“MELINGAI” INSPIRATOR BAGI MASYARAKAT LESTARIKAN SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 8/12 (Antara) – Secara tak terduga sekelompok orang yang tergabung dalam komunitas pecinta lingkungan, Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, dinyatakan sebagai juara nasional dalam lomba masyarakat peduli sungai se-Indonesia.

Piagam dan piala tersebut diserahkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dr Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc saat peringatan Hari Bakti PU yang berlangsung di halaman kantor Kementerian PUPR di Jakarta, Sabtu, 3 Desember 2016.

“Ini benar-benar tak terduga, kok kita bisa juara,” kata Wakil Ketua Melingai Banjarmasin Mohammad Ary.

Pasalnya, dari awal dibentuknya organisasi tanggal 19 Agustus 2015 tak pernah mencari target, apalagi juara. Semua yang dilakukan hanyalah semata bekerja dan bekerja untuk membersihkan lingkungan, khususnya sungai, serta melakukan penghijauan di beberapa lokasi di kota ini.

“Kami ini bukan siapa-siapa, dan tak ingin menjadi siapa-siapa, niat kami melakukan ini semata karena Allah, dan ingin melestarikan lingkungan, makanya kami selalu aksi setiap Sabtu atau Minggu,” katanya.

Melingai yang selalu aksi bersama Forum Komunitas Hijau di wilayah yang berjuluk “Kota Seribu Sungai” tersebut, sebagian besar anggotanya adalah kalangan anak muda tetapi digerakkan oleh para senior yang memang sudah tua.

Kelompok ini sudah menanam ribuan pohon penghijauan di beberapa ruang terbuka hijau di Kota Banjarmasin dan sekitarnya, serta aksi membersihkan sungai dan menanam pohon penahan abrasi di beberapa lokasi di pinggiran sungai.

Banjarmasin dikenal sebagai kota sungai lantaran terdapat 102 sungai dan yang terbesar adalah Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Dalam aksi kelompok yang selalu menggunakan sepeda tua (ontel) dan menggunakan wadah non plastik yang disebut “butah” ini selalu mengajak masyarakat setempat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan.

Tujuan aksi bukan saja ke kawasan permukiman padat penduduk, tetapi juga ke sekolah-sekolah mengingat ada sekitar 300 ribu anak pelajar yang harus ditanamkan kecintaan terhadap lingkungan, dan mereka diharapkan menjadi generasi emas ke depan.

Organisasi ini tidak memiliki kartu keanggotaan, tetapi dikatakan organisasi ini bagaikan sebuah kapal besar tanpa pagar yang terus berlayar, silakan masuk jika ingin ikut dan silakan keluar jika tak ingin ikut lagi, tak ada ajakan, apalagi pemaksaan, semuanya berdasarkan kerelaan hati.

Dalam setiap kali bekerja kelompok ini tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memberi upah, dan tidak mencari perhatian, serta tidak mencari penghargaan, semata karena ingin lingkungan baik saja. Kalau ada biaya seperti untuk makan dan minum atau peralatan semuanya gotong royong atau urunan dari kantong masing-masing anggota.

Sementara motto atau slogan kelompok ini adalah “bekerja, berkarya, bergembira, berbahagia, dan awet muda,” makanya setiap kali ada aksi selalu ada perasaan gembira sehingga para anggota tak pernah malas untuk ikut berkiprah menjaga lingkungan.

Tetapi setelah melihat aksi yang selalu dilakukan kelompok ini setiap minggu maka selalu saja banyak masyarakat yang terpanggil hatinya untuk ikut berkiprah meletarikan sungai.

Bahkan belakangan masyarakat terlibat dalam lomba membersihkan sungai sekaligus membentuk pemangku sungai di 52 kelurahan yang ada di kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa ini.

Lantaran keberadaan kelompok Melingai ini yang dinilai unik maka oleh Balai Wilayah Sungai Kementerian PUPR dilibatkan mewakili Provinsi Kalsel dalam lomba tingkat nasional pada tahun 2016.

Pemberitahuan keikutsertaan itupun terlalu singkat, hanya 10 hari, sehingga para anggota Melingai bekerja keras mengumpulkan kliping dan data serta foto dan rekaman video sebagai bukti dalam setiap kegiatan sebelumnmya.

Sementara provinsi lain yang sudah terbiasa ikut lomba yang diselenggarakan Kementerian PUPR ini sudah mempersiapkan segala sesuatunya.

Semua data dan dokumen pendukung itu yang dipaparkan oleh Wakil Ketua Melingai Mohammad Ary di hadapan dewan yuri dari Kekenterian PUPR dan perguruan tinggi.

Dalam penilaian pertama lomba yang digelar Ditjen Sumberdaya Air Kementerian PUPR di Kota Banjarmasin itu, menempatkan Melingai selaku tuan rumah berada di urutan empat nilai 107 dari enam kelompok yang dinominasikan.

Pada lomba yang berlangsung tiga hari diikuti 18 kelompok masyarakat peduli sungai yang berasal dari 18 provinsi di tanah air tersebut, tiga dewan juri menempatkan nominasi pertama adalah Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) Yogyakarta dengan nilai 113.

Sementara kelompok masyarakat dari Peguyuban Pengendali dan Penanganan Air Pasang Panggung Lor (P5L) Kota Semarang sebagai nominasi kedua dengan nilai 110.

Sedangkan nominasi ketiga dari Jawa Barat dari kelompok masyarakat Ekolink dengan nilai 109. Nominasi kelima yakni Santri Jogo Kali dari Jawa Timur dengan nilai 102 dan nominasi terakhir berasal dari Komunitas Peduli Sungai Batu Bulan Maluku dengan nilai 102.

Dari enam nominator ini kemudian diuji lagi untuk menentukan juara setelah tim juri melakukan peninjauan lapangan ke lokasi kelompok masyarakat tersebut berada.

Setelah dewan juri meninjau dan menggodok apa yang dilakukan Melingai di Banjarmasin, hingga pada penilaian terakhir, kelompok ini dinyatakan sebagai juara pertama. Juara dua Forum Komunikasi Winongo Asri Yogyakaaarta dan juara III Peguyuban Pengendali dan Penanganan Air Pasang Panggung Kota Semarang.

Juara IV Ekoling Jawa Barat, Juara V Joko Kali Jawa Timur dan Juara VI Masyarakat Peduli Sungai Batu Bulan, Maluku.

Para juara ini lalu diundang ke Jakarta menerima piala dan penghargaan pada hari Bakti PUPR sekaligus bagi Melingai mengambil hadiah berupa kendaraan roda tiga dan seperangkat alat pengeras suara untuk aksi.

Setibanya di Jakarta, saat upacara hari Bakti PUPR, Menteri PUPR menyatakan apresiasinya terhadap keberadaan Melingai.

“Teruskan kerja kalian, dan kalian sudah berhasil mengajak warga untuk menciptakan lingkungan yang bersih, khususnya sungai, itu sesuatu yang perlu memperoleh dukungan,” katanya saat berbincang dengan anggota Melingai, di Jakarta (3/12).

Menteri PUPR yang sedikit-sedikit pandai berbahasa Banjar, lantaran pernah tinggal di kawasan Kacapiring Banjarmasin itu mendatangi sendiri enam anggota Melingai yang berada di lokasi upacara.

Ketertarikan Menteri PUPR terhadap anggota Melingai tersebut, juga menjadi perhatian banyak orang di lokasi peringatan hari Bakti PU. Rupanya pemakaian topi kuning yang dikenakan anggota dan atribut yang dikenakan berupa wadah ramah lingkungan non plastik yang disebut “butah”
Setibanya di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dari Jakarta rombongan Melingai Juga memperoleh sambutan hangat dari Gubernur Kalsel Sahbirin Noor atau Paman Birin yang kala itu mengajak foto bersama dengan para anggota sekaligus berpesan Melingai tetap berperan sebagai ujung tombak pemeliharaan sungai di wilayah ini. ***4***

BANJARMASIN BERI KEMUDAHAN INVESTASI

Banjarmasin,15/9 (Antara)- Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin,Kalimantan Selatan, melalui Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsenibud) setempat berjanji memberikan kemudahan berbagai hal perijinan bagi investor yang ingin berinvestasi sektor jasa kepariwisataan.
Hal tersebut tak lain agar investasi sektor kepariwisataan bisa berkembang sesuai kebutuhan sekarang, dan tujuannya tak lain adalah meningkatkan kunjungan wisman dan wisnu ke Banjarmasin, kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disparsenibud Mohammad Khozaimi di Banjarmasin, Kamis.
Ia mencontohkan seperti kemudahan dalam perizinan pengelolaan perhotelan, hal ini bisa dilihat dari jumlah hotel yang mencapai 80 buah dengan lokasi terpusat di tengah kota dan menyebar di lokasi-lokasi strategis lainnya.
Berikutnya juga dalam perizinan usaha restauran dan rumah makan. Disparsenibud memberikan target hanya dalam waktu seminggu rekomendasi perizinan dari Disparsenibud sudah dapat diperoleh.
Harapannya dengan memberikan kemudahan-kemudahan ini para pengelola hotel dan rumah makan menjadi tertib dan termotivasi memberikan pelayanan berbasis keamanan, kenyamanan, dan berbudaya kepada wisman dan wisnu yang berkunjung ke Kota Banjarmasin.
Kota Banjarmasin dengan keeksotisan budaya sungainya menjadi aset penting dalam meningkatkan pembangunan dan potensi pariwisatanya.
Disparsenibud mulai menangkap peluang untuk menarik investor sehingga mau bekerjasama dalam mengelola potensi kota guna meningkatkan pendapatan daerah.
Harapan kedepannya adalah Banjarmasin semakin potensial dengan paket wisata susur sungai.
Sehingga diharapkan Banjarmasin memiliki fasilitas dermaga yang refresentatif dengan kapal-kapal wisata dengan daya muat lebih besar sekitar 100 orang penumpang.
Kapal-kapal ini menjadi pilihan yang menyenangkan untuk menikmati wisata susur sungai dengan menyinggahi 36 destinasi wisata di sekeliling Kota Banjarmasin.
Pengembangan selanjutnya, akan digagas konsep restoran terapung dan fungsi cottage di rumah lanting.
Toko-toko souvenir dengan desain menarik berkonstruksi terapung dan panggung di sepanjang tepian sungai, kata Khuzaimi yang juga anggota dari Masyarakat Peduli Sungai 9Melingai) ini.
Pengunjung dapat bersinggah dan berbelanja secara langsung tanpa harus keluar dari kelotok (drive thru) namun juga bisa mampir dan bersinggah sambil menikmati suasana sungai di cafe-café terapung yang didesain menyatu dengan toko-toko souvenir.
Banyak sekali mimpi dan harapan Disparsenibud yang mulai diinisiasi bersama tim desain Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sebagai mitra menuju Banjarmasin yang lebih baik, beridentitas dan berbudaya sungai.
Semoga ini menjadi kenyataan yang menyenangkan, “ayo ke Banjarmasin.” katanya dengan suara agak nyaring

jimi

MECIPTAKAN MAGNET EKONOMI SUNGAI BANJARMASIN

Banjarmasin – Hamparan seluas sekitar 98 kilometer persegi itu awalnya hanyalah rawa-rawa kemudian dibelah-belah lagi tak kurang oleh 102 sungai besar dan kecil. Kali besarnya adalah Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin dan Sungai Barito yang menjadi pembatas sisi barat.
Lokasi yang dulunya konon dipenuhi hutan galam dan hutan bakung itu memang sejak 490 tahun sudah memiliki sebuah perkampungan kecil yang berdasarkan sejarah disebut Bandarmasih. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi kampung besar bahkan sempat ada kerajaannya.

Di kawasan ini tak ada sumber daya alam berupa bahan tambang, tak ada juga hutan hingga tak ada kayu dan hasil hutan lainnya. Yang ada hanyalah aliran sungai yang melimpah, sedikit ada persawahan yang kini sudah berubah fungsi menjadi kawasan perkotaan yang sekarang disebut Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.

“Bagaimana kita membangun kota ini, tak ada sumber daya alam berupa tambang dan hutan, yang ada hanyalah sungai, makanya tak ada pilihan lain, kecuali sungai inilah yang akan ‘disulap’ sebagai penggerak ekonomi kota,” kata Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Pernyataan wali kota itu agaknya dibarengi dengan kebijakan-kebijakan pemkot setempat, hingga semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) diminta harus berorientasi ke sungai dalam program kerjanya.

Geliat menganak-emaskan sungai agaknya sudah kelihatan sejak wali kota sebelumnya yang dipimpin Haji Muhidin dengan membangun siring/tepi sungai Jalan Tendean dan Jalan Sudirman serta dermaga angkutan sungai.

Sudah lebih dari Rp150 miliar dana digelontorkan untuk membangun kedua siring atau tepi/bantaran sungai tersebut, baik dari APBD setempat tetapi lebih besar dari APBN Kementerian Pekerjaan Umum.

Sekarang keberadaan siring tersebut telah memberikan arti cukup berarti yang mengubah wajah kota ke arah “kota sungai,” karena kawasan tersebut menjadi semacam “water front city”.

Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkerama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Di wilayah ini terdapat pasar terapung dengan aneka barang yang dijual seperti hasil alam berupa buah-buahan, sayuran, ikan, dan lainnya dijualbelikan oleh ibu-ibu berpakaian khas menggunakan jukung (sampan).

Ada pula 80 buah “klotok” (perahu bermsin) wisata yang hilir mudik yang mengajak wisatawan menyusuri sungai dengan tarif hanya Rp5.000 per orang.

Wisata susur sungai sudah menjadi andalan merangsang wisatawan lokal dan mancanegara datang ke wilayah berjuluk “kota dengan seribu sungai” ini.

Di lokasi itu pula ada menara pandang (pantau) berlantai empat yang didalamnya menjadi lokasi pertemuan, ada stan cindera mata, dan pusat kuliner.

Belum lagi berdiri ikon kota yang disebut sebagai monumen Bekantan atau patung kera berhidung panjang (Nasalis larvatus), sehingga bagi siapapun yang berkunjung lalu berfoto dengan latar belakang patung tersebut, maka akan diketahui jika saat foto itu dibuat sedang berada di Banjarmasin.

Hampir sama seperti patung singa di kota Singapura, yang sama-sama pula mengeluarkan air mancur dari mulutnya.

Dalam upaya menciptakan sungai sebagai yang terdepan itu, Pemkot Banjarmasin kembali membangun siring lebih panjang lagi. Jika sekarang sudah dirbangun lima kilometer, kini masih dilesaikan agar menjadi 10 kilometer.

Jika sudah mencapai 10 kilometer, berdasarkan keterangan Pemkot nantinya akan dibangun lagi beberapa lokasi dan fasilitas wisata di kawasan siring, seperti ada kampung ketupat, kampung sasirangan, dan kampung iwak (ikan).
Ciptakan Gula
Keinginan untuk menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi itu agaknya memang sudah lama, tetapi kurang didukung oleh masyarakat setempat. Terbukti sungai banyak menjadi “bak sampah”, penduduk dengan begitu mudahnya membuang sampah ke sungai.

Akibatnya sungai seakan menjadi “gudang” barang rongsokan, karena sampahnya ada yang kasur bekas, lemari kayu, sepeda bekas, kulkas rusak, kipas angin rusak, dan aneka barang rongsokan lainnya.

Belum lagi sungai mendangkal karena sidementasi, sungai diserang gulma seperti eceng gondok hingga mampet, sungai tempat buang hajat (air besar) hingga menciptakan kontaminasi baktari koliform, sungai terkontaminasi logam, keruh, bau, dan aneka persoalan lainnya.

Kemudian sungai pun tak bisa terelakan lagi menjadi permukiman khususnya di bantarannya. Akibatnya sungai menyempit dan ada pula sungai yang kemudian mati.

Bahkan yang sangat memprihatinkan semua rumah penduduk menjadikan kawasan sungai sebagai bagian belakang rumah, sementara muka rumah menghadap ke jalan raya, akibatnya merusak pemandangan dan keindahan kawasan sungai.

Sungai juga tempat industri kayu lapis, tempat industri karet, tempat industri rumah tangga lainnya, akibatnya sungai penuh dengan limbah industri, sungguh memprihatinkan.

Banyak aturan dibuat Pemkot setempat dalam upaya menyelamatkan perwajahan sungai itu agar elok, tetapi aturan tersebut hanyalah bagaikan “macan ompong.” saja.

Oleh karena itu seyogianya pemerintah berpikir tak usah “memaksa” warga setempat untuk menyelamatkan sungai dengan perda-perda, tetapi bagaimana menjadikan sungai itu bagaikan barang pemanis atau gula.

Jika sungai menjadi “gula” atau pemanis kehidupan tentu keberadaannya akan menjadi daya pikat kuat bagi kehidupan warga di wilayah yang berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa tersebut. Mereka akan dengan sendirinya memelihara sungai lalu menjadikannya sebagai barang atau lokasi yang berharga.

Jika sungai sudah menjadi tempat beharga, maka warga sudah bisa dipastikan tidak lagi membuang sampah sembarangan ke sungai. Rumah yang tadinya membelakangi sungai bertahap akan diubah oleh pemiliknya menghadap ke sungai sehingga sungai menjadi indah.

Begitu juga berbagai dunia usaha yang tadinya tak terpikir ke sungai bisa jadi menjadikan sungai sebagai harapan baru bagi kehudupan selanjutnya.

Upaya menciptakan “gula” itu bisa dicontoh di beberapa kota besar seperti Bangkok, Singapura, Venesia Italia dan Belanda.

Umpamanya saja di sungai berdiri aneka penggerak ekonomi, selain pasar terapung. Di sungai juga banyak restauran terapung, rumah-rumah terapung, ada tempat permainan, lokasi pusat oleh-oleh, hotel terapung, ada panggung hiburan, atraksi budaya, dan aneka fasilitas wisata.

Karena itu, mulai sekarang ayo jual keberadaan sungai kepada kalangan investor, beri kemudahan berinvestasi, beri gambaran peluang potensi keuntungan. Dengan demikian investor bisa berbondong-bondong turut membangun Kota Banjarmasin menjadi sebuah wilayah yang tak kalah dengan venesia Italia. sungaisungai1

MADAM KA BANUA URANG: MIGRASI DAN PERUBAHAN SOSIAL DALAM KALANGAN ORANG BANJAR DI MALAYSIA

saleh lamri

 

Dr. Mohamed Salleh Lamry
Universiti Kebangsaan Malaysia

Abstrak
Orang Banjar dari Kalimantan Selatan (Kalsel) telah keluar merantau atau madam secara beramai-ramaike Malaysia (Malaya atau Tanah Melayu waktu itu) pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sebahagian besar daripada mereka merupakan “perantau hilang” iaitu perantau yang terus menetap di perantauan dan tidak pulang lagi ke Kalsel. Di Malaysia mereka membuka “kampung Banjar” dan meneruskan cara hidup Banjar sebagaimana di Kalsel. Walau bagaimanapun, selepas berlalunya waktu lebih 100 tahun, kinidapat diperhatikan telah berlaku pelbagai perubahan dalam cara hidup keturunan mereka di perantauan.Mereka telah berubah menjadi Banjar Baru, walaupun perubahan itu belumlah menyeluruh.Di Malaysia perubahan sosial ini berlaku terutamanya sebagai kesan dari dasar dan rancangan pembangunan kerajaan, di samping ada juga kerana pengaruh persekitaran, termasuk pengaruh globalisasi. Oleh itu, makalah ini ingin menghuraikan tiga perkara: a) Sejarah migrasi orang Banjar ke Malaysia, b) Pelestarian cara hidup Banjar dalam kalangan orang Banjar generasi awal, dan c) Perubahan sosial dalam kalangan orang Banjar di Malaysia masa kini. Makalah ini terutamanya ditulis berdasarkan kajian perpustakaan dan pemerhatian di beberapa buah kampung Banjar di Malaysia, khasnya di daerah Sabak Bernam, Selangor dan di beberapa taman perumahan di kota Kuala Lumpur.

PENDAHULUAN
Orang Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan (Kalsel) dipercayai telah berada di Malaysia (khasnya di Semenanjung Malaysia atau Tanah Melayu) sejak akhir abad ke-19. Kini keturunan mereka, bersama dengan keturunan suku lain dari Indonesia, seperti Jawa, Minangkabau, Mandailing, Rawa, Bugis, Boyan (Bawean) dan lain-lain, dan keturunan pendatang dari China dan India, merupakan sebahagian daripada rakyat Malaysia yang berjumlah kira-kira 26 juta orang.
Orang Banjar yang berhijrah ke Semenanjung Malaysia (seterusnya disebut Malaysia saja) bertumpu ke tiga negeri bahagian: Perak, Selangor dan Johor. Sebahagian daripadamereka ada yang pernah tinggal di tempat lain, seperti Kuala Tungkal (Jambi), Tembilahan (Riau) atau Deli (Sumut) terlebih dahulu sebelum berpindah ke Malaysia, tetapi lebih banyak lagi yang terus datang ke Malaysia.
Sebagaimana orang Banjar yang berhijrah ke tempat lain, kebanyakan orang Banjar yang berhijrah ke Malaysia adalah “perantau hilang”, iaitu perantau yang terus menetap di Malaysia dan tidak pulang lagi ke Kalsel. Mereka diterima oleh kerajaan penjajah Inggeris pada masa itu sebagai sebahagian daripada bangsa Melayu atau bumiputera Malaysia.Dengan itu, anak cucu mereka kini secara automatis menjadi rakyat atau warganegara Malaysia.
Orang Banjar generasi awal, yang tinggal di perkampungan mereka sendiri (kampung Banjar) hidup sebagai petani sara diri (subsistence farmer), tentu saja membawa dan mengekalkan cara hidup atau budaya Banjar apabila mereka menetap di Malaysia. Akan tetapi, dengan berlalunya waktu lebih seratus tahun, tidak dapatdinafikantelah terdapat pelbagai perubahan yang agak ketara dalam kehidupan orang-orang keturunan Banjar masa kini. Walaupun perubahan itu belum menyeluruh, kita mungkin boleh mengatakan mereka telah mengalami perubahan identiti dan telah berubah daripada Banjar Lama menjadi Banjar Baru.
Oleh yang demikian, dalam makalah ini saya akan membincangkan tiga perkara: a) Sejarah migrasi orang Banjar ke Malaysia, b) Pelestarian budaya Banjar atau cara hidup Banjar dalam kalangan orang Banjar generasi awal, dan b) Perubahan sosial dan identiti dalam kalangan orang Banjar masa kini.
Mengenai ketiga-tiga perkara di atas sebenarnya belum ada kajian yang komprehensif dan terperinci. Oleh itu mengenai perkara pertama, saya terpaksa bergantung kepada bahan bacaan yang boleh diperolehi, yang kebetulan tidaklah begitu banyak. Mengenai perkara kedua dan ketiga pula, saya banyak bergantung kepada pengamatan saya sendiri secara umum, pengalaman hidup sebagai seorang anak Banjar, dan pengamatan terbatas di beberapa buah kampung di daerah Sabak Bernam, Selangor dan kota Kuala Lumpur di Malaysia.

MIGRASI KE TANAH MELAYU
Migrasi sebelum 1874
Sebelum tahun 1874 ada satu peristiwa penting yang berlaku di Kalsel, iaitu kerajaan Banjar telah dihapuskan oleh Belanda pada tahun 1860. Tahun 1874 pula ialah tahun permulaan Inggeris campur tangan dalam pemerintahan Tanah Melayu (Mohamed Salleh Lamry 2005).
Mengikut Zulfa Jamalie (2010) pada tahun 1861 berlaku perlawanan terhadap Belanda di bawah pimpinan Penghulu Abdul Rashid di Kalua, Tabalong, Amuntai dan sekitarnya yang lingkup gerakannya meliputi Banua Lima. Setelah Penghulu Abdul Rashid terbunuh, pengikut beliau terus dikejar oleh Belanda. Dengan itu, pengikut beliau terpaksa melarikan diri secara beramai-ramai terutamanya ke Tungkal dan Inderagiri, dan kemudiannya ke Tanah Melayu. Jumlah orang Banjar yang berhijrah ke Tanah Melayu sebelum tahun 1874 ini tidak dapat dipastikan, tetapi dipercayai tidaklah begitu banyak. Antara tempat tumpuan mereka ialah negeri Johor yang dekat dengan pulau Sumatera.Di situ mereka membuka hutan dan menubuhkan kampung mereka sendiri atau kampung Banjar.

Migrasi Selepas Tahun 1874
Selepas tahun 1874, iaitu pada akhir abad ke-19 dan lebih jelas lagi pada awal ke-20 migrasi secara beramai-ramai telah berlaku dari Kalsel ke Malaysia. Hal ini terbukti kerana pada tahun 1911 sudah ada 21, 227 orang Banjar di Tanah Melayu. Menjelang tahun 1921, jumlah mereka meningkat hampir 80 persen menjadi 37,848 orang. Pada tahun 1931 jumlah mereka meningkat lagi menjadi 45,351 orang dan terus melonjak menjadi 62,356 orang pada tahun 1947 (Tunku Shamsul Bahrin 1964: 151).

Faktor migrasi
Migrasi orang Banjar selepas tahun 1874 ini biasanya dikaitkan dengan dua faktor utama, iaitu faktor penolak di Kalsel dan faktor penarik di Tanah Melayu.
Mengikut Tajuddinnoor Ghanie (2004) pada tahun 1905 Sultan Muhammad Seman raja Banjar ketika itu mati shahid di tangan pasukan tentera Belanda.Orang Banjar terpaksa melarikan diri, kerana tidak mahu hidup di bawah pemerintan Belanda.Mereka berhijrah lagi secara besar-besaran ke pulau Sumatera, kemudian sebahagiannya berhijrah ke Malaysia. Ini merupakan satufaktor penolak di Kalsel.
Seterusanya setelah kerajaan Banjar dikuasai oleh Belanda, satu faktor penting yang mendorong orang-orang Banjar meninggalkan tanah air mereka ialah tekanan dan penindasan oleh penjajah Belanda. Sebagaimana yang dirumuskan oleh Tunku Shamsul Baharin (1964), pelbagai cukai yang membebankan, yang dikenakan oleh pemerintah Belanda, seperti cukai kerja (labour tax), cukai tanah, cukai poll dan cukai peribadi (cukai ke atas rumah, perabot dan lain-lain), telah menolak orang Banjar supaya meninggalkan tanah air mereka. Dengan itu, mereka berhijrah ke Sumatera kemudian ke Tanah Melayu, atau berhijrah terus ke Tanah Melayu.Ini satu lagi faktor penolak di Kalsel.
Pada masa yang sama, ada pula satu faktor penarik di Tanah Melayu, iaitu faktor ekonomi. Setelah Inggeris campur tangan dalam pemerintahan Tanah Melayu, terdapat pelbagai peluang ekonomi yang boleh menarik orang-orang dari Indonesia, termasuk orang Banjar datang ke Tanah Melayu. Pada peringkat awalnya, di Tanah Melayu ada peluang pekerjaan, seperti membuat parit, di estet-estet orang Inggeris. Orang Banjar dikatakan disukai kerana mereka cekap membuat kerja tersebut.Selepas itu, Inggeris membukakan peluang ekonomi kepada orang-orang yang datang dari Indonesia dengan memperkenalkan tanaman wang (terutamanya getah), memberi kemudahan untuk mendapat tanah dan melayan orang Indonesia sebagai Bumiputera atau orang Melayu.
Tunku Shamsul Baharin (1964: 47-49) menegaskan faktor ekonomi sebagai faktor yang penting ini dengan menyatakan bahawa peluang ekonomi yang terdapat di Tanah Melayu, khasnya peluang memiliki tanah yang disediakan dengan pengairan oleh kerajaan penjajah Inggeris adalah satu faktor yang menarik orang Indonesia, termasuk orang Banjar datang ke Tanah Melayu
Oleh itu, mulai awal abad ke-20 banyak orang Banjar yang terus berhijrah ke Tanah Melayu. Hal iniditegaskan oleh Hasan Basri (1988:47) yang menyatakan bahawa Tanah Melayu adalah tumpuan utama penghijrahan orang Banjar pada masa itu, di samping Tungkal dan Inderagiri.
Orang Banjar yang bermigrasi ke Tanah Melayu selepas tahun 1874 ini tidak tersebar secara merata di semua negeri bahagian. Mereka lebih tertumpu kepada tiga buah negeri, iaitu Perak, Selangor dan Johor. Oleh itu, pada tahun 1911, sebanyak81 peratus orang Banjar berada di Perak, 13.5 peratus di Selangor dan 3.7 peratus di Johor. Pada tahun 1947 pula 54.8 peratus orang Banjar berada di Perak, 23.0 peratus di Selangor dan 19.3 peratus di Johor (Tunku Shamsul Bahrin, 1964: 152).
Pada peringkat negeri bahagian itu pula, mereka terutamanya bertumpu di kawasan pantai. Misalnya di Perak mereka bertumpu di Bagan Datoh (kawasan kelapa) dan Bagan Serai dan Sungai Manik (kawasan padi). Di Johor mereka bertumpu di Batu Pahat dan Muar yang merupakan kawasan kelapa atau getah.Di Selangor pula, mereka bertumpu di Kuala Langat dan Kuala Selangor (kawasan getah) dan Sabak Bernam dan Tanjung Karang (kawasan padi). Keadaan demikian masih kekal hingga kini, kecuali di Perak orang Banjar di Bagan Datoh sudah banyak berpindah ke kawasan padi, dan di Johor pula tanaman kelapa dan getah sudah banyak diganti dengan kelapa sawit.

Tempat asal migran
Satu perkara yang patut diberi perhatian apabila kita membincangkan migrasi orang Banjar ke Tanah Melayu ialah tempat asal mereka di Kalsel. Walaupun migran Banjar datang dari pelbagai tempat, tetapi dengan melihat orang-orang Banjar yang berada di Malaysia masa kini jelas sekali bahawa majoritinya adalah dari kawasan yang kini dikenali sebagai Hulu Sungai. Dengan perkataan lain, mereka datang dari kawasan kampung di sekitar pekan Kandangan, Negara, Barabai, Amuntai, Kalua dan Tanjung yang kini terletak dalam kabupaten Hulu Sungai Utara, Tengah dan Selatan.
Oleh yang demikian, pada peringkat awal kedatangan mereka dahulu, orang Banjar di Tanah Melayu sering memperkenalkan diri mereka berasaskan tempat asal mereka datang. Misalnya di Kerian Perak, majoriti orang Banjar di situ ialah orang Kalua. Akan tetapi, ada juga puak lain, seperti orang Amuntai, Barabai, Alai, Negara, Kandangan, Rantau dan Martapura yang tinggal bersama-sama di kawasan tersebut, walaupun tidak begitu ramai. Di Bagan Serai, Perak terdapat puak Tanjung, Barabai dan Kandangan. Di kawasan Sabak Bernam, Selangor, selain daripada puak Kalua, terdapat juga puak Alai, Negara, Amuntai dan Kandangan.Di Johor pula majoritnya adalah daripada puak Kalua.
Pada masa ini perbezaan mengikut puak ini sudah kurang ditekankan oleh orang Banjar di Malaysia. Bagaimanapun, dari segi loghat dan pertuturan masih terdapat perbezaan yang agak ketara antara puak Kalua, dengan puak Alai, Barabai dan Kandangan apabila mereka bercakap Banjar.

Pola dan proses migrasi
Berdasarkan huraian di atas, sekurang-kurangnya ada dua pola yang umum bagaimana proses migrasi orang-orang Banjar ke Tanah Melayu. Pertama, mereka berhijrah ke pulau Sumatera terlebih dahulu, khasnya ke Tungkal (Jambi) dan Tembilahan (Inderagiri Hilir). Setelah tinggal untuk satu waktu, mereka mengambil keputusan berhijrah ke Tanah Melayu. Oleh kerana Johor ialah negeri Melayu yang paling dekat dengan Tungkal dan Tembilahan, maka Johorlah yang menjadi tumpuan mereka apabila mereka berhijrah ke Tanah Melayu.Antara mereka, ada yang terus menetap di Johor, dan ada yang berpindah lagi ke negeri Melayu yang lain. Pola migrasi jenis ini meliputi orang-orang yang terawal bermigrasi dari Banjar dan orang-orang yang bermigrasi pada awal abad ke-20. Mungkin termasuk juga dalam golongan ini orang-orang yang datang ke pulau Sumatera sebagai pedagang, walaupun maklumat mengenainya tidak begitu jelas. Ketika penulis (Mohamed Salleh Lamry, 1992) membuat kajian mengenai orang Banjar di Selangor pada tahun 1990, penulis menemui beberapa orang tua yang menyatakan bahawa mereka pernah tinggal di Kuala Tungkal sebelum berpindah ke Selangor.
Kedua, mereka bermigrasi terus ke Tanah Melayu. Pola migrasi jenis ini terutamanya melibatkan orang-orang Banjar yang bermigrasi ke Tanah Melayu pada awal abad ke-20. Dari Kalsel mereka umumnya menaiki kapal saudagar dan mendarat di Singapura. Sebahahagian daripada mereka menetap di Johor yang berhampiran dengan Singapura.Sebahagian lagi, yang mungkin lebih ramai meneruskan pelayaran dan mendarat di Pulau Pinang. Mereka bertumpu ke negeri Melayu yang lain, khasnya Perak dan Selangor. Sebab itu pada mulanya orang Banjar di Johor tidaklah begitu banyak, jika dibandingkan dengan orang Banjar di Perak dan Selangor.
Selain daripada dua pola yang tersebut, sebenarnya ada lagi dua pola dan proses migrasi yang lain, yang dilalui oleh orang-orang Banjar, walaupun mungkin tidaklah melibatkan migran yang ramai. Pertama, melibatkan orang-orang Banjar yang terus bermigrasi dan menetap di Tanah Melayu. Akan tetapi, kerana sebab-sebab yang tertentu, khasnya kerana faktor ekonomi, mereka meninggalkan Tanah Melayu. Mereka tidak pulang ke Kalsel, tetapi berpindah lagi ke pulau Sumatera, khasnya ke Kuala Tungkal danTembilahan. Hal ini khususnya berlaku pada zaman meleset pada tahun 1930-an. Banyak pekebun kecil getah Banjar di Johor yang terlibat dengan kemelesetan ekonomi itu berpindah dari Johor, sama ada ke negeri Melayu yang lain, khasnya Perak dan Selangor di mana mereka boleh bertanam padi, ataupun ke Kuala Tungkal dan Tembilahan.
Satu pola lagi melibatkan orang-orang Banjar yang mulanya berhjrah ke pulau Sumatera, kemudian berhijrah lagi ke Tanah Melayu. Apabila berlaku kemelesetan ekonomi tadi, atau kerana faktor-faktor lain, mereka pulang semula ke pulau Sumatera, iaitu ke Kuala Tungkal, ke Tembilahan dan mungkin juga ke Sumut, tetapi tidak pulang ke Kalsel (Mohamed Salleh Lamry 2005).

Migrasi dalaman di Tanah Melayu
Tadi kita telah lihat bahawa walaupun pada peringkat awalnya sebahagian orang Banjar bertumpu ke negeri Johor apabila mereka datang ke Tanah Melayu, tetapi nampaknya hanya sebahagian kecil sahaja yang terus menetap di negeri tersebut. Berdasarkan banci penduduk tahun 1911, kita dapat lihat bahawa pada masa itu 81 peratus orang Banjar adalah berada di negeri Perak dan hanya 3.7 peratus yang berada di Johor. Ini bermakna kebanyakan orang Banjar yang mendarat di Johor itu telah meneruskan perjalanan mereka ke Perak dan memilih menetap di Perak, bukan di Johor.
Bagaimanapun, menjelang tahun 1921, orang Banjar di Johor bertambah dengan banyaknya, iaitu dari 782 orang pada tahun 1911 menjadi 8,365 orang pada tahun 1921. Ini menunjukkan pada tahun 1921, Johor mendapat tambahan penduduk Banjar yang ramai, sama seperti negeri Perak yang penduduk Banjarnya juga bertambah dari 17,368 pada tahun 1911 kepada 24, 766 (Tunku Shamsul Baharin 1964: 152).
Menjelang tahun 1931, banyak orang Banjar dari Perak berpindah ke Selangor dan Johor, kerana kedua-dua negeri itu mengalami pembangunan ekonomi yang lebih pesat berbanding dengan negeri Perak. Dengan itu, pada tahun 1931 orang Banjar di Perak berkurangan dan tinggal 21,862 orang sahaja , sementara orang Banjar di Selangor meningkat menjadi 6,315 dan di Johor meningkat menjadi 15, 492 orang.
Namun, antara tahun 1931 hingga 1947, di samping berpindah ke pulau Sumatera, banyak pula orang Banjar dari negeri Johor, khasnya dari daerah Batu Pahat, berpindah lagi ke Perak dan Selangor. Sebabnya tidak lain, kerana pada zaman meleset tahun 1930-an itu, mereka tidak boleh bergantung kepada tanaman getah. Untuk mengelakkan diri daripada kelaparan, mereka berpindah ke kawasan padi di daerah Kerian dan daerah Hilir Perak (iaitu di Sungai Manik) di Perak dan ke daerah Kuala Selangor (iaitu di Tanjung Karang), di Selangor. Ini menyebabkan pada tahun 1947 orang Banjar di Johor merosot kepada 12,049 orang sahaja, sementara di Perak meningkat kembali menjadi 34,186 orang dan di Selangor meningkat menjadi 14, 322 orang.
Sementara itu, dari semasa ke semasa ada juga perpindahan orang Banjar dalam negeri yang sama. Misalnya, di Selangor pada tahun 1911, majoriti orang Banjar adalah berada di daerah Kuala Langat. Di situ mereka mengusahakan penanaman getah Akan tetapi menjelang tahun 1921, sebahagian daripada mereka berpindah ke daerah Kuala Selangor di mana mereka boleh bertanam padi di kawasan padi Tanjung Karang. Jadi pada tahun 1921, di negeri Selangor majoriti orang Banjar berada di daerah Kuala Selangor, tidak lagi di daerah Kuala Langat.
Salah sebuah kampung di daerah Sabak Bernam, Selangor yang penduduk awalnya terdiri daripada orang Banjar ialah Kampung Tengah. Di kampung itu penduduknya mengusahakan kebun kelapa. Apabila kawasan pertanian padi di buka di Mukim Pancang Pedena di daerah Sabak Bernam pada tahun 1932, sebahagian penduduknya telah meninggalkan kampung itu untuk menyertai penanaman padi di kawasan padi yang baru dibuka itu.
Di negeri Perak pula, pada peringkat awalnya banyak orang Banjar bertumpu di Bagan Datuk dalam daerah Hilir Perak.Di situ mereka mengusahakan pertanian kelapa. Apabila kawasan pertanian padi di buka di Sungai Manik (dalam daerah Hilir Perak juga) pada tahun 1930-an, sebahagian besar daripada mereka telah berpindah ke Sungai Manik, dan hanya golongan minoriti orang Banjar yang terus tinggal di Bagan Datuk.

Berakhirnya migrasi ke Tanah Melayu
Migrasi orang Banjarke Tanah Melayu berlaku ketika Kalsel berada di bawah penjajahanBelanda danTanah Melayu di bawah penjajahan Inggeris. Ketika itu nampaknya tidak ada halangan daripada pihak Belanda untuk orang Banjar meninggalkan tanah air mereka, dan pihak penjajah Inggeris pula menerima orang-orang Banjar untuk bekerja di ladang-ladang pemodal Inggeris atau membuka tanah untuk pertanian, sama ada untuk penanaman kelapa, getah dan padi.
Migrasi orang Banjar ke Tanah Melayu boleh dikatakan terhenti pada masa Perang Dunia Kedua, oleh kerana kesukaran perhubungan dan kesukaran hidup pada masa itu. Migrasi itu berkurangan dan berakhir apabila Indonesia dan Malaysia wujud sebagai dua negara merdeka yang berasingan selepas peperangan tersebut. Antara sebabnya yang utama adalah antara tahun 1948 hingga 1960 Malaysia berada dalam keadaan darurat, iaitu menghadapi pemberontakan bersenjata yang dilancarkan oleh Parti Komunis Malaya, dan kehidupan rakyatnya pun berada dalam keadaan susah. Ini tentu tidak menarik orang Banjaruntuk datang lagi ke Malaysia.
Mulai tahun 1970-an hingga kini memang ramai sekali orang Indonesia yang datang ke Malaysia untuk bekerjaan di pelbagai sektor pekerjaan, sehingga mencapai jumlah 2 hingga 3 juta orang. Mereka terutamanya bekerja sebagai buruh di perkebunan, buruh binaan, dan pembantu rumah. Akan tetapi kebanyakan yang datang itu ialah orang-orang dari Jawa, Madura dan Pulau Bawean. Orang Banjar agaknya tidak tertarik dengan pekerjaan tersebut. Jika ada yang tertarik, mereka mungkinpergi ke Sarawak dan Sabah yang lebih dekat dengan Kalsel, dan hampir tidak ada yang datang ke Semenanjung Malaysia (Mohamed Salleh Lamry 2005).

PELESTARIAN CARA HIDUP BANJAR
Orang-orang Banjar generasi awal(khasnya generasi pertama dan kedua)umumnya telah membawa dan mengekalkan cara hidup Banjar apabila mereka berada di Tanah Melayu. Hal ini dapat diperhatikan dari beberapa aspek cara hidup orang-orang Banjar di daerah Sabak Bernam, Selangor sebagaimana yang dipaparkan di bawah ini (Mohamed Salleh Lamry 2005, 2010).

Tinggal di Kampung Banjar dan meneruskan kehidupan sebagai petani sara diri
Pada awal abad ke-20, iaitu antara tahun 1900 hingga 1920-an beberapa kelompok orang Banjar dari Kalsel telah datang ke Selangor dan membuka beberapa kampung di daerah Sabak Bernam. Pada mulanya mereka membuka hutan dan membuat kebun kelapa. Apabila kerajaan membuka kawasan pertanian padi di Mukim Pancang Pedena dalam daerah tersebut pada tahun 1930, sebahagian besar daripada mereka telah berpindah ke kawasan padi sebagaimana yang ada sekarang.
Ketika mereka berada di kawasan asal (kawasan kelapa) dan kemudian berada di kawasan padi, semua orang Banjar generasi awal ini tinggal di kampung mereka sendiri, iaitu Kampung Banjar, yang terpisah dari kampung suku lain. Dengan itu, mereka lebih banyak berinterakasi sesama Banjar yang tinggal sekampung dengan mereka. Hanya pada masa-masa tertentu mereka berinteraksi dengan suku lain, seperti orang Jawa, Bugis dan Kampar di pasar atau di masjid yang terletak di luar kampung mereka.
Dalam kampung mereka sendiri,mereka meneruskan kehidupan sebagai petani sara diri. Bagi merekayang bertanam tanaman wang seperti kelapa, orientasi pertanian mereka masih untuk sara diri, walaupun sebahagian kelapa itu untuk jualan. Bagi merekayang bertanam padi pula,padi yang mereka hasilkan pada mulanya memang untuk penggunaan sendiri. Mereka terus bertani mengikut cara lama, bergantung kepada tenaga manusia dan alat-alat lama seperti tajak dan cangkul. Jadi kebanyakan daripada mereka hanya berpindah tempat tinggal dari Kalsel ke Malaysia, tetapi masih meneruskan kehidupan sebagai petani tradisional seperti di tempat asal mereka. Mungkin kehidupan mereka di Malaysia lebih senang sedikit, kerana mereka ada tanah sendiri yang mereka buka mengikut kemampuan masing-masing, tetapi status mereka masih tetap sebagai petani tradisional.

Berkomunikasi dalam Bahasa Banjar
Sebagai orang Banjar yang tinggal di kampung sendiri dan terpisah dari kampung suku lain, bahasa yang di gunakan oleh orang Banjar di Sabak Bernam untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari tentu sahaja bahasa Banjar. Mereka hanya perlu menggunakan bahasa lain, khasnya bahasa Melayu, jika sekali sekala mereka berinteraksi dengan imigran Indonesia yang lain di pasar atau di masjid di kampung lain, atau dengan orang Cina di pasar atau di kedai runcit orang Cina.
Bahasa Banjarpula memang mereka ajar atau sosialisasikan kepada anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Jadi sekurang-kurangnya sehingga generasi ketiga orang Banjar di Malaysia memang boleh berbahasa Banjar dengan fasih dan menggunakan bahasa Banjar dalam interaksi sesama mereka.
Berbanding dengan unsur kebudayaan yang lain, ketika itu bahasa Banjar jelas merupakan unsur kebudayaan yang terpenting, kerana ia merupakan salah satu ciri yang menjadi identiti orang Banjar dan yang membezakan orang Banjar daripada imigran Indonesia yang lain.

Berkahwin Sesama Banjar
Oleh kerana mereka tinggal di kampung mereka sendiri, dan kurang berinteraksi dengan suku lain, maka sebagai kesannya, dalam kalangan orang Banjar generasi awal di Sabak Bernam perkahwinan anak orang Banjar hanya berlaku dengan anak orang Banjar juga. Orang Banjar generasi pertama dan kedua khasnya memang hampir tidak ada yang berkahwin dengan suku lain.

Generasi Awal yang Buta Huruf
Orang-orang Banjar generasi pertama di Sabak Bernam pada umumnya tidak bersekolah semasa mereka di Kalsel. Oleh itu mereka kekal sebagai orang-orang yang buta huruf selepas mereka berada di Tanah Melayu.
Pada tahun-tahun permulaan mereka berada di Malaysia, orang Banjar di Sabak Bernam memang menghadapi kesukaran untuk menghantar anak mereka ke sekolah Melayu, iaitu sekolah rendah kerajaan yang ada ketika itu, yang boleh dianggap sebagai tempat “pendidikan moden”. Ini kerana sekolah itu umumnya hanya ada di kampung lama yang agak jauh dari kampung mereka. Oleh itu, kebanyakan anak migran Banjar, atau orang Banjar generasi kedua di Malaysia umumnya memang tidak bersekolah dan “buta huruf” seperti ibu bapa mereka.
Kebanyakan kampung Banjar di Sabak Bernam hanya mempunyai sekolah Melayu selepas perang dunia kedua. Ini bermakna hanya orang Banjar generasi ketiga yang dapat peluang belajar di sekolah tersebut dan tidak lagi merupakan orang-orang yang buta huruf.
Walau bagaimanapunm sejak awalnya orang Banjar di Sabak Bernam kelihatan menunjukkan minat yang kuat terhadap “pendidikan tradisional”, iaitu pendidikan agama Islam. Dengan itu, sebahagian kecil daripada mereka yang berkemampuan telah menghantar anak mereka ke sekolah agama atau ke sekolah pondok yang terdapat di tempat lain, atau malah di negeri bahagian yang lain, walaupun agak jauh dari tempat tinggal mereka.

Memelihara Adat dan Upacara Keagamaan
Memang sudah dimaklumi bahawa agama Islam yang dianut oleh orang Banjar merupakan satu lagi ciri identiti mereka. Oleh itu, dalam kalangan orang Banjar generasi pertama dan kedua di Sabak Bernam memang dapat dilihat dengan jelas pegangan mereka yang kuat kepada adat dan upacara keagamaan, khasnya adat dan upacara keagamaan yang berkaitan dengan daur hidup. Oleh itu ada pelbagai upacara yang berkaitan dengan kehamilan, kelahiran, masa kanak-kanak, menjelang dewasa, perkahwinan dan kematian, seperti yang tesenarai dalam M.Suriansyah Ideham (2007) terus dipelihara dan dipertahankan oleh semua keluarga Banjar.
Di samping itu, beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti Israk Mikraj dan kelahiran Nabi Muhamad (Maulud Nabi) mereka sambut pada tiap-tiap tahun, di masjid atau surau kampung mereka. Antara acara sambutan itu termasuklah ceramah oleh seorang tokoh agama tempatan dan makan bersama oleh penduduk sesebuah kampung.

Memelihara Kesenian Banjar
Dengan penghijrahan mereka ke Malaysia, dipercayai banyak kesenian rakyat Banjar yang di bawa oleh orang Banjar ke Sabak Bernam. Antaranya ialah seni sastera lisan seperti Dundam dan Madihin dan seni suara seperti Baahui. Dundam yang merupakan seni bercerita, seperti penglipur lara di kalangan orang Melayu, diadakan pada majlis-majlis tertentu, seperti perkahwinan dan berkhatan. Madihin yang merupakan rangkaian pantun dan syair dinyanyikan pada majlis perkahwinan dan majlis keramaian yang lain. Baahui pula seperti acara berbalas pantun masa kini, mereka adakan ketika mereka berkumpul mengirik padi, iaitu melepaskan padi dari tangkainya. Jadi acara Baahui memang sesuai mereka teruskan, apabila di Malaysia juga mereka hidup sebagai pesawah padi.
Selain itu, ada satu lagi kesenian Banjar yang dipercayai pernah wujud di Sabak Bernam, iaitu seni teater yang disebut Wayang Banjar. Wayang Banjar yang dimainkan di daerah ini dikatakan agak mirip dengan wayang kulit Jawa.
Masih termasuk dalam bidang kesenian, antara unsur kebudayaan Banjar yang kekal di Sabak Bernam dan tempat-tempat lain ialah seni masakan dan minuman. Di antara pelbagai kuih dan masakan itu, ada satu jenis kuih yang disebut wadai kiping.Wadai kiping dibuat daripada tepung pulut yang diadun dengan air panas dan sedikit garam.Ia dibulatkan sebesar duit lima sen, kemudian dimasak dengan santan dan gula merah. Di samping itu, ada juga makanan yang disebut wadi, iaitu ikan (biasanya ikan sepat) yang diperam dengan garam, beras goreng, asam gelugur dan gula merah. Wadi boleh disimpan lama dan biasanya dihidangkan dalam musim menuai dan musim kemarau.

PERUBAHAN SOSIAL
Setelah berlalunya waktu lebih seratus tahun, dan orang Banjar di Malaysia sekarang sekurang-kurangnya sudah sampai ke generasi kelima, maka tidak dapat dinafikan banyak perubahan telah berlaku dalam cara hidup orang Banjar di perantauan. Sebahagian daripada perubahan itu jelas merupakan kesan daripada dasar dan rancangan pembangunan kerajaan, walaupun ada juga yang merupakan kesan atau pengaruh dari persekitaran sosial dan globalisasi (Mohamed Salleh Lamry 2013).

Menjadi Petani Moden
Selepas Malaysia mencapai kemerdekaan pada tahun 1957, terutamanya antara tahun 1960-an dan 1980-an, kerajaan Malaysia telah melancarkan rancangan pembangunan desa yang sangat pesat. Antara unsur utama rancangan itu adalah penyampaian pelbagai kemudahan asas (infrastruktur) fizikal dan sosial, seperti jalan raya, balai raya atau dewan orang ramai, klinik kesihatan, sekolah, bekalan air bersih (air paip) dan api elektrik ke seluruh negara, termasuk ke kampung-kampung orang Banjar.
Pembangunan yang sangat pesat ini jelas sekali dapat diperhatikan di daerah Sabak Bernam. Dengan itu, kampung-kampung orang Banjar di daerah ini, yang dahulunya “mundur” dan terpencil telah menjadi kawasan yang “maju” dan terbuka dan mempunyai perhubungan yang mudah dengan kawasan bandar.
Dalam rangka pembangunan desa itu juga, kerajaan telah melancarkan rancangan pemodenan pertanian dengan menyampaikan pelbagai bantuan dan kemudahan.Di bawah rancangan itu para petani padi dianjurkan menanam padi dua kali setahun dengan menggunakan benih baru, racun rumput dan racun serangga.Penanaman padi tidak lagi bergantung kepada air hujan, kerana sudah ada sistem tali air dan perparitan yang disediakan oleh kerajaan. Para petani tidak lagi bergantung kepada tajak dan cangkul, kerana sejak tahun 1950-an sudah ada mesen pembajak kecil yang terkenal dengan namaKobuta untuk membajak sawah. Dalam beberapa tahun terakhir, proses penanaman padi, dari menabur benih hingga menuai, semuanya dilakukan dengan menggunakan jentera. Jadi untuk menanam padi tidak perlu lagi bergotong royong dan bergantung kepada tenaga manusia. Di samping itu, ada pula Persatuan Peladang, iaitu satu organisasi yang ditubuhkan oleh kerajaan untuk menyalurkan pelbagai bantuan dan kemudahan kepada para petani, seperti menjual baja dengan harga subsidi.
Pelaksanaan rancangan pemodenan pertanian ini dapat dilihat dengan jelas di daerah Sabak Bernam. Bersama-sama dengan kawasan padi Tanjung dalam daerah Kuala Selangor, yang sebahagian penduduknya juga terdiri daripada orang Banjar, Sabak Bernam merupakan salah satu kawasan pertanian yang terawal diperkenalkan dengan rancangan pemodenan tersebut. Dengan itu, petani padi di Sabak Bernam kini boleh dianggap sebagai petani moden.
Bagi petani yang mengusahakan tanaman getah pula, mereka digalakkan menanam semula dengan bantuan kerajaan, jika getah mereka telah tua. Hal ini terutamanya dapat dilihat dalam kalangan pekebun kecil getah Banjar di beberapa kampung di Perak, Selangor dan Johor. Begitu juga ada bantuan daripada kerajaan dalam bentuk subsidi, untuk petani yang ingin menanam kelapa sawit dan koko. Dengan itu, pekebun kelapa sawit dan koko dari suku Banjar di daerah Sabak Bernam, Selangor dan di daerah Hilir Perak, Perak, misalnya dapat melibatkan diri dengan rancangan pemodenan pertanian tersebut.
Sementara itu, mulai tahun 1956 hingga 1970-an kerajaan telah membuka rancangan pembangunan tanah untuk menempatkan semula petani miskin yang tidak bertanah di beberapa negeri bahagian. Rancangan itu diwujudkan di kawasan hutan yang baru dibuka dan dikendalikan oleh sebuah agensi kerajaan yang diberi nama Federal Land Development Authority (FELDA).
Di bawah rancangan itu setiap peserta diberi tanah yang ditanami dengan getah atau kelapa sawit, yang keluasannya antara 4 hingga 4.9 hektar dan sebuah rumah secara percuma . Akan tetapi, pekerjaaan membuka hutan dan menanam tanaman itu, yang dilakukan oleh kontraktor, dikira sebagai hutang yang perlu dibayar dalam masa 15 tahun.
Oleh kerana orang Banjar generasi ketiga di daerah Sabak Bernam ramai juga yang tidak mempunyai tanah, maka sejumlah yang agak besar daripada mereka telah berhijrah ke kawasan pembangunan tanah itu, yang kebanyakannya terletak di negeri bahagian Selangor, Perak dan Pahang. Mereka mengerjakan sendiri tanah yang telah mengeluarkan hasil, yang diperuntukan kepada mereka, tetapi pemasaran hasil pertanian mereka dikendalikan oleh pihak FELDA.
Sebagai petani yang memiliki kebun getah atau kelapa sawit, pendapatan mereka memang tidak stabil, kerana dipengaruhi oleh turun naik harga di pasaran dunia. Bagaimanapun, ketika harga getah dan kelapa sawit berada di paras yang tinggi, pendapatan mereka sangat lumayan sehingga mereka mampu membesarkan rumah, membeli kereta, dan pelbagai peralatan rumah. Ketika pendapatan mereka terlalu merosot, kerajaan akan menolong mereka dengan memberi pinjaman bagi menampung kehidupan mereka.
Kini setelah lebih 50 tahun berlalu, orang-orang Banjar dari Sabak Bernam dan tempat-tempat lainyang menyertai rancangan pembangunan tanah FELDA itu telah berubah menjadi petani moden yang hidup senang dan makmur. Setiap tahun pula kini pihak FELDA telah memberi wang bonus kepada mereka, khasnya ketika menjelang hari raya. Sebahagian daripada mereka telah bertukar pekerjaan, misalnya menjadi peniaga atau pengusaha. Sebahagian lagi, khasnya yang telah tua, boleh hidup santai dengan mengupah buruh dari Indonesia untuk mengerjakan tanah mereka.
Jadi, di bawah rancangan pemodenan pertanian yang dianjurkan oleh kerajaan, orang Banjar yang masih berada di sektor pertanian, sama ada di kampung tradisional atau di tanah rancangan FELDA sudah berubah dari petani tradisional menjadi petani moden. Mereka umumnya sudah menikmati kehidupan yang lebih baik, walaupun barangkali belum sepenuhnya mengorientasikan pertanian mereka sebagai perniagaan.

Melibatkan Diri dengan Pendidikan Moden dan Bermobiliti ke Kelas Menengah
Sejak Malaysia mencapai kemerdekaan, pendidikan moden di Malaysia telah berkembang dengan pesat. Sekolah Menengah Kebangsaan (bahasa pengantarnya bahasa Melayu) yang tidak wujud pada zaman penjajahan telah muncul dan berkembang mulai awal tahun 1960-an. Sekolah tersebut mulanya didirikan di bandar besar, kemudian ke pekan kecil, seperti pekan Sabak dan Sungai Besar di daerah Sabak Bernam.Universiti Kebangsaan yang merupakan kemuncak persekolahan aliran Melayu atau kebangsaan pula telah ditubuhkan pada tahun 1970.
Dalam hal ini orang Banjar di Sabak Bernam memahami bahawa pendidikan moden mempunyai nilai ekonomi. Maknanyaanak mereka yang mendapat pendidikan moden mudah mendapat kerja yang mempunyai status yang agak tinggi (khasnya di sektor awam), dan mudah mendapat pandapatan yang agak lumayan.
Oleh itu, seperti anak kaum lain, selepas kemerdekaan pada tahun 1957, sebilangan besar anak orang Banjar di Sabak Bernam sudah menceburkan diri dalam pendidikan moden, sekurang-kurangnya hingga ke peringkat menengah. Mereka yang pandai dan terpilih melanjutkan pelajaran pula hingga ke peringkat universiti.
Selepas tahun 1970, khasnya antara tahun 1970-an hingga 1980-an, di bawah Dasar Ekonomi Baru (DEB) kerajaan telah menghantar ribuan anak-anak Melayu (termasuk anak Banjar) belajar ke luar negara dengan biasiswa kerajaan. Tidak ada data tentang jumlah anak orang Banjar, tapi dipercayai jumlah anak Banjar dari Sabak Bernam dan tempat lain yang mendapat faedah dari dasar kerajaan ini adalah besar.Penghantaran anak-anak Melayu ke luar negara ini berlanjutan sampai sekarang, walaupun jumlahnya telah dikurangkan.
Dalam keadaan demikian, minat orang Banjar di Sabak Bernam dan tempat lain terhadap pendidikan tradisional boleh dikatakan telah merosot. Apatah lagi di Malaysia pendidikan tradisional dalam bentuk sekolah pondok memang telah merosot berbanding dengan masa yang lalu.
Sementara itu, dengan bantuan dan kemudahan kerajaan, memang ada usaha untuk memodenkan sekolah aliran agama Islam. Kerajaan telah mendirikan banyak juga sekolah menengah agama yang moden, yang membolehkan lepasan sekolah itu melanjutkan pelajaran di Fakulti Pengajian Islam di universiti tempatan atau di universiti di Timur Tengah, seperti Universiti Al-Azhar dan Universiti Madinah.
Hari ini hampir setiap daerah di Malaysia, termasuk daerah Sabak Bernam mempunyai sekurang-kurangnya sebuah sekolah menengah agama. Sekolah aliran agama ini juga diminati oleh anak-anak Banjar. Oleh itu, walaupun tidak ada data tentang jumlah anak Banjar yang belajar di sekolah menengah agama, tetapi di negeri-negeri yang penduduknya banyak terdiri daripada orang Banjar, seperti Perak, Selangor dan Johor, jumlah anak Banjar yang belajar di sekolah menengah agama adalah agak besar juga.
Oleh yang demikian, dengan perkembangan pendidikan moden, anak-anak Banjardi Sabak Benam kini lebih memilih pendidikan moden, yang merupakan pendidikan arus perdana, sama ada aliran kebangsaan atau agama, dan sama ada di dalam negara atau di luar negara.
Dengan penglibatan anak Banjar Sabak Bernam dengan pendidikan moden, maka sejak awal tahun 1970-an telah berlaku mobiliti sosial yang sangat pesat di kalangan anak-anak Banjar, seperti di kalangan anak-anak “suku Melayu” yang lain. Anak-anak Banjar yang belajar setakat sekolah menengah umumnya telah bermobiliti ke kelas “menengah rendah”, apabila mereka dapat bekerja di sektor awam sebagai kerani, guru, jururawat, askar dan polis pangkat rendah. Mereka yang berkelulusan universiti pula bermobliti ke kelas “menengah tengah” apabila mereka dapat bekerja sebagai guru siswazah, doktor, peguam, arkitek, pengurus, pegawai tadbir, pensyarah universiti dan sebagainya, sama ada di sektor awam atau swasta.
Dalam hubungan ini patut disebut bahawa kini sudah banyak orang Banjar di Malaysia yang berpangkat besar, iaitu memegang jawatan tinggi dalam pelbagai bidang pekerjaan, yang boleh pula dianggap sudah bermobiliti ke ke kelas menengah atas. Misalnya, rektor sebuah universiti di Malaysia kini adalah orang Banjar. Ketua Polis Negara Malaysia juga dahulunya orang Banjar. Malah terdapat puluhan profesor kanan di pelbagai universiti di Malaysia yang terdiri daripada orang Banjar.
Sementara itu, orang Banjar di Malaysia yang menjadi pengusaha yang berjaya juga sudah ramai bilangannya.Malah ada yang boleh dianggap sebagai tokoh korporat.Mereka bergerak dalam pelbagai bidang industri, seperti perkapalan, perladangan kelapa sawit, perkhidmatan kesihatan (membuka hospital atau pusat kesihatan), makanan halal, kosmetik, dan lain-lain.Jadi mereka pun sudah bermobiliti ke kelas menengah juga.
Dengan bermobiliti ke kelas menengah, gaya hidup mereka juga tentu berbeza daripada gaya hidup datuk nenek mereka, orang Banjar generasi pertama dan kedua dahulu. Perbezaan gaya hidup itu sekurang-kurangnya boleh dilihat dari segi pemilikan rumah dan barang-barang material dan interaksi sosial yang lebih luas.

Berhijrah ke Bandar
Di Malaysia kebanyakan sekolah menengah yang baik, termasuk yang mempunyai asrama penuh, terdapat di bandar, sama ada di ibu negara atau di ibu negeri bahagian. Hampir semua universiti juga terletak di bandar, termasuk di “bandar baru” (kawasan desa yang dibangunkan menjadi bandar secara terancang).
Oleh itu, kebanyakan anak Banjar yang pandai dan mahu belajar di sekolah menengah yang baik, termasuk dari Sabak Bernam, mesti meninggalkan kampung dan berpindah ke bandar. Mereka yang mahu melanjutkan pelajaran ke peringkat universiti pula memang tidak ada pilihan, kecuali berpindah ke bandar. Setelah tamat belajar pula, mereka biasanya terus tinggal di bandar, kerana kebanyakan peluang pekerjaan terdapat di bandar.
Dengan demikian, kebanyakan anak orang Banjar dari daerah Sabak Bernam dan tempat lain, dari generasi ketiga hingga kelima kini tinggal di bandar dan telah menjadi orang bandar, sama ada mereka bekerja di sektor awam (kerajaan), swasta ataupun bekerja sendiri sebagai pengusaha. Yang tinggal di kampung majoritinya ialah orang tua, saki-baki generasi kedua, dan sebahagian generasi ketiga, yang bekerja di sektor pertanian atau perniagaan kecil.
Orang Banjar yang berhijrah ke bandar umumnya tinggal di kawasan perumahan yang disebut “taman” (garden), iaitu sebuah komuniti baru, yang umumnya mempunyai pelbagai kemudahan: masjid (paling kurang surau), sekolah, pusat komersal (paling kurang kedai dan pasar raya), klinik dan sebagainya. “Taman perumahan” merupakan tempat tinggal utama penduduk bandar Malaysia masa kini, sama ada di bandar besar atau di bandar kecil. Di situ orang Banjar tinggal bersama, malah berjiran dengan suku Melayu yang lain dan dengan bangsa Malaysia yang lain (Cina dan India). Mereka sudah keluar dari kampung Banjar dan tinggal dalam komuniti baru yang dihuni oleh pelbagai suku dan bangsa (Mohamed Salleh Lamry 2013).

Berkahwin dengan Suku Lain
Dengan bekerja dan tinggal di bandar, orang Banjar yang berasal dari kampung-kampung di Sabak Bernam dan tempat lain, yang dahulunya banyak berinteraksi sesama Banjar saja, kini sudah terdedah kepada pergaulan yang lebih luas dengan suku dan bangsa lain. Sama ada di sekolah atau di tempat kerja, kawan mereka tidak lagi terhad kepada orang Banjar, tetapi meliputi orang-orang daripada pelbagai suku dan bangsa.
Oleh itu, apabila tiba saatnya untuk mereka memilih pasangan hidup, pilihan mereka tidak lagi terhad kepada orang Banjar. Orang Banjar generasi ketiga dan seterusnya, yang bekerja dan tinggal di bandar, memang sudah ramai yang berkahwin dengan suku lain. Perkahwinan dengan suku lain sudah menjadi perkara biasa, dan mungkin sama banyak, kalau pun tidak lebih banyak, daripada perkahwinan sesama Banjar.
Perkahwinan dengan suku lain ini memang ada kesan negatifnya jika dilihat dari segi penggunaan dan pelestarian bahasa Banjar. Biasanya orang Banjar yang berkahwin dengan suku lain, akan menggunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi dalam keluarga mereka. Mereka tidak mengajar bahasa Banjar atau bahasa pasangan mereka kepada anak-anak mereka. Dengan itu, anak-anak mereka tidak terdedah kepada bahasa Banjar dan akan termasuk dalam golongan yang tidak pandai bercakap Banjar.

Kemerosotan Penggunaan Bahasa Banjar
Pemerhatian saya di daerah Sabak Bernam dan pengalaman saya menunjukkan bahawa anak-anak orang Banjar yang kedua-dua ibu bapanya orang Banjar dan menggunakan bahasa Banjar dalam kehidupan sehari-hari, umumnya boleh bercakap Banjar pada zaman kanak-kanak dan remaja mereka, kerana terdedah kepada bahasa Banjar sejak mereka kecil.
Akan tetapi, apabila mereka bersekolah di bandar dari peringkat menengah hingga ke peringkat universiti dan bekerja di bandar selama berpuluh tahun, bahasa Banjar tidak lagi mereka gunakan, kecuali jika mereka balik ke kampung. Dalamberkomunikasi dengan kawan, guru dan rakan sekerja mereka, bahasa yang mereka gunakan ialah bahasa Melayu, dan ada kalanya bahasa Inggeris. Dengan itu, kemahiran mereka menggunakan bahasa Banjar mula merosot.
Kini ramai orang Banjar dari golongan muda, khasnya generasi keempat dan kelima yang tidak boleh bercakap bahasa Banjar dengan fasih. Malah ada juga yang sudah tidak boleh bercakap Banjar, walaupun mungkin masih merupakan golongan kecil. Mereka yang pernah belajar di luar negeri pula mungkin boleh bercakap Inggeris, Arab, Jepun atau Perancis, tetapi tidak fasih lagi bercakap Banjar, atau lebih malang, ada yang tidak boleh lagi bercakap Banjar.
Jika dicampurkan dengan anak-anak hasil perkahwinan campur, yang di rumah, di sekolah dan di tempat kerja hanya bercakap Melayu dan sejak kecil tidak pernah diajar bahasa Banjar, maka kini semakin ramailah orang-orang keturunan Banjar yang tidak boleh lagi bercakap Banjar dengan fasih.

Meninggalkan Adat, tetapi Meningkatkan Amalan Agama
Orang-orang Banjar yang kini telah bermobiliti ke kelas menengah dan tinggal di kota seperti Kuala Lumpurkhasnya, mungkin telah meninggalkan beberapa upacara yang berkaitan dengan daur ulang. Misalnya beberapa upacara mandi bagi perempuan yang hamil dan memberi nama bagi anak yang lahir mungkin sudah ditinggalkan. Bagaimanapun, beberapa upacara yang lebih berkaitan dengan agama, seperti upacara akikah anak, berkorban lembu atau kambing pada masa hari raya haji semakin banyak yang melakukannya. Begitu juga kenduri tahlil bagi ibu bapa yang diadakan di kampung asal mereka. Ini terutamanya berkaitan dengan kemampuan mereka dari segi kewangan. Sambutan israk mikraj dan sambutan maulud di surau dan masjid juga terus bersemarak, kerana banyak yang mampu memberi derma dan sumbangan dari segi kewangan.
Pada masa yang sama semakin ramai pula orang Banjar kelas menengah di kota yang berulang-ulang mengerjakan ibadah umrah dan haji, dan bersembahyang secara berjemaah di surau dan masjid. Jadi kesedaran beragama dalam kalangan orang Banjar di kota jelas semakin meningkat, walaupun mereka telah berpindah ke kota dan menjadi orang kota (Mohamed Salleh 2013).

Berkunjung ke Kalsel
Jika orang Banjar generasi pertama dan kedua,kebanyakannya tidak pernah pulang ke Kalsel, antara lain kerana masalah kewangan, generasi ketiga dan keempat yang telah bermobiliti ke kelas menengah ramai yang telah berkunjung ke Kalsel selewat-lewatnya mulai awal tahun 2,000-an. Ini tentunya berkaitan dengan kemampuan mereka dari segi kewangan. Orang-orang Banjar dari Sabak Bernam memang sudah ramai yang berkunjung ke Kalsel dalam tempoh 20 tahun belakangan ini. Pada masa yang sama, sebuah organisasi orang Banjar di Malaysia, iaitu Pertubuhan Banjar Malaysia (PBM), sudah beberapa kali membawa rombongan ke Kalsel, antaranya ketika diadakan Aruh Ganal pada tahun 2000 dan Kongres Budaya Banjar Ke-2 di Banjarmasin pada tahun 2010.
Walau bagaimanapun, di samping menghadiri acara-acara tertentu, tujuan utama orang Banjar Malaysia berkunjung ke Kalsel adalah untuk menemui keluarga dan melancong sahaja. Setakat ini belum ada usaha untuk mengadakan kerjasama dalam bidang perniagaan atau bidang lain antara mereka dengan orang Banjar di Kalsel.

KESIMPULAN
Orang Banjar dari Kalsel telah bermigrasi ke Malaysia dalam jumlah yang besar, terutamanya selepas Inggeris campurtangan dalam pemerintahan Malaya atau Tanah Melayu pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mereka melakukan migrasi itu terutamanya kerana pelbagai tekanan yang mereka hadapi di Kalsel, dan kerana tertarik dengan peluang ekonomi yang terbuka luas di Tanah Melayu. Mereka memilih menetap di Tanah Melayu dan tidak kembali lagi ke Kalsel. Di Tanah Melayu mereka membuka kampung Banjar, meneruskan kehidupan sebagai petani sara diri dan melestarikan cara hidup Banjar yang mereka bawa dari Kalsel.
Namun, keturunan mereka atau cucu cicit mereka yang sekarang telah menjadi “bangsa Melayu” dan warganegara Malaysia, sudah mengalami pelbagai perubahan, sama ada dari segi pendidikan, pekerjaan, status sosial, gaya hidup dan cara hidup pada umumnya.Ada beberapa beberapa unsur cara hidup Banjar atau budaya Banjar yang sudah mereka tinggalkan atau tidak amalkan lagi. Antara yang paling ketara ialah kemerosotan dalam penggunaan bahasa Banjar.
Dengan berlakunya pelbagai perubahan itu identiti orang Banjar di Malaysia juga telah mengalami perubahan. Mereka yang masih tinggal di kampung dan mereka yang telah berpindah ke kawasan pembangunan tanah (FELDA) telah berubah daripada petani tradisional yang miskin menjadi petani moden yang hidup makmur. Mereka yang berpindah ke bandar telah menjadi pegawai kerajaan dan syarikat swasta, dari peringkat rendah hingga peringkat tinggi. Di samping itu, ada juga yang menjadi pengusaha sederhana dan besar.Dengan itu, mereka semua telah bermobiliti ke kelas menengah, dan sudah ramai yang mampu berkunjung ke Kalsel. Ada di antara mereka yang tidak boleh lagi bercakap Banjar, walaupun mereka mungkin pandai berbahasa Inggeris atau bahasa lain.
Dengan berlakunya pelbagai perubahan sebagaimana yang dinyatakan di atas, khasnya dari segi pendidikan, pekerjaan, status sosial dan gaya hidup itu, jelaslah ciri-ciri orang Banjar di Malaysia kini telah banyak berubah. Oleh yang demikian, kita mungkin boleh mengatakan bahawa orang Banjar di Malaysia kini secara amnya sudah mengalami perubahan identiti, iaitu berubah dari Banjar Lama menjadi Banjar Baru, walaupun perubahan itu belumlah menyeluruh.
Sebagaimana yang dinyatakan di atas, sebahagian besar daripada perubahan sosial ini terutamanya berlaku sebagai kesan daripada dasar dan rancangan pembangunan kerajaan. Namun, ada juga perubahan yang berlaku kerana pengaruh keadaan persekitaran atau lingkungan sosial di mana mereka berada, di samping pengaruh globalisasi.

RUJUKAN
Cek Mat. 1981/82. Sejarah Kedatangan Orang-Orang Banjar: Satu Kajian Kes diDaerah Sabak Bernam, Selangor. Tesis B.A. Universiti KebangsaanMalaysia.
Fuziah Mohd.Ali. 1979. Sejarah Penghijrahan, Penempatan dan Kegiatan Orang Banjar di Krian 1870-an – 1960-an. Tesis B.A. Universiti KebangsaanMalaysia.
Ghazali Basri. 1974/75. Sejarah Suku Banjar di Semenanjung Tanah Melayu:
Satu Tinjauan Umum: Mini Tesis B.A, Universiti Malaya.
Hasan Basri. 1988. Perpindahan Orang Banjar ke Surakarta: Kasus Migrasi
Inter-Etnis di Indonesia. Prisma.No.3.
M.Suriansyah Ideham, et.al. 2007. Urang Banjar dan Kebudayaannya.
Banjarmasin: Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan.
Mochtar Naim. 1984. Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Mohamad Reduan Aslie.1977. Masyarakat Suku Banjar di Malaysia. Mastika.
Julai.
Mohamed Salleh Lamry. 1992. Orang Banjar di Selangor: Penghijrahan dan Pola
Kehidupan di Rantau. Laporan Penyelidikan yang Dikemukakan kepada
Centre National de la Recherche Scentifique, Paris.
Mohamed Salleh Lamry. 2005. Dari Kalimantan Selatan ke Semenanjung
Malaysia: Migrasi Orang Banjar pada Dua Zaman. Dalam Abdul Halim Ali
(pnyt.) Borneo-Kalimantan 2005: Transformasi Sosial Masyarakat Pesisir
Borneo-Kalimantan. Kuching: Institut Pengajian Asia Timur.
Mohamed Salleh Lamry. 2010. Sejarah Orang Banjar dan Pola Pemertahanan
Kebudayaan Banjar di Perantauan, Khususnya di Malaysia. Kertas Kerja
untukKongres Budaya Banjar Ke-2, Banjarmasin, 4-7 April.
Mohamed Salleh Lamry. 2013. Perubahan Sosial dan Identiti Masyarakat Banjar di Malaysia:
Sebuah Tinjau Umum. Seri Alam. Bil. 10.
Mohamed Salleh Lamry. 2013. Perubahan Kebudayaan di Kalangan Orang Banjar Kota di
Malaysia. Dalam Taufik Arabain dan Rasta Albanjari (ed.) Merawat Adat. Banjarmasin:
UPT Taman Budaya Kalsel dan Pustaka Banua,
Musa Mantrak. 1977. Masyarakat Banjar di Semenanjung. Dian.Jilid 17.
Sulaiman Masri. 1967. Masyarakat Mendatang: Masyarakat Banjar di Sungai
Leman. Tesis B.A. Universiti Malaya.
Tajuddinnoor Ganie. 2004. Konstruksi Identitas Etnis Banjar di Kalimantan
Selatan (bahagian 3)
http://www.radarbanjar.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=47177
(Dirujuk pada 21 Mei 2005)
Tunku Shamsul Bahrin.1964.The Indonesia in Malaya. Tesis M.A. Unversity of
Sheffield.
Zulfa Jamalie (2010). Tranformasi Budaya Madam (Beberapa Catatan Pinggir)

saleh

 

NIKMATI “PULAU PINUS” BERWISATA DI TENGAH DANAU

Oleh Hasan Zainuddin


Mataku tak berkedip saat pandangan terarah ke gaun panjang warna coklat kemerahan yang berjalan di tepian Pulau Pinus atau dekat bibir danau Riam Kanan, Desa Twingan Baru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Wanita yang berumur sekitar 30 tahun itu begitu asyiknya berfoto ria dengan teman-temannya, sesekali ku perhatikan ada perasaan kenal dengan wanita yang berkulit putih dan berjilbab tersebut.
Pura-pura ku juga berfoto seraya mendekat sekelompok wanita yang ternyata dari kota intan “Martapura” ini, agar bisa lebih memperhatikan wanita yang berlipstik merah keunguan ini.
Setelah ku mendekat ternyata wanita itu tampak terperanjat. “Rasanya ulun (aku) kenal dengan sampian ini, tapi dimanalah,” kata wanita ini dengan lembutnya.
“Aku juga rasa kenal,” kataku menjawab seraya berpura-pura lagi mengambil foto pemandangan indah di kawasan objek wisata andalan Kabupaten Banjar, Kalsel ini.
“Oh ingat, ingat sudah, sampian pak Hasan Zainuddin, ya kan” katanya bertanya. “Betul” kataku singkat.
Masih-masih ku mengingat-ngingat kenal dimana orang ini, wajahnya begitu akrab di perasaan ku, wah bingung ah pusing, lupa-lupa, gumamku.
“Kita kan sering ngobrol,”katanya lagi, wah wah tambah bingung aku, sering ngobrol, ngobrol dimana fikirku lagi.
“Kita kan sering ngobrol lewat inbox Facebook (FB)” katanya sambil tertawa. “Atagfirullah, ya ya ya baru aku ingat, kamu kan Dira,” kataku seraya disambut dengan anggukkan kepala beserta iringan senyum manisnya.
Tak kusangka ternyata pertemuan “kopi darat” dengan kawan FB ini justru berada di lokasi yang penuh dengan sentuhan nuansa alam Pulau Pinus di tengah Danau Riam Kanan yang dikelilingi oleh pemandangan lembah, hutan, dan Pegunungan Meratus yang tampak membiru.
Setelah ngobrol sebentar, lalu berpisah dengan iringan lambaian tangan yang lembut, tentu saja dibarengi oleh pandangan mata kawan-kawannya yang kesemuanya adalah wanita.
“Daaah,” kataku, dan “daaah” katanya pula seraya kulangkahkan kaki menuju sebuah lokasi tempat duduk yang persis berada di bawah pepohonan pinus yang menjulang tinggi di hamparan delta yang tak terlalu luas di kawasan destinasi wisata alam itu.

Wisata alam

Pulau Pinus berada di tengah danau Riam Kanan atau sebuah waduk buatan yang luasnya 8000 hektare, danau ini memiliki fungsi penting sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air, pengatur irigasi, mencegah erosi dan banjir yang merupakan bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.
Danau Riam Kanan terletak 65 Kilometer di sebelah Tenggara Kota Banjarmasin. Jika berangkat dari kota Banjarmasin maka melewati kota Banjarbaru menuju desa Aranio.
Kondisi jalan untuk menuju ke lokasi danau sudah cukup baik, dapat dilewati oleh kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat maupun angkutan umum pedesaan.
Penulis beserta 13 orang anggota rombongan datang ke wisata ini Minggu (17/7) lalu, selain ke Pulau Pinus juga menikmati wisata lainnya di wilayah yang dikenal sebagai kawasan penelitian, pendidikan, dan konservasi ini.
Setelah tiba di pelabuhan Aranio rombongan menyewa sebuah klotok (perahu bermesin) Rp400 ribu menyurusi danau bendungan yang dulu dibangun dengan waktu hampir 10 tahun tersebut.
Perjalanan menelan waktu sekitar satu jam itu menyusuri hanya sebagian dari luasan danau dengan tujuan Desa Tiwingan Baru.
Dalam perjalanan susur danau rombongan bisa menikmati aneka pemandangan alam yang indah, selain pepohonan yang rindang, lembah-lembah juga terlihat deretan penunungan meratus yang membiru.
Terlihat pula aktivitas nelayan dengan sampan kecil lagi memancing, menjala, dan merenggi. Akan tetapi, yang paling banyak terlihat ratusan mungkin ribuan buah keramba yang mengapung di sepanjang danau yang membiru dari sebuah bendungan yang diresmikan pada tahun 1973 oleh presiden ke-2 RI H.M. Soeharto.
Tujuan rombongan ini ke desa, terutama ada rumah penduduk yang dikontak lebih awal untuk memasakan nasi makan siang yang letak rumah persis di bibir bendungan.
Setibanya di rumah tersebut ternyata oleh tuan rumah sudah dihidangkan makan siang dengan aneka saturan alam, seperti terung rebus, daun singkong, tumun, kacang-kacangan, dengan ikan nila besar dan ikan mas besar di bakar.
Tentu saja dibarengi dengan sambal terasi yang pedas tak ketinggalan “cacapan” (bagian makanan suku Banjar) terbuat dari bawang merah, terasi bakar, irisan mangga muda, dan cabai rawit.
Ditambah lokasi persis di pelataran rumah yang menghadap kepantai danau dengan hemburan angin sepui-sepui dan suara gemercik gelombang danau yang menyentuh bibir pantai menyebabkan semua anggota rombongan makan dengan lahapnya.
“Selain masakannya memang enak, ditambah perut juga lapar, duh makannya jadi lahap, sampai-sampai perut, kok, rasa kencang,” kata Afrizaldi, anggota rombongan, seraya memperlihatkan perutnya.
Setelah istirahat sebentar sambil tiduran rombongan melanjutkan perjalanan hanya jalan kaki ke Pulau Pinus yang juga sebuah objek wisata kawasan riam kanan. Saat jalan kaki harus menyeberangi titian (jembatan kecil) panjang terbuat dari kayu ulin menyeberangi danau.
Di lokasi ini anggota sempat berfoto bersama atau sebagian lagi swafoto (selfie) sendiri-sendiri dengan latar belakang pemandangan di danau yang sudah menjadi destinasi wisata andalan Kalsel ini.
Saat di Pulau Pinus anggota rombongan menyebar ada yang meletakan tikar untuk tiduran, ada yang duduk di pandai sambil foto ada pula yang nongkrong di warung seraya menghirup segarnya air kelapa.
Berdasarkan pengamatan penulis, kawasan ini hanya ditumbuhi pohon pinus, di bawah pepohonan terasa dingin karena naung oleh kanopi-kanopi daun pinus hingga terhindar teriknya sinaran matahari.
Wisatawan saat kedatangan penulis memang tak terlalu banyak mungkin ada sekitar seratus orang, dan mereka kebanyakan duduk berkelompok sambil ngobrol seraya menikmati makanan agaknya yang sudah dibawa dari rumah.
Tapi sebagian wisatawan lagi nongkrong dan berjanda di bangku duduk yang memang banyak disediakan oleh pengelola lokasi tersebut di bibir pantai pulau menghadap ke tengah danau.
Penulis sendiri sempat pula duduk dan berfoto selfie sesekali bertegur sapa dengan rombongan wisatawan lainnya kebanyakan adalah wisatawan lokal (wilayah Kalsel).
Setelah lama di Pulau Pinus rombongan rencananya naik ke Bukit Atas sebuah lokasi paling tinggi di hamparan wisata Riam Kanan. Akan tetapi, karena waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Wita, kemudian diputuskan untuk kembali saja.
Wilayah Riam Kanan merupakan objek wisata yang sudah dipromosikan luas ke nasional dan internasional karena selain ada bendungan, lembah, riam di objek wisata Sungai Kembang, Pulau Pinus, dan Bukit Atas, dan banyak lagi objek wisata lainnya. ***4***

BERKEMAH SAMBIL NIKMATI INDAHNYA EMBUN PAGI TAHURA

Oleh Hasan Zainuddin
Tatkala membuka mata saat bangun pagi di lokasi perkemahan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam kawasan Riam Kanan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, terlihat cahaya sang surya mengintip di balik pepohonan di hutan yang memiliki “segudang” spicies tanaman ini.

Sementara gumpalan embun pagi di dedaunan pohon kawasan yang memiliki aneka spicies satwa itupun terlihat seakan “bergelinjang manja” saat tersentuh sinaran mentari pagi yang cerah.

Suara “orkestra” aneka burung dan binatang lain di kawasan seluas 112 ribu hektare kawasan Pegunungan Meratus tersebut seakan melenyapkan perasaan lelah waktu menempuh perjalanan ke kawasan itu.

“Cuaca masih terasa sangat dingin, selimut tebal masih membalut tubuhku, yang membuat ku seakan enggan beranjak dari tempat tidur di perkemahan kawasan hutan lindung tersebut,” kata Abdul Kadir seorang mahasiswa FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin jurusan sejarah ini.

Abdul Kadir yang juga bergelar Utuh Tawing ini bersama penulis dan 12 orang rombongan melakukan perkemahan di wilayah tersebut, Sabtu malam (16/7) lalu, selain menikmati suasana alam sekaligus melakukan penghijauan dengan menanam 200 bibit pohon penghijauan.

Abdul Kadir melakukan aksi hijau tersebut bersama anggota komunitas Sepeda Antik (Saban) Banjarmasin yang sekaligus pula anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) setempat.

Rombongan datang ke lokasi yang termasuk kawasan hutan pendidikan ini hanya mengayuh sepeda tua (ontel) dengan jarak tempuh sekitar 60 kilometer dari Kota Banjarmasin, guna menunjukkan komunitas ini cinta lingkungan dengan menggunakan sarana angkutan ramah alam, untuk mengurangi produksi emisi karbon di udara dan menekan pemakaian energi yang tak bisa terbarukan.

Dalam perkemahan kelompok yang mengaku “sahabat alam” ini sempat berdikusi kecil tentang berbagai hal menyangkut kelestarian lingkungan ternasuk Tahura Sultan adam yang sebenarnya adalah kawasan “Menara Air” atau wilayah resapan air untuk sungai-sungai di wilayah paling selatan pulau trerbesar nusantara ini.

“Hutan ini terjaga, maka kehidupan kita di Banjarmasin dan sekitarnya akan terjada, tetapi jika hutan ini rusak maka tamatlah riwayat kita, karena tak akan ada lagi suplai air bersih bagi kita,” kata Zany Thaluk dalam diskusi tersebut.

Mohammad Ary yang merupakan pimpinan kelompok ini berbicara panjang lebar mengenai kelestarian lingkungan sebagai kehidupan yang berkelanjutan.

“Saat ini alam sudah rusak ditandai dengan asap, kering, kebakaran hutan saat kemarau banjir dan tanah longsor saat musim hujan, musibah itu bisa jadi akibat olah manusia-manusia sebelumnya, kita harus merehabilitasi, jika tidak maka anak cucu kita kemudian hari kian menderita,”katanya memberi wejangan.

Oleh karena, tambah Mohammad Ary, saatnya kelompok ini berkiprah walau sedikit tetapi ikut mengembalikan kerusakan alam ini, dan semoga ini menjadi motivasi bagi masyarakat luas untuk berbuat serupa.

Saban dan FKH ini sudah menanam sekitar 7000 pohon pinang, 4000 pohon trambesi, ribuan lagi kumpulan pohon aren, palam putri, palam, asam jawa, petai, jengkol pohon buah-buahan di berbagai lokasi baik di Banjarmasin dan sekitarnya sejak tujuh tahun keberadaan organisasi kecil dari kelompok pecinta liungkungan ini.

Usai diskusi di kemah dekat bibir sungai kecil di wilayah perkemahan tersebut, kelompok ini kemudian berpetulang ke tengah hutan.

“Coba kita masuk hutan, kita nikmati suasana alam di tengah kegelapan yang suasananya terdengar nyanyian suara binatang malam jangkrik dan belalang,”kata Muhammad Ari seraya mempipin perjalanan jelajah hutan tersebut.

Bermodalkan lampu sinter dan penerangan kecil di telpon genggam satu persatu lokasi hutan dan sungai dilalui, dan rombongan ingin sekali ketemu binang seperti landak, kancil, atau rusa.

Tetapi perjalanan ke hutan dimulai sekitar pukul 01:00 Wita tersebut tak berlangsung lama, karena takut ke sasar akhirnya balik ke kemah dan perasaan ingin ketemu binatang di tengah malam tak kesampaian kecuali hanya beberapa burung ditemui bertengger di dahan.
Alami Kerusakan

Tahura Sultan Adam berdasarkan catatan termasuk hutan lindung Riam Kanan, kawasan Suaka Margasatwa, dan hutan pendidikan.

Penulis sendiri beberapa waktu lalu sempat bertanya kepada Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, masih dijabat Akhmad Ridhani mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.

¿Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,¿ katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh kala melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

¿Hingga 2010 luasan lahan kritis yang sudah ditanami bibit pohon mencapai 100 hektare dan luasannya akan terus ditingkatkan untuk mengurangi banyaknya lahan kritis,¿ katanya seraya menyebutkan tanaman yang dikembangkan tersebut adalah jenis buah-buahan dan jenis kayu khas setempat, seperti ulin, kruing, sintuk dan lainnya.

Dijelaskan, terjadinya lahan kritis di kawasan Tahura bukan disebabkan penebangan liar tetapi lebih banyak akibat terjadinya kebakaran hutan sehingga membuat areal sekitarnya kritis karena tidak ditumbuhi pepohonan.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Dikatakannya, upaya yang dilakukan untuk mengurangi luasan lahan kritis adalah rehabilitasi lahan melalui program penanaman bibit pohon baik yang dibiayai APBD Provinsi Kalsel, APBN maupun bantuan pihak ketiga.

Pihak ketiga yang memberikan dana penghijauan di areal yang menjadi kawasan penelitian, pendidikan, dan wisata alam tersebut, selain dari donatur luar negeri juga dari berbagai perusahaan, termasuk dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin.

¿Setiap tahun melalui APBD Kalsel dialokasi anggaran untuk rehabilitasi lahan termasuk memanfaatkan dana APBN serta menjaring bantuan dari pihak ketiga terutama kalangan swasta,¿ ujarnya.

Ditambahkan, penanaman bibit pohon yang dibiayai APBD Kalsel setiap tahun mencapai luasan 10 hektare dan melalui APBN berhasil ditanami bibit pohon dengan luasan mencapai 40 hektare hingga 50 hektare.

¿Ke depan kami berupaya memfokuskan bantuan dari pihak ketiga sebagai bentuk partisipasi mereka terhadap upaya kepedulian lingkungan sehingga luasan lahan yang bisa ditanami lebih besar,¿ katanya.

Tahura Sultan Adam ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1989 secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah Kabupaten Tanah Laut.

Sejak tahun 2008 telah dibentuk UPT Dinas kehutanan Provinsi Kalsel Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan Dasar Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang SOTK Perangkat Daerah Provinsi Kalsel dan Pergub Kalsel Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tahura Sultan Adam.
Kawasan Wisata

Tahura termasuk kawasan wisata dan kawasan pendidikan karena di dalamnya terdapat hutan yang mengandung aneka jenis tanaman.

Tahura yang berekosistem hutan hujan tropika ini terdapat aneka flora dan fauna yang beberapa diantaranya spesifik Kalimantan, seperti meranti (Shorea spp), ulin (Eusideroxylon zwageri), kahingai (Santiria tomentosa).

Tanaman lain damar (Dipterocarpus spp.), pampahi (Ilexsimosa spp.), kuminjah laki (Memecylon leavigatum), keruing (Dipterocarpus grandiflorus), mawai (Caethocarpus grandiflorus), jambukan (Mesia sp.), kasai (Arthocarpus kemando), dan lain-lain.

Sedangkan faunanya terdapat bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates muelleri), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang merah (Muntiacus muntjak), kijang mas (Muntiacus atherodes), dan pelanduk (Tragulus javanicus).

Kemudian juga ada hewan landak (Hystrix brachyura), musang air (Cynogale benetti), macan dahan (Neofelis nebulosa), kuau/harui (Argusianus argus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang (Berenicornis comatus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang bondol (Haliastur indus), raja udang sungai (Alcedo atthis), raja udang hutan (Halycon chloris), dan lain-lain.

Wilayah ini terdapat Waduk seluas lebih kurang 8.000 Ha dengan fungsi utama sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air satu-satunya di Provinsi Kalimantan Selatan. Berperan penting sebagai pengatur tata air, mencegah erosi dan banjir, sebagai objek wisata alam, danau/waduk ini memiliki bentang alam yang menarik dengan panorama danau, lembah dan bukit disekelilingnya serta untuk kegiatan olahraga air.

Objek wisata yang ada kawasan ini antara lain Pulau Pinus
Berupa pulau seluas lebih kurang tiga hektare terletak di tengah danau dapat ditempuh lebih kurang 15 menit dari Pelabuhan Tiwingan. Pulau ini didominasi oleh tanaman Pinus Merkussi.

Kemudian juga ada objek wisata Pulau Bukit Batas kurang lebih satu hektare berdekatan letaknya dengan pulau pinus, dapat ditempuh lebih kurang 30 menit dari pelabuhan Tiwingan. Seperti halnya dengan pulau pinus, kawasan ini cocok untuk rekreasi santai dan olahraga.

Lalu ada pula air terjun Surian, air terjun Batu Kumbang, dan air terjun Mandin Sawa yang sangat menunjang kegiatan Bina Cinta Alam. Dari sungai Hanaru dapat dicapai lebih kurang dua jam dengan menelusuri sungai Hanaru atau lebih kurang tiga jam melalui jalan patroli yang sudah ada.

Air Terjun Bagugur terletak di hulu sungai Tabatan. Dari desa Kalaan dapat ditempuh lebih kurang dua jam melalui jalan reboisasi dan areal bekas perladangan berpindah.

Bumi Perkemahan Awang Bangkal seluas enam hektare terletak di daerah Awang Bangkal. Tidak jauh dari jalan raya Banjarbaru ¿ Pelabuhan Tiwingan, berada didekat sungai Tambang Baru, sehingga mudah mendapatkan air. Bentang alam dari bukit disekelilingnya serta tepian sungai Tambang Baru merupakan daya tarik tersendiri.

Pusat Pengelola/Informasi di Mandiangin di daerah Mandiangin merupakan suatu komplek bangunan yaitu kantor pusat pengelola, kantor pusat informasi sumber daya alam, plaza dan bumi perkemahan. Di areal ini terdapat prasasti peresmian berdirinya Tahura Sultan Adam dan Puncak Penghijauan Nasional (PPN) ke 29 yang ditandatangani oleh Presiden RI Bapak Soeharto.

Di lokasi ini pula pusat pengelolaan hutan pendidikan Fakultas Kehutanan Unlam. Pada pengembangan selanjutnya kawasan ini dikembangkan menjadi arboretum, penangkaran satwa, taman safari, kolam renang, taman burung, bumi perkemahan dilengkapi dengan souvenir shop dan lain-lain.

 

MERASAKAN NIKMATNYA PIJITAN BUTIRAN AIR TERJUN TAMBELA

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 15/7 (Antara)- Dengan memeramkan mata seraya duduk di dasar sungai yang agak surut yang bisa di didera arus atau butiran air terjun kecil di Sungai Kembang, Desa Tambela, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, sesuatu yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
“Pokoknya terasa enak banget,” kata wisatawan lokal Risky ketika bersama penulis menikmati sejuknya udara kawasan bendungan Riam Kanan yang masuk jajaran Pegunungan Meratus di wilayah paling selatan pulau terbesar nusantara ini.
Menurut Risky seorang kameraman sebuah usaha rumah produksi, ingin rasanya berlama-lama mandi di lokasi yang persis berada di tengah lembah dengan ratusan spicies tumbuhan kawasan yang boleh dikatakan semacam “puncak” di bogor tersebut.
“Sambil memejamkan mata lalu hati kita layangkan ke suatu hal yang mengingat-ngingat masa indah, seraya diterpa butiran air , duuuuh rasanya hati ini senang sekali,” kata Risky lagi.
Penulis sendiri merasakan begitu segarnya mandi di tengah suasana hutan dengan suara gemuruh air berarus deras di lokasi bebatuan, kicauan burung, dan suara angin yang menerpa pepohonan.
Kata Risky coba duduk persis di lokasi yang tepat dijatuhi butiran atau gumpalan air terjun yang kena bagian belakang tubuh, pasti merasakan badan terasa dipijit-pijit, setelah itu badan rasa enteng atau ringan.
Memang hal itu benar dan banyak dilakukan oleh pengunjung yang masih berjejal di lokasi tersebut walau sudah sepekan musim lebaran ini.
Penulis dan Risky sendiri adalah dua dari sekitar 15 anggota rombongan wisata keluarga yang mengunjungi kawasan wisata Riam Kanan kawasan Pegunungan yang berdekatan dengan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam tersebut.
Salah satu yang dikunjungi adalah kawasan wisata Sungai Kembang, Desa Tambela, yang merupakan subuah sungai atau riam yang terletak hanya 64 kilometer dari Kota Banjarmasin. Kawasan ini termasuk wilayah perkemahan, pusat penelitian, dan kawasan konservasi alam.
Untuk mencapai kawasan ini sangat mudah, kalau dari pusat ibukota provinsi Kalsel Banjarmasin, bisa dengan roda empat atau roda dua, dengan rute ke banjarbaru lalu ke bundaran dekat kota Martapura, kemudian arah ke Aranio atau Waduk Riam Kanan, sebelum mencapai waduk sudah ketemu lokasi ini.
Objek wisata Sungai Kembang termasuk wisata yang murah, dengan tiket masuk hanya Rp4.000,- itupun hanya bagi orang dewasa.

Wisata Riam Kanan

Bagi mereka yang suka berpetualang seraya menikmati objek-objek wisata wisata alam maka tak salah jika tujuannya adalah kawasan wisata Riam Kanan, karena selain adanya Sungai Kembang masih sederat objek wisata lainnya.
Seperti rombongan penulis yang melakukan wisata bersama keluarga, setibanya di pelabuhan Aranio lalu mencarter sebuah klotok (perahu bermotor) dengan tarif Rp400 ribu per buah menyusuri danau bendungan yang dibangun dengan waktu hampir sepuluh tahun tersebut.
Perjalanan menelan waktu sekitar satu jam itu menyusuri hanya sebagian dari luasan danau sekitar 10 ribu hektare tersebut dengan tujuan Desa Tiwingan Baru.
Dalam perjalanan susur danau rombongan bisa menikmati aneka pemandangan alam yang indah, selain pepohonan yang rindang, lembah-lembah juga terlihat deretan penunungan meratus yang membiru.
Terlihat pula aktivitas nelayan dengan sampan kecil lagi memancing, menjala, dan merenggi.
Tetapi yang paling banyak terlihat ratusan mungkin ribuan buah keramba yang mengapung di sepanjang danau yang membiru dari sebuah bendungan yang diresmikan tahun 1973 oleh Presiden Soeharto.
Tujuan rombongan ini ke desa terutama ada rumah penduduk yang dikontak lebih awal untuk memasakan nasi makan siang yang letak rumah persis di bibir bendungan.
Setibanya di rumah tersebut ternyata oleh tuan rumah sudah dihidangkan makan siang dengan aneka saturan alam seperti terung rebus, daun singkong, tumun, kacang-kacangan, dengan ikan nila besar dan ikan mas besar di bakar.
Tentu saja dibarengi dengan sambal terasi yang pedas tak ketinggalan “cacapan” (bagian makanan suku Banjar) terbuat dari bawang merah, terasi bakar, irisan mangga muda, dan cabe rawit.
Ditambah lokasi persis di pelataran rumah yang menghadap kepantai danau dengan hemburan angin sepui-sepui dan suara gemericik gelombang danau yang menyentuh bibirpantai, menyebabkan semua anggota rombongan makan dengan lahapnya.
“Selain masakannya memang enak, ditambah perut juga lapar, duuuh makannya jadi lahap, sampai-sampai perut kok rasa kencang,” kata Afrizaldi seorang anggota rombongan seraya memperlihatkan perutnya.
Setelah istirahat sebentar sambil tiduran rombongan melanjutkan perjalanan hanya jalan kaki ke pulau pinus yang juga sebuah objek wisata kawasan riam kanan. Saat jalan kaki harus menyeberangai titian (jembatan kecil) panjang terbuat dari kayu ulin menyeberangi danau.
Di lokasi ini anggota sempat berfoto bersama atau sebagian lagi selfie sendiri-sendiri dengan latar belakang pemandangan di danau yang sudah menjadi destinasi wisata andalan Kalsel ini.
Begitu pula setibanya di pulau pinus anggota rombongan menyebar ada yang melatakan tikar untuk tiduran, ada yang duduk di pandai sambil fot0 ada pula yang nongkrong di warung seraya menghirup segarnya air kelapa.
Setelah lama di pulau pinus rombongan rencananya naik ke Bukit Atas sebuah lokasi paling tinggi di hamparan wisata Riam Kanan, tetapim karena waktu sudah menunjukan pukul 16:00 Wita, kemudian diputuskan untuk kembali saja.
Wilayah Riam Kanan merupakan objek wisata yang sudah dipromosikan luas ke nasional dan internasional, karena selain ada bendungan, lembah, riam di objek wisata Sungai Kembang, Pulau Pinus, dan Bukit Atas.
Kemudian kawasan ini ada juga terdapat objek wisata yang banyak dikunjungi pula seperti Lembah Kahung, bumi perkemahan Awang Bangkal, Mandiangin, serta Tahura Sultan Adam. ***4***1