Merajai Halong Masih Miliki Koleksi Buah-buahan Kalimantan

 

 

1.23

Hasan Zainuddin

Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, masih memiliki sejumlah pohon pohonan buah langka endemik Kalimantan.

Pemerhati buah khas Kalimantan Hanif Wicakcono bersama Kepala Desa Marajai Adi Setiawan kepada Antara di Halong, Senin membenarkan desa Marajai masih banyak tumbuh pohon-pohonan buah khas Kalimantan yang sekarang sudah mulai langka.

“Kita bersyukur masih ada lokasi lahan yang ditumbuhi aneka buah-buah khas Kalimantan, karena tidak dijadikan kebun karet unggul dan sawit sebagaimana lahan-lahan lainnya di wilayah ini,” kata Hanif Waicaksono.

Lantaran masih tersedianya pohon-pohon buah itu maka Marajai merupakan wilayah penghasil buah-buahan jenis langka itu yang banyak dijual belikan, baik ke ibukota kecamatan, ibukota kabupaten bahkan ke daerah-daerah lainnya.

Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan.

Apalagi durian di Marajai aneka spicies, ada durian berkulit merah yang disebut lahung (durio dulcis) ada durian kuning yang disebut mantaula (Durio kutejensis), ada durian berkuli warha hijau tua, berduri lancip panjang yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus), dan aneka jenis durian lainnya.

Ada pula sembilan jenis tarap-tarapan, seperti kulidang ((Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya.

Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus tersebut adalah Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku ( Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).

Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa),kalangkala (Litsea garciae),gitaan / tampirik ( Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).

Kepala Desa Marajai Adi Setiawan berjanji akan mengajak pemilik lahan buah-buahan tersebut untuk merawat dan mengembangkannnya lebih luas lagi tumbuhan tersebut agar desa mereka bisa menjadi sentra buah-buahan endemik Kalimantan yang mulai langka itu.

Desa Marajai, Kecamatan Halong, berpenduduk 197 KK dengan jumlah penduduk 578 jiwa.?

Iklan

Merajai Desa Wisata Halong Balangan

 

 

merajai

Hasan Zainuddin

Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, oleh masyarakat setempat akan dijadikan desa wisata alam dan buah-buahan.

Kepala Desa Marajai Adi Setiawan kepada Antara di Halong, Senin membenarkan desa Marajai akan dijadikan wisata lantaran kondisi alam yang pantas menjadi sebuah kunjungan wisatawan disamping ada kekayaan desa berupa pohon buah-buahan endemik Kalimantan.

“Desa kami memiliki hutan, riam berair deras, gunung, sungai air jernih, budaya masyarakat Dayak, serta ada kebun buah-buahan khas Kalimantan,” kata Adi Setiawan.

Melihat potensi tersebut, maka wajar warga ingin menjadikan desa mereka sebagai desa wisata, apalagi untuk menuju desa ini mudah saja dapat dikunjungi dengan kendaraan roda empat, tambahnya.

Yang menjadi andalan wisata desa ini lantaran masih tersedianya pohon-pohon buah mulai langka, produksinya yang dijual-belikan baik ke ibukota kecamatan, ibukota kabupaten bahkan ke daerah-daerah lainnya.

Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan.

Apalagi durian di Marajai aneka spicies, ada durian berkulit merah yang disebut lahung (durio dulcis) ada durian kuning yang disebut mantaula (Durio kutejensis), ada durian berkuli warha hijau tua, berduri lancip panjang yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus), dan aneka jenis durian lainnya.

Ada pula sembilan jenis tarap-tarapan, seperti kulidang ((Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya. Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa),kalangkala (Litsea garciae),gitaan / tampirik ( Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).

Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus tersebut adalah Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku ( Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).

Untuk menjadikan desa itu sebagai deswa wisata maka mereka mendatangkan seorang relawan yang memotivasi masyarakat agar menjada alam dan memelihara tumbuh-tumhuhan khususnya buah sebagai aset wisata.

Relawan dimaksud adalah Jumali Wahyono Perwito atau yang dikenal dengan sapaan Mas Jiwo Pogog, lantaran yang bersangkutan sudah mampu merubah desa tandus Pogog, lereng gunung Wonogiri, Jawa Tengah, menjadi desa wisata melalui pengembangan durian Muntong.

Kedatangan Mas Jiwo Pogog ke desa Pegunungan Meratus tersebut berkat bantuan Hanif Wicaksono seorang karyawan BKKBN yang meikhlaskan diri menjadi pemerhati dan relawan pengembangan buah-buahan Desa Marajai.

Desa Marajai, Kecamatan Halong, berpenduduk 197 KK dengan jumlah penduduk 578 jiwa./f

POPULASI BINATANG SADU DI PEDALAMAN KALSEL MENURUN

sadu

Sadu tertabrak mobil di jalan raya

Banjarmasin,23/2-18 ()Populasi binatang Sadu di pedalaman Kalimantan Selatan, dalam sepuluh tahun belakangan ini terjadi penurunan yang drastis.
Penurunan populasi binatang Sadu tersebut diperkirakan ada kaitannya dengan kian rusaknya alam lingkungan, kata Adie, seorang anggota organisasi pecinta lingkungan, di Kabupaten Balangan, Jumat.
Menurut Adie yang biasa dipanggil Didun tersebut, sudah jarang terlihat binatang Sadu itu berkeliaran di perkampungan, padahal dulu hampir terlihat setiap malam.
Sebab binatang yang biasa mengeluarkan bau khas yang menyengat tersebut termasuk binatang malam, dan siang hari tak pernah dijumpai binatang ini, ia akan keluar sarang pada malam hari untuk mencari makan.
Binatang yang postur tubuhnya kecil seperti kucing tetapi bentuknya menyerupai babi itu bila terancam bahaya mengeluarkan bau yang sangat menyengat, yang oleh warga setempat bau itu dikeluarkan melalui kentutnya.
Bahkan saking kuat bau yang menyengat itulah yang menjadi senjata ampuhnya untuk melindungi diri dari ancaman bahaya, terutama dari binatang buas.
Adie sendiri menyayangkan kian menurunnya populasi satwa unik tersebut, karena keberadaannya adalah memperkaya kehidupan satwa yang termasuk dalam kekayaan sumberdaya alam setempat.
Belum lama ini masih terlihat Sadu di Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Balangan, namun sayangnya kemunculannya justru baha bagi binatang itu karena tertabrak mobil dan tergeletak di jalan dan mati.
Walau saat tertabrak sempat mengeluarkan bau menyengat sehingga satu kampung menjadi ribut akibat bau menyengat itu, akhirnya oleh seoranbg warga sadu yang mati tertabrak itu dibuang ke sungai agar mengurangi bau yang menggangu warga tersebut.
Berdasarkan wikipedia, Sadu adalah Mydaus javanensis (sebelumnya disebut Mydaus meliceps) adalah sigung yang habitat aslinya di Indonesia bagian barat, Kalimantan, dan Malaysia.
Hewan mamalia yang dapat mengeluarkan bau busuk jika terganggu ini termasuk ke dalam suku Mephitidae.
Dalam bahasa lokal dikenal juga sebagai teledu, telegu, kesensedu, kensedu, sadu / sa’at (bahasa Banjar) dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris, hewan ini dikenal sebagai Indonesian stink badger, Malayan stink badger, Malay badger,
Mamalia bertubuh kecil dengan panjang kepala dan tubuh antara 370-520 mm dan ekor pendek 34-38 mm. Kakinya pendek, tungkai belakang bagian bawah antara 64-70 mm, dan bermoncong panjang.[4]
Tubuh Mydaus javanensis tertutupi rambut yang panjang dan lebat. Warnanya hitam atau coklat tua, dengan garis belang putih memanjang bagian atas tubuh dari tengah kepala hingga ekor. Berat badannya berkisar antara 1,4-3,6 kg.[5] Bentuk dan panjang garis putih di punggungnya itu bervariasi dari tempat ke tempat
Mydaus javanensis merupakan binatang nokturnal yang penyendiri, dan mencari makanannya di tanah (terestrial) dan menggalinya dengan menggunakan cakar dan moncongnya.
Mangsanya, di antaranya, adalah cacing tanah dan tempayak serangga (misalnya tonggeret). Hewan ini bersifat omnivora memangsa aneka jenis katak, ular, tikus, burung, dan telur. Mydaus javanensis juga memakan buah-buahan, akar, jamur, dan dedaunan.

TUPAI RAKSASA BALANGAN SUDAH MULAI MENGHILANG

tupaitupai1Paringin,20/2 (-) Tupai raksasa yang biasa disebut oleh warga Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, sebagai tangkarawak kini sudah mulai menghilang di wilayah tersebut.
“Kami tidak tahu mengapa tupai yang panjangnya bisa mencapai satu meter itu menghilang, di hutan wilayah ini,” kata Adie, seorang anggota pecinta lingkungan, Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten balangan, Selasa.
Menurut Adie, dulunya tupai yang bewarna kulit kuning kecoklatan tersebut sering terlihat berlompatan di dahan-dahan pohon, dan mengeluarkan bunyi atau suara yang khas.
Tetapi sejak sepuluh tahun terakhir ini tupai yang rakus menyantap buah-buahan ini, jarang terlihat, bahkan sulit sekali kalau ingin menyaksikan keberadaan satwa endemik Kalimantan tersebut.
“Mungkin lantaran dianggap hama, karena suka menyerang tanaman kebun buah masyarakat, maka tupai itu banyak yang diburu sehingga populasinya menjadi turun drastis,” katanya.
Padahal kebedaraan satwa tersebut memperkaya keanekaragaman hayati setempat, dan bisa dipromosikan sebagai kawasan wisata yang menarik, karena binatang itu selain unik dan langka dan sangat eksotis bila dipublikasikan kepada wisatawan.
Oleh karena itu, kata Adie yang dikenal sebagai anggota pecinta lingkungan Forum Komunitas Hija (FKH) tersebut, pihaknya berusaha mencari lokasi hutan yang masih ada satwa tersebut.
Salah satu lokasi yaitu hutan Watangan, Desa Panggung, itupun jika ingin menyaksikannya harus berjalan pelan-pelan dan mengedap-endap, sebab bila tahu ada kedatangan orang maka satwa itupun akan lari kencang menjauh.
Tetapi jika ingin melihat secara dekat, menurut Adie, ada salah satu warga yang memelihara binatang tersebut yaitu di Desa Wangkili, Kecamatan Awayan.
Warga tersebut menurutnya ceritanya secara tak sengaja menemukan anak tangkarawak yang jatuh dari pohon dan ditinggalkan induknya, karena merasa kasihan lalu dipelihara dan sekarang sudah mulai besar atau setengah dewasa dan ditempatkan dalam satu kurungan besar di depan rumah.
Menurut cerita lagi, binatang yang menjadi peliharaan tersebut pernah lepas tetapi tak mau menjauh dan masuk lagi ke dalam sanggar, karena tak terbiasa mencari makan sendiri di hutan.

FKH BALANGAN INGIN MILIKI KEBUN TANAMAN OBAT

Paringin, ()-Para aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) Citra Sanggam, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, berkeinginan memiliki kebun sendiri yang menampung aneka tanaman obat yang ada di wilayah setempat.

“Kami memiliki lahan sekitar setengah hektare, dan lahan tersebut rencananya kita tanami berbagai koleksi tanaman hutan yang berpotensi obat-obatan, atau juga tanaman obat yang sudah dikenal luas,” kata anggota FKH Citra Sanggam, Adie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Didun, di Desa Panggung, Paringin Selatan, Kamis.

Oleh karena itu, katanya belum lama ini mereka selama dua hari keluar masuk hutan setempat, semata ingin mengidentfikasi tanaman hutan yang berpotensi obat sekaligus mengambil bibit untuk dibudidayakan di lahan FKH di desa setempat.

Dalam penjelajahan hutan tersebut mereka menemukan tanaman yang disebut Kamandrah (Croton Tigliun L), tanaman ini berdasarkan pengalaman tetuha kampung bahari banyak digunakan untuk obat pencahar perut.

Yakni biji buah ini setelah diminum maka seisi perut keluar melalui berak-berak terus sehingga perut dinilai bersih dari aneka racun, dan untuk menghentikan berak warga meminum air larutan kerak nasi.

Makanya biji buah itu akan disemai lalu dikembangkan dilahan itu, kemudian mereka juga menemukan tanaman cambai jenis tanaman merambai persis sirih, tetapi daunnya lebih lebar dan memiliki buah yang warna buah merah.

Tanaman yang juga menyerupai sejenis cabe puyang dulu sering digunakan buahnya untuk mengusir masuk angin, dan daunnya untuk penyakit “menyamak” (seperti sesak napas).

Kemudian anggota FKH juga menemukan tanaman Kakajar yang biasanya tanaman ini digunakan untuk sakit pinggang.

Ada puluhan tanaman hutan yang mereka temukan, antaranya telunjuk langit, pelungsur ular, kerangka hirang, jelatang, dan beberapa jenis lainnya, dan bibitnya dibawa ke kampung dan akan ditanam dikebun lingkungan itu.

Tapi satu yang mereka cari tetapi tak diketemukan lagi di hutan Balangan yaitu pohon Ipuh, ipoh atau upas (Antiaris toxicaria) adalah sejenis pohon anggota suku Moraceae.

Pada masa lalu, pohon ini sangat terkenal karena getahnya yang sangat beracun, yang digunakan untuk meracuni mata panah (Gr. toxicon: racun panah), mata tombak, untuk berburu hewan.

Pohon ipoh yang juga disebut pohon upas adalah pohon besar dengan ketinggian bisa mencapai 40 m serta kayunya putih dan ringan. Dahan-dahannya, Karena getah kulit pohonnya mengandung racun, maka orang menamakan racunnya sebagai upas.

“Pokoknya apa saja tanaman hutan yang diperkirakan mengandung bahan obat-obatan akan dikoleksi di kebun FKH, biar nanti menjadi bahan penelitian dan lahan pendidikan bagi masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa,” kata Adie.
obat

FKH BALANGAN TEMUKAN POHON BESAR WARISAN ALAM

pohonParingin, 19/2 – Sebuah kelompok pemuda pecinta lingkungan, Forum Komunitas Hijau (FKH) Citra Sanggam Balangan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, saat jelajah hutan Kecamatan Halong kabupaten setempat menemukan sebuah pohon sangat besar.
Pohon itu sangat besar mungkin untuk mengelilingi pohon itu memerlukan setidaknya delapan orang dengan berpegangan tangan, kata Ketua FKH Citra Sanggam Balangan, Fahnor di desa Panggung, Paringin Selatan, Senin.
Pohon yang ditemukan tersebut secara tak sengaja, dikala para anak muda FKH menjelajah hutan untuk mengindentifikasi tanaman buah-buahan endemik Kalimantan yang ada di kecamatan tersebut.
Setelah melihat ada sebuah pohon yang menjulang mereka pun mendekati pohon tersebut dan ternyata pohon tersebut sangat besar.
Mereka sendiri kurang mengetahui jenis pohon tersebut tetapi diperkirakan pohon tersebut adalah yang biasa disebut sebagai pohon kusi.
Tampaknya pohon tersebut pernah disarangi lebah di atasnya, karena ada bagian-bagian pohon yang berbekas orang naik, diberi paku dan bekas sabetan parang untuk lokasi alat sarana menaiki pohon tersebut.
“Kita sempat berfoto di pohon yang tepatnya berada di Desa Mentuyan,” kata Adie seorang anggota FKH Cita Sanggam yang ikut dalam penjelasan tersebut.
Menurut pecinta lingkungan ini, pohon tersebut sudah sewajarnya dilestarikan, karena itu merupakan warusan alam yang tertingal, dan diperkirakan usianya ratusan tahun dan boleh jadi ribuan tahun.
Mereka berharap pemilik lahan ikut memelihara tanaman langka itu untuk anak cucu kedepan, baik sebagai sarana pendidikan dan sarana penelitian.
Kepada pemerintah Kabupaten Balangan atau pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mereka berharap juga memiliki perhatian terhadap pohon itu, kalau perlu untuk pelestariannya dibeli saja lahan tersebut oleh pemerintah.

REVOLUSI HIJAU SOLUSI ATASI KERUSAKAN LINGKUNGAN KALSEL

hijau

FKH Banjarmasin dilibatkan dalam pembentukan forum revolusi hijau

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin ()- Intrusi air laut di Sungai Martapura jika sepuluh tahun lalu hanya seputaran Sungai Bilu Kota Banjarmasin, belakangan ini sudah ke kawasan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.
Jauhnya tingkat intrusi air laut di Sungai Martapura yang berhulu ke Pegunungan Meratus yang menjadi kawasan resapan air telah membuktikan terjadinya kerusakan lingkungan kawasan resapan air tersebut.
Akibat kerusakan alam hutan Pegunungan Meratus maka air yang mengalir di Sungai Martapura di saat musim kemarau menjadi lemah, lantaran volume air yang turun sedikit sehingga tekanan air dari hulu ke hilir menjadi lemah.
Sebaliknya tekanan air laut yang terkontaminasi kadar garam tinggi terus menyusup ke hulu sungai, dan jika tak ada perbaikan atau rehabilitasi kawasan hutan Pegunungan Meratus di khawatirkan tekanan air laut akan terus kehulu.
Padahal air Sungai Martapura selama ini tumpuan harapan untuk pengambilan air baku air bersih perusahaan air minum di tiga wilayah Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kota Banjarmasin.
PDAM Banjarmasin sendiri mengeluhkan air baku tersebut di saat musim kemarau, lantaran air baku PDAM setempat mengambil di kawasan Sungai Tabuk yang sudah terintrusi air laut tersebut.
Sementara air tanah kawasan ini karena berada di wilayah rawa gambut hingga air tanah mengandung zat besi yang tinggi serta bahan-bahan yang sulit diolah air minum.
Sungai Martapura hulunya berada di Pegunungan Meratus, khususnya di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam
Padahal kondisi Tahura yang seluas 112 ribu hektare itu belakangan ini kian rusak saja, lantaran kebakaran hutan, dan ditengarai juga akibat adanya penebangan kayu secara liar dan usaha pertambangan ilegal, dan kegiatan pemukiman.
Data sementara sekitar 30 persen atau 40 ribu hektare lahan resapan air Tahura Sultan Adam sudah rusak.
Bukti Tahura yang merupakan daerah resapan air tersebut sudah rusak adalah kian berkurangnya volume air yang turun dari wilayah tersebut, sehingga seringkali terjadi intrusi air laut ke Sungai Martapura itu tadi.
Berdasarkan keterengan jika jika kadar garam air sungai Martapura di atas 200 ppm maka sulit dijadikan air bersih PDAM, kenyataan intrusi air laut itu menyebabkan kadar garam di sungai yang menjadi tumpuan sekitar 700 ribu warga Banjarmasin itu bisa mencapai 1000 ppm lebih.
Bukan hanya peroalan keasinan sungai yang dihadapi perusahan air minum saat ini, tetapi juga adanya tingkat kekeruhan air Sungai Martapura yang begitu tinggi lantaran partikel lumpur dalam air yang pekat menandakan air sudah tidak bersih lagi setelah adanya kerusakan kawasan di hulu sungainya.
Tingkat kekeruhan yang ideal untuk diolah menjadi air bersih hanya 50 hingga 100 mto per liter, tetapi hasil laboratorium di PDAM setempat ternyata air Sungai Martapura pernah mencapai 500 hingga 1000 mto, malah kasus tertinggi capai 5000 mto per liter.
Akibat kerusakan hutan di hulu sungai, menyebabkan terjadi erosi dan bila terjadi hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai terus mengalir kemuara hingga ke Banjarmasin.
Menurut perkiraan, bila tidak ada upaya perbaikan kawasan Tahura yang dianggap sebagai wilayah menara air Kalsel itu, maka lima atau sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan kesulitan memperoleh air bersih untuk air minum.
Tahura Sultan Adam ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1989 seluas 112.000 Ha dan secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah Kabupaten Tanah Laut.
Sejak tahun 2008 telah dibentuk UPT Dinas kehutanan Provinsi Kalsel Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan Dasar Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang SOTK Perangkat Daerah Provinsi Kalsel dan Pergub Kalsel Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tahura Sultan Adam.
Tahura yang berekosistem hutan hujan tropika ini terdapat aneka flora dan fauna yang beberapa diantaranya spesifik Kalimantan, seperti meranti (Shorea spp), ulin (Eusideroxylon zwageri), kahingai (Santiria tomentosa), damar (Dipterocarpus spp.), pampahi (Ilexsimosa spp.), kuminjah laki (Memecylon leavigatum), keruing (Dipterocarpus grandiflorus), mawai (Caethocarpus grandiflorus), jambukan (Mesia sp.), kasai (Arthocarpus kemando), dan lain-lain.
Sedangkan faunanya terdapat bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates muelleri), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang merah (Muntiacus muntjak), kijang mas (Muntiacus atherodes), dan pelanduk (Tragulus javanicus).
Kemudian juga ada hewan landak (Hystrix brachyura), musang air (Cynogale benetti), macan dahan (Neofelis nebulosa), kuau/harui (Argusianus argus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang (Berenicornis comatus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang bondol (Haliastur indus), raja udang sungai (Alcedo atthis), raja udang hutan (Halycon chloris), dan lain-lain

Revolusi Hijau

Tahura Sultan Adam adalah kawasan hutan dan perairan Kalsel yang tercatat 1.779.982 hektare, dari luas tersebut sekitar 700 ribu hektare sudah dikatagorikan kritis.
Melihat kondisi tersebut, maka Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang sekarang dipimpin Gubernur Haji Sahbirin Nor mencanangkan gerakan revolusi hijau dalam upaya merehabilitasi hutan yang rusak tersebut dengan jargon “Menanam, Menanam, dan Menanam.”
Program Revolusi Hijau yang digalakkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan diharapkan mampu merehabilitasi kerusakan lingkungan di wilayah tersebut.
Revolusi hijau ditandai dengan penghijauan di sepanjang ruas Jalan Trans-Kalimantan serta rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) mencapai 35.000 hektare per tahun.
Revolusi hijau merupakan program pembangunan bidang lingkungan yang menjadi visi dan misi Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor.
Program ini menitikberatkan pada kegiatan edukasi, peningkatan kepedulian, kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam menanam.
Program ini juga bertujuan meningkatkan indeks kualitas lingkungan Kalsel yang kini berada pada urutan 26 dari 33 provinsi di Tanah Air.
“Program revolusi hijau yang mulai kita galakkan sejak dua tahun terakhir ini diharapkan mampu mengatasi kerusakan lingkungan di Kalsel,” ungkap Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq, di Banjarmasin, saat membentuk Forum Revolusi Hijau yang melibatkan pegiat lingkungan Forum Komunitas Hijau (FKH) Kabupaten dan Kota se-Kalsel, di Banjarbaru, pekan lalu.
Dalam pembentukan forum tersebut, disusun gerakan setiap 13 kabupaten di kota se-Kalsel, yang setiap daerah diketuai oleh Sekda kabupaten dan kota setempat, lalu ada bagian-bagian yang melibatkan komunitas hijau sekaligus sebagai bagian aksi.
Selain melibatkan pegiat lingkungan seperti FKH se Kalsel, gerakan ini juga melibatkan semua instansi, TNI-Polri, serta masyarakat, yang merupakan bagian dari program revolusi hijau.
Salah satu bagian dari Program Revolusi Hijau yang sudah dilakukan adalah penanaman pohon di sepanjang ruas Jalan Trans-Kalimantan sepanjang kurang lebih 100 kilometer, meliputi ruas Km 5,5 Kota Banjarmasin hingga Pengaron, Kabupaten Banjar, dan ruas Lianganggang, Kota Banjarbaru, hingga Sebuhur, Kabupaten Tanah Laut.
Pohon yang ditanam ialah jenis trembesi, tebubuya, dadap merah, pucuk merah, melati jakarta, dan lainnya. Penanaman pohon dengan ukuran besar ini menyedot anggaran Rp21 miliar lebih. Penanaman juga dilakukan di kawasan perkantoran Pemprov Kalsel di Banjarbaru.
Program Revolusi Hijau juga memprioritaskan pada kegiatan rehabilitasi DAS yang dicanangkan mulai 2017 hingga 2026 mendatang. Rehabilitasi DAS menargetkan penanaman hingga 35.000 hektare per tahun.
Melihat kesungguhan Pemprov Kalsel tersebut agaknya akan melegakan sebagian masyarakat akan kembalinya pelestarian hutan atau lingkungan wilayah ini.
Asal saja tambah sebagian warga yang lain program ini benar-benar murni untuk perbaikan lingkungan bukan dijadikan rel politik mempertahankan pemerintahan yang ada, atau hanya kamufelase, artinya hanya hijau di bagian perkotaan yang mudah dilihat tetapi justru kerusakan bertambah akibat penebangan kayu dan pertambangan di pedalaman yang sulit terpantau.