MENIKMATI MAIN ULAR KEBUN BINATANG KOTA BANJARMASIN

WALIOleh Hasan Zainuddin

 

Sekelompok remaja putra sambil bergurau satu per satu memegang aneka jenis ular. Ada ular bewarna kuning, ular bewarna hitam keabu-abuan, bewarna batik, dan warna lainnya.

Sesekali ular-ular tersebut sengaja melingkar-lingkar di leher para remaja yang agaknya kalangan pencinta reptil tersebut, bahkan ada ular relatif besar yang melilit hampir seluruh tubuh seorang remaja tersebut. Kendati demikian, remaja itu tetap tersenyum ceria.

Sesekali para remaja putra tersebut mendekat ke rombongan ibu pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin yang saat berada di lokasi tersebut, Sabtu (13/9) lalu, serta-merta ibu-ibu berlari ke sana kemari ketakutan.

“Jangan memegang, untuk melihat saja sudah geli dan ngeri,” kata seorang ibu yang datang ke lokasi tersebut dalam kaitan peresmian pengoperasian Kebun Binatang “Banjar Bungas” yang dikelola Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin tersebut.

Kebun binatang seluas 1,5 hektare tersebut, memang hari itu diresmikan oleh Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin yang didampingi Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) setempat Zulfadlie Gajali dan para pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pemkot setempat.

Selain ada kelompok remaja bermain ular, di lokasi tersebut juga terlihat ada sekelompok remaja putra dan putri lagi bermain satwa musang dan tupai yang tampak jinak, bahkan ada pula yang bermain dengan aneka jenis kucing dan ayam hias.

Melihat asyiknya kelompok remaja tersebut bermain ular, Wali Kota Muhidin mencoba mendekat. Pertama terlihat ekspresi mukanya rada-rada takut. Namun, setelah memegang ular agak besar bewarna kuning keputihan yang dikenal sebagai jenis ular yang disebut Ball Python tersebut, dia tampak lebih berani.

Bahkan, Wali Kota meminta para pencinta reptil untuk diberikan dua ekor sekaligus. Dengan beraninya Wali Kota memegang kedua ular tersebut, satunya dilingkarkan ke lehernya, satu lagi dimainkan di tangan kanan.

Sesekali Wali Kota mendekati para pejabat dan ibu-ibu, serta-merta lagi ibu-ibu berteriak ketakutan. Begitu pula, para pejabat lainnya ada yang takut, tetapi ada pula yang coba-coba memberanikan diri.

“Wali Kota saja berani, masa kita takberani,” kata Sekdako Banjarmasin Zulfadli Gajali seraya mengambil juga dua ekor ular, di antaranya jenis sanca batik yang juga besar.

Melihat kedua petinggi pemkot tersebut bermain ular, kian banyak saja hadirin yang berani mendekat, bahkan ular-ular tersebut menjadi ajang untuk berfoto ria.

Memang di kebun binatang yang berada dalam kota berpenduduk sekitar 700.000 jiwa tersebut terdapat zona reptil, termasuk ular di dalamnya, juga ada biawak, buaya, dan jenis reptil lainnya.

Wali Kota Muhidin merasa bangga adanya kebun binatang tersebut. Menurut dia, dengan adanya kebun binatang itu, kian menambah kesemarakan Kota Banjarmasin yang sudah dikenal sebagai kota tujuan wisata di Tanah Air.

“Saya meminta ke depan kebun binatang ini kian dilengkapi aneka koleksi satwa yang ada di Nusantara, bahkan kalau perlu ada satwa yang berasal dari luar negeri,” katanya.

Sebab, tambahnya, keberadaan sebuah kebun binatang tidak saja akan menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia wisata sekaligus menjadi ajang pendidikan dan penelitian.

Apalagi, jika memang terwujud di lokasi ini ada penangkaran binatang Bekantan (Nasalis larvatur) yang merupakan jenis satwa langka berhidung panjang yang menjadi “maskot” bidang fauna Provinsi Kalsel.

Maskot Kalsel bidang floranya adalah tanaman kasturi (Mangifera Kasturi Delmiyana) yang jenis mangga-manggaan buahnya kecil bewarna merah kehitaman jiga sudah masak dan warna hijau selagi muda.

Berdasarkan keterangan upaya penangkaran bekantan tersebut, pihak pengelola kebun binatang akan bekerja sama dengan sebuah komunitas Bekantan Kalimantan yang dinamakan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

“Sahabat Bekantan Indonesia sendiri menyatakan bersedia kerja sama tersebut, bahkan suatu kebanggaan karena kian banyak yang akan mencintai satwa yang hanya hidup di Pulau Kalimantan tersebut,” kata anggota SBI Amalia.

Amalia yang berada di lokasi tersebut bersama anggota SBI lain berjanji akan menjadikan Kebun Binatang Banjar Bungas ini sebagai pusat rehabilitasi parimata jenis bekantan sekaligus sebagai objek penelitian dan pendidikan.

Amalia mengakui populasi bekantan di daratan Kalsel terus berkurang setelah banyaknya habitat mereka yang tergusur lantaran penebangan kayu dan pertambangan serta perkebunan.

Melihat kenyataan tersebut, pihak SBI berusaha menyelamatkan satwa yang juga sering disebut sebagai “kera bule” yang masih tertinggal dan juga berusaha menangkarkannya.

 

Kerja Sama KBS

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Doyo Pudjadi kepada wartawan di Banjarmasin mengakui keberadaan kebun binatang tersebut untuk menyemarakkan dunia keparwisataan kota tersebut.

Menurut Doyo Pudjadi, kebun binatang yang terletak di Kompleks Zahri Saleh, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, tersebut sebagai objek wisata alternatif di kota itu.

Warga Banjarmasin agaknya lebih banyak berwisata ke pusat perbelanjaan seperti mal. “Akan tetapi, warga juga harus disediakan objek wisata yang murah meriah, ya, kebun binatang ini,” kata Doyo Pudjadi.

Mengenai kebun binatang, disebutkan bahwa pengelolaannya akan dilakukan dengan bekerja sama dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS), terutama untuk jenis hewan-hewan tertentu yang di KBS ada kelebihan jumlahnya.

Diakuinya dalam pengelolaan dan pemeliharaan satwa, pihaknya belum begitu berpengalaman. Oleh karena itu, pengelolaan ini dikerjasamakan dengan KBS. Semoga lokasi ini lebih bisa berkembang.

Di lokasi kebun binatang ini terdapat sepuluh zona, yakni zona reptil, zona primata, zona burung, dan zona ikan, serta zona-zona lainnya yang menyebar di areal seluas 1,5 hektare.

Lokasi ini juga dilengkapi dengan tempat mandi dan toilet, tempat ibadah, warung cendera mata, serta rumah makan yang menyajikan menu serbamasakan jamur.

“Kami berharap kebun binatang ini akan menjadi pilihan masyarakat bertamasya sebagai alternatif selain ke pusat perbelanjaan atau mal,” katanya.

Lokasi ini mudah dijangkau, pertama masih dalam kota, kemudian akses jalan mudah karena jalan beraspal sampai ke lokasi. Naik angkot juga hanya sekali dari terminal kota sehingga tidak menyulitkan untuk mengunjungi lokasi tersebut.

Agar lokasi ini nyaman, sungai-sungai yang ada di lokasi ini akan dibenahi, akan dilengkapi dengan aneka tanaman hias, dan pohon-pohon peneduh yang rindang.

“Lokasi ini memang sudah terlihat rindang, hingga terasa dingin, tetapi ke depan akan ditambah lagi pohon-pohon rindang ini agar pengunjung bisa terlidungi dari panasnya sinar mentari,” tambahnya.

Pada waktu-waktu tertentu, seperti Sabtu dan Minggu, lokasi ini bisa digelar atraksi atau pertunjukan, baik seni budaya tradisional maupun atraksi wisata lainnya….

 

 

 

 

2 cren

PELABUHAN INDONESIA BAIK PERKUAT IKON NEGARA MARITIM
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin()- Negara Indonesia yang memiliki belasan ribu buah pulau hingga negara ini berjuluk sebagai negara maritim di dunia.
Anak bangsa ini pun sejak dulu dikenal pula sebagai bangsa pelaut, lantaran banyak anak bangsa ini yang mencari penghidupan di laut.
Namun julukan sebagai negara maritim tak diimbangi dengan kemajuan tehnologi menggali potensi kelautan, termasuk meningkatkan dunia kepelabuhanan yang tangguh yang bisa mendongkrak kemakmuran masyarakatnya.
Image pelabuhan Indonesia selama ini memang buruk, puluhan tahun keberadaan pelabuhan Indonesia tidak pernah maksimal dalam pengelolaannya. Kapasitas pelabuhan kalah dari pelabuhan negeri tetangga.
Kelemahan itu justru menjadi berkah buat bagi negara lain khususnya negara-negara tetangga. Potensi devisa menguap ke negara-negara lain yang bertetangga dengan Indonesia.
Potensi kepalabuhanan Indonesia begitu besar, dua pertiga wilayah Indonesia berupa perairan, posisi negeri ini berada di persilangan rute perdagangan dunia, yang bisa memberikan peluang emas untuk sebuah kemajuan bangsa.
Tetapi kenyataan yang ada bangsa ini tetap saja menjadi sebuah negara tertinggal, sebagai negara maritim sudah selayaknya bangsa ini menggali potensi kepelabuhanan yang maksimal, setidaknya untuk memudahkan berbagai produk ekonomi termasuk produk kelautan dan perikanan, pertanian, perkebunan, pertambangan, ke berbagai negara lain.
Gimana mau mensuplai produk ekonomi seperti tersebut di atas untuk bongkar muat saja harus antri berhar-hari bahkan berminggu-minggu, sehingga kalau mengapalkan sebuah produk pertanian seperti buah saja, maka sempat busuk ditempat sebelum sampai ke tujuan.
Sebuah data diperoleh dari World Economic Forum dalam laporan ‘The Global Competitiveness Report 2011-2012′ menyebutkan, kualitas infrastruktur pelabuhan Indonesia buruk. Berada di peringkat ke-103.
Dibanding negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia jauh tertinggal. Malaysia saja menempati urutan ke-15, Singapura peringkat pertama, dan Thailand ke-47.
Rendahnya rating pelabuhan Indonesia tidak terlepas akibat pelayanan bongkar muat barang yang tidak efektif dan efisien. Padahal, pelabuhan sebagai image perekonomian negara di mata dunia internasional.
Ambil saja contoh pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dimana untuk bongkar muat harus rela dan bersabar antri berhari-hari bahkan berminggu-minggu, lantaran kapasitas pelabuhan yang tidak mampu menampung kapal sandar secara bersamaan, sehingga kapal harus menunggu giliran.
Untuk menunggu giliran begitu lama tentu menelan biaya tinggi bagi operasional sebuah kapal, sehingga lokasi ini bukan sebuah pelabuhan yang menjadi pilihan bagi usaha bongkar muat bagi perkapalan.
Kondisi yang terjadi di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin bisa jadi sebuah cerminan dunia kepelabuhanan rata-rata di Indonesia, yang sejak dulu dikatakan sebagai negara maritim tersebut.
Itu baru persoalan kapasitas pelabuhan, belum lagi persoalan lain yang terjadi di Trisakti Banjarmasin, dimana lokasi pelabuhan ini berada di aliran sungai yang dangkal yakni Sungai Barito.
Kondisi buruk di Sungai Barito berada di alur muara sungai yang terjadi pendangkalan akibat sendimentasi lumpur yang parah, setelah terjadi kerusakan hutan di hulu sungai yang membawa partikel lumpur ke sungai terus larut ke muara hingga terjadi pendangkalan tersebut.
Puluhan miliar bahkan ratusan miluar rupiah, hanya untuk mengeruk lumpur di muara sungai agar kapal bisa lalu-lalang di pelabuhanm tersebut, kalau tidak dikeruk jangan harap pelabuhan ini bisa hidup sebagai pintu gerbang perekonomian Kalimantan.
trisakti

Sejarah

Berdasarkan sejarahnya keberadaan Pelabuhan Banjarmasin dikenal sejak abad XIV dan letak pelabuhannya ditepi Sungai Barito dengan nama Marapian, kemudian berpindah ke Marabahan dan berpindah lagi ke sungai Martapura dengan nama Pelabuhan Martapura.
Pada tahun 1925 dikeluarkan beslit Gubernur Jenderal No 19 tanggal 25 Nopember 1925 yang kemudian diperbaiki dengan beslit No 14 tanggal 17 Oktober 1938 Staatblad No 616/1938 pengukuhan pengelolaan Pelabuhan Martapura (Lama).
Pada tahun 1961 mulai dibangun Pelabuhan Trisakti di Sungai Barito, mengingat daya tampung Pelabuhan Martapura (Lama) tidak memadai lagi.
Pada tanggal 10 September 1965 diresmikan pemakaian Pelabuhan baru dengan nama Pelabuhan Trisakti Banjarmasin atau disebut Pelabuhan Banjarmasin.
Daerah lingkungan kerja pelabuhan perairan sluas 95 hektare, daerah lingkungan kepentingan pelabuhan perairan 115 hektare, dan ditetapkan dengan SK bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Dalam Negeri No 14 tahun 1990.
Pelabuhan Trisakti berada di belahan kota Banjarmasin ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, terletak di tepi Sungai Barito,sekitar 20 mil dari muara Sungai Barito pada posisi 03″ 20″ 18″ LS, 114″ 34″ 48″ BT.
Pelabuhan Banjarmasin merupakan pendukung utama transportasi laut yang secara langsung maupun tidak langsung berperan aktif dalam pembangunan ekonomi Propinsi Kalimantan Selatan.
Perkembangan pelabuhan ini memang terus meningkat, fasilitas pun terus dibangun, seperti dermaga terminal penumpang kontruksi beton 80 meter, dermaga trisakti lama 750 meter, dermaga Martapura Baru 350 meter, dermaga petikemas baru 265 meter, dermaga petikemas 240 meter, dermaga trisakti baru 120 meter.
Arus kedatangan kapal sampai tahun 2013 lalu sebanyak 17.253 unit, arus barang 8.265.935 ton, arus petikemas 387.954 box dan 428.478 teus, arus penumpang 148.923 orang.
Realisasi arus kapal pada tahun 2013 di Pelabuhan Banjarmasin meningkat 8-9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dimana tahun 2013 tercatat sebanyak 17.253 unit kapal dengan berat mencapai 98.181.591 Gross Tonage (GT).
Sedangkan realisasi khusus kapal jenis petikemas pada tahun 2013 meningkat 10 persen (dalam satuan unit) dan meningkat 78 persen (dalam satuan GT) dibandingkan tahun sebelumnya, dimana realisasi arus kapal jenis petikemas tahun 2013 tercatat 1.137 unit dengan berat mencapai 7.207.642 GT.
“Ini yang menunjukkan terjadi peningkatan arus barang yang masuk maupun keluar melalui Pelabuhan Banjarmasin,” terang General Manager PT Pelindo III Cabang Banjarmasin, Hengki Jajang Herasmana.
Ia mengakui perusahaannya tersebut akan terus mengembangkan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin ke arah yang lebih baik, sebagai upaya peningkatan ikon negara maritim.
Salah satu pengembangan terbaru penambahan pembangunan dermaga petikemas sepanjang 265 M x 34,5 m oleh kontraktor PT Wijaya Karya yang pemancangan perdananya dilakukan pada 13 April 2012 lalu dioperasikan, setelah diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada acara peresmian proyek MP3EI di Banjarbaru pada tanggal 23 Oktober 2013 lalu.
Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kalimantan Selatan Jumadri Masrun mengapresiasi perkembangan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Dengan adanya tambahan fasilitas ini tentunya waktu tunggu kapal dapat semakin ditekan, diwaktu dulu kala, waktu tunggu kapal sempat mencapai 7 hari maka nantinya dapat ditekan.

 

 

 

Alternatif

Walaupun perkembangan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin menunjukkan peningkatan, tetapi jika melihat perkembangan kota Banjarmasin dan sekitarnya yang begitu pesat, maka kedepan kondisi pelabuhan Trisakti seakan tidak bakal mampu lagi menampung kegiatan bongkar muat tersebut, apalagi kondisi pelabuhan ini termasuk berada di areal kota yang padat penduduknya.
Persoalan alur Sungai Barito yang kian lama kian deras sendimentasinya, maka pelabuhan ini bukan menjadi pilihan pelabuhan baik kedepan.
Pelindo III Banjarmasin yang merupakan bagian Pelindo III yang berpusat di Surabaya sudah selayaknya memikirkan bagaimana transformasi kinerja Pelabuhan terbesar di Kalimantan ini bisa memberikan tantangan di masa depan.
Kalau memang letak kondisi pelabuhan sudah tidak layak lagi berada di lokasi tersebut kenapa tidak dicarikan alternatif lain yang lebih menjamin kelancaran arus kapal tanpa terhalang lagi oleh sempit alur Sungai Barito.
Selain itu, pelabuhan yang ideal tak jauh dari pusat ekonomi, khususnya pusat industri, pusat hasil perkebunan, pertambangan, dan sektor pertanian lainnya.
Salah satu lokasi yang ideal sebagai tempat pelabuhan laut di wilayah ini adalah kawasan Kabupaten Tanah laut yang berjarak sekitar puluhan kilometer saja dari Banjarmasin, karena lokasi ini berada di tepian Laut Jawa, hingga tidak perlu masuk sungai lagi.
Lokasi yang direncanakan sebagai alternatif pelabuhan baru tersebut memang ada beberapa lokasi salah satunya berada di Pantai Swarangan, Kecamatan Jorong.
Alternatif lain pengembangan Pelabuhan alam Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu Timur Kalsel, walau agak jaug dari Banjarmasin tetapi berpotensi pengembangan ekonomi prov insi ini.
Pelabuhan Batulicin adalah pelabuhan yang terletak ditepian Selat Makasar tak jauh dari Laut Jawa yang menjadi jalur alternatif pelayaran internasional menghubungkan Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik.
Untuk menjadi sebuah pelabuhan modern memang harus berada di lokasi pelabuhan alam bukan buatan, artinya ditepian laut yang berair dalam, kemudian harus adanya pusat transportasi darat yang bagus arah ke berbagai penjuru terutama ke lokasi kosentrasi perekonomian masyarakat.
Hal yang tak kalah penting tentu aneka peralatan kepelabuhanan yang canggih, lapangan penumpukan peti kemas yang luas, pergudangan yang memadai, hingga kerja bisa cepat dan mudah yang memungkinkan bongkar muat barang baik secara manual (curah) maupun peti kemas secara nyaman.
Peralatan yang harus diperhatikan tentu aneka macam seperti keberadaan kapal tunda, speed boat, crane darat, spreader, forklift, top loader, reach stacker, wheel loader, excavator, dump truck, conveyer, dan aneka peralatan lainnya yang mendukung kelancaran pelabuhan tersebut.
Bila semua peralatan ini bisa tersedia dengan baik ditambah manajemen yang baik oleh sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas pula, maka kinerja pelabuhan terbesar Kalimantan ini akan bisa menjawab tantangan masa yang datang.

 

 

KOTA BANJARMASIN KINI MILIKI KEBUN BINATANG

9Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,13/9 (Antara)- Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, melalui Dinas Pertanian dan Perikanan membangun sebuah lokasi kebun binatang seluas 1,5 hektare.
Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin didampingi Kepala Dinas pertanian dan Perikanan, Doyo Pudjadi dan beberapa kepala Satuan Kerja Perangkat daerah (SKPD) meninjau lokasi kebun binatang tersebut, Sabtu.
Wali kota menyatakan rasa bangganya memiliki sebuah kebun binatang yang terletak di Kompleks Zahri Saleh, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara tersebut.
“Kita sudah seperti kota lain yang memiliki kebun binatang yang nantinya bukan saja sebagai lokasi rekreasi masyarakat, tetapi juga sebagai lokasi pendidikan dan penelitian,” kata wali kota.
Menurut wali kota, Pemkot akan lebih memperhatikan lokasi ini sebagai tempat rekrasi masyarakat, makanya kedepan akan terus ditambah berbagai fasilitas penunjang termasuk tempat wisata kulinernya, dan tempat penjualan cendramata.
“Saya juga berharap, lokasi ini tak semata untuk pemeliharaan, tetapi yang lebih ditekankan sebagai lokasi budidaya, semacam penangkaran, khususnya hewan asli Kalimantan, seperti bekantan (Nasalis Larvatus),” kata Muhidin.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Doyo Pudjadi menyebutkankan bahwa pihaknya merencanakan melakukan penangkaran Bekantan sekaligus penelitian mengenai hewan langka endemik Kalimantan yang akan bekerjasama dengan sebuah komunitas Bekantan Banjarmasin.
Melalui lokasi penangkaran tersebut diharapkan lokasi itu akan menjadi pusat penelitian sekaligus pendidikan mengenai hewan berhidung panjang itu.
Mengenai kebun binatang sendiri, disebutkannya pengelolaannya akan bekerjasama dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS) terutama untuk jenis hewan-hewan tertentu yang di KBS ada kelebihan jumlahnya.
Di lokasi kebun binatang ini terdapat sepuluh zona, seperti zona reftil, zona perimata, zona burung, zona ikan, dan zona-zona lainnya yang menyebar di areal seluas 1,5 hektare.
Lokasi ini juga dilengkapi dengan tempat mandi dan toilet, tempat ibadah, warung cendramata, serta rumah makan yang menyajikan menu serba masakan jamur.
“Kita berharap kebun binatang ini akan menjadi pilihan masyarakat bertamasya sebagai alternatif sekalin hanya ke pusat perbelanjaan atau mall,” katanya.

 

 

7

 

KEGALAUAN DJOKOPEKIK LAHIRKAN MILIARAN RUPIAH
Oleh Hasan Zainuddin
Berkaos merah bercelana hitam, lelaki berjenggut panjang putih ini begitu bersemangat menjelaskan satu persatu hasil karya lukisannya yang dipajang di areal khusus pedepokannya seluas 3,5 hektare di Dusun Sembungan Kecamatan Kesian Bantul, Yogyakarta.

“Ini ada yang mau beli lima miliar rupiah, tapi saya banderol seharga enam miliar rupiah,” kata lelaki asal Porwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, tahun 1938 ini.

Lukisan paling besar dan dipajang paling depan galeri milik ayah delapan anak ini bagi masyarakat awam mungkin biasa-biasa saja, tetapi bagi pecinta seni lukis dan kolektor ini ternyata mengandung nilai tinggi.

Lukisan berjudul “Go to Hell Crocodile” hanya lukisan seekor buaya dengan panjang sejauh mata memandang melingkari galian tambang. Di sekelilingnya, kerumunan figur bersenjatakan bambu runcing siap dihujamkan ke tubuh si buaya.

Lukisan ini seakan menyindir banyaknya perusahaan tambang milik kapitalis asing yang menguras kekayaan di tanah air, seperti di Papua, Kalimantan, dan dimana saja.

Sementara lukisan yang lain berjudul “Zaman Edan Kesurupan” yang agaknya kebanggaan pula oleh pelukis lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, 1957-1962 ini.

Walau berkata agak terbata-bata lantaran sudah berusia lanjut, seniman berkelas internasional ini pun begitu antusias menjelaskan goresan-goresan cat lukisan “Zaman Edan Kesurupan” ini kepada penulis yang ikut dalam rombongan 13 wartawan diajak Bank Kalsel yang dipimpin Direktur Utama Bank Kalsel Juni Rif’at yang juga dikenal sebagai kolektor seni lukis.

Sambil tersenyum ia meminta para rombongan meinterpretasikan sendiri-sendiri lukisan tersebut, yang mana terlihat dalam lukisan seorang pawang dalam grup kuda lumping yang seharusnya menyembuhkan peserta kuda lumping yang sedang kesurupan justru ikut juga kesurupan.

Sementara latar belakang di dalam lukisan tersebut terlihat para penegak hukum di ruang sidang pengadilan, bahkan ada penegak hukum yang lagi sidang sedang bermesraan dengan seorang gadis.

“Ini maksudnya sebuah penegakan hukum yang berlaku sekarang ini kah, dimana seseorang yang seharusnya melakukan penegakan keadilan justru ikut bermain dalam kecurangan,” tanya anggota rombongan kepada Djokopekik.

“Ya terserah anda lah, mau artinya begitu silahkan, atau artinya yang lain juga boleh,” kata Djokopekik yang mengaku pernah menjadi penghuni Lapas Wirogunan dari 08 November 1965 sampai 1972 lantaran korban politik ini.

Galau
Dalam pembicaraan panjang lebar dengan Direktur Utama Bank Kalsel Juni Rif’at yang didampingi Pimpinan Devisi Perencanaan dan Strategis Bank kalsel Muhamad Fauzan tersebut hampir bisa disimpulkan bahwa semua lukisan Djokopekik itu lahir dari perasaan kegalauan setelah melihat kondisi masyarakat dan pemerintahan.

Dengan perasaan galau, agaknya ia tak berbicara secara terbuka melainkan dituangkan melalui goresan-goresan kuwas dengan cat-cat yang didatangkannya dari belanda.

“Saya tidak produktif membuat lukisan, dan semua hasil lukisan saya terlahir disaat hati sedang mood untuk melukis, makanya hanya ada satu dua, atau tiga saja produksi lukisan per tahun,” tuturnya seraya memperlihatkan bengkel/studio lukisan yang dirancang sedemikian rupa.

Di bengkel lukisan yang luas sekitar lima kali tiga meter tersebut dirancang dengan menggunakan mesin hedrolik yang bila menurunkan dan menaikkan lembaran kain atau kanvas yang akan dibuas lukisan.

Dengan demikian, katanya saat melukis ia tak perlu harus berdiri atau berjongkok atau menggunakan bangku bila harus melukis bagian atas, cukup kain kanvas itu yang diturun dan dinaikkan melalui mesin hidrolik dengan energi listrik tersebut.

“Saya sudah terlalu tua hingga tak cukup kuat lagi turun naik,” katanya seraya meminta kepada rombongan untuk berfoto bersama di studio yang berada di tepian sungai dengan bunyi riak air gemaricik dan hembusan angin hutan areal pedepokan tersebut.

Mendapat julukan pelukis miliaran rupiah, karena lukisannya laku bermiliar-miliar rupiah diantaranya lukisan judul berburu Celeng.

Berburu Celeng bersama dua lukisan lain, Susu Raja Celeng (1996) dan Tanpa Bunga dan Telegram Duka Cita 2000, merupakan sebuah trilogi. Trilogi ini merupakan lukisan yang paling berkesan baginya diantara 300 karya lukisnya.

Walau terbilang kaya dengan hasil karya lukisnya, tetapi tak satu pun dari delapan anaknya diarahkan untuk menggeluti dunia seni lukis ini.

“Saya tak ingin anak-anak dan cucu saya mengikuti jejak saya melukis, siapa tahu mereka tidak kesampaian, biarkanlah mereka memilih jalan hidup seperti orang kebanyakan, pedagang, pekerja kantor, buruh dan apa sajalah,” katanya.

Berdasarkan sebuah catatannya, ia tidak pernah bercita-cita menjadi pelukis, selagi muda malah bercita-cita menjadi lurah kaya dan punya gamelan, dan berputarnya waktu yang panjang akhirnya malah menjadi pelukis dan apa yang diimpikan memiliki gamelan terwujud sudah, ungkapnya.

“Saya ini berbakat kesasar, karena saya tidak diwarisi darah seni dari kedua orang tua saya. Sejak kecil saya senang melukis dan bermain sandiwara. Dulu saya memerankan tokoh Klenting Kuning dalam Ande-Ande Lumut saya yang menggambar sendiri pakaian tokoh yang saya mainkan,” tambahnya.

Membina rumah tangga dengan CH Tini Purwaningsih perempuan pilihannya. Setelah menikah, dari tahun 1970 ¿ 1987, Djokopekik beralih profesi sebagai tukang jahit untuk menyambung hidupnya, walau profesi ini tidak membuat kehidupan ekonomi keluarganya menjadi mapan.

Nasib baik akhirnya datang juga. Suatu ketika karya-kartanya dijadikan bahan penelitian untuk disertasi pelukis Astari Rasyid, yang kemudian dibaca oleh kenalan-kenalannya dari luar negeri. Pada tahun 1989 ia diikutkan dalam pameran di Amerika Serikat.

Beritanya masuk koran dan majalah, yang justru membuatnya makin terkenal. Sejak itulah para kolektor memburu lukisannya. Sampai suatu ketika ia tak mau menjualnya lagi, karena tamu-tamunya dapat setiap saat melihat dan mengaguminya.

Lukisannya oleh banyak kalangan pengamat dinilai berbeda antara satu dan lainnya. Padahal, ia mengaku bahwa teknik lukisnya dari dulu sampai sekarang sama saja.

Ia mengaku diusia yang sudah senja itu bahagia tinggal di areal pedepokan seluas itu yang dipenuhi dengan kebun, hutan kecil, dan taman-taman bunga, ditambah rumah tempat tinggal, galeri, bengkel atau studio, dan beberapa tempat santai yang berada di pinggir sungai yang dipenuhi dengan ribuan batang tanaman bambu.

Karena kepahitan yang pernah dialaminya sebagai pelukis, ia tidak mengarahkan anak-anaknya menjadi pelukis. Selain itu, ia merasa kalau seorang ayah pelukis, bila anak-anaknya juga jadi pelukis, mereka tak akan mampu melebihi sang ayah.

 

 

 

Ekonomi kreatif
Kedatangan rombongan 13 wartawan Kota Banjarmasin bersama Bank Kalsel tersebut semata ingin melihat perkembangan ekonomi kreatif di Kota Jogyakarta tersebut.

Ekonomi kreatif di saat ini menjadi alternatif dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kata Direktur Utama (Dirut) Bank Kalsel Juni Rif’at.

Apalagi, katanya, visi dan misi yang diemban Bank Kalsel yang didirikan sejak tahun 1964 ini tak lain bagaimana keberadaan perusahaan ini bisa memajukan perekonomian wilayah yang kini berpenduduk sekitar empat juta jiwa tersebut.

Untuk menyentuh ekonomi kreatif tersebut,pihak Bank Kalsel mencoba menggandeng para wartawan yang tergabung dalam media fartner perusahaan tersebut, agar mereka bisa memberikan tulisan atau gambar, dan apa saja yang diterbitkan atau ditayangkan pada media masing-masing yang bisa memberikan gambaran mengenai pentingnya sebuah ekonomi kreatif.

Anggaplah ekonomi kreatif tersebut, berupa sendra tari, seni pertunjukan, karya lukisan, karya musik, dan seni budaya lainnya yang pada gilirannya menjadi industri yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

“Kalsel sendiri kaya akan seniman, seperti seni lukis, hanya saja tidak terpopulerkan melalui sebuah pemberitaan, jika hal tersebut terjadi maka keberadaan seniman lukis di wilayah ini akan menjadi perhitungan bagi pecinta seni lukis,” kata Juni Rif’at.

Sebuah karya seni lukis, nilainya tak semata sebuah keindahan, tetapi akan menghasilkan devisa yang luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dimana karya seni lukis itu dihasilkan.

Lihat saja kota Yogyakarta, terdapat banyak seniman lukis bertarap internasional, dan sebuah karya lukis bisa dihargai ratusan juta rupiah, bahkan miliaran rupiah dalam satu karya lukis saja.

Seperti karya lukis maestro Djokopekik yang dihargai capai Rp5 miliar per satu lukisan bagitu juga hasil karya pelukis Nasirun tak kalah mahalnya.

Untuk memberikan pengertian para wartawan yang tergabung dalam media fartner Bank Kalsel tersebut, maka oleh manajemen Bank Kalsel para wartawan tersebut diajak melihat galeri dan museum lukis milik Djokopekik dan Nasirun.

Dalam pertemuan yang berlangsung Kamis (21/8) lalu kedua pelukis ternama Yogyakarta tersebut menjelaskan bagimana sebuah kreatifitas dalam dunia ekonomi kreatif menghasilkan uang banyak dan mampu menghidupkan keluarga pelukis itu sendiri juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitarnya.

Melihat kenyataan tersebut pihak Bank Kalsel berharap Kalsel juga akan menjadi tempat bagi seniman kreatif di bidang masing-masing yang bisa membantu dongkrak ekonomi di wilayah ini.

KEKHASAN “PASAR WADAI RAMADHAN” BANJARMASIN MULAI MEMUDAR

Oleh Hasan Zainuddin

 

 

 

 

 

pintu gerbangpasar wadai

gue
Waktu dulu jika siapapun bergambar (berfoto) di lokasi Pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sudah bisa dipastikan hampir semua orang tahu kalau itu berada di Pasar Wadai Ramadhan (PWR) Banjarmasin.

Pasalnya, bangunan pasar PWR berarsitektur khas Banjar, seperti rumah adat Banjar “bubungan tinggi” atau “gajah baliku.”
Begitu juga bahan yang digunakan untuk bangunan PWR terbuat dari bahan lokal yang khas seperti kayu hutan, kayu ulin, atap sirap, atap rumbia, dinding daun nipah, umbul-umbul dengan hiasan daun kelapa (nyiur).

Apalagi di lokasi PWR biasanya diberikan ukiran atau lukisan dengan ornamen budaya Banjar menambah kekentalan suasana budaya yang menceriminkan lokasi tersebut berada di tanah Banjar, kawasan paling selatan pulau terbesar tanah air ini.

“Saya masih ada foto Pasar Wadai Ramadhan yang dulu sangat eksotis, dan itu kenang-kenangan yang tak terlupakan,” kata Husain Abdullah seorang warga Malaysia keturunan Banjar via sosial media.

“Apakah kondisi Pasar Wadai Ramadhan masih seperti yang dulu,” tanyanya seraya berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, dalam hal ini Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga konsisten dengan tujuan awal berdirinya PWR tersebut.

Tujuan awal berdirinya PWR selain untuk menyediakan warga Muslim mencari penganan dan makanan untuk berbuka puasa juga sebagai pelestarian budaya khususnya kuliner suku Banjar, sekaligus sebagai atraksi wisata tahunan yang mengosong keunikan budaya nenek moyang setempat.

Salah seorang warga Kota Banjarmasin, Haji jainudin menyayangkan beberapa tahun belakangan kondisi PWR tidak seperti dulu lagi, seakan kehilangan keasliannya, dimana bangunan kios-kios yang tadinya kental budaya Banjar sekarang sudah berubah banyak, karena didominasi oleh tenda-tenda kain.

“Lihat saja pintu gerbang masuk ke Pasar Wadai Ramadhan yang sekarang tidak menggambarkan kekhasan budaya Banjar, kalau tidak ada tulisan Banjarmasin di pintu gerbang itu, maka bagi siapa yang mengambil foto tidak akan tahu kalau di situ Pasar Wadai Ramadhan,” kata Haji jainudin.

3

Pasar terapung sampingpasar wadai

Pintu gerbang PWR sekarang hanya kain putih yang dibentuk seperti pintu gerbang masuk lalu di atasnya bertuliskan “Pasar Wadai dan Banjarmasin Fair.”
Kalau dulu pintu gerbang dibentuk sedemikian rupa dari bahan-bahan lokal dengan ukiran dan lukisan nuansa budaya Banjar yang kental.

Begitu juga bangunan kios-kiosnya yang sekarang sudah berbentuk modern, serta tenda-tenda kain yang sudah mengurangi kekhasan budaya tersebut.

Bahkan barang yang dijualpun beraneka ragam tidak lagi semata penganan dan makanan tetapi aneka barang dan kebutuhan hingga kendaraan bermotor.

“Padahal namanya pasar wadai, tapi banyak yang dijual di sana bukan dari wadai (penganan), ada mainan anak-anak, ada aneka tasbeh, batu permata, pakaian, barang elektronik, aneka tas, hingga kendaraan bermotor,” kata Marjuki warga setempat menambahkan.

Khas dan Unik
Dalam pidato Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin saat membuka PWR Banjarmasin, Minggu (29/6) menyatakan bahwa PWR sebuah sarana pelestarian budaya sekaligus objek wisata tahunan.

Bahkan Gubernur Kalsel yang didampingi Wakil Wali Kota Banjarmasin Irwan Anshari masih yakin di lokasi itu dijual kue aneh-aneh dan unik karena tidak dijual di pasaran pada hari-hari biasa di wilayah Kota Banjarmasin, kecuali mencarinya hingga ke Cempaka Kota Martapura, Kabupaten Banjar.

Menurut gubernur kue-kue yang muncul di PWR saat bulan Ramadhan tersebut termasuk kue-kue khas atau kue tradisional suku Banjar yang sering digunakan saat-saat tertentu, seperti untuk selamatan atau kenduri.

Ia menggambarkan seperti kue tradisional khas Banjar yang disebut wadai 41 macam, karena itu bagi siapa saja ingin menikmati kue-kue khas tersebut silahkan datang di bulan Ramadhan ke PWR yang selalu berada di tepian Sungai Martapura atau Jalan Sudirman.

“Saya sendiri sudah sembilan kali membuka Pasar Wadai Ramadhan Banjarmasin ini, dan selalu rame dikunjungi termasuk pendatang atau wisatawan mancanegara,” kata Rudy Ariffin yang dua kali menjabat Gubernur Kalsel tersebut.

Apa yang dikatakan Gubernur Kalsel tersebut ternyata agak beda dibandingkan kenyataan yang ada, dimana untuk mencari kue tradisional yang aneh-aneh dan unik hampir tidak dijumpai lagi.

Berdasarkan catatan, wadai 41 macam wadai suku Banjar yang bisa dinikmati terutama untuk berbuka puasa diantaranya apa yang disebut wadai cincin, wajik, cucur, cingkaruk, kayu apu, sasunduk lawang, kakoleh, putri selat, kalepon buntut, laksa, apam balambar (apem basah), apam putih, dan pais sagu.

Kemudian, wadai putri bekunjang, bingka tapai, aloha, bingka kentang, amparan tatak, intalu (telur) keruang, apam habang (apem merah), jaring baras (beras), gagauk, rangai, kararaban, gagati, wadai sari, petah, kulit langsat, bubur baayak, kakicak.

Wadai (kue) karingnya dulu ada yang disebut walatih, sasagun, wadai satu, wadai sagu, ginjil, garigit, talipuk, ilat sapi, dan lainnya sekarangpun tersisih oleh kue kering modern seperti ciki-cikian atau kue kering buatan pabrik besar seperti produksi Garuda Food dan Indo Food.

Begitu juga masakan dan penganan tampak makanan modern cukup mendominasi, lihat saja ada makanan Kebab dari Turki, Roti Maryam dari Arab Saudi, ayam goreng ala Kentucky Fried Chicken (KFC), pizza hut, dan aneka makanan modern lainnya.

Walau makanan tradisional khas Banjar masih tersedia, seperti garih balamak, gangan waluh, gangan kaladi, tumis tarung, papuyu baubar, haruan baubar, gangan kecap, cacapan asam, iwak bapais, gangan balamak, gangan asam kapala patin, pucuk gumbili bajarang, dan lainnya.

Sementara Wakil Wali Kota Banjarmasin, Irwan Anshari melaporkan Ramadhan Cake Fair yang sudah dibudayakan sejak tahun 1985 tersebut tetap bertujuan untuk pelestarian budaya, sekaligus sebagai atraksi wisata.

Hanya saja pada tahun ini agak berbeda dibandingkan dengan tahun sebelumnya, karena dalam tahun ini melibatkan dunia usaha dan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bukan saja dari Banjarmasin tetapi dari berbagai daerah di Kalsel, bahkan UKM dari beberapa kota Pulau Jawa dan Sumatera.

Bahkan dalam tahun ini beberapa stand untuk perusahaan kendaraan bermotor yang mempromosikan produk terbaru mereka.

“Jumlah stand sebanyak 184 unit, 140 unit diantaranya untuk pedagang penganan atau kue dan masakan, 17 unit untuk UKM nasional dari berbagai daerah di tanah air, selebihnya untuk perusahaan kendaraan bermotor yang mempromosikan produk terbaru mereka,” kata Irwan Anshari.

Sebelumnya Kepala Bidang Promosi Wisata Dinas Pariwisata Budaya Olahraga dan Pemuda Banjarmasin, Mujiat mengakui untuk tahun ini terjadi perubahan sesuai dengan tuntutan jaman, dan bukan hanya Ramadhan Cake Fair tetapi juga ada Ramadhan Fair karena digunakan untuk berbagai perdagangan barang ekonomi diluar makanan.

Menurut dia, lokasinya pun dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga lokasi kuliner sebagai pelestarian budaya suku Khas Banjar terpisah dibandingkan dengan lokasi pemasaran produk UKM dari luar Kalsel dan lokasi promosi berbagai perusahaan kendaraan bermotor.

Belum lagi adanya lapak-lapak atau lokasi khusus untuk berjualan aneka barang mainan anak-anak, dan barang dagangan lainnya, seperti tempat jualan tasbih, baju koko, songkok, dan aneka busana muslim, termasuk pula di dalamnya pusat penjualan batu permata, dan souvenir lainnya.

“Kita berharap tahun ini lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, karena keterlibatan pihak perusahaan besar dan UKM di luar Kalsel,” kata Mujiat seraya menyebutkan bangunan lokasi itu ada yang hanya terbuat dari bahan lokal seperti kayu tetapi ada pula berupa tenda-tenda besar.

udang

Udang di pasar wadai

bingka

kue bingka

wadai

Wadai Habang

wadai2

Wadai Amparan Tatak

WISATA KULINER TEPIAN SUNGAI MARTAPURA BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin

1

4
Tak terasa dua gelas kopi sudah habis terminum, dua bungkus kacang goreng ditambah beberapa iris kue tradisional khas Banjar “amparan tatak” pun telah habis, kini kembali lapar, ingin rasanya mengkonsumsi nasi kuning pula,kata Masran warga kota Banjarmasin saat ngobrol bersama penulis di sentra kuliner “Mandiri,” Jalan Pos Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Ngobrol di areal sentra kuliner tepian Sungai Martapura di ibukota provinsi paling selatan pulau terbesar tanah air itu, memang tak terasa waktu .
“Kita mulai ngob rol tadi dari jam 13:00 Wita, ini sudah jam 16: wita,” kata Masran lagi seraya memperlihatkan jarum jam di tangannya.
Suasana lokasi sentra kuliner “Mandiri” yang dibangun Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) setempat itu agaknya cocok bagi mereka yang ingin ngobrol lama.
Di bawah puluhan tenda-tenda warna warni tepian sungai dan dinaungi pepohonan yang rindang lokasi yang dulunya merupakan kawasan pasar burung tersebut merupakan ideal bagi wisatawan yang ingin berlama-lama menikmati semilirnya angin dan gemericik suara riak air sungai Martapura yang berhulu ke Pegunungan Meratus tersebut.
Apalagi lokasi itu dijual aneka makanan dan kue-kue tradisional sehingga bisa memanjakan selera makan pagi, makan siang , serta makan malam, atau sekedar mencicipi kue kecil atau aneka kue lainnya seraya menghirup panasnya kopi atau teh.
Sejauh mata memandang terlihat aneka pemandangan tepian sungai yang sudah dimodifikasi menjadi Water Front City (kota bantaran sungai) yang dibangun Pemkot Banjarmasin dengan dana ratusan miliar rupiah.
Apalagi aktivitas warga di sungai yang bermuara ke Sungai Barito tersebut menambah pemandangan yang mengusik diri untuk berlama-lama, lantaran di sungai tersebut terlihat hilir-mudiknya “klotok” semacam angkutan warga sejenis perahu bermesin, hilir-mudik di wilayah yang dikenal dengan sebutan “kota seribu sungai,” tersebut.
Klotok itu adadalah jenis angkutan kota yang ada di sungai seperti layaknya mobil angkot di daratan dengan jarak tempuh agak jauh, kemudian masih ada hilir-mudik jukung (sampan) juga angkutan untuk warga kota ke sana kemari dengan jarak pendek, ibabarat di daratan itu adalah becak.

2
Kemudian masih hilir-mudik kapal-kapal sungai yang mengangkut barang dagangan, barang pertanian, bahkan barang tambang yang menyusuri kawasan yang selama ini menjadi rute wisata susur sungai.
Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin saat melakukan pembukaan sentra kuliner tersebut pertengahan Juni 2014 lalu menyatakan kebanggaannya karena wilayah ini menambah perbendaharaan lokasi wisata kuliner setelah sebelumnya juga diresmikan Kota Kawasan Wisata Kuliner (KWK) Gang Pengkor Jalan Brigjen Hasan Basri.
Lokasi sentra kuliner tepian Sungai Martapura yang juga juga dikenal sebagai jalur Jalan Pos sepanjang sekitar 300 meter menghubungkan Jalan Hasanudin HM dengan jalan Sudirman dekat Jembatan Merdeka.
Menurut wali kota keberadaan sentra kuliner ini akan memperkuat posisi Kota Banjarmasin sebagai kota wisata, khususnya sebagai wilayah paiwisata perairan.
Dengan adanya lokasi tersebut akan memudahkan wisatawan yang datang ke kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa tersebut untuk menikmati kuliner khas setempat, seperti laksa, ketupat kandangan, nasi kuning, lupis, lontong, dan penganan 41 macam.
Selain itu juga tersedia makanan nasional, seperti nasi goreng, soto, masakan padang, masakan jawa, masakan Palembang, dan aneka makanan nusantara lainnya di sejumlah kios yang tercatat 52 buah tersebut.
“Bagi wisatawan makan di lokasi ini akan merasakan nikmatnya udara Sungai Martapura berada di pepohnan rindang, sambil menikmati pemandangan hilir mudiknya berbagai perahu dan angkutan air lainnya,” kata Muhidin.
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata setempat, Subhan menuturkan lokasi tersebut akan dimeriahkan lagi dengan aneka atraksi wisata, seperti lomba perahu (jukung), yang akan diagendakan serta permainan jet ski.
Subhan juga merencanakan menambah atraksi wisata lainnya seperi benana boat, perahu karet, dan atraksi wisata disamping hiburan trasidional seperti musik panting atau madihin, di lokasi tersebut.
“Seberang sungai ini akan dibangun patung raksasa, berupa patung Bekantan (kera hidung panjang/ Nasalis larvatus) yang merupakan maskon fauna Kalsel, sehingga bagi yang berada di sentra kuliner ini akan bisa menikmati patung raksasa ini dari seberang sini,” kata Subhan seraya menunjuk rencana pembangunan patung bekantan itu persen seberang sungai yaitu Jalan Pire Tendean.
“Kita berharap lokasi ini menjadi ikon pariwisata, karena di seberang sungainya juga sudah ada pusat kuliner Taher Square yang akan dilengkapi dengan patung Bekantan tersebut,”kata Subhan.
Menurut Subhan sentra kuliner ini bagian rute perjalanan objek wisata air di Kota Banjarmasin , selain pasar terapung, wisata relegi masjid Raya Sabilah Muhtadin, makam habibb Basirih, masjid Sultan Suriansyah, museum Wasaka, pusat kuliner katupat, pusat pelelangan ikan, dan dermaga balaikota Banjarmasin.

klotok

klotok

Susur Sungai

Keberadaan beberapa lokasi sentra kuliner tepian sungai Martapura yang dibangun Pemkot Banjarmasin tersebut memperoleh respon positif dari Pemerintah Provinsi (Pemrov) Kalimantan Selatan.
Pemprov Kalimantan Selatan melalui instansi kepariwisataan setempat kian menggalakkan pariwisata sungai yang merupakan wisata andalan provinsi setempat yang terus dipromosikan ke dunia luar khsususnya ke manca negara.
wisata susur sungai Kota Banjarmasin dan sekitarnya merupakan yang ditonjolkan dalam memancing lebih banyak lagi kedatangan wisatawan, sekaligus memperluas posisi ibu kota provinsi tersebut sebagai wilayah kepariwisataan air.
Kepala Dinas Pariwisata Kalsel Mohandes kepada penulis menyebutkan wisata susur sungai tersebut selain menyusuri Sungai di Banjarmasin juga diarahkan ke sungai lainnya di luar Kota bahkan hingga ke Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Wisata susur sungai tersebut dengan memanfaatkan kapal -kapal sungai yang dimodifikasi menjadi kapal wisata menyusuri Sungai Martapura dan Sungai Barito serta anak-anak sungai yang di wilayah Banjarmasin yang memiliki 105 buah sungai ini.
Hanya saja ia menyayangkan di Banjarmasin terdapat bangunan jembatan yang cukup rendah hingga menyulitkan lalu-lalang kapal wisata air tersebut.
“Lihat saja Jembatan Merdeka dan Jembatan Dewi, kondisinya cukup rendah hingga kalau air pasang dalam maka jembatan tersebut akan sulit dilalui kapal wisata,” kata Mohandes seraya menunjuk dua jembatan tersebut yang lokasinya tidak jauh dari peresmian pusat kuliner tersebut.
Oleh karena itu ia menyarankan bagaimana kondisi jembatan tersebut nantinya bisa ditinggikan dari kondisi sekarang agar memudahkan pengembangan wisata air tersebut.
Menurut Mohandes, kelebihan kota Banjarmasin adalah banyaknya sungai alam bukan sungai buatan yang relatif memiliki pemandangan indah di kalangan wisatawan untuk menyusurinya, Apalagi di kiri kanan sungai terdapat pemukiman penduduk dengan aneka budaya khas setempat, seperti rumah lanting, warung terapung, industri terapung, dan budaya lainnya.
Rute yang dijual dalam wisata susur sungai tersebut tentu merupakan objek andalan setempat, seperti pasar terapung, pusat perdagangan Banjarmasin, wisata kuliner soto Banjar, Pulau Kembang dengan ratusan ekor kera jinak, masjid Sultan Suriansyah, makam Ulama Basirih, masjid Raya Sabilah Muhtadin, Siring sungai, dan Museum Wasaka serta beberapa objek lagi.
Wisata susur sungai tersebut pun akan dikemas sedemikian rupa ke arah pusat cenderamata seperti kampung sasirangan yang akan diladeni oleh pemandu wisata yang berpengalaman yang bisa memberikan penjelasan mengenai kondisi kota serta aneka budayanya, kata Mohandes.
Dalam rute susur sungai itulah nantinya para wisatawan bisa singgah ke sentra-sentra kuliner dengan menikmati aneka makanan setempat, dengan demikian maka wilayah ini akan menjadi daya pikat tersendiri di mata wisatawan nusantara maupun manca negara.

5

6

50 TAHUN BANK KALSEL SAATNYA KELOLA BATUBARA

Oleh Hasan Zainuddin
bank kalsel
Askur Fakih seorang petani asal Dusun Limau, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan, awalnya merasa bingung menjalani hari-hari karena hasil yang diperoleh tak memadai untuk kehidupan sehari-hari.

Suatu ketika otaknya berpikir membuka usaha baru tapi terkendala modal, setelah mencari informasi ke sana kemari akhirnya memperoleh masukan adanya dana pinjaman dari Bank Kalsel. Mulailah meminjam ke lembaga perbankan lokal ini Rp4 juta mengelola industri kripik jagung, usaha itu membaik lalu kembali meminjam Rp15 juta, hingga Rp125 juta.

Dengan modal besar akhirnya industri kian besar pula produksi satu ton kripik jagung per bulan dan menghidupi sebanyak 16 karyawan, pasarnya tak sebatas Kabupaten Tanah Laut saja, tetapi sudah merambah ke berbagai wilayah .

Cerita senyuman Askuh Fakih ternyata juga dialami H solikin seorang pembudidaya jamur tiram berkat kredit ke Bank kalsel ia pun sejahtera.

Lain lagi cerita pengusaha soto Lamongan Cak Hari di Jalan Gatot Soebroto Kota Banjarmasin yang dulu hanya menjual soto menggunakan gerobak dorong, berkat pinjaman kini memiliki sebuah rumah makan Soto Lamongan yang refresentatif dan dikenal hampir seluruh antero kota ini.

Memang segudang cerita keberhasilan warga Kalsel setelah berkenalan dengan lembaga perbankan milik Pemprov Kalsel ini.

Direktur Utama Bank Kalsel Juni Rif’at mengakui 40 persen kredit lembaganya dikhususnya untuk usaha mikro dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat kecil.

Disebutkannya kredit disalurkan itu kisaran Rp10 juta hingga hingga Rp200 miliar, ada yang hanya untuk tukang bakso, pedagang es kelapa, kelontongan, hingga kredit besar seperti pembiayaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan lainnya.

Lembaganya selain membantu kredit rakyat kecil juga sebagai agen pembangunan disamping untuk memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah.

“Itulah bedanya antara Bank Kalsel dan bank konvensional lainnya,” katanya seraya menyebutkan Bank Kalsel awalnya dibentuk hanya sebagai kas daerah dan itu bertahan hingga sekarang atau 50 tahun yang hari HUT-nya jatuh hari Selasa (25/3) ini.

Berdasar data jumlah kredit yang disalurkan bank ini Rp6 triliun, sementara tabungan masyarakat Rp2 triliun tapi jika ditotalkan termasuk deposito maka senilai Rp8 triliun.

kantor bank kalsel

Lebih Kreatif
Lembaga perbankan dimotori tenaga profesional lokal ini seharusnya berpikir tak sebatas mengembangkan usaha seakan hanya “meniru” bank konvensional tetapi hendaknya lebih kreatif hingga lebih dirasakan bukan hanya oleh pemerintah provinsi atau pemerintah 13 kabupaten dan kota se-Kalsel, tetapi oleh sekitar empat juta jiwa warga yang tinggal di wilayah ini.

Dari jumlah warga Kalsel tersebut ternyata penduduk miskin per Maret 2013 mencapai 181.739 orang (sumber BPS Kalsel) yang berarti masih ada tanggungjawab semua pihak untuk mengurangi angka kemiskinan tersebut.

Pertanyaaanya mengapa masih ada penduduk Kalsel yang miskin ? Apakah mereka tak memiliki keahlian, tak memiliki modal usaha atau daerah ini memang miskin sumberdaya alam.

Kalau itu yang terjadi tentu harus dicarikan solusinya, kalau tidak memiliki keahlian perlu ada pendidikan atau pelatihan, kalau tak ada modal maka perlu ada pinjaman.

Kemudian benarkan Kalsel kekurangan sumberdaya alam, ternyata Kalsel memiliki kekayaan yang luar biasa, bukan hanya hutan, pertanian, perairan dan kelautan, terlebih sektor pertambangan, kata seorang warga Kalsel Haji Jainuddin.

Sektor pertanian Kalsel tak kalah dibandingkan dari daerah lain ditinjau dari luas lahan dan kesuburan tanah, walau dibandingkan dengan Thailand yang dikenal sebagai produsen buah dan hasil pertanian terbesar di Asean sekalipun.

Oleh karena itu, Bank Kalsel hendaknya lebih jeli melihat potensi tersebut dengan kosentrasi melakukan pinjaman modal ke sektor pertanian melalui kreditnya.

Apalagi Kalsel memiliki aneka ragam plasma nuftah tanaman pertanian khususnya buah-buahan yang begitu eksotis dan menarik bila dikembangkan, bahkan akan menjadi mata dagangan ekspor.

Petani untuk budidaya buah-buahan tidak lagi sekadar skala pekarangan tetapi harus dijadikan mereka berusaha dengan skala kebun, seperti layaknya kebun di Pulau Jawa atau meniru gaya perkebunan buah di Australia dan Amerika Serikat yang produksinya tak hanya dimakan sebagai buah meja tetapi sudah menjadi buah ekspor dan yang dikalengkan.

Para petani buah tersebut bisa diberikan modal untuk terus berkembang, lalu dilakukan penelitian baik bagaimana cara budidaya, rekayasa genetika hingga menjadi buah yang manis dan bagus, serta penanganan pasca panen.

Dari sekian potensi memajukan Kalsel (Banua ) sektor pertambangan harus pula diperhatikan lembaga ini, dimana di Kalsel bukan saja terdapat tambang emas, intan, pasir kuarsa, nikel, biji besi, marmer, minyak bumi, dan yang lagi marak pertambangan batu bara atau “emas hitam.”

Kelola Batubara
Puluhan tahun eksploitasi “emas hitam” sudah dikerjakan di Kalsel, bahkan sejarahnya sejak zaman Belanda, tetapi apakah usaha mengeruk perut bumi melalui emas hitam itu sudah memberikan kesejahteraan masyarakat setempat, ternyata hingga kini jawabannya “tidak.”
Mengapa demikian, jawabannya mungkin saja “salah urus,” karena tak bijak melihat peluang tersebut, sehingga justru masyarakat non jauh di banua lain, Australia, Amerika, Cina, Korea dan negara lainnya yang mengambil manfaat semua itu melalui yang dinamakan investasi asing atau yang belakangan seringpula investasi luar negeri itu berlindung melalui investasi dalam negeri dengan mengatasnamakan pengusaha nasional, dengan landasan Perjanjian Kerjasama Pengembangan Pertambangan Batu Bara (PKP2KB)
Ironis memang, kehidupan masyarakat banua bak ayam kelaparan di lumbung padi, dan kondisi tersebut tak boleh dibiarkan menghantui penduduk yang tinggal di daerah paling selatan pulau terbesar nusantara ini, makanya peran Bank Kalsel yang harus kedepan dalam mengatasi persoalan ini.

Karena tambang batubara di dalam perut bumi banua Pangeran Antasari ini yang ditaksir masih tersimpan 12 miliar ton itu, sebagian besar tidak lah berada di kedalaman yang jauh, justru berada di permukaan, dengan demikian tidak ada yang sulitnya mengambil barang di atas permukaan tanah, tinggal gali dan angkut dan dijual maka sudah dapat dolar atau rupiah.

Tidak seperti tambang batubara di daerah lain yang harus melalui tambang bawah tanah (Underground Mine) yang memerlukan tehnologi atau investasi besar.

Pengambilan batubara di Kalsel tak mesti harus penambang besar dengan modal besar seperti investasi asing (PKP2KB), warga lokal pun sanggub, terbukti banyak warga Kalsel yang tadinya miskin berhasil menjadi kaya raya setelah menggali tambang ini.

Melihat kenyataan itu maka seharusnya didirikan Perusahaan Daerah (Perusda) di semua kabupaten dan kota di Kalsel khususnya terdapat deposit tambang batubaranya, atau Perusda yang didirikan oleh Pemprov Kalsel sendiri.

Dulu diakui izin tambang harus dari pemerintah pusat, tetapi diera otonomi ini ternyata ijin tambang yang disebut Kuasa Pertambangan (KP) bisa melalui kepala daerah setempat.

Karena itu KP bisa diberikan kepada Perusda atau Perusda kerjasama (joint) dengan pengusaha lokal yang diberikan KP, dan usaha tersebut bisa bermodalkan pinjaman modal oleh Bank Kalsel. Dengan cara tersebut maka hasil tambang batubara tidak bakal lari ke daerah lain tetapi justru dinikmati masyarakat Kalsel sendiri.

Bila uang beredar di Kalsel, maka berdampak sangat luas bagi peningkatan perekonomian setempat, ibaratnya ada sesorang kaya di Kalsel lantaran batubara, maka ia akan belanja beras, ikan, sayur, kerajinan, atau kebutuhan apapun tentu dari pedagang lokal pula.
Selain itu juga dipastikan akan banyak pekerja dari lokal pula, taruhlah supir, pekerja tambang, tenaga admistrasi dan lainnya yang dipekerjakan orang kaya itu. Jika banyak orang yang kaya lalu kian banyak belanja barang dan jasa maka kian banyak pula warga banua yang merasakan nikmatnya.
Belum lagi jika Perusda dari lokal itu tumbuh dan berkembang maka pemerintah di Kalsel tak perlu lagi “menjerat” warganya dengan menarik pajak sebesar-besarnya hanya untuk memperoleh pendapatan pemerintah, mereka cukup mengambil dari keuntungan Perusda Perusda tersebut dalam pembiayaan pembangunan.

Apa yang dilakukan Bank Kalsel terhadap pembiayaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-asam unit III dan IV, salah satu bukti sebenarnya Bank kalsel bisa berbuat untuk yang lebih besar termasuk membangun Perusda kelola tambang tersebut.

Berdasarkan informasi bantuan Bank Kalsel terhadap PLTU Asam-asam Rp250 miliar dari satu triliun rupiah yang diberikan oleh beberapa bank secara konsorsium.

Kemudian bila Perusda tersebut berhasil gali tambang lalu memiliki modal, seharusnya usaha mengeruk tambang harus dikurangi guna menjaga kelestarian lingkungan mengingat bahan tambang termasuk barang yang tak bisa diperbaharui. Modal itu harusnya digunakan membentuk usaha lain yang sifatnya tak merusak alam.

Konon negara tetangga Brunei Darussalam, juga menggali tambang dan minyak bumi, lalu memperoleh modal dari usaha tersebut kemudian oleh kerajaan modal itu dijadikan modal usaha di negeri sendiri juga usaha ke berbagai negara lain.

Keuntungan perusahaan tersebut kembali ke negara sebagai pendapatan negara, akhirnya pemerintah mereka tidak menarik pajak justru memberikan subsidi kepada masyarakat di sana.

Begitu juga di banua ini,jika pemerintah Kalsel bisa menjadikan hasil tambang sebagai modal usaha lain,lalu usaha lain berkembang maka keuntungannya dikembalikan ke banua lagi.

Bila hal itu sampai terjadi maka itulah sebuah “hadiah besar,” bank Kalsel terhadap banua ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.