan ke masyarakat yang menyaksikan parade tersebut.
Setelah itu baru diingi oleh para karyawan semua SKPD yang ada di Pemkot Banjarmasin, seraya mereka membawa spanduk nama SKPD masing-masing tentu dengan ajakan “YU Kita Pakai Sasirangan.”
Selain itu, juga akan kelompok pakaian Etnik yang agaknya peserta para model yang ada di Kota Banjarmasin, ada sekitar 30 pesetta pakaian etnik yang memberikan nuansa tersendiri dalam parade tersebut.
Tak kalah menarik, ratusan anak sekolah berpakaian seragam sairangan menggelar kain sepanjang ratusan meter seraya berjalan kaki mengikuti farade tersebut, kasin tersebut merupakan hasil dari olahan (menyirang) secara massal oleh mereka sendiri.
Kemudian yang cukup atraktif kelompok sepeda ontel dari Komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (Saban), dengan aneka pakaian etnik, pakaian jadul, sneka pakaian lainnya semuanya juga menggunakan kain sasirangan.
Bahkan kelompok ontelis ini membawa pengeras suara yang cukup nyaring seraya membunyikan lagu-lagu berbahasa Banjar dengan syair syair kocak.
Farade tersebut berakhir di panggung hiburan Siring Tendean, dimana sudah menunggu puluhan pejabat, anggota DPRD Banjarmasin, serta pejabat terkait lainnya termasuk TNI dan Polri.
Aneka hiburan juga ditampilkan di panggung tersebut diantaranya Madihin Kocak oleh Anang Syahrani dan atraksi lainnya.
Dalam BSF dari 7-11 Maret ini merupakan BSF untuk kedua kali ini, menampilkan berbagai rangkaian acara untuk menyemarakan agenda wisata nasional ini.
Di antaranya menyirang oleh 150 pelajar dan 100 komunitas, lomba motif sasirangan, parade massal 4000 peserta mengambil star dari Balaikota, kemudian Fashion show, penobatan ambasador, pemilihan putri muslimah dan pemuda pelopor, bazar dan ekspo yang diikuti 50 stand dari seluruh kabupaten, kota se- Kalsel, serta forum diskusi sasirangan.

26

WISATA SUSUR SUNGAI KARAU TEMUKAN VEGETASI EKSOTIS

hayaping1

limpasu

 

pohon binuang

batu putih

 

Oleh Hasan Zainuddin
Perahu bermesin yang ditumpangi menyusuri Sungai Karau yang dibendung tepatnya di Desa Batu Putih, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, terus melaju dengan menyusuri aliran yang berliku-liku.

Sesekali perahu yang dikemudikan seorang pemandu wisata, Ajie, penduduk setempat, memperlambat lajunya lantaran banyak tunggul kayu yang terlihat di atas air, khawatir tertabrak, tunggul kayu itu bagian dari tanaman yang tenggelam setelah Sungai Karau bagian hulu dibendung menyebabkan sejumlah tamaman tenggelam.

Di kiri dan kanan sungai dipenuhi oleh vegetasi yang konon sebagian adalah tanaman khas setempat, yang memekarkan bebungaan yang indah dan harum, buah-buah yang bisa dimakan, serta aneka manfaat yang memberikan keuntungan bagi warga setempat.

Dalam perjalanan susur sungai selama sekitar dua jam, penulis menikmati pemandangan kiri kanan yang penuh dengan tanaman hutan, disertai bunyi-bunyi binatang kecil di hutan, burung, dan suara kera yang melahirkan “simponi” alam.

Udara terasa sejuk walau perjalanan sudah menjelang tengah hari. Terik matahari walau menyirami bumi, tapi seakan tak terasa panas lantaran perasaan terus menikmati pemandangan dan suasana alam yang eksotis.

Sesekali penulis meminta pemandu Ajie untuk memperlambat perahu kecilnya lantaran terlihat ada pohon yang buahnya bergelantungan, ada warna hijau dan warna kuning keemasan.

“Stop, stop,” kataku (penulis), “ada apa” kata Ajie, “aku lihat buah unik,” kataku, “oh ya” kata Ajie lagi.

Lalu perahu kecil itu dimatikan mesinnya, pelan-pelan meminggir dan merapat ke tepian, tempat sebatang pohon tegak berdiri penuh dengan buah-buah.

Buah tersebut menurut Ajie, namanya limpasu (Baccaurea Lanceolata), bagi penduduk setempat buah unik yang bisa dimakan tersebut kebanyakan dibuat kosmetika berupa pupur dingin (bedak) setelah dicampur dengan tepung beras.

Menurut Ajie lagi, buah itu banyak digunakan untuk membuat sambal lantaran rasanya yang asam agak khas, hingga jika dibuat sambal untuk makan akan memunculkan selera makan.

Kegunaan lain, bisa untuk mengusir tikus di sawah, setelah umpan tikus dicampur dengan racikan buah tersebut, maka tikus tak akan mengganggu lagi sawah penduduk setempat, konon setelah termakan buah itu gigi tikus akan terasa ngilu sehingga tak mampu lagi menyerang padi di sawah.

Menurut Ajie lagi, buah itu bagus jika digunakan langsung untuk membersihkan muka, untuk menghilangkan flek-flek hitam di wajah.

Caranya cari buah yang masak warna kuning lalu dibelah ambil bagian kulit langsung disapukan ke muka berulang-ulang, insya allah, flek di wajah akan hilang.

Lantaran terasa asam maka buah itupun sering pula digunakan oleh penduduk setempat, untuk membekukan lateks karet yang baru di sadap dari pohon karet, untuk mempermudah hasil sadapan karet dari kebun ke rumah untuk dijual.

Bahkan berdasarkan sebuah catatan yang diperoleh penulis buah Limpasu merupakan antioksidan (anti-radikal bebas). Semakin matang, semakin berkurang Vitamin C di dalamnya. Buah tersebut juga mengandung karbohidrat tinggi.

Di beberapa daerah di Kalteng, seperti di Sampit, limpasu kerap jadi sumber rasa masam pada Juhu Ansem (masakan tradisional). Mereka yang sekarang berusia 50-an ke atas mungkin pernah merasakan makanan tersebut.

Kalau untuk obat sebagian masyarakat Kalimantan menggunakan limpasu sebagai obat meriang. Bagian ini direbus kemudian airnya digunakan untuk mandi.

Bukan hanya limpasu yang banyak tumbuh di tepian sungai yang konon berhulu ke Pegunungan Meratus (Muller dan Schwaner) tersebut, tetapi juga banyak tumbuh pohon yang disebut “Hayaping” bentuknya menyerupai enau atau aren, tetapi pohonnya kecil, buahnya juga bisa digunakan untuk makanan serupa kolang-kaling.

Namun bunganya sangat bagus, bungkul bunga bewarna merah kehitaman, jika mekar bunganya bewarna kuning agak jingga.

Konon warga setempat sering memanfaatkan pohon eksotis ini adalah untuk sayuran setelah pohon bagian atas dibelah maka terdapat isi pohon yang muda disebut “humbut.”
Humbut itulah yang dibuat sayuran untuk aneka makanan, dan dibuat sayur bening juga terasa nikmat dan lezat.

Bahkan jika warga hajatan kawinan dan selamatan lainnya memanfaatkan humbut dari tanaman ini dibuat makanan untuk sesajian tamu yang datang.

Hutan kiri kanan itu juga terdapat aneka spicies rotan, ada yang disebut rotan paikat, rotan manau, rotan walaung, rotan gambis, dan jenis rotan lainnya yang tampak tumbuh merambat di bagian pepohonan kawasan setempat.

Vegetasi yang lain terlihat aneka palem-palamen, selain tanaman hayaping tadi juga terlihat enau, rumbia, pinang hutan, risi, timputuk yang kesemuanya memperkaya vegetasi kawasan yang banyak dihuni warga pedalaman tersebut.

Bahkan dalam perjalanan itu terlihat beberapa jenis kayu ekonomis, seperti ulin, sintuk, meranti, bangkirai, sungkai,mahoni, trambesi, dan aneka tanaman lagi.

Tak ketinggalan terlihat pohon buah-buahan endemik Kalimantan, family durian, (Durio) seperti buah lahung, karantungan, mahrawin, pembakin, mantaula, dan aneka jenis asam-asaman (Mangefera) , hambawang, kelipisan, rawa-rawa, kasturi, tandui, dan lainnya.

Dan terdapat dua buah pohon yang sangat besar yang merupakan peninggalan atau warisan alam yang masih tersisa, yang disebut sebagai pohon Binuang.

Saking besarnya kayu binuang tersebut, memerlukan antara enam hinmgga delapan orang untuk bisa memeluknya.

Di bawah pohon tersebut penulis dan ajie sempat mengambil foto bersama secara selfie menggunakan kamera HP dan fotonya sempat di shere melalui media sosial Facebook, dan memperoleh jempol sangat banyak.

Bukan hanya aneka tanaman yang ada di kawasan tersebut, menurut Ajie pula banyak binatang dan satwa kawasan hutan itu, terutama pilanduk (kancil) kijang (rusa), trenggiling, lutong, kera abu-abu, bahkan Bekantan (Nasalis larvatus).

Belum lagi ada tupai, aneka burung elang, murai, pipit, kutilang, dan aneka burung yang melahirkan bunyi-bunyian di belantara tersebut.

Air yang tetang di kawasan tersebut konon juga terdapat buaya, tetapi belum pernah terdengar yang menyambar atau memangsa manusia, dan ikan-ikan juga banyak, dan banyak yang kena pancing adalah ikan baung, ikan bancir, sanggang, adungan, tilan, sanggiringan, saluang, dan banyak lagi yang lain.

Makanya terlihat di kiri dan kanan sungai banyak warga pedalaman yang meunjun (memancing ikan) dan memasang banjur.

Melihat kekhasan kawasan tersebut wajar jika pemerintah setempat menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata susur sungai dan petualangan yang tentu akan memuaskan pengunjungnya.

Apalagi untuk menuju kawasan ini mudah saja atau sekitar 10 kilometer dari Kota Ampah, bisa menggunakan roda empat dan roda dua, dan untuk menyusuri bendungan ini hingga ke hulunya tersedia puluhan perahu bermesin di kawasan Desa Batu Putih.

BSF ANGKAT KEBERADAAN KAIN SASIRANGAN AGAR MENDUNIA

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, Seorang wanita tinggi semampai berdiri di depan sebuah bangunan tua di tepian Siring Tendean, banyak mata pengunjung yang memadati kawasan objek wisata andalan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu yang tertuju ke arah wanita yang agaknya menunggu teman-temannya yang mengikuti kegiatan “Banjarmasin Sasirangan Festival” (BSF) yang digelar 7-11 Maret 2018 ini.

Sesekali wanita tersebut membetul-betulkan letak gaun kain khas Suku Banjar yang dikenakannya itu karena serpihan angin, senyum khas wanita itu seakan padu dengan motif kain sasirangan yang dominan bewarna hijau tersebut.

“Oh sungguh cantik,” kata seorang pemuda yang dari tadi memperhatikan gerak gerik wanita yang ditaksir berusia 20 tahun itu.

Kegiatan BSF yang berpusat di Menara Pandang Siring Tendean, kawasan wisata susur sungai kota seribu sungai tersebut pada tahun ini bertemakan “Sasirangan to The World.”

Pemerintah dan masyarakat Kota Banjarmasin tak ingin kain kebanggaan warga yang menghuni bagian selatan pulau terbesar tanah air tersebut, cuma cukup untuk dinikmati warga setempat, kain ini harus go internasional dan dikenal ke manca negara.

Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan pemerintah dan warga setempat guna mengangkat citra khasanah kain yang lahir dari proses budaya nenek moyang setempat, yang dalam sejarahnya kain ini hanya sebatas sebagai peralatan pengobatan.

Dalam BSF 2018 menawarkan aneka acara yang dijamin memanjakan wisatawan. Ada parade budaya unik, kegiatan religi, expo, hingga forum diskusi. Bahkan

Sebagai daya tarik, panitia juga menghadirkan artis Terry Putri. Untuk memperkuat nilai kain adat Banjar ini, saat kegiatan BSF juga ada atraksi unik yakni menyirang (mengerjakan kain sasirangan) sepanjang 250 meter melibatkan ratusan pelajar.

Festival juga akan memilih duta sasirangan 2018, memilih putri muslimah sasirangan hingga Pemuda Pelopor. Selain itu bagi anak-anak, silahkan mengikuti lomba mewarna untuk PAUD. Nuansa religius juga dibangun melalui kasidah dan hadrah.

Semua potensi yang dimiliki Banjarmasin atau Kalimantan Selatan agaknya akan ditampilkan dalam BSF, makanya panitia juga akan menggelar bazaar dan expo, kata Assiten II Sekdako Banjarmasin Drs Hamdi saat berbincang dengan penulis.

Menurut Hamdi festival 2018 akan dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kemasannya lebih segar, dan juga melibatkan publik figur, seperti artis Terry Putri yang juga berasal dari Banjarmasin ini. Ia mengakui adanya upaya Pemkot mengangkat lebih tinggi keberadaan kain yang selama ini sudah menjadi barang cendramata bagi wisatawan yang datang ke ibukota provinsi Kalsel itu.

Menurut Hamdi yang juga Ketua panitia BSF keberadaan sasirangan selama ini belum memuaskan semua pihak, terutama kalangan wisatawan mancanegara, lantaran pewarna yang digunakan sebagian besar adalah bahan kimia sehingga warna menjadi mencolok dan kurang alamiah.

Oleh karena itu upaya kedepan bagaimana kain sasirangan ini diproduksi dengan proses pewarna dari bahan sumberdaya alam setempat yang mudah saja dicari, selain biaya tidak mahal, namun produk sasirangan itu akan berharga mahal, lantaran diminati.

Kedepan kain sasirangan akan mempergunakan pewarna berasal dari daun-daunan, buah, dan kayu, seperti kunyit untuk membuat kain jadi berwarna kuning, kayu ulin untuk warna coklat atau merah marun, warna biru menggunakan daun indigo, warga ungu berasal dari buah balangkasua, dan banyak lain pewarna alam yang tersedia di kawasan ini.

Motifnya pun akan terus diperbaharui dan diperkaya dari selama ini yang dikenal dengan motif Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja, Kulit Kurikit, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Sari Gading, Kulit Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan, Turun Dayang, Kambang Tampuk Manggis, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Sisik Tanggiling, dan Kambang Tanjung.

“Kita yakin jika semua kian khas ini pakai pewarna alamiah pasti lebih lembut, dan akan memancing lebih banyak lagi pembeli untuk memiliki dan pengunakan kain kebanggaan masyarakat Kalsel itu, khususnya dari luar negeri,”kata Hamdi.

Bila kebaradaan kain ini sudah lebih terangkat kepermukaan harapannya tak sekedar dipakai saat ada acara resmi saja, tak sekadar jadi barang cendramata, tetapi akan menjadi mata dagangan antarpulau bahkan jadi mata dagangan ekspor, dan hal itu bukan saja akan meningkatkan kontribusi pendapatan daerah yang lebih penting bagaimana mendongkrak penghasilan para perajin yang pada gilirannya mensejahterakan masyarakat luas.

Kain Pengobatan
Berdasarkan berbagai catatan atau cerita rakyat yang berkembang di masyarakat suku Banjar, kain ini sudah ada sejak abad XII sampai XIV saat wilayah ini dikuasai oleh Kerajaan Dipa.

Kain sasirangan pertama kali di buat yaitu manakala Patih Lambung Mangkurat bertapa 40 hari 40 malam di atas lanting balarut banyu (di atas rakit mengikuti arus sungai).

Menjelang akhir tapa nya, rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengar suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini.

Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi/padiwaringin.

Itulah kain calapan/sasirangan yang pertama kali dibuat dan sering disebut oleh masyarakat sebagai batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.

Itulah sejarah singkat asal usul kain sasirangan. Arti kata sasirangan sendiri di ambil dari kata “sa” yang berarti “satu” dan “sirang” yang berarti “jelujur”. Sesuai dengan proses pembuatannya, Di jelujur, di simpul jelujurnya kemudian di celup untuk pewarnaannya.

Sasirangan menurut tetua adat Banjar dulunya di pakai untuk pengobatan orang sakit, dan juga di gunakan sebagai laung (ikat kepala adat Banjar), Kakamban (serudung), udat (kemben), babat (ikat pinggang), tapih bahalai (sarung untuk perempuan) dan lain sebagainya. Kain ini juga di pakai untuk upacara-upacar adat Banjar.

Sekarang Sasirangan bukan lagi di peruntukkan hanya untuk spiritual, tapi sudah jadi pakaian kegiatan sehari-hari.

Pemerintahan Kalimantan Selatan, Sasirangan di sejajarkan dengan batik. Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan 91 tahun 2009 tentang standaarisasi Pakaian Dinas pegawai Negeri sipil di lingkungan Pemprov Kalsel.

Pegawai negri sipil dibebaskan memilih untuk memakai Sasirangan atau pun Batik di hari yang sudah di tentukan, bahkan ada pemerintah kabupaten dan kota tertentu justru mewajibkan pemakaian kain khas ini padawaktu tertentu.fb