BUDAYA PEMBUATAN KAPUR SIRIH PULAU SUGARA

 

1

kapur

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,- Kapur Sirih yang sering digunakan untuk berbagai keperluan tadinya dikira berasal dari batu kapur seperti kapur untuk mengecat pagar atau sejenisnya.
Tetapi setelah penulis bersama kawan-kawan dari Komunitas Sepeda Antik (Saban) Banjarmasin touring ke daerah Pulau Sugara Jelapat Berangas ketemu dengan perajin kapus sirih ini.
Ternyata kapur sirih bukan dari batu kapur melainkan berasal dari kulit kerang jenis kapah yang setelah diproses sedemikian rupa akhirnya menjadi kapur sirih yang sangat putih bersih.
Seorang perajin menuturkan,pembuatan kapus sirih di Pulau Sugara yang berada di Kabupaten Barito Kuala atau berdekatan dengan Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan ini sudah ada sejak zaman belanda.
Bahkan waktu dulu tahun 70-an jumlah perajin kapur sirih mungkin puluhan lokasi, tetapi sekarang tinggal dua lokasi saja lagi, lantaran perajin beralih profesi ke pembuatan sampan, industri anyaman dan industri kayu.
Yang unik dari proses pembuatan kapur sirih inilah saat kulit kerang kapah dimasukan ke kaleng atau belik, setelah diisi air atau banyu ternyata airnya menjadi panas mencapai 100 derajat silsius padahal tidak ditaruh di atas tungku api.
Dengan air yang terus mendidih maka kulit kerang tadi secara pelan-pelan menjadi hancur kemudian membentuk gumpalan-gumpalan kecil, lalu oleh perajin kumpalan kecil itu didinginkan.
Setelah itu lagi dicampur lagi dengan air lalu diaduk-aduk terus menerus sampai gumpalan kecil tadi menjadi halus, lama kelamaan akhirnya menjadi kapus sirih yang halus dan lembut dan siap dipasarkan.
Setiap belek ukuran 20 liter dijual dengan harga rp65 ribu per blek yang langsung diambil oleh pedagang pengumpul untuk dijual lagi ke berbagai wilayah di Kalsel, Kaltim, Kalteng, bahkan konon sampai ke Pulau Jawa.

Tujuh wanita perajin industri kapur sirih di Pulau Sugara saat ditemui Antara Kalsel di lokasi industri, Sabtu menuturkan, industri ini tetap bertahan karena masih banyaknya permintaan.

Permintaan bukan saja warga Barito Kuala dan Kota Banjarmasin tapi juga banyak permintaan dari daerah lain, dari Kotabaru, Kuala Kapuas, Palangkaraya Kalimantan Tengah, bahkan dari Pulau Jawa.

“Bahkan kami pernah memperoleh permintaan memproduksi seribu blek (satu blek =25 kg) per bulan, permintaan dari sebuah perusahaan perkebunan tersebut tak bisa dipenuhi,” kata Jumiati seorang dari perajin tersebut.

Mereka menyatakan hanya sanggup sekitar 500 blek per bulan, itupun jika mereka memperoleh bantuan modal dari pemerintah dan bahan baku yang berupa kulit kerang kapah mencukupi.

Menurut mereka, industri kapur sirih Pulau Sugara ini mungkin satu-satunya industri kecil yang memproduksi kapur sirih yang masih bertahan di wilayah Barito Kuala dan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pulau Sugara sebenarnya walau masuk Kabupaten Barito Kuala tetapi mereka mengakui sebagai warga Kota Banjarmasin, lantaran desa mereka hanya berbatas sebuah sungai kecil dengan pinggiran Kota Banjarmasin.

Menurut mereka di desa mereka terdaoat empat keluarga yang memproduksi kapur sirih secara turun temurun sejak ratusan tahun silam, dari empat keluarga itulah produksi kapus sirih yang beredar secara luas di pasaran.

Ketika ditanya soal bahan baku, disebutkan sekarang ini tak masalah, karena didatangkan dari berbagai daerah seperti dari Kuala Pembuang atau Kumai Kalimantan Tengah dengan harga Rp1 juta per ton.

Dari bahan baku satu ton bila diolah menjadi kapur bisa berjumlah dari satu ton, karena sifatnya bahan baku itu setelah diproses menjadi kapur sirih maka bisa mengembang, kata Jumiati.

Mereka berharap, perajin yang tinggal sedikit ini supaya memperoleh bantuan modal dari pemerintah, sebab jika mereka gulung tikar maka masyarakat akan kesulitan memperoleh bahan kapur sirih di pasaran.

Kapur sirih selama ini banyak digunakan untuk bahan makan sirih, penjernih air, campuran pembuat kue,  bahan aneka obat tradisional, industri kosmetika, dan aneka kegunaan lainnya.

 

Sementara hasil sebuah liputan media lain menceritakan bahwa
kapur sirih banyak dimanfaatkan sejak dahulu hingga kini, terutama dalam pengobatan herbal. Zaman dulu, kapur sirih sering digunakan dengan daun sirih dan dicampir buah pinang oleh orangtua untuk nyirih.

Saat ini, kapur sirih yang berwarna putih dan berbentuk serbuk ini lebih banyak digunakan untuk bahan baku obat herbal dan produk kecantikan. Ternyata, komoditas ini terbuat dari kulit kerang yang dibakar dan kemudian ditumbuk halus. Hingga saat ini, kapur sirih banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Salah satu tempat pembuatan kapur sirih terletak di Pulau Sugara, Kalimantan Selatan. Banyak warga di sana yang memproduksi kapur sirih sebagai mata pencarian sehari-hari. Pulau Sugara merupakan pulau kecil yang dikelilingi Sungai Barito dan Sungai Martapura. Tempat ini masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Barito Kuala, dekat dengan Kota Banjarmasin.

Letak lokasi ini hanya 20 menit dari Pasar Terapung Muara Kuin. Saat KONTAN mendatangi sentra produksi kapur sirih ini, terlihat banyak warga sibuk mengaduk adonan kapur sirih dalam ember-ember besar. Pekerja yang mengaduk justru didominasi para wanita. Ada juga yang sibuk menjemur kulit kerang dan membakar kulit kerang.
Di Pulau Segara ini, ada lebih dari 11 pengusaha pembuat kapur sirih yang sudah menjalankan usaha ini selama puluhan tahun. Bulkini Azis (30 tahun) misalnya. Dia adalah generasi ketiga yang membuat kapur sirih yang meneruskan usaha orangtuanya.

Bulkini panggilan akrabnya, tidak tahu persis kapan awalnya Pulau Segara sampai bisa menjadi sentra pembuatan kapur sirih. “Yang jelas sejak saya kecil, saya sudah terbiasa melihat orang buat kapur. Malah hingga sekarang Pulau Segara menjadi satu-satunya tempat di Kalimantan yang masih bertahan membuat kapur sirih,” katanya.

Bulkini bercerita, permintaan kapur sirih masih besar hingga kini. Bukan hanya dari Banjarmasin tapi juga sampai ke Kapuas, Palangkaraya, Samarinda, bahkan hingga ke Sulawesi dan Pulau Jawa.

Bulkini dibantu oleh empat orang karyawan membuat kapur sirih dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 15.00 WIB. Dia bisa menghasilkan tiga sampai empat ember besar kapur sirih per hari. Satu ember beratnya sekitar 25 kg. Harga jual satu ember kapur sirih sebesar Rp 65.000.

Adonan-adonan kapur dalam ember nantinya dikumpulkan hingga mencapai minimal 300 kg, setelah itu baru dijual. Setiap dua minggu sekali, pemasok kapur sirih datang dari Banjarmasin membeli kapur-kapur sirih dari tempat ini. Bulkini bisa menghasilkan omzet hingga Rp 15 juta tiap dua minggu dari penjualan kapur sirih ini.

Suryani Isah (46 tahun), juga meneruskan usaha orangtuanya. Dia bilang, tidak jarang wisatawan datang ke Pulau Sugara sekadar untuk melihat tradisi pembuatan kapur sirih yang sudah berusia sekitar setengah abad ini.
Suryani dan ketiga karyawannya bisa menghasilkan 50 kg−70 kg adonan kapur sirih per hari. Dalam sebulan Suryani bisa menghasilkan omzet Rp 20 juta.

Tradisi nyirih merupakan warisan budaya nenek moyang Indonesia sejak dulu kala. Bagi warga Pulau Sugara, Kalimantan Selatan, nyirih merupakan simbol dari tradisi masyarakat Melayu. Bahkan, di zaman modern sekarang ini pun beberapa suku di Kalimantan seperti suku Banjar dan suku Dayak masih mempertahankan tradisi ini.

Sadikin dan istrinya Jumyati, pembuat kapur sirih di sentra ini bercerita, awalnya para generasi terdahulu membuat kapur sirih hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Barito saja. Kemudian berkembang hingga ke Samarinda, sebab Suku Dayak suka menyirih dan menggunakan sirih sebagai ritual-ritual adat. Hingga di tahun 1980-an, baru kapur sirih mulai terkenal sampai seantero Kalimantan bahkan sekarang sudah dikirim sampai ke Jawa dan Sulawesi.

Sadikin bisa menghasilkan enam ember besar kapur sirih per hari. Penumbukan kerang didominasi kaum wanita, sebab para pria sibuk bertugas mencari kerang. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Sadikin dan beberapa pembuat kapur sirih lain biasanya mendatangkan bahan baku kulit kerang dari Aluh Aluh, Kuala Pembuang Satu, atau Kotawaringin, Kalimantan Tengah.

Bulkini Azis, produsen kapur sirih lainnya mengaku tidak kesulitan mencari pasokan bahan baku kerang, meski di Sungai Barito sulit mencari kulit kerang yang sesuai kriteria. Sebab kerang yang digunakan bukan kerang yang biasa dikonsumsi yang berwarna hijau.

Melainkan kerang yang berada di pasir atau dasar perairan dekat laut.
Meski aliran Sungai Barito di Pulau Sugara hampir menuju lautan, namun cangkang kerang tidak begitu keras. “Kerang paling bagus kualitasnya dari Kotawaringin dan sekitaran Pangkalan Bun karena cangkangnya tebal dan ukurannya besar,” kata Bulkini.

Dalam sebulan Bulkini bisa membutuhkan satu ton cangkang kerang untuk produksi. Pemasok mengirim kerang dengan karung-karung melalui jalur sungai. Biasanya untuk kerang dari Pangkalan Bun di antar ke Aluh Aluh. Setelah itu Bulikini membawa ke Pulau Segara.

Bulkini membeli satu ton cangkang kerang seharga Rp 1 juta-Rp 1,2 juta.
Para pembuat kapur sirih nantinya menjual produknya secara kolektif. Hal ini disebabkan para pengepul dari Banjarmasin hanya mau membeli kapur minimal 500 kg sekali datang. Sedangkan, beberapa pembuat kapur hanya bisa memproduksi 30 kg sampai 50 kg per hari.

Aneka manfaat Kapur Sirih

33 Manfaat Kapur Sirih untuk Kulit – Wajah – Kesehatan
Sponsors Link

Kandungan Kapur sirih

Dalam sebuah tulisan di internet menyebutkan manfaat kapur sirih sudah banyak diminati oleh orang tua dahulu ternyata berkhasiat. Kandungan yang dimilikinya seperti kadinen, sineol, karvakol, kavinol, dan zat samak yang baik untuk kesehatan. Maka tak ada salahnya menggunakan kapir sirih untuk mengatasi masalah kulit dan pencernaan.

Perlu anda ketahui, kandungan yang ada di kapur sirih tersebut cukup panas jika diberikan di sekitar area wajah. Jadi disarankan untuk yang memiliki wajah sensitif tidak mencoba mengoleskan ke permukaan wajahnya. Sedangkan untuk kulit normal, tidak disarankan memakai setiap hari secara terus menerus.

Manfaat kapur sirih ternyata banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, berikut ini diantaranya :

1. Mengurangi bau

Bau badan menjadi masalah yang cukup mengganggu untuk aktivitas remaja. Kepercayaan diri bahkan juga menurun ketika menyadari bahwa wangi tubuh anda sudah hilang. Berikut adalah solusi untuk mengurangi bau badan :

Potong jeruk nipis menjadi dua
Lapisi permukaan jeruk dengan sirih
Oleskan pada ketiak anda sehabis mandi
Biarkan meresap selama 5 menit
Cuci bersih bagian ketiak anda
2. Memutihkan paha

Manfaat kapur sirih ternyata juga sangat baik untuk mencerahkan kulit. Apalagi di daerah pangkal paha. Memang kebanyakan wanita memiliki kulit bersih, mulus, dan putih disekitar lengan dan lutut. Namun di daerah pangkal paha? Belum tentu.

Caranya adalah :

Kapur sirih yang sudah direndam, ditambahkan dengan jeruk nipis
Oleskan secara merata pada bagian pangkal paha dan selangkangan
Gunakan sesering mungkin, dianjurkan dipakai setelah mandi
3. Mengurangi resiko kerutan setelah melahirkan

Waktu hamil tentu membuat anda terlihat semakin lebih berisi. Sebab dalam perut anda ada nyawa kecil yang harus dilindungi. Ketika melahirkan, tentu meninggalkan bekas kerutan atau stretch mark. Untuk menghilangkannya dapat melalui ramuan sirih, yakni :

Campurlah sirih sebanyak satu sendok dengan minyak kayu putih setengah sendok
Aduk rata sampai semua benar-benar tercampur
Tambahkan jeruk nipis
Oleskan pada bagian perut setiap selesai mandi
4. Mengecilkan kutil dan tahi lalat

Kutil dan tahi lalat mampu menurunkan tingkat rasa percaya diri anda. Apalagi jika keberadaanya berada di sekitar wajah. Selain membuat risih mata memandang, kadang kutil dan tahi lalat ini juga bisa membesar. Oleh karena itu, lebih baik anda segera membuangnya. Paling tidak mengempeskanya. Caranya :

Cukup dengan satu sendok sirih, campurkan detergen
Aduk campuran tersebut hingga benar-benar tercampur
Oleskan dengan cotton buds pada kutil atau tahi lalat
Tunggulah sampai 20 menit
Bilas dengan air hangatagar mengelupas
Untuk kutil, tutuplah dengan kasa pada bagian kutil tersebut. Gantilah selama 2 hari sekali. Perhatikan apakah sudah mengecil.
5. Mencerahkan ketiak

Ketiak yang sering di cukur bulunya, lama-lama menjadi menghitam. Sebab kulit pada bagian yang melindungi ketiak mengelupas pelan-pelan secara paksa oleh alat cukur. Hal ini membuat kebingungan remaja putri yang merasa risih dengan bulu ketiaknya. Namun ia juga tak mau memiliki ketiak kusam. Solusinya gunakanlah manfaat kapur sirih untuk ketiak. Caranya :

Tuangkan satu sendok kapur sirih dengan satu sendok perasan lemon
Campurkan dengan penambahan air. Aduk sampai rata
Bersihkan ketiak anda dahulu (disarankan setelah mandi)
Oles pada bagian ketiak anda
Tunggu selama 20 menit
Bersihkan dengan air hangat dan sabun hingga benar-benar bersih
Gunakan 3 kali selama seminggu
6. Mengurangi bulu ketiak

Selain mampu mencerahkan, sirih juga mampu mengurangi atau merontokan bulu ketiak. Hal ini sering di praktekan oleh wanita Indonesia jaman dahulu. Cara dan ramuannya sama dengan yang mencerahkan ketiak.

7. Menyembuhkan sakit tenggorokan

Sakit batuk serta gatal pada tenggorokan adalah indikasi bahwa anda sudah terserang penyakit. Meski bukan penyakit parah, namun hal ini mengganggu aktivitas anda. Solusinya dengan membuat ramuan kapur sirih. Caranya :

Peraslah air jeruk nipis dalam sendok
Campurkan dengan sedikit kapur sirih
Diminum langsung
Anda juga bisa menggunakan ramuan ini :

Peras air jerusk dalam satu sendok makan
Campurkan dengan setengah sendok madu dan garam
Aduk hingga benar-benar tercampur. Lalu di saring
Minum secara rutin 2-3 kali sehari
8. Mengurangi resiko kanker

Banyak orang berasumsi bahwa kapur sirih juga mampu menghilangkan atau menyembuhkan kanker kulit. Meski belum terbukti secara klinis, tapi orang tua jaman dahulu sudah mempercayainya. Ramuanya adalah :

Tuangkan satu sendok sirih dalam wadah
Campurkan dengan deterjen
Oleskan pada kulit yang terdapat kanker
Perhatikan, lama-lama kanker akan mengurang
Ingat, hal ini belum teruji secara klinis. Jadi disarankan anda membaca banyak referensi dan mengikuti saran dokter sebelum mengaplikasikan ramuan ini.

Top Untuk Kanker

Dalam dunia pengobatan, kapur sirih banyak dimanfaatkan sejak dahulu hingga kini, terutama dalam pengobatan herbal. Zaman dulu, kapur sirih sering digunakan dengan daun pinang oleh orangtua untuk nyirih.

Kapur sirih yang berwarna putih dan berbentuk serbuk ini lebih banyak digunakan untuk bahan baku obat herbal dan produk kecantikan. Ternyata, komoditas ini bukan terbuat dari batu kapur, tapi terbuat dari kulit kerang besar dan tebal yang berada di pasir pantai, bukan kerang hijau yang biasa dikonsumsi atau dari batu koral. Proses pembuatannya dengan kulit kerang yang dibakar dan kemudian ditumbuk halus. Hingga saat ini, kapur sirih banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Ternyata ada 11 manfaat tak terduga kapur sirih untuk kehidupan sehari-hari sebagai berikut :

1. Menghaluskan kulit dari flex hitam – Bagi Anda yang ingin meghaluskan kulit dengan cara yang alami, Anda bisa mencoba menggunakan bubuk kapur sirih ini. Ada beberapa keunggulan yang bisa Anda nikmati dengan menggunakan kapur sirih. Diantaranya adalah harganya yang lebih murah dan lebih alami. Kapur sirih bisa Anda manfaatkan untuk menyamarkan flek hitam pada kulit Anda. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan kulit yang sehat, Anda bisa campurkan air kapur sirih tersebut dengan perasan jeruk nipis. Cara penggunaannya mudah, oleskan cairan tersebut pada bagian yang Anda inginkan. Barulah setelah sekitar 10 menit, basuh dengan air sampai bersih.

2. Mengurangi bau ketiak – Bau badan menjadi masalah yang cukup mengganggu untuk aktivitas remaja. Kepercayaan diri bahkan juga menurun ketika menyadari bahwa wangi tubuh anda sudah hilang. Berikut adalah solusi untuk mengurangi bau badan :

Potong jeruk nipis menjadi dua
Lapisi permukaan jeruk dengan sirih
Oleskan pada ketiak anda sehabis mandi
Biarkan meresap selama 5 menit
Cuci bersih bagian ketiak anda
3. Memutihkan paha – Manfaat kapur sirih ternyata juga sangat baik untuk mencerahkan kulit. Apalagi di daerah pangkal paha. Memang kebanyakan wanita memiliki kulit bersih, mulus, dan putih disekitar lengan dan lutut. Namun di daerah pangkal paha? Belum tentu.

Caranya adalah :

Kapur sirih yang sudah direndam, ditambahkan dengan jeruk nipis
Oleskan secara merata pada bagian pangkal paha dan selangkangan
Gunakan sesering mungkin, dianjurkan dipakai setelah mandi
4. Mengurangi resiko kerutan setelah melahirkan – Waktu hamil tentu membuat anda terlihat semakin lebih berisi. Sebab dalam perut anda ada nyawa kecil yang harus dilindungi. Ketika melahirkan, tentu meninggalkan bekas kerutan atau stretch mark. Untuk menghilangkannya dapat melalui ramuan sirih, yakni :

Campurlah sirih sebanyak satu sendok dengan minyak kayu putih setengah sendok
Aduk rata sampai semua benar-benar tercampur
Tambahkan jeruk nipis
Oleskan pada bagian perut setiap selesai mandi
5. Mengecilkan kutil dan tahi lalat – Kutil dan tahi lalat mampu menurunkan tingkat rasa percaya diri anda. Apalagi jika keberadaanya berada di sekitar wajah. Selain membuat risih mata memandang, kadang kutil dan tahi lalat ini juga bisa membesar. Oleh karena itu, lebih baik anda segera membuangnya. Paling tidak mengempeskanya. Caranya :

Cukup dengan satu sendok sirih, campurkan detergen
Aduk campuran tersebut hingga benar-benar tercampur
Oleskan dengan cotton buds pada kutil atau tahi lalat
Tunggulah sampai 20 menit
Bilas dengan air hangatagar mengelupas
Untuk kutil, tutuplah dengan kasa pada bagian kutil tersebut. Gantilah selama 2 hari sekali. Perhatikan apakah sudah mengecil.
6. Mencerahkan ketiak – Ketiak yang sering di cukur bulunya, lama-lama menjadi menghitam. Sebab kulit pada bagian yang melindungi ketiak mengelupas pelan-pelan secara paksa oleh alat cukur. Hal ini membuat kebingungan remaja putri yang merasa risih dengan bulu ketiaknya. Namun ia juga tak mau memiliki ketiak kusam. Solusinya gunakanlah manfaat kapur sirih untuk ketiak. Caranya :

Tuangkan satu sendok kapur sirih dengan satu sendok perasan lemon
Campurkan dengan penambahan air. Aduk sampai rata
Bersihkan ketiak anda dahulu (disarankan setelah mandi)
Oles pada bagian ketiak anda
Tunggu selama 20 menit
Bersihkan dengan air hangat dan sabun hingga benar-benar bersih
Gunakan 3 kali selama seminggu
7. Mengurangi bulu ketiak – Selain mampu mencerahkan, sirih juga mampu mengurangi atau merontokan bulu ketiak. Hal ini sering di praktekan oleh wanita Indonesia jaman dahulu. Cara dan ramuannya sama dengan yang mencerahkan ketiak.

8. Menyembuhkan sakit tenggorokan – Sakit batuk serta gatal pada tenggorokan adalah indikasi bahwa anda sudah terserang penyakit. Meski bukan penyakit parah, namun hal ini mengganggu aktivitas anda. Solusinya dengan membuat ramuan kapur sirih. Caranya :

Peraslah air jeruk nipis dalam sendok
Campurkan dengan sedikit kapur sirih
Diminum langsung
Anda juga bisa menggunakan ramuan ini :

Peras air jerusk dalam satu sendok makan
Campurkan dengan setengah sendok madu dan garam
Aduk hingga benar-benar tercampur. Lalu di saring
Minum secara rutin 2-3 kali sehari
9. Mengobati penyakit encok – Cara membuatnya – Ambil daun ubi kayu atau daun singkong kemudian dicampur dengan kapur sirih secukupnya kemudian diremas hingga hancur. Taburi ramuan tersebut di area yang terkena encok dan rematik.

10. Membantu untuk hal-hal darurat – Kapur sirih juga dapat mengeluarkan semut dari dalam telinga dengan cara mengoleskan kapur sirih pada bagian belakang telinga. Efek panas yang di keluarkan oleh kapur sirih dapat mengeluarkan semut dari lubang telinga anda.

11. Sebagai obat sakit perut untuk anak-anak – Ketika anak-anak kita sakit perut, segeralah menggunakan daun sirsak yang telah bercampur kapur sirih, kemudian di oleskan pada perut anak yang sakit.

Selain bisa digunakan untuk merawat kulit tubuh dan juga bisa megatasi bau ketiak, bubuk kapur sirih ini biasanya juga bisa digunakan untuk mengolah makanan supaya mendapatkan hasil tekstur makanan yang keras. Misalnya saat Anda membuat manisan buah, rendam manisan tersebut ke dalam rendaman kapur sirih untuk mendapatkan tekstur yang lebih keras. Nah, itu tadi adalah informasi singkat dari kami, selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

2

3

4

5

 

 

MENIKMATI SAHUR SUSUR SUNGAI DINI HARI RAMADHAN

Oleh Hasan Zainuddin20160625wali

Menikmati warung soto terapung di Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, seraya memancing udang dan ikan sudah merupakan kebiasaan sebagian warga setempat.
Lalu menikmati makan aneka santapan kuliner khas Suku Banjar berupa laksa, katupat kandangan, putu mayang, lapat, lontong, puracit, kokoleh, pundut nasi, dan nasi kuning di pasar terapung kawasan Jalan Pierre Tendean mulai jadi tren di kalangan pendatang.

Berbelanja sayuran berupa daun singkong, jantung pisang, kacang panjang, umbut kelapa, keladi, daun pakis, labu, karawila dan aneka sayuran lainnya merupakan kenikmatan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke pasar terapung di kota dengan penduduk sekitar 800 ribu jiwa ini.

Dibantu siraman sinar lampu minyak tanah dan sedikit terkena sinaran lampu listrik jalanan, pembeli dan penjual bisa bertransaksi, walau kadangkala harus hati-hati lantaran perahu bisa oleng dihantam riak gelombang sungai yang berhulu ke kawasan Pegunungan Meratus tersebut.

“Ayo ke Banjarmasin, kota yang `barasih wan nyaman` (Baiman/bersih dan nyaman, red),” kata Wali Kota Ibnu Sina saat menghadiri atraksi wisata susur sungai yang disebut Sahur On The River (SOTR) III atau Sahur Susur Sungai yang oleh Satuan Polisi Air (Sapol air) Polresta Banjarmasin, di lokasi Kubah Basirih, Sabtu (26/6) dini hari.

Wali kota memuji kotanya memiliki anugerah yang tidak dipunyai oleh kota manapun di dunia, karena dibelah oleh sedikitnya 102 sungai, besar dan kecil.

Dengan kelebihan itu, maka Banjarmasin memiliki keunggulan bila ingin menjadikan sungai sebagai objek wisata, dimanapun di dunia ini jika sungai dijadikan objek wisata maka wisatawannya akan berdatangan.

Sebagai contoh, kota Bangkok yang menjajakan sungai sebagai objek wisatanya, Hongkong, Venesia Italia, Belanda dan kawasan lain lagi.

Oleh karena itu, Pemkot Banjarmasin bersama masyarakat bertekad menjadikan pariwisata sungai Kota Banjarmasin sebagai destinasi unggulan melalui berbagai budaya, atraksi, dan kegiatan yang nuansanya bisa menjadi destinasi wisata.

“Saya melihat atraksi SOTR III ini ada keunikan, sahur bersama dengan ratusan orang, di tepian sungai, di lokasi objek wisata keagamaan lagi,” kata Ibnu Sina saat menghadiri SOTR III di kubah Basirih, Sabtu (25/6) dini hari.

Melihat keunikan ini wajar jika ke depan cara-cara seperti itu lebih dibudayakan, bukan saja untuk meningkatkan tali silaturahmi, tetapi merupakan salah satu bentuk syiar agama.

Satu hal yang tak kalah penting, khususnya di “kota seribu sungai,” Banjarmasin, dengan adanya pergelaran semacam ini menjadi atraksi wisata yang tak ditemui di belahan benua manapun.

“Saya sudah banyak tanya, tak ada seorang pun menjumpai acara sahur bersama di lokasi pinggiran sungai yang dihadiri ratusan orang,” kata Ibnu Sina.

Oleh karena itu, ke depan Pemkot Banjarmasin akan melibatkan diri dalam kegiatan semacam ini. Bahkan mungkin kegiatan ini akan dijadikan kalender kepariwisataan yang ditawarkan kepada wisatawan, khususnya wisatawan keagamaan.

“Ayo kita menikmati wisata sungai dengan menyusuri kehidupan air, seraya makan sahur bersama,” kata Ibnu Sina dengan nada ajakan.

Menurutnya, acara ini akan dipublikasikan luas kepada masyarakat setiap Ramadhan, dan lokasinya pun bisa diperbanyak, bukan hanya satu lokasi tetapi di beberapa lokasi.

Dalam acara Sahur Susur Sungai tersebut selain makan sahur bersama, Satuan Polisi Perairan Polresta Banjarmasin juga melakukan sosialisasi kepada nelayan atau masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan ikan dengan cara yang dilarang atau “Illegal Fishing”.

“Acara sahur susur sungai ini ketiga kalinya kami laksanakan dan kegiatan intinya menjaga Kamtibmas masyarakat pinggiran sungai seraya beribadah puasa selama Ramadhan dengan benar,” kata Kasat Polair Polresta Banjarmasin AKP Untung Widodo.

Kegiatan sahur susur sungai ini sudah yang ketiga kalinya selama Ramadhan tahun ini, pertama di pasar terapung kawasan Jalan Pierre Tendean bekerja sama dengan PT Mitra Bahtera Segara Sejati (MBSS), kata Untung Widodo.

Saat mulai menyusuri sungai pihak Satpolair dan PT MBSS membagikan nasi kotak kepada para nelayan pemancing ikan yang ada di sungai tersebut.

“Kami bagikan nasi kotak kepada para nelayan itu agar nanti mereka bisa sahur dan berpuasa,” tutur pria yang akrab dengan awak media itu.

Tujuan acara ini untuk menjalin silaturahim dengan warga sadar keamanan, ketertiban masyarakat (Kamtibmas) khususnya di wilayah perairan Banjarmasin, ucapnya.

Bukan itu saja, Polri juga lebih dituntut untuk menjalin kemitraan dengan semua unsur serta hadir di tengah-tengah masyarakat, untuk kebersamaan.

Kegiatan ini selain untuk mempererat tali silaturahim dengan pedagang pasar terapung, komunitas kelotok (perahu) wisata, pecinta lingkungan, agar semakin terjalin keakraban dan mendukung tugas tugas kepolisian untuk menciptakan keamanan dan ketertiban.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin Iwan Fitriady mengatakan kegiatan Sahur On The River itu luar biasa dan baru pertama kali dilakukan.

“Kami berterimakasih kepada Satpol Air sebagai penggagas pertama kali kegiatan ini walau sederhana tapi hasilnya luar biasa,” tuturnya.

“Kita berharap atraksi-atraksi wisata semacam itu digali dan diciptakan untuk menambah kesemarakan lokasi yang kini terus dipromosikan sebagai wisata andalan kota Banjarmasin,” kata Iwan Fitriady.

Pasar terapung adalah lokasi objek wisata andalan yang dikunjungi hampir lima ribuan orang setiap minggu, lokasi ini menarik lantaran kekhasan tersendiri di mana para pedagang mengenakan kostum tradisional dengan bertopi lebar (tanggui) berjualan di lokasi tersebut.

Sementara lokasi terakhir Kubah Basirih merupakan tempat ziarah umat Islam yang bukan saja dari Kalsel, tetapi dari Pulau Jawa, Sumatera, bahkan dari Malaysia.

Karena di lokasi tersebut adalah wilayah pemakaman ulama-ulama besar sebelumnya yang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Kota Banjarmasin. ***4***

SAHUR SUSUR SUNGAI ATRAKSI WISATA RAMADHAN

susur sungaiBanjarmasin ()- Makan dan minum seraya mengayuh sampan dilakukan puluhan ibu-ibu di Pasar Terapung Siring Tendean Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sekali-sekali air di gelas tumpah tat kala sampan yang ditumpangi para pedagang sayuran dan buah-buahan di lokasi pasar unik ini oleng lantaran terhamtam gelombang sungai.

Dibantu lampu minyak tanah dan sedikit tersiram sinaran listrik jalanan mereka terlihat samar-samar, namun tak mengurangi keceriaan para pedagang di atas Sungai Martapura ini untuk bersantap sahur bersama dalam kegiatan “Sahur Susur Sungai” (Sahur On The River).

Kegiatan tersebut seperti terlihat pada Minggu dinihari (12/6) yang digagas oleh Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polresta Banjarmasin, menggelar acara sahur susur sungai dari Sungai Barito hingga Sungai Martapura yang ada di kota setempat.

“Kegiatan sahur susur sungai ini bekerja sama dengan PT Mitra Bahtera Segara Sejati (MBSS),” kata Kepala Satuan Polisi Air Polresta Banjarmasin AKP Untung Widodo Sst.

Saat mulai susur sungai pihak Satpolair dan PT MBSS membagikan nasi kotak kepada para nelayan pemancing ikan yang ada di sungai tersebut.

“Kami bagikan nasi kotak kepada para nelayan itu agar nanti mereka bisa sahur dan berpuasa,” tutur pria yang akrab dengan awak media itu.

Dia mengatakan, susur sungai yang dilakukan itu berakhir di Pasar Terapung Siring Tandean di mana di siring tersebut sudah disiapkan acara sahur bersama dengan beberapa komunitas di antaranya Komunitas Kamtibmas Perairan, Komunitas Masyarakat Peduli Sungai (Melingai), serta para pedagang pasar terapung di siring tersebut.

Bukan itu saja dalam acara sahur bersama di Siring Tandean itu turut hadir Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Drs Wahyono MH dan Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

“Tujuan acara ini untuk menjalin silaturahmi dengan warga sadar keamanan, ketertiban masyarakat (Kamtibmas) khususnya di wilayah perairan Banjarmasin,” ucapnya.

Bukan itu saja, Polri juga lebih dituntut untuk menjalin kemitraan dengan semua unsur serta hadir di tengah-tengah masyarakat, untuk kebersamaan.

Sahur bersama ini untuk mempererat tali silaturahmi dengan pedagang pasar terapung, komunitas kelotok wisata, pecinta lingkungan, agar semakin terjalin keakraban dan mendukung tugas tugas kepolisian untuk menciptakan keamanan dan ketertiban.

“Kami bersama PT MBSS membagikan 50 nasi kotak untuk masyarakat di pesisir serta nelayan dan sekitar 150 orang makan pakai alas daun pisang saat sahur bersama,” ujarnya.

Sementara itu Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Drs Wahyono MH mengatakan dirinya sangat senang bisa hadir di tengah-tengah masyarakat Kota Banjarmasin dan melaksanakan sahur bersama.

“Kegiatan seperti ini harus rutin dilakukan untuk memperat jalinan kasih antara komunitas pedagang pasar terapung dan kelotok wisata,” katanya.

Yang jelas Polisi selalu berharap masyarakat bisa membantu dan bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam menjaga, menciptakan serta memelihara keamanan dan ketertiban di kota ini, dan Polresta menyambut baik kegiatan Satpolair tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin Iwan Fitriady di Banjarmasin, mengatakan kegiatan Sahur On The River itu luar biasa dan baru pertama kali dilakukan.

“Kami berterima kasih kepada Satpol Air sebagai penggagas pertama kali kegiatan ini walau sederhana tapi hasilnya luar biasa,” tuturnya.

Menurutnya, sahur susur sungai merupakan model baru dalam atraksi wisata yang berada persis di lokasi destinasi wisata Pasar Terapung yang merupakan lokasi yang sudah dikenal luas di Kalsel maupun nusantara.

“Kita berharap atraksi-atraksi wisata semacam itu, harus digali dan diciptakan untuk menambah kesemarakan lokasi yang kini terus dipromosikan sebagai wisata andalan kota Banjarmasin ini,” kata Iwan Fitriady.

Pasar terapung adalah lokasi objek wisata andalan yang dikunjungi hampir lima ribuan orang setiap minggu, lokasi ini menarik lantaran kekhasan tersendiri dimana para pedagang mengenakan kostum tradisional dengan bertopi lebar (tanggui) berjualan di lokasi tersebut.

Sementara barang dagangan yang dijual sebagian besar adalah hasil alam setempat seperti satur-sayuran, buah-buahan, aneka ikan air tawar dan rawa, penganan tradisional, kue kering lokal, serta kuliner-kuliner khas setempat.

Kuliner yang banyak dijajakan pedagang antara lain ketupat kandangan, laksa, lupis, jagung rebus bajarang banyiur, jaring, bubungko, pais, pundut nasi, ketupat balamak, lapat, nisan bacucuk paring, nasi kuning, soto Banjar, dan banyak lagi yang lainnya.

Para pedagang ini berasal dari desa-desa pinggiran kota Banjarmasin serta dari kabupaten lainnya yang datang ke lokasi ini tengah malam dengan mengayuh jukung atau sampan.

Seorang pedagang Ibu Hasnah (50 tahun) mengaku datang dari Lok Baintan Kabupaten Banjar, datang ke lokasi ini menjual dagangan hasil alam, seperti keladi, ubi jalar, daun singkong, kembang tegarus, pisang masak, jantung pisang, ikan sepat, siput hailing dan beberapa lagi.

“Lumayan pak, jika nasib baik dagangan ini cepat ludes di beli pengunjung, biasanya yang suka membeli selain pengunjung lokal tak sedikit dari wisatawan nusantara dan mancanegara, hingga keuntungan bisa mencapai rp200 ribu per hari,” tuturnya.

Dibudayakan

Kepala Satuan Polisi Air Polresta Banjarmasin AKP Untung Widodo menyatakan melihat kesuksesan acara kali ini, maka sahur susur sungai ini akan dibudayakan setiap bulan Ramadhan, selain upaya menjaga kamtibmas perairan, sekaligus sebagai sarana silaturahmi, ddisamping sebagai atraksi wisata.

Menurutnya lokasi mangkal kegiatan ini di beberapa titik perairan baik di Sungai Martapura, maupun Sungai Barito dengan menyambangi para nelayan, para pemukiman bantaran sungai, pedagang pasar terapung, serta pedagang ikan air tawar.

“Pada hari Minggu dinihari akan datang digelar di lokasi Tempat Pelelangan Ikan Air Tawar, di Jalan RK Hilir< insya alllah seluruh komunitas tetap diundang,” kata Untung Widodo.

Dalam aksi sahurt besama selain pembagian nasi kotak juga makan bersama yang seluruh makananan baik nasi maupun lauk pauknya beralaskan daun pisang di lokasi raket atau lanting kawasa n tersebut.

Pola semacam itu tetap dipertahankan pada kegiatan serupa pada pegelaran kemudian, dan harapannya cara -cara ini akan memancing pengunjung dan wisatawan.

Untung Widodo menuturkan kegiatan ini dibantu pihak ketiga yang bergerak dalam pelayanan dan diharapkan kedepan kian banyak yang terlibat dalam partisipasinya.

Kegiatan berakhir setelah Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina membagikan paket sembako kepada perwakilan komunitas kapal wisata, komunitas pedagang pasar terapung, dilanjutkan dengan Sholat Subuh berjamaah dengan imam wali kota sendiri.

“MELINGAI” HARAPAN BARU BAGI PELESTARIAN SUNGAI

20150901melingaigambar

 

 

 

 

Oleh Hasan Zainuddin

 

“Sangat Elok,” demikian komantar Mdnoh Rahidin, wisatawan Malaysia ketika mengunjungi Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, belum lama.

Ketika ditanya apa yang membuat wisatawan “susur galur” (mencari juriat) tersebut terpesona terhadap kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa dengan luas hanya sekitar 92 kilometer persegi tersebut.

Ia mengaku melihat begitu banyak sungai yang melingkar-lingkar yang membelah kota paling selatan pulau terbesar di Indonesia itu.

“Tidak ada daerah lain memiliki sebanyak sungai seperti di Banjarmasin ini. Jika sungai-sungai ini lebih ditata, kota Banjarmasin akan mengalahkan kota wisata sungai Malaysia, Malaka,” kata wisatawan yang membawa empat saudaranya mencari keluarga yang terpisah, puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun tersebut.

Pernyataan wisatawan keturunan Suku Banjar yang sejak datuk (atok) berada di Malaysia tersebut, satu di antara pernyataan “kagum” dari puluhan, bahkan ratusan pengunjung ke kota berjuluk “kota seribu sungai” (City of Thousand Rivers) Banjarmasin ini atas keberadaan sungai-sungai di kota tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Kota (Bappeko) Banjarmasin Ir. Fajar Desira mengakui wilayah ini dialiri banyak sungai, baik sungai besar seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura maupun sungai kecil, ditambah anak-anak sungai dan kanal.

Hanya saja keberadaan sungai-sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat itu kini mulai rusak, tercemar gulma, tercemar sampah, pendangkalan yang hebat, bahkan penyembitan akibat perkembangan kota dan permukiman.

“Dahulu sungai di Banjarmasin jumlahnya mencapai 150 buah. Namun, hasil inventarisasi belakangan tinggal 102 buah. Sungai itu mati akibat pendangkalan dan berubah fungsi menjadi permukiman dan perkembangan kota lainnya,” kata perencana yang dikenal sebagai perancang Kota Banjarmasin tersebut.

Menurut dia, panjang sungai yang membelah dan mengaliri kota yang dikenal dengan wisata sungai “pasar terapung” tersebut mencapai 185.000 meter.

Melihat kenyataan tersebut, kata mantan Kepala Dinas PU Kota Banjarmasin itu, wajar jika arah pembangunan kota wisata sungai ini berorientasi bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi penggerak perekonomian masyarakat.

Selain itu, sungai dikembalikan fungsinya sebagai drainase, sebagai alat transportasi, dan sarana komunikasi, terutama sebagai sarana kepariwisataan pada masa mendatang.

Untuk menjurus sebagai kota wisata tersebut, sejak 10 tahun terakhir ini sudah banyak yang dilakukan pemerintah setempat, di antaranya pembangunan siring sebagai lokai “water front City” (kota bantaran sungai), ratusan miliar rupiah sudah dikeluarkan guna mewujudkan sarana tersebut.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) Banjarmasin Ir. Muryanta mengatakan bahwa kota ini tidak memiliki sumber daya alam, seperti hutan dan tambang, maka pilihan penggerak ekonomi masyarakat adalah sungai-sungai tersebut.

Oleh karena itu, dibangun siring sekitar 3 kilometer dari 5 kilometer yang direncanakan di lokasi tersebut akan tersedia fasilitas taman, tempat bermain, wisata kuliner, patung bekantan, pasar terapung, kedai terapung, menara pandang (pantau), dan pusat cendera mata.

“Siring yang sedang diselesaikan menjadi 5 kilometer itu, ada wisata kuliner di kampung ketupat, ada wisata cendera mata di kampung sasirangan, ada wisata ikan di tempat pelelangan ikan,” katanya.

Muryanta menjelaskan pembangunan siring tersebut memperoleh dukungan pemerintah provinsi dan pusat seperti dari Balai Sungai Kementerian PU.

Untuk mendukung wisata sungai tersebut, kini sudah dibangun sejumlah dermaga angkutan sungai, seperti kelotok (perahu bermotor), spead boat, dan sampan (jukung), untuk memudahkan perjalanan wisata susur sungai.

Bahkan, kata Muryanta, ratusan jembatan dibuat melengkung agar di bawahnya bisa dilalui oleh perahu-perahu wisata tersebut.

Ia menilai keinginan kuat pemerintah untuk mewujudkan Kota Banjarmnasin sebagai kota wisata itu akan terwujud jika adanya dukungan seluruh masyarakat, apalagi adanya keinginan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didukung Kementerian Pekerjaan Umum, yakni “Kemitraan Habitat,” untuk menjadikan kota ini bagaikan kota air yang terkenal, seperti di Venesia Italia.

Melingai

Untuk mewujudkan keinginan kuat pemerintah mewujudkan Kota Banjarmasin sebagai kota air, dengan segala persoalan tersebut di atas, maka diperlukan partisipasi yang nyata pula di tengah masyarakat. Pasalnya, jika keinginan tersebut tidak melibatkan masyarakat secara luas, keinginan tersebut tak bakalan tercapai.

Oleh karena itulah, sejumlah organisasi masyarakat yang berorientasi lingkungan mencoba berhimpun dalam satu wadah yang mengkhususkan diri terhadap pelestarian sungai yang disebut “Melingai”.

Dinamakan “Melingai” karena itu sebuah singkatan Masyarakat Peduli Sungai. Akan tetapi, arti harfiah dari melingai itu sendiri dalam bahasa lokal (Banjar) artinya membersihkan.

Pendirian organisasi masyarakat tersebut kumpulan dari banyak organisasi masyarakat, seperti Masyarakat Pencinta Pohon, Forum Komunitas Hijau, Pena Hijau, Sahabat Bekantan Indonesia, dan organisasi lainnya, termasuk Satuan Polisi Air (Sapol Air) Banjarmasin yang pada tanggal 19 Agustus 2015 mengadakan pertemuan pertama sekaligus pembentukan pengurus yang diketuai Ferry Husain, kemudian dibantu tiga wakil ketua serta bidang-bidang.

Setelah pembentukan organisasi tersebut, langsung membuka jejaring sosial atau melalui, seperti Facebook, Twitter, dan wibe site, untuk mengimpun sukarelawan yang ingin berpartisipasi dalam pelestarian sungai tersebut.

Ternyata organisasi ini memperoleh respons positif masyarakat sehingga banyak yang menyatakan bersedia bergabung menjadi sukarelawan, yang tugasnya nanti antaranya memberikan edukasi kepada masyarakat dengan menanam pohon penghijauan di pinggir sungai, pembersihan sampah di sungai, pelepasliaran bibit ikan, penghapusan budaya jamban, dan memberikan pengertian dampak negatif perumahan yang mengancam keberadaan sungai.

Tugas lainnya Melingai adalah memberikan pengertian begitu vitalnya daerah resapan air di Pegunungan Meratus yang selama ini menjadi “Tandon Air Tawar Raksasa” yang merupakan hulu dari sungai-sungai di Banjarmasin yang harus diselamatkan dan direhabilitasi.

Aksi lapangan pertama yang dilakukan puluhan anggota Melingai pada tanggal 30 Agustus, yakni melakukan pembersihan sungai dari tumpukan sampah yang mengapung di air, sampah yang berada di daratan kawasan Pasar Terapung kompleks wisata Siring Jalan Pire Tendean.

Berdasarkan pemantauan aksi tersebut ternyata memberikan dampak positif di lokasi yang selalu memperoleh ribuan pengunjung setiap hari libur tersebut karena lokasi tersebut menjadi bersih dari sampah.

“Biasanya di lokasi ini bertaburan sampah. Akan tetapi, setelah aksi Melingai, alhamdulillah lokasi sini menjadi bersih karena para pedagang dan pengunjung dengan merasa malu sendiri tak membuang sampah secara sembarangan setelah melihat aksi Melingai,” kata Ruslan, pengunjung.
Ruslan berharap pengelola lokasi siring itu untuk menempatkan lebih banyak bak-bak sampah penampungan agar masyarakat dan pedagang tidak susah mencari bak sampah. Apalagi, bak sampah yang ada sekarang ini tidak memadai jika dibandingkan dengan luasnya lokasi tersebut.

Menurut Ferry Husain, melihat respons positif tersebut maka aksi akan terus dijadwalkan secara berkala ke berbagai sasaran dengan melibatkan lebih banyak sukarelawan. Jadwal terdekat pada tanggal 27 September 2015, pusat tetap di Siring Tendean, tetapi untuk pembersihan sampah sungai dan tempat lain untuk penanaman penghijauan pinggir sungai dan pelepasliaran bibit ikan.

Ia berharap dengan kian banyak sukarelawan, kian banyak yang akan termotivasi melestarikan sungai sehingga ke depan kota ini benar-benar menjadi kota wisata, kota budaya, dan kota perdagangan yang berbasis sungai untuk memperkuat julukan “Kota dengan Seribu Sungai.”

 

 

SANG MAESTRO LAGU BANJAR ITU TELAH TIADA

Oleh Hasan Zainuddin

anang

“Kotabaru, gunungnya Ba’ mega, Ba’ mega, umbak manampur di sala karang Umbak, manampur di sala karang. Batamu lawanlah adinda, Adinda iman di dada, rasa malayang Iman di dada, rasa malayang,” demikian satu bait lagu Banjar berjudul Paris Barantai yang diciptakan sang maestro lagu Banjar, Haji Anang Ardiansyah.

Lagu Paris Barantai yang sudah menasional tersebut merupakan salah satu dari 103 lagu ciptaan seniman besar asal Provinsi Kalimantan Selatan itu yang melegenda. Semua ciptaan seniman ini hampir seluruhnya melegenda.

Ciptaan semacam itu tak mungkin ada lagi, karena seniman yang masa hidupnya juga berkarier di dunia militer tersebut, kini telah menghembuskan napas terakhirnya Jumat (7/8) pukul 01:10 WIB.

Jumat pagi, hampir semua status di media sosial Facebook yang diikuti warga Kota Banjarmasin memuat kalimat “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun” yang menyatakan berpulang ke rahmatullah untuk Anang Ardiansyah.

Dengan demikian, kematian maestro pecinta lagu Banjar yang lahir di Banjarmasin, 3 Mei 1938 itupun cepat menyebar, dan pernyataan turut berduka cita pun terus tertulis dari banyak status media sosial itu.

Meninggalnya penyanyi sekaligus pencipta lagu khas etnis yang banyak tinggal di wilayah Kalimantan bagian Selatan tersebut menimbulkan duka yang mendalam di banyak kalangan, sehingga kabar kematiannya begitu cepat menyebar.

Menurut Riswan Rifandi, putra almarhum, ayahnya menghembuskan napasnya di Rumah Sakit (RS) Suaka Insan di ruang ICU karena penyakit stroke.

“Ayah memang mengalami komplikasi,” ujarnya seraya menyebutkan bahwa almarhum ayahnya disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya di makam keluarga Guntung Lua, Banjarbaru.

“Kami sekeluarga memohon maaf dan keikhlasannya bagi seluruh lapisan masyarakat, jika dalam pergaulan beliau ada kekhilafan,” ucap Riswan yang mantan wartawan dan kini menjadi seorang pendidik tersebut.

Meninggalnya sang maestro ini cukup membuat kaget para pekerja seni di Kalsel, terbukti hampir semua seniman daerah dan pejabat daerah melayat ke rumah duka.

Salah satunya, Koordinator Karya Cipta Indonesia (KCI) wilayah Kalimantan Selatan Hesly Junianto yang menyatakan figur H Anang Adriansyah sebagai seniman daerah yang namanya sudah menasional, hingga kematiannya menjadi duka semua penggiat seni.

“Sebab beliau bisa kita katakan bapaknya seniman lagu Banjar, sebab karya ciptanya memang hampir tidak ada duanya, baik lirik maupun syairnya,” kata mantan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banjarmasin itu.

Pihaknya di KCI, kata Hesly, sudah mendaftarkan semua lagu ciptaan sang maestro ke daftar karya cipta Indonesia sebagai hak paten yang ada nilai royalti.

“Insya-Allah, pada Desember 2015, royalti ciptaan lagu H Anang sudah mulai keluar, bahkan ini berjalan hingga tujuh turunan warisnya,” tuturnya.

Sementara seorang seniman muda yang juga pencipta lagu Banjar Jimmy Huzain mengaku kehilangan seorang panutan setelah meninggalnya H Anang Ardiansyah.

“Beliau (Anang Ardiansyah) sebagai penginspirasi musik Banjar, saya pun mencipta lagu banyak belajar dari beliau, kita sangat kehilangan sosoknya,” ujar pencipta lagu dengan hits berjudul “Sungaiku” itu saat melayat ke rumah duka di Jalan Banjar Indah Permai, Komplek Mahoni, Banjarmasin.

Diakui Jimmy, panggilan akrabnya, dirinya bisa menelurkan sekitar 32 buah lagu yang terkumpul di tiga album belakangan ini terciptanya itu banyak terinspirasi dari lagu-lagu Anang Ardiansyah yang hampir semuanya hits dan melegenda.

“Kita akui, semua lagu pak Anang Ardiansyah baik lirik maupun syairnya tidak ada duanya, hingga wajar kalau melegenda,” ujarnya.

Dikatakan dia, lagu-lagu Anang Ardiansyah banyak bercerita tentang sejarah banjar dan khazanah kebudayaan masyarakatnya yang dirangkai dalam syair-syair yang luar biasa indah dan tertata diungkapkan dengan Bahasa Banjar yang fasih.

“Yang saya ingat pesan beliau, ciptalah lagu daerah dengan menggali khazanah budaya dan daerah ini atau tentang sejarah, sehingga lagu itu bisa dikenang dan didendangkan dari masa ke masa,” tuturnya.

Pesan itu, aku Jimmy, yang menjadi inspirasinya dalam menciptakan berbagai karya lagu berbahasa banjar saat ini, hingga sudah terkumpul 32 buah lagu dalam tiga album yang sudah dilempar ke pasaran.

“Saya terinspirasi juga bercita-cita seperti beliau bisa menciptakan ratusan buah lagu hits, yang hingga kini terus didendangkan, bahkan sudah menasional,” ujarnya.

Mencipta sejak SMA

Berdasarkan catatan Wikipedia, Anang Ardiansyah mulai mencipta lagu sejak SMA. Ketika itu ia merantau ke Malang, Jawa Timur pada tahun 1957 untuk belajar di SMA Islam Malang setelah menempuh SD dan SMP di Banjarmasin. Setahun kemudian Anang pindah ke Surabaya.

Di kota ini dia bergabung dengan Orkes Melayu Rindang Banua yang dipimpin dokter Sarkawi. Orkes ini merupakan kumpulan pemuda Kalimantan yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kalimantan.

Sebelum bergabung dalam band itu, ia meraih juara harapan seriosa Lomba Nyanyi Langgam di Malang. Di sinilah mereka belajar membuat lagu banjar.

Saat itu belum ada lagu Kalimantan (Kalsel) yang diciptakan dengan iringan musik band. Saat itu, Anang dan teman-teman band-nya mengawali debutnya dengan membuat lagu banjar dari gubahan lagu-lagu rakyat berupa pantun.

Setelah digubah, jadilah lagu-lagu banjar baru dan bisa diterima warga. Band-nya sering membawakannya saat diundang mengisi acara perkawinan. Begitu seringnya membawakan lagu banjar, Rindang Banua menjadi terkenal di Surabaya dan Banjarmasin.

Band ini terangkat namanya tahun 1959 saat lagu Paris Barantai masuk rekaman piringan hitam yang dikerjakan di Lokananta, Solo, Jawa Tengah.

Selain berkesenian, Anang juga memiliki karier panjang pada jajaran militer hingga berpangkat kolonel. Seniman Kalsel ini masuk TNI tahun 1962 setelah lulus Sekolah Calon Perwira (Secapa) di Banjarmasin pada 1961.

Selama hampir 30 tahun bergabung dengan TNI, Anang bertugas ke berbagai daerah, seperti Bandung, Cirebon, Surabaya, Makassar, dan Balikpapan. Terakhir dia bertugas di Banjarmasin.

Selama bertugas pun, dia terus membuat lagu banjar. Saat bertugas di Kalimantan Timur, Anang sempat menciptakan lagu untuk daerah setempat, seperti Balikpapan, Sarung Samarinda, Di Hunjuran Mahakam, Di Panajam Kita Badapat, dan Apo Kayan. Lagu-lagu itu direkamnya dalam kaset pada 1987 dengan judul Curiak.

Selesai di militer (dengan jabatan terakhir sebagai pemeriksa di Inspektorat Daerah Militer VI/Tanjungpura, Balikpapan), tahun 1992 Anang membentuk kelompok musik Tygaroon’s Group dan mendirikan Tygaroon’s Mini Studio. Dari studio itulah beberapa album lagu banjar dihasilkannya.

Kegiatan berkesenian mulai menurun ketika Anang terjun di dunia politik. Periode 1999-2004, ia menjabat Wakil Ketua DPRD Hulu Sungai Utara dan Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Golkar Kabupaten Hulu Sungai Utara hingga karier berkeseniannya pun menurun hingga akhirnya seniman senior itu pun tiada. Tinggal, lagu-lagunya yang akan menemani masyarakat.

BANJARMASIN DIJADIKAN WISATA DUNIA BAGAIKAN VENESIA

Oleh Hasan Zainuddin

pasar terapung

Bersantai di pinggir sungai Jalan Pire Tendean sambil menikmati jagung bakar menjadi pilihan sebagian warga untuk berekreasi di daerah yang berjuluk “kota seribu sungai”, Banjarmasin.

Sementara warga lainnya, memilih menikmati masakan atau kuliner khas Suku Banjar, soto banjar di warung Abang Amat atau soto bawah jembatan banua hanyar sambil menikmati musik panting jenis musik tradisional setempat.

Tidak sedikit pula warga justru memilih berziarah di makam Habib Basirih atau mengunjungi masjid tertua, Masjid Sultan Suriansyah, sebagai objek wisata keagamaannya, yang juga merupakan bagian dari wisata sungai di kota tua tersebut.

Para pendatang bahkan dari mancanegara lebih banyak memilih bercengkrama di Pasar Terapung Sungai Barito atau ke Pasar terapung Lokbaintan serta pasar Terapung buatan di depan Siring Pire Tendean.

Bagi wisatawan yang suka dengan binatang kota ini juga menyediaan objek wisata air, yaitu ke Pulau Kembang, tempat ratusan bahkan mungkin ribuan ekor kera abu-abu berekor panjang yang terbilang jinak dan bersahabat dengan wisatawan.

Wisatawan juga bisa menyaksikan bekantan (Nasalis larvatus) atau hidung panjang yang ada di Pulau Kaget, tidak jauh dari kota yang telah bertekad menjadikan keberadaan air sebagai modal utama membangun kepariwisataan itu.

Susur sungai menggunakan kelotok (perahu bermesin) atau spead boat juga sering kali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota seraya menyaksikan aktivitas warga, seperti mandi, cuci, dan bersikat gigi di atas lanting.

Ada juga di antara mereka yang melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang relatif banyak mereka temui di pesisir sungai, seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kota Banjarmasin, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, dinilai memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kota mana pun di dunia ini karena kota yang hanya 92 kilometer persegi ini dibelah oleh sedikitnya 102 sungai.

Melihat kenyataan tersebut maka oleh pemkot dan pemprov setempat bertekad menjadikan kota ini kota wisata air. Bahkan, pemerintah Kementerian Pekerjaan Umum relatif banyak mengeluarkan dana untuk menciptakan wilayah ini menjadi wisata air berkelas dunia.

Untuk mewujudkan hal itu, kata Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin Fajar Desira, Kemen-PU dan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) membentuk sebuah tim yang diturunkan ke Banjarmasin.

Tim terdiri atas beberapa orang itu sudah tiga kali meninjau dua lokasi di Banjarmasin, yakni Sungai Kelayan dan Sungai Kerokan, Jalan Jafri Zamzam, untuk diubah menjadi lokasi wisata sungai melalui program yang dinamaman Kemitraan Habitat.

Tim itu juga sudah beberapa kali melakukan kordinasi dan pertemuan dengan berbagai pihak di Banjarmasin, terakhir awal Agustus 2015.

Menurut Fajar, Banjarmasin harus bersyukur terpilih menjadi lokasi program Kemitraan Habitat tersebut karena wilayah ini dinilai unik. Kota lain yang juga menjadi pilihan, yakni Kota Malang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat) karena kedua kota tersebut juga dinilai memiliki krasteristik kota yang unik.

Mengingat Banjarmasin memiliki banyak sungai, kota ini akan diciptakan benar-benar menjadi sebuah kota sungai di Indonesia. Dengan demikian, akan jelas arah pembangunan kota ini sehingga semua harus berkomitmen membangun kota ini menjadi kota pariwisata sungai.

Sungai, kata Fajar, bukan saja sebagai lokasi drainase dan sumber air minum, melainkan juga sebagai transportasi, komunikasi, dan sebagai objek perekonomian masyarakat, khususnya pariwisata.

Dalam upaya menciptakan program Kemitraan Habitat teresebut, pemerintah akan mengajak banyak kalangan, termasuk pengusaha, aktivis lingkungan, LSM, dan banyak organisasi lain yang berkomitmen menjadikan kota ini sebagai ikon kota sungai di Tanah Air.

Apalagi, pembangunan Kota Banjarmasin dalam sepuluh terakhir ini sudah banyak mengarah untuk mewujujdkan kota sungai tersebut, seperti pembangunan siring, fasilitas wisata sungai, termasuk pembuatan pasar terapung yang mulai mengubah wajah kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa ini menjadi kota pariwisata tersebut.

Program Kemitraan Habitat tersebut memfasilitasi penyelenggaraan permukiman dan perkotaan yang sedang dilaksanakan oleh masyarakat, termasuk dunia usaha mendorong terjadinya percepatan pembangunan dan pengembangan permukiman dan perkotaan di Indonesia yang lebih layak huni dan berkelanjutan.

Secara terpisah Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta mengatakan bahwa pemkot setempat telah menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota. Oleh karena itu, kami akan terus benahi sungai,” katanya.

Menurut Muryanta, wilayah kota minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil. Sungai besar, seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim, jelas tidak mungkin. Oleh karena itu, potensi yang ada saja untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Ia mencontohkan dua kota yang terbilang maju menjadikan sungai sebagai daya pikat ekonomi, seperti Denpasar atau Yogyakarta.

Begitu pula, kota lain di luar negeri, seperti Bangkok, Hong Kong, atau Venesia Italia, bahkan sekarang Malaysia mulai ikut-ikut membenahi sungai sebagai daya pihak ekonomi tersebut.
Melihat kenyataan itu, wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat.

Untuk menjadikan wisata sungai, menurut dia, sudah miliar rupiah dana untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di Jalan Sudirman dan Jalan Pire Tendean yang telah terbukti memberikan keindahan kota. Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Untuk siring, akan dibangun sepanjang 10 kilometer. Akan tetapi, sekarang sudah terbangun sekitar 5 kilometer. Lokasi siring akan dijadikan aneka wisata, seperti wisatra kuliner, pusat cendera mata, permainan sungai, pasar terapung, dan restoran terapung.

Di siring pula, sekarang sedang dibangun sarana olahraga, sarana bermain sepeda, dan sedang dibangun monumen (patung) maskot Kalsel, bekantan atau kera hidung panjang (Nasalis larvatus), diharapkan menjadi ikon kota bagaikan patung singa di Singapura.

Dengan semua upaya tersebut, ke depan Banjarmasin sudah bisa menjadi objek wisata dunia bagaikan Venesia, Italia.

KETURUNAN BANJAR DI MALAYSIA JADI MELAYU BARU

muhamad Isa

Penulis berada di rumah Muhamad Isa, di Teluk Intan
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 27/10 (Antara) – Keturunan atau zuriah Suku Banjar Kalimantan Selatan yang tinggal di Malaysia dan kiprahnya mulai kelihatan di berbagai sektor kehidupan di negara tetangga itu bisa menjadi generasi Melayu Baru.
Hal tersebut diutarakan seorang tokoh masyarakat Banjar di Teluk Intan, Negeri Perak Malaysia, Muhamad Isa, kata anggota Forum Silatuhami Kulaan Banjar Banua (FSKB) Mohamad Ary di Banjarmasin, Kalsel, Senin, sepulang negeri jiran itu.
Dalam perbincangan dengan Mohamad Isa yang juga dikenal sebagai guru dan anggota pemerhati sejarah Malaysia tersebut di rumahnya di Malaysia pekan lalu, dikatakan sekarang keturunan suku Banjar Kalimantan Selatan setelah puluhan bahkan ratusan tahun banyak yang melakukan kawin silang.
Banyak suku Banjar yang kawin dengan sesama Banjar atau kawin silang dengan suku melayu Malaysia, dengan suku Jawa Minang, Bugis dan lainnya yang kini populasinya berkembang pesat dan menjadi sebuah kekuatan baru yang disebut Melayu Baru.
Keturunan mereka ini sekarang berlomba menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan dan banyak di antara mereka yang sudah menjadi kamum intelektual, baik di pemerintahan, akademisi, politik, olahragawan, seniman, bahkan usahawan.
Bahkan posisi kelompok ini dinilai sebuah kekuatan baru dan menjadi saingan kuat dari kelompok lain yang juga dikenal kuat di negeri tersebut, seperti kelompok keturunan India muslim, yang di antaranya terdapat Mahathir Mohamad.
Berdasarkan keterangan di antara keturunan Banjar yang sudah berkiprah di negara tersebut, seperti Menteri Besar Johor Datuk Seri Hj Mohamad Khalid Nordin, penyanyi Malaysia Sarimah Ibrahim, mantan Kepala Kepolisian Tan Sri Musa Dato’ Hj Hassan, Malik Noor merupakan juara bina badan Asia peringkat heavyweight sebanyak 6 kali.
Kemudian juga ada nama Datuk Jamal Abdilah bintang film dan penyanyi, Datuk Puad Zarkashi mantan Menteri Pendidikan Malaysia, dan beberapa lagi.
Mohamad Ary berada di Malaysia bersama 19 orang anggota Forum Silaturahmi Kulaan Banjar Banua untuk berjumpa dengan Pertubuhan Banjar Malaysia di beberapa lokasi permukiman Suku Banjar.
Di antaranya berkunjung ke Bukit Melintang, Began Serai, Began Datuk, Sungai Manik, Ayer Hitam Batu Pahat, Malaka, Johor Baru, Sekudai, Selangor, dan beberapa lokasi lagi.
Tujuannya hanya untuk menjalin tali silatruhami antara suku Banjar di Kalimantan selatan dengan suku Banjar yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun bermukim dan menjadi warga negara Malaysia tersebut.
Dalam kunjungan tersebut kedua belah pihak sepakat saling eratkan persaudaraan dan saling mengunjungi satu sama lain.