BANDARA INTERNASIONAL SOLUSI LONJAKAN ANGKUTAN UDARA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

foto_600kantor-cabang-bandar-udara-internasional-syamsuddin-noor-mr-admin-77d4970a39ac632d6d2ed5c0b2e81bf94dc99c01syamsudin-noor
Banjarmasin, 30/9 (Antara) – Perkembangan angkutan udara melalui Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin, Kalimantan Selatan, begitu pesat seiring dengan perkembangan pembangunan dan dunia investasi di wilayah tersebut.

Meningkatnya perkembangan angkutan udara bisa dilihat dari pergerakan pesawat lepas landas dan mendarat di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, tahun 2013 sebanyak 32.083 dengan pertumbuhan 14 persen per tahun.

Sementara pergerakan penumpang datang maupun berangkat di Bandara Syamsudin Noor tercatat 3.848.263 orang, kata Kabid Lalu lintas Udara Finas Perhubungan Kalsel Ismail di kantornya Banjarmasin, Selasa.

Dengan jumlah pergerakan penumpang sebanyak itu pada tahun 2013 berarti ada pertumbuhan sebanyak 17,5 persen per tahun.

Melihat pertumbuhan pergerakan pesawat dan penumpang begitu besar di Bandara Syamsudin Noor tersebut menunjukan bahwa kapasitas Bandara tersebut belakangan ini tidak ideal lagi dalam upaya memberikan pelayahan yang baik dan nyaman.

Bandara itu sekarang hanya mampu menampung pergerakan penumpang sekitar satu juta penumpang saja per tahun, tetapi pada tahun 2013 sudah mencapai 3.848.263 orang.

Untuk jumlah masyarakat Kalsel yang ingin beribadah umrah ke Tanah Suci Mekkah saja yang harus melewati Bandara Syamsudin Noor terus meningkat pula.

Data tahun 2014 (Januari hingga Juli) warga yang berangkat umrah melalui Bandara tersebut sudah mencapai 11.598 orang suatu jumlah yang luar biasa banyaknya, atau rata-rata ada 1.656 orang per bulan berangkat umrah melalui lokasi ini.

“Jika diasumsikan mereka yang berangkat umrah sebanyak itu menggunakan pesawat besar jenis Airbus 330, maka dapat melakukan penerbangan lima kali penerbangan setiap bulannya,” katanya.

Belum lagi jumlah penerbangan haji. Jumlah mereka yang sudah mendaftar haji di Kalsel begitu membludak mungkin ratusan ribu orang, bagi yang ingin berangkat haji dan mendaftar sekarang itu antrean atau daftar tunggu hingga 24 tahun kedepan.

Potensi wisata yang juga begitu besar memasuki wilayah Kalsel via Bandara Syamsudin Noor. Berdasarkan data yang diambil dari Dinas Pariwisata Kalsel potensi wisata besar karena jumlah wisatawan dari mancanegara tahun 2013 sebanyak 25.503 orang.

Tentu saja jumlah wisatawan mancanegara tersebut akan lebih meningkat jika adanya rute penerbangan internasional langsung ke Banjarmasin.

Melihat kenyataan tersebut sudah sewajarnya Bandara tersebut Udara dikembangkan lebih luas lagi, terutama berbagai fasilitas, seperti terminal keberangkatan, terminal kedatangan, serta adanya lokasi untuk petugas imigrasi, kepabianan, serta karantina.

Jika semua sudah terwujud dengan baik maka wajar jika Bandara ini menjadi sebuah Bandara internasional.

Bandara internasional

Melihat perkembangan Bandara Syamsudin yang begitu pesat telah melahirkan keprihatinan banyak pihak dan kemudian berkeinginan untuk mengembangkan bandara tersebut dari Bandara domestik menjadi internasional.

Kepala Seksi Penerbangan Udara M Arief Dishub Kalsel menambahkan keinginan untuk menjadikan Bandara Syamsudin Noor menjadi Bandara internasional begitu kuat menyusul meningkatnya jumlah penumpang dan penerbangan, selain meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang rata-rata di atas lima persen.

Dasar menjadikan bandara tersebut sebagai bandara internasional bisa dilihat dari Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 11 tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional yang menyebutkan penggunaan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sebagai Bandara Internasional Haji.

Selain itu ada juga Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 69 tahun 2013 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional yang menyebutkan penggunaan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sebagai bandara domistik.

Melihat kenyataan tersebut, pada tahun 2012 Pemerintah Provinsi Kalse) membuat analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) pengembangan Bandara Syamsudin Noor yang dirancang dijadikan bandara internasional.

Itu telah disahkan dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Lingkungan Hidupnomor 416 2013 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Pengembangan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Rencana induk pengembangan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin telah disahkan oleh Menteri Perhubungan melalui Keputusan Menteri Perhubungan nomot KP 27 tahun 2012.

Semua itu dilakukan setelah diketahui Bandara ini sejak tahun 2004 menjadi embarkasi haji untuk jemaah haji Kalsel dan Kalimantan Tengah (Kalteng).

Selain itu ada keseriusan Changi Airport Group untuk membuka rute penerbangan Singapura-Banjarmasin dan dinyatakan dengan mengundang pertemuan di Hotel Indonesia Kempinsky Jakarta tanggal 3 September 2014 antara Pemerintah Provinsi Kalsel dan beberapa airline yang siap menerbangi rute tersebut.

Hal lain adanya keinginan maskapai penerbangan Air Asia yang membuka rute penerbangan langsung Kuala Lumpur- Banjarmasin.

Melihat kenyataan itulah maka PT Angkasa Pura I sudah menjadwalkan pelaksanaan “groundbreaking” pembangunan terminal baru yang direncanakan pada pertengahan bulan Oktober 2014, seiring dalam proses pembangunan kelengkapan fasilitas CIQ (custom, immigration, quarantine) disiapkan dalam terminal transisi (renovasi terminal existing).

Kemudian Pemerintah Provinsi Kalsel telah pula berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi Kelas I Banjarmasin, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Banjarmasin Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, Balai Karantina Ikan Kelas II Syamsudin Noor dan KPP Bea Cukai Tipe Madya Pabean B Banjarmasin untuk melengkapi fasilitas CIQ, sebagai pendukung menjadi bandara internasional, dimana semuanya menyatakan kesiapannya.

“Kalau terminal kedatangan dan keberangkatan direnovasi dengan standar bandara internasional, ditambah adanya fasilitas CIQ, maka bandara ini sudah bisa dinyatakan bandara internasional,” kata M Arief didampingi staf yang lain Hasby.

Menyinggung rencana pengembangan Bandara Syamsudin Noor disebutkankanya sesuai rencana induk prakiraan permintaan kebutuhan pelayanan penumpang dan kargo, sesuai Keputusan Menteri Perhubungan nomor KP 27 tahun 2012 tertanggal 6 Januari 2012.

Berdasarkan data yang diperoleh penulis menunjukkan rencana pengembangan bandara tersebut dilakukan secara bertahap.

Sebagai contoh saja antara lain landasan pacu (runway) eksisting 2010 2500×45 meter fasee I dan pada fese II menjadi 3.000×45 m2. Strip landas pacu (runway strip) 2740×300 m2 fase I dan pad afase II menjadi 3240×300 m2.

Penumpang per tahun internasional 14.990 jadi 26.844, penumpang domistik 2.576.471 m2 pada fase I menjadi 4.865.549 fase II menjadi 6.635.099 penumpang, transit 32.879 fase I 288.410 fase II menjadi 369.189.

Pergerakan pesawat internasional per tahun fase I 375 buah menjadi 671 pada fase II, pesawat domestik eksisting 2010 22.236 fase I 45.159 dan pada fase II 60.237 pesawat, kargo 22.297 ton per tahun pada fase I menjadi 44.000 ton dan fase II 60.000 ton per tahun.

Kemudian pesawat terbesar jenis B 767 fase I dan II bisa didarati B 747, landas hubung (taxiway) eksisting 2010 empat buah, fase I menjadi lima buah dan fase II jadi enam buah.

Bangunan terminal penumpang 9.043 m2 fase I menjadi 6.600 dan fase II jadi 50.00) m2, bangunan VI dari 150 jadi 400 m2, areal parkir publik 4.579 jadi 36,153 m2 dan kemudian fase II jadi 52.554 m2, areal parkir roda dua dari 330 jadi 495 m2, areal parkir taksi 2.764 m2 jadi 3.386 m2, areal parkir bus 1.250 m2, shelter taksi 800 jadi 1.200 m2, shelter bus 800 menjadi 1.200 m2.

Kantor administrasi 776 jadi 2.000 m2, menara pengawas lalu lintas udara 36 m2, kantor operasi 475 jadi 1.100 dan 1.300 m2, balai pertemuan 1.200 m2, fasilitas BMG 72 jadi 1.100 m2, “apron service building” 589 jadi 1.200 m2, “GSE maintenance” 2,800 m2, kantor administrator bandara 600 m2, fasilitas CIQ 2.000 m2, fasilitas ibadah (masjid) 2.500 m2, gardu PLN 200mk2.

Kemudian, gardu Telkom 200 m2, kantin karyawan 300 m2, bangunan sumber air 49 jadi 600 m2, “airport maintenance building” 554 men jadi 600 m2, poliklinik 300 m,2 bengkel kerja mekanikal dan elektrikal 600 m2, bangunan jasa boga (katering) 3.000 m2.

Walau ada keinginan kuat mengubah bandara ini menjadi bandara internasional ternyata pelaksanaannua tak segampang yang dibayangkan. Sebagai contoh, orosesnya terkendala alotnya pembebasan lahan masyarakat. Baru sebagian yang dibebaskan dari luas lahan 108 hektere yang akan dibebaskan.

Kendati adanya berbagai permasalah namun jika semua pihak sepakat untuk menciptakan bandara tersebut sebagai bandara internasional, maka kendala tersebut akan mudah diatasi sehingga daerah ini akan maju dan menjadi diperhitungkan baik secara nasional maupun internasional.

HARGA KARET ANJLOK DAN PETANI KALSEL PUN MENJERIT

KARET

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 28/9 (Antara)- Anjloknya harga karet belakangan ini melahirkan kerisauan di kalangan petani Kalimantan Selatan, termasuk di Kabupaten Kabupaten Balangan.

Muhamad (25) petani karet desa Maradap, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, mengakui akibat turunnya harga komoditas tersebut pendapatan petani juga anjlok.

Bayangkan saja harga karet jenis lum, saat normal antara Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram, sementara harga berlaku sekarang yang dibeli kalangan pedagang pengumpul yang datang ke kampung-kampung hanya antara Rp4 ribu-Rp5 ribu saja per kilogram.

Rendahnya harga karet tersebut melemahkan semangat kalangan petani setempat untuk mengembangkan lahan kebun karet lebih luas lagi, padahal belakangan kegairahan berkebun karet telah hidup di wilayah kaki Pegunungan Meratus tersebut.

“Kita berharap harga karet kembali membaik, seperti sedia kala agar petani kembali bergairah,” katanya.

Ia mengkhawatirkan turunnya harga karet tersebut lantaran permainan spekulan atau para pedagang pengumpul yang bersekongkol dengan para pengusaha pabrikan. Sebab, kabar yang ia peroleh harga karet tersebut ternyata cukup baik di daerah lain, seperti di Kalimantan Tengah atau bagian Indonesia lain.

Menurut dia, bila harga turun tersebut berlangsung lama dikhawatirkan akan menambah kemiskinan di kalangan penduduk Kabupaten Balangan yang merupakan wilayah kabupaten pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tersebut.

Sebab, katanya, harga berbagai kebutuhan pokok di kawasan tersebut begitu mahal, harga gula pasir saja tercatat Rp15 ribu per kilogram, sehingga harga karet yang anjlok tak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.

Belum lagi harga beras, ikan, dan kebutuhan lainnya terus melambung yang semua itu terus memberatkan petani setempat.

Kerisauan tentang anjloknya harga karet tersebut hampir merata di kalangan penduduk yang meyoritas berkebun karet itu.

Oleh karena itu berbagai saran dan pendapatpun bermunculkan menanggapi turunnya harga barang dagangan ekspor andalan Indonesia tersebut.

Seperti diutarakan Kadir (40) penduduk Desa Panggung, Paringin Selatan ini yang berharap adanya semacam badan atau lembaga yang bisa menjadi penyangga produksi karet alam.

Harga yang berfluktuasi yang begitu tajam belakangan ini sangat merugikan petani karet, dan karena itu diperlukan badan atau lembaga penyangga agar harga bisa stabil, kata Kadir, tokoh masyarakat yang sering disebut Bapak Anum ini.

Ia sendiri mengaku sangat sedih melihat kondisi petani karet belakangan ini yang selalu terombang-ambing oleh fluktuasinya harga karet.

Dengan harga yang turun naik begitu tajam membuat petani menjadi bingung, dan bahkan tidak sedikit ingin berpaling ke usaha lain.

Alasan mereka karet yang tadinya sebuah usaha menjanjikan kini dinilai sebuah usaha yang mengancam kehidupan, karena dengan harga semurah itu maka hasil yang diperoleh petani tidak akan sebanding dengan harga kebutuhan yang lain.

“Bayangkan saja harga satu kilogram gula pasir Rp15 ribu poer kilogram, bila harga karet hanya Rp5 ribu per kilogram berarti untuk memperoleh satu kilogram gula pasir harus menghasilkan tiga kilogram karet,” kata Kadir.

Oleh karena itu, Kadir berharap pemerintah turun tangan mengatasi harga karet tersebut, dengan membentuk sebuah badan atau lembaga semacam Depot Logistik (Dolog) yang mampu menyangga produksi beras petani.

Sebab, katanya, bila harga karet membaik maka usaha lain seperti industri rumah, bertani sawah, petambak ikan, dan usaha lainnya juga ikut bergairah karena warga punya uang dan mampu membeli produksi usaha lainnya tersebut.

Melalui badan atau lembaga, baik yang didirikan tersendiri oleh pemerintah, atau melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau di bawah departemen Perdagangan akan mempu menjaga harga karet.

Melalui badan atau lembaga tersebut, bila membeli karet petani dengan harga wajar, kemudian badan atau lembaga tersebut bisa mendirikan pabrik karet di lokasi sentra perkebunan.

Dengan demikian maka karet alam petani tidak lagi dikuasai oleh sekelompok pengusaha yang memiliki “kaki-tangan” seperti para pedagang pengumpul yang datang ke kampung-kampung.

Kelompok pengusaha dan kaki tangan serta para tengkulak itu yang selama ini mempermainkan harga karet petani, sehingga petani benar-benar tak berkutik dan pasrah menghadapi keadaan dengan anjloknya harga karet tersebut.

Menurut Kadir melalui badan yang dikelola pemerintah tersebut pula kalau perlu merubah kebiasaan hanya mengekspor karet mentah keluar negeri, tetapi menciptakan industri yang berbahan baku karet seperti ban kendaraan di dalam negeri.

Kemudian ban kendaraan tersebut yang diekspor sehingga memiliki nilai tambah yang berlipat ganga dibandingkan hanya ekspor karet mentah.

Apalagi luasan kebun Kalsel begitu memadai untuk menciptakan industri berbahan baku karet di wilayah ini.

Produsen baru

Seorang pemerhati perkaretan Indonesia Asril Sutan Amir menilai munculnya beberapa negara produsen baru di dunia menyebabkan harga karet dunia belakangan ini menjadi anjlok.

Dengan munculnya negara-negara produsen baru yang memiliki kebun karet cukup luas menyebabkan prouksi karet dunia melimpah akhirnya harga turun, kata Asril Sutan Amir yang dikenal sebagai mantan Ketua Gabungan Pengusaha Pabrik Karet Indonesia (Gabkindo) saat berada di Banjarmasin.

Asril Sutan Amir yang kini menjadi penasehat organisasi Gabkindo tersebut menyebutkan negara produsen baru tersebut, seperti Laos, Vietnam, Myanmar,dan Kamboja yang memproduksi karet cukup besar hingga menekan harga karet dunia termasuk Indonesia.

Negara produsen baru tersebut mengembangkan jenis karet unggul dengan tingkat produksi tinggi hingga 2000 kilogram per hektare per tahun, jauh lebih tinggi dari tingkat produksi karet Indonesia yang hanya rata-rata 600 kilogram per hektare per tahun.

Negara-negara tersebut juga lebih mudah memasarkan produksi karetnya terutama ke negara konsumen terbesar dunia, yakni negara Tiongkok karena dari negara mereka bisa disuplai melalui angkutan darat.

Sementara kalau karet di Indonesia harus diantarpulaukan dulu baru di kapalnya ke negara besar tersebut, kata Asril.

Selain itu, anjloknya harga karet alam dunia tersebut tak terlepas dari masih terjadinya resesi ekonomi dunia khususnya di Uni Eropah dan Amerika Serikat yang juga termasuk negara konsumen terbesar karet alam.

Kendati demikian, harga karet ke depan tetap akan membaik, lantaran kalau hanya mengandalkan hasil negara produsen baru tersebut tentu tidak akan mencukupi dengan tingkat tingginya konsumen karet alam dunia khususnya pabrik ban kendaraan bermotor.

Semakin maju sebuah negara pasti semakin tinggi pemakaian ban kendaraan bermotor dan hal itu tentu akan memberikan tingkat permintaan karet juga tinggi akhirnya akan mendongkrak harga karet tersebut.

Oleh karena itu, ia meminta kepada petani karet Indonesia tetap mengembangkan tanaman karet, seraya memperbaiki kualitas yang dihasilkan agar harga bisa lebih baik, sebab tambahnya rendahnya harga karet di Indonesia karena diproduksi secara asal-asalan bukan sesuai standar yang diinginkan pasar.

Tanggung jawab Pemprov

Di sisi lain Asril Sutan Amir meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menyelamatkan keberadaan petani karet yang belakangan hidup mereka terpuruk lantaran harga karet yang berada pada titik terendah itu.

“Kondisi karet yang murah di tingkat petani Kalsel, bisa menghapus julukan Kalsel sebagai daerah produsen karet alam Indonesia, karena itu pemerintah harus menyelamatkan kondisi tersebut,” katanya.

Berdasarkan pemantauan Gapkindo Kalsel harga karet di beberapa kabupaten produsen karet alam cukup bervariasi, yang tertinggi di Kabupaten Tanah Bumbu dengan harga antara Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram, tetapi yang sangat rendah Rp3.000 hingga Rp4.000 seperti di sentra karet Kabupaten Balangan.

Walau harga bervariasi tetapi dibandingkan dengan sebelumnya harga karet tersebut anjlok, karena harga karet pernah sentuh dengan harga Rp35.000,- hingga Rp40.000,- per kilogram.

Harga karet murah tersebut memang berlaku seluruh Indonesia tetapi untuk wilayah Kalsel yang paling rendah, lantaran kualitas yang dihasilkan petani setempat sangat jelek yang dikenal dengan istilah karet lum atau karet asalan.

Kalau hal tersebut terus dibiarkan maka bisa membuyarkan keinginan masyarakat setempat untuk mengelola kebun karet, padahal tanaman karet salah satu tanaman yang sangat ramah lingkungan.

Oleh karena itu, harus ada tindakan pemerintah untuk menyelamatkan dari keterpurukan petani karet tersebut, umpamanya dengan memberikan penyuluhan agar petani karet tidak lagi memproduksi karet asalan, tetapi karet lembaran kering yang berharga mahal.

Kemudian pemerintah harus memberikan bibit gratis terhadap petani setempat untuk mengubah kebiasaan membudidayakan pohon karet lokal ke jenis karet unggul.

Karena salah satu penyebab karet Kalsel anjlok tersebut karena lateks yang dihasilkan berasal dari pohon pohon karet lokal yang tumbuh secara alamiah, bukan dari pohon karet unggul yang pembudidayaannya diberlakukan sesuai kaidah yang benar.

Menurutnya ada jenis bibit karet unggul yang murah tetapi berkualitas yakni jenis IRR dengan produksi lateks banyak berpohon besar dan memiliki tingkat kekentalan lateks yang baik dan harga bibit murah sekitar Rp6.000,- saja per batang.

Bila adanya upaya petani yang didukung pemerintah melakukan peremajaan karet dari karet lokal menjadi karet unggul, ditambah perbaikan kualitas karet yang diolah dipastikan akan merubah harga yang murah menjadi harga yang baik, petani yang terpuruk menjadi petani yang kembali makmur.

DEBU DAN ASAP CEMASKAN KESEHATAN WARGA BANJARMASIN

sungai awang

Sungai Awang/Sungai Andai Banjarmasin terserang kabut asap

 

 

Oleh Hasan Zainuddin
Sudah berulang kali Ibu Saniah (45 th) ke rumah sakit lantaran penyakit asmanya kambuh di saat musim kemarau belakangan ini.

Sebenarnya dia enggan ke luar rumah yang tinggal di bilangan kilometer tujuh Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tetapi karena ia harus bekerja sebagai seorang guru pada sekolah di bilangan Gambut Kabupaten Banjar, mengharuskannya terus berangkat tiap hari menggunakan sepeda motor.

Hal serupa juga dialami banyak orang di kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini, sehingga rumah sakit maupun Puskesmas sering menerima pasien lantaran sesak nafas serta infeksi saluran bagian atas (Ispa) yang merupakan penyakit paling banyak diderita warga.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin Drg Diah R Praswati mengakui Ispa merupakan penyakit paling banyak menyerang warga Banjarmasin, dan itu bisa dilihat dari sepuluh besar penyakit yang terdata di Puskesmas dan rumah sakit.

Ispa muncul terutama lantaran cuaca yang buruk, serta akibat pencemaran debu dan asap yang melanda udara di sekitar wilayah ini, disamping pola hidup masyarakat yang kurang memperhatikan paktor kesehatan.

Sementara Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Banjarmasin Drs Hamdi tak menyangkal jika wilayahnya belakangan ini tercemar debu dan asap bekas pembakaran lahan persawahan dan semak belukar, khususnya di musim kemarau belakangan ini.

“Lihat saja hari-hari belakangan ini udara Banjarmasin begitu kotor, ditandai beterbangannya “kelatu” (benda hitam bekas dedaunan semak belukar terbakar) beterbangan di udara Banjarmasin,” katanya.

Beberapa warga mengeluhkan keberadaan kelatu ini, sebab pekarangan yang tadinya bersih sebentar saja jadi kotor oleh kelatu, cucian pakaian warga yang basah saat dijemur di luar rumah juga kotor terkena benda ini.

Memang sudah menjadi kebiasaan saat musim kemarau warga membuka lahan pertanian dan perkebunan membakar lahannya agar mudah membersihkan lahan untuk penanaman.

Tetapi tak jarang pembakaran lahan tersebut kemudian merembes ke semak belukar secara meluas bahkan ke lahan gambut yang sulit dipadamkan apinya, dan terus menerus mengeluarkan asap sepanjang hari.

Akibat dari itu maka udara Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kota Banjarbaru belakangan ini benar-benar kotor oleh asap pembakahan lahan tersebut, bahkan penerbangan di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin beberapa kali terganggu ditandai penundaan penerbangan akibat jarak pandang terbatas.

Menurut Hamdi bukan hanya asap mengotori udara Banjarmasin ini tetapi juga partikel seperti debu dan gas yang melebihi ambang batas.

BLHD Banjarmasin pernah melakukan pengujian kualitas udara di lima titik seperti perempatan Belitung, Sungai Andai, Kayu Tangi, A Yani, dan Trisakti.

Parameter kandungan pencemaran udara yang diuji meliputi, suspended particuler atau debu, carbon monoksida (CO2), sulful dioksida (SO2), ozon atau oksigen (O3), nitrogen dioksida (NO2), amoniak (NH3), sulfida (H2S), kebisingan udara, serta kelembaban PM 10 (debu paling halus).

Dari pengujian itu, kalau kualitas udara dengan partikel debu dan kebisingan berada diambang batas tertinggi, yang tertinggi ada di kawasan Pelabuhan Trisakti.

Idealnya kandungan partikel debu di udara sekitar 230 miligram per meterkubik tetapi di kawasan Jalan Lingkar Selatan sudah mencapai 457 miligram per meterkubik.

Munculnya debu di daerah itu karena aktivitas kenderaan bermotor lebih tinggi di bandingkan daerah lain, khususnya truk besar yang lalu lalang menuju pergudangan dan pelabuhan ke berbagai daerah lain.

Melihat kondisi musim kemarau serta adanya kebiasaan masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar. Hamdi meyakini tingkat polusi udara bertambah.

“Saat ini udara pagi dan malam hari dapat dikatakan kurang sehat lagi karena sekarang sudah diselimuti asap,” ujar dia.

Kondisi tersebut berdampak akan pada kesehatan, dan mengganggu pernafasan, makanya ia mengimbau warga yang keluar rumah menggunakan masker untuk mengurangi terhirupnya asap.

Selain itu, udara Banjarmasin masih ada kandungan timbal akibat bahan bakar yang dipakai mengandung timah hitam, padahal bahan bakar sudah dilarang yang mengandung timah hitam.

Menyinggung gas buang ke udara di wilayah tersebut disebutkannya secara umum, emisi atau gas buang dari 2000 sampel kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar premium masih bagus.

Tetapi yang menggunakan bahan bakar solar 50 persen emisi yang dihasilkan masih tidak standar atau diatas ambang batas.

Selain pemantauan BLHD Kota Banjarmasin yang menunjukan kurang sehatnya udara wilayah ini , juga dibuktikan hasil pemantauan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Provinsi kalimantan Selatan.

Hasil pemantauan Bapedalda Kalsel yang pernah termuat di salah satu media setempat beberapa waktu disebutkan bahwa pemantauan itu dilakukan secara acak (grab sampling) yang sifatnya sesaat berdasarkan keperluannya.

Hasil pemantauan kualitas udara tersebut menunjukkan bahwa kandungan debu (PM10) terhadap udara berada di atas baku mutu.

Begitu juga dengan kandungan karbon monoksida (CO) dari hasil pemantauan yang rata-rata di atas ambang batas normal 30 mg/m2. Sedangkan kandungan timah hitam (Pb) juga melebihi baku mutu 2,0 mg/m2.

Pencemaran udara diakibatkan oleh lepasnya zat pencemar ke udara dari berbagai sumber, baik bersifat alami maupun aktivitas manusia (antropogenik).

Berdasarkan PP No 41 tahun 1999 mengenai pengelolaan udara, sumber pencemar didefinisikan sebagai setiap usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan bahan pencemar ke udara yang menyebabkan udara tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Sumber pencemar dalam lima kelompok, yaitu sumber bergerak, misal kendaraan bermotor, sumber bergerak spesifik, misal kereta api, sumber tidak bergerak, sumber emisi yang tetap pada suatu tempat, sumber tidak bergerak spesifik, seperti kebakaran hutan dan pembakaran sampah, dan sumber gangguan, atas penggunaan media udara atau padat dalam penyebarannya, seperti kebisingan, getaran, dan bau.

Bahaya Asap

Kerisauan warga wajar lantaran asap bekas kebakaran hutan membahayakan kesehatan, karena berdasarkan catatan asap pembakaran menghasilkan polutan berupa partikel dan gas, partikel itu silika, oksida besi, dan alumina, gas yang dihasilkannya adalah CO,CO2,SO2,NO2, aldehid, hidrocarbon, dan fluorida.

Polutan ini, berpotensi sebagai iritan dapat menimbulkan fibrosis (kekakuan jaringan paru), pneumokoniosis, sesak napas, elergi sampai menyebabkan penyakit kanker.

Berdasarkan pedoman Depkes tentang pengendalian pencemaran udara akibat kebakaran hutan terhadap kesehatan ditetapkan katagori bahaya kebakaran hutan dan tindakan pengamanan berdasarkan ISPU.

ISPU , saat ini berbahaya bagi semua orang, terutama balita, ibu hamil, orang tua, dan penderita gangguan pernapasan.

Dampak asap begitu luas, jangka pendek asap yang berupa bahan iritan (partikel) akibat pembakaran lahan berdampak negatif terhadap kesehatan.

Pengaruhnya dalam jangka pendek itu adalah niengiritasi saluran pernafasan dan dapat diikuti dengan infeksi saluran pernafasan sehingga timbul gejala berupa rasa tidak enak di saluran pernafasan.

Gejalanya seperti batuk, sesak nafas (pneumonia) yang dapat berakhir dengan kematian.

Selain itu asap juga mengiritasi mata dan kulit, mengganggu pernafasan penderita penyakit paru kronik seperti asma dan bronchitis alergika.

Sedang gas CO pada asap dapat juga menimbulkan sesak nafas, sakit kepala, lesu, dan tidak bergairah serta ada perasaan mual.

Dampak jangka panjang bahan-bahan mengiritasi saluran pernafasan dapat menimbulkan bronchitis kronis, emfisema, asma, kanker paru, serta pneumokoniosis.

Melihat kenyataan tersebut, perlu dilakukan pengendalian dampak asap pembakaran lahan dan hutan di wilayah ini.

“LOMBA ANGKAT LUMPUR” TUMBUHKAN SEMANGAT SELAMATKAN SUNGAI

6

Oleh Hasan Zainuddin

 

Banjarmasin,18/9 (Antara)- Satu kelompok terdiri dari enam orang ibu berbaju kaos bercelana panjang begitu bersemangat masuk sungai, lalu tangan mereka begitu cekatan mengeruk lumpur di dasar sungai menggunakan sebuah keranjang rotan, lalu mengangkatnya ke bak sebuah truk yang sudah disediakan di dekat lokasi tersebut.
Tak peduli bedak putih yang berada di wajah para ibu tersebut berubah menghitam setelah hampir seluruh tubuh berlumuran lumpur warna hitam berasal dari sungai Jalan A Yani depan gedung RRI Banjarmasin.
Diiringi suara musik dangdut dari pengeras suara, para ibu-ibu tersebut terus bekerja sambil mengangkat lumpur dengan sesekali berjoget mengiringi irama musik yang dibunyikan panitia penyelanggara dalam lomba angkat lumpur yang kini sudah dibudayakan di wilayah yang berjuluk “kota dengan seribu sungai,” (city with a thousand rivers).
Kelompok ibu-ibu ini satu dari 32 kelompok yang menjadi peserta dalam kegiatan lumba angkat lumpur tahun 2014 yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kalimantan selatan, bekerjasama dengan TNI AL Banjarmasin, pada Minggu (14/9) lalu.
Lomba sendiri dibuka dibuka Komandan Lanal Banjarmasin Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto didampingi oleh Wali Kota Banjarmasin H Muhidin.
Wali kota Banjarmasin menyatakan terus membudayakan lumba angkat lumpur ini, karena dengan lumba ini selain akan merevitalisasi sungai sekaligus akan menanamkan kecintaan sekitar 700 ribu poenduduk kota untuk memelihara sungai.
“Kedepan lumba angkat lumpur akan ditingkatkan lagi pesertanya diundang 52 kelurahan, kalau perlu akan memperoleh penghargaan MURI,” kata wali kota.
Dalam lomba keluar juara Kelompok PMK Sinar Daha berhak Rp10 juta rupiah, disusul kelompok Maya Daha Rp7,5 juta, lalu ketiga Kelompok Ikan Haruan Rp5 juta,tiga kelompok ini juga berhak atas tropy.
Lomba kaitan memperingati hari jadi Kota Banjarmasin ke- 448 dan HUT TNI AL ke- 69 tersebut bertujuan agar masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan disekitarnya, khususnya memelihara sungai.

 

Revitalisasi Sungai

 

 

 

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) Banjarmasin Muryanta yang ikut dalam kelompok lomba dengan tersengal-sengal menahan nafas lantaran kelelahan merasa gembira melihat antusias ratusan orang peserta dalam lomba ini.
“Ini tampaknya paling ramai dibandingkan dengan lumba angkat lumpur dari tahun-tahun sebelum-sebelumnya, moga kedepan kian ramai lagi,” kata Muryanta yang kelompoknya dari kantor SDA tidak memperoleh kemenangan dalam lomba tersebut.
Menurutnya,lumba ini berdampak positif dalam upaya pemerintah mensosialisasikan kebersihan sungai, karena kepedulian masyarakat memelihara sungai kunci sukses menghidupkan kembali keberadaan sungai sebagai sarana transportasi, drainase, dan kelestarian lingkungan hidup.
Di Banjarmasin sendiri terdapat 105 sungai besar dan kecil, yang besar Sungai Barito dan Sungai Martapura, dari jumlah itu sebanyak 30 persen sungai-sungai tersebut sudah mati karena sendimentasi, diserang gulma, dan karena tersita oleh pemukiman penduduk dan pembangunan perkotaan.
Apalagi kedepan dalam kebijakan Pemkot setempat akan menjadikan sungai sebagai urat nadi perekonomian, mengingat wilayah ini tidak memiliki sumberdaya alam seperti hutan, tambang, pertanian, perkebunan, dan lainnya.
Salah satu yang dipilih mendongkrak ekonomi adalah sungai, makanya sungai harus dihidupkan lagi sebagai sarana transportasi, khususnya dibenahi untuk dunia kepariwisataan mengingat kota ini sudah dikenal luas sebagai kota wisata sungai di tanah air.
Upaya membenahi sungai tersebut sudah dilakukan Pemkot Banjarmasin melalui kantor SDA yang menghabiskan dana sudah ratusan miliar rupiah lebih yang dilakukan secara bertahap.
Mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.
“Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Piere Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata yang menarik dan menjadi ikon kota,”tuturnya.
Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit itu.
Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanangkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.
Dengan arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan lain selain bagaimana agar sungai-sungai bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.
Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut. Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai Kota Banjarmasin, seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.
“Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah,” tutur Muryanta.
Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.
Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.
Mengenai pembangunan siring sebagai lokasi “waterforont city” menuju kota metropolis akan memanjang hingga lima kilometer, yang diyakininya selesai 10 tahun, padahal target sebelumnya itu baru bisa dikerjakan selama 25 tahun.
Optimistis mampu merampungkan proyek tersebut didasari dengan kenyataan yang ada selama lima tahun terakhir ini saja sudah dibangun tiga kilometer. Tiga kilometer tersebut seperti sepanjang siring di Jalan Piere Tendean, eks SMP-6, serta Jalan Sudirman.
Tinggal penyelasaian antara Siring eks SMP 6 ke pekapuran hingga ke Jalan RK Ilir tepatnya hingga Tempat Pendaratan Ikan (TPI) air tawar Jalan RK Ilir,tambahnya.
Tiga kilometer proyek siring tersebut sudah menghabiskan dana sedikitnya Rp75 miliar, sebagian besar atau Rp60 miliar berasal dari dana APBN melalui Balai Besar Sungai Kementerian PU, sisanya melalui APBD Pemprov Kalsel, serta APBD Kota Banjarmasin.
Untuk menyelasaikan sepanjang lima kilometer proyek siring tersebut maka dibutuhkan dana sedikitnya Rp150 miliar lagi, katanya seraya menyebutkan bahwa proyek siring dikerjakan sejak tahun 2008.
“Kami akan lanjutkan pembangunan siring Sungai Martapura, agar kota kita tambah indah dan nyaman, hingga nantinya terdapat pusat kuliner ketupat seperti di Pekapuran serta pusat cendramata kain Sasirangan di kampung Seberang Masjid,” tambah Muryanta.
Apalagi sekarang sedang diselesaikan proyek menara pandang Rp14 miliar berlantai empat yang berarsitektur khas budaya Banjar di lokasi siring Pire Tendean menambah kesemarakan kota yang berada paling selatan pulau terbesar nusantara ini.
Kawasan lain yang segera dibenahi wisata sungai sebagai sentra kuliner, yakni di Desa Pekapuran, khususnya ketupat mengingat di lokasi tersebut banyak sekali perajin makanan tersebut. Jika terbangun siring mempermudah wisatawan mendatangi sentra kuliner ketupat baik melalui sungai maupun melalui darat.
Pembangunan siring Desa Pekapuran tak masalah karena dana akan diperoleh bantuan Balai Besar Sungai Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Tinggal bagaimana mendanai pembebasan terhadap bangunan lama atau pemukiman penduduk wilayah itu, antara Jembatan Dewi terus ke Pekapuran atau menmyambung siring terdahulu.
Di Desa Pekapuran banyak perajin ketupat menyebar di lingkungan RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, hingga lingkungan RT 7. Tadinya membuat ketupat hanya penduduk asli setempat, tetapi setelah potensi ekonomi membuat ketupat begitu menjanjikan sehingga belakangan banyak pendatang yang juga ikut-ikutan menjadi perajin ketupat.
Di desa tersebut bukan saja mereka yang hanya mengayam daun kelapa dan daun nifah menjadi kulit ketupat, tetapi tak sedikit yang menjadi pedagang grosir, pedagang eceran, sampai mereka yang bertindak sebagai pencari bahan baku daun kelapa dan daun nifah.
Kawasan tersebut ramai pengunjung untuk membeli ketupat, apalagi jika menjelang idul Fitri dan Idul Adha.
Selain itu Pemkot juga membangun wisata bantaran sungai Desa Seberang Masjid
sebagai kawasan cendramata Kain Sasirangan, serta pusat souvenir lainhya.
Bila semua fasilitas wisata sungai dibenahi termasuk penyediaan sarana angkutan seperti kapal-kapal wisata, spead boat, klotok, dan pembenahan pasar terapung, pemukiman terapung, industri terapung, dan kehidupan sungai lainnya ditambah akomodasi penginapan yang memadai maka akan mewujudkan sungai sebagai penggerak ekonomi masyarakat melalui dunia kepariwisataan.

 

MENIKMATI MAIN ULAR KEBUN BINATANG KOTA BANJARMASIN

WALIOleh Hasan Zainuddin

 

Sekelompok remaja putra sambil bergurau satu per satu memegang aneka jenis ular. Ada ular bewarna kuning, ular bewarna hitam keabu-abuan, bewarna batik, dan warna lainnya.

Sesekali ular-ular tersebut sengaja melingkar-lingkar di leher para remaja yang agaknya kalangan pencinta reptil tersebut, bahkan ada ular relatif besar yang melilit hampir seluruh tubuh seorang remaja tersebut. Kendati demikian, remaja itu tetap tersenyum ceria.

Sesekali para remaja putra tersebut mendekat ke rombongan ibu pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin yang saat berada di lokasi tersebut, Sabtu (13/9) lalu, serta-merta ibu-ibu berlari ke sana kemari ketakutan.

“Jangan memegang, untuk melihat saja sudah geli dan ngeri,” kata seorang ibu yang datang ke lokasi tersebut dalam kaitan peresmian pengoperasian Kebun Binatang “Banjar Bungas” yang dikelola Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin tersebut.

Kebun binatang seluas 1,5 hektare tersebut, memang hari itu diresmikan oleh Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin yang didampingi Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) setempat Zulfadlie Gajali dan para pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pemkot setempat.

Selain ada kelompok remaja bermain ular, di lokasi tersebut juga terlihat ada sekelompok remaja putra dan putri lagi bermain satwa musang dan tupai yang tampak jinak, bahkan ada pula yang bermain dengan aneka jenis kucing dan ayam hias.

Melihat asyiknya kelompok remaja tersebut bermain ular, Wali Kota Muhidin mencoba mendekat. Pertama terlihat ekspresi mukanya rada-rada takut. Namun, setelah memegang ular agak besar bewarna kuning keputihan yang dikenal sebagai jenis ular yang disebut Ball Python tersebut, dia tampak lebih berani.

Bahkan, Wali Kota meminta para pencinta reptil untuk diberikan dua ekor sekaligus. Dengan beraninya Wali Kota memegang kedua ular tersebut, satunya dilingkarkan ke lehernya, satu lagi dimainkan di tangan kanan.

Sesekali Wali Kota mendekati para pejabat dan ibu-ibu, serta-merta lagi ibu-ibu berteriak ketakutan. Begitu pula, para pejabat lainnya ada yang takut, tetapi ada pula yang coba-coba memberanikan diri.

“Wali Kota saja berani, masa kita takberani,” kata Sekdako Banjarmasin Zulfadli Gajali seraya mengambil juga dua ekor ular, di antaranya jenis sanca batik yang juga besar.

Melihat kedua petinggi pemkot tersebut bermain ular, kian banyak saja hadirin yang berani mendekat, bahkan ular-ular tersebut menjadi ajang untuk berfoto ria.

Memang di kebun binatang yang berada dalam kota berpenduduk sekitar 700.000 jiwa tersebut terdapat zona reptil, termasuk ular di dalamnya, juga ada biawak, buaya, dan jenis reptil lainnya.

Wali Kota Muhidin merasa bangga adanya kebun binatang tersebut. Menurut dia, dengan adanya kebun binatang itu, kian menambah kesemarakan Kota Banjarmasin yang sudah dikenal sebagai kota tujuan wisata di Tanah Air.

“Saya meminta ke depan kebun binatang ini kian dilengkapi aneka koleksi satwa yang ada di Nusantara, bahkan kalau perlu ada satwa yang berasal dari luar negeri,” katanya.

Sebab, tambahnya, keberadaan sebuah kebun binatang tidak saja akan menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia wisata sekaligus menjadi ajang pendidikan dan penelitian.

Apalagi, jika memang terwujud di lokasi ini ada penangkaran binatang Bekantan (Nasalis larvatur) yang merupakan jenis satwa langka berhidung panjang yang menjadi “maskot” bidang fauna Provinsi Kalsel.

Maskot Kalsel bidang floranya adalah tanaman kasturi (Mangifera Kasturi Delmiyana) yang jenis mangga-manggaan buahnya kecil bewarna merah kehitaman jiga sudah masak dan warna hijau selagi muda.

Berdasarkan keterangan upaya penangkaran bekantan tersebut, pihak pengelola kebun binatang akan bekerja sama dengan sebuah komunitas Bekantan Kalimantan yang dinamakan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

“Sahabat Bekantan Indonesia sendiri menyatakan bersedia kerja sama tersebut, bahkan suatu kebanggaan karena kian banyak yang akan mencintai satwa yang hanya hidup di Pulau Kalimantan tersebut,” kata anggota SBI Amalia.

Amalia yang berada di lokasi tersebut bersama anggota SBI lain berjanji akan menjadikan Kebun Binatang Banjar Bungas ini sebagai pusat rehabilitasi parimata jenis bekantan sekaligus sebagai objek penelitian dan pendidikan.

Amalia mengakui populasi bekantan di daratan Kalsel terus berkurang setelah banyaknya habitat mereka yang tergusur lantaran penebangan kayu dan pertambangan serta perkebunan.

Melihat kenyataan tersebut, pihak SBI berusaha menyelamatkan satwa yang juga sering disebut sebagai “kera bule” yang masih tertinggal dan juga berusaha menangkarkannya.

 

Kerja Sama KBS

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Doyo Pudjadi kepada wartawan di Banjarmasin mengakui keberadaan kebun binatang tersebut untuk menyemarakkan dunia keparwisataan kota tersebut.

Menurut Doyo Pudjadi, kebun binatang yang terletak di Kompleks Zahri Saleh, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, tersebut sebagai objek wisata alternatif di kota itu.

Warga Banjarmasin agaknya lebih banyak berwisata ke pusat perbelanjaan seperti mal. “Akan tetapi, warga juga harus disediakan objek wisata yang murah meriah, ya, kebun binatang ini,” kata Doyo Pudjadi.

Mengenai kebun binatang, disebutkan bahwa pengelolaannya akan dilakukan dengan bekerja sama dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS), terutama untuk jenis hewan-hewan tertentu yang di KBS ada kelebihan jumlahnya.

Diakuinya dalam pengelolaan dan pemeliharaan satwa, pihaknya belum begitu berpengalaman. Oleh karena itu, pengelolaan ini dikerjasamakan dengan KBS. Semoga lokasi ini lebih bisa berkembang.

Di lokasi kebun binatang ini terdapat sepuluh zona, yakni zona reptil, zona primata, zona burung, dan zona ikan, serta zona-zona lainnya yang menyebar di areal seluas 1,5 hektare.

Lokasi ini juga dilengkapi dengan tempat mandi dan toilet, tempat ibadah, warung cendera mata, serta rumah makan yang menyajikan menu serbamasakan jamur.

“Kami berharap kebun binatang ini akan menjadi pilihan masyarakat bertamasya sebagai alternatif selain ke pusat perbelanjaan atau mal,” katanya.

Lokasi ini mudah dijangkau, pertama masih dalam kota, kemudian akses jalan mudah karena jalan beraspal sampai ke lokasi. Naik angkot juga hanya sekali dari terminal kota sehingga tidak menyulitkan untuk mengunjungi lokasi tersebut.

Agar lokasi ini nyaman, sungai-sungai yang ada di lokasi ini akan dibenahi, akan dilengkapi dengan aneka tanaman hias, dan pohon-pohon peneduh yang rindang.

“Lokasi ini memang sudah terlihat rindang, hingga terasa dingin, tetapi ke depan akan ditambah lagi pohon-pohon rindang ini agar pengunjung bisa terlidungi dari panasnya sinar mentari,” tambahnya.

Pada waktu-waktu tertentu, seperti Sabtu dan Minggu, lokasi ini bisa digelar atraksi atau pertunjukan, baik seni budaya tradisional maupun atraksi wisata lainnya….

 

 

 

 

2 cren

PELABUHAN INDONESIA BAIK PERKUAT IKON NEGARA MARITIM
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin()- Negara Indonesia yang memiliki belasan ribu buah pulau hingga negara ini berjuluk sebagai negara maritim di dunia.
Anak bangsa ini pun sejak dulu dikenal pula sebagai bangsa pelaut, lantaran banyak anak bangsa ini yang mencari penghidupan di laut.
Namun julukan sebagai negara maritim tak diimbangi dengan kemajuan tehnologi menggali potensi kelautan, termasuk meningkatkan dunia kepelabuhanan yang tangguh yang bisa mendongkrak kemakmuran masyarakatnya.
Image pelabuhan Indonesia selama ini memang buruk, puluhan tahun keberadaan pelabuhan Indonesia tidak pernah maksimal dalam pengelolaannya. Kapasitas pelabuhan kalah dari pelabuhan negeri tetangga.
Kelemahan itu justru menjadi berkah buat bagi negara lain khususnya negara-negara tetangga. Potensi devisa menguap ke negara-negara lain yang bertetangga dengan Indonesia.
Potensi kepalabuhanan Indonesia begitu besar, dua pertiga wilayah Indonesia berupa perairan, posisi negeri ini berada di persilangan rute perdagangan dunia, yang bisa memberikan peluang emas untuk sebuah kemajuan bangsa.
Tetapi kenyataan yang ada bangsa ini tetap saja menjadi sebuah negara tertinggal, sebagai negara maritim sudah selayaknya bangsa ini menggali potensi kepelabuhanan yang maksimal, setidaknya untuk memudahkan berbagai produk ekonomi termasuk produk kelautan dan perikanan, pertanian, perkebunan, pertambangan, ke berbagai negara lain.
Gimana mau mensuplai produk ekonomi seperti tersebut di atas untuk bongkar muat saja harus antri berhar-hari bahkan berminggu-minggu, sehingga kalau mengapalkan sebuah produk pertanian seperti buah saja, maka sempat busuk ditempat sebelum sampai ke tujuan.
Sebuah data diperoleh dari World Economic Forum dalam laporan ‘The Global Competitiveness Report 2011-2012′ menyebutkan, kualitas infrastruktur pelabuhan Indonesia buruk. Berada di peringkat ke-103.
Dibanding negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia jauh tertinggal. Malaysia saja menempati urutan ke-15, Singapura peringkat pertama, dan Thailand ke-47.
Rendahnya rating pelabuhan Indonesia tidak terlepas akibat pelayanan bongkar muat barang yang tidak efektif dan efisien. Padahal, pelabuhan sebagai image perekonomian negara di mata dunia internasional.
Ambil saja contoh pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dimana untuk bongkar muat harus rela dan bersabar antri berhari-hari bahkan berminggu-minggu, lantaran kapasitas pelabuhan yang tidak mampu menampung kapal sandar secara bersamaan, sehingga kapal harus menunggu giliran.
Untuk menunggu giliran begitu lama tentu menelan biaya tinggi bagi operasional sebuah kapal, sehingga lokasi ini bukan sebuah pelabuhan yang menjadi pilihan bagi usaha bongkar muat bagi perkapalan.
Kondisi yang terjadi di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin bisa jadi sebuah cerminan dunia kepelabuhanan rata-rata di Indonesia, yang sejak dulu dikatakan sebagai negara maritim tersebut.
Itu baru persoalan kapasitas pelabuhan, belum lagi persoalan lain yang terjadi di Trisakti Banjarmasin, dimana lokasi pelabuhan ini berada di aliran sungai yang dangkal yakni Sungai Barito.
Kondisi buruk di Sungai Barito berada di alur muara sungai yang terjadi pendangkalan akibat sendimentasi lumpur yang parah, setelah terjadi kerusakan hutan di hulu sungai yang membawa partikel lumpur ke sungai terus larut ke muara hingga terjadi pendangkalan tersebut.
Puluhan miliar bahkan ratusan miluar rupiah, hanya untuk mengeruk lumpur di muara sungai agar kapal bisa lalu-lalang di pelabuhanm tersebut, kalau tidak dikeruk jangan harap pelabuhan ini bisa hidup sebagai pintu gerbang perekonomian Kalimantan.
trisakti

Sejarah

Berdasarkan sejarahnya keberadaan Pelabuhan Banjarmasin dikenal sejak abad XIV dan letak pelabuhannya ditepi Sungai Barito dengan nama Marapian, kemudian berpindah ke Marabahan dan berpindah lagi ke sungai Martapura dengan nama Pelabuhan Martapura.
Pada tahun 1925 dikeluarkan beslit Gubernur Jenderal No 19 tanggal 25 Nopember 1925 yang kemudian diperbaiki dengan beslit No 14 tanggal 17 Oktober 1938 Staatblad No 616/1938 pengukuhan pengelolaan Pelabuhan Martapura (Lama).
Pada tahun 1961 mulai dibangun Pelabuhan Trisakti di Sungai Barito, mengingat daya tampung Pelabuhan Martapura (Lama) tidak memadai lagi.
Pada tanggal 10 September 1965 diresmikan pemakaian Pelabuhan baru dengan nama Pelabuhan Trisakti Banjarmasin atau disebut Pelabuhan Banjarmasin.
Daerah lingkungan kerja pelabuhan perairan sluas 95 hektare, daerah lingkungan kepentingan pelabuhan perairan 115 hektare, dan ditetapkan dengan SK bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Dalam Negeri No 14 tahun 1990.
Pelabuhan Trisakti berada di belahan kota Banjarmasin ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, terletak di tepi Sungai Barito,sekitar 20 mil dari muara Sungai Barito pada posisi 03″ 20″ 18″ LS, 114″ 34″ 48″ BT.
Pelabuhan Banjarmasin merupakan pendukung utama transportasi laut yang secara langsung maupun tidak langsung berperan aktif dalam pembangunan ekonomi Propinsi Kalimantan Selatan.
Perkembangan pelabuhan ini memang terus meningkat, fasilitas pun terus dibangun, seperti dermaga terminal penumpang kontruksi beton 80 meter, dermaga trisakti lama 750 meter, dermaga Martapura Baru 350 meter, dermaga petikemas baru 265 meter, dermaga petikemas 240 meter, dermaga trisakti baru 120 meter.
Arus kedatangan kapal sampai tahun 2013 lalu sebanyak 17.253 unit, arus barang 8.265.935 ton, arus petikemas 387.954 box dan 428.478 teus, arus penumpang 148.923 orang.
Realisasi arus kapal pada tahun 2013 di Pelabuhan Banjarmasin meningkat 8-9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dimana tahun 2013 tercatat sebanyak 17.253 unit kapal dengan berat mencapai 98.181.591 Gross Tonage (GT).
Sedangkan realisasi khusus kapal jenis petikemas pada tahun 2013 meningkat 10 persen (dalam satuan unit) dan meningkat 78 persen (dalam satuan GT) dibandingkan tahun sebelumnya, dimana realisasi arus kapal jenis petikemas tahun 2013 tercatat 1.137 unit dengan berat mencapai 7.207.642 GT.
“Ini yang menunjukkan terjadi peningkatan arus barang yang masuk maupun keluar melalui Pelabuhan Banjarmasin,” terang General Manager PT Pelindo III Cabang Banjarmasin, Hengki Jajang Herasmana.
Ia mengakui perusahaannya tersebut akan terus mengembangkan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin ke arah yang lebih baik, sebagai upaya peningkatan ikon negara maritim.
Salah satu pengembangan terbaru penambahan pembangunan dermaga petikemas sepanjang 265 M x 34,5 m oleh kontraktor PT Wijaya Karya yang pemancangan perdananya dilakukan pada 13 April 2012 lalu dioperasikan, setelah diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada acara peresmian proyek MP3EI di Banjarbaru pada tanggal 23 Oktober 2013 lalu.
Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kalimantan Selatan Jumadri Masrun mengapresiasi perkembangan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Dengan adanya tambahan fasilitas ini tentunya waktu tunggu kapal dapat semakin ditekan, diwaktu dulu kala, waktu tunggu kapal sempat mencapai 7 hari maka nantinya dapat ditekan.

 

 

 

Alternatif

Walaupun perkembangan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin menunjukkan peningkatan, tetapi jika melihat perkembangan kota Banjarmasin dan sekitarnya yang begitu pesat, maka kedepan kondisi pelabuhan Trisakti seakan tidak bakal mampu lagi menampung kegiatan bongkar muat tersebut, apalagi kondisi pelabuhan ini termasuk berada di areal kota yang padat penduduknya.
Persoalan alur Sungai Barito yang kian lama kian deras sendimentasinya, maka pelabuhan ini bukan menjadi pilihan pelabuhan baik kedepan.
Pelindo III Banjarmasin yang merupakan bagian Pelindo III yang berpusat di Surabaya sudah selayaknya memikirkan bagaimana transformasi kinerja Pelabuhan terbesar di Kalimantan ini bisa memberikan tantangan di masa depan.
Kalau memang letak kondisi pelabuhan sudah tidak layak lagi berada di lokasi tersebut kenapa tidak dicarikan alternatif lain yang lebih menjamin kelancaran arus kapal tanpa terhalang lagi oleh sempit alur Sungai Barito.
Selain itu, pelabuhan yang ideal tak jauh dari pusat ekonomi, khususnya pusat industri, pusat hasil perkebunan, pertambangan, dan sektor pertanian lainnya.
Salah satu lokasi yang ideal sebagai tempat pelabuhan laut di wilayah ini adalah kawasan Kabupaten Tanah laut yang berjarak sekitar puluhan kilometer saja dari Banjarmasin, karena lokasi ini berada di tepian Laut Jawa, hingga tidak perlu masuk sungai lagi.
Lokasi yang direncanakan sebagai alternatif pelabuhan baru tersebut memang ada beberapa lokasi salah satunya berada di Pantai Swarangan, Kecamatan Jorong.
Alternatif lain pengembangan Pelabuhan alam Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu Timur Kalsel, walau agak jaug dari Banjarmasin tetapi berpotensi pengembangan ekonomi prov insi ini.
Pelabuhan Batulicin adalah pelabuhan yang terletak ditepian Selat Makasar tak jauh dari Laut Jawa yang menjadi jalur alternatif pelayaran internasional menghubungkan Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik.
Untuk menjadi sebuah pelabuhan modern memang harus berada di lokasi pelabuhan alam bukan buatan, artinya ditepian laut yang berair dalam, kemudian harus adanya pusat transportasi darat yang bagus arah ke berbagai penjuru terutama ke lokasi kosentrasi perekonomian masyarakat.
Hal yang tak kalah penting tentu aneka peralatan kepelabuhanan yang canggih, lapangan penumpukan peti kemas yang luas, pergudangan yang memadai, hingga kerja bisa cepat dan mudah yang memungkinkan bongkar muat barang baik secara manual (curah) maupun peti kemas secara nyaman.
Peralatan yang harus diperhatikan tentu aneka macam seperti keberadaan kapal tunda, speed boat, crane darat, spreader, forklift, top loader, reach stacker, wheel loader, excavator, dump truck, conveyer, dan aneka peralatan lainnya yang mendukung kelancaran pelabuhan tersebut.
Bila semua peralatan ini bisa tersedia dengan baik ditambah manajemen yang baik oleh sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas pula, maka kinerja pelabuhan terbesar Kalimantan ini akan bisa menjawab tantangan masa yang datang.

 

 

KOTA BANJARMASIN KINI MILIKI KEBUN BINATANG

9Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,13/9 (Antara)- Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, melalui Dinas Pertanian dan Perikanan membangun sebuah lokasi kebun binatang seluas 1,5 hektare.
Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin didampingi Kepala Dinas pertanian dan Perikanan, Doyo Pudjadi dan beberapa kepala Satuan Kerja Perangkat daerah (SKPD) meninjau lokasi kebun binatang tersebut, Sabtu.
Wali kota menyatakan rasa bangganya memiliki sebuah kebun binatang yang terletak di Kompleks Zahri Saleh, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara tersebut.
“Kita sudah seperti kota lain yang memiliki kebun binatang yang nantinya bukan saja sebagai lokasi rekreasi masyarakat, tetapi juga sebagai lokasi pendidikan dan penelitian,” kata wali kota.
Menurut wali kota, Pemkot akan lebih memperhatikan lokasi ini sebagai tempat rekrasi masyarakat, makanya kedepan akan terus ditambah berbagai fasilitas penunjang termasuk tempat wisata kulinernya, dan tempat penjualan cendramata.
“Saya juga berharap, lokasi ini tak semata untuk pemeliharaan, tetapi yang lebih ditekankan sebagai lokasi budidaya, semacam penangkaran, khususnya hewan asli Kalimantan, seperti bekantan (Nasalis Larvatus),” kata Muhidin.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Doyo Pudjadi menyebutkankan bahwa pihaknya merencanakan melakukan penangkaran Bekantan sekaligus penelitian mengenai hewan langka endemik Kalimantan yang akan bekerjasama dengan sebuah komunitas Bekantan Banjarmasin.
Melalui lokasi penangkaran tersebut diharapkan lokasi itu akan menjadi pusat penelitian sekaligus pendidikan mengenai hewan berhidung panjang itu.
Mengenai kebun binatang sendiri, disebutkannya pengelolaannya akan bekerjasama dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS) terutama untuk jenis hewan-hewan tertentu yang di KBS ada kelebihan jumlahnya.
Di lokasi kebun binatang ini terdapat sepuluh zona, seperti zona reftil, zona perimata, zona burung, zona ikan, dan zona-zona lainnya yang menyebar di areal seluas 1,5 hektare.
Lokasi ini juga dilengkapi dengan tempat mandi dan toilet, tempat ibadah, warung cendramata, serta rumah makan yang menyajikan menu serba masakan jamur.
“Kita berharap kebun binatang ini akan menjadi pilihan masyarakat bertamasya sebagai alternatif sekalin hanya ke pusat perbelanjaan atau mall,” katanya.

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.